Seokjin mengamati teras asri yang ditumbuhi berbagai macam bunga, dan juga satu dua pohon bonsai yang tumbuh subur di bagian pinggir-pinggir teras. Pagarnya terbuat dari kayu bercat coklat muda, lantainya pun berbahan kayu yang dipoles dengan warna sama, coklat muda yang terlihat begitu mengkilap.

Jungkook yang mengusungkan semua gaya teras ini, ia mengambil konsep dek Kapal karna benar-benar terobsesi dengan alat transportasi tersebut. Ia bahkan berkata kalau suatu saat nanti ingin bertualang mengarungi lautan menggunakan sebuah kapal besar dan menemukan pulau-pulau tak bernama yang mungkin saja mempunyai harta karun di dalamnya. Seokjin hanya bisa tersenyum geli mengingatnya.

Seokjin berhenti sejenak, menatap ke sekeliling dan menghirup aroma musim semi yang menyegarkan. Ada satu buah pohon mapple yang rindang di bagian tengah teras, dan di sekeliling pohon itu ada bangku yang terbuat dari kayu eboni biasa mereka gunakan untuk bersantai.

Ia melangkah menuju tangga yang berada di sisi kanan teras, ada tujuh anak tangga di sana dan ketika Seokjin sudah menginjak anak tangga ketiga, barulah ia mengingat sesuatu yang menjadi salah satu prioritas utamanya.

"Ah! Ponselku!" Seokjin menepuk keningnya sendiri, terpaksa berbalik kembali sembari merutuki sikap teledornya yang mulai kambuh. Ia berjalan dengan langkah lebar dan dalam berapa langkah saja ia sudah berada tepat di depan pintu utama dorm.

Cklk.

Seokjin memutar handle, lalu mendorongnya sedikit saat suara ribut terdengar, "Pembohong! Kau pasti hanya menyayangi Jin-Hyung 'kan? Kau selalu membelanya!"

Itu suara Hoseok. Seokjin bisa mengenalinya dengan mudah. Ia mengernyitkan keningnya terheran.

Ada apa?

"Tidak Hyung! Aku juga menyayangimu!"

"Aku tak percaya! Kau pasti lebih menyayangi Jin-Hyung daripada aku,"

"Baik, baiklah. Aku lebih menyayangimu dari Jin, Ok?"

Deg!

Napas Seokjin tersekat, menatap dari celah pintu sosok Hoseok yang menerjang Namjoon sembari memekik, ia menatap tiap-tiap adegan di depan sana dengan tubuh yang gemetaran dan Seokjin memutuskan untuk kembali menutup pintu itu lalu berbalik dari sana dan berpura-pura tak mengetahui apa pun.

Meski ia tahu, pikiran dan hatinya tak bisa melakukan hal tersebut. Seokjin mengharapkan ia bisa melakukan hal yang sama untuk kepalanya, agar ia bisa menutup ingatan tadi dan lupa semua hal yang sudah ia dengarkan.

Tapi Seokjin tak bisa. Ia tidak akan pernah bisa.

Kim Seokjin . . . Apa yang kau pikirkan?

Apa yang kau harapkan?

Reina Of El Dorado Present

Step

Disclaimer : BTS milik Tuhan, Keluarga, Sahabat, Diri mereka sendiri, dan juga Fans.

(Saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun saat menulis fanfiksi ini, semata-mata hanya untuk kesenangan dan kepuasan diri sendiri).

Genre : RL, Canon, Yaoi, Drama, Friendship, Romance, etc.

Tribute : My beloved, Rei Winter.

Warning : Boys Love, Yaoi, Crack—Pairing, Bromance, OOC, Typo(s), Non EYD, etc.

Don't Like? Don't Read! So? Don't Bash!

Happy Reading

.

.

.

Pagi itu sedikit berbeda dari hari ribut biasanya, hanya ada enam orang di meja makan, Seokjin, Namjoon, Taehyung, Yoongi, Hoseok, dan Jimin—sembari melahap sarapan pagi yang dibuat oleh Seokjin.

"Jungkook di mana?" Hoseok bertanya sembari menatap Jimin. Yang ditatap berjengit kaget dan menggeleng tak acuh.

"Kenapa tanya aku Hyung?" sengitnya tak suka pada Hoseok yang makin mengernyitkan dahi.

"Kau kenapa Jimin? Sedang Pms ya?" celutuknya iseng tanpa tahu mood Jimin benar-benar buruk.

"Aku sedang tidak ingin bercanda!"

.

.

.

Ups.

Atau mungkin bukan hanya Jimin saja yang mood-nya sedang buruk karna nyatanya Taehyung tiba-tiba angkat suara meski Hoseok sama sekali tak mengganggunya.

Trang!

"Aku sudah selesai," pamit Yoongi setelah meletakan sendoknya dengan sedikit kasar ke atas piring. "Terima kasih atas hidangannya Hyung."

