WHAT BROTHERS ARE FOR
-Naruto belongs to Masashi Kishimoto-
Summary: "Mungkin dia jadi pemakai narkoba. Lihat saja! Dia selalu tidur di kelas, prestasinya menurun drastis, dan sikapnya berubah dingin.." "Tidak. Itachi bukan orang seperti itu!" Kisame menambahkan dalam hati, '...kuharap.' /AU/
Rating: T
Genre: Family/Drama
-Itachi-Sasuke brotherhood, No pairing
-AU, OOC
ONE
The Beginning of Torture
-
"Itachi-nii..."
Itachi menunduk memandang Sasuke yang menarik-narik ujung kausnya.
"Ya...?"
"...Kita mau kemana? Disini dingin sekali..." Sasuke menggigil dan merapatkan jas hujan beningnya yang telah basah kuyub diguyur air hujan.
Itachi menggandeng Sasuke dan menuntunnya menyebrangi jalanan yang becek. "Sabarlah, Sasuke...Sebentar lagi kita sampai."
"...Memangnya kita mau kemana...?" Sasuke melirik ke gang-gang kecil yang kumuh di pinggir jalan dimana para preman, pemulung, pengangguran, bahkan para pedagang narkoba biasa berkumpul.
"Mencari pekerjaan untukku," kata Itachi kalem, membuatnya terdengar jauh lebih tua dari 15 tahun. "Bibi Yui tidak meninggalkan cukup makanan untuk kita," –Itachi mencengkram gagang payung yang dibawanya lebih erat, "... jadi aku perlu pekerjaan."
"Eh? Ta-tapi tidak di luar sini, kan...?" tanya Sasuke dengan ekspresi serius, ngeri membayangkan kakaknya bekerja sebagai pedagang narkoba atau preman di jalan-jalan.
"Hah...? Tentu saja tidak!" Itachi tertawa kecil sambil mengacak rambut Sasuke, "Kau tahu café di dekat sekolah?" Sasuke mengangguk, wajahnya kembali cerah, "Kudengar mereka perlu waiter baru,"
"Oh... Jadi kakak akan kerja di sana?" tanya Sasuke.
"Ya. Sepulang sekolah, aku bisa bekerja part time di sana sebagai waiter."
"Oh..." Sasuke mengangguk mengerti.
Tak lama, mereka berdua tiba di café yang dikatakan Itachi. Sasuke tampak lega karena akhirnya bisa mendapat tempat berteduh. Mereka memasuki café setelah Sasuke melepas jas hujannya dan Itachi melipat payungnya. Di dalam begitu hangat dan nyaman. Aroma berbagai macam makanan dan coklat panas menyambut mereka ketika mereka melangkahkan kaki ke dalam.
Sasuke mengedarkan pandangan ke sekeliling café dengan ceria, mencari-cari seseorang yang dikenalnya diantara para pengunjung café yang cukup banyak. Matanya tertumbuk pada Kisame, teman dekat kakaknya sejak SD yang saat itu tengah memesan minuman di counter.
"Lihat, kak! Ada Kak Kisame...!" Sasuke menarik-narik tangan kakaknya sambil menunjuk-nunjuk ke Kisame.
Itachi menoleh ke arah yang ditunjuk Sasuke dan melihat Kisame dengan dua orang temannya, Kakuzu dan Hidan. Itachi mengikuti Sasuke yang menariknya ke arah counter dengan perasaan enggan. Sebelumnya ia sempat bertengkar dengan Kisame, dan ia juga tidak akrab dengan Hidan ataupun Kakuzu.
"Yo, Itachi! Sasuke-chan!" sapa Kisame sambil menyeringai, memamerkan deretan gigi-gigi runcingnya yang membuatnya tampak agak seperti hiu .
"Hei..." Itachi tersenyum kecil pada Kisame dan mengangguk singkat pada Hidan dan Kakuzu. Mereka berdua balas mengangguk kecil pada Itachi.
Kisame memandang Itachi lekat-lekat. Itachi tampak lebih lelah dari biasanya, dan sorot matanya juga dingin. Pasti ada sesuatu yang salah...
