Ada yang berbeda dari biasanya saat orang-orang melewati ruangan Vongola Decimo pagi itu. Hawa suram seolah membungkus pekat sekeliling ruangan hingga menembus pintu.
"Dilaporkan bahwa Europe Airlines yang sedang dalam perjalanan dari Singapura menuju Italia, dinyatakan menghilang. Status terakhir pesawat setelah lepas landas dari bandara Singapura dan transit di Hong Kong kurang lebih satu jam tiba-tiba kehilangan kontak dengan menara pengawas di daerah laut lepas teritory Hong Kong pada pukul 19.44.58 waktu setempat. Ada sekitar 376 korban termasuk penumpang dan awak pesawat lainnya yang masih belum ditemukan hingga sekarang."
Kesunyian berintensitas ketegangan kembali menyelimuti udara. Laporan tersebut bagai palu imajiner yang seolah menghantam batin mereka semua yang mendengarnya. Dalam rapat darurat tersebut hanya dihadiri oleh Tsuna, Gokudera, Reborn dan Colonello. Hening mencekam beberapa saat.
"Sungguhkan, tidak ada yang selamat..." Tsuna mulai bersuara setelah sepi yang panjang. Nada nya mengambang.
"Juudaime, pencarian korban masih terus dilakukan." Gokudera buru-buru menanggapi dengan sigap, khawatir dengan sang Juudaime yang terlihat cemas.
"Ya. Kami akan berusaha maksimal untuk menemukan jejak-jejak dari burung besi itu." Kata Colonello, satu-satunya diruangan itu yang mengenakan seragam militer Angkatan Laut.
"Dalam laporan, pesawat itu dikatakan menghilang. Tanpa meninggalkan jejak. Apa kau yakin bisa menemukan sesuatu?" Reborn bertanya sambil melipat tangan, menyender dinding.
"Aku menerima informasi lain bahwa sebelum pesawat kehilangan kontak, terjadi semacam ledakan yang akhirnya menghancurkan seluruh tubuh pesawat." Colonello balas menatap Reborn.
"Ledakan?"
"Tidak diketahui apakah ledakan tersebut dari dalam atau serangan dari luar. Kalau itu benar maka pastinya ada puing-puing dari sisa ledakan yang tertinggal di sekitar tempat kejadian meski sebagian besar telah menghilang oleh apapun itu. Syukur kalau kita bisa menemukan sesuatu yang bisa jadi petunjuk, entah itu mereka yang selamat, hidup atau sudah jadi mayat."
Hanya hipotesis. Tapi bisa jadi...
Keheningan merambati puncak.
Gokudera mengamati sang Juudaime dari samping. Saat ini, sebelum keputusan bisa diambil untuk melanjutkan langkah kemana, mencari 'bukti' dan mengumpulkan informasi adalah pilihan terbaik.
"Kalau begitu aku menunggu laporan selanjutnya, Colonello-san." Suara Tsuna yang tenang mengakhiri hening.
Colonello terkesiap.
"Baik, Vongola Decimo."
.
.
Suasana di bandara siang itu sangat ramai oleh banjir manusia. Beragam emosi histeris tumpah ruah, tangisan, ratapan dan duka bercampur dalam atmosfer kesedihan hingga ruang tunggu meskapai. Orang-orang yang termasuk kerabat atau keluarga dari mereka yang tidak akan pernah kembali. Berbagai karangan bunga sebagai tanda belasungkawa berjajar di dinding. Nampak beberapa wartawan yang mondar-mandir meliput berita terbaru dari peristiwa naas tersebut.
.
Suara dering handphone dari seseorang yang bisa ditebak.
"Halo."
"Halo, Rouwen. Bagaimana kabarmu?"
"Buruk."
"Uhm...maaf sebelumnya. Turut berduka atas apa yang menimpa adikmu. Kau tau kan kita – manusia – tidak akan pernah..."
"Langsung ke inti, Tony."
"Oh, oke...maafkan sebelumnya." jeda sejenak sebelum yang diseberang kembali bicara. "Kau tau kalau Han juga ikut dalam pesawat itu?"
"Dia jadi berangkat kemarin siang? Menuju kesini?"
