Setelah sekian lama dijauhkan dengan kekasihku tercinta (baca : Lappie-chan)
Akhirnya aku bisa nulis fic lagi~ Hore! *joget gaje* Nah, langsung aja daripada keanehan saya menyebar.
Desclaimer : Hikedaz Himaruya. Kiku punyaku! *dikeroyok fans Kiku*
Warning : Sok Romance, Sok melankolis, dan sok-sok lainnya, gaje, OOC pokoknya begitulah. Dan banyak Typo.
Nah, suka nggak suka harus baca~
Tidak mungkin... Kakak'kan menyukai Yakterina-san, tapi apa jangan-jangan... Tanpa sadar hariku kembali berharap pada orang itu. Nggak! Mana mungkin! Pasti ini cuma kebetulan! Aku mengingat kembali apa yang telah ia lakukan pada hatiku.
"Ah, ini, aku hanya memeriksa keadaan." katanya
"Oh, iya."hanya itulah yang dapat aku ucapkan daripada aku memaki dirinya tau menangis dan memintanya agar ia memberi kesempatan padaku. Tapi sejujurnya di hatiku yang terdalam aku sedikit berharap bahwa dialah yang mengirimkan surat itu.
"Aku... Aku ada urusan dengan Yao. Dah."katanya lalu berlari keluar. Ia masih saja menghindariku.
Aku pulang sendirian. Lagi-lagi sendirian. Aku melintasi kawasan pohon Ginko yang membuatku kembali teringat kejadian waktu itu. Air mataku kembali mengalir. Aku tak dapat membendungnya. Memori yang selama ini kusimpan kembali berputar. Ketika selalu menempel pada Kakak, ketika aku menyadari perasaan spesial ini, ketika Kakak membentakku saat itu, dan perbincangan Kakak dengan Yakterina-san. Setelah dipikir-pikir lagi, mana mungkin Kakak yang mengirim surat itu.
"Lepaskan dirimu... Lepaskan mereka juga..." terdengar suara seseorang dari belakangku. Aku menoleh. Lagi-lagi anak itu. Kelihatannya dia senang ikut campur urusan orang lain. Dan sebelum aku menghindar, dia sudah memegang erat tanganku. Orang ini memiliki sesuatu yang berbeda dengan yang lain. Menyebalkan dan suka ikut campur.
"Mau apa kau?" tanyaku
"Aku..." tanpa membiarkannya berbicara, aku menarik tanganku lalu pergi meninggalkannya yang terus memanggil namaku.
Aku terus berlari hingga menabrak seseorang. Dan yang aku tabrak adalah Kak Ivan. Dia menatapku cemas . Entah cemas karena melihat keadaanku atau cemas karena bertemu denganku. Lalu ia membantuku berdiri dan dia sepertiya akan mengatakan sesuatu.
"Kau tak apa Natalia? Uhm, bagaimana kalau kita pulang bareng?" tawar Kak Ivan. Aku tak menjawab tapi Kak Ivan terus menungguku menghampirinya. Akhirnya mau tak mau aku harus berjalan dengannya. Ini semakin membuatku sedih.
Di jalan, aku hanya bisa diam. Aku dapat melihat wajah Kak Ivan yang merasa tidak enak hati padaku. Mungkin karena ia sempat membentakku dulu. Dan dia juga yang membuatku berubah. Aku pernah lihat Nesia-chan dan Eliza berbicara dengan Kak Ivan dan mereka menyebut namaku. Kami berjalan di tengah bunga Sakura yang tengah bermekaran.
"Tadi apa yang sedang kakak lakukan di depan loker sepatuku?" tanyaku berusaha membuka pembicaraan
"Aku hanya melihat keadaan, habis tadi aku melihat bayangan orang." jawabnya
"Itu aku kak." kataku
"Bukan, tadi aku melihat bayangan seorang siswa." katanya sambil melihat jam tangannya
"Kalau itu bukan aku." kataku
"Lalu siapa?" tanya Kak Ivan
"Entahlah." kataku
Lalu kami berdua kembali diselimuti keheningan. Aku merasa tak enak. Unting saja tak lama kemudian kami tiba di rumah. Dari depan sudah terlihar Yakterina-san berdiri di depan pintu dengan raut cemas. Dan aku tahu, yang ia khawatirkan bukan aku melainkan Kak Ivan. Kak Ivan menghampirinya dan terlibat pembicaraan dengan Yakterina-san. Aku lebih baik pergi ke kamarku.
