"Stuck in Cruelty Slenderman"
Genre : Horror, Adventure
Rate : T
Disclaimer : Naruto hanya milik abang Masashi Kishimoto, Slender hanya milik agan-agan dari Parsec Studios :v
Summary : Petualangan dimulai! Sasuke yang mendapat 'permintaan' untuk mengharuskannya ke hutan, mencari 8 kertas yang tertempel di tempat yang berbeda di kegelapan malam..dengan Slender yang siap 'menangkapnya' kapan saja, dimana saja...
Chapter 2, "Slender : The Arrival, The Eight Pages."
Di kegelapan malam yang mencekam, sunyi dan sedikit berkabut.
Walau sunyi, tapi tetap ada suara-suara kecil dari gesekan sayap para jangkrik yang membuat siapa saja disitu akan takut sebelum berpetualang.
Namun, tidak bagi sang Uchiha yang satu ini.
Dia tetap menguatkan hatinya, walau tahu jantungnya sudah berdetak lebih cepat dari biasanya.
Hanya berbekal sebuah senter yang bisa kehabisan baterai kapan saja, Kamera digital yang sudah on recording, serta tas yang ada di punggungnya yang berisi scrapbook.
Sasuke telah sampai.
Dia menemukan sebuah rumah kosong yang terbuat dari kayu yang sudah usang.
Dia pun mendekati rumah tersebut untuk memeriksa sekeliling.
Tentunya, Kamera digital dan senternya menyorot.
Di atas pintu rumah tersebut, Sasuke melihat sebuah papan yang terdapat sebuah tulisan.
OAKSIDE PARK
HAS [3] CANOES
AVAILABLE FOR RENTAL
"Penyewaan, huh ? Tapi, disaat begini mana ada yang menyewa..", gumam Sasuke kepada dirinya sendiri.
Setelah melihat tulisan tersebut, Sasuke berpindah ke samping kanan-kiri bangunan kosong tersebut.
Terlihat, ia menemukan sesuatu yang menempel di dinding.
Terdapat dua kertas.
Satu kertas, sesuatu yang seperti rules.
OAKSIDE PARK CANOEING RULES :
Personal Floating Devices (PFDs) must be worn AT ALL TIMES while in the water.*
Do not cross the line floats into designated smimming areas.
Reflective gear should be worn if canoeing at night.
Do not interact with any and all marine life.
*PFDs available at the rental shock.
Setelah membacanya, Sasuke pun mengambilnya dan menyimpannya di scrapbook.
Di sebelah kertas tadi, terdapat sebuah brosur tentang Oakside Park yang menempel.
Ia pun juga mengambil, mengamati sejenak.
"Ada sebuah peta di brosur ini. Tapi aku tak begitu mengerti tempat ini.."
Setelah mengamati, Sasuke pun menyimpannya.
"Aku tak boleh buang-buang waktu lagi.. Kamera dan senter ini kurasa mempunyai baterai yang terbatas dan tak tahu kapan habisnya. Aku harus cepat."
Glek..
Sasuke menelan ludah.
"8 kertas.. Secepatnya, aku harus bisa mengambil semuanya."
Melewati pagar kawat, turun dari bebatuan, dan memasuki hutan lebat dan kegelapan yang mencekam.
Berjalan santai-namun waspada, Sasuke segera mencari kertas pertamanya.
Kertas pertama.
Dari jalan setapak yang ia ikuti, dia memilih ke arah kiri.
Terkadang Sasuke juga sesekali melihat sekeliling maupun belakangnya untuk memastikan bahwa 'makhluk' itu tidak mengikutinya.
Sedikit kesulitan dengan daerah hutan yang agak menurun tersebut, Sasuke terkadang hampir terpeleset namun dapat ia keseimbangkan kembali.
Tak lama, ia mendapati sebuah mobil di daerah turunan yang ia dapati saat sebelum ke rumah Kate.
Sasuke berjalan turun, untuk memastikan sesuatu.
Saat ia melihat di bagian belakang mobil, ia mendapat sesuatu.
Sebuah kertas yang tertempel.
"Oh, lucky me. Hm? Terdapat tulisan.."
