Chapter 2: Who is he?
Kalimat itu terus terngiang – ngiang dikepalaku. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Mengapa jantungku...
"hei, kau tidak apa-apa?" Pria itu menepuk pundakku. Terkejutlah aku seperti terbangun dari mimpi.
"eh apa?" ternyata... ini bukan mimpi
"aku tanya kau tidak apa-apa?" tanyanya pria itu lagi.
"a-aku tidak apa-apa"
"bagus kalau begitu. Aku sedikit khawatir tiba-tiba kau mematung. aku takut kau tidak bernafas. itu berbahaya"
"maaf, maafkan aku. Aku sudah mengkhawatirkanmu." aku pun membungkuk.
"tidak perlu minta maaf segala, lagipula aku juga yang salah karena aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian barusan" ia menyeringai.
"eh? Mendengar apa?"
"cinta itu seperti sayap" pria itu beralih memandang langit.
"mendiang orang tuaku juga berkata demikian" lanjut pria itu lagi
Mendiang orang tua? Dia tidak memiliki orang tua sepertiku?
"ah maaf aku jadi bercerita masalah pribadi begini" pria itu memegang tengkuknya.
"tidak apa – apa itu bukan masalah besar, kok. O-oh iya, siapa namamu?"
Mengapa bibirku malah menanyakan namanya? Seperti meluncur kenapa bibirku begerak sendiri? hoeeeee.. aku terlanjur bertanya.
Pria itu tersenyum menatapku, "Syaoran Li"
"syaoran li? Aku sakura Kinomoto" kembali membungkuk
"salam kenal, sakura"
Sakura? Dia memanggilku sakura? d-dia langsung memanggil nama depanku. Wajahku memerah seperti kepiting rebus. untuk pertama kalinya seorang pria memanggil nama depanku kecuali kakek.
"etto.. nama yang jarang ya"
"aku bukan berasal dari kota ini. Aku baru tiba kemarin"
"he begitu ya. Kalau begitu salam kenal, li"
"panggil syaoran saja"
"kalau begitu syaoran"
oh tuhan, rasa gugup ini tidak mau pergi.
tampak pria itu beberapa kali melihat arlojinya,
"Aku harus pergi sekarang. Kalau begitu sampai jumpa lagi, sakura" tangannya melambai
"ah iya sampai jumpa"
Syaoran berjalan menjauh hingga tidak terlihat lagi olehku. Tadi dia mengucapkan sampai jumpa 'lagi'.
Lagi? Apa aku boleh berharap seperti ini?
Badanku otomatis merebah di tempat tidur apartemen. Apartemen yang paling murah untuk apartemen yang dekat dengan stasiun menurutku. Belum sempat dirapihkan setelah membuat name semalam suntuk. Namun, tetap ditolak.
"aku lelah sekali"
Seketika terpintas di pikiranku kejadian hari ini.
"hari ini benar-benar hari yang panjang" gumamku
...
NORMAL POV
Kriiiiiinngggg
Lonceng jam weker kamar berbunyi. Menggema seisi kamar apartemen kecil 3x3 meter yang hanya ditinggali seorang gadis saja.
"berisik sekali sih" keluh sakura. Visual samar melihat angka pada jam digital tersebut. Pukul 8.00
"hoeee aku kesiangan lagi" teriak sakura bergegas beranjak dari tempat tidur.
Rekor terbaru terpecahkan untuk hari ini. Hanya 15 menit untuk bersiap-siap.
"kakek aku berangkat dulu" sakura membungkuk kepada sebuah foto yang terpampang di atas lemari kecilnya. Sebuah foto bahagia seorang gadis kecil beriris emerald yang dipeluk seorang kakek tua yang juga tengah tersenyum bahagia. Benar, gadis kecil itu adalah sakura dan kakeknya namun, kakek tua didalam foto itu bukan kakek kandung sakura melainkan kakek yang membesarkan sakura dengan penuh cinta sehingga sakura menjadi gadis yang kuat.
FLASHBACK
Wajah yang penuh dengan coret warna-warna krayon. Tangannya menggenggam kuat krayon berwarna jingga yang siap mewarnai tembok gang sempit gelap tanpa rasa gusar.
Pria tua itu melihat coretan tembok yang dibuat gadis berumur 5 tahun itu.
