Disclaimer
KnB chara is belong to Fujimaki Tadatoshi
Harry Potter setting is belong to J.K Rowling

Rate K+ or T (I can't decide :P)


Para senior bilang tahun kelima adalah tahun yang mengerikan.

Tahun kelima adalah tahun di mana O.W.L diadakan di akhir tahun ajaran. O.W.L atau kepanjangan dari Ordinary Wizarding Level merupakan ujian penentuan kelulusan seorang penyihir dari Hogwarts untuk bisa melanjutkan ke tingkat N.E.W.T. Nilai-nilai O.W.L juga sangat dipertimbangkan untuk bisa diterima di dunia kerja. Katanya juga akan ada konsultasi karir dengan Kepala Asrama masing-masing untuk menyesuaikan pelajaran-pelajaran yang ingin dilanjutkan ke N.E.W.T dengan pekerjaan yang ingin dilakoninya kelak.

Namun Haizaki hanya setengah peduli. Sempat ketar-ketir di awal lantaran mendengar para senior yang seolah menakut-nakuti, tetapi nyatanya Haizaki masih bisa membolos di pelajaran-pelajaran tertentu. Ia bukannya tidak peduli jika nanti tidak lulus–lagipula siapa juga yang mau bertahan di sini lebih lama demi mengulang ketertinggalan. Haizaki hanya percaya diri bahwa ia bisa lulus dengan nilai lumayan dan melanjutkan ke tahap N.E.W.T.

Oh, dia tidak sebodoh duo Gryffindor merah-biru itu, asal tahu saja.

Haizaki hanya tidak bisa–tidak boleh–bolos di pelajaran-pelajaran berganda, seperti Transfigurasi, Mantra, Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, Herbologi, dan Ramuan. Well, dengan jalur karir yang dipilihnya, ia tak perlu belajar dengan terlalu bersungguh-sungguh. Ia hanya cukup fokus pada pelajaran-pelajaran berganda tersebut.

Maka dari itu, ia tak bisa menghindar ketika Profesor McGonagall–yang telah disetujui oleh guru mata pelajaran lain untuk diterapkan di kelas mereka–meminta anak-anak didiknya menukar posisi duduk mereka sehingga tidak ada dua anak seasrama yang berada dalam satu bangku untuk mewujudkan terciptanya persatuan antar-asrama.

Cih.

Tak masalah kalau ia duduk dengan gadis cantik seperti Momoi Satsuki. Ia malah mendapat seorang cowok berambut coklat jamur dengan hobi aneh–meminta maaf pada setiap kejadian yang terjadi di sekitarnya.

Sakurai Ryō; Hufflepuff, darah-campuran, diketahui sebagai Seeker dalam tim Quidditch Hufflepuff.

"Selamat pagi, Ha-Haizaki-san," katanya saat Haizaki baru tiba di kelas Ramuan, di ruang bawah tanah kastil Hogwarts.

Anak-anak kelas lima lainnya tampak sudah berkumpul di tempat ini. Kebiasaan Haizaki yang selalu datang paling akhir. Mereka berdua duduk di kursi keempat di baris keempat–yeah, di belakang, Haizaki yang memilihnya dan Sakurai tidak sanggup membantah. Kemudian seisi ruangan segera senyap ketika perut besar Profesor Slughorn muncul terlebih dahulu dari celah pintu kelas. Senyumnya sumringah, sepertinya habis mendapat banyak hadiah bagus dari mantan murid istimewanya.

"Selamat pagi, anak-anak! Hari yang cerah, bukan?"

Haizaki hanya mengeluarkan buku Ramuannya tanpa ikut serta menanggapi sapaan ceria guru sekaligus Kepala Asrama-nya. Kemudian kelas dimulai dengan melanjutkan pembahasan tentang sifat dan kegunaan batu bulan dalam pembuatan ramuan sihir. Slughorn menyuruh mereka membuat ramuan-ramuan yang di dalamnya terdapat batu bulan sebagai salah satu bahannya.