Always watches
NO EYES
Segera saja, Sasuke menyambar kertas tersebut.
Ia pun segera menyimpannya langsung ke dalam tasnya.
Kertas pertama, terdapatkan.
Jantung Sasuke mulai merasakan detak kecepatan di luar batas. (?)
Setengah berlari, dia mengikuti jalan setapak dari arah mobil tadi.
Ia merasa, dengan mengikuti jalan tersebut dapat menemukan kertas berikutnya.
Oh, mungkin benar dugaan Sasuke.
Walau jalannya telah terbagi menjadi perempatan, namun kearah kiri jalan ia dapat menemukan sebuah tempat.
Sepertinya, beberapa banyak cargo, atau sejenisnya.
Terdapat bak-bak kotak besar bertuliskan Kullmandisana.
Sasuke pun mendatangi tempat tersebut.
.
.
.
.
Kabut di sekitar Sasuke menjadi sedikit menebal.
Suara-suara dari hewan-hewan kecil seperti jangkrik maupun burung hantu membuat Sasuke sedikit merinding.
Hawa dingin semakin menusuk tulang-tulangnya.
Di dalam kegelapan yang mencekam.
Hanya dia, dan 'makhluk' itu.
Yang siap 'menangkapnya' kapan saja.
Waspada.
Selalu melihat sekeliling.
Tidak sulit, karena entah kenapa lampu di cargo tersebut menyala.
Sambil mencari kertas kedua, Sasuke terus memeriksa keadaan sekitar.
Bak-bak kotak besar sedikit membuat bingung Sasuke karena terlalu besar dan juga banyak.
Di dalam hatinya, Sasuke sudah merutuki dan mengutuk 'makhluk' tersebut, tak jarang juga berharap 'jangan-mengikutiku'.
Setelah sedikit penat, Sasuke akhirnya menemukan kertas kedua.
Sedikit kesal bagi sang Uchiha ini, karena dia sudah melewati tempat kertas yang tertempel selama lima kali.
Karena Sasuke sedikit tidak teliti, dia jadi luput dan agak lupa bahwa kertas tersebut tertempel sedikit menyelempit di pintu salah satu bak bertuliskan Kullman tersebut.
Sasuke pun mengambilnya.
LEAVE ME ALONE
Ia pun menyimpan langsung ke tasnya.
"Oke, kertas ketiga."
Mendadak, firasat Sasuke merasakan hal yang tidak enak.
Dia mulai makin was-was.
Semakin banyak dia mendapat kertas, maka seharusnya kemunculan 'makhluk' itu menjadi semakin sering seolah-olah sangat bernafsu untuk 'menerkam' Sasuke.
Tapi, di dalam hatinya dia juga sedikit bersyukur, karena ia masih belum menemukan tanda-tanda'nya'.
2 kertas dari 8.
Masih jauh dari harapan, begitu pikir Sasuke.
Tapi walau begitu, dia harus secepatnya mencari kertas ketiga.
...
...
Sedikit berlari, Sasuke sudah keluar dari pabrik kecil tersebut.
Ia menemukan jalan setapak yang hanya searah.
Dari kejauhan, Sasuke melihat sesuatu seperti..
Pantai.
Pantainya terlihat cukup indah, walau hari sedang malam.
Di sekitar pantai tersebut, Sasuke melihat sebuah sebuah perahu kecil yang terbakar.
Namun, di tiang berdiri di tengah-tengah perahu yang terbakar tersebut tertempel sebuah kertas.
"Bagus, kertas ketiga.."
NO NO NO NO NO NO NO NO NO NO NO NO
Sasuke dapat membaca tulisan kertas tersebut, yang cukup berantakan dengan di tengahnya terdapat sebuah gambaran seperti handmade dari 'makhluk' itu karena terlihat sedikit 'lucu'.
Sasuke hendak mengambilnya.
Bzzzt..!
Namun terjadi noise yang cukup parah di kamera Sasuke yang menandakan 'makhluk' itu ada di sekitarnya.
Ya, Slender ada di samping kirinya.
Hanya berjarak sekitar.. kurang lebih 2 meter.
"WUAA !"
