The Glass Half Empty
.
Chapter 2
He is a Weirdo
.
.
Ino menahan nafas menanti apa yang akan dilakukan pria itu. Dia berdiri tepat di belakang Ino membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Mata Ino memejam menduga pria itu akan mulai menelanjanginya dan menginisiasi sebuah kontak fisik. Dia menanti dan menanti. Dua menit berlalu dengan canggung. Ino mendengar pria itu membuang nafas panjang.
Dia menolehkan kepalanya dan menemukan pria itu mundur beberapa langkah. Mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi seolah sedang bingung dan kini Ino juga menjadi bingung melihat tingkah laki-laki itu.
"Hei, Apa yang kau lakukan?" Ino bertanya
Sai bersandar di daun pintu melipat tangannya di dada "Aku tak tahu harus memulai apa. Harusnya kau yang memulai bukan?"
"Dengar ya tuan. Bagaimana aku bisa memulai sesuatu bila aku tak tahu apa yang kau inginkan" jawab Ino jengah. Mengapa pria ini sangat aneh?
"Lakukan saja apa yang biasa kau lakukan"
Ino menggelengkan kepala "Yang mana? Apa kau tahu pekerjaan lady escort? Menemani dan menghibur klien. Bagaimana aku bisa bekerja bila aku tak tahu apa yang kau butuhkah?"
Sai diam sejenak tak beranjak dari pintu. Kehadiran seseorang di rumahnya membuat dirinya merasa tak nyaman tapi bagaimanapun dia harus belajar mentoleransi gangguan. Ini baru satu wanita. Bagaimana dia akan menghadapi publik dan menghadiri penghargaan sialan itu. Dia khawatir semua rasa tak nyaman yang dia rasakan akan membuatnya bertindak agresif dan membuat kekacauan yang bisa merusak kariernya. Walaupun Sai bisa berpura-pura nyaman tapi pura-pura pun ada limitnya.
Mata wanita itu menatapnya dan Sai sedikit tersentak. Rasa cemas mulai menggerayangi tubuhnya. Dia tak suka berhadapan dengan orang lain. Meskipun wanita di depannya luar biasa cantik dia tidak bisa mentolelirnya. Sai menelan ludah "Kau lakukan saja apa yang kau mau. Anggap saja rumah sendiri" kemudian dia dengan cepat berjalan menghilang di balik pintu salah satu kamar apartemen itu.
Ino menghempaskan dirinya di sofa dan bertopang dagu dan melongo. Dia merasa amat bingung dengan reaksi kliennya. Apa dia sangat pemalu? Mengingat pria itu meninggalkannya begitu saja. Mengapa juga dia menyewa Ino bila tak tahu mau melakukan apa. Tarifnya tidak murah.
Sudahlah, Sebaiknya dia tak terlalu memikirkannya. Dia sendiri sedang tak berminat untuk menghibur seseorang. Harusnya seseorang yang menghiburnya saat ini dia masih merasa amat kecewa. Haruskah dia bersikap pesimis. Tak mungkin ada artis yang memulai debut di usia seperempat abad.
Ino memutuskan untuk melihat-lihat isi apartemen kliennya. Mungkin dia bisa mendapatkan sedikit petunjuk mengenai pria itu mengingat rumah adalah cerminan kepribadian. Ino mulai mengedarkan pandangannya ke semua sudut ruangan. Interiornya sangat simple. Di desain dengan warna-warna natural. Tak ada hal yang mencolok. Ruangan ini jelas dibuat untuk kenyamanan. Lalu Ino berjalan menuju dapur. Tak ada yang aneh, unik atau extravagant. Dia menemukan sebotol anggur yang telah dibuka dan melayani dirinya dengan mencari gelas di rak kemudian menuangkan cairan berwarna burgundi itu. Ino menyesap minumannya sambil menatap lukisan di dinding. Sebuah coretan abstrak yang Ino tidak mengerti. Matanya berpindah pada lukisan bergaya realis seorang gadis pirang yang tersenyum di padang bunga. Ekspresi gadis itu seolah berkata 'kejar aku' siapa pun pelukisnya pastilah orang yang perfeksionis. Garis dan warna nya begitu persisi tapi semakin lama Ino menatap gambar itu dia tidak merasa tak ada sentuhan emosi dan sesuatu yang personal. Hanya sebuah gambar yang dibuat dengan teknik sempurna.
Ino membawa gelasnya menyusuri koridor dan dia sangat terkejut sepanjang dinding berdiri rak yang penuh dengan ratusan buku. Apa pria itu petapa yang hanya mengurung diri dan membaca. Sebuah pintu sedikit terbuka dan wanita itu memutuskan untuk mengintip. Dia terkejut menemukan sebuah studio penuh lukisan. Dia melangkahkan kaki masuk puluhan kanvas menghiasi dinding. Ino terkagum-kagum pria itu berbakat semua lukisannya tampak indah tapi gagal menyentuh hati Ino. Kecuali satu sebuah lukisan dengan nuansa hitam. Lukisan itu berbeda gaya dari yang lainnya begitu unik. Gambaran tubuh pria telanjang yang terbenam dalam kabut hitam pekat. Jiwa yang kesepian. Mengingatkan Ino pada dirinya sendiri.
Wanita itu kemudian duduk di lantai, Meringkuk. Betapa pun mencoba bahagia dan dengan jalan yang dia pilih dia tidak bisa menipu dirinya. Jalan ini begitu kotor, berat dan sepi. Bila saja dia berpandangan gelas setengah kosong mungkin dia akan sudah berhenti berjuang karena sejauh ini semua pengorbanannya tidak berbuah apa-apa. Dia terus menerus menelan kegagalan dan kepahitan dan itu menyakitkan.
