I am Ugly
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
Hallo hai! Aku kembali *Senyum polos* Maaf banget lama Updatenya :' Aku itu lagi sibuk temenin Justin Bieber konser soalnya :' #Digeplak
Hehehe kidding kok :p Aku malas ngetik aja.. Gomen gomen Aku janji akan Update kilat di chap selanjutnya! *Catet*/?
.
Arigato untuk yang telah me-review cerita ini :'3 Aku seneng sekaligus terhura/?
Bagi kalian yang telah sudi mem-Fav atau mem-Follow Fic ini, Aku betul-betul berterima kasih-ttebayo :'
Eh, ngomong-ngomong, aku suka loh disebut nona bieber :'/digiles
.
~Happy reading Chapter 2 Minna~
.
.
"Namikaze!" Hardikku pada seorang pemuda bersurai blonde. Ia berbalik lalu memamerkan senyum lebar seperti biasanya.
.
"..Kalau kau kalah dalam tes berikutnya, Semua anak lelaki harus membersihkan kelas, ya!" Lanjutku sambil mengacungkan telunjuk kedepan hidung si bocah pirang.
.
Namikaze menjulurkan lidahnya. Ia berbalik pergi seraya berteriak "Heh! Aku tak akan kalah, Hyuuga!"
.
.
Tiga tahun lalu saat kelas 1 SMP, Aku dan Namikaze yang berperan jadi pemimpin anak-anak kelas, Suka sekali bersaing dalam hal apapun. Entah itu akademik maupun Nonakademik. Ia hebat dalam Nonakademik. Sedang aku hebat dalam bidang Akademik. Pertarungan kami selalu saja berakhir dengan seri. Cih!
.
.
Karena itulah aku tak pernah bisa mengatakan... Perasaanku yang sesungguhnya...
.
Aku -yang dulu- tidak menarik, selalu memakai kacamata, dengan rambut yang sedikit kusut tidak bisa menarik perhatiannya. Kadang aku menatap cermin. Pantulan diriku yang seperti ini benar-benar memalukan. Apa yang bisa dilakukan Itik buruk rupa untuk dapat perhatian sang pangeran?
.
Yang bisa kulakukan mungkin hanyalah belajar. Untuk melampauinya. Bersaing dengannya. Setidaknya aku selalu berpikiran dengan aku bersaing dengannya, mungkin ia bisa sedikit melirikku. Mengakui kehebatanku.
.
Dan Saat Valentine waktu itu..
.
Aku berlari dengan tergesa ke taman belakang sekolah. Nafasku sudah naik turun. Dimana dia? Ku edarkan pandanganku keseluruh sudut taman.
.
"Ah! Itu dia!" Pekik ku kecil tatkala Lavenderku menukan sosok Namikaze Naruto.
.
Wajahku memanas. Jemariku bergetar. Aduh.. Aku gugup sekali. Aku meremas pelan kotak coklat yang kini sedang kugenggam erat. 'Kalau kuberikan secara wajar, Mungkin akan terjadi sesuatu' Aku membatin. Munculah niat untuk mengurungkan rencanaku. Aku menggigit bibir bawahku lalu menggeleng pelan.
.
'..Walau dianggap lelucon juga tidak apa-apa!' Batinku menyemangati. Aku lalu mengangkat wajah. Lalu melangkah ke arah Namikaze.
.
.
"NARUTO-KUNN!" Suara teriakan itu memekakan telinga. Um.. Tentu itu bukan suaraku. Pekikkan itu berasal dari gerombolan anak perempuan yang kini menghampiri Namikaze.
.
"Naruto-kun~ Ini coklat untukmu.. Kumohon terimalah~"
.
Celaka! Aku terlambat!
.
Dan... "Eh? Untukku? Ahahaha.. Yang benar nih?" Tanya Namikaze balik dengan cengiran khasnya.
.