Punggung Yoongi menjauh dari meja makan diikuti tatapan keheranan Hoseok dan Namjoon.

"Aku akan memeriksa kamar Jungkook," Seokjin berkata pelan bahkan nyaris tak terdengar. Ia tak menghabiskan sarapannya yang sejak tadi hanya disuap sesekali dan ia aduk berkali-kali. Tak ada niatan mengunyah dan menelan makanan itu karna rasanya akan percuma. Pemuda berambut hitam itu melangkah pergi dari ruangan makan yang berubah canggung.

"Namjoon, apa aku membuat kesalahan?" tanya Hoseok pada Namjoon yang menggeleng pelan.

"Aku akan pergi latihan," ujar Jimin ikut pergi dari sana tanpa memedulikan jawaban dari Hoseok dan Namjoon.

"Kurasa auranya sedikit berbeda," keluh Namjoon karna tidak tahu apa-apa. Kemarin Seokjin membawa Jimin pulang yang terlihat berantakan. Pemuda itu tak mau bicara apa pun meski matanya membengkak dan terlihat frustrasi. Ia segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu, sikapnya itu sangat aneh.

Dan lebih anehnya lagi, Seokjin juga bersikap aneh, ia menepis tangannya ketika Namjoon menyentuh pundaknya untuk bertanya—mungkin Seokjin melakukannya secara tidak sengaja tapi... Entah kenapa ia sedikit terluka.

Seokjin tersenyum canggung dan berkata ia tidak mau diganggu dulu, lalu pemuda itu segera masuk ke dalam kamarnya tanpa bicara apa-apa lagi. Malamnya pun Seokjin keluar hanya untuk memasak, menanyai tentang Jimin pada Taehyung dan kembali masuk ke dalam kamarnya lagi.

"Ayo kita siap-siap juga Joon-ie," usul Hoseok sembari mengumpulkan piring di meja makan dan membawanya ke Pantry.

"Sudah kubilang itu menjijikkan Hyung," komentar Namjoon sembari menenggak air mineralnya.

"Sudah kubilang jangan panggil aku Hyung!"

"Kalau begitu jangan panggil aku Joon-ie atau Namjoon-ie begitu. Tidak cocok dengan gayaku yang gentle!" Protes Namjoon childish.

"Pppfftth, Gentle bokongmu! Sudah! Sudah! Sekarang bantu aku cuci piring dan kita segera berangkat," perintah Hoseok dan dituruti oleh Namjoon dengan gerutuan kesal.

"Kau memang yang terbaik dalam urusan memancing emosi orang lain Hyung," umpatnya dalam nada rendah.

"Paling tidak bukan ereksi orang lain 'kan?" canda Hoseok sembari tersenyum jahil dan dibalas Namjoon dengan decakan 'Ewh' yang terdengar nyaring.

"Oh, shut up Hyung!" Seru Namjoon dan dibalas kekehan kecil dari pemuda bermata sipit itu.

Mereka kembali bersenda gurau dengan lancarnya tanpa peka pada aura-aura tak nyaman yang terus meningkat pada diri seseorang.

Reina Of El Dorado

Jimin tidak tahu.

Jimin tidak mengerti.

Jimin juga tidak paham.

Dalam hati ia bertanya-tanya bukankah tiga kata di atas tadi berarti sama? Oh, baiklah itu tak penting.

Yang penting adalah—Jimin mengintip lagi dari celah pintu ruang latihan—Bagaimana caranya menghadapi seseorang di dalam sana?

Baiklah ia menyesal sekarang, menyesal kenapa ia tak bersabar dan malah datang sendiri? Kenapa ia tak menunggu Member lain saja tadi? Kenapa ia memilih menggunakan mobil pribadinya kemari?

Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Dan demi apa pun dari semua kata kenapa di bumi yang tidak bulat-bulat amat ini adalah;

KENAPA YANG DI DALAM SANA ADALAH JEON JUNGKOOK?

KENAPA HARUS JUNGKOOK?

KENAPA TUHAN MENGIRIMKAN JUNGKOOK DI DALAM SANA?

KENAPA? KENAPA? KENAPA?

Entah kenapa nafsu Jimin untuk bergoyang mendadak muncul secara tiba-tiba. Ia sudah hampir menggerakkan tubuhnya kalau saja tak mendapati tatapan terheran dari karyawan yang ada di gedung Big Hit.

Oh, ok, ok, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda.

Jimin menghela napas lagi, ia menguatkan hati dan berpikir untuk bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Ia hanya perlu masuk dan menyapa Jungkook lalu mereka menari dan bercanda seperti biasa dan kejadian kemarin akan terhapuskan. Mereka hanya akan anggap hal tersebut sebagai delusi, ilusi, khayalan, atau mimpi semata. Apa pun itulah, apa pun.