Mungkin lebih baik dia menyerah dan pulang ke rumah? Menerima takdir bahwa dia hanya gadis biasa dan mungkin dia menemukan kebahagiaan dalam bentuk lain. Mengapa dia bersikeras membuktikan dirinya adalah somebody?
Sai duduk di ujung tempat tidurnya merasa bodoh karena tak punya kekuatan bahkan untuk sekedar berbasa-basi. Dengan memalukan dia lari. Memang menghabiskan waktu dengan orang asing tidak nyaman tapi dia harus mencoba mendekati wanita itu dan menjelaskan mengapa dia membutuhkan jasa escort. Dia punya waktu dua minggu untuk membuat dirinya familier dengan Mizuna.
Sai mencarinya ke ruang tamu dan dapur. Ke mana wanita itu. Apa dia sudah pergi? Sai berjalan menuju studionya dan berhenti di pintu. Pemandangan di depannya membuat Sai tertegun. Sisi artistiknya terusik, Ingin dia mengambil kertas dan pensil membuat sketsa melukiskan apa yang dia lihat.
Wanita itu duduk di lantai, menekuk kedua lututnya. Tubuhnya condong ke depan di topang sepasang lengan yang menyandar di kakinya. Wajahnya tertunduk dalam ekspresi melankolis. Keindahan dalam kesedihan. Sai sendiri hanya mempunyai sedikit emosi dalam spektrum yang kecil. Dia masih mengerti emosi dari ekspresi dan bahasa tubuh seseorang tapi dia tidak paham mengapa sesuatu kejadian bisa membuat manusia beraksi secara spontan dan emosional karena dia sendiri tidak mengalaminya.
Sai masih diam di tempatnya mengamati detail dan struktur wajah sang escort. Mencoba merekam momen ini dalam memorinya. Mungkin nanti dia bisa menuangkannya ke dalam kanvas. Dia merasa tenang-tenang saja ketika dia hanya dalam posisi mengamati seperti sekarang. Tapi Sai paham dia harus berusaha belajar untuk merasa nyaman agar bisa sedikit berbasa-basi dengan orang lain. Kemampuan sosialnya nyaris tak ada. Dia mudah cemas bila harus bertemu orang asing.
Suara pintu bergeser membuat Ino menoleh. Pria aneh itu berjalan mendekatinya dan bersila di lantai tak jauh dari dirinya duduk. Dia tidak menatap Ino. Pandangannya mengarah pada dinding. Dari dekat Ino bisa mengamati profil wajahnya.
Tak ada yang istimewa. Bibirnya pria itu terlalu tipis dan kulitnya terlalu pucat tetapi matanya yang sehitam arang cukup menarik. Ino tak pernah melihat mata yang begitu keras kelam dan suram seperti mata orang-orang yang telah kehilangan gairah untuk menjalani hidup. He looks lifeless
Dia sepertinya tak menaruh banyak perhatian pada penampilannya terbukti pada rambut hitamnya yang menjuntai acak-acakan dan pakaiannya begitu lusuh.
Madam hanya menerima klien yang kaya dan terkenal tapi Ino sama sekali tidak menemukan bukti kekayaan pria itu. Semua yang ada di apartemen ini begitu sederhana dan tanpa gaya. Seperti hanya kliennya yang tampak tawar dan tak menarik.
"Maaf, Aku sedikit merasa tak nyaman berhadapan dengan orang baru" Sai membuka suara
"I can see it, Kau praktis kabur dari hadapanku setengah jam yang lalu. Padahal kau membayarku untuk datang kemari"
Sai menarik nafas sebelum lanjut bicara " Aku perlu seseorang untuk menemaniku datang ke acara penghargaan dua minggu lagi karena itu aku menghubungi agensimu. Aku menyewamu hari ini karena aku perlu merasa familier dengan keberadaanmu. Aku harap dengan menghabiskan waktu beberapa saat denganmu aku tak akan merasa canggung muncul bersamamu di publik" Sai sebenarnya tahu apa yang dia harus lakukan untuk menghadapi publik. Dia hanya butuh mengunci kesadarannya di suatu tempat lalu menyembunyikan ketakutan dan kecemasannya di balik topeng yang bertahun-tahun dia buat dengan hati-hati. Dia bahkan berhasil memalsukan senyuman. Tapi karena dia akan berada di pesta dan menghabiskan beberapa jam di samping Nona ini dan dia tidak ingin terlihat seperti pria yang mengambil sembarang wanita di jalan untuk dibawa sebagai pasangannya. Paling tidak Sai harus tampak relaks dan akrab berdiri bersama teman kencannya.
Hal yang jadi masalah, untuk menjadi akrab dengan seseorang ia harus membuka dirinya dan dia sama sekali tak menyukainya karena itu membuat kecemasannya semakin intens. Tapi tak ada jalan lain. Bagaimana dia bisa meminta Mizune membantunya bila dia tak bisa jujur memberitahu apa yang jadi kebutuhannya dan siapa dirinya.
Pria itu berbicara tanpa menatapnya dan sengaja membuat jarak yang signifikan di antara mereka. Seolah jelas tak ingin dekat maupun di dekati olehnya. "Bagaimana menurutmu supaya kita bisa familier?"
"Aku tak tahu. Aku baik-baik saja bila kau tak mendesakku berbicara tentang diriku"
Ino beringsut mendekat. Sai mencoba tenang saat wanita itu meletakan telapak tangan di lengannya. Ini lebih susah dari yang dia pikir.