Oh..Tuhan.. Namikaze bodoh! Aku mengepalkan tangan kala irisku menatap pemandangan itu. Reflek, Aku membanting coklatku ke tanah.
.
Tidak usah jadi saja! Lagipula tas Namikaze sudah penuh dengan coklat. Aku melangkah mundur. Berniat meninggalkan tempat itu.
.
Lalu...
.
"Lho? Hyuuga, Kau menjatuhkan sesuatu.."
.
Glek!
.
Dengan terbata aku membalikan badan. Kulihat Sabaku no Garra memungut kotak coklat yang tadi kubuang.
.
A-ah! Gawat! Bisa heboh kalau begini jadinya. Aku masih terdiam ditempat dengan wajah yang memucat.
.
"Wow.." Gumam Sabaku no Garra setelah ia bisa menangkap dengan jelas apa isi dari kotak itu.
.
"Coklat! Itu coklat!" Teriak Suigetsu ikut-ikutan. Jeritan Suigetsu tentu saja 'mengundang' semua orang yang berada disini menatap kearahku dengan pandangan curiga ditambah seringai jahil. Begitupun Namikaze. Setelah mendengar suara Suigetsu yang menggelegar tadi otomatis ia langsung menatapku.
Wajahku kian memucat. Aku menunduk malu.
.
"Ooo?! Hyuuga!? Untuk siapa coklat itu?!" Tanya Karin sambil tertawa mengejek.
.
Aku menggigit bibir bawahku (lagi) seraya mengepalkan tanganku. "Untuk Si Dobe ya?" Tanya Uchiha Sasuke.
.
Blush~
.
Aku mengangkat wajah. Lalu menggeram kesal. Bisa-bisanya Uchiha dingin itu juga ikut memojokanku.
.
Wajahku sudah merah sepenuhnya. Campuran antara kesal dan malu. Sudah! Aku sudah panas sekarang!
.
"Bukan! Bukan! Bukan!" Jeritku. Semua orang langsung terdiam saat aku berteriak. Ah.. Tentu saja.. Ini kali pertama seorang Hyuuga Hinata berteriak.
.
"Kembalikan!" Aku mengambil coklat ditangan Sabaku dengan kasar. Lalu menatap Namikaze dengan garang.
.
"Ini barang setan! Bukankah kalian sudah tahu, Ada larangan membawa coklat ke sekolah!?" Pekikku sambil membenarkan letak kacamata yang kupakai. Yang lain tentu saja melonjak kaget. Mereka menatapku dengan pandangan tak percaya bercampur hebat dan mustahil.
.
.
Aku lalu berkacak pinggang. Lalu menunjuk tas Namikaze yang penuh dengan kotak coklat. "Kalau ketahuan pihak sekolah, Semua itu bisa dirampas!"
.
Aku lalu berbalik. Menuju tong sampah terdekat. Lalu dengan sukses melempar coklatku kedalamnya.
.
Aku kini menghadap kearah Namikaze. Matanya melebar. Ia terlihat kaget dengan tindakanku.
.
"Yah Hyuuga! Sayang sekali.. Jangan dibuang dong!" Keluh Suigetsu.
.
Kulihat Namikaze menghujaniku dengan pandangan yang menajam. Aku membuang muka. Mengalihkan pandanganku.
.
Namikaze melangkah kearahku. Ia menubruk bahuku. Aku meringis. Ugh.. Dia sengaja! Sialan..
Kulihat ia tengah mengobrak-abrik tong sampah tempatku membuang coklat tadi.
.
Aku menarik-narik syal yang ia gunakan dengan kasar. "H-Hentikan, Bodoh! Jangan mencari barang yang sudah dibuang dong!"
.
Namun ia tak mengindahkan panggilanku. Aku semakin panas. Apa-apaan si Namikaze pirang ini. Kembali kutarik syalnya, Namun kali ini lebih keras.
.