Di kamar, aku hanya diam. Mengingat kembali semua yang telah terjadi. Dan aku kembali teringat dengan puisi yang dikirim untukku. Aku mengambil surat itu dan membacanya kembali dengan perlahan dan menerka-nerka siapa pengirin surat ini. Apakah orang yang suka ikut campur itu? Ah, kenapa aku jadi berharap?
Hhhh~ Aku menghela nafas panjang. Semua ini bisa membuatku gila. Sebenarnya aku ingin menceritakan semua masalahku pada seseorang. Tapi aku takut untuk kembali mempercayai orang lain lagi. Sama seperti Kak Ivan. Padahal dulu aku sangat dekat dengannya. Sekarang kami bagaikan Matahari dengan Komet. Sangat jarang berpapasan bahkan ketika berpapasan pasti selalu menjauh. Ukh! Kenapa aku berpikir tentangnya lagi sih? Apa aku masih mengharapkannya? Tak boleh! Padahal dia sudah jahat padaku. Dan aku masih memaafkannya? Tak mungkin! Aku bersikap baik hanya agar ia tidah khawatir. Ah, tapi bukankah itu sama saja aku masih menyayanginya? Tapi aku tak boleh memaafkannya! Apalagi masih menyayanginya. Tak boleh! Hatiku terus berdebat tentang Kak Ivan hingga akhirnya aku tertidur.
Keesokkan harinya, aku kembali menemukan sepucuk surat di loker sepatuku. Aku langsung memasukkannya ke dalam tasku lalu bergegas menuju kelas. Dan ketika masuk kelas, seperti biasa teman-temanku tak menghiraukanku. Ah, mereka bukan temanku. Teman macam apa mereka itu? Bahkan jika aku mati pun mereka tak akan peduli. Lalu, aku membuka dan membaca surat itu.
Tak masalah jika tak ada yang menerimamu
Karena aku akan menerimamu
Tak masalah jika tak ada yang mempercayaimu
Karena aku mempercayaimu
Bagaimana denganmu?
Apakah kau percaya padaku?
"A... Apa-apaan surat ini?" kataku. Aku langsung membalas surat itu sambil memikirkan sebuah rencana.
Sebenarnya siapa kamu? Aku benar-benar kesal olehmu.
Aku paling benci orang yang suka ikut campur tapi sok misterius.
Dasar payah! Coba kita bertemu kalau kau berani!
Lalu aku melipat surat itu dan memasukannya ke dalam amplop. Tak lama kemudian, jam pelajaran pertama pun dimulai.
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=
Sore telah datang, lengkungan jingga di sebelah barat menandakan matahari akan segera menuju tempat peristirahatannya. Aku menatap ke arah matahari terbenam. Sinar jingga bercampur merah muda menerangi ruangan tempat sepatu sekolahku. Aku muak dengan pemandangan ini. Aku memasukkan surat balasan ke dalam lokerku. Tapi urusanku belum selesai. Aku ingin memastikan siapakah tuan suka ikut campur tapi sok misterius itu. Aku berpura-pura pulang tapi aku lalu kembali.
Dari balik loker lainnya, aku mendengar suara langkah kaki. Seseorang mendekat. Lalu jika perhitunganku tidak salah, itu adalah tuan suka ikut campur tapi sok misterius. Aku mendengar suara lokerku yang khas dibuka. Lallu loker itu di tutup lagi.
"Nah, urusan hari ini selesai." kata tuan suka ikut campur tapi sok misterius. "Nah, coba kita lihat apa yang ditulis sang Oujo-sama." Lanjutnya. Tak lama kemudian terdengar tawanya terbahak-bahak.
"Huahahaha. Coba saja kita ketemu. Aku berani kok. Huahahahaha. Aduh, perutku sakit. Huahahahaha." tawanya meledak lagi
Dasar orang nggak elit, kataku dalam hati. Karena kesal menunggu, aku langsung bergerak menuju lokerku untuk menangkap tuan suka ikut campur tapi sok misterius.