Refleks yang sangat luar biasa karena kaget (?), membuat Sasuke seketika menyambar kertas tersebut-dengan tangan kanannya yang menggenggam senter-dan lari berbalik arah.
Kamera-nya pun juga noise semakin parah karena terlalu dekat dengan Slender.
Lari.
Lari.
Pokoknya, terus lari.
Lari.
Pergi menjauh darinya.
Lari.
Lari.
Teruslah berlari hingga kau sudah tak melihatnya.
Lari.
Lari.
Lari.
LARI.
Dengan pikiran yang kacau dan berbagai perkataan dari otaknya, kakinya terus melakukan hal-hal yang diperintahkan otaknya.
Memang tak biasanya seorang Uchiha seperti ini.
Namun, bagi Sasuke dia berpikir bahwa,'selamatkan-nyawamu'.
"Haah..!"
Bzzt..
"Haa.. haa.. haa..!"
Bzzzt..
"Tidak.. tidak.. tidaakk!"
Sasuke merasa terus ketakutan. Layar di kameranya terus noise walau tidak separah yang tadi. Itu menandakan Slender berada di dekatnya.
Walau begitu, Sasuke juga tak tahu harus bagaimana.
Dia hanya bisa berlari.
Menghindari semak belukar.
Pepohonan besar yang menghalangi jalannya.
Kegelapan yang mencekam.
Bzztt...piip...
Suara yang melengking dari kamera tersebut, namun beberapa saat kemudian layar sudah bersih.
"Eh.. Syukurlah.."
Bernafas lega, untuk saat ini. Dia tahu, walau layar sudah bersih, tapi dia pasti akan muncul kembali.
"Kertas keempat.. Baiklah.."
Mengatur nafas, dan sedikit mengistirahatkan badannya dengan berjalan pelan-pelan.
Tower, sepertinya sebuah tower pemancar sinyal radio.
Namun anehnya, lampunya masih menyala.
Bagi Sasuke, masa bodoh. Yang penting, kertas keempat bisa di temukan karena cahayanya cukup terang disekitarnya. Semakin cepat lebih baik.
Sebuah kertas tertempel di salah satu sisi tower tersebut.
FOLLOWS
"Yeah, I know that..", gumam Sasuke sedikit merutuki dirinya sendiri(?). Sepertinya, dia juga berpikir bahwa dia akan menyalahkan Naruto nanti bila dia sudah keluar dari game tersebut.
'Hawanya semakin menusuk.. Inikah rasanya bila sudah mendapatkan lebih dari 3 kertas?'
Memasukkan ke dalam tas, dengan cepat.
Berusaha untuk tidak berpikir macam-macam.
...
Tok..tok..tok..
"Sasuke, kau sudah tidur? Tadi sepertinya aku mendengar sesuatu dari dalam sini. Apa kakak boleh masuk?", ucap seorang lelaki yang sudah melewati masa pubernya, berambut hitam pekat dengan kuciran seperti ponytail namun tidak tinggi. Mata onyx-nya memutar bosan. Ia menghela nafas.
"Mungkin memang hanya perasaanku.."
Lelaki yang mempunyai keriput di wajahnya itupun kembali ke kamarnya-yang berjarak 5 meter-dari kamar adik semata wayangnya, untuk kembali tidur.
"AKAN KUBUAT KAU MEMBAYAR INI SEMUA, NARUTO SIALAAAN!", teriak Sasuke yang sudah habis kesabarannya yang entah kenapa urat ketakutannya sudah putus (?) tanpa sadar berteriak padahal tengah dikejar Slender, lagi.
Kali ini dia sudah mendapatkan 5 kertas (cepet amat?) dan sedang dalam kejar-mengejar.
Sialnya, bagai di dalam sinetron (?), Sasuke tersandung sebuah batu yang cukup besar dan dia tersungkur dengan suksesnya.
Bagai dalam peribahasa yang sudah jatuh tertimpa tangga, Sasuke mengalaminya dengan sebuah tangga menimpanya(?)...ehm..maksudnya, setelah ia tersandung Sasuke tersungkur dan kepalanya juga membentur sebuah..batu.
Seketika itu juga, darah segar mengalir sukses dari kepalanya yang terkantuk batu tersebut.
