Disclaimer: Bukan punya saya

Genre: Romance, Drama

Rated: T

Warning: OOC, gaje, typo, dan sebagainya.


"Kalau begitu, kali ini aku akan benar-benar membuatmu jatuh cinta padaku..."

Pernyataan itu membuat jantung Cagalli serasa berhenti berdetak.

"Hah?!" Hanya itu tanggapan yang bisa Cagalli berikan. Otaknya tiba-tiba blank.

"Kuulangi... Kali ini aku akan benar-benar membuatmu jatuh cinta padaku," ujar Athrun dengan nada rendah. Bibirnya menyunggingkan seringai kecil.

Cagalli belum menanggapi. Masih terpaku di tempat. Athrun, masih dengan seringainya lalu berdiri tegak di depan Cagalli sambil bersedekap. Menunggu tanggapan dari Cagalli.

"A... Apa maksudmu?" tanggap Cagalli akhirnya.

"Kukira sudah sangat jelas apa maksudku. Aku... Akan membuatmu jatuh cinta padaku..." Seringainya semakin lebar.

"Kau bercanda?!"

"Tidak"

"Tapi..."

"Tapi apa? Kau tidak bisa mengubah keputusanku."

"Bukan begitu!"

"Lalu?"

"Uhm... A, aku rasa kau tidak akan bisa melakukannya. Aku tidak akan jatuh cinta padamu," ujar Cagalli gugup bercampur panik. Athrun yang dikiranya akan menyerah malah mengatakan hal yang diluar dugaan. Kalau dibiarkan begini, tekadnya bisa luntur.

"Kalau tidak dicoba tidak akan tahu kan? Aku cukup percaya diri bisa membuatmu menyukaiku."

"Percaya diri sekali!"

"Begitulah..."

Uh, Cagalli tidak bisa mendebat lagi. "Terserah kau saja. Tapi apapun yang kau lakukan aku tidak akan jatuh cinta padamu," tantang Cagalli.

Athrun tertawa pelan, kemudian kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Cagalli, "Kita lihat saja nanti..."

Lalu Athrun keluar dari ruangan, meninggalkan Cagalli dengan wajahnya yang memerah dan perasaan yang semakin kacau.

"Dasar bodoh!"

.

.

.

~##########~

Hari yang sibuk seperti biasanya di kantor pemeritahan ORB. Di dalam sebuah ruangan bertuliskan 'Ruang Representatif' duduk seorang gadis yang merupakan sang representatif ORB. Seperti biasanya, ia terlihat sedang sibuk dengan tumpukan kertas-kertas di atas meja. Seperti biasanya...

Ah, kecuali satu hal yang tidak biasa. Beberapa hari terakhir ada seorang pemuda yang selalu mendatangi ruangannya. Pemuda itu adalah sang admiral militer ORB. Si pemuda selalu mencari alasan untuk datang ke ruangannya. Dari alasan yang cukup penting sampai alasan yang tidak penting sama sekali. Seperti mengantarkan berkas-berkas pada Cagalli, atau hanya kebetulan lewat dan ingin mampir.

Sebenarnya Cagalli tidak keberatan kalau pemuda itu hanya mampir sebentar untuk mengantarkan berkas-berkas yang harus diperiksanya, lalu pergi. Tapi setelah urusannya selesai, bukannya pergi, Athrun malah duduk-duduk di sofa di ruangan Cagalli dengan santainya. Seperti hari ini. Setelah istirahat makan siang, Athrun datang ke ruangan Cagalli. Kali ini dengan alasan kalau ia bosan di ruangannya dan ingin ganti suasana.

Athrun duduk sambil sesekali meminum soda yang seenaknya dia ambil dari kulkas kecil milik sang representatif. Ia duduk menghadap Cagalli sambil mengamati gadis itu lekat-lekat.

Cagalli yang sadar kalau ia sedang dipandangi, akhirnnya buka suara.

"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanyanya. Gadis itu menghentikan pekerjaannya dan balik menatap Athrun.

"Hm? Tidak ada," jawab Athrun santai sambil kembali meminum sodanya.

"Lalu, kenapa dari tadi kau terus melihatku seperti itu?"

