Pairing : KaiSoo & HanSoo
Cast : EXO Members
Genre : Romance & Drama
Warning : YAOI, Typo, AU, a little bit Comedy
.
By HopeIce
.
.
- Perfect Catwalk -
.
Suara dentuman alat musik yang terdengar memekakkan telinga berasal dari sebuah smartphone yang ditaruh di atas tanah. Lalu penerangan berupa cahaya lampu panjang yang sengaja dipasang pada bagian bawah jembatan, setidaknya masih berguna untuk seorang pria dua puluh satu tahun itu yang tengah berdiri di depan sebuah tembok. Sudah lima belas menit dan pria itu belum melakukan apapun. Tubuh tingginya dibalut jaket kulit Hugo Boss warna hitam dan celana jeans Guess yang robek di bagian lututnya. Topi Nike dan sebuah masker serupa dengan yang biasa digunakan oleh para penjinak api menutupi mulutnya. Tangan kanannya tergenggam penyemprot cat kalengan.
Musik semakin terdengar menghentak dan pria itu mulai mengkocok-kocok kaleng catnya lalu berjalan mendekat ke arah tembok polos. Ia mulai menyemprotkan cairan cat berwarna merah dan membentuk sebuah garis-garis panjang. Ia melempar begitu saja setelah dirasa cukup untuk bermain dengan cat merahnya. Ia mengambil kaleng cat lainnya yang telah ditata sebelumnya. Kali ini, pria itu bahkan menggunakan dua warna sekaligus untuk menghasilkan goresan-goresan lain pada tembok. Dalam suasana bising suara musik dan angin malam yang berhembus kencang. Pria itu terus berkonsentrasi pada gerakan tangannya. Ia tidak membutuhkan jeda untuk sekedar berhenti dan memperhatikan hasil karyanya. Ia bahkan berlanjut dengan warna-warna lainnya. Ini sudah kaleng ke sepuluh yang telah digunakan dan tergeletak begitu saja karena ia sengaja melempar kesembarang arah.
Ia beralih pada kaleng terakhir, kaleng berisi cat berwarna hitam. Ia memberikan sentuhan terakhir pada tembok yang kini telah berubah menjadi penuh warna dan gambar-gambar abstrak. Ia sedikit berhati-hati agar semprotannya tidak menutupi warna sebelumnya. Setelah itu, ia memundurkan langkahnya dan membuang kaleng terakhir. Ia menghela nafas panjang dan melepaskan masker yang menutupi mulutnya. Ia menatap sekilas hasil karyanya dan menuangkan sedikit cairan berwarna bening yang tersimpan pada sebuah botol mineral plastik. Ia menutup kembali botol itu dan menaruhnya agak menjauh dari tembok. Ia mengeluarkan pematik dari dalam saku jaketnya dan melempar ke arah tembok.
Nyala api langsung menyambar sepanjang aliran cairan bening yang sebelumnya Ia tuangkan. Memang tidak terlalu besar, hanya saja cukup untuk membuat asap hitam dan menodai tembok. Warna hitam terbakar menjadi tambahan pada hasil karyanya. Ia tidak kecewa justru Ia tengah tertawa kencang melihat nyala api yang masih terus berkobar. Ia memejamkan matanya sejenak dan merentangkan kedua tangannya. Seakan merasakan perpaduan hawa dingin dari angin yang bertiup dan efek panas dari api di depannya.
Ia menghentikan suara tawanya begitu mendengar derap langkah kaki yang berlari mendekat kearahnya. Ia tersenyum sekilas begitu iris matanya menangkap dua orang pria berpakaian patroli. Ia melambaikan tangannya kearah dua pria itu dan tersenyum sinis, sebelum akhirnya berlari menjauh. Suara teriakan dari para polisi-polisi itu terdengar murka.
"Dasar, bocah perusak. Kita harus menangkap bocah itu!" Teriak salah satu polisi begitu melihat tembok jembatan yang sudah dipenuhi gambar dan bekas api yang perlahan mulai padam.
Kedua polisi berlari mengejar pria itu yang juga tidak kalah lihai dalam melarikan diri. Pria itu terus memacu langkah panjangnya tanpa menghiraukan nafasnya yang semakin tersengal dan peluh yang membasahi wajahnya. Ia terdiam sejenak begitu melihat sebuah pagar besi yang memisahkan bagian bawah jembatan dengan jalan utama. Ia menoleh untuk melihat kedua polisi yang semakin mendekat ke arahnya. Kedua polisi itu tersenyum mengejek mengira bahwa ia terjebak dan ingin menyerah. Nyatanya tidak, karena Ia memilih untuk memanjat pagar pembatas tanpa menghiraukan fakta bahwa jalanan utama Seoul ada di depannya dengan kondisi mobil yang bisa saja melaju dengan cepat. Ia kembali melambaikan tangan kepada kedua polisi yang tampak terkejut dengan kenekatannya. Setelah itu, Ia berlari menyeberang jalan. Tanpa di sadari sebuah Hyundai putih melaju dengan cepat.