"lukisan yang indah" pria itu pun melukis senyum dibibirnya.
"ini ada di mimpi indahku"
"begitu ya, ayah ibumu pasti menyukainya" jawab pria itu lagi dengan suara yang terdengar letih
"ayah ibu?" Gumam gadis itu terlihat bingung
Terheran kakek yang memiliki nama takahiro kinomoto itu.
"ayah ibumu mana?"
Gadis itu hanya diam dalam bisu. Seperti tidak tahu harus menjawab apa. Terbaca sekali dia tidak menemukan jawaban yang tepat didalam pikirannya. Tangan kakek tua renta itu perlahan mengusap kepala gadis bersurai coklat caramel itu.
"Siapa namamu gadis manis?"
"…sakura"
NORMAL POV
Klik..
Pintu apartemen dikuncinya dan bergegas menggoes sepeda secepat kilat. Sepeda yang dipinjamkan pemilik apartemen untuk sakura.
Sebelum memakai sepeda, sakura sangat handal dalam menggunakan Roller Blade namun sayangnya, roller blade kesayangan yang didapatnya dari penjualan lukisannya saat SMA dulu. Sedari dulu sakura sangat gemar melukis. Perasaan hatinya saat melukis tersimpan di lukisan buatannya. Tiada seorangpun yang tidak tergerak hatinya ketika melihat lukisan tersebut. Mereka hanyut dengan lembutnya seperti mimpi. Kenyataannya, sakura memang selalu melukis mimpi indahnya kedalam setiap lukisan. Tetapi semenjak lulus SMA, sakura memutuskan untuk beralih menggambar manga. Ia tergerak untuk menggambar manga karena menurutnya dapat menciptakan cerita untuk mimpi-mimpi indahnya dengan sedikit tambahan imajinasi. Sakura yakin akan menghidupkan mimpinya itu. Termasuk flying wings yang ia ajukan kemarin. Itu merupakan gabungan kisah nyata, mimpi dan imajinasinya.
"Osh… Semangat Sakura!"
Untungnya langit senin pagi juga mendukung sakura sepenuh hati. Matahari memancar indah awan-awan putih tipis melukis langit biru pagi ini. Angin berbisik mendorong sakura untuk lebih semangat. Pekerjaan paruh waktunya sebagai pelayan restoran cepat saji dari hari senin hingga kamis tidak boleh dilewatkan. Apalagi hari ini hari gajian. Makin membuat gadis beriris emerald itu tidak sabar hari ini cepat selesai.
"hufft.. aku tepat waktu" hela nafasnya terengah-engah di depan papan restoran cepat saji bertuliskan Wcdonald.
"big chicken burger 1 dan cola size medium. Tunggu sebentar ya" ujar sakura di balik meja kasir menghadapi pemesanan pelanggan yang mengantri di tengah hari untuk makan siang.
Sibuk menghadapi pelanggan pada siang hari pada malam hari dan waktu tidak bekerja dimanfaatkan untuk menggambar manganya.
"syukurlah. 10 menit lagi shiftku selesai" gumamku sembari melihat arloji.
"hei! kita bertemu lagi"
SAKURA POV
Suara itu.. terdengar familiar
aku terhenti sesaat melihat arlojiku. Langsung aku mendongak menatap orang didepanku. pria yang kukenal kemarin. dia memakai jaket varsity abu-abu berlengan putih.
d-dia!
"selamat malam" sontak aku menyapanya sembari membungkuk sopan.
Oh tuhan kenapa gugup ini kembali.
"kau tidak perlu sopan seperti itu padaku" pria itu menyeringai.
"kau s-syaoran benar kan?"
"yep.. Aku senang kau mengingatku"
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tiba-tiba pikiranku kosong. hoee canggung sekali.
"a-ah iya kau mau pesan apa?" hanya itu yang terlintas dipikiranku saat ini
Iris amber syaoran satu persatu melihat menu yang ada tepat di atas meja kasir. Entah kenapa aku terpaku pada mata itu. Begitu… indah
"tolong 2 cheese burger, 2 cola size medium dan dibawa pulang" ujar syaoran dengan jelas
"baik kuulangi 2 cheese burger dan 2 cola size medium. Totalnya 150 ribu rupiah."
Terlihat pria yang kira-kira sepantaran denganku itu mengeluarkan uang dari sebuah dompet kulit. Kemudian memberikan uangnya padaku.