"hey, tatap mataku dan coba katakan sesuatu. Sebuah pujian mungkin"
Tubuh Sai menegang tak menyangka kontak fisik membuatnya merasa lebih tak enak " Bisakah kau sedikit menjauh kau menginvasi personal space ku. Aku jadi tak nyaman"
"Aku sengaja. Apa kau berharap aku akan berjalan satu meter di belakangmu saat menghadiri penghargaan itu. Nope setiap gentlemen menggandeng tangan pasangannya. Berusahalah bertahan dan katakan sesuatu?"
Sai memberitahu dirinya dalam hati kalau dia adalah orang lain. Dan membuat dirinya kosong dari kepribadiannya sendiri. Dia berhasil menarik sudut bibirnya menjadi sebentuk senyuman yang tampak di paksakan "Kau sangat cantik" puji pria itu tanpa terdengar tulus.
"Bagus, setidaknya kau bisa berpura-pura untuk tidak nervous"
" Tentu saja aku bisa menghadapi orang lain dalam kapasitas profesional. Tapi aku tak bisa bila harus menghadapi seseorang di luar konteks pekerjaan"
"Kalau begitu anggap saja keberadaanku adalah bagian dari pekerjaanmu. Sebenarnya kita tak perlu saling mengenal secara personal. jangan lupa aku disini karena kau membayarku. Bukan karena aku ingin mengenalmu. Anggap saja aku sebuah objek yang kau beli untuk memuaskan rasa ingin tahumu. Aku tak akan melakukan hal yang kau tak mau"
Sai merenung sejenak. Wanita itu benar "Aku hanya perlu kau menemaniku ke acara penghargaan itu dua minggu lagi dan kau harus mengurus semua basa-basi bila kita bertemu seseorang. Aku tak ingin banyak bicara. Sebisa mungkin kita tak tampil mencolok"
"Aku mengerti. Kau harus menghubungi madam. Dia yang mengatur skedulku. Apa aku bisa pulang sekarang?"
"Tunggu dulu, Apa kau bisa berpose untukku? Aku mau melukismu" Sai tampak mulai relaks. Dia bisa menganggap wanita ini sebagai manekin.
"Tak masalah, Kau sudah membayar waktuku. Apa kau mau melukisku telanjang?" tanya Ino.
"Kalau kau tak keberatan"
Sai mempersiapkan alat lukisnya dan membawa semuanya ke ruang tamu. Ino mengikutinya.
"Kau bisa berpose di sofa, buat dirimu senyaman mungkin karena ini akan lama"
Ino mengangguk dan tanpa ragu melepas pakaiannya. Seolah di lihat telanjang bukan masalah besar baginya. Tapi yang menarik adalah reaksi kliennya. Wajah pria itu tak menunjukkan minat pada tubuh telanjangnya.
Ino menumpuk bantal di sisi sofa dan merebahkan tubuhnya dengan miring. Merasa nyaman dengan posisinya dia menatap lurus pada Sai yang balas menatapnya tanpa emosi. Ino bertanya dalam hati bagaimana bisa seseorang menjadi begitu hampa tapi bisa menghasilkan karya seni yang indah.
Sai menatap Ino dengan saksama. Tubuhnya mungil, terlihat kurus menurutnya. Dia bisa melihat tulang rusuknya menonjol dari balik kulitnya. Tungkai-tungkainya ramping dan jenjang. Sai harus menggunakan palet berwarna cerah untuk menggambarkan wanita itu tapi di balik cerah rambut dan matanya ekspresinya terlihat suram. Kontras yang cukup menarik menurutnya.
Sai mendekati Ino dan mengatur pose wanita itu sesuai dengan bayangannya. Dia meraih dagu wanita itu dan membuatnya melihat ke sisi lain ruangan.
Sai mulai melukis dalam keheningan. Dia tidak mencoba berbicara sedikit pun. Kesunyian membuat Ino kembali menyelami pikirannya sendiri. Pertama kali seseorang pria melihatnya telanjang dan tidak bereaksi sedikit pun. Tak ada decak kagum atau hasrat untuk menjamahnya. Dia tersenyum kecil mendapati kliennya memang tidak normal. Lama-lama karena lelah serta bosan mata Ino menjadi berat. Akhirnya dia tertidur
Sai membiarkan saja wanita itu tertidur sementara dia melanjutkan sketsanya. Sungguh lebih ringan rasanya bila ia tak perlu bicara. Hanya mengamati dan menggoreskan pensilnya. Dia tak pernah tertarik pada orang lain dan tak pernah punya niat untuk membuat orang lain mengerti dirinya. Dia merasa baik-baik saja hidup seperti itu. Tak pernah dia merasa butuh bersosialisasi atau ditemani. Hidupnya cukup memuaskan.
Bel apartemennya berdering. Sai tak pernah kedatangan tamu. Siapa gerangan? Dia mengecek cctv yang terpasang di depan pintunya dengan sedikit curiga. Seorang pria berambut pirang yang tidak dia kenal berdiri disana.
Pria itu kembali memencet bel dengan tak sabar. Akhirnya Sai memutuskan membuka pintu karena pria asing itu tak kunjung pergi meskipun dia sengaja mengabaikan bel pintu yang berdering berkali-kali
"Mau apa?" Tanya Sai ketus
Pria berambut pirang itu malah tersenyum lebar "Aku sopir dari Madam Papillon. Aku menjemput Mizuna. harusnya dia sudah pulang lima belas menit yang lalu tapi dia tak muncul-muncul"
"Oh, Wanita itu tidur. Tunggu sebentar"
Sai menepuk-nepuk pipi sang lady escort "Bangun. Seseorang mencarimu"
Mata Ino mengerjap. Merasa disorientasi karena di bangunkan tiba-tiba. "Uhm.. ada apa?"