Suara ban yang bergesekkan dengan aspal jalanan cukup kencang terdengar. Bahkan percikan kecil sempat terlihat. Ya beruntung, karena sang pengemudi yang berada di dalam mobil itu berhasil menghentikan laju kendaraannya dan tepat berhenti sebelum menabrak pria yang berlari itu. Pria di dalam sedan, nampak mengeluskan telapak tangannya di depan dadanya. Ia hanya menatap tajam pada pria yang hampir saja Ia tabrak. Kedua iris mata itu saling bertemu dan terdiam beberapa detik. Sebelum pada akhirnya pria di luar sedannya itu tersenyum sinis dan kembali berlari menyebrang jalan. Kali ini beruntung karena tak ada satupun mobil lain yang melintas dan pria itu sudah berada di seberang jalan. Ia meneruskan langkahnya seakan tidak terjadi apapun.
Pria di dalam sedan itu masih memperhatikan, hingga orang yang hampir saja ia tabrak itu benar-benar menghilang dari pandangannya. Ia menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya kembali melajukan sedannya kembali.
"Kau harus berhati-hati Kyungsoo." Ucap pria dibelakang setir itu pada dirinya sendiri. Ia tidak dapat memungkiri bahwa dirinya masih sedikit panik.
Kyungsoo melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lebih sedang kali ini. Ia tidak mau kejadian hampir tertabrak tadi berulang. Buka salahnya juga sebenarnya, pria gila itu langsung saja menyebrang ditempat yang tidak seharusnya. Beruntung Kyungsoo bisa menghentikan mobilnya. Jadi tidak ada kecelakaan dan mobil -yang sebenarnya milik atasannya itu- juga selamat.
"Mulai besok aku tidak akan menuruti Sehun untuk menggantikan tugasnya membawa mobil ini."
000000
Luhan tengah berbaring di atas sofa putih panjang di ruangan kerja Liyin. Sementara Liyin berkonsentrasi pada berkas-berkas bermap hitam di atas mejanya. Ruangan yang cukup besar itu berisi lemari-lemari kayu yang berisi buku-buku, papan putih lebar dengan tempelan kertas bergambar mode-mode pakaian, TV layar lebar lengkap, satu set sofa, serta meja kayu.
"Bagaimana menurutmu tentang pakaian yang dibuat Baekhyun?" Tanya Liyin disela-sela berkonsentrasi pada forto folionya. Cukup lama tak mendapat tanggapan, akhirnya Liyin melepaskan kacamata Chanel berframe cokelat dan menghela nafas panjang.
Ia berdiri dari kursinya dan mendekat ke arah Luhan. Liyin menaruh kedua tangannya di pinggang dan terlihat kesal. Bagaimana tidak, Luhan kini tengah memejamkan matanya sambil mendengkur halus.
"Oh, Tuhan. Luhan!" Teriak Liyin sambil membungkuk dan mendekat ke telinga Luhan.
Suara teriakan Liyin yang kencang membuat Luhan terbangun dengan terkejut. Luhan segera duduk dan membuka matanya. Ia mendapati Liyin masih berkacak pinggang sambil memandang marah kearahnya. Luhan hanya tersenyum setelah merasakan kesadarannya mulai kembali.
"Astaga, Luhan. Aku memintamu kesini untuk minta bantuanmu." Liyin mendelik tajam dan memilih untuk duduk di samping Luhan.
"Mom. Kau tahu aku tidak tertarik." Luhan mencoba membela diri.
"Aku tahu kau menyukai fashion, Luhan." Kali inipun Liyin memberi sanggapan cepat. Luhan merespon dengan tertawa kecil dan menyandarkan kepalanya pada sofa.
"Aku suka, hanya saja aku tidak mau berada disini, Mom. Kita bisa hidup tanpa bayang-bayang keluarga Kim. Kita kembali ke Beijing dan kita hidup berdua di sana. Kita wujudkan mimpi kita sendiri." Suara Luhan terdengar meninggi. Bukan niatnya untuk berbicara dengan nada seperti itu pada Liyin.
"Luhan…" Suara Liyin terputus dan Ia memilih terdiam seakan lidahnya kelu dan tak mampu mengeluarkan kata-kata.
Luhan menoleh dan mendapati Liyin menatapnya dengan sedih. Akhirnya Luhan berpindah duduk di lantai, tepat dihadapan Liyin. Ia mengenggam tangan Liyin dengan lembut.
"Aku tidak berniat membuatmu sedih. Aku hanya tidak suka melihatmu seperti ini. Aku sudah dewasa dan belajar banyak. Aku bisa menghidupi kita berdua di Beijing dan lagipula sudah saatnya kita pergi dari keluarga Kim. Kita tidak dibutuhkan lagi. Jongin tidak akan menerima kita, Mom."
Kali ini Liyin tak kuasa lagi menahan dirinya. Air mata mulai membasahi pipinya dan membuat jejak halus disana. Refleks, Luhan menaruh tangannya untuk menghapus air mata Liyin.
