==Part sebelumya==

Bibi itupun menuruti perintah nenek yang sekaligus orang tuanya, "Hinata, dulu nenekmu itu adalah teman dari ibuku. Beliau berdua sangat akrab seperti saudara sendiri. suatu saat mereka berjanji kalau mereka punya anak yang berjenis kelamin beda akan di jodohkan tapi ternyata mereka berdua sama-sama melahirkan seorang anak perempuan. Entah ide aneh dari mana yang ada pada mereka, kalau mereka punya cucu berjenis kelamin beda akan di nikahkan. Dan sekarang aku punya seorang anak laki2 dan ibumu punya kau jadi,….."

"Jadi…?" tanya Hinata sedikit ragu.

MARRIAGE / CHAP 2

Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family

Pairing : Naruhina

Rating : T
WARNING

AWAS INI BENAR-BENAR FANFICTION ALUR SINETRON, DONT LIKE DONT READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL. KARAKTER HINATA DISINI SANGATLAH KUAT DAN SANGAT OOC.

.

.

.

~Sekedar sedikit penjelasan~

Maaf jika fanfiction ini idenya sangat mainstream sekali. Pasti banyak juga FF yang mengisahkan tentang perjodohan. Hemm mungkin banyak yang bingung dan bertanya. Author Nara kok tiap hari update padahal kan cerita2 yang lain belum tamat. Yah ini adalah salah satu karyaku yang aku ikut lombakan untuk kompetisi Novel teenlit di salah satu penerbit, namun sayang cerita ini nggak masuk tiga besar hehe. Jadi daripada dibiarin bulukan di laptop mending aku share aja hehe. Jangan khawatir FF ini nggak bakal ngegantung cz di laptop udah sampai end.

.

.

.

"Jadi Aku ingin kau segera menikah dengan cucuku. Sebelum nenekmu meninggal dia berpesan untuk tidak melupakan janji ini. Memang ini semua terdengar aneh dan konyol tapi ini semua nyata, jadi menikahlah dengan cucuku" ucap sang nenek enteng.

Hinata bagaikan disambar petir disiang bolong. Menikah? kata-kata itu membuat pikirannya kacau. Hinata tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi dalam hidupnya. Hinata tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan saat dia menjadi ibu rumah tangga dan memiliki seorang anak. Seharusnya diumur delapan belas tahun Hinata menghabiskan waktu dengan temannya dan melanjutkan sekolahnya diperguruan tinggi bukan menikah. Ini pasti hanya mimpi buruk disiang hari, iya ini pasti mimpi aku yakin. Batinya.

"Ahahahaha, nenek, kau ini pintar sekali mengagetkanku. Jangan bercanda seperti ini hehehe. Ini sama sekali tidak lucu nek". Hinata berkata sambil memaksakan tawanya.

"Aku tidak bercanda, tapi aku serius". Nenek itu memasang muka yang benar-benar serius. Suara tawa Hinata menghilang, suasanajadi terasa sunyi dan sepi. Hinata memandang orang di sekitar secara bergantian. Dia sadar apa yang terjadi sekarang ini bukan mimpi dan bukan lelucon.

"Aku tidak mau!" teriaknya dengan suara yang lumayan keras, "Aku masih berumur delapan belas tahun nenek. Kenapa harus aku? Ibu katakan sesuatu" Hinata menarik-narik baju ibunya dan merengek.

"Maaf Hinata Ibu juga sudah berjanji pada nenekmu" jawab ibu Hinata lemas.

"AKU TIDAK MAU TITIK!" kata Hinata sambil menggebrak meja dengan keras.

Tiba-tiba sang Nenek memegang dadanya dengan nafas yang tersengal-sengal dan terdengar bunyi ngik..ngik..setiap dia bernafas. Hinata panik melihat Nenek yang tiba-tiba jantungan seperti itu. Apa mungkin nenek kaget karena dia menggebrak meja terlalu keras atau juga karena teriakannku yang begitu keras. Pikir Hinata bingung.