Setiap bangku adalah satu kelompok, Slughorn menggunakan metode undian untuk menentukan ramuan yang mereka buat. Guru Ramuan itu menyentakkan tongkat sihirnya ke udara, keluar percikan-percikan bunga api kekuningan yang perlahan berubah menjadi gulungan-gulungan kecil yang berputar-putar di udara, lalu Slughorn menyentak tongkatnya lagi dan gulungan-gulungan itu melayang ke meja-meja mereka.

"Silakan buka dan buat ramuan yang kalian dapatkan dalam waktu sembilan puluh menit. Selamat bekerja!"

Haizaki menoleh ke cowok jamur di sisi kanannya, "Kita da–(Sakurai langsung kaget)–pat apa?"

Ia menjawab dengan gemetar, "Ra-Ramuan Ketenangan, Haizaki-san. Su-summimasen!"

Mata Haizaki memicing sesaat mendengar kata maaf itu untuk kesekian-kalinya sejak mereka duduk bersama di awal tahun ajaran. Bila saja kata maaf itu diucapkan di saat yang tepat dengan cara yang Haizaki sukai, tetapi Haizaki hanya menghela napas yang membuat Sakurai semakin merasa bersalah dan hampir saja memulai summimasen-summimasennya yang lain sebelum Haizaki menyuruhnya berhenti dengan agak kejam.

"Daripada minta maaf terus, lebih baik kau siapkan bahan-bahan awal. Biar aku yang membacakan instruksinya, kau yang memasaknya," kata Haizaki. Salah satu keuntungan tersendiri duduk dengan Sakurai adalah ia bisa berbuat sesuka hatinya.

"Ha-hai'!"

Waktu telah bergulir dengan cepat, semakin sulit dan memusingkan pula tahap lanjut dari pembuatan Ramuan Ketenangan. Haizaki harus berulangkali membaca paragraf yang sama agar tak ada satupun langkah yang terlewat.

"Pertama tiga kali searah jarum jam, baru setelahnya berlawanan jarum jam. Awas searah jarum jam dulu!"

"Ha-hai'! Su-summimasen ..."

"Oi, aduk yang benar, Ryō!"

Haizaki tidak tahu pasti, namun gerakan mengaduk Sakurai dengan tangan bergetar hebat nampaknya membuat Ramuan Ketenangan-nya menjadi tidak sempurna. Seharusnya setelah sirup hellebore ditambahkan keluar uap tipis perak dari kuali mereka, tetapi malah uap hijau lumpur. Haizaki mengibaskan tangannya berkali-kali untuk menghalau uap itu masuk ke saluran pernapasannya. Sakurai terbatuk-batuk dan luar biasa berkeringat.

Meja mereka tak lebih kacau dari meja murid lain.

"Sini, biar aku saja!" seru Haizaki mengambil alih pengaduk dan mulai memperbaiki langkah-langkah yang bisa ia perbaiki. Sakurai di sampingnya hanya terus menerus minta maaf sambil membungkuk berkali-kali, tapi Haizaki tak mau peduli. "Tidak, tidak, seharusnya tambahkan ..." Haizaki membuka lembaran-lembaran buku dengan kecepatan yang menakjubkan, "... kalau bisa–ah, tidak!"

Haizaki akhirnya hanya bisa melanjutkan pengadukan dengan benar, setengah berharap ramuannya dapat sedikit membaik. Selesai mengaduk, kini bukan uap hijau lumpur lagi yang keluar, melainkan uap ungu yang berarti tinggal menambahkan bahan akhir dan ramuannya telah selesai–meskipun tidak sempurna. Kebetulan Slughorn kini menghampiri mejanya.

"Ramuan Ketenangan?" Haizaki dan Sakurai mengangguk. "Hmm, seharusnya uap perak 'kan?" Slughorn nampak berpikir sejenak, "Ini pasti karena pengadukan yang salah, benar?"

"Maafkan aku! Se-semuanya salahku! Kumohon maafkan aku, Profesor! Maafkan aku, maafkan aku, Haizaki-san! Maafkan aku!" Sakurai membungkuk berkali-kali, matanya berair, mulutnya bergetar.

Haizaki hanya memutar bola mata. Menekan keinginan kuat menghajar Sakurai di hadapan Slughorn dan seluruh murid kelas lima yang kini memusatkan perhatian ke mejanya karena ulah Sakurai.

