Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto
Summary: Boruto dan yang lainnya berhasil memenangkan perang. Tetapi hanya dirinya yang masih hidup. Namun, Boruto di beri kesempatan untuk menghidupi orang orang yang Ia sayangi. Tapi ada syaratnya. Ia harus melakukan sesuatu. Apa yang akan di lakukan Boruto? Simak ceritanya.
Warning: Semi-Canon, Semi-Incest, kadang BoruHima, kadang BoruHina. Pairing BoruHina bersifat sementara. Masih banyak Typo. Author amatiran. Cerita pasaran. Dan lain-lain. Bagi yang gk suka Incest, silahkan tekan back dan jangan baca cerita ini.
Selamat Membaca
Cerita sebelumnya:
Setelah berada di alam bawah sadarnya, Boruto kembali membuka matanya perlahan. Rasa sakit di kepala lagi lagi sudah hilang. Hal yang pertama di lihatnya adalah...hijau.
"Dimana aku?" Tanya nya pada diri sendiri.
Boruto pun bangun perlahan. Mendudukkan dirinya. Melihat keadaan sekitar. Tengok ke atas, ke depan, ke kiri, ke kanan, dan terakhir ke belakang. Setelah itu Ia berdiri. Ia menyadari bahwa Ia sekarang berada di-
"Aku...berada di hutan?"
Chapter 2: Ke Konoha
Boruto pun berjalan menyusuri hutan. Mencoba mencari sesuatu yang bisa menenangkan pikirannya. Ia fokuskan untuk mencari sesuatu. Setelah dapat, ia segera berlari kecil ke tempat yang ia tuju.
Tempat yang ia tuju. Yahh, Ia hanya ingin ke danau. Ya danau. Membasuh wajah dan kepalanya. Mencoba untuk mendinginkan kepala dan tubuhnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan ku-ttebasa?" Tanyanya entah pada siapa setelah membasuh wajah dan kepalanya.
"Aku ingat betul kalau tadi aku sedang berada di medan perang-ttebasa. Berbaring di samping Himawari. Lalu kenapa aku ada disini? Di hutan? Apakah semua kejadian buruk yang ku alami selama aku hidup dan juga perang itu hanyalah mimpi belaka-ttebasa? Lalu kenapa rasanya nyata sekali ya? Arrrrggghhh, aku semakin pusing memikirkannya-ttebasa." Lanjutnya sembari membasuh wajahnya kembali.
Boruto pun membasuh wajahnya kembali secara perlahan. Saat Ia ingin mengambil air lagi, tak sengaja Ia melihat dirinya di pantulan cermin danau nya.
"I-ini-" Terkejut. Ya, tentu saja Boruto terkejut. Melihat pantulan dirinya di danau. Dirinya yang berada di pantulan cermin danau terlihat berbeda. Yang Ia lihat di danau bukanlah dirinya saat berumur 19 tahun, melainkan saat Ia masih berumur 12 tahun. Pakaiannya pun juga berubah. Pakaiannya sama saat Ia masih berumur 12 tahun juga.
"Ja-jadi...yang...yang di katakan Takaichi...benar? Aku...aku sungguh tidak menduganya nya. Aku kembali ke diriku 7 tahun yang lalu?" Lagi, tanyanya entah pada siapa.
Ia pun mencoba berdiri. Mencoba untuk memeriksa dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Rambutnya masih tetap sama. Kuning seperti daun dan memiliki ahoge. Wajahnya sama, memiliki kumis 2 garis tipis, mata biru samudera nya, dan kulit Tan nya, namun tampak lebih muda. Tubuhnya pun tampak mengecil dengan tingginya yang menurun khas seorang anak berumur 12 tahun. Setelah itu, Ia memeriksa pakaiannya. Yang tidak Ia habis pikir adalah, bagaimana mungkin pakaiannya juga berubah? Pakaiannya saat berumur 12 tahun? Akhirnya Ia pun menyerah masalah pakaian. Ia tidak terlalu peduli soal pakaian.