Kalau ia cukup beruntung, mungkin Jungkook akan meminta maaf padanya, ya, mungkinsaja—meskipun Jimin sangat mengharapkan hal tersebut. Benar-benar mengharapkannya.

Jimin mengangguk yakin, dengan hati yang teguh dan tangan yang sudah menyentuh handle pintu dan bersiap membukanya kalau saja hatinya tak kembali ragu-ragu.

Oh Park Jimin! Kau hanya tinggal masuk, tersenyum, menyapa, dan tidak akan terjadi apa-apa! Itu saja.

Ya, ya, tidak akan terjadi apa-apa di antara mereka berdu—tung, tunggu!

Wajah Jimin berubah memucat, ia melangkahkan kakinya mundur teratur.

Tunggu dulu! Tunggu dulu!

Tadi apa katanya? Mereka. Berdua?

Mereka hanya berdua? Bukankah saat terjadi apa-apamereka juga hanya berdua kemarin?

DAN MEREKA AKAN BERADA DALAM SATU RUANGAN BERDUA SAJA LAGI?

OH! DAMN! FUCK! SHIT! WHAT THE HELL! WHAT THE FUCK! WHAT THE BITCH?

Seseorang! Jimin perlu seseorang!

Ia ingin sekali mencegat seseorang dan menyumpahinya sekarang, siapa pun karna ia benar-benar ingin berkata kasar sekarang. Tapi apa daya, bibirnya terlalu suci untuk melakukan pekerjaan laknat seperti itu.

Cklk.

Karna terlalu sibuk dengan pemikirannya, Jimin tak sadar pintu di hadapannya sudah terbuka, menampilkan seorang pemuda asal Busan yang kehadirannya saja sudah menyerang seluruh mekanisme kekebalan tubuh Jimin hingga rasanya ia bisa segera meleleh tak karuan di atas lantai.

Tuhan, selamatkan aku yang merupakan hamba-Mu yang taat dan penuh kasih sayang.

"Kau tak mau masuk Hyung?" Pertanyaan itu meluncur bebas dari Jungkook.

Seolah-olah tak ada apa-apa yang membuat kecanggungan ini terjadi, tak ada yang salah di antara mereka, tak adasesuatu yang melukai harga diri Jimin, tak adainsiden yang membuat Jimin bergelung masuk ke dalam selimutnya, tak ada hal khusus yang membawa Jimin menghabiskan sekotak tisu semalam, intinya tak adaciuman yang kemarin.Tak ada! Sama sekali tidak ada!

Uhm, harusnya itu tak perlu kupertegas.

Jimin tidak tahu ekspresi epic seperti apa yang ia pasang di hadapan Jungkook. Kalau saja ada Yoongi atau Taehyung sekarang, ia jamin mereka akan memotret ekspresi kaku melongo seperti orang bodohnya dan menyebarkannya untuk ARMY di SNS dengan senang hati.

Untungnya, mereka tak ada. Sialnya, Jungkook yang ada. Karna... Ya Tuhan! Demi kaus kaki baunya Yoongi! Jimin lebih sanggup melawan Sepuluh Yoongi dan Taehyung daripada satu Jungkook.

Satu saja sudah membuat jantungnya berdentum keras! Apalagi sepuluh? Bisa lompat jantungnya ke dasar kaki!

Tangan Jungkook menyambar lengan Jimin, menariknya memasuki ruangan dan menutup daun pintu yang berdenyit kecil.

"Kenapa kau hanya berdiam diri seperti tadi?" tanya Jungkook lagi saat Jimin masih diam tak bersuara. "Jimin-Hyung? Kau mendengarku?"

"Ya, begitu. . . tadinya juga—" ucapan terbata Jimin terhenti ketika Jungkook berbisik di telinganya, "Kenapa? Kau takut aku menciummu seperti kemarin lagi Hyung?" Di akhir kalimat Jungkook meniupkan angin hangat ke lubang telinganya dan membuat Jimin tersentak dan menjaga jarak.

Ia terdiam cukup lama sembari menatap Jungkook dengan tatapan marah dan terlukanya. Jimin bertanya dengan nada tajam, "Apa itu lucu bagimu?"

Jungkook balas menatap Jimin dengan sikap tenangnya.

"Apa?"

"Kubilang apa itu lucu bagimu?!" seru Jimin mulai kehilangan kesabaran. "Kenapa kau bisa mengatakannya semudah itu?"

"Yang kutahu aku adalah seorang penyanyi di sini Hyung, bukan seorang pelawak. Jadi kurasa, tak ada hal perlu kau tertawai dari ucapanku barusan," balasnya masih dengan nada santai, tapi Jimin merasa sikap tenang Jungkook itu sedang mengejek dirinya, makanya dengan kesadaran yang menipis ia sudah mengepalkan tangan dan melayangkan tinjunya ke rahang Jungkook dengan sangat kuat.