"Sudah, nak. Cukup, cukup. Aku memaafkanmu," kata Slughorn menahan kedua bahu Sakurai agar tak membungkuk lagi. "Kesalahan itu wajar, kau 'kan masih belajar. Baiklah, untuk semuanya yang telah menyelesaikan pembuatan ramuannya, isi tabung kecil dengan sampel ramuan kalian dan taruh di kotak berlubang di mejaku."

Slughorn berlalu. Haizaki menatap Sakurai tajam dengan kepalan di tangan. Haizaki merasa marah bukan karena memikirkan bahwa nilai Ramuannya tidak akan sesuai harapan, tetapi sikap ketakutan yang selalu Sakurai tunjukkan padanya di setiap kelas yang mereka lalui.

"Kau ... bicara denganku saat makan siang nanti."

Sakurai membelalakan mata besarnya. Tubuhnya gemetar di mejanya saat kelas Ramuan berakhir dan Haizaki cepat meninggalkannya. Ketakutan setengah mati atas apa yang akan Haizaki bicarakan dengannya. Mungkinkah ia akan dihajar sampai babak belur? Atau dimantrai? Sakurai belum bisa berdiri dari kursinya karena pemikiran mengerikan ini.

"Ryō-chan ..."

Sakurai menoleh ketika Takao memanggil. Takao menghampirinya dengan raut cemas dan prihatin. Takao adalah temannya di asrama Hufflepuff, tapi akhir-akhir ini Takao sering terlihat berada di sekitar anak Ravenclaw yang saat ini menjadi teman sebangkunya, Midorima Shintarō.

"Ta-Takao-kun, a-aku harus bagaimana?" Sakurai mengatakannya dengan penuh kengerian.

Takao meringis, "Aku akan menemanimu, Ryō-chan. Kau tenang saja, oke?"

Sakurai menelan ludah dan Takao segera menuntunnya keluar kelas untuk menghadiri kelas berikutnya. Setidaknya pelajaran kali ini ia bisa bernapas lega. Haizaki selalu membolos di pelajaran Sejarah Sihir, ia tak akan bertemu dengannya lagi sampai makan siang.

Sementara itu, Haizaki berjalan berlawanan dari belokan menuju kelas Profesor Binns sebelum seseorang menarik kerah belakangnya yang membuat lehernya seolah tercekik.

"Sialan kau, Tomoki!" Haizaki membenarkan kerah bajunya sambil cemberut. "Apa maumu? Sana ke kelas!"

Tsugawa Tomoki terkekeh. "Kau juga mau ke mana? Mau bolos lagi? Aku tak jamin loh aku masih mau berbaik-hati meminjamkan catatanku."

"Ya sudah, memang aku peduli."

Tsugawa nampak berlagak tersadar akan sesuatu, "Ah, iya, hahaha ... aku bodoh sekali. Kau 'kan sudah punya kacungmu sendiri!"

"Apa maksudmu? Kau minta ditonjok, ya?" Haizaki menggertak dengan kepalan.

"Hahahaha! Oke, oke, aku bercanda!" Tsugawa menghentikan tawanya. "Tapi yang tadi itu kurasa kau terlalu keras padanya, Haizaki."

Haizaki mendengus, "Biar saja. Biar tahu rasa."

"Tak biasanya kau kesal karena nilai pelajaran," kata Tsugawa.

"Kaukira aku kesal hanya gara-gara itu? Sok tahu."

"Ohohoho, jadi bukan hanya karena itu? Lalu karena apa lagi, eh?" Tsugawa memasang wajah penasaran. Wajahnya mendekat beberapa senti.

"Mau tahu saja," Haizaki memberinya wajah meledek. "Sudah ah, aku mau ke hutan. Kau mau ikut?"

"Tidak deh," Tsugawa merapikan dasi Slytherin-nya. "Aku tidak mau kena amuk Akashi setelah ini. Kau sih sudah kebal. Sudah, ya, sampai bertemu makan siang!"

Haizaki melanjutkan perjalanannya ke hutan. Kalau sedang bolos, biasanya ia tidur-tiduran di bawah pohon di tepi Hutan Terlarang. Haizaki menyukai anginnya, menyegarkan. Kadang-kadang ia akan menemukan Thestral di sini. Oh, ya, dia bisa melihatnya karena ayahnya meninggal tepat di depan matanya.