"A-aku...sungguh tak percaya. Aku benar benar berada di diriku saat berumur 12 tahun-ttebasa. Ja-jadi...selama 7 tahun aku hidup, itu hanyalah mimpi? Tapi tunggu dulu. Takaichi bilang, aku akan memulai kehidupan baru di umur ku yang 12 ini di masa yang berbeda. Apa maksudnya dengan di masa yang berbeda dattebasa? Apakah aku ada di masa lalu? Jadi selama 7 tahun aku hidup itu, bukanlah mimpi? Gahh. Memikirkannya sendiri membuatku pusing-ttebasa. Lebih baik aku segera keluar dari hutan ini dan melihat keadaan sekitar." Ujarnya panjang lebar. Ia benar benar pusing memikirkan apa yang sudah terjadi pada dirinya sendiri.
Ia pun berbalik, meninggalkan danau itu. Saat ia berjalan ingin memasuki hutan kembali, Ia baru menyadari sesuatu yang mengganjal yang melingkari lehernya.
"Tunggu dulu, aku seperti merasakan sesuatu di leherku." Ujarnya sendiri, lalu ia pun berhenti berjalan dan memeriksa lehernya.
Saat Ia menyentuhnya, Ia merasakan sebuah tali. Ia pun mengikuti arah tali itu. Yang akhirnya berhenti di dadanya. Ia pun mengeluarkan sesuatu yang berada di dadanya. Di dalam baju nya. Setelah Ia mengambil benda tersebut, betapa terkejutnya Ia melihat benda itu. Sebuah kalung. Benda itu cukup besar untuk di sebut sebuah kalung. Bentuknya seperti figur matahari bundar. Tidak bulat. Berwarna jingga.
"I-ini-" Boruto pun tak dapat melanjutkan perkataannya.
Boruto melepaskan kalung itu dari lehernya. Melihat keseluruhan dari kalung itu. Ia pun mencoba untuk menempelkan jari telunjuk nya ke kunci sidik jari yang ada di kalung tersebut. Setelah ia menempelkannya, sesuatu seperti terbuka dari kalung itu. Boruto membukanya, dan betapa terkejutnya Ia.
"I-ini...Blue core dan Red core yang aku ciptakan?" Tanyanya entah pada siapa. Ia pun menutup kembali kalungnya dan menggenggam kalungnya.
"Bagaimana mungkin alat ciptaanku bisa ikut terbawa bersama ku kesini-ttebasa? Takaichi tidak bilang apapun mengenai alat ciptaanku. Ghhh, terlalu banyak hal yang membingungkan. Aku bisa stress sendiri jika terus memikirkannya dattebasa." Ujarnya. Ia pun kembali berjalan. Tapi saat itu juga ia terpikirkan sesuatu.
"Tunggu dulu. Takaichi bilang semua kekuatanku hilang, dan jika ingin kekuatan ku kembali, aku harus melatihnya. Ia tidak bilang apapun soal kalungku. Kalungku kan tidak perlu di latih. Aku sudah menciptakan nya sebaik mungkin. Apa bisa ya jika aku mempraktekkannya? Aku coba deh. Semoga saja dattebasa." Ujar Boruto semangat.
Boruto pun mencoba memfokuskan diri. Memegang kalungnya dengan kedua tangannya.
"BlueRedCore: WarGrey First Version!!!"
Setelah mengucapkan itu, tubuh Boruto bercahaya. Setelah cahayanya memudar, Boruto tampak dengan tampilan barunya. Kedua tangannya di lapisi baja metal berwarna jingga. Kedua kaki nya juga di lapisi baja metal berwarna jingga dari ujung kaki sampai di bawah lutut. Seperti memakai sepatu boots.
"Woah. Tak ku sangka berhasil-ttebasa. Aku akan mencoba yang lainnya.
Boruto pun menyiapkan tangan kanannya. Bersiap untuk berucap-
"Rasengan!!!"