"Kau sudah menjaga Jongin dengan baik. Kau juga sudah menjalankan Ice Mode selama tuan Kim tiada dan menunggu Jongin siap. Aku tahu kau mencintai tuan Kim tapi Ia sudah tidak ada. Asal kau tahu, aku marah melihat Jongin memperlakukanmu, Mom." Ucap Luhan lagi.
"Tapi Mom harus menjaga Jongin, Luhan. Itu janji yang harus Mom tepati."
"Tapi Jongin tidak menginginkan itu, Mom." Luhan mengucapkan dengan lirih. Ia tahu bahwa ibunya itu juga sangat menyayangi Jongin –saudara tiri yang ia akui sangat brengsek- dan Luhan sejujurnya juga tidak merasa iri jika Liyin menganggap Jongin seakan anak kandungnya sendiri. Hanya saja sejak kemunculan dirinya dan Liyin pertama kali, Jongin sudah menunjukkan kebencian terhadap mereka. Parahnya lagi, itu tidak pernah berubah hingga detik ini.
Jongin tidak pernah memanggil Liyin dengan sebutan Mom jika berada di rumah. Ia juga tak pernah menganggap Luhan sebagai kakak tirinya. Di luar, segala keharmonisan yang terlihat adalah kepura-puraan yang dibentuk Jongin karena Ia tak ingin cela menghancurkan image sempurnanya.
"Maafkan Mom, Luhan. Mom tidak bisa." Ucap Liyin dengan penuh ketulusan membuat Luhan semakin merasa frustasi.
Luhan ingin rasanya berteriak tapi Luhan tak bisa. Luhan memilih menghela nafas panjang dan kembali mengenggam tangan Liyin lembut.
"Mom, tapi jika Jongin bertindak diluar batas toleransiku dan membuatmu semakin menderita maka aku tidak peduli dengan semua janji yang kau buat dengan tuan Kim. Aku akan memaksamu ikut denganku ke Beijing."
Liyin mengangguk setuju. Ia menghapus air matanya dan memeluk Luhan erat. Luhan juga membalas pelukan itu sambil mengelus pundak Liyin perlahan.
"Terima kasih, Luhan. Kau memang putraku yang tampan dan baik." Ucap Liyin disela-sela itu dan Luhan hanya membalasnya dengan tertawa.
"Sudah selesai dramanya?" Tiba-tiba suara sinis terdengar dari arah pintu membuat Liyin dan Luhan mengakhiri pelukannya dan menengok kearah sumber suara.
Jongin nampak berdiri dengan tangan yang berlipat di dada dan bersandar pada dinding. Wajahnya nampak berkeringat meski tak membuat ekspresi sinis dan tajam luput darinya.
"Jongin, darimana saja? Pakaianmu berbau cat dan kau terlihat lelah. Apa kau sudah makan malam? Jika belum, aku akan meminta maid untuk menyiapkannya untukmu." Liyin berdiri dan mendekat kearah Jongin. Jongin mendecih sebagai respon balasan sementara Luhan masih berdiri di dekat sofa sambil memperhatikan.
"Aku ingin meminta forto folio milik designer yang tadi siang itu." Ucap Jongin dingin dan tak berniat menjawab satupun pertanyaan dari Liyin. Liyin hanya mengangguk singkat dan segera berjalan menuju meja kerjanya. Ia merapihkan berkas-berkas itu dan memberikannya pada Jongin yang masih berdiri dengan sikap acuhnya.
Jongin mengambilnya dengan kasar dan segera pergi dari ruangan Liyin tanpa berkata apa-apa lagi. Liyin kembali menghela nafas perlahan dan berbalik menatap Luhan.
"Mom, istirahatlah." Ucap Luhan dengan nada simpati dan Liyin kali ini membalasnya dengan tersenyum dan mengangguk.
-the other side-
Kyungsoo baru saja selesai memarkirkan Hyundai milik Baekhyun di halaman parkir apartemen. Ia berjalan menuju lobby sambil sesekali membungkuk dan tersenyum kaku kepada para tetangganya yang kebetulan adalah para wanita usia 30an, belum menikah, dan hal yang paling menyebalkan adalah mereka terlalu agresif. Kyungsoo menarik nafas panjang dan segera berjalan cepat menaiki tangga lantai tiga menuju pintu bernomor 31.
Ia memutar kunci dengan bandul huruf K dan masuk ke dalamnya. Ia menaruh sepatu hitamnya di rak dan segera berganti dengan sandal. Ia melangkah menuju sofa putih panjang yang mengarah tepat ke balkon. Ia melepas dua kancing teratas kemejanya dan memejamkan mata. Wajah lelah nampak terlihat jelas di kulit putihnya itu bahkan bibir khas berbentuk hati itu agak sedikit pucat.
"Mau teh hijau? Ku dengar ini bisa mengurangi sedikit stress." Suara lembut terdengar dari arah dapur yang terletak di sebelah kanan sofa panjang membuat Kyungsoo membuka matanya dan menoleh.
