Chapter 1!!! *lempar confetti. Terima kasih untuk yang sudah review, Chi senang ada tanggapan atas fict chi yang sedikit aneh ini... apalagi penuh OC, baiklah inilah balasan Review !!

Mattgasm : nggak papa kak, chi coba buat fict tentang cinta segitiga jadi jawabannya hanya ada di Chapter terakhir, kukuku....

Whatever : makasih atas dukungannya, sekarang sudah di apdet !!

Numpang Lewat : terima kasih pendapatnya, ehehehe, maklum chi jarang buat fict...

Orange burst : makasih atas reviewnya, ini sudah di apdet silakan membaca...

Reyska : Iya pak SBY kan mantan tentara jadi dibuat sedikit 'sangar', ehehehe...

Yak, itu tadi balasan review, sekali lagi Chi ucapkan terima kasih, dan kalo ada kesalahan mohon maaf ya. Ok happy reading !!

=*=

Summary : Pada siapa aku harus Percaya ???

OC : Indonesia ; Pertiwi Puspa bangsa, Holland ; Cornelis Van den Berg, Japan ; Honda Kiku.

Rated : T saja kalo M terlalu jauh.

Pairing : Holland x Indonesia, Indonesia x Japan.

Warning : OC, Gaje, OOC & bla,bla,bla... (kalo tak suka ya tak usah baca, kalo cinta indonesia baca ya!!)

Disclaimer : Hetalia Axis Powers belongs to Hidekaz Himaruya


Lalu...

Yang lalu...

Biarlah berlalu...

= Three Fate =


= Chapter 1. The Past & The Envy =

'Holland?'

Bibir kemerahan Pertiwi sedikit terbuka, terkejut, melihat seorang pemuda tegap berambut abu-abu tua dengan bola mata keabu-abuan masuk keruang kerjanya itu. Sudah terlalu lama ia tak lagi melihat wajah itu atau lebih tepatnya tak ingin mengingat wajah itu.

"Goeiemorgen, Indonesia..." Ucap pemuda itu lembut namun tegas.

"Goeiemorgen, Cornelis" Balas Pertiwi cepat, malas memanggil nama sang pemuda.

"Pengetahuanmu tentang bahasa belanda tidak berkurang ya?" Tanya Holland sambil duduk dikursi di hadapan Pertiwi.

"Hmm" Jawab Pertiwi malas, mungkin karena rasa bencinya yang berlebihan.

"Tapi kenapa kau memanggilku 'Cornelis', tak bisakah kau memanggilku Holland?" Holland bertanya pada Pertiwi dengan wajah canda.

"Jangan Bermimpi..." Jawab Pertiwi lagi.

Holland hanya tertawa hampa, tahu apa yang ia katakan salah.

"Apa tujuanmu datang kemari? Merebut ku lagi?" Tanya Pertiwi sinis sambil membolak balik jurnal kecil di samping laptopnya.

"Kenapa kau berkata begitu?" Tanya Holland balik, mungkin ini kedua kalinya ia menjejakkan kaki di Indonesia yang telah merdeka.

"Kenapa? Tanya dirimu sendiri" Kata Pertiwi sambil mulai membuka laptopnya dan mulai mengetik sesuatu.

"Indonesia, Kau sudah dewasa, berhentilah bersikap kekanakan seperti dulu" Ujar Holland sambil memainkan sebuah pena emas yang berukir tulisan Holland di ujungnya.

"Lagi pula kau sudah tumbuh jadi gadis yang sangat manis" Goda Holland sambil tersenyum, itu membuat pipi Pertiwi bersemu merah karena malu.

"Berhentilah menggodaku Cornelis!!!" Sergah Pertiwi sambil menutupi wajahnya yang kemerahan menahan malu di balik laptop berwarna hitam itu.

"Lho, aku tidak menggodamu, kau memang cantik, siapa bilang kau jelek?" Canda Holland sambil tersenyum kembali, entah sudah berapa lama ia tidak bisa menggoda gadis di depannya yang kini sudah tumbuh menjadi negara yang besar dan tentu saja Cantik.