Sebuah putaran Chakra terbentuk di tangan kanannya. Hingga akhirnya membentuk sebuah bola biru yang berputar cepat.
"Tak kusangka benar benar berhasil. Baiklah aku akan mengujinya." Ujar Boruto semangat.
Setelah berkata begitu. Ia pun melempar rasengan nya ke arah danau, mengarah ke yang ada batu nya.
JDUAAARRR
Setelah ledakan itu, airnya pun muncrat kemana mana. Batu yang tadi bertengger disana sudah tidak ada.
"Fiuh. Tak kusangka berhasil lagi. Yahh, setidaknya meskipun aku belum kuat secara fisik, aku masih bisa melindungi diriku dengan alat ini. Huft, tak sia sia aku menciptakan ini-ttebasa. Baiklah, waktunya menonaktifkannya." Setelah berucap begitu, Ia pun menonaktifkan alatnya.
"Deactived!!!"
Setelah berucap itu, baja metal yang menghiasi tangan dan kakinya pun perlahan memudar. Sampai akhirnya, Boruto kembali ke penampilan sebelumnya.
"Hmm, tunggu sebentar. Aku mulai menciptakan alat ini pada saat umurku 16 tahun. Dan baru sempurna saat umurku 19 tahun. Jadi-" Boruto pun menggantungkan kalimatnya.
"Ya. Tidak salah lagi dattebasa. Aku tidak bermimpi. Kejadian yang sebelumnya ku alami adalah nyata. Dan sekarang pun juga terasa nyata. Di umurku yang 12 tahun aku tidak punya kalung ini, bahkan memikirkan untuk menciptakannya pun tidak. Aku yakin. Aku tidak bermimpi, melainkan terlempar ke masa yang berbeda seperti yang Takaichi katakan. Aku tidak perlu cari tahu bagaimana aku bisa disini. Mungkin sudah takdirku terlempar kesini. Yang perlu ku cari tau, sekarang aku berada di masa apa dan yang mana-ttebasa?" Ujarnya yakin sembari bertanya lagi entah pada siapa.
"Sudahlah, aku harus segera keluar dari hutan ini. Aku akan mencari tahu setelahnya." Boruto pun kembali melangkahkan kakinya memasuki hutan.
Boruto pun kembali menyusuri hutan. Mencoba mencari jalan untuk keluar dari hutan ini.
~Petualangan Dan Takdir Boruto~
Sudah 2 jam Ia menyusuri hutan untuk menemukan jalan keluar, namun hasilnya nihil. Ia belum menemukan jalan keluar sama sekali.
"Argghh. Seandainya aku bisa menggunakan Byakugan, mungkin aku tidak akan sesulit ini dattebasa. Aku memang benar benar harus melatih ulang tubuhku ini. Setidaknya aku harus bisa menggunakan Byakugan. Sulit sekali rasanya mencari jalan keluar tanpa Byakugan." Racaunya kesal. Yahh, memang ini lah nasibnya. Bukankah Ia sudah menerima kalau Ia kehilangan semua kekuatannya? Kecuali alat ciptaannya.
"Huh. Percuma aku meracau tidak jelas disini. Tidak akan membantu apapun. Aku ini Uzumaki. Uzumaki Boruto dattebasa. Seoarang Uzumaki tidak kenal dengan kata menyerah. Yosh, aku akan terus berjuang. Aku tidak akan menyerah. Karena terus berjuang dan tidak akan pernah menyerah adalah jalan ninjaku!!!" Seru Boruto mantap. Seperti kedua orang tuanya yang tidak mengenal kata menyerah. Uzumaki Naruto dan Uzumaki Hinata. Yang memiliki persamaan atas jalan ninjanya. Boruto pun juga memiliki jalan ninja yang sama dengan kedua orang tuanya.