"Seseorang mencarimu"
"Ah maaf. Aku segera pergi" dengan cepat Ino memakai pakaiannya "Maaf aku ketiduran" Ino membungkuk pada pria itu.
"Tak apa. Sampai jumpa lagi"
Ino keluar dan melihat Naruto bersender di tembok menantinya.
"Kau tak apa-apa Ino? Aku meneleponmu tapi kau tak menjawab. Apa dia kasar padamu?"
"Tidak, Aku hanya ketiduran Baka"
Mereka berdua masuk dalam lift dan turun ke lantai dasar
"Klienmu tampak sedikit mengerikan"
Ino tersenyum "He is a bit creepy. Tapi aku rasa dia bukan orang jahat"
"Kau sadar Ino pekerjaan ini membuatmu terekspos kekerasan dengan mudah"
"Aku tahu risiko pekerjaanku Naruto. Terima kasih sudah khawatir tidak ada hal yang tak bisa aku atasi"
.
.
Di sela-sela kesibukannya menulis novel Sai menyempatkan diri menyelesaikan lukisan Mizuna. Dia bahkan sudah membuat lusinan gambar wanita itu di buku sketsanya. Sebagai manusia Sai tak tertarik pada manusia lainnya. Dia tak peduli dengan apa yang di alami orang lain seperti halnya dia tak tertarik membagi hal yang terjadi dengan dirinya. Tapi matanya sebagai artis tak bisa memungkiri keindahan. Wanita itu memiliki kecantikan yang unik wajahnya simetris dengan warna iris yang jarang di temukan. Wajar saja dia menjadi gadis paling mahal di escort agensi itu.
Dia sendiri bukan pria yang menarik. Tak ada yang bisa dia ceritakan tentang hidupnya yang tak berwarna. Dia tidak pergi berkencan seperti laki-laki single yang normal karena terlalu banyak usaha yang harus dia lakukan untuk hal yang dia tidak inginkan.
Sai tak pernah menginginkan hubungan yang begitu intim dan dekat karena dia yakin begitu seseorang menjadi dekat dengannya mereka akan mulai mengatur hidupnya dan berusaha mempengaruhi opininya. Dia merasa hal tersebut sangat ofensif. Tapi di sisi lain ia terkadang merindukan keintiman yang dia takuti akan mengubahnya.
Pernah dia mencoba punya pacar hanya untuk menghalau rasa kesepiannya. Tapi tak ada emosi yang tumbuh dalam dirinya bagi gadis itu. Dia terus menerus merasa jengkel ketika pacarnya mencoba mengenalnya lebih jauh dan ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersamanya. Bahkan ketika wanita itu pergi dan memanggilnya manusia yang punya hati. Sai tak merasakan apa pun. Mungkin benar dia tak punya hati.
Sambil mengoreskan kuasnya di kanvas Sai mengingat lagi sang lady escort. Mungkin Sai bisa menghabiskan waktu dengan wanita itu di kala dia merasa kesepian. Mizuna tak akan menuntut dirinya untuk membuat ikatan emosional dan komitmen seperti halnya seorang kekasih. Dia hanya datang bila Sai membayar dan pergi bila dia sudah selesai. Barangkali kekosongan akibat tiadanya ikatan emosi bisa dia isi dengan seks. Dia tidak bisa memenuhi kebutuhan emosionalnya karena rasa takut dan terancam. Tapi dia masih bisa memenuhi kebutuhan fisiknya yang selama ini dia abaikan.
Ketika dia memandang Mizuna sebagai sebuah objek yang bisa dia kontrol dan manipulasi dia merasa tenang. Sebagai seorang profesional Mizuna pastinya tak akan membiarkan emosi tumbuh untuk kliennya. Menghabiskan waktu dengan seorang penjaja cinta tak akan menimbulkan komplikasi.
Bukannya dia tidak ingin untuk punya kekasih dan menjalani hidup yang normal tapi ia memang tak mampu. Ketika dia berusaha menjadi normal rasanya begitu melelahkan. Semua kepura-puraan itu menguras energinya. Lagi pula dia tak ingin menyakiti pasangannya karena dia tak akan pernah bisa memenuhi kebutuhan emosional dan kedekatan yang para kekasih normalnya inginkan.
Ponselnya berdering. Pasti Shino yang meneleponnya. Dia seharusnya sudah mengirimkan draf bagian terakhir novelnya pada sang editor kemarin tapi dia tak mampu menulis. Dia mengalami writer block dan tak sanggup merangkai satu kalimat pun.
"Hei, Shino ada apa?"
"Mana draf yang harusnya aku terima kemarin?"
"Maaf aku belum menyelesaikannya. Aku sedang dalam masalah. Bisakah kau minta penerbit memundurkan deadline novelku?"
"Ok akan aku coba bicara dengan mereka. Ngomong-ngomong Itachi Uchiha tertarik untuk bekerja sama denganmu. Dia ingin kau menulis naskah film yang akan dia garap musim panas tahun depan"
Sai tidak pernah menolak pekerjaan "Aku mau saja menulis naskahnya. Tapi kau dan Shikamaru yang mengatur segalanya"
"Baiklah kalau begitu. Cepat selesaikan pekerjaanmu. Mungkin kau harus mencoba sesuatu yang baru atau ganti suasana"
"Aku pertimbangkan usulmu Shino. Terima kasih" Sai menutup telepon dan pergi mencari segelas air di dapur.