"Ya. Sayang beritanya telat, nasibnya benar-benar buruk. 'Barang' yang bersama dengannya jadi ikut-ikutan hilang. Karena itu 'Papa' memberikan urusan tentang Velseena dan pekerjaan yang ditinggalkan Han kepada Tao. Tinggal menunggu waktu saja sampai bocah itu menduduki kursi 'Black Pole' menggantikan Han."
Sekilas Rouwen bisa mendengar nada cemburu dari kalimat sang pria. Namun ia memilh tidak peduli.
"Selain itu, Rou. Aku sudah tahu."
DEG.
Mata hitam langsung melirik tajam.
"Bahwa kau ke Italia bukan hanya untuk sekedar surprise pada adikmu atau untuk menyalurkan hobi bertarungmu di klub Napoli."
"Apa yang kau tahu?"
"Semuanya. Termasuk rencana yang sedang kau atur."
.
.
.
.
Sementara itu, di tempat yang sangat jauh...
.
"Ugh..."
Seonggok remaja menunjukkan tanda kehidupan. Rasa sakit yang menyeri merambati sekujur tubuh. Tangan dan kakinya yang terasa kaku ia paksa untuk bergerak.
"Ha..hh." desah pendek dari nafas sesak. Ia membalikkan tubuh hingga terlentang. Mengatur nafas. Kemudian pelan-pelan mendudukkan diri.
"Ini dimana...?" mata berbayang nya ia fokuskan untuk memperhatikan sekitar. Ruangan kosong yang tidak terlalu luas. Hanya ada pintu yang menjadi satu-satunya akses keluar masuk, serta sebuah jendela kecil berjeruji di pojok kanan dinding.
Arista bangkit lalu melangkah kearah jendela. Jaraknya agak tinggi sehingga ia harus berjinjit untuk bisa melihat keluar. Pemandangan lautan biru yang membentang tanpa batas. Suara debur ombak, kepakan camar, aroma asin.
Ia berada di pelabuhan.
Kemudian ia mendekati pintu, lalu mencoba mengintip dari celah lubang kunci. Dari jarak segini ia bisa mendengar jelas suara ribut diluar sana.
Penampakan beberapa pria berbadan besar dan sangar berpesta diatas meja judi, botol-botol minuman keras berserakan, asap tipis membungkus udara sekitar dari cerutu yang diapit bibir kehitaman.
"Hei! Kami menemukan 'barang' menarik tadi, dari ras Timur. Berniat membeli?"
"Masih perawan?"
"Coba saja periksa sekarang kalau mau." Kekehan si pria gemuk menggema.
Arista sontak menjauhkan badan.
"Sial! Aku akan dijual!" pekik Arista sambil mengernyit syok.
Otaknya langsung diputar untuk mencari cara melarikan diri. Sekuat tenaga ia menarik teralis pada jendela, namun percuma.
BRAAKK
Perhatian langsung dibanting kearah pintu yang didobrak.
"Oh~ lebih eksotis dari yang dimiliki 'Sindikat Naga'. Tidak buruk." Kata pria tinggi agak gempal yang mulai memasuki ruangan. Wajah dan rambut acak-acakan serta nafas bau anggur busuk. Ia mendekati Arista.
"STOP! JANGAN MENDEKAT, OM! KAU BUKAN TIPE KU!" seru Arista sambil memalang tangan. Sepertinya otaknya sudah kalut karena akal melarikan diri nihil.
Pria itu speechless.
"Young Lady, siapa juga yang peduli dengan tipe mu." katanya datar.
"Jadi tetap diam disana sampai aku bisa meraihmu, manis~"
Arista melangkah mundur, sebisanya sejauh mungkin dari makhluk didepanya. Butir monokrom menggeliat panik dibalik kelopak mata. Tangan berbulu sejarak senti untuk segera menangkapnya. Ia belum menikah, tolong!
BLAAAARRR
Keributan lain tiba-tiba datang dari luar ruangan.
"'Vigilante' menyerang!" seru seseorang yang ikut dalam kepanikan disana.
Disusul serangkaian ledakan, deru tembak, dan jeritan sakit.
"Apa yang terjadi?!" perhatian si pria gempal teralih. Arista menggunakan kesempatan untuk langsung menendang kejantanan si pria. Jeritan sakit yang amat pilu terngiang, sementara Arista melesat keluar melewati si tubuh yang mengejang
"Bangsat...dia kabur..." bisik lirih sambil memegangi kejantanannya yang malang, kemudian jatuh terkapar tak sadar.