Boruto pun melanjutkan pencarian jalan keluarnya. Sesaat Ia ingin mencari jalan keluar, tiba tiba Byakugan Boruto aktif. Byakugan Boruto tampak berbeda dari Hyuuga lainnya. Byakugan Boruto hanya ada di mata kanannya saja. Dan juga tak ada urat nadi yang muncul di sekitar mata kanannya. Bola matanya pun berwarna hitam dan lensa matanya berwarna biru terang. Fungsi Byakugan Boruto pun sama dengan Byakugan lainnya. Namun Byakugan Boruto memiliki kelebihan. Byakugan Boruto dapat merasakan arah datangnya bahaya. Bisa melihat dan membedakan mana chkara yang jahat dan mana chakra yang baik. Dan juga dapat melihat kegelapan dalam hati seseorang.
Byakugan Boruto aktif bukan tanpa alasan. Boruto dapat merasakan bahaya akan segera datang pada dirinya.
'Apa apaan ini? Aku merasakan bahaya akan segera datang-ttebasa. Dan juga pandanganku agak berbeda. Pandanganku lebih menajam dari sebelumnya dattebasa. Aku bahkan dapat melihat sekilas keadaan di luar hutan ini. Apakah Byakugan ku aktif? Lalu kenapa baru sekarang-ttebasaaa? Argh' Batin Boruto bingung sekaligus kesal.
Baru saja Ia ingin berlari menuju keluar hutan, tiba tiba seekor ular raksasa datang dan menyerang Boruto dari belakang. Namun dengan sigap Boruto dapat menghindarinya karena Ia sudah tahu bahwa bahaya akan datang.
'Jadi ini bahaya nya. Seekor ular besar? Ghh, aku lupa. Kekuatanku kan sudah hilang. Baru saja aku meremehkannya-ttebasa.' Batin Boruto.
'Huh, gawat. Aku tidak boleh sembarangan memakai kalungku-ttebasa. Aku dapat merasakan Chakra seseorang. Kalau aku memakai kalungku bisa bahaya. Lebih baik aku melawan ular ini semampuku. Kalau tidak mampu, aku langsung kabur saja atau meminta pertolongan orang itu dattebasa' Batin Boruto berpikir.
Setelah mengambil posisi bertarung, Boruto pun siap bertarung dengan ular besar itu.
"Yosh. Baiklah, kita lihat sehebat apa kau dattebasa." Ujar Boruto. Lalu Ia pun membuat handseal.
"Kagebunshin No Jutsu!!!"
BOFF!! BOFF!! BOFF!! BOFF!! BOFF!!
Muncullah 10 bunshin Boruto dan bersiap menyerang ular tersebut.
'Ternyata tidak semua kekuatan ku hilang-ttebasa. Buktinya aku dapat membuat 10 bunshin. Seingatku saat genin dulu, aku hanya mampu membuat 4 bunshin. Ah sudahlah. Lebih baik aku segera mengalahkan ular ini agar aku tidak kerepotan dattebasa.' Batin Boruto berpikir.
"Yosh Minna. Ayo kita tunjukkan kekuatan kita dattebasa. Kita memang tidak tahu seberapa kuat ular jelek itu. Tapi kita tidak akan kalah dattebasa!" Seru Boruto pada seluruh bunshinnya.
"Youkai Dattebasa!!" Ujar semua bunshin Boruto serempak.
Boruto dan semua bunshinnya pun mulai menyerang ular itu. Memukul, menendang, dan lain lain dilakukannya. Tapi ular itu sama sekali tidak kesakitan. Ular itu pun menyerang balik. Seketika Boruto dan semua bunshinnya terlempar jauh kebelakang. Ular itu pun mulai membuka mulutnya. Melahap satu persatu bunshin Boruto.
Boruto yang melihat itu tidak tinggal diam. Boruto ingin melempar shuriken. Tapi pada saat memeriksanya, tidak ada kantong ninjanya disana. Lalu Boruto pun memeriksa seluruh tubuhnya. Tidak ada satu senjatapun disana kecuali kalungnya.