Sasuke ingin bangkit, namun rasa sakit yang hebat menimpa jaringan-jaringan kulitnya yang robek hingga ke dagingnya membuat sarafnya yang tersalur ke otak mengganggu kinerja otaknya.
Sasuke merasakan pandangannya mulai buram. Rasa pusing yang hebat benar-benar mengganggunya.
Bzztt..bzztt..bzzzt..ngiing..!
Sasuke dapat mendengarnya. Suara noise sebagai penanda kedatangan Slender semakin jelas dan semakin berisik.
Memang, bukan lagi kedatangan tapi Slender benar-benar ada di belakangnya.
Tepat, sekali.
Tentacle-tentacle hitam khas Slender yang banyak di punggungnya sudah bermunculan, perlahan mendekati tubuh Sasuke.
'Aku.. Game.. over..?'
Tubuh Sasuke serasa ingin pasrah, tapi hati kecilnya tidak mau mengalah. Bila dia game over, sama seperti biasa PewDiePie lakukan ketika memainkan game Slender, maka dia akan tamat, seperti Lauren yang menjadi main character di game tersebut.
Bedanya, dialah yang menjadi Lauren, sekaligus penggerak dalam permainan tersebut. Bila dia mati di dalam sebuah game, dia tak bisa membayangkan apa yang terjadi padanya.
Walaupun dia mengatakan bahwa ini hanyalah sebuah mimpi, seharusnya dia tak merasakan rasa sakit di luka kepalanya.
Entah benar mimpi atau bukan, ini terasa sangat nyata untuknya.
Seperti..sebuah mimpi buruk yang sangat panjang.
...
Pandangan matanya kosong. Seolah tak ada kehidupan disana. Suhu tubuhnya pun sedikit menurun. Keringat tak sedikit yang lolos dari pori-pori kulitnya yang putih maskulin.
Namun anehnya tubuhnya seolah tak menuruti kinerja otaknya, tubuh dinginnya tersebut bangkit sambil menggenggam lemah senter di tangan kirinya, dan kamera di kanannya. Walau menggenggamnya, kedua tangan tersebut tidak memfokuskan kedua benda tersebut dengan kinerja semestinya.
Seperti zombie yang baru bangkit dari kuburnya, dia berjalan tertatih-tatih menjauhi 'makhluk' yang hampir 'menerkamnya'.
Entah apa yang membuat, Sasuke yang sedang tak sadarkan diri berjalan sedikit cepat-namun tak beraturan menuruni lereng tersebut.
Benar saja, dia kehilangan keseimbangan saat menuruni lereng tersebut dan untungnya dia tidak terperosok untuk kedua kalinya.
Seperti dibimbing oleh kesadaran alam bawah sadarnya, tubuhnya mengingat betul letak dimana 3 kertas sisanya. Berterima kasihlah kepada PewDiePie yang sudah mempublikasikan video konyolnya ketika bermain game tersebut, dan memang kertas-kertas tersebut letaknya tak jauh berbeda dari video tontonannya.
6th Page's was found, "CAN'T RUN" – Papan peta di tengah hutan.
Tanpa emosi, karena memang masih tak sadarkan diri Sasuke dengan cepat hanya mengambilnya dan meremasnya di tangan kanannya yang memegang kamera.
7th Page's was found, "DON'T LOOK.. OR IT TAKES YOU" – Sebuah mobil tua lainnya di seberang jalan yang tak jauh dari pantai.
Ngiiingg...
Dalam ketidaksadarannya, sebuah suara lengkingan tajam memekakan telinga telah membangunkan roh manusiawinya.
Pandangan matanya tidak lagi kosong.
Sasuke pun tersadar, bahwa dia sedang diikuti Slender dalam jarak yang tidak terlalu jauh darinya.
Rasa sakit yang sempat tertunda karena ketidaksadarannya telah kembali untuk kepastian tubuhnya bahwa saraf di kulit kepalanya masih berfungsi.
Sasuke sendiri sedikit merasa bersyukur karena Dewa masih memberinya kehidupan dan dia juga sudah mengumpulkan 7 kertas di genggaman tangan kanannya tanpa ia sadari.
