You're Mine

Chapter 1

Oh Sehun and Xi Luhan (GS)

AU, Romance || Chaptered

2015©Summerlight92

.

.

.

Sehun memandangi sosok gadis yang duduk di depannya. Gadis bersurai cokelat, dengan mata rusanya dan bibir merah muda alami. Gadis yang sudah menarik perhatian Sehun hanya dalam kurun waktu 3 detik. Sejak lelaki itu menginjakkan kakinya di kedai ramyeon favoritnya semasa kuliah, yang terletak di kawasan Myeongdong.

"Siapa namamu?" tanya Sehun. Gadis itu mendongak, menatapnya dengan ekspresi sulit diartikan. Bingung sekaligus tersinggung—mungkin. Bukankah sikap Sehun barusan terkesan kurang sopan? Apalagi mereka tidak saling mengenal—ralat, belum saling mengenal satu sama lain.

"Xi Luhan."

"Kau orang China?"

Gadis yang diketahui bernama Luhan itu mengangguk kecil, lalu kembali menyantap ramyeon miliknya yang belum habis. Sementara Sehun, ia masih terdiam dengan posisi duduk bersedekap sambil memandangi Luhan. Ada perasaan menggelitik saat ia melihat tingkah Luhan seperti anak kecil kala menyantap ramyeon itu.

"Kau bilang ... kau baru saja mendapat kesialan. Ponselmu dicuri dan satu-satunya temanmu yang tinggal di sini ternyata sudah pindah dari apartemen lamanya."

"Bagaimana kau bisa tahu?" Luhan memicingkan matanya. "Kau menguping pembicaraanku dengan bibi pemilik kedai tadi, ya?"

Sehun merotasikan bola matanya malas. "Aku tidak sengaja. Siapa suruh kau bercerita dengan suara keras?"

Luhan mengerjap lucu, setelahnya ia tersenyum kikuk. Sehun nyaris tak berkedip saat melihat ekspresi Luhan. Gadis itu tampak menggemaskan.

Sehun berdeham pelan untuk mengusir perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dalam dirinya. Laki-laki itu kembali fokus pada tujuan semula.

"Namaku Oh Sehun." Sungguh, ini bukan gaya Sehun. Seumur-umur baru kali ini ia yang lebih dulu mengajak seorang gadis untuk berkenalan. Biasanya para gadis itulah yang mengenalkan diri mereka di hadapan Sehun.

Dan Sehun sedikit tidak terima karena Luhan hanya bereaksi datar, mengangguk kecil, malah tetap fokus pada semangkuk ramyeon itu.

"Apa kau butuh tempat tinggal?"

"Kau mau membantuku mencari penginapan?" tanya Luhan dengan mata berbinar.

"Bukan penginapan, tapi rumahku. Kau bisa tinggal di rumahku."

"Tinggal di rumahmu?"

Sehun mengangguk. "Aku juga bisa membantu mencari keberadaan temanmu itu. Asalkan kau juga bersedia membantuku."

Dahi Luhan berkerut. "Kau sedang melakukan negosiasi denganku?" tanyanya dengan tatapan tak percaya. Ayolah, mereka baru saja bertemu kurang dari satu jam dan Sehun dengan mudahnya menawarkan sesuatu yang menurut Luhan—berlebihan, tetapi ia tak mau munafik jika tawaran itu menggiurkan. Mengingat kondisinya sekarang yang sedang terdesak, berada di tempat asing dengan uang saku seadanya. Ponselnya dicuri, ditambah lagi satu-satunya teman yang ia kenal tidak lagi tinggal di apartemen, sesuai alamat yang tertulis pada notes-nya.

"Bagaimana?"

Luhan belum menjawab. Gadis itu masih berpikir keras, sekedar meyakinkan diri untuk menerima tawaran Sehun, walau sebenarnya ia masih ragu. Kira-kira bantuan apa yang diinginkan Sehun darinya?