.
Suasana yang menyambut luar biasa kacau. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri, suara mereka yang ditembak, botol-botol kaca pecah berserakan, desingan peluru yang melintasi udara. Arista menunduk sambil melindungi kepalanya saat berjalan menyelusuri dinding, bersembunyi dibelakang kursi dan meja kayu yang berantakan, sebisa mungkin tidak tercetak sebagai sasaran tembak.
DOR
DOR
DOR
Timah panas melesat telak tengkorak kepala, membawa keluar cecar darah. Tubuh menabrak dinding dengan meninggalkan jejak sungai merah. Seonggok tubuh roboh didepan mata.
BRUUK
"?!"
Arista memekik kaget saat wajah berlubang dengan kuak darah membanjir menghadap kearahnya. Wajah yang menyaksikan kematian.
Gadis itu menutup mulutnya, menahan untuk tidak muntah. Ia melirik sebuah pistol yang tergeletak tidak jauh dari tubuh mayat. Ia mengambilnya.
Hanya berisi dua butir peluru!
Arista menggenggam pistol dengan kedua tangan. Ia melirik sekitar. Baku tembak masih berlangsung panas. Satu persatu tubuh dewasa tumbang. Jeritan sakit masih sahut menyahut. Arista merangkak dibawah jajaran meja, mencari jalan keluar.
Ada-
Huh?
.
"Primo, mereka masih terus menyerang balik." Kata seorang pria berambut merah muda dengan sebatang rokok terselip di bibir. Sebelah tangannya menggenggam sebuah busur dengan panah berselimut api merah.
"Apa semua sandera sudah dibebaskan, G?" seorang pria lain berambut pirang dengan api jingga di dahi dan kedua tangannya.
"Ugetsu sudah mengurusnya. Mereka selamat." Pria yang dipanggil G menjawab singkat. Ia menghisap rokoknya. "Anyway, Primo. Aku tidak melihat satupun anggota 'Sindikat Naga' itu disini. Sejauh informasi yang kudapat, mereka relasi."
"Sepertinya mereka tidak mengurusi langsung transaksi kecil. Obligasi mereka sebatas lingkaran keramik, kain, dan 'bunga'. Diluar itu adalah urusan untuk 'peliharaan' mereka disini."
"Aku paham mengapa Alaude geram sekali soal itu. Mereka berhasil menyuap tubuh kepolisian hingga beberapa pidana berhasil dibatalkan."
G menyeka pelipisnya, kemudian menembak seorang musuh yang membidik kearah mereka. Panah berselubung api merah membara melesat, menembus tubuh yang kena sial. Api mulai menggerogoti sekitar luka bersama robohnya jasad. Tidak ada cercahan darah. Hanya menghasilkan belulang abu.
"Padahal idealisme nya bertentangan denganmu. Heran deh, mantra apa yang kau gunakan untuk menjinakkan anjing platina itu, Giotto?" G melirik sarkastik dengan niat menggoda.
Primo tertawa kecil, disusul seulas senyum damai sambil menutup kedua matanya.
"Kau selalu menilai orang seperti itu G. Alaude sudah bekerja keras untuk bisa 'membersihkan' nama mereka kembali. Loyalitasnya tidak perlu diragukan. Aku mempercayainya sama seperti aku percaya pada kalian." Katanya tenang.
Tiba-tiba intuisinya memanggil. Seperti ada sesuatu tengah mengincar punggungnya. Secepat kilat ia membalikkan badan.
"Kenapa, Primo? Ada musuh?"
Pria berjubah hitam itu terdiam sebentar. Pandangan matanya sejenak terpana.
"Lakukan gerilya sampai pelosok kota. Kita tidak boleh membiarkan mereka lolos."
.
.
Langkah kaki menapak lemah diatas jalanan setapak. Akhirnya ia berhasil keluar dari huru-hara pertempuran senjata api barusan.
Kini ia telah sampai disebuah kota kecil yang berjarak cukup dekat dengan hutan. Arista mematung, baru memikirkan kembali tempat dirinya sekarang berada.
Memorinya dipaksa untuk berputar kembali. Seingatnya ia sedang berada didalam pesawat menuju Italia bersama Elis dan Martha, dua sahabatnya. Lalu terakhir ia dan Martha melihat sebuah meteor menuju kearah mereka lalu...