Pertiwi hanya terdiam sambil menahan malu wajahnya sudah memerah karena perkataan Holland, tapi perkataan Holland memang susah di hindari, entah sudah berapa negara yang pernah bertemu dengannya berkata ia cantik, bahkan ketika bertemu dengan Amerika, Alfred berkata dengan terang-terangan kalau ia sangat manis dan cantik, entah itu hanya rayuaan atau benar-benar tapi Pertiwi hanya tersenyum ketika mendengarnya. Sekarang ruang kerja milik Pertiwi menjadi sepi, hanya terdengar suara ketikan pada keyboard laptop Pertiwi, sedangkan Cornelis berjalan menyusuri rak-rak buku menemukan beberapa buku yang membuat dirinya tertarik dan beralih untuk mengambil buku itu. Di tatapnya buku tua yang tebal itu dan mata abu-abu tuanya menatap judul buku tua itu satu abjad demi satu abjad.

"History of Indonesia" bisiknya kecil sebelum berbalik melihat Pertiwi yang sedang mengetik sesuatu di laptopnya.

Sesaat Pertiwi tidak menyadari bahwa pemuda tampan bermata abu-abu memperhatikanya, namun beberapa menit kemudian ia memandang malas sang pemuda dan berseru.

"Tak bisakah kau memandangku dengan cara biasa?!" Tanya nya dengan malas, entah berapa lama ia bisa menahan amarahnya di depan sang pemuda.

Holland hanya melihatnya sambil terdiam, tanpa bicara satu katapun. Kakinya melangkah mendekati Pertiwi, kemudian duduk kembali di kursinya tadi, kemudian diletakkannya buku tebal itu di atas meja Pertiwi, sungguh apa yang dipikirkannya.

"Maukah kau membaca Buku ini bersamaku?" Tanya Holland dengan selembut mungkin, takut gadis di hadapannya marah.

"Tapi jangan salahkan aku jika nanti aku memukulmu" Jawab Pertiwi sinis.

//Membaca buku sejarah dengannya? Apa dia sudah kehilangan otak??//Batin Pertiwi, entahlah tapi sang 'Musuh utamanya' itu mengajaknya duduk berdua hanya sekedar untuk membaca buku sejarah yang berisi tentang penderitaannya. Aneh.

"Ya, aku akan berhati-hati" Kata Holland dengan sebuah senyuman yang menghiasi wajahnya.

Dan lembar pertama-pun terbuka...

=*=

Flashback to the past...

= Era Perdagangan =

"Apa? Kita tidak bisa mendapat rempah-rempah dari Lisabon?" Tanya seorang pemuda yang masih cukup muda dengan wajah yang panik.

"Iya tuan Holland, para pedagang Portugis tidak mau memberi akses kepada kita" Ujar salah satu petinggi di ruang rapat itu.

"Hmm, kalau begitu kita harus mencari sendiri rempah-rempah itu" Kata Holland muda dengan semangat, seakan mendapat sebuah ide yang cemerlang.

"Tuan, saya pernah mendapat kabar bahwa di suatu daerah di dunia timur memiliki banyak rempah-rempah" Kata petinggi yang tadi berbicara itu.

"Kalau begitu mulai lah pelayaran itu, angkat Cornelis de Houtman untuk menjadi pimpinan pelayaran kali ini, dan aku akan ikut!" Seru Holland dengan tegas.

=*=

Pada tahun 1596 itulah di bawah pimpinan yang bernama sama, Cornelis de Houtman, seseorang berpengalaman yang diperintahkan Holland, Indonesia kedatangan para pedagang Belanda dan mereka tiba di Banten.

"Tuan sepertinya ini tempat itu" Ujar sang kapten Cornelis de Houtman.

"Benar-benar ramai" Ucap Holland, matanya tak lepas memandang kearah bandar Banten yang ramai.

"Benar tuan, beberapa orang memang mengatakan inilah tempat perdagangan terbesar dari daerah timur" Kata Cornelis de Houtman semangat melihat Tuannya senang.

"Siapa kalian!!??" Terdengar suara teriakan gadis muda yang mungkin masih berusia kurang dari 13 tahun, rambutnya hitam panjang sedikit awut-awutan dan bola matanya coklat tua, nampaknya ia adalah pemilik semua hal yang ada di sini.

"Maaf nona kecil, tapi tuan kami tidak ada urusan dengan anda" Kata Cornelis de Houtman sambil memandang kearah gadis kecil itu.

"Aku Cuma bertanya siapa kalian!!!" Seru gadis kecil itu, Holland hanya bisa diam sambil memandang gadis kecil itu.