Haizaki mendudukan dirinya di bawah pohon beech, bersandar pada batangnya dan mulai memejamkan mata.

Tak ada tempat lain yang lebih ramai di waktu istirahat makan siang selain Aula Besar kastil Hogwarts. Semua anak yang lelah karena kegiatan belajar berkumpul di tempat ini untuk memadamkan lapar dan haus. Keempat meja panjang dipenuhi keriuhan yang menyenangkan, meja panjang tempat para guru pun tak jauh berbeda. Namun jika ditilik lebih dalam, di meja panjang milik Hufflepuff, terlihat seorang anak laki-laki berambut coklat pucat tengah terbengong sendirian tanpa menyentuh santapan menggiurkan di depannya.

"Ryō-chan, dimakan dong," kata Takao Kazunari sambil menyendokan lasagna ke piring perak sang empunya yang sedang melamun.

Seorang anak laki-laki lain memandang Takao dengan penuh tanya. Takao hanya bisa meringis pelan tanpa mampu menjawab apapun.

"Ryō-chan, kau tidak usah secemas itu. Aku 'kan sudah bilang akan menemanimu. Jadi, makan, ya ..." Takao menghela napas lega ketika Sakurai menampakkan kesadarannya.

"Summimasen, Takao-kun. Dōmo," akhirnya Sakurai mau makan juga.

"Apa yang terjadi sebenarnya, Takao?" Ogiwara Shigehiro mengungkapkan pertanyaannya.

"Itu ... Haizaki Shōgo mengajak Ryō-chan bicara. Aku sebetulnya juga khawatir tentang ini. Kau tahu sendiri 'kan bagaimana attitude-nya, Shige-chan. Ryō-chan juga ketakutan karenanya," kata Takao.

Ogiwara nampak terkejut. "Apa ini karena masalah di kelas Ramuan tadi pagi?" yang dibalas anggukan Takao. "Sakurai, kalau dia macam-macam padamu, kau bisa melaporkannya padaku. Aku akan melaporkannya pada Kepala Sekolah. Jadi, jangan khawatir, ya."

Belum Sakurai mengangguk, sosok Haizaki yang menjulang telah muncul di belakang Takao yang duduk di depannya. Matanya yang besar semakin membesar, genggaman sendoknya semakin erat. Takao keheranan melihat ekspresi Sakurai dan segera menoleh ke belakang, Takao menahan napas.

"Melaporkan apa maksudmu, Wahai Tuan Prefek Yang Terhormat Ogiwara Shigehiro?" Haizaki mendesis sinis. Kedatangannya ke meja Hufflepuff mengundang bisik-bisik di sekitar mereka. "Kaupikir aku akan melakukan apa padanya?"

Ogiwara membasahi bibirnya yang mendadak kering. Ia berdeham dan berkata, "Jadi, kau tidak akan berbuat macam-macam pada Sakurai 'kan? Aku benar-benar akan membawa masalah ini pada Kepala Sekolah kalau kau sampai berani."

"Ck, kubilang aku hanya ingin bicara dengannya. Kau tidak ada hak di sini, tahu tidak? Ayo, Ryō, ikut aku dan jangan lambat!"

Punggung Haizaki menjauhi meja Hufflepuff. Sakurai merasa kakinya berubah menjadi jelly, ia tak bisa berjalan dengan benar. Takao segera memegangi bahunya dan menuntun Sakurai ke tempat yang Haizaki tuju. Takao membisikkan kata-kata penyemangat pada Sakurai sebelum akhirnya mereka sampai pada tempat perhentian Haizaki.

"Hei, kau," Haizaki memandang tajam pada Takao, "aku ingin bicara dengan Ryō berdua. Kau tidak mengerti apa arti dari berdua, hah?"

Takao menyeringai tipis, "Maaf saja, tapi aku tidak percaya padamu. Aku akan menjadi saksi mata di sini kalau kau melakukan hal yang aneh-aneh pada Ryō-chan."

Haizaki meludah ke rumput di bawah undakan, "Sikapmu inilah yang membuatku ingin melakukan yang aneh-aneh. Petrificus Totalus!"