BUGH!

Tidak cukup keras memang, tapi tetap saja berdenyut menyakitkan. Kaki Jungkook bahkan sempat tergeser ke belakang karna menahan serangan Jimin yang tiba-tiba.

"Bajingan!" teriak Jimin sembari mencengkeram kerah baju Jungkook. Mata, kepala, dan hatinya terasa memanas.

"Kau benar-benar," suara Jimin tersekat. Ia menyelami kedalaman iris yang tampak dingin dan kejam dimatanya sekarang. "—Kejam dan rendahan!"

"Che," decak Jungkook sembari membuang wajahnya ke arah lain. "Kejam?" tanyanya sarkastis.

"Kalau aku kejam... lalu kau apa?" Jungkook tersenyum kecil, menyeringai tipis saat berkata, "bajingan?" dengan nada rendah yang meresahkan. Ia memegangi pergelangan tangan Jimin dan melepasnya dengan satu sentakan keras.

"Bajingan yang suka mencium orang lain hanya untuk bercanda?" tanyanya sarkastis. Jimin meneguk salivanya susah payah.

Benar, pada awalnya memang dirinya yang bersalah. Tapi 'kan tetap saja! Tetap saja Jungkook juga bersalah setelahnya! Bukan hanya ia saja yang salah!

"Tapi Demi Tuhan! Aku hanya menciummu Jeon Jungkook! Sedangkan kau? Kau pikir apa yang kau lakukan?!" teriak Jimin marah, napasnya terengah-engah dengan wajah memerah menahan amarah dan kecewa.

"Aku?" Jungkook bertanya retoris, matanya menyipit tajam dan segaris senyuman angkuh tak berperasaan terpeta di sana. "Hanya bercanda Hyung. Apa ada yang salah?"

Jimin lupa untuk tahu cara menapaki bumi dengan benar. Ia merasa lemas, lumpuh, tak berdaya, dan hampa. Seolah-olah tulang di seluruh kakinya telah dilolosi paksa hingga Jimin tak tahu bagaimana caranya menopang beban tubuhnya, lalu ketika pipinya sudah basah dan terasa sembab, terlebih ketika itu terjadi tepat di hadapan orang yang sama yang sudah membuatnya menangis semalam, Jimin tersadar akan sesuatu... Bahwa bukan permintaan maaf Jungkook yang ia harapkan, tapi hanya sebuah ungkapan.

Ungkapan penyesalan karna Jungkook telah menyakitinya mungkin? Atau ungkapan bagaimana perasaan Jungkook setelah ciuman mereka kemarin? Ungkapan bahwa mereka bisa kembali bercanda seperti biasa dan tak akan terjadi apa-apa setelahnya.

Apa pun, apa pun itu, Jimin sangat mengharapkannya sekarang.

Karna Jungkook yang menatapnya dingin tanpa ekspresi dan berucap dengan kasar itu bukan Jungkook-nya.

Jungkook yang bergerak menjauh dan tak menoleh meski sedikit itu bukan Jungkook-nya.

Bukan Jungkook yang Jimin Cintai.

Reina Of El Dorado

Ada rasa canggung yang asing dan tak nyaman saat ketujuhnya sudah berada dalam Van yang bergerak menuju tempat fansigning mereka diadakan sore ini.

Yoongi duduk di barisan paling belakang sementara di sampingnya ada Seokjin yang tumben sekali bersamanya, dan tak lupa juga ada Jungkook di sana, di depan mereka, ada Taehyung dan Jimin, sementara di baris paling depan ada Namjoon dan Hoseok, sementara Manajer mereka yang bernama Kim Jaesuk duduk di sisi Sopir sembari sibuk berbicara dengan seseorang di ponselnya.

"Malam ini kalian hanya akan mengisi satu acara di KBS." Jaesuk membuka suara sembari menoleh ke belakang. "Ngomong-ngomong apa ada yang salah?"

Ya, itulah pertanyaannya sekarang.

Selepas latihan keadaan makin berubah suram, tak ada siapa pun yang mencoba melakukan sesuatu atau membuka suara agar keadaan membaik. Sewaktu latihan tadi pun gerakan mereka banyak tak selaras, saling sikut, tendang, tabrak, dan bahkan pukul satu sama lain, suara mereka tersendat-sendat dan kadang lirik satu lagu disambung dengan lagu lain, intinya terlalu banyak kesalahan yang mereka lakukan.

