Reborn
Warning: Germancest, Shounen-ai, Angst, Humans name used
Axis Powers Hetalia/World Series Hetalia © Hidekaz Himaruya
Our first night
Langit biru cerah, perlahan berganti menjadi jingga kemerahan. Matahari yang tadinya berada di atas kepala, perlahan terbenan. Siang yang cerah perlahan-lahan berubah menjadi malam bertabur bintang. Ludwig membawa Gilbert yang sekarang adiknya pulang ke rumahnya. Ia memarkirkan mobilnya di garasi dan membantu Gilbert kecil turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam rumah, Ludwig menuntun Gilbert masuk ke rumahnya.
"Aku ke dapur dulu, membuat makan malam…" Ludwig berjalan menuju dapur, membuatkan dia dan Gilbert makan malam. Gilbert mengangguk pelan tanda mengerti. Ia duduk di ruang tamu, menunggu 'kakaknya' selesai membuat makan malam. Sekitar 25 menit kemudian, Ludwig memanggil Gilbert untuk makan malam. Aroma masakan tercium dari dapur, masakan khas Jerman. Gilbert bangkit dari sofa dan bejalan menuju dapur. Dilihatnya Ludwig sedang menata meja makan, menaruh piring berisi makanan di atas meja.
"Apa ini.. ?" tanya Gilbert polos seraya menunjuk sebuah piring berisi makanan dan menarik kursi meja makan untuk duduk.
"Itu Wurst... Makanan khas Jerman. " Ludwig mengambil tempat duduk berhadapan dengan Gilbert. Ludwig memperhatikan Gilbert yang duduk di seberangnya. Gilbert menatap kosong makanan di hadapannya, perlahan mengambil garpu dan menusukkannya ke wurst tersebut. Mengangkatnya dan memasukannya ke mulut kecilnya, mengunyahnya perlahan.
"E-enak… " Gilbert mengambil lagi wurst dan memakannya dengan lahap. Ludwig yang duduk di seberangnya tertawa kecil melihat tingkah 'adiknya'.
"Kau suka?" tanya Ludwig seraya memakan makanannya juga. Gilbert menjawabnya dengan sebuah anggukkan, dan kembali memakan wurstnya. Ludwig pun ikut makan, mengambil makanannya dan memakannya. Mereka makan dengan diam, hanya terdengar suara kunyahan mereka dan jam.
"Jad, bagaimana kau bisa ada di rumah Roderich? " tanya Ludwig memecah kesunyian yang menyelimuti mereka. Gilbert menatap Ludwig, tersirat kebingungan di mata merah darah-nya.
"A-aku… tidak tahu… " Gilbert mengalihkan pandangannya dari mata Ludwig, menatap kosong makanannya.
"Maksudmu? " Ludwig bertanya seraya menyantap kembali makanannya.
"Aku tidak ingat kenapa aku ada disana, yang kutahu hanya sebuah musik indah terdengar setelah aku bangun…" musik indah, pasti permainan piano Roderich. Jadi memang benar dia berkeliaran di rumah Roderich, saat pertama kali sadar pun sudah ada di rumahnya.
Mereka melanjutkan makan malam dengan diam, suara kunyahan dan jam kembali memenuhi ruangan.
Selesai makan malam, Gilbert kembali duduk di ruang tamu sedangkan Ludwig menaruh piring bekas makan malam di westafel dapur. Ludwig meninggalkannya di westafel dan akan mencucinya besok pagi bersama piring bekas sarapan besok. Ludwig berjalan ke ruang tamu, mengambil tempat duduk di sebelah Gilbert. Ia menyalakan TV, mencari acara yang bagus. Talk show, berita, kuis, petualangan, drama… tidak ada yang menarik. Ludwig mematikan kembali TV-nya dan melihat jam yang menunjukan pukul setengah tujuh malam.