Kyungsoo menggangguk singkat dan mengangkat ibu jarinya kepada pria yang berada di dapur itu. Kim Jongdae, pria yang lebih tua satu tahun dari Kyungsoo yang sudah menjadi teman akrabnya sejak kecil. Mereka tinggal bersama sebagai langkah dari menghemat biaya. Tarif hunian di pusat kota Seoul bisa terbilang cukup menguras kantong. Berbeda dengan Kyungsoo yang bekerja di dunia fashion. Jongdae lebih menyukai musik dan memilik untuk menjadi penyanyi di cafe.
Jongdae menghampiri Kyungsoo yang masih bersandar pada sofa sambil membawa cangkir putih berisi teh yang masih berasap. Ia menaruh di atas meja.
"Rasanya enak." Ucap Kyungsoo sambil meniup-niup dan meminum perlahan tehnya.
"Kau mau tahu itu dari siapa?" Jongdae menaikkan kedua alisnya dan tersenyum membuat Kyungsoo mendelik dan sedikit khawatir. Ya, Kyungsoo selalu punya firasat tidak enak jika Jongdae sudah bersikap seperti itu.
"Tetangga nomor 20. Aku lupa namanya, tadi pagi Ia mengantarkan teh itu setelah kau pergi bekerja. Pesannya adalah teh ini khusus untuk Do Kyungsoo agar Ia selalu bersemangat." Jongdae berusaha menahan tawanya setelah mengakhiri ucapannya. Sementara itu, Kyungsoo langsung memasang wajah horor dan segera berlari menuju tempat pencucian piring dan berusaha mengeluarkan cairan teh dari dalam perutnya. Ia berusaha keras bahkan sampai memukul-mukul lehernya hingga memerah.
Sementara itu, Jongdae sedang menahan sakit di perutnya karena kali ini Ia tidak bisa menahan tawanya. Suara tawanya menggelegar bahwa bergema di dalam ruangan apartemen. Ia bahkan memukul-mukulkan kepalan tangannya pada sofa melihat respon dari Kyungsoo yang masih berusaha memuntahkan kembali teh yang sudah ada di dalam perutnya.
Jongdae berjalan mendekat kearah Kyungsoo dengan sedikit bersusah payah karena masih berusaha menahan tawanya yang tidak bisa berhenti. Ia mengeluskan tangannya pada leher Kyungsoo. Kini tidak hanya leher tapi seluruh wajah Kyungsoo juga memerah.
"Sudahlah." Ucap Jongdae singkat sambil mengangkat sudut bibirnya.
"Tidak! Aku harus mengeluarkannya. Seharusnya kau membuangnya bukan memberikannya kepadaku. Kau menyebalkan, Kim Jongdae." Kyungsoo mengangkat wajahnya dan menatap Jongdae tajam.
Jongdae hanya membalas dengan tersenyum. Ia tahu, jika Kyungsoo sudah memanggil dengan nama marganya itu, menandakan bahwa Kyungsoo tengah marah pada level tinggi. Kyungsoo kembali menundukkan kepalanya dan berusaha mengeluarkan isi perutnya.
Jongdae berjalan menuju kamarnya meninggalkan Kyungsoo. Begitu Jongdae sampai di pintu. Ia menoleh sedikit kearah Kyungsoo.
"Kyungsoo, teh itu aku beli dari supermarket tadi. Jadi berhentilah! Aku tidak ingin memanggil polisi karena menemukanmu tergeletak di lantai dapur dalam keadaan mengerikan." Teriak Jongdae dengan amat sangat kencang hingga tak mungkin jika Kyungsoo tidak mendengarnya. Seketika itu Jongdae bisa melihat jika Kyungsoo kembali menegakkan tubuhnya dan menatap murka kearahnya. Kyungsoo bergerak cepat dengan mengambil sebuah spatula besi yang tergantung di jejeran alat-alat masak.
Respon yang baik dari Jongdae karena Ia berhasil menutup pintunya bertepatan dengan sebuah spatula yang di lemparkan kearahnya.
"Berhenti menggodaku, Kim Jongdae!" Kali ini Kyungsoo yang berteriak kencang sambil menatap kesal pintu kamar Jongdae. Bisa Ia dengar jika kini Jongdae kembali tertawa kencang di dalam kamarnya.
"Aku menyayangimu, Do Kyungsoo. Untuk itu aku selalu menggodamu." Balas Jongdae dari dalam kamarnya dan membuat Kyungsoo semakin meradang apalagi suara tawa Jongdae semakin tidak terkontrol. Kyungsoo membuang nafas frustasi, lalu memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar pribadinya.
Kyungsoo melepaskan kemeja dan celana kerjanya. Ia berjalan menuju kamar mandi dan melepaskan pakaian dalamnya. Ia menyalakan keran dan air mengalir dari pancuran, membasahi seluruh tubuhnya. Ia memejamkan matanya menikmati efek air hangat yang seakan menenangkan seluruh syarafnya. Tiba-tiba saja peristiwa kecelakaan beberapa saat lalu kembali membekas di ingatannya. Bagai sebuah roll film yang kembali diputar, kejadian dimana saat mata itu saling bertemu dan terdiam walau dalam hitungan detik membuat Kyungsoo tersentak dalam pikirannya.
