Sebelumnya aku mau memberitahumu sesuatu, kalau tulisan italic itu memiliki tiga arti, yaitu kata-kata didalam pikiran, flashback, kata diluar bahasa Indonesia atau untuk menekankan makna suatu kata. (itu mah empat ya? Pokoknya gitu deh!) Aku rasa kalian mengerti bila langsung membacanya.

Enjoy :)


Aku berlari-lari, ke rumah Profesor Agasa. Teringat olehku percakapanku ditelpon tadi.

"FBI akan membantu kita membuat antidote APTX 4869 —mereka memiliki prototypenya dari pelacakan terakhir mereka, ya Tuhan—, akan jadi besok… juga perundingan beberapa hal, soal penyelidikan organisasi itu." Haibara tak menyembunyikan nada senangnya ketika berbicara padaku.

Aku tersentak, berdiri. "SERIUS NIH, HAIBARA? KAU GAK BOHONG 'KAN? KUBERITAHU SAJA, BOHONG ITU DOSA!"

Ada dengusan keras di telpon. "Oh, tentu saja, detektif bodoh! Kalo aku mau berbohong, aku tidak akan membawa-bawa organisasi hitam!" seru Haibara, nampaknya kesal karena aku tidak percaya padanya.

Ya ampun. Ya ampun. Tidak kusangka secepat ini. Baru saja tadi siang Haibara memberitahuku soal FBI yang menawarkan penyelidikan, lalu mereka datang, dan bilang memiliki prototype APTX 4869?

Aku tidak akan menjadi Edogawa Conan lagi. Tidak perlu berbohong lagi. Tidak perlu menyakiti Ran lagi, melihat air matanya jatuh untukku. Tidak perlu merasa ketakutan lagi. Yayaya. Ini pasti asyik sekali!

Setelah memutuskan hubungan telpon, aku langsung meminta izin dari Ran untuk menginap di rumah Profesor. Ia sempat melarangku, karena aku baru sakit. Namun karena aku merengek-rengek dengan lagak anak kecil manja, Ran mengizinkanku dengan syarat harus makan malam dulu. Tentu saja aku menurutinya, itu syarat yang mudah.

Karena tidak sabar, aku makan malam buru-buru, mengambil beberapa baju, dan berangkat dengan ceria.

Hueh, capek juga. Sudah lama mungkin aku tidak olahraga

Aku berbelok ke kiri, menuju rumahku. Di depan rumah professor, ada beberapa mobil, salah satunya kukenali milik James, boss-nya Bu Jodie. Orang yang diculik di kasus Panda Car itu rupanya atasan Bu Jodie. Seorang laki-laki keriting hitam tinggi dan wanita berkacamata berambut lurus, sempat menghadangku.

"Sorry, you can't enter this house." kata laki-laki keriting, disetujui oleh wanita berambut lurus.

Lalu Haibara keluar rumah. Dia berbicara cepat kepada dua orang itu —yang tidak kutangkap dengan baik karena tenggelam oleh euforia ku—, sepertinya bilang kalau aku adalah orang yang mereka tunggu-tunggu.

"Oh, well, little boy, we're sorry. You can come in." ucap si laki-laki keriting hitam itu, ramah. Aku tersenyum kecil, mungkin jadi lebaaaar sekali karena sedang bahagia.

Aku masuk rumah, Haibara mengikutiku. Wajahnya tidak enak.

"Haibara?" aku hendak bertanya. "Ada apa?"

"Kau masuk saja dulu, nanti juga tahu." Jawabnya acuh tak acuh. Aku mempercepat langkah, dan menuju ruang tamu professor.

"TIDAK! AKU TIDAK SETUJU!" teriak Professor.

"Tapi, Agasa-san, anda kepingin kalau Kudou-san dan Miyano-san kembali ke tubuh semula, 'kan?" sergah Bu Jodie. Suaranya halus, hampir tidak dapat ditangkap telinga.

"Bukan berarti mereka harus terlibat bahaya!" Professor Agasa berseru kesal, menggeleng-gelengkan kepala. "Apa tak ada cara lain? Mereka diam saja di rumah, kalian yang menyelidikinya? Kalian 'kan bisa berhubungan lewat telpon!"

Aku menghentikan langkah. Kudengar Haibara juga berhenti di belakangku. Suasana senyap, diam. Bu Jodie tidak berusaha membujuk Professor lagi. Namun 1 menit kemudian, suara mantan guru bahasa Inggris di SMA Teitan itu terdengar, lirih.

"Maaf… bukan aku mau memaksakan kehendakku. Namun sekarang, Shuu —Akai Shuuichi— sudah tidak ada. Kami tidak mempunyai senjata andalan lagi untuk melawan mereka. Dan Kudou-san beserta Miyano-san… mereka berdua pasti berjasa besar, karena Miyano-san adalah mantan anggota organisasi satu-satunya yang masih hidup. Kudou-san juga memiliki kemampuan analisis yang setara dengan Shuu." Bu Jodie menarik napas panjang. "Kumohon…. Tanpa izinmu kami tak bisa mengikut sertakan mereka dalam penyelidikan ini, Agasa-san…"

Aku terdiam. Begitukah? Aku mengerti kalau Professor tidak mengizinkan kami karena misi ini mempertaruhkan nyawa. Sedikit kesalahan saja, kami sudah ada di dunia sana.