"Yosh.. Kurasa begini cukup."
Dengan keterpaksaan yang memang keadaan memaksanya begitu, Sasuke telah merobek kain dari kaos lengan panjangnya untuk menutup luka di dahinya. Setidaknya, rasa sakitnya sedikit berkurang karenanya.
"Aku tak mungkin bermalam di sini.. Dan lagi, last pages.. Kurasa, di sebuah tenda. Tapi, aku benar-benar capek."
Sasuke merasakan sudah ada di batasnya. Dia sendiri sedang istirahat dengan bersandar di pohon.
'Pohon adalah tempat penyamaran yang selalu di gunakan oleh 'makhluk' itu karena tubuhnya yang kurus tersebut, selain tangannya yang ramping dan tentacle-tentacle-nya sangat pas menyamarkannya dengan bentuk pohon-pohon serta kegelapan malam ini. Aku tahu itu.'
Sasuke merasakan sesuatu yang buruk di firasatnya. Ia pun segera meninggalkan pohon tersebut dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan pelan-berwaspada.
...
"Tenda.. Dimana kau?"
Sasuke sudah mengelilingi seluruh hutan, dan semuanya adalah tempat yang sudah ia ambil kertasnya.
Ia mulai merasakan bengkak di jari kakinya, serta otot-otot di betisnya sudah berdenyut-denyut sejak tadi.
Sesaat, Sasuke teringat sesuatu.
Semak belukar.
'Oh, sial.'
Sebenarnya, ia masih ragu apa benar disitu letaknya. Tapi setelah dipikir-pikir sambil berjalan, dia memang sudah mengambil kertas di sekitar semak belukar, namun belum mencari di bukit kecil diantara semak belukar tersebut.
"Pertaruhan.. dimulai."
Ngiing!
Suara lengkingan tajam dari kamera yang ada di tangan kanannya refleks membuat Sasuke langsung menengok ke belakang.
'Makhluk' itu tak ada.
Sasuke pun berjalan cepat kearah jalan setapaknya.
NGIIINGG!
Suara lengkingan tajam tersebut semakin keras. Sasuke menghentikan langkahnya.
Sesuatu yang sangat tinggi berbentuk seperti tubuh manusia namun terlalu jangkung.
Berkulit pucat, tanpa ekspresi di wajahnya, karena memang tak mempunyai wajah.
Jari-jari yang tajam dan runcing.
Berjas hitam lengkap dengan dasi merah menyalanya.
Memiliki tentacle gelap di punggungnya.
Ia salah jalan, atau lebih tepatnya, Slender mengganggu jalannya.
Sasuke benar-benar akan bertabrakan dengan 'makhluk' itu bila ia tak ada bantuan dari kamera.
Seolah tubuhnya sudah terbiasa akan kebiasaan'nya', Sasuke tetap diam mengendalikan emosinya dan seraya membelokkan arah jalannya sejauh 90° kearah kanan.
Benar saja, Slender masih mengikutinya namun sudah dibelakang Sasuke yang jaraknya sedikit jauh.
Tetap dengan wajah stoicism-nya, Sasuke berusaha untuk mempercepat langkahnya dan mulai mendekati kearah tujuan.
10 meter.
Sedikit lagi. Sasuke hampir mendekati tenda yang ada di puncak bukit kecil itu.
7 meter.
Hampir, sampai.
4 meter.
Sasuke menengok kearah belakangnya. Tak ada apapun.
1 meter.
Sasuke sudah sampai di tenda, dan dengan cepat menyambar kertas yang bertuliskan "HELP ME" tersebut.
Tapi, Slender juga tak kalah sampai.
Tentacle-tentacle-nya sudah muncul menggeliat di udara siap menerkam pemilik marga Uchiha tersebut.
"Jangan menggangguku!", teriak Sasuke langsung mengambil langkah seribunya(?) dengan berbalik arah 180°.
Suara-suara berisik yang sangat menyakitkan telinga terus terdengar oleh Sasuke.
...
Suara noise tersebut sama sekali tidak berkurang. Sasuke terus berlari, tanpa memperdulikan kesakitan dan keterbatasan tubuh manusianya. Terus, terus, terus berlari, dari Slender yang selalu muncul di hadapannya ketika dia berlari.