"Kau ini bodoh ya?! Hanya demi satu coklat saja sampai segininya! Hentikan! Hentikan!" Teriakku emosi. Wajahku pun kini sudah terbakar.
.
"Kubilang Hentikan! BODOH!" pekikku nyaring.
.
Perempatan muncul dipelipis Namikaze. Ia lalu berbalik menatapku gusar.
.
"Kau bilang aku ini bodoh? Kalau begitu, Kau itu apa?!" Ujar Namikaze dengan nada dingin.
.
"Jangan seenaknya saja...
.
.
...Jelek!"
.
.
"!"
.
Aku terus mematung ditengah salju. Akibatnya setelah itu aku demam tinggi. Dan sepuluh hari kemudian..
.
..Namikaze sudah tidak ada.
.
.
"Pindah sekolah?! Jangan bohong kau, Karin!" Seruku tak percaya.
.
Karin mengibaskan rambutnya pelan. "Benar kok! Katanya Tou-san Naruto dipindah tugaskan.. Naruto tidak pernah mengatakannya. Teman-teman yang lain juga kaget kok"
.
Aku -lagi-lagi- Hanya diam mematung. Mustahil. Padahal baru saja aku berniat minta maaf...
Bodoh! Namikaze, bodoh!
.
Kau licik sekali, Namikaze! Yang seenaknya itu justru kau! Dasar bodoh!
.
.
"Jadi waktu kelas 1 SMP, Kalian pernah sekelas ya?" Pertanyaan dari Kiba berhasil membuyarkan lamunanku soal masa lalu.
.
Naruto berpangku tangan sambil menatapku dengan senyuman yang bisa dibilang menyebalkan. "Sudah tiga tahun ya.. Aku sudah kembali kemari sejak masuk SMA loh.." Jelasnya.
.
Aku memilih untuk tidak merespon perkataannya dan lebih memilih menyamankan diri dibangku yang sedari tadi kududuki.
.
Oh.. Aku lupa memberitahu, semenit setelah pertemuan 'tak terdugaku' dengan Namikaze, Mereka -Kiba, Lee, dan Namikaze- menyeretku ke kedai ini. Jadilah aku disini, bersama pria-pria aneh ini.
.
"..Tapi pukulanmu lumayan hebat juga ya.. Sama sekali tidak berubah" Lanjut Namikaze. Aku hanya meliriknya lewat ekor mata. 'Aku sudah berubah bodoh! Kau taruh dimana matamu, hah? Tidak lihat aku sudah cantik sekarang?' Runtukku dalam hati.
.
Aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Tenang! Aku tak boleh gentar.
Aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dulu.
.
Aku tersenyum semanis mungkin. "A... Aku benar-benar terkejut. Hokage High school 'kan lumayan dekat dari Konoha high School, Sekolahku."
.
Lee mengangguk meng-iyakan. "Hehe.."
.
Aku lalu melirik Kiba dengan ekspresi yang di-imut-imutkan. "Lalu untuk apa kau mengambil video di tempat tadi?"
.
Kiba mengerling nakal. "Kami ini sedang membuat Film. Kau belum tahu ya? Aku ini seorang sutradara film" Aku menepuk jidatku. Bagaimana bisa aku melupakannya. Hokage high School 'kan sekolah paling tenar dengan kesuksesan pembuatan Film siswanya. Film yang mereka buat konon sudah dilihat hampir diseluruh pelosok Jepang.
.
Intinya, Jika kau mendapat peran didalam Film yang dibuat siswa Hokage high School, Kau pasti akan langsung terkenal seantero Jepang.
.
"Aku sendiri adalah Kameramen yang cukup ahli loh! Masa mudaku kuhabiskan dengan mengasah kemampuanku" Lee menyombongkan diri. Aku hanya membalasnya dengan senyuman canggung.
.
"Kita beruntung ya karena dia kenalannya Naruto, pembicaraannya jadi cepat deh" Ujar Kiba sambil tertawa.
.