Barulah aku teringat soal ini. Bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana jika aku mati, dan malah bukannya membahagiakan Ran seperti tujuanku semula, tapi malah membuatnya semakin terpuruk dan menderita? Aku juga bahkan bisa menyeretnya kedalam bahaya.

Ceroboh benar aku.

Aku masuk ke ruang tamu. Professor, Bu Jodie dan James menoleh.

"Oh, Shinichi-kun…" Professor langsung berdiri. "Kau yakin ingin mengikuti penyelidikan ini? Ini terlalu berbahaya! Aku tak bisa membiarkanmu join dengan resiko sebesar itu…"

"Tenanglah, Professor." aku menenangkan dia. Padahal di kepalaku berkelabatan jutaan kemungkinan terburuk. Padahal aku juga sama gelisahnya mendengar omongannya. Padahal aku juga buuh ditenangkan.

Haibara duduk di sofa, aku pun mengikutinya. Aku berbicara pelan.

"Aku… sudah memikirkannya baik-baik, prof." detik itu juga aku memutuskan. "Lebih baik aku mencoba dan tau hasilnya. Aku bersama FBI. Kemungkinanku untuk berhasil besar. Aku ingin kembali ke tubuhku semula, menjadi detektif SMA, seperti dulu…" dan menyatakan cintaku pada Ran, tentu saja. lanjutku dalam hati. "Tolonglah, Prof, aku tetap akan pergi walaupun kau tak mengizinkan. Tapi hatiku tidak akan tenang." aku membujuknya.

Professor mengehembuskan napas, lalu menatapku dalam-dalam. "Kau yakin, Shinichi-kun?"

Aku mengangguk mantap.

Professor menoleh ke arah Haibara. "Dan kau, Ai-kun?"

Haibara tersenyum tipis. "Yah, aku akan ikut, untuk memberi FBI informasi, professor. Namun mungkin tak seaktif Kudou," dia melirikku sebentar. Aku mendengus. "Lagipula, tanpa aku, bagaimana kita mau membuat antidote nya?"

Selesailah perdebatan sampai disitu. Bu Jodie dan James memberitahu kami beberapa prosedur dan tawaran —seperti aku, mungkin harus tetap tinggal di kantor detektif, atau program perlindungan saksi— ada yang ku tolak, ada yang ku terima. Juga menurut mereka, aku dan Haibara harus dibimbing dalam penggunaan senjata, walau Professor sudah bilang bahwa kami cukup mahir di bidang itu.

Selama pembicaraan, aku tidak terlalu fokus. Aku malah berpikir, betapa asyiknya penyelidikan ini nantinya, jiwa detektifku menggelegak senang, menemukan tantangan baru. Bisa kembali lagi seperti dulu. Namun disisi lain juga, aku tidak mau menyakiti Ran. Aku jarang berpikir seperti ini sebelumnya. Aku jadi gelisah sendiri di sofa tempatku duduk, tak bisa membayangkan juga kalo Ran bersama laki-laki lain —kandidatnya adalah si Araide itu, juga si Eisuke, tentu saja— jika memang benar-benar aku mati.

"Tapi, Cool Boy… aku juga jadi khawatir soal itu." ujar Bu Jodie ketika mereka hendak pulang. "Apakah kau… sudah siap menghadapi kemungkinan terburuk? Meninggalkan orang-orang yang kau sayangi? Ini bukan soal kau saja, tapi 'kan… kasihan mereka." Bu Jodie tersenyum prihatin. "Aku sudah mengalaminya, lho."

"Aku minta tolong Bu Jodie." Aku tersenyum miris. "Kalau emang kejadian… tolong, ceritakan yang sesungguhnya pada Ran. Bilang juga…" wajahku panas. "Aku cinta padanya, gitu."

Sekitar pukul 11.25, mereka pulang. Aku memilih tidur di sofa, karena ada beberapa hal yang ku pikirkan.

Seperti misalnya kemungkinan terburuk itu.

Kalau ditanya sih, aku juga belum siap meninggalkan orang yang kusayang. Terutama Ran. Terlalu banyak aku menyakitinya. Tidak boleh lagi.


Ran berdiri di sana, sendirian.

Aku terpaku menatapnya. Air matanya jatuh, terus jatuh, bahunya tergetar. Namun ia tetap berusaha tersenyum.

Sangat sakit. Dadaku nyeri. Aku tidak mau menyakitinya lagi. Wajahnya sangat menyedihkan. Tentu saja, orang yang menangis tapi berusaha tersenyum, miris benar aku melihatnya. Apalagi aku tau orang yang menyebabkan dia begitu adalah diriku sendiri. Aku berteriak memanggilnya. Tapi tangisnya malah jadi sedu sedan. Senyumnya hilang. Ia berusaha menghapus air matanya dengan tangan, tapi air matanya terus turun.