Setelah melihatku, orang itu tampak terkejut. Dan hendak melarikan diri. Memang, aku tak dapat melihat jelas wajahnya karena tertimpa sinar matahari. Tapi aku menariknya sampai dia terjatuh. Memang, sedikit kelewatan, tapi karena dia terus memperontak, terpaksa aku menjatuhkannya.
"Nah, siapakah tuan suka ikut campur tapi sok misterius ini?" kataku sambil berusaha meilhat wajahnya.
Ternyata dia adalah orang yang melihatku menangis waktu itu. Sungguh memalukan. Aku ingat dia pernah memperkenalkan dirinya tapi aku lupa siapa namanya. Lagipula, aku tak peduli mengenai hal itu. Aku hanya ingin tahu siapa orang yang berani-beraninya mengusik masalah pribadiku.
"Oh. Ternyata kau." Kataku singkat
"Oh? Hanya itu? Bagus banget!" kata orang itu.
"Tukang ikut campur, kau jangan mencampuri urusanku lagi."kataku
"Kalau aku nggak mau gimana?"katanya
Ini orang nyebelin juga ya, kataku dalam hati
"..." aku hanya diam sambil menggerutu dalam hati
"Nyerah ya? Natchan." Katanya
Aku tersentak kaget. Natchan adalah nama kecilku yang diberikan oleh Kak Ivan dan hanya keluarga serta teman dekatku yang mengetahui nama itu.
"Apa-apaan kau?" bentakku
"Wah, wah, wah, ternyata bisa marah juga." katanya sambil tersenyum
Aku menggeram kesal. Aku melotot padanya. Dia hanya tersenyum. Lalu, aku mengeluarkan pisau kecil yang selama ini aku bawa dalam tasku. Dia mundur beberapa langkah dengan muka yang sedikit pucat. Ini sudah diluar batas kesabaranku. Entah kenapa hanya padanya aku bisa menunjukkan rasa marahku.
"Hei, hei, tenang dulu. Aku nggak bermaksud jahat. Ayo kita omongin baik-baik." katanya
"Baiklah." aku menerima tawarannya sambil memasukkan pisauku kembali
Lalu, aku mendengar penjelasannya yang selama ini dia selalu memperhatikanku dan ketika hatinya tersentuk ketika melihatku menangis serta keinginannya untuk melihatku kembali tersenyum.
"Aku tak butuh belas kasihan." kataku. Percuma, aku sudah menutup pintu hatiku dan tak ingin mempercayai orang lain.
"Kau adalah gadis yang baik hati. Aku yakin itu! Kau hanya takut! Kau takut dikhianati lagi! Bukan kebecianmu! Ketakutanmulah yang menutup hatimu. Bukan kebencianmu! Kau bukanlah orang yang seperti itu! Aku yakin itu!" katanya
"..." aku hanya terdiam
"Kumohon, percayalah padaku!" katanya masih bersikukuh
Mengingat kegigihannya selama ini, ketika ia selalu menyapaku setiap hari, ketika mengingat surat-surat konyolnya yang ditujukan padaku. Aku rasa, aku bisa mempercayainya. Senyum pun muncul di wajahku.
"Eh? Kau tersenyum ya?" tanyanya, ia juga tersenyum. Aku langsung menutup mulutku.
"Sok... Sok tau!" kataku
"Hahaha... Akhirnya kau tersenyum juga."
"Sudah kubilang, kau sok tau!"
"Baiklah, sekarang, maukah kau mempercayaiku?"
"Apa taruhannya?"
"Nyawaku." katanya mantap
"Kau punya nyawa berapa?" tanyaku
"Satu." jawabnya bingung
"Kalau cuma satu, jangan sok." kataku. Dia pun tertawa.
"Hahaha... Aku berjanji, aku tak akan mengingkari kepercayaanmu padaku."katanya
"Sok jantan." Kataku
"Aduh, kayaknya aku serba salah ya." katanya
"Ah, namamu siapa? Aku lupa."kataku
"Hahaha... Kau jujur sekali ya. Namaku Lovino Vargas."katanya. lalu keheningan menyelimuti kami.
