An AnMitsu x Saniwa fanfiction
Disclaimer : I just own the plot and the OCs, Touken Ranbu belongs to DMM/Nitro+
Cover Image, OC Saniwa - Amagi, by aldrich-ruki
Part 2
In Yamato's Eyes
.
Ia masih mengingatnya dengan sangat jelas saat-saat terakhir yang ia lewati bersama tuannya. Saat hari demi hari tubuh pria itu perlahan terkikis oleh penyakit tak kasat mata. Ketika pria itu terisak frustasi dalam kesendiriannya. Kala pria itu menjemput kematiannya. Dan ia, hanya bisa diam dan menyaksikan semuanya.
Malam itu, ia menangis, terus memanggil nama tuannya, menumpahkan semua amarah pada diri yang tak berguna. Namun seberapa keras pun ia menggerung, pria itu takkan pernah kembali. Di ruangan berukuran 4 tatami itu, kini hanya ada dirinya seorang, sebuah pedang tak bertuan.
Karenanya, saat ia dibangkitkan dalam tubuh yang terbuat dari darah dan daging, ia bersumpah untuk menebus semuanya. Ia akan jadi kuat dan berguna, agar tidak akan ada lagi yang meninggalkannya dalam sendiri dan sepi. Tidak akan lagi...
.
"Namaku Yamatonokami Yasusada. Tidak mudah untuk ditangani, tapi aku pedang yang bagus", Yamato memperkenalkan dirinya di depan seorang gadis yang kini adalah saniwa-nya. Perban putih yang menutupi hampir separuh dari wajahnya terlihat begitu mencolok diantara surai kecoklatannya yang sederhana. Yamato menunggu beberapa saat, namun balasan atas salam perkenalannya tak juga datang. Gadis itu sama sekali tidak meninggalkan gemingnya. Hanya mata kanannya yang membulat besar dan tampak begitu terpesonalah yang menunjukkan ekspresi. ". . . Apa aku terlihat begitu aneh?", tanyanya.
Mendengar pertanyaan Yamato, gadis itu menggeleng pelan sebelum akhirnya menuliskan sesuatu pada buku gambar yang sedari tadi ada disampingnya. 'Selamat datang di honmaru, Yamato. Mulai sekarang, mohon bantuanmu ya'
Ia... bisu? Pikiran sang pemuda langsung tertepis ketika melihat senyum yang kini terangkai di wajah tuan barunya. Senyuman yang tampak begitu cerah dan hangat. Kali ini, Yamatolah yang terpesona. Tanpa sadar, ia pun ikut tersenyum, "Mohon bantuannya, Aruji"
Lembayung mulai memenuhi langit kala sang surya perlahan bergerak ke ufuk barat. Warna yang tercipta membaur serasi dengan suasana musim gugur. Membuat merah dan jingga menghiasi kemana pun mata memandang. Orang bilang, musim gugur adalah musim bersantai dan menikmati berbagai hidangan lezat yang tersaji, namun sepertinya hal itu tak berlaku pada kedua pedang yang pernah membawa Shinsengumi pada kejayaannya tersebut.
"Haa... Capeek... Panaas...", keluh Kashuu sekembalinya ia dan Yamato ke honmaru setelah hampir seharian bekerja di ladang.
"Iya iya...", sahut Yamato sekenanya. Keduanya baru saja akan menghadap sang Aruji ketika gadis yang mereka cari ternyata tengah menikmati waktu minum tehnya di ruang tengah.
Atau melahap camilannya, lebih tepatnya.
Di depan gadis berkulit pucat tersebut terdapat sepiring besar senbei, dango, dan beberapa jenis camilan tradisional lainnya yang kini hanya tersisa kurang dari setengahnya. Biasanya, Kasen dan Mitsutada akan melarang siapa pun makan camilan sebelum waktu makan malam. Tapi karena menurut kedua ahli gizi honmaru itu sang saniwa terlalu kurus hingga dapat dikatakan malnutrisi, ia diberi pengecualian khusus selama masih dapat menghabiskan makan malamnya.
Menyadari kedatangan kedua pedang Okita Souji tersebut, sang Aruji segera mengambil buku gambarnya. 'Selamat datang~', tulisnya riang. 'Aku baru saja mengeluarkan teh dingin dari kulkas, kalian mau?'
"Mau!", seru Kashuu sementara Yamato hanya bisa menghela napas melihat kelakuan partnernya. Mereka berdua pun segera duduk di samping sang saniwa sementara gadis itu menuangkan teh dingin untuk kedua pedangnya tersebut. "Segarnya!", Kashuu segera menghabiskan teh yang disajikan hanya dalam beberapa kali teguk.
