Disclaimer : Harry Potter © J.K Rowling

Consort Of 'Dark Lord' © Back-Total yaoi addict

Rate : T to M.

Genre: Drama, Family.

Pairing : TMRHP.

Spoiler Warning : Semi-Canon, SLASH, MPREG, OOC, OC, Lemon non eksplisit, Rape, Don't like Don't read! Dalam fic ini semua Submissive mempunyai potensi untuk memiliki anak. Nyampur bahasa inggris yang rada berantakan.

A/N : Chapter ini sudah di check & edited, artinya ada perubahan kata-kata tapi tidak merubah plot.

Please Enjoy It!

.

.

Consort Of 'Dark Lord'

.

"Italic&Bolt" = Parseltongue

.

Chapter 2!

Tepat setelah kepergian Hobbit, Harry mendengar derit pintu 'Secret Chamber'. Tak lama masuklah Tom dan seorang pemuda berumur 15 tahun yang begitu mirip dengan Harry semasa dia remaja dulu bedanya pemuda itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Harry. Pemuda itu juga lebih menjurus ke tampan & gagah dibandingkan dengan Harry yang mempunyai postur tubuh agak feminim.

"Hello, Dad!" sapa pemuda yang baru saja masuk.

"Hey, Seb! Kenapa kau sudah pulang, son? Bagaimana kabarmu? Apa terjadi sesuatu di Dumstrang?" kata Harry sambil memeluk dan mengecup sayang kedua pipi pemuda dihadapannya. Tidak lupa membanjirinya dengan segudang pertanyaan. Ia terkejut dengan kedatangan anak sulungnya. Tidak biasanya putranya pulang sebegini cepat. Biasanya dia pulang seminggu lebih lama dari kepulangan Isabell.

Sebastian Tom Riddle adalah putra pertama Tom dan Harry yang berusia 15 tahun. Karena alasan tertentu Tom memasukkannya di Dumstrang, Bulgaria. Alasan lain juga karena di Dumstrang merupakan sekolah sihir yang berpedoman pada sihir gelap dan berdiri dibawah pengawasan 'Dark Lord'.

"Father yang menjemputku, Dad. Berhubung tidak ada yang berani membantah Father, jadi aku diperbolehkan untuk pulang dan semua baik-baik saja. Tapi, ada satu kabar buruk. Ummp, lagi-lagi aku memegang nilai Outstanding untuk semua pelajaran," ujarnya sedih. Wajahnya seolah-olah menggambarkan outstanding itu adalah hal yang sangat buruk.

Manik emerald Harry melebar, "Are you sure? Anakku kau luar biasa, aku bangga padamu!" Harry berkata dan menghambur kedalam pelukan putranya. Sementara putra pertamanya itu hanya terkekeh bahagia.

"Absolutely. Semua keturunanku sudah sepantasnya membanggakan seperti itu," kata Tom tiba-tiba masuk dalam pembicaraan Harry dan putranya.

Harry menaikan sebelah alisnya, "Keturunanku juga, Tom."

"Yes, My Love," jawab Tom kemudian sebelum memeluk Harry dengan erat dan mencium keningnya.

Bagi Tom berpisah dengan Harry selama seminggu saja sudah seperti tidak bertemu denganya selama berabad-abad. Lantas Tom menarik tangan Harry kearah ruang makan yang tertutup oleh kelambu-kelambu sutra untuk melanjutkan sesi yang tertunda. Yeah, apalagi kalau bukan passionate kiss dibibir.

Sebastian memutar bola matanya. Tidak bisakah Father & Dad nya itu menunggu sampai nanti malam? Sepertinya tidak bisa!

Membayangkan sesi yang.. Ugh, mulai menjurus ke hal vulgar. Melihat kedua orang tuamu bermesraan itu terkadang sangat memalukan.

Lantas Sebastian memilih berjalan ke arah sofa-sofa dekat perapian untuk menyambut adik-adiknya yang lain.

Christ dan Abby baru saja ingin berdiri untuk mengerubungi Tom begitu melihat kedatangan ayahnya tadi. "Father, aku mau 'New Fire Bolt 4' milikku!" teriak mereka dari jauh.

"Hey, para trouble maker! Kenapa kalian tidak menyapaku lebih dulu?" kata Sebastian tiba-tiba menarik kerah kemeja kedua adiknya.

"Ugh, Lepaskan Seb!"

"Oww, sejak kapan kau bisa parselmouth, Christ?! Memalukan, kau baru bisa menggunakanya ketika berumur 7 tahun."

"Shut Up, Seb!" teriak Christ kesal. Kakaknya yang satu ini memang bukan sangat menyebalkan.

Sebastian mengangkat sudut bibirnya, "Sudah mulai besar kepala, Christ? Mulai tidak sopan pada kakak mu ini."