BLAAAAAARRR
Mereka seharusnya hancur.
Namun Arista memperhatikan dirinya sendiri lebih seksama. Tidak ada luka gores sedikitpun seperti kulit robek, patah tulang, organ tubuh copot, mungkin hanya rasa nyeri dibeberapa bagian tubuhnya saja, dan INI ANEH!
Kemudian ia memperhatikan sekeliling. Jalanan dan jembatan berkontruksi susunan batu yang rapi, tiang-tiang lampu, bentuk bangunan, sampai orang-orang bule yang mengenakan pakaian tradisional – kalau tidak mau dibilang kuno – khas Eropa, dan bahasa yang mereka gunakan.
Gadis itu akhirnya sadar sekarang.
Ia berada di Italia!
TAPI JAMAN KAPAN?
"Ehm...ternyata Italia agak diluar dugaanku." Gumam Arista sambil menggaruk pipi.
Bagaimana bisa dirinya berada di tempat ini, di waktu ini, dan dengan keadaan begini? Apa ia mengalami...apa namanya di tv-tv itu? Time slip-
BRUUK
"Aw!"
GUBRAK
Dia ditabrak sampai jatuh.
"Hei! Lihat-lihat dong kalau jalan!" seru Arista refleks.
"Maaf, kau tidak apa-apa?" tanya seorang anak laki-laki.
"Ah, ya. Aku baik-baik saja. Maaf sudah membentakmu." Kata Arista sambil bangkit berdiri.
"Aku yang harusnya minta maaf karena sudah menabrakmu sampai jatuh begitu."
Kemudian anak itu mengambil sesuatu dari tas selempang lusuhnya.
"Untukmu." Kata anak itu sambil memberikan sepotong roti.
"Apa ini? Untukku?"
"Sebagai permintaan maaf. Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa."
Arista cuma bengong sambil menatap punggung bocah itu yang menjauh. Kemudian matanya menatap sepotong roti di tangan kanan.
"Well, setidaknya 'keramahan'nya bukan omong kosong." Berlanjut dengan menggigit roti.
"Eww! Roti apaan nih? Keras amat."
.
Langit mulai diselimuti lembayung. Pantulan matahari jingga memancar elok diatas permukaan sungai, beriak dengan pendar cahaya keemasan.
Arista berdiri diatas jembatan batu, menonton pertunjukkan lambat sang matahari yang lengser dari langit. Ia mulai merenung kembali soal hidupnya.
Dimana kedua temannya?
Apakah mereka selamat?
Atau...cuma dirinya disini?
Pikiran-pikiran itu melekat menghantui. Rasanya Arista ingin menangis. Ia sendirian di sebuah tempat yang asing, bukanlah tempat tujuan yang seharusnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa, bagaimana nasibnya, masa depannya.
Apa ia bisa pulang?
Rinai air mata mulai merintik. Cepat-cepat ia gosok matanya untuk menghentikan tangisan. Disaat begini menangis akan membuatnya rapuh. Ia harus tetap mendongak optimis, membangun kokoh hatinya, dan mulai berjuang keras untuk mempertahankan hidupnya.
Ya. Dia harus tetap hidup.
Arista mulai melangkah kembali. Tidak sengaja ia menyenggol orang lewat.
"Oh, maaf." Tanpa menoleh, Arista kembali berjalan.
TAP
Sebelah tangannya ditangkap.
Arista yang terkejut langsung menatap orang yang memegang tangannya.
Hening sejenak.
Mata beriris hitam membola, sepenuhnya tidak percaya pada sosok di depan matanya ini.
"Arista!"
Gadis itu melompat, menerjang tubuh gadis lain yang berambut ikal pendek.
"ELIS~! HUWAAAAAAAAAAAAGGHHHH!"
Kali ini ia tidak menghentikan tangisannya. Bulir-bulir bening dibiarkan jatuh menghilir. Mengiringi terlelapnya matahari diharibaan samudera.
.
Dua orang remaja tanggung sedang berjalan bersama menyelusuri jalanan kota yang lenggang. Lampu-lampu tinggi di pinggir jalan di nyalakan. Langit jernih membentang sekelam jelaga berhias manik-manik bintang. Udara malam sangat dingin hingga menusuk tulang.