Yamato baru meminum setengah dari tehnya ketika merasakan ada yang mengelus kepalanya. "Aruji benar-benar tidak pernah bosan mengelus kepalaku ya", ucapan pemuda beriris biru itu langsung disambut oleh tawa kecil tak bersuara milik sang gadis. Walau bicara begitu, namun Yamato sendiri tak pernah bosan dengan perhatian yang diberikan tuannya tersebut. Belaian sang Aruji terasa begitu lembut dan nyaman hingga membuatnya terbuai.
Belum setengah tahun lamanya Yamato berada di honmaru, namun keberadaan sang saniwa telah begitu meresap dalam dirinya. Gadis itu yang memberinya kesempatan kedua, yang memberinya arti serta tujuan keberadaannya. Begitu berharganya sosok gadis itu hingga bila suatu saat gadis itu juga menghilang, Yamato takut takkan ada lagi yang tersisa darinya.
Sang Aruji terus memberikan perhatiannya hingga ia kemudian menyadari sesuatu. 'Ikat rambutmu agak longgar, boleh kubenarkan?', tulisnya pada Yamato.
"Eh?", belum sempat pemuda itu berkata apa pun, sang Aruji telah bangkit dari duduknya dan berlutut di belakang Yamato. Mulai menyisir rambut sang pemuda dengan sisir kayu yang entah dikeluarkannya dari mana. Semburat merah segera mewarnai wajah Yamato ketika merasakan jemari sang Aruji mulai menyisir rambutnya. Dan setiap kali jemari itu bergerak membelainya, semakin terasa hangat pula wajahnya.
Yamato tak mengerti. Rasanya seperti ada sesuatu yang begitu hangat dan menggelitik merayapi seluruh tubuhnya hingga membuat jantungnya berdegup. Padahal sebelumnya, seberapa lama pun gadis itu membelai kepalanya, ia tak pernah merasa seperti ini. "A- Aruji, biar kurapikan sendiri saja", ujar Yamato yang sudah tak tahan lagi. Ia merasa benar-benar akan meledak bila dilanjutkan lebih lama lagi.
Kecewa tergambar di wajah sang gadis, namun akhirnya ia tetap menyerahkan sisir kayunya pada Yamato. Merasa lega, Yamato mulai menyisir rambutnya dan membenarkan ikatannya sementara sang Aruji mulai memberikan perhatiannya pada Kashuu.
Yamato baru saja akan mengembalikan sisir yang dipinjamnya ketika matanya menangkap deretan huruf yang terukir di atasnya. "Ama- gi?", ejanya perlahan. "Amagi? Apa itu nama Aruji?"
"Benar juga, kalau diingat-ingat kami sama sekali belum pernah mendengar nama Aruji. Saat ada pedang baru yang datang pun, Aruji hanya bilang selamat datang dan memperkenalkan diri sebagai "Aruji" tanpa menyebutkan nama", tambah Kashuu yang baru menyadari kenyataan tersebut.
'Amagi'
'Itu namaku'
'Kalau tidak salah', tulis sang saniwa perlahan.
"Kalau tidak salah? Aruji lupa dengan-", tercekat, Yamato tak dapat menyelesaikan ucapannya. Ingatan akan masa lalu segera berputar dalam kepalanya bak kaset rusak ketika melihat tatapan kosong sang saniwa yang tertuju pada sisir kayu di tangannya. Tatapan kosong yang sama seperti pria itu tunjukkan ketika dihadapkan pada kematian, ketika harapan tak lebih dari sekedar bualan. Dan saat itu pula, Yamato merasa bahwa ia telah mengatakan hal yang tak seharusnya ia ucapkan. ". . . Aruji?", panggilnya perlahan, namun hanya ada hening yang membalasnya.
'Aku mau kembali ke kamarku', tulis sang saniwa beberapa saat kemudian.'Panggil aku kalau sudah waktunya makan malam ya'. Sepintas, memang terlihat tidak ada yang aneh dengan kata-kata tersebut. Tulisan gadis itu juga tetap indah seperti biasanya, tapi bila melihat raut wajah yang ditampakkannya, siapa pun yang mengenalnya pasti akan langsung sadar bahwa ada sesuatu yang salah. Di wajahnya, tak ada senyum hangat yang terkembang atau pun bola mata yang berkilau penuh antusiasme. Hanya tatapan kosong dan dingin bagai boneka yang tak memiliki jiwa.
Yamato begitu ingin memanggilnya, menahannya. Tapi ketidaktahuan atas apa yang akan dilakukannya selanjutnya membuat lidahnya terasa begitu kelu. Hingga sosok mungil sang Aruji menghilang, ia tetap terpaku di tempatnya dan tak dapat berbuat apa pun.