"Hanya ingin saja. Tidak boleh?"

"Tidak boleh!" jawab Cagalli cepat.

"Kenapa? Aku hanya memandangimu. Tidak mengganggu kan?"

"Hanya memandang pun kau sudah mengganggu tahu!" seru Cagalli geram. "Bahkan keberadaanmu di sini pun sudah cukup mengganggu!"

Athrun tidak membalas. Ia malah tertawa pelan. Senang melihat reaksi Cagalli. Ia kira setelah kejadian seminggu yang lalu, Cagalli akan mengacuhkannya. Ternyata Cagalli masih mau menanggapinya.

"Kenapa tertawa?" Nada bicara Cagalli masih tinggi. "Kau tidak sadar kalau barusan aku sedang mengusirmu dengan 'halus'?"

"Kejamnya... Aku hanya sedang bosan, makanya aku kemari." Athrun tersenyum usil.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kalau kau kembali ke ruanganmu dan mengerjakan pekerjaanmu?" Athrun tidak membalas. Cagalli lalu melanjutkan, "Aku tidak tahu kalau seorang admiral bisa sesenggang ini? Bukankah seharusnya kau banyak pekerjaan?"

"Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku untuk hari ini," jawab Athrun tenang. Ia kemudian mengambil remote televisi dari atas meja kecil di depannya, lalu menghidupkan televisi.

Ah, Cagalli lupa kalau pemuda itu adalah seorang koordinator. Tentu saja ia bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari orang biasa.

"Hhh... Terserah kau saja..." Cagalli menyerah untuk berdebat dengan Athrun. Sadar kalau ia tidak akan menang berdebat dengan pemuda itu.

Cagalli melanjutkan pekerjaanya. Mengacuhkan Athrun yang sekarang sedang tiduran di sofanya sambil menonton televisi.

~##########~

Sementara itu, di PLANT

Meyrin sedang berada di balkon kamarnya. Memandang langit yang sudah berwarna kemerahan sambil menyeruput teh dari cangkirnya. Pikirannya dipenuhi dengan sosok pemuda yang sudah memiliki hatinya. Sejak Athrun pindah ke ORB seminggu yang lalu, Meyrin sering menghubunginya untuk menanyakan kabar.

Ia tidak peduli apakah Athrun keberatan atau tidak kalau dia sering menghubunginya. Ia hanya ingin pemuda itu tidak lupa padanya. Karena kalau Athrun lupa pada keberadaannya, kesempatan untuk mendapatkan hati si pemuda akan semakin kecil. Apalagi dengan keberadaan Cagalli di dekat pemuda itu.

Ngomong-ngomong soal Cagalli, selain menghubungi Athrun, Meyrin juga beberapa kali berhubungan dengan Cagalli karena waktu itu mereka sempat bertukar alamat email. Obrolan mereka hanya tentang hal hal kecil di kehidupan sehari-hari atau tentang perkembangan pembangunan di ORB dan PLANT. Meyrin semakin menyukai Cagalli, bahkan mengidolakannya. Gadis super yang berperan penting dalam perdamaian dunia ini. Rasanya dia jadi mengerti kenapa Athrun begitu mencintainya.

Dan bicara soal Athrun, saat mengobrol dengan Cagalli, mereka tidak pernah sekalipun menyebut nama Athrun. Mungkin karena mereka sama-sama tahu bahwa topik tentang Athrun akan membuat suasana menjadi kaku.

Meyrin teringat dengan kejadian sebulan yang lalu.

Flashback

Saat itu ia baru saja kembali dari monumen ORB yang dikunjunginya bersama kakaknya, Shinn dan Athrun. Dimana disana secara kebetulan mereka bertemu dengan Kira dan Lacus. Setelah berpisah dari kakaknya dan Shinn, Athrun juga menyuruhnya untuk kembali terlebih dahulu ke hotel tempat mereka menginap. Pemuda itu bilang kalau dia ingin menemui Kira untuk ngobrol sebentar.