"Sudah malam, sebaiknya kita mandi lalu tidur … " Ludwig bangkit dari sofa dan menatap Gilbert yang masih duduk. Gilbert mengangguk pelan dan ikut bangkit dari sofa. Ludwig berjalan ke kamarnya, Gilbert mengikutinya dari belakang. Sampai di depan pintu kamar Ludwig; ia membuka kamarnya yang gelap, hanya seberkas cahaya bulan yang mengintip dari celah-celah tirai yang menerangi kamar tersebut. Ditekannya tombol lampu di dekat pintu dan lampu pun menyala, memperlihatkan kamarnya yang rapi dan tersusun sempurna. Begitu rapi dan bersih kamarnya, ranjang terletak di tengah ruangan dan sebuah meja kecil berada di samping ranjang. Selimut dan bantal tersusun rapi, tidak jauh dari ranjang terdapat sebuah meja belajar. Terdapat beberapa berkas-berkas dan surat di atas meja belajar tersebut. Di sebelah meja belajar adalah jendela yang tertutup tirai, seberkas cahaya bulan menyelinap masuk ke kamar yang sudah terang sekarang. Walaupun cahayanya kalah dengan lampu kamar, Gilbert masih dapat melihat sedikit cahaya bulan yang mengintip dari celah tirai. Ludwig masuk ke kamar mandi dan menyalakan lampunya. Bahkan kamar mandinya pun rapi dan bersih, semua peralatan mandi tersusun dengan rapi. Ia mengisi bak dengan air hangat. Selagi menunggu, ia mencarikan pakaian untuk dia dan Gilbert tidur. Ludwig berjalan ke arah lemari pakaian di sebelah pintu kamar mandi. Ia membukanya dan mulai mencari pakaian untuk dia dan Gilbert tidur, pakaian saat ia kecil miliknya pasti muat untuk Gilbert kecil. Diambilnya piyama bergambar kelinci dan piyama kemeja berwarna biru muda dari lemari pakaian dan ditaruhnya di atas ranjang.
"Mau mandi bersama? " tanya Ludwig pada Gilbert yang sedang duduk di ranjang. Gilbert mengangguk dan berdiri dari ranjang, berjalan ke arah Ludwig yang masuk duluan ke kamar mandi. Bak sudah terisi dengan air hangat, uap panas mengebul dari dalam bak. Ludwig membantu menganggalkan pakaian Gilbert. Selesai membantunya, ia mulai menanggalkan pakaiannya juga. Gilbert menatap badan Ludwig, otot besar dan tubuhnya yang maskulin membuatnya kagum sesaat. Ludwig dan Gilbert pun masuk ke dalam bak mandi yang lumayan besar tersebut, air hangat mulai membasahi badan mereka berdua. Mereka diam menikmati sensasi hangat dari air yang membasahi tubuh mereka, sama sekali tidak ada suara.
"Kemari, kubersihkan rambutmu… " Gilbert pun mendekat ke Ludwig yang sedang mengambil botol shampoo tidak jauh dari bak. Mengeluarkan isinya ke telapak tangannya dan menggosokannya dengan kedua tangannya hingga berbusa. Setelah berbusa, diusapkannya perlahan ke rambut platinum blonde milik Gilbert. Tangannya bersentuhan kembali dengan rambut sehalus sutra milik Gilbert. Ludwig menggosok rambut Gilbert dengan perlahan, rambutnya terasa begitu halus dan lembut di tangan Ludwig. Sunyi kembali menyelimuti mereka berdua, hanya terdengar suara gesekan antara tangan Ludwig dan rambut Gilbert yang terdengar. Selesai membersihkan rambut Gilbert, Ludwig mengambil shower dan mulai membilas rambut Gilbert dengan air bersih. Air hangat mengalir dari atas rambut Gilbert, turun dan membersihkan rambutnya dari busa shampoo. Ludwig menggosok kembali rambut Gilbert dengan air hangat tetap mengalir membersihkan busa dari rambut Gilbert. Dimatikannya shower setelah selesai membilas rambut Gilbert dan mengambil kembali botol shampoo. Menuangkan isinya di telapak tangannya dan menggosokkannya ke rambutnya. Membersihkannya dengan cara yang sama seperti yang ia lakukan terhadap Gilbert. Gilbert bermain-main dengan air hangat yang membasahi seluruh tubuhnya, mengambilnya dengan tangan mungilnya dan membasahi mukanya dengan air tersebut. Rasa hangat membasahi wajah dan kulit pucatnya. Ludwig selesai keramas dan mulai mengambil shower untuk membilasnya. Tidak lama setelah itu, rambut blonde milik Ludwig telah bersih dari busa shampoo. Ludwig mengambil sabun dan mulai membersihkan tubuh mungil Gilbert, menggosokkannya hingga bersih. Ia membilasnya dengan air hangat setelah selesai membersihkan Gilbert, busa sabun perlahan menghilang dari tubuhnya. Ludwig pun mengambil sabun lagi dan mulai membersihkan badannya, membilasnya setelah selesai membersihkan tubuhnya. Mereka berdua beranjak dari bak, Ludwig mengambil dua handuk yang tergantung di belakang pintu. Ia mengeringkan rambut platinum blonde dan kulit pucat milik Gilbert, handuk halus miliknya bersentuhan dengan kulit lembut milik Gilbert. Setelah mengeringkan Gilbert, ia mulai mengeringkan dirinya. Mengikatkan handuk di pinggangnya setelah selesai. Mereka keluar dari kamar mandi, berjalan ke ranjang untuk mengambil pakaian tidur mereka. Gilbert memakai piyama milik Ludwig saat kecil sedangkan Ludwig memakai piyama kemeja biru muda miliknya. Selesai memakainya, Ludwig melihat Gilbert yang juga telah selesai memakai pakaiannya, entah kenapa terlihat sedikit kebesaran. Gilbert merangkak masuk ke ranjang sementara Ludwig berjalan mematikan lampu. Lampu dimatikan dan cahaya bulan kembali terlihat dari celah tirai jendela, memberikan sedikit penerangan terhadap ruangan gelap tersebut. Ludwig ikut masuk ke dalam ranjang, tidur bersama Gilbert di dalam selimut hangat.