"Kalau aku jadi kau, aku akan menerimanya tanpa pikir panjang. Apalagi jika terjebak dalam situasi di mana aku tak bisa menghubungi siapapun karena ponselku dicuri. Lalu temanku ternyata pindah dari apartemen lamanya dan aku tidak tahu di mana ia tinggal sekarang. Belum lagi uang saku seadanya yang kumiliki saat aku berada di tempat asing seperti ini," jelas Sehun panjang lebar. Sengaja mempengaruhi Luhan.

"Kau benar-benar mendengar semuanya, ya?"

Sehun mengangguk, disertai seringaian kecil. "Kalau ada seseorang yang berbaik hati menawarkan bantuan, tanpa pikir panjang aku akan menerimanya. Daripada aku harus berakhir menjadi gelandangan di negara orang," lanjutnya pantang menyerah.

Luhan mencibir sikap percaya diri Sehun.

Mana bisa dikatakan baik hati jika kau yang menawarkan bantuan itu juga mengharapkan bantuan dariku? Licik.

"Baiklah." Lelah berpikir, Luhan akhirnya menerima bantuan yang ditawarkan Sehun. Masa bodoh dengan bantuan apa yang diinginkan Sehun darinya. Untuk saat ini, Luhan butuh tempat tinggal. Ia tidak mau berakhir menjadi gelandangan, seperti yang diucapkan lelaki itu.

Sehun tersenyum penuh kemenangan. "Bagus. Sekarang, ikut aku."

Luhan mengangguk pasrah. Ia berdiri dari posisinya—melakukan hal serupa dengan Sehun yang bahkan sudah berjalan lebih dulu di depannya. Luhan menarik kopernya dan melangkah gontai, mengikuti Sehun yang berjalan menuju sebuah mobil mewah yang terparkir di luar kedai.

.

.

"Kita sudah sampai."

Suara itu berhasil membuyarkan lamunan Luhan. Gadis itu masih bertahan di dalam mobil, sementara laki-laki yang membawanya ke tempat menakjubkan itu—sebuah rumah mewah yang berada di daerah Gangnam, sudah turun dari mobil lebih dulu. Dalam waktu 1 menit, Luhan masih sibuk memandangi bagian depan rumah mewah itu, dari posisinya yang duduk di jok belakang.

Luhan akhirnya tergugah untuk segera turun, setelah melihat supir itu berjalan mendekati bagasi untuk mengeluarkan kopernya.

"Biar aku saja," tolak Luhan ketika supir itu hendak membawakan kopernya.

Belum sempat menyentuh kopernya, tangan Luhan terlanjur ditarik Sehun. Gadis itu terkesiap, sementara Sehun terus menariknya memasuki rumah. "Itu memang sudah tugasnya," ucap Sehun merespon raut bingung di wajah Luhan, sambil melirik sekilas pada supir pribadinya agar tetap melanjutkan perintahnya—membawakan koper milik Luhan.

Luhan hendak mengeluarkan protes, tetapi bibirnya langsung terkatup rapat saat kedatangan mereka disambut beberapa pelayan di rumah itu. Luhan masih memandangi beberapa pelayan yang terlihat masih muda itu, sebelum beralih pada sosok perempuan setengah baya yang berjalan dari arah tangga.

"Selamat datang, Tuan Sehun." Perempuan itu menyambut Sehun dengan ramah. "Bagaimana pekerjaan, Tuan? Apa semua berjalan lancar?"

"Seperti biasa, Bi. Pekerjaan itu membuatku lelah," jawab Sehun seadanya. Ia melirik sekilas ke arah Luhan yang masih sibuk memandangi sekeliling. Sehun sedikit menunduk, lalu berbisik lembut di telinga Luhan. "Kau sedang melihat apa?"

Bulu roma Luhan berdiri saat ia merasakan terpaan napas Sehun di tengkuknya. Belum sempat ia menghindar, Sehun lagi-lagi bersikap di luar dugaan. Merangkul pundaknya dengan posesif.

"Kuperkenalkan pada kalian ...," Sehun melirik Luhan yang masih berusaha melepaskan diri dari rangkulannya. "Gadis ini adalah kekasihku."

Bola mata Luhan membulat sempurna. Apa yang kau katakan, Oh Sehun?!