Yoongi bahkan hanya menggerakkan badannya dalam tiga lagu dan sesudahnya kebanyakan melamun, Taehyung salah melafalkan lirik dan terus bergumam seperti seorang yang sakit gigi, Jimin terus mengusap mata dan hanya bisa mengerakkan bagian kepala dan bahunya, Hoseok yang entah kenapa malah asyik sendiri menggerakkan seluruh badannya, Namjoon hanya melihat Seokjin sepanjang waktu, dan yang ditatap malah tak mau peduli, ia hanya peduli dengan keberadaan Jungkook di sana karna Seokjin yang pagi tadi memeriksa kamarnya Jungkook menemukan kamar itu kosong dalam keadaan bersih, rapi, dan wangi—kamar Jungkook sudah seperti slogan iklan pengharum pakaian saja, ia merasakan kejanggalan pada Jungkook dan bertanya macam-macam pada sang Maknae yang hanya bisa tersenyum simpul setiap saat.

Jadi intinya ada 'perang dingin', kata 'hindar-menghindari'dan 'jauh-menjauhi' di antara mereka satu sama lain. Mereka paham dengan sendirinya meski tak ada yang mempertegas keadaan.

Tapi tak ada yang berniat membuka suara, Yoongi tengah menoleh ke luar jendela dan menatapi deretan bangunan yang tertangkap retinanya, Taehyung asyik tenggelam dalam tatapan kosongnya mengamati langit-langit Van, Jimin juga melamun sembari menyenderkan tubuhnya dan mencuri tatap pada sosok yang lagi-lagi membuat matanya basah, Jungkook memejamkan mata sembari mendengarkan lagu-lagu dari earphone-nya, Hoseok? Oh,jangan ditanya. Ia sibuk bermain dengan ponselnya.

Jadi sebagai Leader—yang paling tampan, paling baik, paling bertanggung jawab, paling murah senyum, dan yang paling berkarisma—Namjoon merasa bahwa ialah orang yang harus menjawab pertanyaan Manajer mereka yang terkenal kejam dan sadis itu secepatnya.

"Tidak ada yang serius Hyung," ujar Namjoon terbata saat diberi tatapan mematikan Jaesuk. "Hanya sedikit salah paham," sambungnya dengan nada mencicit saat aura hitam makin pekat di sekelilingnya.

"Bukan masalah yang melibatkan pertengkaran 'kan?" sosok berkacamata berusia 36 tahunan itu bertanya dengan nada menuntut dan dibalas anggukan ragu dari Namjoon.

"Aku melihat pipi anak kecil satu itu sedikit lebam. Apa kau bisa jelaskan kenapa?" tanya Jaesuk lagi, kali ini bukannya menjawab, Namjoon segera menoleh pada sosok Jungkook dengan tatapan terkejut. Seokjin tersadar dan juga menoleh pada Jungkook, ia bahkan segera bergeser agar bisa melihat wajah Jungkook lebih dekat.

"Jungkook-ah, Jungkook-ah, Kook-ie," panggil Seokjin sembari mengguncang bahu Jungkook pelan, dan itu berhasil membuat sang Maknae terbangun dan mengerjapkan matanya dengan berat.

"Ada apa Hyung?"

"Wajahmu! Ah, astaga! Ini lebam?! Kenapa aku tak melihatnya? Apa yang terjadi padamu?" tanyanya cemas sembari menyentuh pipi Jungkook.

"Ah, ini?" Jungkook ikut memegangi pipi tirusnya. "Tak apa, ini hanya luka kecil saja kok Hyung."

"Luka kecil apanya?!" bentak Jaesuk tak senang. "Kau tak tahu betapa mengerikannya imajinasi fans-mu di luar sana? Apa kau tak tahu? Benar-benar tak tahu? Mereka akan berpikir yang macam-macam tentang lukamu!"

"Macam-macam seperti apa?" tanya Jungkook polos. "Tinggal ditutupi dengan make up saja dan semuanya selesai," katanya dengan nada enteng.

"Jungkook! Seriuslah sedikit! Apa yang terjadi pada wajahmu?"

"Aku hanya tak sengaja memukulkan wajahku pada tangan seseorang."

"Siapa?" Yoongi menolehkan kepalanya pada Jungkook dan kembali bertanya, "Apa ada yang mengganggumu? Atau ada yang mencoba mem-bully-mu?"

Jungkook hanya membalasnya dengan satu gelengan kecil pada Yoongi.

"Katakan saja padaku Jungkook-ah. Karna kebetulan sekali emosiku berada di titik 'aku ingin menghajar seseorang sampai mati'sekarang!"

"Yoongi jaga mulutmu!" Jaesuk berkata memperingati. "Sifat bar-bar tidak pantas untuk seorang idol," tekannya dan dibalas decakan tak suka dari Yoongi.

Seokjin tak banyak membuka suara, sesekali ia mengusap rambut Jungkook dengan sayang, Namjoon hanya terdiam mengamati interaksi di antara Seokjin dan Jungkook, Jimin berusaha keras menulikan telinganya, Taehyung? Ia tak berani membuka mulutnya, takutnya ia mengatakan sesuatu yang salah lagi sementara Hoseok sudah menyimpan ponselnya dan ikut memusatkan atensi pada Jungkook.