"Ghh. Apa apaan ini. Aku tidak punya senjata sama sekali-ttebasa. Hanya kalung ini. Aku harus bagaimana?" Tanyanya panik entah pada siapa. Bagaimana pun posisinya sekarang terpojok oleh ular itu.
Boruto pun mencoba untuk mencari sesuatu di sekitarnya. Ada 6 ranting pohon tajam dan beberapa batu di sekitarnya. Tanpa pikir panjang Ia pun mengambil semua ranting pohon dan batu itu. Mengumpulkannya menjadi satu.
"Yosh. Semoga ini berhasil dattebasa." Gumam Boruto berharap.
Ia pun mencoba mengalirkan chakranya ke dalam batu ini. Semakin fokus, hingga batu itu terselimuti chakra anginnya.
"Heaaaaaa." Boruto pun melempar batunya.
Dengan cepat batu itu mengarah ke ular besar itu. Mengenai sang ular. Dan tampaknya sedikit berhasil karena ular itu tampak sedikit kesakitan.
"Yatta. Berhasil dattebasa. Yosh, ini belum cukup." Ujar Boruto semangat. Lalu melempar sisa batunya ke arah ular tersebut yang tentunya sudah di aliri chkara angin.
Batunya bergerak cepat ke arah sang ular. Sama seperti tadi. Ular itu meraung raung saat batu itu mengenainya.
"Ini belum cukup dattebasa!!" Seru Boruto lalu mengambil ke 6 rantingnya. Mengalirkan chakranya hingga ranting tajam itu terselimuti chakra angin. Lalu melemparnya ke ular tersebut.
Ranting itu bergerak cepat dan tepat mengenai beberapa bagian depan tubuh ular tersebut. Tentu ular itu meraung raung dengan keras karena serangan ranting ini lebih sakit dibanding batu tadi.
Setelah menerima serangan itu dari Boruto. Ular itu semakin menggila. Ular itu menyerang semua bunshin Boruto hingga hanya menyisakan Boruto asli di paling belakang. Ular itu semakin bergerak cepat ke arah Boruto.
'Kuso. Apa tidak ada hal lain yang bisa ku lakukan tanpa kalungku?" Batin Boruto bingung.
Saking cepat nya ular itu bergerak, hingga Boruto tak sadar bahwa ular itu sudah ada di depan Boruto dan menghantam nya.
BUGH
Boruto pun terlempar jauh beberapa meter sembari menabrak pohon hingga patah. Dan berhenti di pohon paling besar.
'Ugh. Kuso. Hantaman nya kuat sekali dattebasa. Badanku sungguh sakit semua. Bahkan rasanya untuk berdiri saja tidak sanggup. Ghh, kalau begini, bagaimana caranya aku kabur-ttebasa? Argh.' Batin Boruto kesal sembari menahan sakit di tubuhnya.
Ular itu lagi lagi bergerak cepat ke arah Boruto. Namun berbeda dengan yang tadi. Ular itu tidak ingin menabraknya lagi. Ular itu membuka mulutnya lebar lebar. Ular itu ingin memangsa Boruto.
'Argh, bagaimana ini? Ular itu akan memakanku. Apakah aku harus mati disini? Kenapa aku harus mati dimakan ular? Tidak. Aku tidak akan mati. Aku sudah berjanji pada Himawari untuk tetap hidup. Aku tidak akan menyerah dattebasa.' Batin Boruto mantap.
Ular itu semakin mendekat. Bersiap untuk menerkam Boruto.
'Tidak ada pilihan lain.' Boruto pun memegang dadanya. Lebih tepatnya memegang kalungnya. Bersiap untuk mengaktifkan jurusnya. Tapi sebelum itu-
"Raikiri!!!"
Sebuah sengatan petir datang dari arah kiri Boruto. Sengatan Petir itu mengenai ular tadi yang membuat ular itu tersengat. Setelah tersengat ular itu pun akhirnya tergeletak tak berdaya dan-
POFF!!