Hening kemudian memenuhi udara. Baik Yamato maupun Kashuu sama sekali bergeming dengan cemas yang memenuhi pikiran mereka. Sunyi itu baru terpecahkan ketika terdengar suara langkah kaki yang perlahan mendekat.
"Ah, disini ada kalian rupanya", yang datang menampakkan diri adalah sulung dari para Awataguchi. Di belakangnya berdiri seorang pria paruh baya berpakaikan haori biru tua yang mereka tahu bernama Mikado, kannushi* yang membawa Aruji mereka menjadi seorang saniwa. "Apa kalian tahu dimana Aruji?", tanya Ichigo pada Yamato dan Kashuu yang masih menekuk wajah.
"Aruji baru saja kembali ke kamarnya", jawab Kashuu singkat.
"Kalau begitu, Mikado-sama, silakan anda menunggu di sini selama saya pergi memanggil Aruji", ujar Ichigo sopan. "Kashuu, tolong tuangkan teh untuk Mikado-sama ya", dengan sedikit enggan, Kashuu mengiyakan perintah Ichigo sebelum pemuda beriris coklat keemasan itu menghilang di balik pintu.
"Loh, sisir kayu itu kan...", ujar sang kannushi yang kini telah duduk bersama para uchigatana saat melihat benda itu berada di tangan Yamato. "Tumben sekali dia membiarkannya orang lain memegangnya"
"Mikado-sama tahu tentang sisir itu?", tanya Kashuu sambil menyajikan teh yang baru saja dituangnya.
"Hmm... Sejauh yang kutahu, benda itu semacam jimat baginya hingga selalu dibawanya kemanapun. Dia juga tidak membiarkan orang lain menyentuhnya. Bahkan aku pernah didorongnya sampai hampir terjungkal saat mau mengambilkan sisirnya yang terjatuh", Yamato seakan tak mempercayai cerita pria itu, pasalnya beberapa saat lalu sang Aruji menyerahkan sisir itu padanya dengan begitu ringannya. "Yah, baguslah kalau dia begitu mempercayai kalian sampai mau memberikan sisir itu" Kata-kata yang seharusnya merupakan pujian itu terasa seperti duri dalam daging bagi Yamato.
"Kalau begitu... nama yang terukir di sisir ini, "Amagi", benar nama Aruji?", tanya Yamato perlahan.
"Entahlah" Pria itu meminum tehnya lambat-lambat sebelum melanjutkan, "Gadis itu sendiri bilang tidak tahu saat kutanya apa benar itu namanya"
"Bukannya sebagai kannushi seharusnya anda tahu?", tuntut Kashuu yang mulai merasa geram. Yamato tahu, partnernya itu bukannya geram pada pria di depannya, tapi pada dirinya sendiri yang terus-menerus tak tahu apa-apa. Padahal yang kini tengah dibicarakan adalah saniwa-nya sendiri. Yamato tahu, karena ia juga merasakan hal yang sama.
"Sebagai kannushi, memang tugasku untuk mencari tahu seluk-beluk orang yang berpotensi menjadi saniwa. Tapi bila tidak ada satu pun yang dapat ditanyai mengenai latar belakang Aruji kalian, aku bisa berbuat apa?", ujar Mikado perlahan. "Yang kutahu tentang gadis itu hanya tentang kekuatannya yang jauh melebihi saniwa lainnya, juga penyebab luka di wajah serta kebisuannya"
"Maksud anda... Aruji bukannya bisu dari lahir, tapi karena ada penyebab lain? Sama seperti perban di wajahnya?", Yamato berusaha sekuat mungkin untuk menahan getar pada suaranya.
"Kalau tentang itu, sebaiknya kalian tanyakan langsung padanya. Bukan hakku untuk mengatakannya". Menegak habis tehnya, pria itu kembali menambahkan, "Satu pesanku, kalau gadis itu memang begitu berharga bagi kalian, perhatikan dia baik-baik kalau tak ingin kehilangannya. Karena bukan hanya kalian, yang dipenuhi oleh luka"
Kata-kata sang kannushi itu seakan menohok Yamato. Selama ini ia memang ingin tahu mengapa Aruji-nya menutupi wajahnya dengan perban, namun hal itu tak lebih dari sekedar rasa ingin tahu. Seperti halnya penutup mata yang selalu digunakan Mitsutada, karena benda tersebut telah sejak awal ia kenakan, maka wajar bila ia selalu memakainya. Tak ada lagi yang perlu dipertanyakan. Yamato lupa bahwa sebuah luka ditutupi, karena ada pedih yang tak ingin diketahui oleh orang lain.
***to be continue***
Note:
*Kannushi: pendeta shinto laki-laki