Editornya, Shino Aburame adalah seorang yang pendiam dan Introvert. Hubungan mereka sebatas rekan kerja. Editornya tak pernah tertarik mengulik-ulik kehidupan pribadi Sai. Begitu pula Shikamaru Nara sang manajer publishing. Dia terlalu acuh untuk mengurusi orang lain. Mereka hanya sebatas rekan kerja tapi mereka bekerja secara efisien. Sai senang-senang saja bekerja dengan orang-orang seperti ini. Mungkin dia harus mengikuti saran Shino untuk ganti suasana. Dia butuh inspirasi.
.
.
Ino membiarkan air hangat mengguyur tubuhnya sementara dia menggosok kulitnya dengan keras hingga memerah. dia menangis dalam diam. Perlakuan klien hari ini membuat dirinya merasa kotor. Bajingan ini mengeksploitasi rasa rendah dirinya dengan melontarkan kata-kata jahat yang menghina pekerjaan dan martabatnya. Mengapa dia begitu lemah bisa dipengaruhi oleh ucapan orang yang bahkan belum tentu lebih baik darinya.
Serangan verbal terkadang meninggalkan efek yang lebih permanen daripada pukulan fisik dan Ino sangat tahu soal ini. Rasa percaya dirinya hanya sebuah kamuflase untuk menutupi luka-luka yang timbul dari setiap penolakan dan kekecewaan. Apa lagi yang bisa dia lakukan ketika dia jatuh selain pura-pura tegar. Pura-pura semua itu tidak mengganggunya. Dia harus tetap berjalan dengan kepala tegak meskipun dia meragukan dirinya. Karena sekalinya dia terpuruk dunia akan menertawakannya.
Meski tidak ingin mengakuinya Ino masih berusaha mencari validasi di mana-mana. Dia ingin membuktikan dirinya layak mendapatkan perhatian karena dia adalah sesuatu. Dan menjadi wanita penjaja cinta membuat dirinya mendapat perhatian dari banyak pria tanpa perlu menjadi emosional.
Dia tak ingin menginvestasikan emosi dan perasaannya pada orang lain. Karena dia takut suatu hari dia akan di kecewakan lagi. Bila saja dia lebih berani dan percaya diri mungkin dia akan bangkit dari traumanya dan mengambil risiko untuk menjalin hubungan dengan seseorang akan tetapi pekerjaannya sebagai lady escort membuat Ino kehilangan kepercayaannya pada makhluk yang bernama laki-laki.
Ino menyelesaikan mandinya. Tapi dia masih merasa tidak tenang setelah mengalami ketegangan emosional. Ino menarik celana pendek dan tank top katun dari lemari. Selesai berpakaian dia melangkah kan kaki ke ruang tamunya. Wanita itu menyalakan beberapa batang dupa kemudian duduk bersila di lantai. Aroma lavender memenuhi ruangan dan Ino memejamkan mata. Dia menarik nafas dan pelan-pelan menghembuskannya.
Ino membiarkan tubuhnya relaks dan memfokuskan diri pada aliran nafasnya. Dia berusaha mencari ketenangan dengan membiarkan pikirannya terhanyut ke suatu tempat di mana dia bisa menemukan kembali kejelasan dari pilihan yang telah dia buat.
Ino tak ingin menjadi budak dari emosi dan rasa rendah dirinya. Bila saja dia percaya pada dirinya sendiri. kata-kata seperti apa pun tak akan mampu melukainya dan tak akan pernah terbesit keraguan dalam setiap langkahnya. Ino paham dia harus berhenti mencari perhatian hanya untuk membuatnya merasa lebih baik karena sebanyak apa pun pujian yang dia dapat dia tak akan pernah terpuaskan dan merasa berharga bila ia tak mencoba menghargai dirinya sendiri.
Ino lega telah mengakui kelemahannya. Hanya setelah dia mengamini kekurangannyalah dia akan bisa melangkah maju dengan memperbaiki dirinya sedikit demi sedikit. Bodoh bila dia menunggu seseorang akan datang untuk memperbaikinya karena tak akan ada orang lain yang bisa melakukannya.
Merasa lebih kalem dan fokus. Ino melanjutkan rutinitas malamnya dengan mengecek email sebelum tidur. Tak ada yang penting. Hanya ada satu pesan dari madam.
Ino membaca pesan singkat itu. Seorang klien memintanya untuk pergi ke Kyoto selama akhir pekan. Permintaan seperti ini jauh lebih sulit dari sekedar short time job. karena Ino harus bersama klien selama dua hari. Semoga saja kliennya pria yang menyenangkan
Ino telah memutuskan bilamana dia berurusan dengan klien brengsek dia akan langsung berbalik pergi bila dia bisa. Madam pastinya mengerti betapa tak menyenangkannya direndahkan dia akan menyetujuinya. Ino tak lagi mau mengorbankan kesehatan mentalnya hanya untuk segepok uang. Dia bisa menerima klien mendominasinya tapi tidak dengan melakukan penyiksaan tanpa persetujuan. Masih banyak klien yang sopan dan menghargai dirinya sebagai manusia.
Ino mengikuti jadwal reguler kelas aktingnya dan Sakura tak terlihat dimana-mana. Tanpa kehadiran gadis berambut pink itu Ino nyaris melakukan semua kegiatan sendirian. Dia tidak begitu akrab dengan siswa yang lain karena mereka jauh lebih muda kebanyakan remaja-remaja yang telah menekan kontrak dengan agensi besar.