"Namanya Xi Luhan. Dia baru saja datang dari China dan untuk sementara waktu akan tinggal di rumah ini," lanjut Sehun tak memedulikan reaksi Luhan yang tampak shock dalam rangkulannya.

"Kalian harus melayaninya dengan sebaik mungkin," titah Sehun mengakhiri sesi perkenalan Luhan di hadapan para pelayan di rumahnya.

"Baik!"

"Bibi, tolong antarkan Luhan ke kamarnya," ucap Sehun pada perempuan setengah baya yang tidak lain adalah kepala pengurus rumah, sekaligus pengasuhnya sejak kecil—Jung Jiyoon. Sehun menunjuk pintu kamar yang akan ditempati Luhan.

"Baik." Bibi Jung tersenyum ramah pada Luhan. "Mari Nona. Saya antar ke kamar Anda."

Kesadaran Luhan belum kembali. Gadis itu masih berdiri mematung dengan tatapan bingung yang ditujukan untuk Sehun. Sadar arti tatapan Luhan untuknya, Sehun kembali berbisik, "Nanti akan kujelaskan semuanya."

Luhan menarik napas panjang. Walau belum sepenuhnya mengerti situasi yang diciptakan Sehun, paling tidak kalimat yang baru saja didengarnya sedikit melegakan.

Luhan pun menuntun langkahnya ke arah tangga, mengikuti Bibi Jung yang sudah berjalan di depannya.

.

.

Sehun masuk ke kamarnya sambil menenteng jas formal yang ia lepas sejak turun dari mobil. Tak lupa ia melepas dasinya, sebelum berbaring di atas ranjang untuk menyamankan tubuhnya yang terasa pegal.

Rasa kantuk mulai menguasai Sehun, hingga memaksa matanya untuk lekas tertutup agar ia bisa segera pergi ke alam mimpi. Namun belum ada 15 menit Sehun tertidur, dering ponsel yang keras membangunkannya.

Decakan kesal keluar dari bibir Sehun, selagi tangannya merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Ekspresi Sehun berubah malas ketika melihat nama kontak yang tertera di layar. Park Chanyeol, kakak sepupunya.

"Ada apa, Hyung?"

"Oh, apa kau sedang tidur?" Suara berat si penelepon yang disertai kekehan pelan membuat Sehun mendengus kesal.

"Tanpa kujawab kau sudah bisa menebak dari suaraku 'kan?"

Sesuai dugaan, kali ini lawan bicaranya tertawa keras.

"Ngomong-ngomong, tadi setelah jam makan siang kau tidak kembali ke kantor. Tidak biasanya kau pulang lebih awal."

"Ada sedikit urusan," jawab Sehun singkat. "Ada apa meneleponku, Hyung?"

"Seperti biasa. Ibu menyuruhmu datang menemui gadis pilihannya."

"Astaga. Bibi benar-benar ...," Sehun menggeram frustasi sambil mengacak rambutnya. "Katakan pada Bibi, tidak perlu lagi mengatur perjodohan untukku. Aku sudah memiliki kekasih."

"APA?!"

Sehun refleks menjauhkan ponselnya saat mendengar teriakan keras Chanyeol yang memekakkan telinga.

"Kau bercanda? Kau sudah mempunyai kekasih?"

"Em. Secepatnya akan kuperkenalkan pada kalian."

"Kau sedang tidak berbohong 'kan?"

"Tidak, Hyung. Aku sungguh-sungguh. Sampaikan pesanku ini pada Bibi. Berhenti mengatur perjodohan untukku karena aku sudah mempunyai kekasih."

"Baiklah, baiklah. Akan kusampaikan pada Ibu. Tapi ... janji ya? Kau harus membawa kekasihmu itu di hadapan kami secepatnya."

"Iya."

PIP!

Sehun mengakhiri obrolannya dengan Chanyeol, lalu melempar ponselnya sembarang ke atas ranjang. Gara-gara ditelepon kakak sepupunya, rasa kantuk Sehun seketika lenyap.