"Jadi? Kau kemana saja liburan musim panas kemarin?" tanya Kisame, memutuskan untuk memulai pembicaraan melihat sikap Itachi yang entah kenapa lebih pendiam hari ini.
"Tidak kemana-mana," kata Itachi datar, "—Aku... harus pergi sekarang..." Itachi kemudian berbalik dan mulai menarik Sasuke menuju ke arah seorang waitress.
Kisame mengernyit, agak kesal karena sikap Itachi yang seolah mengacuhkannya. "Dia kenapa, sih!" desis Kisame. Apakah Itachi masih marah gara-gara kejadian waktu itu..?
"Permisi," Itachi menghampiri salah seorang waitress yang sedang sibuk membersihkan meja.
"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu sambil tersenyum. Waitress itu tampak masih sangat muda, mungkin seumuran dengan Itachi, dengan kulit putih dan rambut coklat panjang dikuncir satu.
"Saya ingin melamar bekerja disini, sebagai waiter," ujar Itachi. Waitress itu mengangguk dan mengeluarkan notes kecil dari sakunya.
"Oke. Siapa namamu?"
"Uchiha Itachi."
"Namaku Inuzuka Hana," kata wanita itu, sambil menuliskan nama Itachi, "Ikut aku,"
Itachi dan Sasuke berjalan beriringan mengikuti Hana ke belakang café.
"Uchiha! Jangan tidur di kelas!" desis Orochimaru, memukul belakang kepala Itachi dengan bukunya.
Itachi langsung tersentak bangun, mengucek matanya yang memerah karena kurang istirahat.
"Ma-maaf... Tidak akan kuulangi lagi, Sensei...," kata Itachi sambil menunduk, sementara teman-teman sekelasnya mentertawakannya.
Sesaat kemudian bel istirahat makan siang berbunyi. Semua anak mulai berdiri dan membereskan buku-buku mereka sambil mengobrol dengan suara ribut. Itachi menahan kuap dan mulai membereskan barang-barangnya dengan gerakan lambat.
"Kau kenapa, Uchiha? Akhir-akhir ini sepertinya kau tidak konsentrasi saat pelajaran," tanya Orochimaru, jelas-jelas heran kenapa muridnya yang tahun lalu paling pintar di kelas nilai-nilainya menurun drastis.
"Tidak ada apa-apa. Saya hanya kurang tidur akhir-akhir ini," Itachi bangkit berdiri dengan menghindari tatapan curiga Orochimaru.
"...Kenapa kau kurang tidur?" tanya Orochimaru lagi.
"Saya... um—," Itachi terdiam sejenak, memikirkan alasannya, "Saya sering bermain video game sampai larut malam..." katanya berbohong. Kenyataannya, TV di apartemennya sudah ia jual sejak tiga bulan yang lalu untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari.
"Saya pergi dulu, Sensei," kata Itachi, cepat-cepat meninggalkan kelas sebelum Orochimaru sempat bertanya apa-apa lagi.
Itachi berjalan dengan agak terhuyung menuju kantin, menyisir rambutnya dengan jari-jarinya dan menguap. Kantin belum terlalu ramai ketika ia datang, dan ia cepat-cepat duduk di meja kosong di sudut kantin. Meletakkan tasnya di meja, ia segera menarik keluar buku Sejarahnya serta beberapa lembar kertas.
Hari itu Itachi mendapat tugas Sejarah, yaitu menulis karangan tentang 'Bagaimana kira-kira cara untuk mencegah terjadinya Perang Dunia ke-2'.
Itachi memutar mata. Gampang saja, kan? Bunuh saja Hitler sebelum dia sempat membuat ulah!
Itachi menghela napas dan mulai mengerjakan tugasnya.
Uchiha Itachi, 15 tahun. Tinggal di daerah kumuh di pinggiran California, di mana para perampok, preman, pedagang ilegal, bandar narkoba, dan PSK berkumpul menjadi satu.
