TimeLine : Waktu mereka dah SMU, kan bakal ada lust-nya...

Warning : AU, OOC, semi PoV (huruf italic, tiap Pov kadang berbeda orang tiap chapter-nya, jadi jeli-jelilah menduga saat itu PoV milik siapa), kayak sinetron Indonesia (mungkin), kalo kagak malah kayak shoujo manga... --;;

Dislaimer : Sayangnya, Digimon Adventure yang bikin bukan saia tapi Hongo-sensei

Fiction Rated: T, no-lemon, paling pol lime... Gak perlu M, nyusahin...

Genre : Romance/Friendship/Drama/Hurt/Comfort/Humor? Ada kali, gak tau, nih...

Chara : Menurut undian, Yamato dapet giliran pertama... cih! *ditempeleng Yamato*


xoxoxox

Mentari masih berpijar walaupun coretan abstrak domba-domba mendung menghampirinya. Suasana gembira sang langit mungkin tak lama lagi akan menghilang. Meski pelan, guntur kadang berdeham ringan untuk memperingatkan manusia.

Pemandangan itu dapat dinikmati dari balik jendela. Seorang pemuda yang beranjak dewasa menopang dagunya dan menatap keluar. Pakaiannya menunjukkan bahwa ia masih bersekolah dan kali ini penjelasan sensei sama sekali tak didengarnya. Pelajaran masih berlangsung, tapi ia lebih tertarik dengan fenomena alam ini.

Tak perlu menghitung waktu. Perlahan, warna kelabu mulai menyelimuti biru terang. Halilintar mengawali nyanyiannya dan bintang utamapun muncul membentuk dendangan irama alam. Sang katak jua turut meramaikan konser siang ini.

Pemuda tadi memejamkan matanya untuk menghayati lantunan lagu semesta.

-

-

-

/first/

Ame ga Furu

.invidia.

-

-

-

Gemerisik tetesan hujan hingga siang ini masih ramai dikumandangkan. Butiran-butiran lembut tampak memukul lembar dedaunan. Menciptakan embun di atasnya. Sementara jalanan membecek bekas hujan.

Istirahat siang telah dimulai dan diserbu siswa-siswi kelaparan. Sebagian tertinggal di kelas untuk menikmati bento. Sedangkan yang lain menuju kantin untuk mengisi perut mereka dengan roti. Mesin penjual minuman siap menelan koin-koin para seito.

Pemuda yang mendalami aliran hujan tadi tak beranjak dari bangkunya. Ia tampak membuka kain pembungkus berisi kotak makanan. Telah mejadi kesehariannya jika istirahat siang adalah melahap bento. Hidangan sederhana namun menggugah selera itu mulai detik ini akan menghilang.

Ia hanya memakannya sendirian. Tampak tak berniat bergabung dengan yang lain.

"Aa... Hari ini juga bento, Yamato?"

Kalimat itu menghentikan aktivitas Yamato. Laki-laki itu menoleh. Gadis berambut pendek yang dikenalnya sebagai teman sekelas juga teman sedari kecil. Gadis itu tersenyum lembut.

"Err... yeah."

"Buatan sendiri lagi bukan?"

"Begitulah. Kau tahu aku tidak punya ibu 'kan?"

"Oh, maaf. Kau mau titip sesuatu? Aku mau beli minuman."

"Tidak, terima kasih. Aku bisa membelinya sendiri nanti."

"Umm... begitu, ya? Kalau begitu, aku duluan."

Gadis tersebut kemudian melenggangkan langkahnya pergi. Jejaka itu tak mengalihkan tatapannya sekalipun. Pupilnya masih menerima setiap gerakan gadis itu yang diteruskan oleh lensa menuju retina.