Teringat pengakuannya terhadap Chanyeol jika sudah memiliki kekasih, Sehun sempat berpikir jika pengakuannya itu sedikit terburu-buru. Bukankah ia belum membicarakan rencananya itu pada Luhan?

Sehun melirik jam yang terpasang di salah satu sudut ruangan. Sebentar lagi jam makan malam. Ia pun bergegas ke kamar mandinya untuk membersihkan tubuh yang terasa lengket, setelah seharian bekerja. Dan setelah mandi, barulah ia pergi menemui Luhan untuk membahas sebuah rencana yang sudah terlintas dalam kepala Sehun.

Sehun membutuhkan bantuan gadis itu.

.

.

"Ng ... maaf ..."

"Panggil saya Bibi Jung, Nona." Bibi Jung tersenyum ke arah Luhan. Gadis yang diakui sebagai kekasih tuannya itu terlihat malu dengan wajah merona. Luhan sedang duduk di atas ranjang berukuran queen size, sementara Bibi Jung tampak sibuk memeriksa kondisi kamar.

"Sudah berapa lama Bibi bekerja di rumah ini?"

"Hampir 30 tahun, Nona. Saya bekerja di keluarga Oh sejak umur saya 20 tahun. Sebelum Tuan Sehun lahir, pekerjaan saya sebagai pelayan, kemudian berganti menjadi pengasuh Tuan Sehun. Setelah kedua orang tua beliau meninggal, saya menjadi kepala pengurus rumah."

"Orang tua Sehun sudah meninggal?" Luhan memekik kaget, namun kemudian ia menyesal atas reaksinya yang membuat Bibi Jung bingung. Luhan lupa jika semua orang di rumah ini mengenalnya sebagai kekasih Sehun.

"Sehun belum menceritakannya padaku, Bi," jawab Luhan berusaha untuk tetap tenang. Sengaja memasang ekspresi sedih agar memperjelas bahwa ia benar-benar baru mendengarnya dari Bibi Jung, bukan dari Sehun.

Beruntung Bibi Jung tidak berpikiran macam-macam. Ia hanya mengangguk dengan senyuman samar.

"Bibi tidak keberatan untuk menceritakan sedikit tentang Sehun padaku?"

"Eh?"

"Maksudku ... aku ingin mendengar sedikit tentang Sehun yang belum kuketahui, seperti masa lalunya. Sehun tidak pernah menceritakannya padaku. Kupikir karena Bibi Jung sudah lama bekerja di sini, Bibi pasti tahu tentang masa lalu Sehun." Luhan nyaris kesulitan bernapas saat berbicara dengan tempo cepat layaknya laju kereta. Masa bodoh dengan kecurigaan yang muncul dalam benak Bibi Jung, Luhan hanya ingin tahu siapa sosok Sehun yang sudah seenaknya mengklaim dirinya sebagai kekasih laki-laki itu.

"Tuan dan Nyonya adalah orang yang sangat baik. Mereka sangat menyayangi Tuan Sehun sejak beliau lahir." Bibi Jung akhirnya bersedia menceritakan masa lalu Sehun pada Luhan. Sebenarnya ia ragu untuk menceritakannya, tapi mengingat Luhan adalah kekasih tuannya, tak ada salahnya berbagi cerita dengan gadis itu.

Astaga, seandainya Bibi Jung tahu kalau Luhan bukan kekasih Sehun.

"Sejak kecil, Tuan Sehun dibesarkan dengan kasih sayang orang tuanya. Saya kagum pada Tuan dan Nyonya. Tidak peduli sesibuk apa pekerjaan yang mereka miliki, mereka tetap mengutamakan kepentingan Tuan Sehun."

"Orang tuanya benar-benar sibuk?"

"Tentu saja, Nona. Tuan Oh Seungjae merupakan pendiri Oh Corporation, sebuah perusahaan properti yang sekarang menjadi terbesar di negara ini. Sementara Nyonya Kim Hyunjoo adalah seorang designer. Beliau memiliki butik di daerah Cheongdam yang kini dikelola oleh Nyonya Oh Hana, kakak Tuan Seungjae. Dan Tuan Sehun sendiri sekarang menjabat sebagai CEO Oh Corporation."