Setelah kelas pendalaman karakter berakhir. Dia begitu bosan, apa yang akan dia lakukan hari ini tanpa temannya. Masa dia langsung pulang ke rumah. Sakura sibuk syuting dan dia tak punya teman lain di kota ini. Mungkin dia bisa mampir ke agensi memberi tahu madam masalahnya lalu pergi shopping. Dia selalu memerlukan pakaian baru.
Ino jarang berjumpa dengan rekan sesama escort di agensi karena mereka semua bekerja online. Dia tahu wajah-wajah mereka hanya dari foto.
Escort agensi yang dikelola nyonya Tsunade sangat eksklusif. Privasi klien dan sang lady escort sangat terjaga. Para pria mengirim permintaan menjadi anggota dan hanya akan disetujui setelah serangkaian interview yang dilakukan sendiri oleh nyonya Tsunade. Setelah itu klien memperoleh akses untuk melihat profil para lady yang terdaftar dan nyonya Tsunade merekrut gadis-gadis yang sesuai standarnya untuk bekerja. Mereka tak hanya cantik juga dibekali oleh kemampuan bercakap-cakap dan menguasai banyak topik pembicaraan. Memiliki selera fashion tinggi dan tata krama tanpa cela. Karena seorang lady escort juga kadang mendampingi kliennya di suatu acara. Mereka tak boleh membuat kliennya malu.
Setiap lady memilih nama aliasnya sendiri dan tidak diperkenankan melakukan kontak langsung dengan klien. Semua ditangani sendiri oleh nyonya Tsunade. Dia cukup memberitahu mereka kapan dan di mana pertemuan berlangsung dan tentu saja 20% pendapatannya dipotong untuk biaya komisi.
Ino cukup beruntung bekerja di escort agensi yang ternama dan memilih pekerjaan ini tanpa paksaan. Terkadang dia menikmati pekerjaannya bila menemukan klien yang menyenangkan. Di luar sana banyak wanita tak punya pilihan dan terpaksa harus menjual diri di jalanan rentan menjadi korban kekerasan dan penyakit hanya untuk sekedar bertahan melewati hari demi hari.
Ino berhenti di depan vending machine mencari sekaleng teh olong. Musim panas sudah tiba dia jadi mudah haus dan berkeringat.
"Hei Blondie"
Ino langsung siaga mendengar suara itu "Apa maumu?"
Sasuke berdiri di sebelahnya. Memasukkan koin ke dalam vending machine "Sudah jelas, membeli minum" Dia meraih kaleng coca colanya. "Mengapa kau sendirian? Mana kembaranmu?"
"Ha, Apa kau merindukannya Uciha?"
" Bahkan tidak dalam mimpi" Pria itu mengernyit.
"Mengapa aktor sibuk macam dirimu disini?"
"Sekolah ini milikku. Apa perlu alasan yang lebih legit lagi untukku berada disini?"
Pria berambut gelap itu menegak minumannya. Sambil diam-diam memperhatikan Ino dari sudut matanya. Wanita itu punya penampilan sebagai seorang model dan menurut apa yang dia lihat di kelas. Kemampuan aktingnya juga menonjol. "Mengapa masih mengikuti kelas akting meski tak ada yang memperkerjakanmu?"
"Karena aku menyukainya. Dan bila kau merasa sedang murah hati tuan Uchiha mungkin kau bisa membantuku mendapatkan pekerjaan. Aku yakin dengan koneksimu segalanya akan jadi lebih mudah" jawab Ino sepat.
"Ah, Kau menyindir keberuntunganku. Yah, tentu saja orang macam dirimu tak akan mengerti rasanya lahir di keluarga dengan tradisi penuh ketenaran yang hanya bisa kau mimpikan"
"Apa kau selalu begini menyebalkan?"
"Kau yang terlalu sensitif" Sasuke melempar kaleng kosong minumannya ke tempat sampah "Sebaiknya kau mencoba peruntunganmu di teater, tapi aku tak yakin kau mengerti perbedaan akting di depan kamera dan di atas panggung" Sang aktor kawakan itu melangkah menjauh. Meninggalkan Ino yang merasa kesal.
Setelah pria itu berlalu Ino memikirkan kembali kata-katanya. Di Tokyo cukup banyak perkumpulan teater dari yang amatir hingga profesional. Tak pernah dia pikir sebelumnya untuk bergabung dengan grup teater. Meskipun dia bergabung dengan grup amatir itu tetap lebih baik dari pada sekarang. Dia bisa tampil di atas panggung mengasah kemampuannya sekaligus mendapatkan teman baru dan bagus pula untuk resumenya. Selama tiga tahun terakhir dia tak melakukan apa-apa selain mengikuti kelas akting. Wajar saja aplikasinya di tolak bahkan sebelum audisi karena dia tak banyak pengalaman.
Dia menyetir menuju kediaman Nyonya Tsunade yang terletak di sub urban pinggir kota Tokyo dengan gembira. Kali ini dia merasa optimis akan menemukan kelompok teater yang akan dengan senang hati membiarkannya bergabung.
Setelah memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Ino melangkah menuju rumah bergaya barat yang juga berfungsi sebagai kantor agensi Madam Papillon.
Ino memencet bel. Tak selang kemudian Naruto menyambutnya di pintu
"Yo Ino, Apa kabarmu?"
" Aku baik-baik saja. Mana Nyonya Tsunade?"
"Sedang pergi. Apa yang membawamu ke mari Ino?"
"Sebenarnya aku bosan. Kau punya waktu untuk nongkrong bersamaku?"