Meyrin menurut dan membiarkan Athrun pergi. Namun ia tidak segera kembali ke hotel. Ia berjalan-jalan di sekitar pantai, menikmati suasana pantai yang terasa jauh lebih alami dibandingkan dengan PLANT. Ia berjalan pelan menikmati sensasi pasir pantai di kedua kakinya. Alas kakinya ia jinjing dengan sebelah tangan. Saat sedang jalan-jalan itulah Meyrin melihat sosok Cagalli yang kelihatannya juga sedang menikmati suasana pantai.

Tiba-tiba mata mereka bertemu. Baik Meyrin maupun Cagalli kelihatannya sama-sama terkejut dan terpaku di tempat. Setelah beberapa saat, Meyrin membungkuk sopan pada Cagalli yang dibalas Cagalli dengan senyuman. Lalu Meyrin menghampiri Cagalli.

"Cagalli-sama, sedang apa anda di sini?" tanya Meyrin.

Cagalli tersenyum, "Namamu Meyrin kan? Panggil aku Cagalli saja," ujar Cagalli. "Aku hanya sedang jalan-jalan di sekitar sini. Tidak kusangka akan bertemu denganmu."

"Sa, saya juga sedang jalan-jalan," jawab Meyrin gugup.

"Begitu..."

Keheningan yang sangat canggung tiba-tiba melanda mereka berdua. Mereka sama-sama tidak tahu topik apa yang harus dibicarakan saat ini. Akhirnya mereka hanya saling diam sambil berdiri kaku. Sampai akhirnya Cagalli kembali buka suara.

"Kau kemari sendirian?"

"Ah, tadi saya bersama kakak saya, Shinn-san dan Athrun-san. Tapi karena mereka semua ada urusan, saya akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan sebentar di sini."

"Oooh..." Hanya itu tanggapan Cagalli. Ia kemudian memutar tubuhnya menghadap ke pantai.

"Hey Meyrin, apa kau menyukai Athrun?" tembak Cagalli langsung. Berpikir tidak ada gunanya membuang waktu untuk basa-basi.

"Eh!?" kaget Meyrin. Tidak menyangka akan ditanyai begitu.

"Kau menyukainya kan?"

"Sa, saya..."

"Iya atau tidak?"

"Se, sebenarnya iya," jawab Meyrin. Ia sebenarnya tahu betul kalau Athrun dan Cagalli saling mencintai. Tapi ia tidak mau menyerah begitu saja. Lagipula menurut kabar burung, hubungan mereka sudah berakhir.

"Begitu..."

"A, Anda tidak keberatan kan?"

"Eh?" Cagalli menoleh ke arah Meyrin.

"Saya dengar hubungan Anda dengan Athrun-san sudah berakhir. Jadi boleh kan saya menyukai Athrun-san?"

Cagalli tidak menjawab. Memang benar hubungan mereka sempat berakhir, tapi Cagalli masih mencintai pemuda itu. Malam ini rencananya ia akan menemui Athrun untuk memperjelas hubungan mereka.

Melihat tidak ada respon dari Cagalli, Meyrin kembali bertanya ,"Boleh saya menceritakan sesuatu?"

Cagalli mengangguk.

"Saya benar-benar menyukai Athrun-san. Awalnya saya hanya kagum dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya, tetapi lama-lama saya jatuh cinta padanya."

Cagalli tidak menanggapi. Ia sudah tahu hal itu. Ia hanya menunggu Meyrin melanjutkan ceritanya.

"Saya terus saja mendekati Athrun-san walaupun tahu hal itu akan sia-sia. Sampai akhirnya saya mengetahui kalau kalian sedang menjalin hubungan." Meyrin menarik napas panjang. "Saya begitu depresi mengetahui hal tersebut. Akhirnya saya pergi ke salah satu bar, bermaksud untuk minum minuman keras untuk menenangkan diri. Tidak disangka di sana saya bertemu dengan Athrun-san yang sedang mabuk. Akhirnya saya dengan susah payah membawa Athrun-san pulang. Saya membawa Athrun-san ke kamarnya dan membaringkan Athrun-san di tempat tidurnya."

Sampai di sini apa yang diceritakan Meyrin semuanya benar. Tapi cerita belum selesai. Ia akan menceritakan sesuatu yang kemungkinan besar bisa membuatnya punya kesempatan untuk mendapatkan Athrun.