Eh tunggu ada sesuatu.
Sepucuk surat?
"aku tunggu di stasiun Tomoeda pukul 8pm"
Pukul 8 berarti 30 menit lagi. Aku menatap syaoran penuh tanya sembari memberi pesanannya.
dari tatapanku menyiratkan, "kau serius?"
Syaoran hanya mengedipkan matanya dan tersenyum dan melambaikan tangannya dan melangkah keluar
"terimakasih ya" ucap pria bersurai coklat itu.
"Hah? apa maksudnya?" gumamku
"Berarti dia memang… hoeee apa yang akan dia lakukan? Dan aku harus apa nanti?" riuh pikiranku.
aku berjalan membawa sepedaku menelusuri jalan kota dimalam hari. syukurlah tidak terlalu gelap karena lampu toko disepanjang jalan ke stasiun.
"sakura!"
Seorang pria yang familiar memanggilku dekat pintu masuk stasiun.
Aku bergegas menghampirinya
"kau telat 5 menit" goda syaoran
"m-maaf tadi aku.. anu.." lagi-lagi sakura kehilangan katat
"kau ini lucu sekali ya. Jangan terlalu menganggap serius. Ini untukmu" Syaoran tidak kuasa menahan tawanya kemudia member sakura burger dan cola yang ia beli tadi.
"tidak usah. Aku tidak lapar" ujar sakura
Krrrkkkk…
Terdengar suara yang seharusnya tidak berbunyi saat- saat genting seperti ini. hoeee memalukan.
" hahaha sepertinya perutmu tidak sependapat denganmu, sakura." godanya
"Ambillah aku sengaja membeli lebih untukmu"
Ah jadi begitu rupanya. aku saja sulit menghabiskan 2 cheese burger sendirian. ditambah lagi 2 cola. aku tidak sanggup
"ngomong-ngomong, aku minta maaf sekali lagi soal kemarin" ujar pria disebelahku
"eh?"
"aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan gadis pelayan itu"
"tidak usah dipikirkan. kau kan sudah minta maaf. lagipula itu bukan hal yang penting"
aku bermaksud menghiburnya namun...
malah aku yang merasa sedih. hanya bisa tertunduk memegang erat liontin sayap kesayanganku.
"tapi raut wajahmu berbeda dengan yang kau katakan"
Aku sadar ditatapnya, namun aku kejadian itu jauh menyakitiku. dalam diam teringat kejadian menyedihkan itu lagi.
Terasa seseorang mencubit pipiku,
"a-auu" sontakku langsung menatapnya.
"sakura!"
"iya" jawabku reflek dengan lantang
pria itu melukis senyum dibibirnnya. mata ambernya menatap jauh ke dalam diriku.
aku... tidak bisa bernafas.
"tersenyumlah, kalau kau sedih seperti itu aku tidak akan segan mencubit pipimu seperti tadi"
Perasaan apa ini? Mataku terbelalak kaget mendengarnya. Jantungku tiada henti berhenti berdegup kencang. Perasaan yang begitu… kurindukan.
"semangat ya! jangan mau kalah"
buukk..
dia menepuk punggungku. entah kenapa timbul perasaan hangat. aku kembali bersemangat.
"umm.. terimakasih" aku pun membalas senyumnya.
Syaoran menghela nafas lega.
"liontin yang indah ya" ujar syaoran membuka pembicaraan
"ini? Liontin ini sudah ada sebelum aku lupa ingatan"
"kau? Lupa ingatan?"
Aku mengangguk, "aku bertemu kakek angkatku saat aku mencorat-coret di sebuah tembok gang sempit. Waktu itu umurku 3 tahun. saat itu liontin itu sudah ada padaku"
"Apa kau tidak ingat siapa yang memberikan liontin itu?"
Aku hanya menggeleng dan kembali terdiam.
"begitu ya"
Mereka terdiam beberapa saat. Suasana berubah canggung.
"sudah malam. Akan ku antar kau pulang"ujar syaoran sembari sedikit meregangkan otot-ototnya
"t-tidak usah. Kau langsung pulang saja. Lagipula aku membawa sepeda"
"kalau begitu…" seketika syaoran merampas sepeda sakura dan menaikinya.
"naiklah!"