"Kami dari Holland, dan tolong izinkan kami menjejakkan kaki di pulaumu ini" Ujar Holland tiba-tiba, mengagetkan semua orang yang ada di sana, namun nadanya terlihat sangat sopan, seperti sangat menghargai si gadis kecil itu.

"Oohh, kalian bukan dari Portugis itu? Yah terserah lah" Kata gadis kecil itu sambil berbalik kemudian mengibas-ngibaskan tangannya di udara.

"Maaf nona bisa aku tahu siapa namamu?" Tanya Holland tiba-tiba, membuat gadis kecil itu berhenti berjalan sejenak sebelum berkata.

"Namaku? Entahlah, mereka tidak pernah memanggilku dengan nama" Kata gadis itu sambil kembali berjalan, namun langkahnya harus tercegat kembali ketika Holland memanggilnya.

"Nona bolehkah aku memanggilmu Indische?" Tanya Holland lagi.

"Terserah kalian" Jawabnya singkat sambil kembali berjalan di atas tanah bandar yang penuh pasir dengan kaki telanjang, seorang gadis yang kelihatan innocent itulah cinta pertama Holland jika kau tahu.

Dari Bandar Banten mereka menuju ke timur dan mereka kembali dengan membawa rempah-rempah yang sangat banyak. Mereka memutuskan untuk membentuk serikat dagang yang dikenal dengan nama VOC atau Vereenigde Oost indische Compagnie dan dalam bahasa Indonesia serikat dagang ini disebut dengan kompeni Belanda, yang mereka bentuk untuk mengumpulkan keuntungan sebanyak-banyaknya dan untuk melawan Spanyol atau Portugis.

Pada tahun 1618, Jan Pieterzoon Coen datang ke Jayakarta dan meminta izin pangeran Jayakarta untuk membuat benteng disana. Tanpa sepengetahuan Holland, Jan Pieterzoon Coen membakar kota Jayakarta dan menjadikannya kota Batavia. Tidak hanya itu, ia juga mengadu domba kerajaan-kerajaan di Indische dan itu yang membuat Indische marah, wajahnya memerah mendengar berita itu, seketika ia naik pitam, ia segera berusaha bertemu dengan Coen tapi sayang ia hanya dianggap gadis kecil yang tak tahu apa-apa. Waktu terus berjalan dan ia mulai belajar dari Belanda tentang beberapa hal, yang pada awalnya ia tidak tahu dan jujur saja ia mulai belajar tentang cara berdagang atau mungkin beberapa keterampilan dan juga bahasa Belanda.

Pada akhirnya ia mendapat berita bahwa VOC di bubarkan dan Belanda menjadi sebuah kerajaan, dan keluar suatu pernyataan bahwa dirinya sebagai jajahan Kerajaan Belanda. Tahun pun berganti seiring dengan keinginannya belajar akan ilmu yang mungkin akan berguna baginya di masa mendatang, mimpi buruk pun datang. Mimpi buruk itu bernama Herman Willem Dandels, seorang Belanda yang menjadi gubernur jendral atas wilayah Indische, yang di beri tugas untuk menjaga Indische agar tak direbut Inggris atau Brittania.

"Nona Indische, saya akan menjaga nona agar tak direbut oleh Brittania, anda sangat berharga bagi kami" Ujar Dandels ketika datang ke tempat tinggal Indische, bermaksud membawa gadis yang kini berusia 15 tahun untuk tinggal bersamanya di Batavia.

"Baiklah aku terima, aku akan ikut denganmu" Jawab Indische parau, ia tahu ini adalah awal mimpi buruk panjangnya.

Dandels kemudian memulai mimpi buruk itu dalam sebuah pembangunan jalan dari Anyer hingga Panarukan, pembangunan jalan itu sudah merenggut ratusan nyawa penduduk pribumi, mungkin bagi Belanda hal itu adalah kesuksesan besar, tapi ketika Indische mendengar pembangunan jalan yang telah menelan korban jiwa yang teramat banyak, Indische hanya bisa berteriak memaki Dandels, mengutuknya dan mulai menangis keras, sadar yang kini terjadi bukan hal baik yang selama ini ditunggunya melainkan mimpi buruk yang sudah merenggut banyak korban jiwa, ia nyaris gila hingga akhirnya Holland yang baru saja dari medan perang bersama France dari perang melawan Brittania bertemu dengannya.