-

Dia sudah berubah. Pertumbuhannya menjadi gadis secantik itu tak pernah terduga olehku. Sosoknya sempurna. Cantik, ramah, pandai olahraga, dalam masalah pelajaran... aku tak bisa bilang secara pasti, rata-rata untuk nilainya kurasa. Aku mengenalnya sejak dulu, menyukainya semenjak petualangan itu berakhir. Tiap goresan Tuhan padanya tak mampu terlepas dari ingatanku.

-

"Aku minta, ya?" ujar suara bass yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Di depan matanya sudah terdapat tangan maling yang mencomot satu sosis berbentuk gurita.

"Hei, jangan seenaknya! Itu jatahku!" protes si pemilik. Namun, sosis itu terlanjur dikunyah sang maling.

"Tak masalah 'kan? Lagian masih banyak, tuh," sengir maling itu tak memedulikan pemiliknya. Yamato menghela nafas. Ia hanya bisa memaklumi kelakuan temannya jika kelaparan itu.

"Memangnya kau tak bawa bento, Taichi?"

"Hahaha... kau tau saja. Aku meninggalkannya di rumah."

"Bilang saja kau lupa," kata Yamato membenarkan.

Taichi hanya menyengir malu. Namun, jemari lentiknya itu tak pernah malu.

"Hei! Ini kedua kalinya kau ambil sosisku!"

Pemuda usil itu berjalan pergi tanpa mengacuhkan ucapan Yamato, "Arigatou, makanannya."

-

Bocah ini sama sekali tak berubah. Selalu saja seenaknya. Sifatnya menyebalkan, suka bertindak tanpa memikirkan orang lain, bodoh, sering berulah, tapi... dia sama sepertiku. Tak pernah membiarkan adik kami mengalami bahaya. Meski begitu, dia lebih beruntung dariku. Dia berasal dari keluarga utuh, setiap saat bisa selalu bersama keluarga, menjaga Hikari.

Sedangkan aku...

Mereka bercerai, Takeru tidak bersamaku, dia bersama Okaa-san. Hubungan Otou-san dan Okaa-san tidak baik. Sekalipun aku tak pernah mengharapkan itu.

-

"Yoo, Sora! Kau juga mau ke kantin?" sapa pemuda berambut coklat.

"Kau nggak bawa bekal lagi, Taichi?" Sora menghentikan langkahnyasebelum sempat melewati pintu. Ia berkacak pinggang sembari menyelidiki pemuda itu.

"Aku gak menyentuh meja makan."

"Bohong, katakan saja kau lupa."

Kini kekehan ringan ditunjukannya, "Kamu setajam Yamato rupanya."

"Kalo itu mah siapapun juga tau," ujar Sora tersenyum memperlihatkan sedikit giginya, "Mau bareng?"

Seringai kembali berhias di paras jejaka itu. "Ayo, keburu cacing di perutku ngamuk lagi," kata Taichi seraya menarik Sora untuk menemaninya ke kantin sebelum persediaan roti melon ludes. Sekejap mata, dua sosok itu telah hilang dari pandangan Yamato.

Pemuda berambut pirang itu tak mengalihkan tatapannya. Terpaku pada tempat terakhir kedua temannya berada. Pikirannya tak fokus. Dadanya bergemuruh tak menentu. Sakit, iri, geram, semua perasaannya teraduk––tertuju untuk satu orang.

-

Kenapa?

Kenapa yang berada di sisinya harus Taichi? Kenapa bukan aku? Kenapa harus dia? Tidakkah sedikit keberuntungannya diberikan padaku?

Sungguh...

Dulu maupun sekarang yang ada di sampingnya selalu Taichi. Aku tahu, aku bukan orang yang bisa berbaur seperti dia, bersikap sok akrab pada orang yang baru dikenal. Kenapa hanya dia yang mendapat keberuntungan lebih? Kenapa aku yang harus mengalami ini?

Kalau saja, aku lebih beruntung...

-

"Oi, Yamato!" sapa seseorang, "Hei, dari tadi kau tak menyentuh makananmu?"