"Saya bermaksud langsung pergi dari sana, tapi tiba-tiba Athrun menangkap tangan saya, dan membaringkan saya di tempat tidurnya." Meyrin memalingkan wajahnya dari Cagalli. "Saya meronta minta dilepaskan, tapi tenaga saya kalah, lalu..." Meyrin berhenti bicara. Wajahnya tertunduk dalam, matanya terpaku memandangi pasir pantai.

"Kalian... Melakukannya?" Mata Cagalli terbelalak lebar.

Meyrin mengangguk, masih dengan wajah tertunduk.

"Apa Athrun... mengetahuinya?"

Meyrin menggeleng, "Saya merahasiakannya sampai sekarang. Bahkan dari Athrun-san. Tapi begitu mengetahui Anda sudah putus dengannya, saya jadi berpikir untuk menceritakannya."

Hati Cagalli terasa hancur berkeping-keping. Kenapa? Kenapa saat dia ingin memulai kembali hubungan mereka, ia harus mendengar kabar mengejutkan seperti ini? Sekarang apa yang harus dilakukannya? Memaki gadis ini karena telah mengambil Athrun-nya? Tidak, gadis ini tidak bersalah. Yang salah adalah si bodoh itu! Lalu bagaimana sekarang? Apa dia harus melepaskan Athrun?

Sementara Cagalli termenung, Meyrin yang memberanikan diri mengangkat wajahnya, hanya bisa memandangi wajah Cagalli yang terlihat syok. Jelas sekali kabar barusan membuatnya terkejut bukan main. Dari ekspresi itu Meyrin juga akhirnya menyadari bahwa Cagalli masih punya perasaan pada Athrun. Meyrin merasa bersalah. Sebenarnya bagian akhir ceritanya barusan adalah bohong belaka. Ia memang mengantarkan Athrun menuju kamarnya, tapi hanya itu saja. Memang saat itu ia sempat berpikir untuk mengambil kesempatan, tapi setelah mendengar Athrun menggumamkan nama Cagalli, ia segera membuang jauh-jauh pikiran itu dan langsung pergi dari sana.

"Begitu rupanya..." gumam Cagalli.

"Maaf tiba-tiba menceritakan hal seperti ini, saya hanya..."

"Tidak apa, untung saja kau menceritakannya padaku. Kalau tidak..." 'Aku akan mengambil keputusan yang salah,' batin Cagalli.

"Kalau tidak kenapa?"

"Ah, tidak." Cagalli memaksakan diri untuk tersenyum. "Kami memang sudah putus. Malam ini sebenarnya aku akan manemui Athrun. Dan saat itu aku akan mempertegas bahwa hubungan kami telah berakhir."

"Benarkah?" tanpa bisa dikendalikan, wajah Meyrin berbinar cerah. Tapi kemudian ia sadar bahwa sikapnya sangat tidak sopan. "Ah, maaf Cagalli-san," sesal Meyrin.

Cagalli tersenyum. "Tidak apa, aku mengerti perasaanmu. Aku janji tidak akan kembali pada Athrun lagi walaupun dia memintanya."

Cagalli menyerah. Mungkin memang lebih baik Athrun bersama gadis ini. Gadis yang bisa memberi segalanya pada pemuda itu. Mungkin yang terbaik untuk mereka adalah berpisah.

Meyrin mengangguk senang mendengarnya. Ia senang rencananya berjalan mulus, walaupun dengan kebohongan besar. Selama ia bisa mendapatkan Athrun, apapun akan dilakukannya.

End of Flashback

Meyrin menghela napas panjang. Mengingat kejadian waktu itu membuatnya kembali merasa bersalah. Tapi ia segera menyingkirkan perasaan itu. Bukankah hubungan mereka memang sudah berakhir? Tidak ada salahnya kan kalau Meyrin ingin menggantikan peran Cagalli di hati Athrun? Walaupun kelihatannya keinginannya itu akan sangat-sangat sulit untuk diwujudkan.