"Nih." Elis menyodorkan sebuah botol.
"Apa ini?" Arista mengernyit saat melihatnya.
"Gin." Jawab Elis santai lalu menenggak botol miliknya.
"Kau menyuruhku minum miras? Tunggu! Kau meminumnya?!"
"Dengar, disini minuman beralkohol lebih murah dibandingkan dengan air biasa. Makanya gelandangan meminumnya untuk menghangatkan diri dari udara dingin, bahkan tanpa makanan. Jadi, minum saja kalau kau tidak mau membeku." Ucap Elis.
Arista membisu. Menatap botol kaleng seukuran tangan dengan ragu.
"By the way, kita akan tidur dimana malam ini?" tanya Arista mengalihkan perhatian.
"Disini saja." Elis menunjuk sebuah tempat di pinggir jalan, dibawah tiang lampu.
"Em...kenapa kita tidak di tempat yang tidak mencolok saja?" tawar Arista.
"Apa maksudmu dengan tidak mencolok? Tempat yang gelap justru berbahaya. Lagipula aku tidak bisa tidur kalau tidak terang." Kata Elis.
"Baiklah. Terserah kau saja." Arista menghela nafas menyerah.
Mereka akhirnya memilih menghabiskan malam disana, duduk berdampingan saling mendempetkan tubuh. Elis menggunakan selimut kecil berwarna merah kotor yang ia ambil dari tempat sampah untuk membungkus mereka. Gadis itu langsung jatuh terlelap, sementara Arista masih terjaga. Ia membayangkan bagaimana nanti ia menjalani hari esok. Semuanya terjadi tanpa rencana dan itu membuatnya takut. Lama-kelamaan ia lelah dan tertidur.
.
.
Mata itu langsung terbuka lebar. Menatap langit-langit kayu yang menjadi atap rumah itu. Ia mengerjap beberapa kali, kemudian mendesah frustasi sambil menggosok muka.
"Kau sudah bangun, Arista?"
Yang dipanggil tidak menoleh. "Aku berharap setiap membuka mata aku sudah kembali ke jaman yang seharusnya, ke tempat kita bisa pulang." Kalimat Arisa terdengar mengambang. Ia memang selalu berdoa agar bisa kembali dengan apapun kekuatan supernatural atau keajaiban semudah sihir yang bisa membawanya kembali ke peradaban dimasa depan sana.
Nyatanya hingga sebulan ini, dirinya tetap disini.
Setelah bekerja keras selama ini, mereka akhirnya bisa memiliki tempat tinggal sementara. Rumah ditepi hutan yang sudah ditempati oleh Arista dan Elis sejak sebulan yang lalu. Jaraknya juga tidak jauh dari kota kecil.
Elis yang lebih dulu bangun langsung mengalihkan pandangan kearahnya, berkacak pinggang ala ibu-ibu mengomeli suami.
"Lagi-lagi kau berharap hal yang tidak mungkin. Tidak bisakah kau menerima keadaan kita sekarang?"
Arista diam, Elis menghela nafas.
"Sudahlah. Sekarang kau angkat bada baumu itu dari kasur dan cepat mandi sana." Suruh Elis.
"Heeh. Memang siapa sih kau? Emak ku? Oh, oke... Yes, Mum." Sahut Arista malas sambil melawan diri dari gravitasi kasur. Ia menguap.
Elis kalau dilawan bakal judes minta ampun.
.
Arista mengintai mangsanya dibalik rimbun semak-semak. Seekor rusa secantik lukisan nampak tengah asyik merumput. Tidak tahu bahwa ia tengah diintai oleh bahaya.
Sebuah busur dan panah siap dalam genggam tangan. Mengatur jarak posisi, panah ditarik, suara bisik derit kayu, sebelah mata memicing mengincar titik vital, syukur kalau langsung membawa kematian. Ia menghirup nafas pelan mengatur ritme pompa darah. Konsentra-
SRAAAAAKKK
KOAK KOAK KOAK
-si...
SHYUUT
ZLEP
Rusa itu kabur. Lari sejauh-jauhnya. Panah Arista menancap pohon. Ia gagal.
Bunyi ribut kepakan gagak dari puncak pepohonan adalah tersangka atas hilangnya konsentrasi Arista.