Hoeee… aku dibonceng bisa-bisa dia mendengar degup jantungku ini. Degup jantungku belum mereda juga.
"nanti kalau ada polisi bisa kena tegur"
"kalau begitu, kita harus cepat sampai sebelum ditegur" syaoran melukis senyum khasnya lagi.
Aku hanya bisa pasrah. Mudah-mudahan jantungku mereda atau setidaknya tidak terdengar olehnya.
Perlahan syaoran mengayuh sepeda itu. Sepanjang jalan kami mengobrol asyik dan tanpa sadar sudah sampai di apartemenku.
Aneh, aku samasekali tidak memberi instruksi arah. Tapi kenapa dia tau apartemenku. Jangan-jangan dia STALKER?
Aku perlahan turun dari sepeda dan segera mengambil sepeda itu.
"terimakasih sudah mengantarku, syaoran"
"tidak masalah." Balas pria yang mengantarku itu.
Wussh..
Apa itu? Sesuatu tertancap di tanah.
"a-anak panah?" mataku terbelalak
"sakura, hati-hati!" teriak syaoran mulai waspada dengan sekitar
Siinggg…
Seseorang melesat dengan sangat cepat dengan sebilah pedang, namun, pedang itu berhasil ditahan oleh dengan sesuatu dari tangan syaoran.
p-pedang? Syaoran memegang sebuah pedang? Tanyaku dalam hati.
Iris emeraldku tidak memalingkan pandangan dari syaoran. Banyak pertanyaan menghantuiku tapi pertanyaan besarku hanya satu.
Syaoran siapa kau sebenarnya?
Sinnggg….
Szzz…..
Wuushhh….
Singg…
Suara pedang beradu bersaut-sautan. Mereka begitu cepat, sampai-sampai aku tidak bisa melihat sosok gelap berjubah orang yang menyerang kami.
Swing…
Pedang milik sosok gelap itu terhempas dari genggaman.
Husssshhhh.
Secepat angin, pedang hijau berukir rubi hampir menggores leher sosok gelap itu.
"siapa yang mengirimmu?" teriak syaoran
"kau pikir aku akan mengatakannya. Jangan menghalangiku, Syaoran Li" ujar sosok berjubah itu kemudian melesat menyerang. Orang itu ditutupi jubah hitam dengan tanda bulan pada bagian belakang jubah itu. wajahna tidak terlihat. hanya terlihat mulutnya saat berbicara .
dan lagi, orang itu mengenal syaoran. Siapa sebenarnya orang ini?
yang terpenting. Syaoran dalam bahaya.
"ckkk.. takkan kubiarkan kau mengganggu putri sakura!" ujar syaoran dengan lantang
Putri sakura? Siapa itu?
Apakah yang dimaksud itu… aku?
Aku seorang putri?
"yang benar saja.." orang berjubah hitam itu melesat mengambil pedangnya yang terhempas.
Sraggg..
Syaoran terhempas hingga memecahkan kaca display dibelakangnya. Pecahan tajam berhamburan melukai syaoran.
"syaoran!" teriakku yang sangat panik
"apa yang kau lakukan pada syaoran?"
"aku hanya muak padanya. Nah, putri kau ikutlah denganku"
Graaab…
Tanganku dicengkram. Cengkeramannya kuat sekali. Aku tak kuasa untuk melepasnya
Batinku berteriak.
syaoran tolong aku!
"Raitei Shorai!"
Seketika kilat menyambar orang berjubah itu. Kilatan itu begitu kuat dan dapat menyengat apa saja didekatnya.
Kilat itu… keluar dari pedang syaoran. melihat pantulan kilat di bola mata amber syaoran.
Seiring kilat itu berhenti, begitu pula dengan orang berjubah itu. Dia menghilang dalam sekejap. Aku masih tidak dapat mempercayai apa yang kulihat.
Syaoran menatapku dan berjalan menghampiri. Kami berdua hanyut dalam diam.
NORMAL POV
Pria pemilik nama Syaoran Li itu tiba-tiba berutut dihadapan sakura.
"e-etto.. apa yang kau lakukan syaoran? berdirilah" ujar sakura kebingungan
"maaf menunggu lama….. tuan putri" satu kalimat yang diucapkannya dengan begitu jelas dan lantang.
"a-apa?"
BERSAMBUNG