"Nenek apa kau baik-baik saja?bagaimana ini?".

"Hinata umur nenek tidak akan lama lagi, aku hanya ingin kau mengabulkan permintaan nenekmu dan aku. Apa kau pernah membuat bangga nenekmu?". Hinata mencerna kata wanita tua yang ada di depannya sekarang, kalau di ingat-ingat lagi selama ini Hinata tidak pernah membuat neneknya bangga sekalipun yang ada malah dia selalu bikin neneknya kesa serta marah-marah. Hinata hanya diam tidak menjawab pernyataan nenek itu. "Hinata tolong kabulkanlah permintaanya". terdengar bunyi ngik-ngik lagi dari nafas nenek. Otak Hinata blank karena takut nenek itu mati karenanya.

"Baiklah, aku akan menikah dengan cucu nenek". Bibir Hinata asal nyeplos tanpa menyadari resiko apa yang akan dia tanggung, dia benar-benar takut kalau nenek itu akan mati karena dirinya.

"Benarkah". Nenek itu tiba-tiba duduk tegak dan tersenyum bahagia kepada Hinata. Disaat yang bersamaan Hinata mengerjapkan kedua matanya memandang nenek heran dan penuh selidik, kenapa sakitnya cepat sekali sembuh sepertinya beliau tidak apa-apa. Tanya Hinata dalam hati. Nenek yang sadar akan hal itu serta telah membuat Hinata curiga kembali beracting sakit lagi. "Aduh jantungku…".

"Akira cepat ambilkan air putih ". perintah Ibu Hinata. Akira pun mengambilkan air putih kemudian memberikannya pada nenek. Sekarang nenek sedikit tenang dan baikan setelah minum obat.

ooOOoo

Jam pun berlalu dengan cepat, Nenek beserta anak dan menantunya pulang dari rumah keluarga Hinata. Wajah Hinata beserta ibunya terlihat sangat kusut karena harus menerima semua ini, bagi ibu Hinata dia tidak rela putrinya menikah di usia yang sangat muda lain halnya dengan Hinata dia berpikir pasti tidak bisa bermain layaknya seorang gadis biasa yang hidupnya normal. Hinata dan ibunya mengantarkan nenek beserta keluarga di depan pintu pagar rumah mereka.

"Arigatou, sudah menerima kami dengan baik. Kami harus pulang, karena nenek harus menangani beberapa urusan d perusahaan" kata bibi itu sambil membungkukan kepala.

"Iya, kami mengerti terima kasih sudah sudi berkunjung di rumah kecil kami". Senyum Ibu Hinata ramah.

"Kami pulang dulu. Hinata jangan lupa hari Sabtu ya. Dandanlah yang cantik". Kata nenek itu, namun Hinata diam saja malah memasang muka cemberut dan marah. Ibu Hinata yang melihat anaknya berkelakuan tidak sopan pada orang tua, sontak menginjak kaki putrinya.

"Aoucchh, Ibu kenapa kau menginjakku" bisiknya pelan.

"Jangan bertingkah seperti itu kepada orang tua, bersikap ramahlah".

Hari ini benar-benar hari yang sial baginya, di sekolah dia bertemu dengan pria yang menyebalkan, sekarang di rumah dia dapat kabar kalau dia akan menikah dengan cucu pengusaha kaya raya di Tokyo. Hidupnya benar-benar rumit dan menyedihkan. Hinata memandang ibunya penuh amarah, seolah nggak mau kalah ibunya melotot kearahnya. Hinata menghela nafas tanda dia frustasi dengan suasana sepert ini.

"Nenek hari sabtu aku pasti kesana dan berdandan ala putri raja". Senyum palsu Hinata mengembang dipipinya. Nenek itu mengangguk dan masuk kedalam mobil mewah miliknya.
Di dalam mobil, hanya ada empat orang beserta sopir mereka. Tampak sekali kebahagiaan di raut wajah nenek, beda dengan anak beserta menantunya yang wajahnya terlihat kusut karena sebenarnya mereka juga tidak setuju dengan adanya pernikahan ini, karena usia putra mereka juga sama delapan tahun.