Leher Luhan terasa tercekat. "CEO?!""

Bibi Jung mengernyit heran, "Nona tidak tahu pekerjaan Tuan Sehun?"

Tentu saja tidak tahu. Aku baru mengenalnya dua jam yang lalu. Luhan meringis lebar, sebelum akhirnya tersenyum simpul. "Dia tidak pernah membahas pekerjaannya padaku, Bi."

Di luar dugaan, Bibi Jung justru tersenyum mendengar pernyataan Luhan yang jelas-jelas adalah fakta. "Saya rasa Tuan Sehun sengaja melakukannya. Tuan Sehun pasti menginginkan gadis yang tulus mencintainya, tanpa memandang statusnya sebagai CEO perusahaan besar seperti Oh Corporation. Selama ini banyak para gadis yang mendekatinya dengan berbagai motif, salah satunya karena kekayaan yang dimiliki Tuan Sehun," jelas Bibi Jung.

"Be-Benarkah itu?"

Bibi Jung mengangguk. "Sebenarnya saya terkejut melihat Tuan Sehun tiba-tiba membawa seorang gadis ke rumah ini, apalagi diakui sebagai kekasih. Sebelumnya, Tuan Sehun tak pernah mengajak seorang gadis ke sini. Tuan Sehun termasuk orang yang cuek dalam urusan percintaan, beliau lebih fokus dengan pekerjaannya sebagai CEO."

Luhan tidak percaya atas pengakuan Bibi Jung. Tidak menduga jika laki-laki setampan Sehun sangat cuek dalam urusan percintaan. Tunggu! Apa barusan aku memuji ketampanan Sehun?

"Nona, Anda baik-baik saja?" Bibi Jung cemas saat melihat Luhan tampak menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah frustasi.

"Oh, aku baik-baik saja, Bi," jawab Luhan cepat. Takut menimbulkan spekulasi yang aneh-aneh dalam benak perempuan di depannya itu.

Bibi Jung bernapas lega, sebelum kembali tersenyum pada Luhan. "Saya senang, Nona yang menjadi kekasih Tuan Sehun," ucapnya kemudian yang membuat dahi Luhan berkerut. Belum sempat gadis itu meminta penjelasan, Bibi Jung terlanjur undur diri dari hadapannya, mengaku harus segera menyiapkan makan malam.

Luhan memandangi pintu kamar yang sudah tertutup itu. Otaknya kembali dipaksa berpikir untuk mencerna kalimat terakhir yang dilontarkan Bibi Jung.

.

.

Setelah mendengar sedikit cerita dari Bibi Jung, Luhan memutuskan keluar kamar. Ia sempat melihat taman dari arah balkon, dan tanpa ragu Luhan langsung pergi ke sana. Penilaiannya memang tidak salah. Taman itu benar-benar luar biasa indah. Tatanan taman yang begitu apik dengan gaya Eropa, tak jauh berbeda dengan desain rumah Sehun. Suara gemericik dari air mancur menambah kesan sejuk, ditambah berbagai macam bunga warna-warna cerah yang sedang mekar.

"Rupanya kau di sini ..."

Luhan menengok ke belakang dan mendapati Sehun sedang berjalan mendekatinya. Laki-laki itu kemudian duduk di sebelahnya.

"Aku tadi ke kamarmu, tapi kau tidak ada di sana," lanjut Sehun. Kemudian ia melakukan hal serupa dengan Luhan, menatap ke arah air mancur yang berada di tengah taman.

"Jadi ...," Luhan tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. "Bisa kau jelaskan kenapa kau memperkenalkan aku sebagai kekasihmu di hadapan semua orang?"

Sehun terkikik melihat reaksi Luhan yang menurutnya malah tampak lucu.

"Aku sedang tidak ingin bercanda, Oh Sehun."

"Baik, baik." Sehun menghentikan tawanya sebelum memancing emosi Luhan. "Ini ada kaitannya dengan bantuan yang kuinginkan darimu, Nona Xi."