"Pulang" kataku
"Hah?"
"Aku bilang, aku mau pulang."
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang."
"Lakukan tugasmu dengan baik, bodyguard" kataku mengoloknya
"Tentu saja, Nona!" katanya lalu berlari pergi
"Dia ke mana?" kataku mencarinya
"Hei, hei! Natalia! Ayo naik ke boncengan!" tiba-tiba dia ada di belakangku sambil menaiki sepeda
"Sepeda?" kataku masih berdiri
"Memang kenapa?" katanya balik bertanya
"Dasar miskin." kataku sambil naik sepedanya. Aku berdiri di boncengannya sambil berpegangan di pundaknya.
"Hahaha... Kalau naik sepeda, kaki jadi terlatih, lagi pula perjalanan akan lebih lama."
"Apa untungnya? Itu hanya membuang waktu kan?"
"Tak apa, toh dengan begini, waktulu bersama Natalia lebih banyak." katanya sambil mendongak ke arahku
"A... Apa-apaan kau? Hei! Perhatikan jalannya!" kataku panik
"Hahaha... Salah tingkah ya? Pasti terpesona denganku."
"Dasar ge er!" kataku. Tak lama kemudian, kami sampai di rumahku.
"Nah, udah sampe!" katanya
"Kamu nggak capek?" tanyaku
"Nggak. Kalau capek, memangnya aku dibolehin masuk?" katanya
"Nggak. Udah sana pergi." usirku
"Tega amat. Ya udah, Sampai besok!" katanya. Aku hanya diam dan masuk ke dalam rumah.
Esoknya, ketika aku sekolah, Lovino menyapaku biarpun aku mengabaikannya. Aku belum terbiasa bergaul lagi. Dan setiap hari ia selalu menyapaku dan menemaniku ketika istirahat serta salalu mengantarku pulang. Begitu setiap hatu. Hati kecilku berkata, mungkin aku bisa mempercayainya. Hubunganku dengan Nesia dan Eliza pun membaik karena Lovino. Setiap istirahat, kami selalu berkumpul bersama, aku yang paling sedikit bicara dan tentu saja yang paling banyak berbicara adalah Lovino. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Biarpun dia sering berkata kasar pada teman-temannya, tapi dia adalah orang yang baik. Semakin hari aku pun semakin akrab dengannya.
Suatu hari, aku dan teman-temanku jalan-jalan ke sebuat taman hiburan...
"Ah, Lovi ikut juga?" kata Elizaveta
"Nggak tau tuh." Kataku
"Hai semua, abis kesiksa dari ulangan, ayo sekarang kita puas-puasin maen!" katanya semangat
"Dasar Lovino."kataku
Lalu, seharian itu kami habiskan untuk bersenang-senang dan yang paling semangat tentau saja Lovino. Posisi Nesia yang paling bersemangat diambil alih oleh Lovino. Dasar Lovino, tingkahnya selalu ada-ada saja.
"Natchan, Natchan, aku mau nanya." kata Nesia
"Boleh kok. Nanya apa, Nesia?" kataku
"Sebenernya, Natchan sama Lovi ada hubungan apa sih?"
"Hmm... Kita sahabat doang kok. Sama kayak kamu sama aku."kataku
"Tapi, bagi Natchan, Lovi itu apa?" lanjut Nesia
Pertanyaan Nesia membuatku terdiam. Aku berpikir, selama ini, yang selalu menemaniku adalah Lovino. Aku sanagt senang jika dia berada di sisiku, dan terkadang aku merasa kesepian jika aku harus di kelas sendiri tanpa kehadirannya. Apakah mungkin jika aku menyukainya? Karena dialah aku bisa berkumpul dengan teman-temanku, karena dialah aku bisa kembali tersenyum dan karena dialah aku bisa melupakan Kak Ivan. Ya, aku akhirnya sadar, aku menyukainya.
"Aku sadar, terima kasih, Nesia!" aku memeluk Nesia lalu pergi mencari Lovino, Nesia hanya melihatku dengan tatapan bingung.