"KAU GILA HOLLAND!!! KAU KEJAM!!!!" Teriak Indische pada Holland sambil menangis, hatinya bagai tercabik begitu mengetahui tentang pembangunan jalan itu.

"Indische, ini demi kau, aku tidak ingin kau direbut oleh si brengsek Inggris itu, komohon maafkan aku" Suara Holland terdengar sangat sedih, tapi hanya itu yang bisa ia katakan.

"MAAF KATAMU!!! APA KAU TAHU, KAU SUDAH MEMBUNUH RAKYATKU!!!" Amuk Indische air matanya mengalir deras, pedih.

"Maafkan aku Indische, maaf..." Holland tak bisa lagi berkata-kata, yang Indische katakan benar, ia sudah membunuh rakyat dari sebuah daerah yang sangat ia cintai.

"KAU KEJAM HOLLAND!!! AKU BENCI KAU!!!" Teriak Indische hingga terdengar suaranya sedikit serak, Holland tak tahu apa yang bisa ia lakukan, namun ketika melihat tubuh Indische ambruk ia memeluk gadis itu perlahan, membenamkan wajah gadis itu ke dadanya, mencoba memberikan kehangatan pada hati gadis itu yang perlahan mulai beku.

"kau jahat...hiks...ak-aku benci...hiks...aku benci kau...Holland..." Kata Indische yang terisak-isak, tangannya memukul-mukul pelan badan Holland, namun tenaganya telah hilang, ia benar-benar sedih.

--

Flashback end

--

Pertiwi dan Holland terdiam dengan hal yang sedang mereka baca, Holland akhirnya mengambil langkah aman, memutuskan menutup buku tebal itu dan beralih menatap gadis yang kini telah tumbuh besar dan berganti nama sebagai Indonesia.

"Kau tidak berubah ya?" Kata Holland dengan senyum lembut di wajahnya.

"Oh ya? Tampaknya kau juga, sama saja" Kata Pertiwi dengan wajah memerah, malu karena mengingat kejadian yang dulu terjadi antara dirinya dan Holland.

Mereka kembali terdiam dan hanya membiarkan keheningan menyelimuti mereka bahkan suara detik jam besar diruangan itu dapat terdengar, hingga akhirnya keheningan itu lenyap karena suara ketukan pintu ruang kerja itu.

TOK TOK TOK

"Masuk" Ujar Pertiwi dengan suara yang sedikit keras sehingga orang yang mengetuk pintu itu dapat mendengarnya.

"Permisi.." Suara yang familiar di telinga Pertiwi terdengar, sesosok laki-laki berambut hitam dengan baju putih bersih masuk keruangan itu membuat Pertiwi dan Holland memandang kearahnya.

"Ah, Japan-kun?" Bisik Pertiwi dengan wajah yang memerah, bukan karena marah tapi karena perasaan terpendamnya pada pemuda Asia itu.

Ketika Japan melihat kearah Holland, Pertiwi dapat merasakan adanya aura yang berbeda dari keduanya, seperti aura persaingan. Hingga akhirnya Pertiwi berbicara dan mengajak mereka berdua ke kamar masing-masing, kamar yang akan mereka berdua tinggali selama beberapa minggu atau mungkin berbulan-bulan di Indonesia untuk kunjungan kerja dan mungkin juga untuk berekreasi. Pertiwi terlihat sangat akrab dengan Japan, mereka berjalan berdua sambil berbincang-bincang terkadang Pertiwi tertawa kecil mendengar perkataan Japan dan jika kau tahu Holland yang berjalan di belakang mereka berdua menatap kebersamaan mereka dengan tatap Cemburu.

= To Be Continue =


A/N : Akhirnya Chapter 2 selesai!! Mungkin chapter ini agak membosankan, soalnya Chi nulis tentang sejarah yang Chi baca di buku, yah kira-kira garis besar sejarahnnya gitu sih ehehehe, terus mungkin ada readers yang belum tahu kalo nama Indonesia sebelumnya adalah Indische atau Hindia Belanda, karena nama Indonesia baru terdengar tahun 1850-an, hingga akhirnya dipakai sebagai nama negara kita yang tercinta ini, terus Holland nya Chi ambil dari Holland Novak dari Eureka Seven, mungkin karena namanya sama, maaf kalo kurang suka. Terima kasih sudah membaca...

V

V

Review??