"Seb, tolong lepaskan aku," Abby memohon.

Sebastian memandang Abby sebelum mengangkat kedua bahunya tidak peduli,"Try that, little brother!"

"DAA-"

Abigael hendak berteriak, namun sebelum kata-kata tersebut selesai Sebastian dengan cepat menggumamkan mantra dalam bahasa parseltongue,"Silentio".

Sekejab teriakan yang hendak dikeluarkan Abby redam begitu saja. Meninggalkan senyum kepuasan di bibir Sebastian karena berhasil membuat kesal kedua adik kembarnya.

"Aku hanya bercanda brother!", Sebastian melepas genggamanya pada kedua adiknya. Dan Christ maupun Abby pun mencoba bersabar dengan kejahilan kakaknya.

Disaat Christ dan Abby ingin berjalan untuk menemui Ayah mereka tiba-tiba..

"Locomotor Mortis," kedua kaki Christ & Abby tiba-tiba terasa terikat oleh sesuatu yang kasat mata tepat setelah mantra yang diberikan oleh kakak mereka, berakibat mereka berdua terjatuh membentur karpet.

Lain Christ & Abby, maka lain pula Sebastian. Kalau Christ & Abby tipe pembuat onar maka Sebastian adalah tipe biang kerok.

Isabell memutar bola matanya melihat Sebastian lepas kendali mengerjai Christ & Abby. Dia memilih cuek. Atau lebih tepatnya tidak mau ikut campur dengan perkara tersebut. Melihat lokasi kejadian dimana keributan yang dilakukan Sebastian memasuki titik rawan, alias terlalu dekat dengan lokasi 'bidadari kecil yang tertidur' diatas permadani berbulu super lembut. Tersenggol sedikit saja maka 'bidadari kecil' itu akan terbangun dari tidurnya dan menangis sejadi-jadinya. Dan kalau 'bidadari kecil' itu menangis sejadi-jadainya, maka bersiaplah si biang onar itu menerima pembalasan dari si empunya.

Pernah sekali ketika Nagini tidak sengaja sedikit menyenggol 'bidadari yang sedang tertidur' (perhatian, hanya sedikit). Sungguh naas nasib Nagini, dia langsung dikerangkeng selama 2 hari dikandang ular. Lalu dikejadian lain disaat Nagini sekali lagi menyenggol 'bidadari kecil yang tertidur' ketika melewati permadani dan mengakibatkan rengekan merdu menggelegar dari bibir mungil 'bidadari kecil' tersebut. Taukah apa yang terjadi dengan ular bernama Nagini? Oh Noo.. Jangan ingatkan itu lagi. Kasihan mengingat apa yang dilakukan Dad nya kepada Nagini sampai-sampai ular itu tidak nafsu makan selama 2 hari. Itu sangat horror.

Terkadang Dad nya yang lembut itu bisa jadi 'tega' jika menyangkut tentang anak-anaknya, terutama si buntut. Fathernya saja hanya bisa menutup mata melihat Nagini ular kesayangannya diperlakukan seperti itu. Yah mau bagaimana lagi, disaat Dad nya sedang mengandung maka dialah pusat dunia. Begitu kata ayahnya, Tom.

Isabell menutup buku 'Dark Art' miliknya dan pada akhirnya memilih menegur kakaknya sebelum malapetaka datang.

"Berhenti menjahili mereka, Seb. 5 detik lagi kalian tetap begitu aku yakin Rossina akan terbangun," mata Emerald Isabell memandang bola mata merah Sebastian yang menurun dari ayah mereka, Tom.

Sebastian bergumam dalam hati sebelum akhirnya berkata , "Oke sist, just kidding. I swear, ini hanya salam, tidak serius."

Isabell sempat melirik kearah Sebastian yang duduk di kursi tunggal sambil membaca majalah sihir edisi Quidditch Champion. 'Ugh.. Tidak bertanggung jawab. Seenaknya saja lepas tangan', batin Isabell.

Kemudian Isabell beralih kearah Christ & Abby yang sejak tadi meronta-ronta tidak jelas.

"Christ.. Abby.. Inggat, Dad tidak suka melihat siapapun mengganggu Rossiy?" Isabell kembali menanyakan hal yang sama.

Akibat mantra peredam yang dilontarkan kakaknya tadi, lantas Christ & Abby hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya.

"Karena itu diamlah dan jangan membuat keributan apapun setelah aku melapaskan kalian, mengerti?" Isabell berkata dengan senyum kecilya. Sejahil apapun Christ dan Abby, mereka berdua tetaplah adiknya. Ia sebagai anak perempuan tertua senantiasa menjaga adik-adiknya. Ia sangat menyayangi keluarganya, karena itu terkadang ia bisa juga jengkel kepada Sebastian yang selalu menggoda adik mereka.