"Bisa saja, Asal kau mentraktirku makan" jawab pria berambut pirang itu santai. Mulutnya membentuk senyum lebar.
"Ok, Kau bisa makan ramen sepuas hatimu. Asal kau ikut shopping denganku"
"Argh, Ya sudah aku lakukan demi sepuluh mangkok ramen Ichiraku"
Sudah lebih dari dua jam Ino dan Naruto berputar-putar di mall. Pria itu dengan pasrah menjadi pesuruh dengan menenteng banyak barang hasil borongan Ino.
Ino hendak masuk ke toko sepatu yang ke lima. Tapi rekan pirangnya mengeluh
"Ino aku lelah dan lapar. Bisa kita sudahi belanjanya? Kau sudah membeli tiga pasang sepatu untuk apa lagi masuk ke toko ini"
"Sapa tau ada model yang aku cari"
"Aku tak pernah bisa mengerti wanita. Padahal mereka Cuma punya sepasang kaki tapi butuh banyak sepatu"
"Sudah jangan protes Baka, Aku janji ini toko terakhir. Kita pergi ke Ichiraku setelah ini"
Naruto cemberut, tapi dia tidak protes lagi.
"Akhirnya ramen, Tadaima" Ucap Naruto kemudian menyeruput ramen yang masih mengepul panas
"Naruto. Apa kau tau siapa klien yang membooking ku untuk berakhir pekan di Kyoto?"
"Apa kau ingat pria aneh yang kau layani sampai ketiduran? Dia yang membooking. Jujur Ino aku sedikit khawatir. Apa yang dia lakukan padamu?"
"Tidak ada. Dia hanya memintaku untuk berpose menjadi model lukisannya. Karena terlalu bosan aku jadi tertidur. Apa kau tahu siapa namanya?"
"Sai Shimura. Kalau tak salah" Naruto tak punya memori yang baik mengingat nama.
"Dia memang pria yang aneh. Sepertinya dia juga seorang penyendiri"
"Sejak kapan kau peduli pada klienmu?"
"Aku tidak peduli, barangkali hanya kasihan"
"Apa kau merasa simpati karena kau juga merasa sendirian Ino?"
Ino tidak langsung menjawab. Apa dia merasa kesepian?. Mungkin kadang-kadang tapi perasaan seperti itu berlalu dengan cepat bila dia menyibukkan diri.
Sementara Ino berpikir, Naruto dengan cepat menghabiskan mangkuk pertamanya dan menanti mangkuk keduanya muncul. Belum sempat Ino menjawab Naruto sudah melontarkan pertanyaan lagi.
"Apa kau tak berniat berhenti dari pekerjaan Ini?"
"Mungkin nanti saat aku punya prioritas lain" jawab Ino singkat. Sudah jelas dia tak akan jadi lady escort selamanya.
"Apa kau punya seseorang yang kau sukai? "
"Sejak kapan kau tertarik pada kehidupan pribadiku? Atau jangan-jangan kau suka padaku Naruto?" ucap Ino dengan nada bercanda
Pria berambut pirang itu langsung tersedak ramen dan terbatuk-batuk " Tidak Ino, Aku sudah punya pacar"
Mulut Ino langsung mengaga "Oh wow, pria sepertimu bisa punya pacar?"
"Eh, Apa maksudmu?"
"Aku salut pada wanita yang mau jadi kekasihmu tidak mudah punya pasangan lelaki idiot"
"Ah Ino, Jangan menghinaku"
Ino mengantar Naruto kembali ke rumah Nyonya Tsunade dan pulang ke rumahnya dengan merasa lelah. Dia merindukan orang tuanya. Mungkin dia akan pulang minggu depan untuk menengok mereka.
.
.
Sai Shimura menatap jam tangannya. Kaki kirinya mengetuk-ngetuk lantai dengan tak sabar. Dia duduk di meja yang terletak di sudut cafe. Jauh dari lalu lalang orang-orang yang pergi ke stasiun.
Sambil menunggu. Dia menghabiskan kopinya. Apa yang dia bisa lakukan selama dua hari bersama seorang wanita? Dia akan membiarkan Mizuna menghibur dirinya sendiri di Kyoto dan dia akan fokus mencoba melanjutkan novelnya.
Pintu cafe terbuka. Seorang wanita dengan rambut pirang terurai panjang masuk. Dia mengenakan sundress bergaya boho berwarna ungu dengan belahan dada luar biasa dalam. Anting loop besar mengantung di telinganya. Wajahnya nyaris tanpa make up kecuali eye liner hitam yang membingkai mata aquamarine nya dan seulas lip gloss yang membuat bibirnya terlihat meminta untuk di cium.
Sai melihat wanita itu dan tanpa sengaja mendesah 'Haruskah Mizuna selalu berpakaian dengan extra dramatis' pikirnya heran.
"Hai" Ino berdiri di depan kliennya. Penampilan Sai membuat Ino menggigit bibirnya. Dia akan terlihat over dressing bila berjalan di samping pria itu. Dia tidak bercukur, mengenakan wife beater hitam yang sudah memudar dan ketika pria itu berdiri mata Ino nyaris melotot. Dia masih mengenakan celana baggy ketika skinny jeans sudah menjadi trend bertahun-tahun? Please seseorang harus membantunya untuk terlihat layak.
"Karena kau sudah datang. Ayo kita ke stasiun. Aku tak mau kita ketinggalan kereta"
Sai mengambil tas duvel dan back packnya. Dia tak suka membawa banyak barang lagi pula dia punya apa yang dia perlukan sudah ada di Kyoto.