"Ini bukan apa-apa." Jungkook sempat melirik pada Jimin. "Hanya luka kecil karna seseorang yang suka bercanda."

"Siapa?" Namjoon, Seokjin, dan Hoseok, bertanya bersamaan, dan untuk waktu yang lama ada kecanggungan di sana, entah karna apa dan siapa. Apalagi saat Seokjin melemparkan tatapan anehnya lagi pada Namjoon dan Hoseok.

"Bukan siapa-siapa."

Jimin mengeratkan genggaman tangannya di atas celana, ia tak mau menangis, ia tak mau menangis lagi.

Pikirkan sesuatu yang ceria! Pikirkan sesuatu yang bahagia! Pikirkan sesuatu yang menggelikan!

Seperti Seokjin memakai rok mini, atau Namjoon memakai bikini, atau Hoseok memakai dress maiddilengkapi bandana kelinci yang imut, atau Yoongi menari Hawai dengan rumbai-rumbai, atau Taehyung memakai rok balet, atau Jungkook— Jungkook— Jungko—Bajingan sialan itu! Haruskah kutenggelamkan ia di Sungai Han?

Jimin membuang pandangan keluar.

"Berarti, bukan masalah yang serius?" tanya Jaesuk memastikan.

"Kuharap juga begitu," ujar Namjoon sembari menatapi sosok Seokjin dan kembali menoleh pada Manajernya, ada jeda selama sepuluh detik saat Jaesuk akhirnya tersadar dan memelototkan matanya pada Namjoon yang meringis. "Mungkin?"

"Mungkin?" tanya Jaesuk menuntut. "Kalian mau jadwal pemotretan 2 hari 1 malam di Jeju kita nanti tertunda?!"

"APA?" Seokjin berteriak kaget, membuat semua mata menoleh padanya dengan tatapan yang berbeda-beda. "Ma, maksudku kapan?"

"Sekitar tiga hari lagi," balas Jaesuk sembari membuka sebuah aplikasi di ponselnya. "Kenapa?" tanyanya kemudian pada Seokjin.

Pemuda itu menggeleng, lalu kembali menatap Jungkook yang sekarang menyandarkan kepala dibahunya. Jaesuk tak banyak bicara lagi saat ponselnya kembali berdering dan ia terlihat kembali berbincang-bincang dengan seseorang di ujung sana.

Ini buruk.

Kalau ada pemotretan selama lebih dari satu hari berarti mereka akan menginap, dan kalau menginap... Ia mengingat pembagian kamar dengan jelas.

Yoongi—Taehyung, Jungkook—Jimin, Namjoon, Hoseok, dan... dirinya. Adakah situasi yang lebih buruk daripada berada di dalam satu ruangan dengan orang yang ingin kau hindari?

Tidak.

Tidak ada.

"Hyung, bisakah nanti kau membuatkanku bubur?" Jungkook terdengar meminta—meski lebih terdengar seperti rengekan di telinga Seokjin.

"Oh? Ya, tentu saja."

"Terima kasih Hyung!"

Cup!

Jungkook mengecup pipi Seokjin dan dibalas seruan Namjoon. "Cham! Ya! Maknae! Apa yang baru saja kau lakukan?" tanyanya dengan pelototan tak senang.

"Eh? Kenapa? Aku hanya mencium pipi Jin-ie Hyung," balas Jungkook santai dan terlihat begitu polos. "Apa tak boleh?" tanyanya lagi.

"Aku sering menonton Member idola grup lain melakukannya sesama Member saat mereka berterima kasih," katanya kalem. "Atau untuk bersenang-senang, ada juga yang melakukannya hanya untuk bercanda?"

Demi Tuhan!

Jimin ingin sekali berdiri dan berteriak marah, memaki, memukul, meninju, menghajar Jungkook lalu melemparnya keluar mobil, keluar Seoul, keluar Korea, keluar Dunia, dan bahkan keluar Antariksa sekalian!

"Apa tak boleh Jin Hyung?" Tanya Jungkook lagi pada Jin.

"Tentu saja boleh Jungkook-ah. Kalau mau kau juga bisa memelukku," katanya sembari tersenyum menenangkan dan tanpa ragu Jungkook segera memeluk sosok itu dengan erat.

"Terima kasih Hyung," bisiknya pelan.

"Sama-sama Maknae."

Entah kenapa mata Namjoon berubah menyipit sinis pada mereka. Hoseok terkikik geli disisinya.

"Sana! Ikut berpelukan juga dengan istri dan anakmu," ujarnya mengomentari wajah muram Namjoon–Mulai mendrama rupanya.