Sehari-hari ia bekerja part time sebagai waiter di café dekat sekolahnya. Namun penghasilannya belum mencukupi untuk melunasi seluruh hutang sewa apartemennya yang sudah ditunggak Bibi tirinya selama lima bulan.
Itachi terpaksa menjual barang-barang yang dimilikinya. TV (satu-satunya sumber hiburan di apartemennya), semua barang di kamar Bibinya (lemari, tempat tidur, meja rias, jam, bahkan keset), pakaian-pakaian bekas Bibinya, meja makan dengan kursi-kursinya, kipas angin, sofa, dan karpet. Kamarnya sendiri juga sudah kosong, –hanya tersisa sebuah cermin retak di dinding. Bahkan ia juga mulai menjual pakaian-pakaiannya.
"Ih... Dia itu nggak pernah ganti baju, ya? Lihat saja, bajunya sama terus dari kemarin..." Itachi mendengar dua orang gadis berbisik-bisik dari meja di belakangnya .
"Iya, ya... Malah sepertinya dia pakai baju yang sama terus sejak minggu lalu!"
"Mungkin dia nggak sanggup beli baju lain..." kedua gadis itu tertawa mengejek.
Itachi memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam.
'Sabarlah, Itachi... Jangan hiraukan mereka... Yang penting kau harus selesaikan tugas ini secepatnya.'
Itachi kembali berkonsentrasi pada tugasnya.
Nanti, sepulang sekolah, ia masih harus bekerja sampai larut malam. Kalau tugas-tugasnya tidak dikerjakan sekarang, kapan lagi dia bisa mengerjakannya?
Kelas terakhir Itachi sebelum sekolah usai adalah olahraga. Selesai mengerjakan tugas, ia membawa tasnya dan turun ke lantai satu untuk mengambil seragam olahraga di ruang ganti.
Suara derit pintu loker memenuhi koridor sementara para anak laki-laki sibuk mengambil baju olahraga dari loker masing-masing sambil mengobrol dengan suara ribut. Itachi membuka pintu lokernya dan mendapati pakaian olahraganya tinggal berupa serpihan abu. Rupanya seseorang telah memasukkan korek api menyala ke dalam lokernya dan membakar pakaian olahraganya untuk yang kedua kalinya bulan itu.
Dan Itachi lagi-lagi hanya memejamkan matanya, mengingatkan dirinya sendiri untuk bersabar.
Ia kemudian berpaling menghadap seorang pemuda berambut merah yang sedang berdiri di sebelahnya.
"Umm... Sasori?"
"Ada apa, Uchiha?" tanya Sasori datar, melepaskan kemejanya dan menggantinya dengan kaus olahraga.
"Kau bawa baju ekstra, tidak...? Aku perlu baju untuk olahraga," tanya Itachi, melambaikan tangan sekilas pada onggokan abu di dasar lokernya. Sasori tertegun sejenak melihat apa yang tersisa dari baju olahraga Itachi.
Sasori mencari-cari sesuatu dalam lokernya. "...Ini." ia melemparkan sebuah T-shirt hitam dan celana basket biru muda yang masih bersih kepada Itachi.
Itachi melempar senyum tipis padanya, "Thanks, Sasori."
"Hn." gumam Sasori sambil menutup lokernya dan berjalan pergi.
Itachi dan Sasori sempat berteman sebelumnya. Mereka bertemu saat SMP, dan sejak saat itu menjadi teman. Hubungan mereka memang tidak sedekat hubungan Itachi dengan Kisame, melihat sikap mereka yang sama-sama tak banyak bicara—, tapi mereka selalu saling membantu jika diperlukan.
Setahun yang lalu, sejak Itachi ditinggal oleh Bibi tirinya, mereka semakin jarang bertemu. Itachi tidak pernah punya waktu untuk pergi-pergi bersama teman-temannya karena kelelahan bekerja. Ia menjadi jarang tersenyum dan membiarkan orang lain mengejek dan mengerjainya. Ia mengerjakan PR-nya pada waktu makan siang dan tidur dalam bus saat pulang sekolah. Sasori menyangka Itachi sudah tidak mau berteman dengannya, dan sejak saat itu mereka tak pernah berbicara lagi.