Luhan terdiam sejenak, berpikir untuk memahami maksud perkataan Sehun, sampai akhirnya ia melihat seringaian yang tercetak jelas di wajah lelaki itu.

"Kau ingin aku berpura-pura menjadi kekasihmu?"

"Tepat sekali." Sehun tersenyum penuh arti. "Tidak kusangka kau sepintar itu, Nona Xi."

"Kau gila!" semprot Luhan seketika emosi. "Kita tidak saling mengenal dan bahkan baru bertemu ta—mmmphhh ..."

"Kecilkan suaramu!" Sehun membekap mulut Luhan sebelum gadis itu berbicara panjang lebar yang nantinya berpotensi menggagalkan rencananya.

"Hah ...," Luhan menarik napas panjang-panjang setelah tangan Sehun tak lagi membekap mulutnya. Gadis itu memalingkan wajahnya sambil bersedekap, tanda protes terhadap permintaan Sehun yang dinilainya tak masuk akal dan menggelikan.

"Aku hanya ingin menghindari perjodohan yang terus-menerus diatur oleh bibiku." Sehun mulai menceritakan alasan di balik permintaan yang ia ajukan pada Luhan. "Sudah lama aku memikirkan ide ini. Jika aku membawa seorang gadis, lalu aku kenalkan sebagai kekasihku di hadapan keluarga bibiku, aku yakin bibiku akan berhenti mencarikan gadis yang akan dijodohkan denganku."

"Kalau kau sudah lama memikirkan ide itu, kenapa bukan gadis lain saja yang kau pilih?" Luhan memberengut kesal. "Kenapa harus aku? Yang jelas-jelas baru kau kenal dua jam yang lalu."

Sehun tertawa, dan tidak sadar jika tawanya itu membuat wajah Luhan merona. Gadis itu tidak mau munafik jika kadar ketampanan Sehun semakin meningkat saat lelaki itu tertawa renyah seperti sekarang.

"Aku juga berpikir begitu, tapi ...," Sehun terdiam sejenak, mengamati Luhan lekat-lekat. Haruskah ia mengaku jika gadis itu telah menarik perhatiannya dalam waktu 3 detik? Sejak ia pertama kali melihat Luhan di kedai ramyeon tadi.

Tidak. Itu sama saja membuka aib sendiri.

"Sudahlah. Jangan tanyakan alasannya kenapa aku memilihmu," ucap Sehun final. "Kau harus membantuku. Setelah itu, aku baru mau membantu mencari keberadaan temanmu."

"Hei, itu tidak adil." Luhan memprotes. "Jelas-jelas tadi kau yang menawarkan bantuan lebih dulu."

"Aku tak punya pilihan. Cepat atau lambat bibiku akan segera tahu kalau aku sudah mempunyai kekasih," ucap Sehun santai. "Tadi aku sudah menceritakannya pada kakak sepupuku yang kebetulan menelepon."

What the—Luhan mengurut hidungnya sambil menggeram frustasi. "Aku bahkan belum menyetujuinya."

"Sengaja. Jika aku sudah mengatakannya lebih dulu, kau tak punya pilihan untuk menolak permintaanku," balas Sehun telak.

Ugh, benar-benar menyebalkan!

"Beri aku waktu berpikir."

"Baiklah, 3 hari."

"Tidak, 1 minggu."

Sehun menggeleng, "Itu terlalu lama."

"6 hari?"

"..."

"5 hari?"

"..."

"4 hari?"

"..."

Luhan memberengut, "Baiklah, 3 hari."

Sehun tersenyum puas. "Bagus. Kita bicarakan lagi besok," ucapnya sambil mengusap kepala Luhan, sebelum beranjak dari taman, meninggalkan gadis itu yang masih terbengong di tempatnya.

Tangan Luhan bergerak ke puncak kepalanya. Aneh, sentuhan tangan Sehun masih terasa dan entah kenapa membuat jantungnya sedikit berdebar. Tanpa sadar bibir Luhan melengkung sempurna, "Hangat."

.

.