"Ibu, aku tidak menyangka kau akan melakukan hal seperti itu. Berpura-pura sakit? ibu benar-benar pintar acting" sindir sang anak.

"Mau bagaimana lagi, kalau aku tidak melakukan hal itu, Hinata pasti akan menolak pernikahan ini. Tidak ada jalan lain selain berpura-pura seperti itu" jawab nenek enteng tanpa melihat kearah putrinya.

"Ibu mertua, putra kami juga tidak mau menerima pernikahan ini. Apa ibu tidak berpikir ini sedikit ketelaluan. Mereka masih berumur delapan belas tahun.".

"Tidak ada seorang pun yang bisa mengubah keputusanku mengerti!'. Tatapan Nenek berubah garang bagaikan singa yang siap menerkam mangsanya. Anak dan menantu nenek itu beringsut ke posisi duduknya masing-masing karena takut dengan Nenek kalau wajahnya sudah seperti itu.

oOOOoo

Hinata duduk sendirian di kelas, termenung sambil menyangga dagu dengan tangannya, matanya melihat daun-daun yang ada dibatang pohon seakan menari-nari bahagia ketika angin menyentuh mereka. Indahnya pemandangan di kota Tokyo tidak seindah suasana hatinya. Hinata menghela nafas panjang, dia masih tidak percaya kalau kejadian macam ini akan menimpa hidupnya. Dia sudah berusaha untuk berbicara dengan ibunya tentang pernikahan ini bahkan sempat bertengkar dengan ibunya sepeninggal keluarga Nenek pulang, tapi sayang ibunya tidak bisa berbuat apa-apa. Dan parahnya dia bahkan tidak bisa menolak tawaran nenek itu, karena selama ini biaya hidup keluarga mereka sebagian besar di topang oleh nenek itu. Semenjak ayah Hinata meninggal, keadaan ekonomi mereka sangatlah sulit, ibunya hanya bekerja di sebuah toko kue. Kalau di hitung-hitung sebenarnya gaji ibunya tidak cukup untuk membiayai sekolahnya dan adiknya. Demi kedua anaknya ibu Hinata mau menerima bantuan dari nenek itu. Anggap saja ini sebagai hutang budi, itulah yang di katakan oleh ibu Hinata padanya. Hinata membenamkan wajah di antara kedua telapak tangannya, kepalanya seakan pecah menerima nasib buruknya. Dooorr! Hinata terperanjat kaget, ketika tiba-tiba ada orang yang mengagetinya, ketika melihat orang tersebut ternyata orang itu adalah Shikamaru tidak lupa juga Ino juga ada disitu.

"Hinata kau kenapa ?aku lihat dari tadi kau melamun terus" tanya Shikamaru yang sekarang duduk tepat didepan Hinata bersama Ino.

"Kalau kau punya masalah, curahkan saja pada kami. Pasti kami akan membantumu" tawar Ino. Memang Ino adalah sahabat terbaik Hinata didunia masalah apapun yang dihadapi olehnya pasti Ino selalu berusaha untuk membantunya.

"Ino, apa kau tahu bagaimana rasanya menikah di usia dini?". Hinata bertanya sedikit berbisik takut orang akan mendengar pertanyaanya selain dua sahabatnya itu.

"Apa!", teriak Ino tanpa sadar, sontak membuat orang di kelas melihat ke arah mereka. Hinata reflek membekap mulut Ino sebentar lalu melepaskannya, "Mana aku tahu, aku kan belum menikah. Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu padaku?

"Apa kau akan menikah?" tanya Shikamaru polos.

"Ti-Tidak. Siapa yang akan menikah? aku Cuma Tanya. Aduh perutku sakit aku mau ke toilet dulu" ujarnya.