"Tidak mungkin pria itu." Geram Kyungsoo dengan frustasi.
000000
Ice Mode, sekali lagi nampak diluar dari batas ketenangan. Pagi ini, ya disaat jam masih berputar diangka sembilan pagi. Semua nampak kacau dan berlarian dengan tergesa-gesa. Semua karyawan yang baru saja tiba segera menuju ke ruangan mereka dengan cepat. Sebagian memakai tangga darurat dibanding dengan lift. Karyawan resepsionis segera merapikan blazer mereka dan merapihkan make up serta tatanan rambutnya.
Hal ini disebabkan oleh pria yang baru saja keluar dari mercedez hitamnya itu muncul. Dengan kemeja warna biru yang dipadu padankan dengan coat Yves Saint Laurent dan celana panjang hitam merk Versace serta sepatu Louis Vuitton dengan warna senada yang nampak mengkilap. Ia melangkah masuk sambil membawa tas kulit Gucci dan forto folio. Pria itu adalah Jongin. Secara mengejutkan, Ia datang tanpa pemberitahuan dan tanpa ditemani oleh Liyin. Sejak kemunculan dihari sebelumnya, semua karyawan Ice Mode sudah diberitahu perihal Jongin. Untuk itu, mulai hari ini semua karyawan Ice Mode sudah mengetahui siapa Jongin.
Ia mengacuhkan begitu saja beberapa karyawan yang membungkuk hormat padanya. Jongin tetap melangkah dengan pandangan tegas dan wajah dinginnya. Tak ada satupun anggukan apalagi balasan atas sapaan itu. Ia melangkah menuju lift yang sudah terbuka. Bertepatan dengan itu, seorang model cantik sudah terlebih dulu berada di dalamnya.
Model itu nampak terkejut atas kemunculan Jongin dan secara refleks membungkuk dan segera keluar dari lift. Jongin tanpa mengucapkan apa-apa segera menekan tombol sehingga pintu lift tertutup. Lift akhirnya berhenti di lantai sepuluh. Lantai paling atas yang diperuntukan untuk kantor pemilik dari Ice Mode. Untuk saat ini, digunakan oleh Liyin dan beberapa staf ahlinya.
Yixing, pria berusia dua puluh empat tahun yang menjabat sebagai sekretaris Liyin segera berdiri dari duduknya ketika melihat kemunculan Jongin. Pria berlesung pipit itu mengambil tablet pcnya yang digunakan sebagai agenda dan mengikuti Jongin. Jongin segera masuk ke dalam ruangan Liyin tanpa mengatakan apapun.
Jongin terlihat memperhatikan ruangan itu sebentar. Cukup luas dan hampir sama dengan ruangan kerja Liyin yang ada di rumah. Hanya saja, terdapat tambahan beberapa lemari yang berisi pakaian dan aksesoris. Jongin mendengus tidak suka dan membalikkan badannya menghadap Yixing.
"Kau sekretarisnya?" Tanya Jongin tanpa basa-basi dan Yixing menjawab dengan mengangguk kaku. Jongin memperhatikan penampilan Yixing secara keseluruhan.
"Tidak buruk. Keluaran terbaru dari Banana Republic dan sepatu kulit Giorgio Armani." Ucap Jongin lagi melihat pakaian Yixing berupa setelan kemeja putih yang dipadu padakan dengan cardigan cokelat, dasi merah serta celana panjang dan sepatu yang juga berwarna cokelat. Yixing membalas dengan tersenyum kaku. Sementara Jongin kembali mengarahkan telunjuk kearah Yixing.
"Panggilkan tuan Byun dan tim yang bertanggung jawab atas keluaran terbaru Ice Mode. Sekarang!" Perintah Jongin dengan tegas.
"Tapi Nyonya Liyin akan membahasnya besok beserta tim kreatif yang lain." Secara refleks pun Yixing berbicara. Ia nampak terkejut dengan dirinya sendiri dan berakhir dengan membekap mulutnya menggunakan tablet pc yang ia bawa. Jongin merespon dengan tersenyum sinis.
"Sekarang!" Ulang Jongin sekali lagi dan kali ini terdengar lebih tajam. Yixing kemudian mengangguk dan memilih untuk segera keluar dari ruangan Liyin.
Jongin duduk di atas sofa putih yang berada di ruangan sambil membuka kembali forto polio yang ia bawa.
Sementara itu, Baekhyun yang menerima panggilan Yixing segera menuju ruangan Liyin dengan tergesa=gesa yang diikuti oleh Chanyeol beserta Kyungsoo dan Sehun yang menbawa beberapa berkas di tangan mereka. Baekhyun kali ini nampak sedikit pucat saat tepat berada di depan meja Yixing.
"Ini gila. Ia bahkan bertindak tanpa Nyonya Xi." Ucap Baekhyun dengan sedikit terengah-engah.
"Dan akan lebih gila lagi jika kalian tidak segera masuk ke dalam." Yixing memelankan suaranya dan segera menggiring mereka masuk ke dalam ruangan.