Ular itu menghilang menghasilkan kepulan asap.
Seseorang datang menghampiri Boruto. Seseorang yang menggunakan sengatan petir tadi.
"Hey nak. Kau tidak apa apa?" Tanya orang itu dengan khawatir.
"Ah. Aku...a-aku tidak apa apa. Apakah Paman yang tadi menyerang ular itu dan menyelamatkan ku? Arigatou paman. Berkat paman, aku terselamatkan. Kalau tidak ada paman, mungkin aku sudah mati dimakan ular itu." Ujar Boruto di sertai cengiran tiga jarinya. Boruto tentu saja terkejut karena ada yang menyelamatkan nya. Walaupun Ia bisa menutupinya. Dan juga, Jutsu yang menyelamatkan nya tadi, terasa familiar.
"Syukurlah kalau begitu. Jangan panggil aku paman. Aku tidak setua itu. Sepertinya kau di serang oleh hewan kuchiyose ya? Apa yang terjadi hingga kau di serang oleh hewan kuchiyose itu?" Tanya orang itu pada Boruto.
"Huh? Hewan kuchiyose?" Tanyanya. Bukan nya menjawab malah balik bertanya.
"Iya. Saat aku menyerangnya, hewan itu tiba tiba menghilang dan meninggalkan kepulan asap. Tidak salah lagi bahwa itu adalah hewan kuchiyose." Ujarnya menjelaskan.
"Ah, begitu. Aku sungguh tidak tahu." Ujar Boruto.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku. Apa yang terjadi hingga kau diserang oleh hewan kuchiyose itu?" Tanyanya sekali lagi.
"Aku tidak tahu. Sebenarnya aku tersesat di hutan ini. Aku ingin mencari jalan keluar. Lalu tiba tiba saja ular itu datang menyerang ku tanpa alasan. Jadi sebenarnya ini hutan apa? Dan dimana kita sekarang?" Jawab Boruto menjelaskan sambil bertanya ke sosok di depannya.
"Kita sedang berada di hutan perbatasan antara Desa Konoha dengan Desa Suna. Dan kau bilang tadi kau tersesat. Memangnya dimana rumahmu?" Jawab Orang itu sambil bertanya kembali.
"Aku...tidak tahu. Aku tidak tahu dimana rumahku. Saat aku bangun aku sudah berada di hutan ini. Apa sebenarnya hutan ini adalah rumah ku?" Jawabnya dan bertanya lagi.
'Apa anak ini lupa ingatan? Apa ingatannya telah di cuci dan Ia di buang di hutan ini? Aku tidak bisa mengambil kesimpulan begitu saja. Siapa tahu anak ini dijadikan umpan untuk menyerang desa. Tapi chakranya sungguh tidak berbahaya. Chakranya seperti Chakra anak anak yang baru melatih chakranya. Lagipula, aku merasa bahwa dia ini mirip dengan Naruto. Yang berbeda hanya gaya rambutnya saja. Aku tidak bisa diam. Aku akan mengawasinya. Akan ku bawa dia ke konoha.' Batinnya was was.
"Aku tidak tahu. Memangnya apa yang terjadi dengan rumahmu sampai kau menganggap bahwa hutan ini adalah rumahmu? Apa kau ingat sesuatu?" Tanyanya sembari menjawab pertanyaan Boruto.
"Aku...aku tidak mengingat apapun. Yang ku tahu, tiba tiba aku bangun di hutan ini." Jawab Boruto.
"Hmm. Baiklah kalau begitu. Mumpung misiku sudah selesai, aku akan membawamu ke desa ku." Ujarnya sembari tersenyum di balik maskernya.
"Eh? Desamu? Memangnya dimana desamu?" Tanya Boruto bingung.
"Desaku di Konoha. Seharusnya kau sudah tau bukan dengan headband yang ada di kepala ku." Ujarnya membalas pertanyaan Boruto.