Yamato terkesiap. Lamunannya pudar berkat panggilan barusan. Wujud nyata sumber kegalauan hatinya kini berada di depannya. Senyum kecut bertengger pada wajahnya, "Begitulah."

Taichi marasa aneh dengan tingkah Yamato, tapi ia mengabaikannya, "Ketimbang sia-sia, buatku saja."

-

Ini dia, sikap yang kadang membuatku jengah.

-

Pemuda itu beranjak dari duduknya dan menutup kotak bekal makanannya.

"Ne, kau kenapa?"

"Ini jatahku, sudah kubilang tadi 'kan?" ucap Yamato keras sembari meninggalkan Taichi kebingungan. Ia tak mau terjadi perkelahian hanya karena kepenatannya yang secara sepihak. Kakinya dibiarkan bekerja tanpa perintah pasti dari otak––mengikuti perasaan saja. Tentu, bentonya tak terlupakan.

"Dia kenapa, sih?"

-

Aku tak mau melihatnya. Itu hanya menambah gusar saja. Menyebalkan. Aku tidak suka dia memiliki apa yang tak kupunyai. Dia memang bukan orang yang pintar, kemampuannya juga tidak begitu bagus. Tapi.... orang-orang selalu mengandalkannya sebagai sosok pemimpin.

Ini... iri? Aku iri pada orang macam dia? Jangan bercanda! Untuk apa iri pada Taichi? Aku... hanya tidak suka dia di dekat Sora.

-

-

-

-

Tarian kodok penyambut hujan telah berhenti. Sedikit sinar mentari menerobos awan-awan mendung setelah angkasa berniat menghentikan tangisannya. Desir angin berhembus pelan. Kini tawa riang berdansa di antara makhuk hidup.

Yang tersisa hanya rintik-rintik hujan. Bola api di mega itu mencondongkan dirinya ke arah barat untuk menuju kaki langit. Anak-anak membubarkan diri dari sekolah. Ada yang mengembangkan payungnya atau nekad menerobos pukulan hujan. Namun, banyak pula yang belum berniat melangkahkan kakinya menuju rumah. Kegiatan klub sore ini masih dilaksanakan.

-

Haah... Sisa jam tadi aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Penat, itu yang kurasakan.

-

Yamato menggendong tasnya dan ia berjalan ke ruang klubnya. Di sepanjang koridor, ia berusaha menenangkan gemuruh yang ia rasakan tadi. Pemuda itu terus melangkah bersama kepenatan yang tak kunjung reda. Saat ini, ia hanya ingin sampai di ruang klub dan memuntahkan semua kefristasiannya pada musik.

Sreek...

Perlahan ia menggeser pintu. Dahinya masih berkerut. Lalu, membiarkan kepalanya menatap dalam ruang musik.

"Kau..."

-

-

-

/first – end/

/next chapter – second sin: acedia/

xoxoxox



Fyuuh~ Akhirnya rampung chapter 1-nya. Saia frustasi bikin ini, frustasi... Gak bakal rampung pas deadline, nih... *nangis di pojokan*. Lupain itu. Anoo, envy-nya kerasa gak? Kayaknya sih nggak. Saia paling gak alhi soal sentuh-menyentuh *digorok*. Sederhana 'kan? Saia gak bisa bikin yang berat-berat, sih. Soalnya saia 'kan dari keluarga yang sederhana... *gak nyambung*. Gak tau, ah. Ancur ini... diskripsinya juga ngawur, tokohnya OoC, nggak mbener... *nyiapin tali rafia*.

Dinikmati sajalah. Oh, ya... siapa yang ditemui Yamato di ruang musik? Menurut kalian siapa? Dan kira-kira Sora bakal sama siapa di endingnya? Saia sendiri berharap TaiSora, tapi saia suka iseng, sih. Haha~ nantikan chapter selanjutnya, ya?

Zerou

.39.