"Hinata-chan pasti cocok" Lee menanggapi dengan semangat. Aku mengeryit heran. Apa maksudnya cocok?
Namikaze yang melihat kebingunganku lantas menjelaskan. "Sebenarnya sekarang ini kami sedang mencari tokoh utama wanita untuk karya kami selanjutnya."
.
.
Namikaze tersenyum penuh arti. "Bagaimana? Kau mau mencoba, Hinata?"
.
Sontak mataku bersinar. Senyum lebar terukir di wajahku. Efek Blink-Blik dimataku yang kuyakin membuatku tampak semakin imut.
.
"Ehh?! Kalian yakin?" "Tentu saja! Kau tidak usah malu, Hinata-chan! Kau cantik kok!" Kiba menyemangatiku. Oh.. Percayalah Kiba, Tanpa kau bilangpun aku sudah tahu kalau aku ini cantik. Hohoho
.
"T-Tapi" "Hinata-chan cantik kok! Kulitmu putih bersih, Matamu indah, sikapmu menawan, Hidung mu mancung, Rambutmu terlihat sangat halus, Bibir mu..-Ah- Apa yang kubicarakan sih?!"
.
Hohoho. Lanjutkan Kiba! Teruslah puji aku seperti itu. "Pokoknya kau itu yang paling cantik, Sempurna, indah, Hot dan.." "Sudahlah Kiba" Suara Namikaze mengintrupeksi kesenanganku. Ku beri dia Deathglare andalanku. Dan dia malah terkekeh. Aku semakin mengerucutkan bibirku kesal. Ia sepertinya tahu aku suka dipuji dan di agung-agungkan, Maka dari itu ia mengacaukannya.
.
Aku buru-buru menjaga imejku lagi. Aku menaruh kedua telapak tanganku dibawah bibir. Mencoba bersikap se-imut mungkin.
.
"Tapi kalau tiba-tiba seperti ini..." "Memang mustahil ya" Namikaze kembali memotong perkataanku. Ku hadiahi dia dengan deathglare -lagi-.
.
Namikaze mengambil sesuatu didalam tasnya. Ah.. Ia mengambil kamera? Tunggu.. Itu 'kan kamera yang mereka gunakan untuk merekamku.
.
Ia tersenyum lebar sekilas. Dan mengulurkan tangannya. "Lihat rekaman ini, Hinata!" Seru Namikaze sambil menyeringai.
.
Aku mengernyitkan alis. Video itu..
.
Video yang menampilkan dimana aku sedang menghajar murid Akatsuki high School. Tampangku benar-benar -bukan-Hyuuga-sekali. Imej ku bisa hancur seketika kalau anak lelaki disekolahku tahu sikap Tsundereku.
.
Namikaze tersenyum mengejek. "Karakter tokohnya agak berbeda sih... Ahahaha, Sifatmu juga sama sekali tak berubah dengan tiga tahun lalu."
.
Aku membatu. Orang ini.. Apa-apaan sih!?
.
"Ayo pergi, Kiba! Lee!" "Eh? Tunggu, Naruto"
.
Aku mengertakan gigi. Wajahku memerah. Orang itu Tiba-tiba muncul, lalu berkata seenaknya. Dia kira dia siapa?!
.
Brak
.
.
Aku menggebrak meja. Alhasil semua orang yang ada di Kedai ini menatapku.
.
.
"TUNGGU SEBENTAR, NAMIKAZEE!" Teriakku.
.
Ia berbalik. Menatapku heran. Lee sepertinya tengah merekamku -lagi-, Tapi siapa peduli? Pikiranku sekarang hanya tertuju pada si Namikaze sialan.
.
"Kau pikir kau itu siapa? Seenaknya men-judge ku tidak cocok untuk peran utama wanita. Kau memangnya berperan penting apa dalam kelompok ini, hah?!"
.