Itachi segera mengganti baju dan pergi ke gym. Pelajaran olahraga belum dimulai, jadi Itachi duduk di sebuah bangku panjang dan menyandarkan kepala ke dinding dengan letih.
Mungkin ia bisa tidur sebentar...
'Itachi....' Kisame mengernyit, memandang ke pemuda berambut hitam yang sedang duduk di ujung gym. 'Dia kelihatan lebih lelah dari biasanya...'
"Hoi, Kisame... Kau ini ngeliatin apa, sih...?" Hidan melambaikan tangannya di depan wajah Kisame. Kisame tak menghiraukannya. Hidan mendengus dan mengikuti arah pandang Kisame, "... Ah... Uchiha, ya?"
Kisame tidak menjawab. Kakuzu mengangkat alis, "Bukannya dia temanmu? Kok sepertinya kalian nggak pernah ngobrol?"
Kisame mengangkat bahu, akhirnya memandang ke arah teman-temannya alih-alih Itachi. "Aku sendiri juga nggak tahu... Dia tiba-tiba jadi dingin begitu,"
Sasori mengangguk pelan. "Dia dulu ramah sekali. Entah apa yang merasukinya sekarang," gumam Sasori. Deidara memandang Sasori dengan bingung. Ia belum pernah melihat Sasori bersama Itachi sebelumnya.
"Eh? Kau juga berteman dengan Itachi-san, un...?"
"Ya," Sasori menambahkan dalam hati, '...dulu.'
"Kira-kira ada apa, ya, dengannya?" tanya Kisame pelan.
"Mungkin dia jadi pemakai narkoba," kata Hidan dengan nada tak acuh, "Lihat saja! Matanya memerah, dia selalu tertidur di kelas, prestasinya menurun drastis, dan sikapnya berubah nyaris 180 derajat. Apalagi dia tinggal di sarang para kriminal seperti itu—,"
"Tidak." potong Kisame dingin. "Itachi bukan orang seperti itu," ia melirik ke arah Itachi yang ternyata telah tertidur di tempatnya duduk. '...kuharap.'
Suasana menjadi hening, tidak ada yang berbicara selama beberapa saat. Deidara kemudian berdehem pelan dan mengalihkan pembicaraan,
"Uhm... Olahraga hari ini sepakbola, ya...?" tanyanya gugup, melupakan 'un'-nya yang biasa.
"Ya," jawab Sasori kalem, "Ibiki sudah mengumumkannya minggu lalu." Kisame mengangguk dan membuka mulut untuk bicara, tetapi tiba-tiba disela oleh suara keras Ibiki.
"Baiklah, semuanya! Cepat bentuk dua barisan!" perintah Ibiki sambil berjalan ke tengah lapangan dengan memasang wajah sangarnya.
Semua anak, termasuk Kisame, Kakuzu, Hidan, Sasori, dan Deidara buru-buru berbaris, takut mendapat hukuman dari guru olahraga mereka yang dikenal paling galak seantero sekolah.
Kisame melirik cemas ke arah Itachi yang masih saja tertidur di ujung gym. 'Bangunlah, Itachi! Bisa-bisa kita semua disuruh berlari keliling lapangan...!' Kisame mulai gelisah. Dia tahu pasti bahwa kondisi Itachi sedang benar-benar tidak fit, dan dia tidak akan sanggup berlari keliling lapangan selama 15 kali.
"UCHIHA!"
Itachi tersentak bangun dan terjatuh dari kursi saking kagetnya. Ia cepat-cepat berdiri dan mendapati dirinya berhadapan dengan guru olahraganya, Morino Ibiki.
"Y-ya, sensei...?" kata Itachi sambil terbatuk sedikit.
"Cepat berbaris!" bentak Ibiki, mendelik kepadanya. Itachi buru-buru bergabung di barisan anak laki-laki, berdiri tepat disamping Sasori. Ibiki kemudian menyeringai kepada murid-muridnya. "Nah, berkat Itachi yang bermalas-malasan saat pelajaran, kalian semua kuhukum berlari keliling lapangan 15 kali!" Terdengar keluhan dan dengusan kesal dari murid-murid yang lainnya.