Ino berjalan mengekori pria itu. Tentunya mereka berdua tak terlihat seperti pasangan dengan Ino berjalan satu meter di belakang Sai menyeret kopernya. Pria itu tak berkomentar apa-apa. Bagaimana Ino harus membuat kecanggungan ini mencair. Bukankah Dia ingin mereka menjadi cukup akrab dan tak terlihat sebagai orang asing yang dia sewa untuk menemaninya?
Perjalanan mereka di dalam kereta juga berlalu dalam diam. Sai menyibukkan diri dengan bukunya dan Ino tidak merasa ingin memulai percakapan. Wanita itu memasang head phonenya dan memejamkan mata. Ino sadar beberapa kali Sai memberinya tatapan singkat dari balik buku yang dia baca tapi dia memilih untuk pura-pura tak tahu.
Tiba di stasiun Kyoto. Ino tak lagi betah berdiam diri. Dia menyejajarkan langkahnya dengan pria itu "Katakan sesuatu? Atau paling tidak beritahu aku apa yang harus kulakukan di sini?"
"Kau menemaniku" jawabnya singkat
Satu kalimat itu tidak memberikan cukup informasi mengenai apa yang harus Ino lakukan.
"Kalau itu maumu, we'll do it my way. Bukankah kau ingin kita terlihat sebagai pasangan?"
Pria itu mengangguk. Dia masih canggung berada di sekitar wanita itu meskipun Sai berusaha memikirkannya sebagai objek yang tak berbahaya.
Ino meraih lengan Sai dan menggandengnya. Pria itu tersentak dan sedikit kaku dengan gestur yang sederhana itu.
"Tenang tuan Shimura, Kau harus membiasakan dirimu dengan Ini karena semua gentelmen menggandeng kencan mereka"
Sai membiarkan Ino menggandengnya seperti seekor anak anjing yang tersesat. Dia merasa tak nyaman dengan pandangan orang-orang memperhatikan mereka. Mungkin Sai sekedar sedikit paranoid dan self conscious. Tapi wanita di sampingnya jelas-jelas sebuah magnet penarik perhatian.
Sai melihat sedikit pantulan bayangan mereka dari kaca toko yang mereka lewati. Tentu saja dengan segala kontrasnya mereka berjalan berdampingan terlihat aneh. Dia seorang wanita cantik modis dan trendi. Sementara Sai tak pernah peduli akan rupanya. Pria itu jadi sedikit menyesal. Harusnya dia memilih wanita yang tak terlihat biasa saja. Bukan yang mencolok seperti Mizuna. Dengan menggandeng wanita itu saja dia sudah mendapat perhatian yang tak dia inginkan.
Taxi berhenti di sebuah rumah bergaya tradisional. Supir menurunkan barang-barang mereka. Seorang wanita setengah baya dengan rambut sedikit memutih menyambut mereka.
"Selamat datang tuan Sai, senang anda kembali kemari"
"Terima kasih Sayo, Kami tidak tinggal lama. Hari senin kami sudah kembali ke Tokyo"
"Dimana saya harus meletakan koper Nona ini?"
"Taruh saja di kamarku"
Ino langsung menatap Sai dengan tidak bingung. Itu keputusan yang sangat drastis. Tadi saja pria itu tidak nyaman berjalan menggandengnya dan sekarang dia berencana untuk tidur bersamanya? Unbelievable.
Sai sangat menyukai rumah ini. Dia mewarisinya dari sang ayah yang tak pernah dia ingat karena orang tuanya meninggal saat dia masih sangat kecil. Sai di besarkan oleh kakeknya dan sudah bertahun-tahun dia melupakan keluarganya. Tempat ini begitu tenang jauh dari sibuknya kota metropolis Tokyo.
Sai duduk di atas tatami ruang tamu. Pintu kertas di buka lebar memberikan pemandangan taman yang hijau dan sebuah kolam yang luas. Ino duduk di beranda menikmati keindahan atmosfer rumah ini yang mengingatkannya dengan kediaman keluarga Yamanaka.
Mungkin Ino bukan siapa-siapa di Tokyo. Tapi di kotanya keluarga Ino cukup terpandang sebagai keturunan daimayo. Pelayan membawakan mereka secangkir teh hijau.
"Apa kau akan membuatku tidur bersamamu?" Tanya Ino pada pria yang baru saja akan membaca buku puisi jaman heian.
"Aku bisa mencoba"
"Lalu sekarang apa yang harus ku lakukan?"
"Aku tak tahu, Kalau kau ingin berjalan-jalan beritahu Sayo. Dia akan menyiapkan sopir untukmu. Aku perlu bekerja"
Ino menghembuskan nafas. Tak pernah dia menemukan pria yang sulit seperti tuan Shimura. Pria itu dingin, menjaga jarak dan sama sekali tidak ada sisi imut-imutnya. Mungkin dia harus menyarankan pria itu bertemu psikiater bila dia belum melakukannya sendiri.
Ino melangkah pergi mencari Sayo. Bila tuan Shimura tak berminat bercakap-cakap dengan dirinya. Ino bisa berjalan-jalan sudah lama ia ingin menyusuri kuil-kuil tua di Kyoto mungkin sekalian dia bisa berdoa berharap tuhan mengabulkan permintaannya.
Sai melirik wanita itu pergi kemudian dia meletakkan bukunya di meja. Bagaimana dia bisa menyentuh wanita itu bila berada satu ruangan bersamanya membuat dirinya nervous. Barangkali nanti malam dia akan menemukan cara menenangkan dirinya.
A/N : Hallo, Terima Kasih semua masih membaca ff saya. jangan sungkan untuk meninggalkan komentar.