Ia tersenyum. Lalu melipat kedua tangannya didepan dada. "Kau mau tahu? Baiklah. Peranku di pembuatan film ini adalah sebagai karakter utama pria!" Jawabnya santai.
.
Aku mengepalkan tangan. Lalu mengangkat wajahku. Sudah kuputuskan!
.
"Lee! Kiba-kun! Aku menerima tawaran kalian untuk jadi pemeran utama wanita!" kataku lantang.
.
Namikaze menatapku. Aku mengalihkan pandangan. Cih! Ia lalu tersenyum lebar.
.
.
Aku meremas lengan jaketku. Biarlah. Setidaknya dengan begini aku bisa bersamanya. Akan kubuktikan aku sudah berubah! Aku bukanlah Hyuuga Hinata yang dulu.
.
"Hinata-chan! Arigatoo!" Kiba dan Lee bersamaan memelukku. Aku balas memeluk mereka berdua. Namun pandanganku masih saja terkunci pada si Namikaze. Aku menatapnya tajam. Dia balas menatapku.
.
.
Aku berusaha mati-matian selama tiga tahun agar bisa berubah...
.
Aku berubah jadi cantik dan punya percaya diri.
.
Aku sudah bersumpah tidak mau mendapat cinta menyedihkan itu lagi...
.
.
TAPI!
.
TAPI!
.
TAPI!
.
.
"Hinata-chan menarik juga ya!? Aku jadi naksir nih! Hahaha"
.
.
"Ckckck.. Kiba-kun telat banget sadarnya. Cewek cantik seperti Hinata-chan bagaikan lukisan, Walau sedang marah pun tetap cantik! Naruto-kun seharusnya kau bilang kalau punya kenalan seperti Hinata-chan! Hahaha"
.
"..."
.
.
.
...Aku harus menyelesaikan masalahku dengan Namikaze!
.
.
Penderitaanku pada hari itu belum hilang!
.
Kalau aku yang sekarang, pasti bisa membuat Namikaze jera!
.
..Setelah berhasil mendapatkannya, Aku bisa bebas merebus dan membakar Namikaze!
.
.
.
~TBC~
.
A/N : Yap! Segitu dulu '-')b Apa banyak Typo nya? Nanggung kah? Nanti deh liat chapter selanjutnya! Maaf kalau seandainya terlalu singkat -_- Aduh.. Janji deh di Chapter depan di perbanyak ( ^w^)
Ano.. Soal menghilangkan 'Titik-titik' di atas, Kayanya aku nggak akan bisa hilangin deh ;;w;; Cuma kayanya aku kurangin aja =.= Gomen *sembah*(?).
Untuk yang bertanya cerita ini mirip atau nggak sama komiknya, Umm.. nggak akan mirip kok ^^)b Cuma diambil garis besarnya saja :3 Lagipula ingatan aku udah samar-samar banget tentang komik itu :(
Big Thank's to :
Hideki Ryuga46,Uzumaki Nawawi, Blue-Temple Of The King, uzumakimahendra4,
, Ikanatsu, , Bunshin Anugrah ET,
JihanFitrina-chan, lavender sapphires chan, Darknarto, Guest1, Guest2,
meong chan, namy dacosta, 16, oliv, guest3, Durara, rin, Misti Chan, NH is Love, Rui Nyan, scorpion, Monalisha Avrilyanti
Aku kasih spoiler(?) Next Chapter deh :
.
"Bertemu denganmu disini, pasti karena takdir!"
.
"Wow! Hinata-chan pakai baju bebas juga manis".
"Aku... Kekasihmu, Hinata"
.
Wajahku merona 'Namikaze pacarku!?"
.
"Hinata sudah punya pacar ya!?"
.
Stop -..-)/ Cukup sampai disana! :3 Yosh! Yosh! Aku janji akan update kilat di chapter depan ( w) Tunggu hari Minggu ya?! ( Apa hari minggu terlalu lama? ;;w;; )
Oke, Akhir kata,
Mind to Review?