"AAAGGHH! BAGAIMANA INI, AKU KEHILANGAN MAKAN MALAM! GAGAK SIALAN!" Gadis itu menjambaki sendiri rambut panjang diikatnya sambil berteriak frustasi.
Tiba-tiba sesuatu seperti membayangi punggungnya, disusul sebuah suara geraman. Arista perlahan menoleh ke belakang. SYOK!
ADA BERUANG!
"Uwah!" secepatnya Arista menghindar dari cakaran binatang itu dengan berguling ke samping.
"GROAAAAARR" beruang itu langsung melesat kearah Arista, bersiap menerkam. Sang remaja refleks menghindar, bersembunyi di balik pohon.
"Baiklah..." Arista terkekeh sambil mengeluarkan pisau dibalik tas selempang, bersama sebuah botol kecil. "Kita lihat siapa yang akan bertahan hidup."
Kemudian ia menerjang si beruang.
.
Adalah bagian Elis untuk urusan keperluan rumah tangga. Selesai ia bekerja menjadi asisten penjahit, ia langsung mampir ke pasar untuk belanja.
"Ini barang nya, miss." Kata sang penjual sambil memberikan barang yang dipesan Elis.
"Terima kasih, sir." Menerimanya sambil membalas senyum.
BRUAAK
"UWAAGH!"
"KALIAN MASIH BERANI MENGAMBIL PAJAK DIATAS KETENTUAN YANG SUDAH DISEPAKATI? BISA-BISANYA KALIAN MENGKHIANATI JANJI!" seru seseorang berambut merah muda.
Laki-laki yang kena pukulan tadi meludah.
"KESEPAKATAN ADALAH DENGAN TUAN DUKE! BUKAN DENGAN KALIAN! JANGAN MENCAMPURI URUSAN!"
"Kau... BERANINYA..."
"Cukup, G."
Gerakan pria itu berhenti. Seluruh perhatian terhibahkan pada sosok tenang berambut pirang.
"Aku tahu bahwa urusan wilayah ini berada dibawah tanggung jawab Duke Barto. Tapi aku tetap tidak bisa diam saja melihat kalian memeras orang-orang kota dengan cara licik. "
Cara bicaranya mengalir tegas bersama tatapan tajam. Ekspresi wajahnya serius saat mengancam balik preman-preman itu. Elis merinding.
"Siapa mereka?" bisik Elis pada sang pedagang.
"Mereka adalah Vongola, kelompok vigilante yang melindungi kota sebelah. Mereka mendapat laporan bahwa disini sering terjadi pemerasan terhadap pedagang dari para preman yang bekerja untuk Tuan Tanah."
"Tuan Tanah otak semuanya?"
"Begitulah. Tapi daripada itu sebaiknya anda hati-hati dengan mereka."
"Kenapa? Bukankah sepertinya mereka orang-orang baik?"
Bapak pedagang menggeleng.
"Mereka memang kelompok pemeran 'kebajikan' yang dianggap pahlawan oleh kami. Namun sebenarnya mereka adalah organisasi dunia bawah yang berurusan dengan kelompok-kelompok kriminal yang menguasai perdagangan negeri ini. Jangan sampai kau jatuh ke dunia mereka, atau kau akan berhadapan dengan sisi kegelapan dari dunia."
Penjelasan orang ini terdengar seperti dongeng. Elis sadar sekarang. Merekalah yang kelak dikemudian hari – dimasa mereka sebenarnya – akan bernama mafia.
Manik matanya kembali menatap punggung pria berjubah hitam disana. Dalam hati ia membuat kesepakatan untuk tidak pernah berhubungan dengan 'masalah'.
.
Sore menjelang, Elis yang tengah menyiapkan makanan dikejutkan dengan Arista yang membawa pulang hasil 'buruan'nya.
"Untuk apa kau membawa beruang ini pulang?"
"Untuk apa? Tentu saja untuk dimakan."
Elis speechless.
"Kita tidak bisa makan beruang, Arista. Beruanglah yang makan kita!"
"Tapi aku tidak mendapatkan buruan lagi, Elis." Nada Arista memelas.
"Dan aku juga tidak tahu harus diapakan beruang ini untuk disantap." Elis berjongkok didekat mayat beruang. Nampak dua tikaman mematikan di kepala dan dada beruang, dilihat dari kuak darah yang menyebar. Samar-samar tercium wangi bunga lily yang tidak asing.