Hinata meninggalkan Shikamaru dan Ino bersama, dia bersandar dibalik pintu kelas, Hinata hanya pura-pura sakit perut agar Shikamaru tidak banyak tanya, karena dia orangnya selalu ingin tahu sesuatu sampai ke akar-akarnya. Hinata merasa dia gadis bodoh yang pernah ada, untuk apa dia bertanya hal macam itu pada mereka berdua. Hinata melihat sekitarnya, tanpa sengaja dari lorong kelas dia melihat Naruto berjalan dan diikuti oleh sekerumunan cewek. Aish dia itu makin lama mkin blagu aja. Naruto juga melihatnya dengan tampang sinis.

"Apa kau lihat-lihat!"bentak Hinata.

"Tchh, Siapa yang melihatmu" bantah Naruto dingin.

ooOOOoo

Hari sabtu pun tiba, hari dimana Hinata harus berkunjung ke rumah calon suaminya beserta Ibunya. Kata nenek nanti ada hal penting yang akan di bahas. Di luar rumah sudah menunggu sebuah mobil mewah lengkap beserta sopirnya, semua fasilitas itu didapatkan dari nenek. Sebenarnya Hinata tidak ingin pergi ke rumah nenek itu, tapi mengingat nenek sudah banyak membantu keluarganya, maka dia mengharuskan dirinya untuk kesana. Hinata berjalan keluar dengan Ibunya. Sambutan ramah kepada mereka berdua di peroleh dari sopir nenek itu. Ibu Hinata tersenyum sedangkan Hinata terus-terusan memasang muka cemberut. Secara perlahan mobil itu berjalan meninggalkan rumahnya, Hinata tidak mengerti kemana sopir itu pergi membawa dirinya.

"Ibu, kita mau kemana?" tanya Hinata penasaran.

"Sudahlah jangan banyak tanya".

Hinata menuruti apa yang dikatakan ibunya. Selama perjalanan Hinata hanya diam tidak melakukan apapun dan sibuk memandang pemandangan kota Tokyo di luar jendela mobil. Kejadian aneh apa lagi yang akan menimpaku? batinnya. Selang sepuluh menit dari rumahnya, mobil yang di kendarai oleh Hinata berjalan melewati daerah Meiji Rodeo Street, tempat ini merupakan daerah yang ramai dikunjungi orang-orang dimana disitu banyak sekali terdapat butik-butik brand mewah, restaurant brand terkenal, dan kedai kopi yang buka setiap hari sampai pagi. Tidak hanya brand-brand local Jepang saja tetapi, brand dunia juga ada di Daerah Meiji ini. Tidak heran kalau daerah Meiji disebuat daerah orang terkaya di Tokyo. Bisa di bilang daerah ini merupakan pusat ekonomi, budaya serta pendidikan di Jepang bahkan sebagai tempat trend fashion. Biasanya para pemuda kaya sering nongkrong di tempat ini. Tanpa terasa mobilpun berhenti di depan sebuah salon mewah. Sopir itu turun dari mobil sambil membukakan pintu untuknya dan Ibunya. Hinata berjalan ragu.

"Ibu, untuk apa kita salon?" tanya Hinata kesal, namun sang ibu sama sekali tidak menggubrisnya, beliau hanya menarik lengan putrinya kemudian membawanya masuk.
Sesampainya didalam salon, banyak sekali orang yang sedang sibuk merias diri dan sebagian besar pengunjung di sini adalah perempuan. Hinata berusaha membenrontak, tapi sayang genggaman tangan ibunya sangat kuat.

"Selamat datang, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pelayan ramah.

"Tolong dandani putriku bak seorang putri" ucap Ibu Hinata.

Pelayan itu tersenyum ramah. Ibu Hinata mendorong Hinata pelan kearah pelayan, jadi mau tidak mau Hinata menuruti perintah ibunya. Ternyata yang di permak tidak hanya Hinata namun Ibunya juga. Hinata pasrah dengan peristiwa yang akan terajdi selanjutnya. Jari jemari peñata rias di salon ini sangat lihai melukis wajah Hinata. Baru pertama kali ini Hinata memakai bedak dan lipstick seperti sekarang. Selain wajah, peñata rias itu juga menata rambutnya yang panjang dan lurus itu. Lima belas menit berlalu, usailah sudah para perias itu me-make over wajahnya. Perlahan namun pasti Hinata membuka matanya, di dalam cermin terlihat sosok gadis yang sangat cantik dengan rambut panjang agak bergelombang, mengenakan dress berwarna pink. Gadis itu terlihat mirip sekali dengannya.