Seorang pelayan terlihat memasuki ruang kerja Sehun, sambil membawa secangkir teh herbal untuknya. Semua orang yang bekerja di rumah itu memang sudah hapal dengan kebiasaan Sehun, gemar meminum teh herbal untuk menghilangkan rasa lelah usai seharian bekerja di kantor.

"Apa makan malam sudah siap?"

"Sebentar lagi, Tuan."

Sehun mengangguk-angguk, lalu kembali bertanya sebelum pelayan itu keluar dari ruang kerjanya. "Apa Luhan masih di taman?"

"Tadi saya melihat Nona Luhan sudah masuk ke kamarnya, Tuan."

"Benarkah?"

Pelayan itu mengangguk, "Perlukah saya memanggil Nona Luhan?"

"Tidak. Biar aku saja," tolak Sehun halus. "Kau boleh pergi."

"Baik." Pelayan itu membungkuk sopan sebelum keluar dari ruang kerja Sehun.

Pandangan Sehun beralih pada secangkir teh herbal yang sudah diletakkan di atas mejanya. Aroma yang menguar dari teh herbal itu membuat Sehun lebih rileks. Ia hentikan sejenak aktivitasnya yang masih berkutat dengan pekerjaan, menyesap teh herbal itu secara perlahan.

Sehun menyunggingkan bibirnya kala bayangan Luhan yang kesal kembali melintas dalam kepalanya.

Luhan harus berperan sebagai kekasih Sehun. Di depan keluarga bibinya, bahkan bila perlu di depan teman, rekan kerja, dan semua orang yang bekerja di rumah Sehun. Supaya lebih meyakinkan dan bibinya tidak akan mengatur perjodohan untuk Sehun lagi. Itu poin pentingnya.

Tiap kali mengingat ekspresi Luhan saat memperdebatkan tenggang waktu yang ia berikan untuk berpikir, tawa Sehun selalu keluar. Ekspresi Luhan tampak menggemaskan, seperti anak kecil.

Puas menikmati teh herbalnya, Sehun memilih menghentikan sejenak aktivitasnya di ruang kerja. Ia melangkah keluar, lalu berjalan ke kamar Luhan yang berada di lantai 2.

"Luhan?" Sehun mengetuk pelan pintu kamar Luhan. "Ini aku."

Hening. Tak ada respon yang terdengar dari dalam. Sehun kembali mengetuk pintu dan lagi-lagi hanya kediaman yang ia peroleh.

"Apa dia tertidur?"

Sehun menarik kenop dan sedikit terkejut saat mengetahui pintu dalam kondisi tidak dikunci. Tanpa menunggu lagi, Sehun langsung masuk ke kamar Luhan. Ia tidak melihat Luhan di atas ranjang—dalam artian tertidur seperti yang ia pikirkan. Sehun memeriksa balkon. Luhan tidak ada di sana. Lalu sebuah tempat lain terlintas dalam kepalanya. Apalagi setelah ia ingat sempat mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.

"Mungkin dia sedang man—" gumaman Sehun terhenti sejenak kala mendapati Luhan tiba-tiba keluar dari kamar mandi.

Jangan heran jika tubuh Sehun seketika menegang. Gadis itu keluar hanya dengan sehelai handuk yang membalut tubuhnya. Wajahnya dipenuhi bulir-bulir air, dan rambut yang masih basah, menandakan bahwa Luhan baru saja selesai keramas.

Tak hanya itu, perhatian Sehun langsung mengarah pada bahu Luhan yang terekspos dan kaki jenjangnya yang mulus. Balutan handuk itu membuat lekukan tubuh Luhan tercetak sempurna.

Fantasi liar Sehun seketika muncul, kalau handuk itu terlepas maka ...

"KYAAAA!"

.

.

.

-TO BE CONTINUED-

A/N : Terima kasih atas respon positif untuk FF ini :)

Eniwei, kalau ada yang mikir kenapa Luhan di sini fasih Bahasa Korea (padahal dia baru pertama kali ke Korea), nanti saya jelaskan di chapter selanjutnya ^^

Terima kasih bagi yang sudah review/follow/favorites FF ini. Sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^