Kemanapun dia berlari, Slender selalu di hadapannya.
Kemanapun dia berbelok, Slender selalu di hadapannya.
Kemanapun dia menengok, Slender selalu di hadapannya.
Hingga, sebuah lereng penuh batu yang sedikit licin telah menjatuhkannya dan membuatnya terperosok ke dasar rerumputan di bebatuan tersebut.
Lagi, kepalanya menjadi sasaran maut benturan keras bebatuan tersebut, bersamaan dengan tubuhnya.
Membuatnya tak dapat mendengar lagi suara lengkingan tajam yang semakin keras dan semakin berisik.
Membuatnya tak dapat melihat lagi penerangan yang baik walau ada cahaya dari lampu senternya.
Membuatnya tak dapat merasakan lagi kesakitan luar biasa yang sedang ia hadapi.
Membuatnya tak dapat ingat lagi apa yang sebenarnya ia lakukan sebelumnya.
-To Be Continued-
Satsuki : Yosh ! Saya author nista telah kembali dari sekian lamanya karena mendadak ide menghilang dari otak nista author ini akhirnya dapat melanjutkan fic nista ini(?)~ *nangis bahagia(?)*
Sasuke : KEMANA SAJA KAU ? *getok author dengan punggung Katana-nya*
Satsuki : Aww, maafkan saya Sasuke-kyun~ *elus-elus kepala sendiri yang kena getok*
Sasuke : Apa-apaan juga, seenaknya memakaiku untuk kau bully, hah? *siap chidori*
Satsuki : Hei, sudahlah! *bekep Sasuke* Aku ini ada alasannya tahu, mendadak hilang dari sini, gara-gara ada masalah dengan sekolah yang harus kuselesaikan dulu dan lagi, terlalu banyak praktek jadinya nggak sempet mikir ini~
Sasuke : Hmmphh, ngghmp, hmmppggghh! (Alah, alesan kau!) *menggeliat (?)*
Satsuki : Ha? Ah, untuk Sasuke kita abaikan dulu.. Nah, saya balas dulu review -nya~ Dari:
Marichaan : Ini udah lanjutannya :D Hehe, kalau gag kuat baca, doa dulu ya soalnya antar kaga bisa tidur kayak adik saya~ *digetok adik*
ChiendySasuSaku2309 : *tebar garam(?)* Iya nih, baru prolouge jelas aja kaga kerasa, hoho~ Okay, makasih sayangku~
Berlian Cahyadi : Update~! Hehe, syukurlah kalau udah kerasa :D Wah main Slender juga? Iya nih, game Slender aslinya bukan serem, tapi ngagetin. Tapi akhirnya, saya bisa nyelesain gamenya sampai 5x, tapi yang The Arrival. *plak*
Elpiji : Nih, update :3 Wah ganti nama nih? Dulu namanya apa? Lupa aku. *plak* Hoho, saya senang udah bisa membuatmu merinding :D *hajared* Eh, jadi penulisan ini gag perlu ? Oke deh, makasih kritiknya, udah saya perbaiki :D
bukan slender : update nih~ hehe, aku malah gag tau ada film itu . *bantai rame-rame* Hehe, cuma kepikiran aja buat fic ini, malah kukira kayak Swort Art Online gitu, cuman ini game horor . Sekarang gag usah kayak Sasuke, PewDiePie aja udah punya alat yang kayak helm-nya di SAO loh. Anyway, makasih pujiannya~ Mungkin saya berbakat di bidang horor (?)
Nitya-chan : hehe, makasih, udah update nih :3
Satsuki : Yosh, udah semuanya kan~ Akhir kata, makasih udah nunggu fic nista ini, para readers tercinta~ *huek*
Sasuke : *kehabisan nafas*
Satsuki : *melepas lakban dan segala macam di tubuh Sasuke*
Sasuke : R...r...ree...reevv...ieeewww...ple...a...see... *mati(?)*
Satsuki : He? Huaa! Tunggu, peranmu belum selesai, Sasuke-kyun~! *ngibrit nyeret Sasuke ke RS terdekat*