"Anak apanya? Mana ada anak yang menikung Ayahnya sendiri! Jeon Jungkook berandalan kecil itu sudah merebut istriku!" kata Namjoon dengan nada datar dan suara kecil.

"Tak apa," bisik Hoseok. Ia meletakan kedua tangannya di bahu Namjoon, dan menarik tubuh tegap itu agar mendekat padanya. "Kau. Masih. Punya. Aku. 'Kan?"

Namjoon bergidik geli, lalu tertawa lepas dan mendorong wajah Hoseok menjauh.

"Ya! J Hope! Kau benar-benar mengerikan!" katanya dan disambut tawa Hoseok.

Yah, mereka bercanda di saat kelima lainnya dihinggapi kemuraman yang sama hingga tak ada yang mau menggubris kelakuan mereka berdua.

Oh, salah. Orang itu ada.

Ia melirik kecil dengan satu gurat senyum tipis pada punggung Namjoon.

Dasar tidak peka.

Reina Of El Dorado

Ketujuh pemuda itu berdiri dan melambaikan tangan, mereka baru saja menyelesaikan acara fansigning dan syukurnya semuanya berjalan lancar tanpa ada kerusuhan. Ketujuhnya berpegangan tangan dan membungkuk mengucapkan 'Terima kasih' dan mendapat sorakan membahana dari para ARMY yang hadir di sana.

"Sebelah sini," Jaesuk berkata sembari mengarahkan para Bodyguard mengelilingi ke tujuhnya, mereka akan kembali ke dorm untuk beristirahat dan bersiap-siap mengisi acara nanti malam.

Satu demi satu Member BTS melangkah dijaga oleh Bodyguard melangkah keluar, Hoseok dan Namjoon di depan, pemuda itu melindungi Hoseok dengan sigap saat ada dorongan yang terjadi dan hampir membuatnya terjatuh.

"Kau tak apa?" tanyanya cemas.

"Tidak, tak apa, aku baik-baik saja."

"Hati-hati," Namjoon berbisik ditelinganya dan dibalas anggukan oleh Hoseok.

Di belakangnya ada Jimin, Taehyung, Jungkook, Yoongi, lalu terakhir Seokjin yang melangkah secara berurutan.

Mereka sudah tiba di pintu tempat acara itu berlangsung saat ada dua orang gadis yang menghampiri Jimin dengan terburu-buru, sepertinya mereka sudah terlambat.

"Jimin Oppa!" teriak mereka bersamaan, tapi keduanya dicegat para penjaga bertubuh kekar itu untuk tidak lebih mendekati sang idola.

"Jimin Oppa! Jimin Oppa!" teriak mereka lagi dan lagi. Mendengar suara mereka membuat Jimin tak sampai hati. Ia akhirnya berhenti, lalu berbalik mendekat pada mereka, di belakangnya ada Jungkook dan Taehyung yang ikut berhenti dan memperhatikan Jimin.

"Ya?" tanyanya sembari melemparkan senyuman memikat dan dibalas pekikan keduanya. Salah satu yang berambut pendek sebahu maju dan menyerahkan bingkisan padanya.

"Ku, kumohon—terimalah!" ujarnya dengan wajah memerah, sebenarnya sudah merupakan tugas seorang Manajer untuk menerima hadiah dari fans. Tapi Jaesuk berada jauh dari tempat Jimin berdiri, jadi dengan suka rela ia yang menerimanya, lalu gadis yang berambut hitam legam yang berada disisi gadis pertama itu juga memberikan bingkisan padanya.

Jimin menatap wajah mereka—yang sepertinya bukan merupakan gadis Korea asli, dengan saksama

"Terima kasih," ujarnya tulus dan keduanya memekik lagi.

"Sa, saya Rei, dan ini Reina Eonni!" Gadis pertama memperkenalkan diri. Nama mereka juga terasa asing untuk diucapkan di lidah. "Kami fans berat Oppa."

"Oh, terima kasih." Jimin membenarkan letak kacamata beningnya—karna matanya sembab dan sedikit membengkak, Jaesuk menyuruhnya menggunakan kacamata.

"Kalian kembar?" tanyanya penasaran.

"Tidak!" keduanya menggeleng secara bersamaan.

"Senang bertemu dengan kalian, tapi aku harus pergi—"

"Tunggu!" Gadis-gadis itu berkata secara bersamaan kembali. "Kami—bisakah kami meminta foto?" Reina bertanya dengan penuh harapan. Setelah terdiam beberapa saat, Jimin akhirnya pun menganggukkan kepalanya pelan.

"Hanya sekali saja, ok?"

"Bukan, bukan foto bersama kami!" Rei menggelengkan kepalanya dengan kuat, lalu melirik ke arah Taehyung yang sedang berbicara dengan Jungkook di belakang Jimin.