"Wow, Hinata kau terlihat cantik sekali" puji Ibu Hinata yang tiba-tiba berada disampingnya.

"Benarkah ini aku Ibu?" tanyanya tidak percaya.

"Tentu saja ini kau, memangnya siapa lagi. Sudah kuduga kalau kau adalah gadis cantik, tapi karena tingkahmu yang urakan itu membuat kecantikanmu pudar". Hinata terus memndang kagum dirinyaa didalam cermin. "Sudah saatnya kita berangkat, ayo kita pergi".

ooOOOoo

Sekarang Hinata dan Ibunya sudah sampai di sebuah rumah yang megah dan mewah. Banyak guci di sana-sini. Banyak foto-foto di dinding sepertinya itu keluarga, tapi di foto itu Hinata tidak melihat seorang yang umurnya muda, seperti dirinya. Tanpa sengaja di meja dekat kursi yang Hinata duduki ada sebuah foto anak kecil dengan pipi yang sangat chubby, memakai kaos biru dan ada pita merah di kepalanya sedang duduk diam sepertinya dia habis nangis. Anak kecil itu terlihat sangat manis dan lucu. Disini juga banyak sekali body guard maklumlah nenek adalah pengusaha tersukses di Jepang jadi selalu dikawal. Tak lama kemudian nenek beserta anak dan menantunya datang, lagi-lagi Hinata tidak melihat calon suaminya ikut datang bersama mereka. Mereka semua berpakaian sangat rapi dan terkesan sedikit mewah kalau di pakai dalam rumah.

"Selamat malam nenek" sapa ibu Hinata ramah.

"Duduklah tidak usah sungkan begitu" perintah nenek. Sebagai tamu yang baik kita menuruti apa saja yang di perintahkan oleh pemilik rumah. Mata nenek itu tertuju ke arahnya, Hinata sedikit gugup dengan cara pandang nenek itu serius. "Hinata, kau benar-benar terlihat sangat cantik. Cocok sekali dengan cucuku yang begitu tampan". Hinata hanya tersenyum tipis dalam menganggapi omongan nenek itu.

Satu pelayan wanita berjalan mendekat sambil membawa lima cangkir teh hijau untuk mereka. Nenekpun memerintahkan semuanya agar segera meminum. Hinata menyeruput sedikit demi sedikit teh yang pahit itu, ingin sekali dia membuangnya tapi sebagai tamu dia tidak boleh menyinggung perasaan pemilik rumah. Hinata terlihat begitu gugup untuk menemui calon suaminya.

"Pengawal, tolong bawa cucuku kemari".

"Baik nyonya" kata orang itu tegas.

Pria itu berjalan meninggalkan kami dan menuju lantai atas. Beberapa saat kemudian terdengar suara teriakan seorang pria yang berkata"aku tidak mau". Ya tentunya Hinata sudah tahu kalau pria itu juga tidak mau dengan adanya pernikahan konyol ini. Hinata berharap dia bisa melakukan sesuatu untuk mencegah pernikahan atau perjodohan ini. Hinata melihat dua orang yang melewati tangga karena jarak ruang tamu dengan tangga agak jauh maka dia tidak bisa melihatnya dengan jelas. Ketika sampai didepan mereka, Hinata begitu shock, ternyata cucu nenek itu adalah murid baru yang namanya Naruto. Lengkap sudah penderitaanku kali ini, ujar Hinata dalam hati.

"Kau?!" pekik mereka bersamaan sambil saling tunjuk antara satu dengan lainnya.

TO BE CONTINUE