"Finite Incabtatum," Isabell berkata, sedetik kemudian mantra-mantra yang sebelumnya dilontarkan Sebastian terlepas.

Mata Christ & Abby terlihat berkobar. Bukan si kembar Riddel namanya kalau diam saja setelah diperlakukan semena-mena. Mereka berdua terlihat geram dan sama-sama ingin merapalkan mantra. Sementara Sebastian tersenyum tipis, tentu saja bukan karena dia pasrah untuk menerima kutukan dari kedua adiknya, melainkan karena dia siap untuk merapalkan mantra pembalik kepada kedua adik kembarnya itu.

"Seb, berhenti mempermainkan kedua adikmu," Tom tiba-tiba datang dan memberi perintah kepada putra sulungnya itu.

"Rogger," tangan kanan Sebastian membentuk gestur hormat kemudian kemali membaca. Ia terliahat terlalu cuek padahal sudah memjahili orang lain.

"Father, Seb keterlaluan," Abby mengadu kepada ayahnya dengan bibir yang tertekuk kebawah. Sementara Christ tetap menatap sangar kearah Sebastian. Rasanya Christ ingin menelan bulat-bulat kakak laki-lakinya.

Harry menggelengkan kepala tidak percaya, mau sampai kapan pertengkaran sepele seperti ini terus berlanjut. "Okey, semuanya jangan membuat keributan lagi. Segera pergi ke meja makan dan manjakanlah cacing-cacing yang ada di perut kalian," Harry berkata.

Tak menunggu lama Sebastian dan Isabell segera menuju ke meja yang sudah dipenuhi oleh berbagai macam makanan yang sangat lezat. Dibelakang mereka berdua Christ & Abby mengikuti lengkap dengan sumpah serapah yang ditujukan masih untuk Sebastian.

"Come on, Tom," ajak Harry kepada suaminya.

"How about my little princess, Love?" Tom berjalan kearah putri kecilnya yang sedang tertidur lelap kemudian mengecup keningnya lembut.

"Biarkan dia meneruskan tidurnya. Chris & Abby membuatnya kelelahan sore tadi."

"Baiklah," Tom memandang wajah putri kecilnya sesaat sebelum mengecup lagi keningnya.

Makan malam pun berlangsung dengan khidmat dan menyenangkan sebelum sebuah pertengkaran kecil kembali melanda dan membuat kekhidmatan juga kesenangan itu tergantikan oleh pertengkaran dan saling melempar sepotong roti sosis, sepotong sandwich tuna, dan sepotong daging panggang saus madu kemudian disusul dengan teriakan Tom dan diakhiri oleh rapalan mantra Rippero dari Harry.

Sungguh makan malam yang ramai dan.. Emm, merepotkan.


"9.50 PM. Okey, ini sudah lewat 20 menit dari waktu yang dikatakan Tom tadi," kata Harry pada dirinya sendiri.

Saat ini Harry sedang menunggu Tom di kamar pribadi mereka. Yeah, menunggu dikamar yang memiliki ukuran paling besar di 'Secret Chamber' atau bisa dibilang Master Room, sendirian.

Kenapa sendirian? Lantas dimanaTom? Jangan ditanya, saat ini Tom sedang berkeliling ke kamar anak-anaknya sekaligus memastikan anak-anaknya itu-terutama si kembar-tertidur dengan lelap. Ehem-ehem.. Yeah, taulah alasannya.. Tom tidak mau 'ronde malamnya' bersama Harry ditengah jalan terganggu oleh anak mereka-terutama si kembar yang merengek terus meminta 'New Fire Bolt 4' miliknya.

Merasa jenuh Harry memutuskan untuk memejamkan matanya sebentar sebelum Tom kembali ke kamar mereka, tapi tidak bermaksud untuk tidur. Namun kondisi kehamilanya yang masuk bulan kelima membuatnya lebih cepat lelah menjalani kegitanya setiap hari (apalagi 50% kegiatannya adalah mengomeli dan menceramahi kedua putra kembarnya yang semakin hari semakin parah kelakuannya).

Tak bisa menghindari rasa lelah yang kini telah menggandeng rasa kantuk, Harry pun akhirnya terlelap dalam tidurnya. Tidur yang membawanya pada mimpi yang memperlihatkan kejadian paling 15 tahun lalu.


~15 Years Ago~

Harry merasa kaget sekaligus takut ketika terbangun dia sudah berada diatas ranjang, entah dimana. Harry ingat kejadian semalam di pemakaman ketika turnamen Triwizard.

Vorldemort telah bangkit..

Dan Membawanya pergi..

Harry beranjak dari ranjang dan bergegas mencari pintu keluar dari ruangan itu. Tapi, seseorang tiba-tiba muncul dari sudut ruangan yang gelap dan mencekal lenganya.