Baik Baekhyun, Chanyeol, Sehun, dan juga Kyungsoo nampak membungkuk. Jongin merespon acuh dan segera memberikan gesture untuk memerintahkan mereka duduk di hadapannya. Jongin membuka forto polio dan menaruhnya di atas meja kaca.
"Aku tahu kau sedang bermain aman dengan bisnis ini, tuan Byun. V-neck, mini skirt, tunic dengan warna-warna simpel. Tidak adakah yang lebih berani kau tampilkan lagi? Semua brand mode melakukan hal yang sama dengan pakaian seperti ini. Jika kau ingin menguasai penjualan, mungkin kau benar tapi apa yang kita punya. Tidak ada, tuan Byun." Jongin mengucapkan dengan penuh penekanan dan atmosfir yang terjadi diruangan itu nampak tegang.
Baekhyun yang sudah bertahun-tahun menjadi designer utama di Ice Mode tidak pernah merasa tertekan seperti saat ini. Ucapan Jongin seakan menusuk dan membuatnya mengalami sakit kepala dadakan. Chanyeol, Sehun, Kyungsoo dan bahkan Yixing hanya terdiam dengan menunduk.
"Aku tidak berharap kalian seperti Marc Jacobs, Tom Ford, Donatella Versace, ataupun si tua Karl Lagerfeld. Tapi setidaknya kalian bisa menciptakan suatu ciri khas dari brand yang kalian miliki." Kali ini Jongin berdiri dari duduknya dan menaruh tangannya dibalik saku celana panjangnya sambil menatap tajam.
"Maaf, tuan muda Kim. Jadi maksud anda adalah meminta saya untuk menganti semua design ini?" Baekhyun sejujurnya nampak sedikit menahan emosi. Ya, secara umur Ia memang lebih tua tiga tahun dengan pria yang menyandang status sebagai pemilik Ice Mode itu.
"Ya." Jongin menjawab dengan cepat dan singkat. Baekhyun nampak menahan nafas dan menatap Jongin dengan horor. Astaga, siapa yang tidak akan emosi jika design yang sudah kau ciptakan dengan penuh pemikiran matang dan bahkan sudah diwujudkan menjadi pakaian kini dibuang begitu saja.
Jika saja, pria dihadapannya itu bukan Jongin. Baekhyun bersumpah akan mencincangnya dalam keadaaan hidup-hidup. Chanyeol melirik Baekhyun lewat sorot matanya dan ia sangat mengetahui bahwa Baekhyun sedang berusaha menahan dirinya untuk tidak menyerang Jongin. Sementara Sehun dan Kyungsoo hanya saling melirik.
"Aku beri waktu satu minggu. Aku menunggu di hall jam dua siang, tuan Byun." Jongin meninggalkan ruangan tanpa mendengar respon dari orang-orang yang baru saja ia berikan terapi jantung itu.
Sepeninggalan Jongin, Baekhyun masih terduduk dalam keadaan shock luar biasa. Wajahnya semakin pucat dan keringat dingin keluar dari tubuhnya. Chanyeol dan Sehun bahkan harus membantu Baekhyun untuk berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan Liyin. Kyungsoo berjalan di belakangnya sambil membawa berkas yang ia bawa tadi.
"Ini menyeramkan." Gumam Kyungsoo dengan lirih dan nyatanya terdengar oleh Yixing yang berada di sebelahnya.
"Kurasa kita harus membiasakan diri dengan hal-hal menyeramkan mulai detik ini. Ia bahkan sudah mulai akan melempar Nyonya Xi." Yixing tersenyum pahit dan kembali menuju meja kerjanya.
Kyungsoo mengangguk kecil dan kembali mengikuti timnya. Ia pun juga sangat terkejut dengan sikap orang yang menjadi pemilik Ice Mode itu. Mungkin jika dirinya ada di posisi Baekhyun, ia yakin dirinya akan pingsan di tempat saat itu juga.
Kyungsoo memilih kembali berjalan menuju meja kerjanya yang berada di lantai lima sementara Chanyeol dan Sehun masih membantu Baekhyun memulihkan efek kejut yang dibuat oleh Jongin. Kyungsoo mulai mengetikan pada keyboard komputernya. Ia menuliskan beberapa kata.
Ia mulai menggerakkan mouse dan mengklik pada sebuah artikel yang tertera disana. Membacanya dengan penuh konsetrasi penuh. Beberapa kali Kyungsoo nampak membulatkan matanya yang memang sudah sangat besar itu dan ketika artikel itu sudah selesai dibaca, Kyungsoo menghela nafas panjang.
"Kim Jongin memang seorang perfeksionis sialan." Gumam Kyungsoo sambil menatap layar komputernya dengan frustasi. Tiba-tiba bayangan pria yang hampir ditabraknya kemarin terlintas begitu melihat foto Jongin.
"Tidak…tidak… Itu tidak mungkin." Kyungsoo mengacak rambutnya dengan kasar.