'Eh Konoha? Berarti aku selama ini berada di dekat Konoha? Ghh, aku benar benar tidak menyadarinya. Dan lagi aku seperti melihat orang ini. Juga jutsunya. Tapi siapa ya, wajah dan jutsunya benar benar mirip..." Batin Boruto berpikir
"Ah. Maaf. Aku tidak menyadarinya paman." Ujar Boruto sembari menunduk.
"Sudahlah. Dan sudah kubilang kan jangan panggil aku paman. Aku tidak setua itu." Ujarnya membalas perkataan Boruto.
"Lalu? Aku harus memanggilmu apa?" Tanya Boruto.
"Ah! Aku lupa. Kita belum berkenalan kan? Namaku Kakashi. Hatake Kakashi." Ucap Pria bernama Hatake Kakashi sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
'A-apa? Hatake...Ka-Ka-Kakashi? Rokudaime Hokage? Kakek Kakashi? Benarkah ini dia?' Batinnya tak percaya. Sembari menutup mulutnya.
"K-kau...kau...Ka-Kakashi?" Tanya Boruto memastikan
"Ya. Tentu saja namaku Kakashi. Memang ada yang salah dengan namaku?" Tanya Kakashi pada Boruto.
Langsung saja tanpa pikir panjang Boruto pun memeluk Kakashi.
"Kakek. Aku sangat merindukanmu Kakek." Ujar Boruto. Badannya sedikit bergetar. Air matanya pun sedikit keluar.
"Aduh. Apa maksudmu? Apa maksudmu dengan Kakek? Aku tidak setua yang kau pikirkan. Bahkan Kakek lebih parah di banding Paman. Dan lagi, aku bukan Kakekmu. Tolong lepaskan pelukanmu." Ujar Kakashi sembari mencoba melepaskan pelukan Boruto dari dirinya.
Boruto tersentak. Ia baru menyadari sesuatu.
"A-ah, maaf Kakashi-san. Aku kelepasan. Kau mengingatkan ku pada orang yang sudah ku anggap sebagai Kakek ku sendiri. Maaf kalau tadi perilaku ku menganggumu Kakashi-san." Setelah berucap begitu, Boruto pun membungkukkan tubuhnya 90 derajat.
'Untuk saat ini lebih baik aku tutup mulut dulu soal identitas ku. Jika waktunya sudah tiba, aku akan memberi tahukan semuanya.' Batin Boruto yakin.
"Ah. Tak apa. Lagipula aku mengerti posisimu. Jadi, aku ini mirip dengan seseorang yang sudah kau anggap sebagai Kakekmu ya? Kalau memang mirip denganku, apa tidak terlalu muda Kakekmu itu?" Ujar Kakashi sembari bertanya.
"Ah, ahahaha. Ma-maafkan aku Kakashi-san. Maksudku, kau seperti versi mudanya dari kakekku." Ujar Boruto sembari menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Hmm, begitu ya. Biar kutebak, pasti Kakekmu itu sangat tampan." Canda Kakashi.
"Ahahaha. Kau benar Kakashi-san. Meskipun aku tidak pernah melihat wajahnya karena Ia selalu memakai masker dimanapun dan kapanpun." Ujarnya sembari menunduk. Yahh, sejujurnya Boruto ingin sekali melihat wajah Kakeknya itu.
'Huh? Kenapa kakeknya ini seakan akan mirip sekali dengan ku ya. Mungkin bukan cuma penampilan, tapi juga kelakuannya sehari hari. Apa mungkin-. Ah sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja.' Batin Kakashi mengada ngada.
"Ah iya. Aku belum memperkenalkan diri kepadamu Kakashi-san." Ucap Boruto dan Ia pun mengambil tangan kanan Kakashi dan mengajaknya bersalaman.
"Namaku Boruto. Uzumaki Boruto Dattebasa." Ujarnya semangat dan penuh percaya diri disertai senyum 5 jarinya.