Lagi-lagi di horizon-nya Doraemon.

Ia terasa jauh. Aku berlari, mendekatinya, ingin menghiburnya, tapi walau ia disana tak bergerak, aku tak bisa mendekatinya. Seakan ada yang menghalangi kami.

Lalu datang Dokter Araide. Dia merangkul Ran. Ran tersedu-sedu di dadanya. Aku tersentak. Tangis Ran mulai reda. Lalu Dokter Araide memegang dagu Ran pelan. Mereka saling bertatapan, wajah satu sama lain semakin dekat dan mereka…

Menyebutnya pun aku tak mau. Melihat itu, aku marah. Brengsek benar dokter itu! Benar-benar kampret sialan! Berani banget dia mencium Ran! Ran juga tidak melawan!

Aku segera berlari. Makin kencang. Lalu kurasakan sakit di seluruh tubuh, seperti ingin kembali sebagai Kudou Shinichi.

"RAAANNN!" aku berteriak. "AKU DISINI, RAAAN!"

Aku sampai di depan mereka. Kupandangi tangan kakiku. Oh, aku benar-benar kembali jadi Kudou Shinichi!

Ran menatapku takjub.

"Ran, aku kembali!" ujarku meyakinkannya, terengah-engah. "Aku tak akan meninggalkanmu lagi! Kembalilah padaku, Ran! Aku mohon!"

Bahuku bergetar karena amarah dan kesedihan. Ran menatapku, tetap menggamit tangan Dokter Araide seakan tak mau melepasnya.

Kepercayaan diriku runtuh.

Kok aku jadi mudah putus asa begini?

"Aku mencintaimu, Ran!" teriakku.

Ran maju selangkah, hanya beberapa sentimeter dariku. Memegang pipiku pelan, rapuh.

Sangat rapuh. Tentu saja, karena aku menyakitinya! Membuatnya berharap! Tidak berusaha lebih keras lagi untuk kembali jadi Shinichi-nya!

Ran berbisik pelan, pelan sekali. Membuat dirinya makin rapuh di mataku. Membuatku semakin merasa bersalah lagi, tapi ingin merengkuhnya juga, jauh jauh dari dokter sialan itu.

"Maaf, Shinichi." Ran tersenyum.

Bahagia. Dari matanya aku tau dia bahagia, walau tanpa aku.

Dia berbalik bersama Dokter Araide.

Aku mau mengejarnya, membawanya lari dari sini dan meyakinkannya aku tidak bohong. Aku tetap disini, mencintainya. Tapi kakiku beku, seakan menjadi batu. Kurasakan ekspresiku mengeras dan marah, tapi hatiku menangis. Wanita yang kucinta, sekarang pergi bersama dokter kampret itu.

"Ran…" bisikku. Berharap dia berbalik, seperti idiot. "Ran…"


"SHINICHI!" bentak Professor keras, sepertinya tepat di depan wajahku.

Aku terbelalak.

Masih di rumah professor.

Dan bermimpi buruk lagi.

"Fiuuh…" aku menjadi tenang. Untung bukan kenyataan dan real. Itu semua seperti nyata. Tapi aneh juga, sudah dua kali dalam waktu kurang dari 24 jam aku bermimpi buruk soal Ran.

"Kau menyebut nama Ran terus daritadi." ujar Professor ketika aku terduduk dan memakai kacamataku. "Ada apa sih? Jangan-jangan kau belum siap, ya, untuk penyelidikan soal mereka?"

"Tidak, tidak, prof. Aku saaangat siap!" bantahku. "Aku mandi dulu."

Selesai mandi, aku menuju meja makan dan sarapan bersama Professor dan Haibara. Berbincang soal pembicaraan kemarin. Aku bertekad agar nanti segera pulang ke kantor detektif, aku mau menanyakan soal penungguan Ran terhadapku. Walau aku tak mau dia sakit hati karena aku lagi, tapi aku juga tetap berusaha sekeras mungkin agar dia tetap menungguku.

Egois? Sangat.

Tapi kalau dia sudah berpaling ke laki-laki lain bagaimana?

Yasudah, pikirku. Game over. Aku akan tetap meyakinkannya kalau aku mencintainya, tapi bila dia dengan laki-laki lain, aku hanya bisa diam, tersenyum, seperti anak kecil. Ini 'kan salahku.

Aku mengambil tasku, dan mau berangkat, memakai sepatu. Haibara berdiri disampingku, dan aku berdiri.

Tiba-tiba dia menyetakku menghadap dirinya, memegang kedua bahuku, dan dengan tangannya membandingkan tinggi kami.

"Kok, tinggimu bertambah banyak sekali, Kudou?"


Thanks to :

Asakura Yuki, Sha-chan anime lover (Hm, still a mistery. Liat next chap yaa!), Fhyka RanGranger, Infaramona

Conan's CHAPTER! Maksudnya, pake POVnya Conan gitu.

Heheheheheheehehehe *cengengesan*

Kalo ada yang OOC, bilang ya. Seneng banget deh kalo ada yang kasih tau, jadinya 'kan enak.

Kalo udah baca, klik review!