000000000000
Malam ini, Sehun kembali dibebas tugaskan untuk membawa mobil Baekhyun. Baekhyun memang jarang membawa mobilnya sendiri apalagi disaat sedang frustasi. Saat ini mungkin Baekhyun sedang berada di dalam kantornya sambil memikirkan design terbaru yang akan ia ciptakan.
Sehun tengah menyantap sepiring jajangmyeon kesukaannya dengan lahap ditemani sebotol soju. Ia bahkan tak memperdulikan tatapan jengah Kyungsoo yang berada di depannya itu. Ya, saat ini Kyungsoo memang sedang memenuhi janjinya untuk mentraktir Sehun yang sempat batal dikarenakan Ia harus mengantikan tugas Sehun membawa mobil Baekhyun kemarin malam.
"Kau ini lapar atau apa? Santai saja, bibi Lee tak akan menutup toko ini sebelum jam sebelas nanti." Kyungsoo tertawa kecil sambil meneguk kaleng coke miliknya.
"A..koouuu...taaa..peuwd..uuli." Balas Sehun dengan keadaan mulut yang penuh dengan makanan dan Kyungsoo menatapnya dengan jijik. Kyungsoo segera melempar tisu kewajah Sehun. Sehun mengunyah dengan cepat dan mengelap mulutnya yang kotor dengan tisu yang dilempar Kyungsoo tadi.
"Kapan lagi aku bisa bernafas lega dan menikmati jajangmyeon yang lezat ini." Sehun menunjukkan piring mienya yang tinggal sedikit di depan Kyungsoo. Kyungsoo membalas dengan mendecih.
"Aku serius, Kyungsoo. Kau tahu karena mulai besok saat matahari yang indah itu menerangi Seoul tercinta ini maka semua siksaan akan berjalan di depan kita berdua. Malam ini, Baekhyun sedang bersemedi sambil memikirkan ide-ide untuk design yang diinginkan si Jongin gila itu. Itu tandanya, besok kita semua akan kembali bekerja paksa." Sehun kembali mendramatisir dengan memandang sendu piring dan botol sojunya.
Kyungsoo tertawa kecil dan mengangguk singkat."Ya, kau benar."
"Nyonya Xi tak pernah berkata seperti itu kepada Baekhyun. Sekalipun ia menolak design yang dibuat Baekhyun. Ia selalu menggunakan cara yang baik tapi yang terjadi tadi siang benar-benar diluar dugaan. Jika aku jadi Baekhyun, mungkin aku akan memilih untuk menghajar bos gila itu." Sehun mengepalkan tinjunya keatas dengan penuh ekspresi murka dan kali ini Kyungsoo tertawa kencang.
"Kau tidak akan berani Sehun." Ledek Kyungsoo disela-sela menahan tawanya dan Sehun yang mendengar itu membalas dengan tersenyum lebar dan menghentikan adegan murkanya itu.
"Memangnya kau tidak kesal dengan sikapnya yang sok itu? Apa kau lupa kalau kemarin, ia menghinamu bodoh?" Kali ini Sehun menatap Kyungsoo. Kyungsoo menarik nafas dalam dan menghembuskannya kencang.
"Bohong jika aku tidak kesal. Aku bahkan berpikir untuk mencelupkannya ke dalam bak kemarin. Tapi apa yang bisa kita lakukan, Sehun? Tidak ada. Sudahlah lebih baik kita beristirahat dan pulang. Aku yakin nanti malam kita akan ditelpon tuan Byun untuk datang lebih awal dan kembali menjelajah mall."
Mendengar ucapan Kyungsoo, Sehun segera menghabiskan jajangmyeonnya dengan cepat dan meneguk sojunya hingga tak tersisa. Kyungsoo tertawa pelan dan berjalan untuk membayar.
Setelah itu mereka keluar dari kedai itu dan berjalan menuju halte bus yang terletak tidak jauh. Kyungsoo menaruh kedua tangannya dibalik saku coat panjangnya. Ia tersenyum kecil mendapati Sehun tengah bersiul-siul.
"Hei, Sehun. Apa kau pernah mendapati seseorang yang mirip denganmu?" Tanya Kyungsoo sambil tetap berjalan dan menatap ke depan sementara Sehun yang ditanya menghentikan siulannya dan menatap Kyungsoo heran.
"Orang-orang selalu menyebutku mirip dengan Edward Cullen." Jawab Sehun dengan suara tawanya yang meledek. Kyungsoo kembali merespon dengan pandangan konyol.
"Seandainya orang-orang itu tahu bahwa duplikasi pangeran vampire ini tidak lebih dari pria konyol yang berpura-pura sedingin es. Mungkin mereka akan menarik ucapannya itu." Gurau Kyungsoo membuat Sehun tertawa kencang dan merangkul pundak Kyungsoo.
"Aku tetap pangeran es, Kyungsoo." Bisik Sehun tepat di telinga Kyungsoo dan membuat Kyungsoo segera mendorong Sehun. Sehun kembali tertawa.