"Apa kau ingat sesuatu sebelum kau berada di rumah Roderich? " tanya Ludwig memecah kesunyian.
"Tidak… Aku tidak ingat apapun sebelum aku berada di rumahnya…" jawab Gilbert. Sepertinya ia memang tidak memiliki ingatan sebelum di rumah Roderich, sama seperti Ludwig.
"Aku juga tidak ingat apapun sebelum aku bertemu dengan Bruder…" Ludwig menatap langit-langit kamarnya, pandangannya terpusat pada lampu yang tidak menyala sekarang.
"Bruder? " Gilbert menatap kosong Ludwig, bertanya-tanya siapa bruder yang Ludwig maksud.
"Bruder… Dia kakakku… " Ludwig melipat kedua tangannya di belakang bantalnya, memejamkan matanya sesaat.
"Kakak kandung? "
"Bukan… Dia yang menemukanku di sebuah areal peperangan, kondisiku terluka parah dan dia menyelamatkanku… Dia yang mengurusku sejak saat itu… "
"Dimana dia sekarang? " pertanyaan polos Gilbert sukses membuat Ludwig terdiam. Kakaknya, Bruder… dimana dia sekarang…
"Bruder… Dia menghilang beberapa tahun yang lalu… "
"Menghilang? "
"Dia seorang Nation, Nation tidak menghilang seperti layaknya manusia biasa… Nation yang menghilang berarti sudah bukan lagi Nation atau bisa dibilang bukan sebuah Negara lagi… "
"Bruder… juga seorang Nation? "
"Aku sama seperti dia, seorang Nation… Dan kau juga mungkin seorang Nation. " Ludwig tersenyum kepada adiknya, entah dia Nation atau hanya sebuah kota.
"Sepertinya aku bukan seorang Nation seperti Bruder atau kakak Bruder… Mungkin aku hanya manusia biasa… "
"Kau berbeda… Kau bukanlah manusia biasa… Jika kau bukanlah seorang Nation, mungkin kau adalah seorang city.. " Ludwig mengusap pelan rambut halus Gilbert.
"Mungkin…. "
"Sebaiknya kita tidur sekarang, Guten Nacht… " Ludwig mengecup kening Gilbert, menarik selimut untuk menghangatkan mereka. Gilbert tersenyum dan perlahan memejamkan matanya.
"Guten Nacht, Bruder…"
To Be Continue
Translate
Bruder :: Brother
Guten Nacht :: Good night
Note :: YAY !! akhirnya bisa bikin cerita yang panjang :D Gilbert jadi kelihatan OOC ya.. jadi pendiam begitu ==''
Rencananya, Gilbert adalah seorang City atau Kota. Bukan seorang Nation atau Negara seperti Ludwig. Gilbert adalah Berlin, ibukota Germany.
Kenapa saya milih Berlin? Berlin terdapat di bagian timur Germany, yang berarti bekas wilayah East Germany atau Prussia :D
Mohon maaf kalau chap 2 kurang memuaskan, mohon maaf juga kalau ada kesalahan kata. Kritik dan saran sangat diperlukan untuk membuat cerita yang baik / menjadi lebih baik.
Hope you'll like it