"Tapi, foto Oppa bersama Jungkook Oppa!" Mendengar namanya disebut-sebut membuat Jungkook menoleh dengan raut tak terbaca, hanya datar tanpa ekspresi apa pun. Taehyung ikut menolehkan kepalanya.

"Foto kalian berdua," sahut Reina dengan wajah memerah.

Hah?

Jimin membeku di tempat, bukan, bukan tak tahu maksud dua gadis di hadapannya.

Ia tentu saja tak asing dengan kata itu, oh, ayolah, semua orang di daratan Korea Selatan pasti tahu apa itu yang namanya Official Couple.Apa itu JiKook, KookMin, VGa VHope, VKook, JinHope, MonHope, NamHo, atau MinYoon.

Kalau dirimu adalah seorang Idola grup, maka kau harus siap kalau-kalau namamu akan dipasangkan dengan nama seseorang di grupmu sebagai—uum, couple, dan yang membuat Jimin terbengong begini bukan karna ia tak mengerti permintaan terselubung itu. Ia tahu, tentu saja.

Mereka meminta 'JiKook moment!' yang berarti akan ada rangkulan, pegangan, sentuhan, atau lagi sesuatu yang membuatnya berada di jarak paling dekat dengan Jungkook, dan—astaga, bahkan mendengar namanya saja sudah membuatnya kehilangan fungsi berpikir, apalagi harus berdekatan dengan Jungkook?! Jimin tidak akan sanggup!

Seperti mengerti keadaan 'canggung' di sekitarnya, Taehyung segera bergerak maju. Merangkul pundak Jimin dan tersenyum lebar.

"Hei, hei, kalian ingin mengabaikanku ya?" katanya riang. "Kalau kalian meminta JiKook moment berarti aku harus menyingkir dari sini?" ia mendengarkan tawa yang terasa aneh di telinga kedua gadis itu.

"Bu, bukan begitu."

"Kalau begitu..." Taehyung mengedipkan sebelah matanya. "Fotonya lain kali saja ya?" Ia mempertahankan senyuman manisnya yang siap melumerkan keduanya di atas lantai.

"Sebagai gantinya, aku akan memberikan kalian cinta yang begitu banyak," ujarnya sembari membentuk 'Heart sign' dengan jemarinya di depan dada, dan kedua gadis itu kembali memekik tak terkendali karna begitu kesenangan.

Jungkook mendengus pelan di belakang sana saat menemukan sosok pemuda lain disisinya.

"Dia selalu mengobral perasaannya seperti itu?" tanyanya dengan nada kecil. Sang Maknae terdiam, menatap pada Taehyung yang masih tersenyum lebar tanpa beban.

"Kau ada masalah Hyung?" tanya Jungkook langsung. Pemuda yang bernamakan panggung Suga itu tersenyum sinis.

"Masalahnya itu terletak pada seseorang yang begitu suka bercanda." Lalu matanya menatap Jungkook dengan ekspresi yang terlihat begitu rapuh. "Bukankah begitu?"

Jungkook terdiam, cukup lama dan kemudian mengusap pundak Yoongi sayang. "Kurasa juga begitu."

Seokjin baru sampai di sisi Yoongi dan Jungkook saat bertanya 'ada apa? Kenapa berhenti?' dengan nada lelah. Dua dongsaeng-nya hanya tersenyum kecil dan menggeleng. Lalu ketiganya menolehkan kepala saat ada suara terdengar di depan sana.

"Ayolah! Cepatlah sedikit anak muda!" teriak Hoseok yang sedang bersender di pintu Van yang jaraknya tak jauh dari posisi mereka berdiri, di sisinya Namjoon tengah meneguk air mineral yang diberikan oleh Jaesuk dan segera direbut oleh Hoseok tanpa permisi.

Tatapan mata Seokjin menggelap karnanya, dan Namjoon menyadari hal itu karna ia bisa melihat perubahan ekspresinya dengan mudah sesaat tadi. Di satu sisi, mata Yoongi bertatapan dengan iris mata kelam Taehyung yang berbalik dengan tangan masih membentuk Heart sign di depan dada, sementara Jungkook—ia sudah sejak lama tertawan di binar luka mata berbingkai kacamata itu.

Wuuusshh~

Angin berembus kencang, berputar-putar membawakan tarian tak kasat mata bersama helaian daun yang tak sengaja terbawa di dalamnya.

Tak ada hal yang cukup berarti dari angin sore ini bagi orang lain, tapi bagi ke enamnya, mereka tahu bahwa sesungguhnya angin itu telah membawakan musim gugur pada hati mereka meskipun musim semi masih bertakhta di Seoul.

Keenamnya terbelit dalam perasaan dan berbagai kesalahpahaman. Keenamnya berbagi tatapan yang sama, pandangan yang sama—dan rasa sakit yang sama.

.

.

.

Bersambung

[Samarinda 28 Agustus 2016]

Reina Of El Dorado