~##########~

Cagalli baru sampai di kediamannya pukul tujuh malam. Ia pulang terlambat karena pekerjaan hari ini lebih banyak dari biasanya. Dan berkat 'bantuan' dari seseorang, pekerjaan itu jadi sedikit lebih lama mengerjakannya. Untunglah seseorang tersebut sudah pulang sejak sore tadi, jadi ia bisa berkonsentrasi penuh dengan pekerjaannya.

Tapi, Cagalli sedikit heran. Tadi pemuda itu bilang kalau dia ada urusan, lalu meninggalkan Cagalli sendiri. Tentu saja setelah berpesan macam-macam pada gadis itu. Seperti jangan bekerja terlalu keras, jangan pulang terlalu lama, jangan menyetir seorang diri, dan jangan bicara dengan orang asing (?).

Cagalli sedikit penasaran, sebenarnya Athrun ada urusan apa dan dengan siapa? Apa dia punya teman di sini?

Tapi dia memutuskan untuk tidak memedulikannya. Cagalli memasuki mansionnya, dan di sambut oleh beberapa maid. Gadis itu langsung berjalan manuju ruang makan. Ia sudah sangat lapar. Sebaiknya ia makan yang banyak, kemudian berendam air hangat, lalu pergi tidu—

Tunggu dulu! Saat memasuki ruang makan Cagalli melihat pemandangan yang tidak biasa. Sangat tidak biasa. Di salah satu kursi di depan meja makan, terlihat Athrun sedang duduk dan menatapnya bosan. Cagalli diam di tempat, tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

"Lama sekali. Kau pasti memaksakan diri bekerja sampai larut. Dasar... Kau tidak ingat pesanku tentang jangan pulang terlalu lama?" Athrun bersedekap menatap Cagalli tajam. Di sekitar mereka ada maid-maid yang sedang sibuk menyiapkan makanan. Cagalli masih terpaku, berdiri di tempat, tidak tahu harus bilang apa.

Athrun terkekeh, "Kenapa melihatku seperti itu? Ada sesuatu di wajahku?" Athrun tersenyum polos.

"... Kenapa... Kau ada di sini?" Akhirnya Cagalli bisa berkata sesuatu.

"Aku mau makan. Apa lagi?" tanya Athrun sok innocent. "Bicaranya nanti saja! Kemarilah! Kita makan dulu. Aku sudah sangat lapar."

Cagalli masih merasa bingung, tapi akhirnya ia berjalan menuju meja makan, dan duduk di salah satu kursi, tepat di depan Athrun.

"Ada urusan apa kau kemari?" tanya Cagalli lagi. Ia mengambil gelas air di depannya lalu meminumnya sedikit. Berniat menenangkan diri. Pemuda ini suka sekali mengacaukan pikirannya.

"Kau belum tahu? Mulai hari ini aku akan tinggal di sini," jawab Athrun santai. Ia membalik piring di depannya, bermaksud untuk mulai makan.

Cagalli terkejut dan hampir menyemburkan air dari mulutnya, "Apa?!"

Gadis itu sampai berdiri dari kursi saking kagetnya.

"Tenanglah! Kau berlebihan sekali."

Cagalli memerah malu, lalu duduk kembali di kursinya. "Mana bisa aku tenang?! Kau bercanda kan?!"

"Tentu saja tidak."

"Kenapa?"

"Kenapa apanya?"

"Kenapa kau tiba-tiba ingin pindah ke sini?"

"Karena aku tidak punya rumah di ORB. Selama seminggu aku tinggal di hotel sambil mencari tempat tinggal yang ada di dekat kantor. Tapi setelah dipikir-pikir, lebih baik aku tinggal di sini saja. Bukankah sebelumnya aku tinggal di sini?" Athrun mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.

"Bukankah kau sudah mendapatkan rumah dinas?"

"Ya, tapi tempatnya cukup jauh dari kantor, dan akan merepotkan kalau aku tinggal sendirian. Lagipula kalau tinggal di sini aku bisa selalu ada di dekatmu kan? Dengan begitu akan lebih mudah membuatmu jatuh cinta padaku." Athrun tersenyum jahil.

Cagalli terpaku. Siapa orang ini? Athrun yang sebelumya tidak akan bersikap seperti ini. Dia adalah orang yang tenang dan tidak blak-blakkan. Apa sewaktu di PLANT kepalanya terbentur sesuatu? Dan itu membuat kepribadiannya berubah seperti ini? Atau temannya yang bernama Dearka itu yang memengaruhinya?