Sakurai terbelalak terkejut. Takao terjungkal ke belakang dengan tubuh sekaku papan.

"Ha-Haizaki-san! A-apa yang kau lakukan?" Sakurai histeris. "Ku-kumohon kembalikan Takao-kun! Aku akan memintanya kembali ke aula dan tak akan mengganggumu! Summimasen, tapi kau tidak boleh memantrai murid, itu melanggar aturan, Haizaki-san!"

"Cepat ikut aku," Haizaki berultimatum, tak memedulikan Sakurai yang memohon-mohon.

Mereka akhirnya menjauhi tempat Takao terbujur kaku. Sakurai meminta maaf pada Takao berkali-kali dalam hati. Ia berjanji setelah ini ia akan berbuat lebih baik pada Takao.

Haizaki membawanya ke padang rumput di tepi Danau Hitam.

"Ha-Haizaki-san, su-summimasen, bisakah kita bicara singkat saja? Kasihan Takao-kun dibiarkan di sana. Summimasen!" kata Sakurai.

"Berhentilah meminta maaf!"

"Summimasen!"

"Kubilang berhenti mengatakan itu!" Haizaki merenggut dasi Hufflepuff-nya, menatap galak Sakurai. "Aku jengah mendengarnya!"

"Su-summima–" Haizaki mengerang sambil melepaskan cengkeramannya dengan kasar.

Napasnya terengah-engah, Sakurai ketakutan, ia juga tak bisa mengendalikan mulutnya untuk tidak berkata maaf. Itu sudah menjadi kealamiannya. Sakurai hanya tidak bisa menerima jika semua keganjilan yang terjadi di sekitarnya adalah kesalahannya. Ia tidak mau orang lain marah karenanya. Sakurai tidak sanggup menanggung rasa bersalah itu dalam diam, dia harus minta maaf untuk melepas beban di dadanya.

"Kau tidak perlu minta maaf kalau itu bukan salahmu," kata Haizaki. Cowok rambut kelabu itu duduk di tepi danau. "Orang akan merendahkanmu jika kau bersikap seperti itu terus."

Sakurai mengusap matanya yang berair. Mendengar perkataan Haizaki, Sakurai mulai teringat hari-hari buruknya selama di Hogwarts. Dulu ia sering dikerjai oleh para kakak kelas yang sekarang sudah lulus. Isi tasnya diacak-acak, memantrainya dengan Levicorpus, mencegat kakinya sampai tersandung, dan lain-lain. Benar-benar hari yang buruk.

"Aku juga memandangmu rendah karena kebiasaanmu itu," Sakurai mengatupkan bibirnya rapat-rapat, segera teringat ia pernah menjadi korban kejahilan Haizaki dan teman Slytherinnya sewaktu mereka masih di tahun ketiga. "Tapi itu dulu, sebelum kita menjadi teman sebangku."

"Haizaki-san ..."

"Kau juga tidak usah takut padaku," Haizaki memusatkan pandang padanya. "Ketakutanmu itu malah membawa masalah seperti kejadian tadi pagi."

"Summi–"

"Tuh kan, mulai lagi," Haizaki mendesis, ia mendekat ke tempat Sakurai. "Cobalah berhenti melakukannya, lama-lama pasti terbiasa juga."

"Ha-Hai'! Aku akan mencoba, Haizaki-san. Terima kasih," kata Sakurai.

Haizaki menepuk-nepuk ringan pipi Sakurai, "Sudah, ya. Aku belum makan siang soalnya. Bye!" Ia melambaikan tangannya saat menjauhi Sakurai, tapi ia berbalik lagi. "Oh, iya ... aku melakukannya bukan karena aku peduli atau apa. Jadi, jangan salah paham, oke!"

Sakurai tak bersuara. Ia hanya memandangi sosok Haizaki yang menjauh ke Aula Depan. Ia tak tahu, tapi entah bagaimana sekarang Haizaki terlihat lima kali lipat lebih keren dari biasanya.

Dan semoga Haizaki tidak melupakan kondisi Takao.


A/N:

Ampuni saya karena mempublish fic nista ini T_T Semoga terhibur :')