"Kau lakukan sekali lagi. Maka aku tidak akan segan-segan mengambil semua koleksi parfum-parfum mahalmu itu. Kau tau kan? Jongdae, adalah orang yang akan dengan sukarela menjual barang-barang itu dalam hitungan detik." Ancam Kyungsoo dan sanggup membuat Sehun menatapnya horor.
Ya, Jongdae, teman akrabnya Kyungsoo itu selain jago bernyanyi. Ia ahlinya dalam mengubah barang apapun menjadi lembaran won dalam hitungan sekejap. Sehun mengetahui itu dengan pasti.
"Kau licik, Kyungsoo." Balas Sehun dan Kyungsoo membalasnya dengan berseringai dan mengangkat bahunya.
"Sudahlah. Lebih baik kau jawab pertanyaanku tadi, Sehun." Kini Kyungsoo dan Sehun sudah berada di halte dan duduk bersebelahan sambil menunggu bus yang akan mereka tumpangi.
"Ya, terkadang beberapa orang mengatakan bahwa aku mirip dengan teman mereka, sepupu mereka atau siapapun. Memangnya ada apa denganmu? Mengapa kau bertanya tentang hal ini?" Sehun menatap Kyungsoo dengan curiga dan Kyungsoo hanya tersenyum singkat.
"Aku hanya merasa melihat seseorang yang mirip." Jawab Kyungsoo.
"Siapa?" Tanya Sehun ingin tahu dan tiba-tiba Kyungsoo berdiri begitu melihat bus yang ia tunggu datang.
"Sampai bertemu besok." Ucap Kyungsoo lagi sambil melambaikan tangan kearah Sehun setelah itu Ia segera berjalan menuju busnya.
Bus yang ditumpangi Sehun dan Kyungsoo memang berbeda. Jadi, kini tinggal Sehun yang berada di halte itu. Sehun memandangi bus yang dinaiki Kyungsoo hingga menghilang dari pandangannya. Sehun menghela nafas panjang sambil menatap langit malam yang nampak semakin gelap.
"Ia mulai menyimpan rahasia." Gumam Sehun dengan lirih.
00000000000
Jongin yang awalnya tengah membaca beberapa buku tebal tentang mode kini menghentikan kegiatannya saat mendengar suara pintu kamarnya yang diketuk. Ia menaruh bukunya itu di atas meja dan berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu kamar dan mendapati Luhan sudah berdiri di sana.
"Apa maumu?" Tanya Jongin sinis.
"Menanyaimu beberapa hal." Balas Luhan dengan nada tak kalah sinis. Kini kedua pria berbeda darah itu saling bertatapan dengan tajam.
"Apa yang kau lakukan tadi di Ice Mode? Aku mendengar bahwa kau meminta tuan Byun mengulang kembali designnya. Kenapa kau tidak membicarakan dulu kepada Mom?"
"Mom? Apa yang kau maksud adalah wanita bernama Xi Liyin? Tentu saja aku berhak melakukan apapun yang aku mau. Ice Mode adalah milik Tuan dan Nyonya Kim dan itu berarti adalah milikku. Jadi aku berhak, Xi Luhan." Jongin menekankan tiap katanya seakan memberikan pernyataan mutlak tanpa bantahan kepada Luhan.
"Jika kau berpikir aku dan Mom berniat mengambil hartamu. Kau salah besar, Kim Jongin." Luhan pun membalas dengan nada tegasnya. Wajahnya menegang dan nafasnya memburu karena emosi yang seakan berusaha menguasai pikirannya.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan sebaiknya jangan mengangguku." Jongin berniat menutup pintu kamarnya. Namun, terhenti ketika Luhan berusaha menahannya dan menatap Jongin dengan geram.
"Asal kau tahu wanita yang kau benci itu sangat menyayangimu, Jongin. Suatu saat nanti kau akan menyesal karena memperlakukannya seperti ini."
"Kau mengancamku?" Jongin mendecih dan memberikan seringai andalannya
"Tidak. Aku hanya memperingatkanmu. Tunggu saja sampai kau tahu bagaimana rasanya dibenci oleh orang yang kau sayangi nanti." Luhan mengakhiri ucapannya dan berjalan meninggalkan kamar Jongin.
Jongin mengeram frustasi dan membanting pintunya dengan kencang. Ia berjalan menuju tempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya. Ia memejamkan matanya berharap rasa emosi yang tengah ia rasakan terbawa oleh hembusan angin malam yang memasuki kamarnya karena pintu balkon yang ia biarkan terbuka.
"Jongin, kau tidak akan terluka." Suara Jongin terdengar lirih dan penuh kebimbangan seakan ia sendiri tidak yakin akan apa yang ia ucapkan itu adalah kenyataan atau sekedar harapan.
- TBC –
.
.
Note :
Kenapa jadi tiba-tiba muncul Jongdae-Kyungsoo truz Sehun-Kyungsoo? -peace "V"
cerita masih panjang XD hee….he…
Semoga bisa update cepat. Akhir2 ini kebagian giliran buat jadi sukarelawan di tempat ibadah Hope. Jadi, sabar ya nunggunya?
Thanks for read, review, follow and favorite this fic.
Enjoy & God Bless
-HopeIce-