Mata Harry terbelalak melihat wajah orang yang mencekal tanganya, wajah ular itu, Voldemort.

"Lepaskan aku!" Harry berteriak dan mencoba melepaskan cengkraman kuat ditanganya. Kalau saja Harry memegang tongkat Holy nya, mungkin saja ia bisa lolos.

Akan tetapi alih-alih melepaskan tangan Harry, Voldemort justru menariknya lagi ke atas ranjang dan menindihnya diantara kedua paha Harry.

"Shut up, little boy."

Voldemort mendesis pada Harry. Satu tanganya mencengkram kedua telapak tangan Harry diatas kepala. Sedangkan tanganya yang bebas menjelajah dada Harry sedikit kasar kemudian meraba bagian selangkangan Harry.

"AHH! Ap-Apa yang kau lakukan!"

Harry terkesiap merasakan sentuhan tangan Voldemort yang meraup sesuatu di selangkanganya. Saat itu barulah Harry tersadar bahwa dibalik piama handuk yang dikenakannya, dia tidak memakai apapun lagi.

"Lebih baik tidak melawan, little boy. Sebelum aku bermain kasar," ancam Voldemort ketika Harry berontak.

Detik kemudian mata Harry terbelalak merasakan sesuatu yang besar dan hangat dengan paksa memasuki bagian bawah tubuhnya.

"Ah, sakit! Hentikaaan!" Harry berteriak dan tanpa sadar air matanya mengalir deras dari pelupuk mata. Yang ia rasakan adalah rasa sakit yang luar biasa, tubuhnya seakan terkoyak.

Sampai pada titik tubuhnya tak mampu bertahan, ia hilang kesadaran.


Esok paginya Harry terbangung akibat merasakan pergerakan di ranjang tempatnya tertidur. Seketika tubuh Harry bergetar hebat. Dia trauma.

"Ti-tidak.. T-tolong.. Jangan sentuh aku.. Kumohon," Isak Harry diselingi gumaman yang berulang-ulang. Dia meringkuk sambil memeluk tubuh kecilnya. Udara yang menyapu tubuh polosnya membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Dia takut. Sangat takut. Takut kejadian semalam terulang lagi.

Bagian bawah tubuhnya masih terasa nyeri akibat kejadian semalam. Harry merasa kotor. Harry merasa jijik dengan tubuhnya sendiri. Bagaimana bisa hal ini terjadi padanya. Mengapa musuh besarnya itu tidak membunuhnya saja? Mengapa harus melakukan hal itu? Mengapa?

Tidak ada yang bisa Harry lakukan. Dia tidak bisa melawan. Dia hanya bisa menangis.

"Ssst, Tenaglah Harry. Aku tidak akan menyakitimu," kata seseorang entah siapa.

Harry merasakan sesuatu yang hangat menutupi tubuh polosnya. "K-kau Ss-siapa?" tanpa kaca mata nya Harry tidak dapat melihat siapa gerangan orang tersebut.

Sepasang tangan membelai wajah Harry dengan lembut dan entah mengapa sentuhan itu membuat Harry merasa nyaman.

"Ini aku, Tom."

...

~TO BE CONTINUE~

...

A/N: Ummp.. Lagi-lagi dikit ya...? Emang dikit.. Hahahaa#PLAKK.. Sebelumnya terima kasih banyak buat pembaca baik yg mereview, mengefav, atau sekedar menikmati(?) Maff gak bisa balas review satu-satu. Maff..

Dan buat pertanyaan yang hampir seluruhnya menanyakan mengenai 'WELEHH.. KOK ANAKNYE HARRY SEGUDANG(?)'.. Bhuakakakkk.. Aku juga syog beradd.. Tapi, sebenarnya ada maksud terselubung dari hal itu.. Coba aku kasih clue.. 6 + 1 Harry = 7.. Paham gak? Yeah, semoga para reader paham bahwa jumlah 7 itu adalah sesuatu yang berharga bagi TOM. Mungkin itu akan berpengaruh besar pada perang yang mungkin terjadi. Yahh, mungkin.. ^_^

Dan untuk yang bertanya wajah Tom di fic ini seperti apa, yahh.. Sudah liat diatas siapa yang ngeRape Harry duluan? TINGTONG, itu si Tom tanpa hidung. Dan orang yang baik sama Harry di scene terakhir adalah Tom dengan muka yang sudah tampan. Masih bingung kok ada Voldy & Tom dalam waktu bersamaan? Tenang chap depan masih flash back.. Titik gelap pun semakin terang!#Halah gaya bgt.. ^_^

Thanks For Reading

Please,

R

E

V

I

E

W

^_^ THANKS A LOT ^_^