"Ini gara-gara kau, Uchiha!" desis Hidan.
"Jangan berisik! Mau kutambah jadi 20 kali...!" ancam Ibiki. Semua anak langsung terdiam. "Nah, sekarang ayo mulai!"
Mereka semua mulai berlari mengelilingi lapangan. Baru berlari setengah putaran, Itachi sudah kehabisan tenaga. Napasnya semakin lama semakin sesak.
Seorang teman sekelasnya —Sakon— berlari merendenginya, masih tampak sangat kesal.
"Apa kau bodoh Uchiha!" desisnya, "Ini semua gara-gara kau...!"
Itachi tidak menjawab, hanya terbatuk kecil. Sakon mendelik pada Itachi, marah karena kata-katanya tak dihiraukan.
"Dengarkan kalau aku sedang bicara!" bentaknya sambil mendorong Itachi keras-keras. Itachi terjatuh ke samping dan menabrak Deidara.
Seringai di wajah Sakon langsung sirna ketika tinju Sasori menghantam pipinya. Sakon ikut terjatuh sambil berteriak kesakitan.
"Kalian nggak apa-apa?" Kisame berlari kecil menghampiri mereka sementara Sasori membantu Deidara berdiri.
Deidara mengangguk, "Ya, un. Tapi lututku berdarah sedikit..."
"Si brengsek itu apa maunya, sih!" Sasori mendelik marah kearah Sakon. Deidara mengangkat bahu. "Nggak tahu, un... Dia tiba-tiba mendorong Itachi,"
Sasori, Kisame, dan Deidara serentak menoleh pada Itachi. Itachi masih duduk di lantai dengan tangan menutupi mulutnya, terbatuk-batuk keras.
"Itachi? Kau baik-baik saja...?" Kisame mulai cemas ketika melihat Itachi masih belum berhenti terbatuk-batuk, tubuhnya terguncang hebat. Itachi mengangguk lemah dan menepuk-nepuk dadanya sendiri, sampai akhirnya batuknya berhenti.
"Kau kenapa, Itachi?" tanya Sasori pelan, memperhatikan Itachi lekat-lekat. Itachi menggeleng dan perlahan berdiri.
"Tidak, kok. Aku tidak apa-apa." gumam Itachi. Deidara ikut memandangnya cemas.
"Kau yakin kau tidak perlu ke UKS, un...?" tawarnya. Itachi hanya tersenyum kecil.
"Tidak perlu," katanya sambil berbalik, "...Lebih baik kita mulai berlari lagi sebelum Ibiki memarahi kita." Dengan itu, Itachi berlari mendahului mereka. Kisame, Sasori, dan Deidara bertukar pandang sejenak sebelum akhirnya berlari menyusul Itachi.
Sementara itu, beberapa meter di depan mereka, Itachi menangkupkan tangan menutupi mulutnya dan mulai terbatuk-batuk lagi.
Kali ini, darah mengalir dari sudut bibirnya.
Setelah pelajaran olahraga selesai, murid-murid pergi ke ruang loker untuk mengganti baju atau mandi.
Sudah beberapa hari Itachi tidak mandi. Dia tidak sanggup membayar tagihan air untuk dua orang, jadi ia hanya mandi di sekolah setiap jam pelajaran olahraga berakhir. Dia rela tidak mandi hanya supaya Sasuke bisa mandi dengan air hangat di rumah.
Bel sekolah berbunyi segera setelah Itachi keluar dari ruang shower. Setelah mengambil tasnya, ia berjalan dengan terburu-buru ke lobby depan, tanpa menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan teman-temannya seperti murid-murid yang lain.
Ia masih harus bergegas ke tempatnya bekerja.
TBC..
A/N: Hhh... Jadi juga...
Sangkyuu buat yang udah review chap sebelumnya... :) *bows*
It means a lot...