Aku berlari, kalau tidak salah, tadi dia hendak membeli minuman. Ah, aku melihatnya. Sepertinya dia bersama orang lain. Mungkin kenalannya, pikirku. Ketika aku mendekat, aku tersentak kaget dan secara refleks aku merapat ke tembok.
"Terima kasih selama ini kau terus menjaga Natchan." terdengar suara yang kukenal. Ini... Ini bohong!
"Ya, berkat Lovino-san, Natchan jadi riang seperti dulu. Terima kasih." terdengar suara orang yang satunya lagi. Ini pasti bohong! Aku meyakinkan diriku.
"Ini bukan apa-apa. Tenang aja." kata Lovino sambil terkekeh
"Yah, terima kasih kau telah melaksanakan tugas yang aku minta dengan baik. Kau memang teman yang bisa diandalkan." kata orang pertama, lalu mereka tertawa
Bohong, ini pasti bohong, kataku masih tidak percaya. Tanpa sadar, air mataku mengalir, tubuhku menjadi lemas dan aku terjatuh. Sepertinya mereka menyadari keberadaanku, mereka menghampiriku dan terkejut ketika melihatku.
"Na... Natchan?"
"Na... Natalia, ini nggak seperti yang kamu bayangkan" kata Lovino berusaha mengusap air mataku
"APA MAKSUDMU? JADI, SELAMA INI KAU BERSEKONGKOL DENGAN KAK IVAN DAN PEREMPUAN ITU? JADI SELAMA INI SEMUA TINGKAH LAKUMU ATAS KEMAUAN MEREKA? AKU BENCI!" teriakku sambil menepis tangan Lovino
"Natalia, tenanglah." kata Kak Ivan
"SEKARANG APA LAGI MAUMU? APA KAU BELUM PUAS MELIHATKU MENDERITA?" kataku menghardik Kak Ivan
"Natchan, kendalikan emosimu." kata Kak Yakterina
"LALU APA URUSANMU? AKU TAK MAU MELIHATMU LAGI! AKU MUAK MELIHAT MUKAMU YANG SEOLAH TAK BERSALAH ITU! SOK INNOCENT!" makiku pada Kak Yakterina, kakakku yang selama ini aku sayangi
"Natalia! Dengarkan penjelasanku, awalnya, aku memang disuruh oleh Ivan, tapi..." kata-kata Lovino tak selesai
"TAPI APA? SELAMA INI SEMUA PERLAKUANMU PADAKU SEMATA-MATA KARENA DIMINTAI TOLONG OLEH IVAN'KAN? SEHARUSNYA AKU SADAR DARI AWAL! ORANG SEPERTIMU TAK PANTAS KUBERI KEPERCAYAAN! PERSAHABATAN KITA SELAMA INI PALSU! DASAR BODOH! AKU BENCI ORANG SEPERTIMU!" kataku melampiaskan kemarahanku
"Natchan, dengarkan dulu penjelasanku!" kata Lovino berusaha menarik tanganku
"JANGAN SEBUT NAMAKU! AKU TAK MAU NAMAKU DISEBUT OLEH ORANG SEPERTIMU! DASAR RENDAH!" kataku memberontak dan tanpa sengaja berhasil menampar mukanya. Lovino terjatuh, Kak Ivan membantunya berdiri dan Kak Yakterina berusaha mengejarku, tapi aku berlari dengan sangat cepat, keluar dari taman bermain dan berlari entah kemana arahnya yang penting aku tak ingin berhenti.
Aku berlari tanpa tujuan yang pasti. Tapi ada satu hal yang pasti, hatiku hancur berkeping-keping, kepercayaan yang selama ini aku berika pada Lovino hancur begitu saja dalam hitungan menit. Aku, tak ingin mempercayai laki-laki itu lagi apapun alasannya.
TBC~
Omake~
Selesai juga penderitaan kalian baca fic gaje ini~
Tadinya cerita ini mau dibuat 2 Chapter. Eh, nambah lagi. =.= Doakan ya! ^o^v
Mohon ripiunya ya... ^^
For Better and Faster update~ *mengeluarkan janji manis*