'Yah, setidaknya tidak untuk margaku. Aku tidak ingin menyembunyikannya. Aku ingin hidup dengan menggunakan marga lahirku.' Batinnya yakin lagi.
Mendengar itu tentu saja Kakashi kaget. Pasalnya, Uzumaki yang Ia ketahui yang masih tersisa hanya Naruto seorang. Yahh, meski Ia kurang yakin sih.
"Apa kau bilang? Uzumaki? Kau Uzumaki?" Tanya Kakashi memastikan.
"Iya Kakashi-san. Margaku memang Uzumaki. Apa ada yang salah dengan margaku Kakashi-san?" Tanya Boruto kembali.
'Apa dia salah satu dari Klan Uzumaki yang tersisa ya. Kalau iya, kenapa rambutnya berwarna kuning? Setahuku, semua Uzumaki itu rambutnya berwarna merah. Aku bisa menerima nya jika rambutnya berwarna merah. Kalau kuning? Patut dipertanyakan.' Batin Kakashi mencoba menelaah.
"Baiklah Boruto. Ada yang ingin kutanyakan. Kalau kau memang Uzumaki kenapa rambutmu berwarna kuning? Seharusnya kau sudah tau kan bahwa Uzumaki itu sebagian besar rambutnya berwarna merah?" Tanya Kakashi dengan nada bicara dan tatapan menyelidik.
"Aku tidak tahu. Mungkin salah satu dari orang tuaku, ayah atau ibuku memiliki rambut berwarna kuning. Mungkin saja gen rambut kuningnya menurun padaku." Jelas Boruto.
"Memangnya siapa kedua orang tuamu?" Tanya Kakashi lagi.
"Eumm, siapa ya? Ugh, beri aku waktu Kakashi-san untuk mengingatnya." Ujar Boruto sembari memegangi kepalanya.
Setelah beberapa menit, Boruto pun angkat suara.
"Maaf Kakashi-san. Aku tak mengingat apapun. Aku tidak bisa mengingat siapa kedua orang tuaku." Jawab Boruto sembari merundukkan kepalanya.
'Huft, sepertinya anak ini memang kehilangan ingatan nya.' Batin Kakashi pasrah.
"Yasudah. Tak apa Boruto. Jangan dipaksakan. Lebih baik kau ikut denganku. Kita ke Konoha bersama sama." Ujarnya disertai dengan eye smile nya.
"Ah, baiklah. Kalau begitu ayo Kakashi-san." Ujar Boruto semangat.
"Kau bisa memanjat pohon?" Tanya Kakashi tak yakin.
"Tentu saja bisa Kakashi-san. Meskipun aku lemah, aku masih bisa kalau hanya memanjat pohon." Jawab Boruto yakin.
"Baiklah. Kalau begitu ayo." Ajak Kakashi lalu Ia pun menaiki dan memanjat pohon nya.
"Umm." Jawab Boruto lalu Ia pun juga mulai menaiki dan memanjat pohonnya serta mengikuti Kakashi.
Bersambung...
Author Note:
Yo Minna. Bertemu lagi nih kita di Chapter 2. Yahh, saya mencoba memperbaiki kesalahan di chap 1. Semoga chap kali ini lebih baik dari chap sebelumnya. Jika ada yang mau mengkritik dan memberi saran kepada saya silahkan. Saya terima dengan lapang dada. Karena Kritik dan Saran daripada Reader sekalian bisa menjadi suatu pengembangan buat saya. Oh iya saya mau memberi tahu. Boruto dan Himawari di Fic ini bukan lah Pairing utama, melainkan Karakter utama. Memang nantinya akan ada adegan mesra antara Boruto dan Himawari tapi tidak saya jadikan Pair. Incest sih, tapi gk sampe tahap pernikahan kok. Udah segitu aja. Setelah Read cerita ini, jangan lupa Review ya Minna. Arigatou Gozaimasu.
READ AND REVIEW