"Kau meracuninya? Bagaimana kita bisa memakannya dengan aman kalau begitu?
"Tenang saja, aku tau caranya menetralisir kandungan racun pada tubuh binatang yang diburu. Lagipula racun yang ku gunakan hanya bereaksi pada makhluk yang melakukan kontak langsung alias pemakan pertama. Selain itu, bulu nya bisa kita jadikan selimut."
"Kau memang sadis." Elis hanya bisa menggelengkan kepalanya maklum.
Yah, ini juga bukan kali pertama temannya ini membawa binatang buas sebagai menu makan malam. Bukankah baru kemarin mereka makan ular?
.
.
.
Malam yang sangat jauh ternyata menampilkan kisah yang lain...
.
Satuan militer Angkatan Laut dikerahkan dalam pencarian hingga malam itu. Cuaca yang sedang tidak bersahabat membuat lautan menjadi wahana mengerikan.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Colonello pada bawahannya.
"Sejauh ini belum ada kemajuan apapun, Sir!"
"Kami tidak menemukan objek apapun yang berasal dari bagian Europe Airlines disepanjang teritory Laut Cina Selatan hingga perairan Mediterania. Kemungkinan untuk terseret hingga samudera lepas juga sudah kami lakukan."
"Sepertinya pesawat itu benar-benar lenyap tanpa bekas. Seolah terlempar ke dunia lain. Semacam itu." Kali ini Lal Mirch yang bicara.
"Itu memang kemungkinan besar. Tapi kita juga masih ada harapan untuk 'menemukan' apa yang bisa ditemukan." Balas Colonello.
Lal terdiam. Ia paham mengapa Colonello bersikeras untuk mencari apapun yang bahkan mereka tidak tahu apakah masih ada atau tidak. Semua yang mendasari ini masihlah abu-abu. Namun yang pasti akar dari segala masalah yang Vongola hadapi saat ini berotasi pada ke'abnormal'an kelompok 13K.
Ah...kenapa Keluarga 'Ular' itu sampai membelit segini rumit?
Colonello hanya diam berpikir. Menghela nafas pelan. Untuk saat ini ia merasa bahwa apa yang dilakukannya ini sia-sia. Sejak siang tadi hingga larut malam begini mereka belum juga menemukan apapun.
"Apa yang harus kukatakan pada Tsuna nanti? Sial! Reborn pasti mengataiku tidak berguna." Pikir Colonello dalam hati berlanjut mengacak rambut dengan raut lelah.
Tidak lama kemudian terdengar seruan diantara anak buahnya.
"Sir! Kami menemukan sesuatu!"
Manik biru Colonello mengerjap.
"A..apa?! Dimana?!" pria pirang itu langsung menuju kearah para rekannya, menilik deretan monitor navigasi.
"DISANA!"
Sang prajurit elite langsung berlari keluar ruangan.
"Hei! Tunggu, Colonello!" teriak Lal yang ditinggal dibelakang.
Hembusan angin laut menghempas helaian pirang. Nafas pria itu terengah-engah. Disana ia melihatnya. Sesosok tubuh manusia terapung-apung diantara belasntara ombak yang mengganas, berusaha untuk menelannya. Colonello berteriak untuk segera melakukan penyelamatan. Lal muncul tak lama kemudian. Kapal dibawa cukup dekat untuk meraih jasad tersebut. Lautan hitam seolah menjadi saksi perjuangan hidup dan mati.
Colonello meraih ponsel. Menghubungi Tsuna.
.
.
.
To be continued
.
A/N: Ini dia chapter dua~ Wah... Arista, Elis, kalian berjuang ya. Hidup kalian kedepannya lebih kampret dari prelude ini. Saya jamin itu XD
Thanks a lot for Aya Yata nyooooo~ ^^ /hug/
Saya sengaja membuat OC yang kesannya 'biasa' aja karena saya ingin alur cerita yang 'berbeda'. Tetapi akan ada saat nya mereka berkembang menjadi karakter penting, namun tetap tidak memiliki hubungan romantisme atau sejenisnya dengan canon. Mungkin yang menyerempet sedikit alias hint-hint(?) bolehlah. Tunggu saja. Hehehe.
Silahkan tinggalkan jejak kaki di kotak review di bawah ini. Sankyu~ XD