"Jadi, urusan yang kau bilang tadi..."

"Yup! Aku mengambil pakaian dan barang-barangku dari hotel, lalu langsung kemari. Tadi Manna-san yang membantuku menyusun pakaianku di lemari di kamarku."

Cagalli mendesah panjang. Pikirannya campur aduk. Di satu sisi dia sebal pada pemuda ini. Bagaimana bisa dia seenaknya memutuskan hal ini tanpa meminta tanggapannya. Tapi di sisi lain ia merasa sedikit senang, Athrun berusaha sekeras ini untuk menarik perhatiannya. Tapi ia harus membuang jauh-jauh perasaan itu. Bukankah ia telah bertekad untuk melepaskan Athrun?

"Terserah! Aku tidak peduli kalau kau mau tinggal di sini. Tapi jangan harap aku akan jatuh cinta padamu!" ketus Cagalli.

Athrun tersenyum puas. Setidaknya ia sudah satu langkah lebih dekat dengan tujuannya. Kemudian Athrun kembali melanjutkan makannya yang tertunda.

Cagalli juga mulai mengambil makanan sebanyak-banyaknya. Ia bisa pingsan kalau tidak segera mendapatkan asupan energi. Lagi-lagi terima kasih pada sang admiral ORB.

~##########~

Selesai makan malam, Cagalli langsung menuju kamarnya, dan langsung mandi air hangat untuk menenangkan pikiran, walaupun tidak terlalu membuahkan hasil. Hari ini pikirannya terlalu kalut. Dan hal itu hanya disebabkan oleh satu orang. Sang Admiral ORB yang baru.

Cagalli sudah memakai kimono tidurnya, namun rasa kantuk belum juga datang. Aneh sekali, rasanya seharian ini dia sudah cukup lelah.

Cagalli berjalan menuju balkon kamarnya, sekedar untuk menikmati angin malam sampai rasa kantuk datang. Di tangannya ada secangkir susu hangat yang tadi sempat dimintanya dari pelayan.

Di balkon Cagalli hanya terdiam menatap pemandangan langit malam. Ia sedang berusaha menenangkan pikirannya yang kalut. Baik karena masalah pekerjaan ataupun masalah pribadi. Ah, sebenarnya sih sebagian besar karena masalah pribadi. Dan penyebabnya siapa lagi kalau bukan–

"Cagalli? Kau belum tidur?"

Begitu mendengar suara itu Cagalli langsung menolehkan kepalanya ke arah suara berasal. Tepat dugaannya, itu adaah suara Athrun. Pemuda itu bicara dari balkon kamar di sebelah kamar Cagalli yang jaraknya hanya satu meter.

"Apa yang kau lakukan di situ?" ujar Cagalli kaget.

"Melihat bintang," jawab Athrun santai. "Siapa tahu ada bintang jatuh, jadi aku bisa meminta agar kau lebih cepat jatuh cinta padaku," lanjutnya kalem.

"Bukan itu maksudku! Apa yang kau lakukan di balkon sebelah?!" seru Cagalli. "Ja, jangan-jangan..."

"Yup, benar sekali! Karena ini adalah kamarku."

"Kenapa bisa begitu?! Apa kau sengaja melakukannya?"

"Tidak kok, Manna-san yang memberikan kamar ini padaku."

Ah tentu saja ini perbuatan Manna. Siapa lagi?

"Kenapa kau tidak menolaknya? Kau bisa menempati kamar yang jauh lebih bagus dari kamar itu, yang jaraknya jauh dari kamarku?"

"Kenapa harus kutolak? Aku suka dengan kamar ini. Dan karena ada kau di kamar sebelah, kelihatannya aku akan betah di sini." Athrun menyeringai.

Hhhh... Cagalli mulai bepikir untuk menyerah dengan keadaan ini. Keadaan yang membuat perasaannya tidak menentu. Bagaimana ia bisa menghilangkan perasaannya pada Athrun kalau si pemuda terus saja muncul di depannya di manapun dan kapanpun? Kalau begini, musatahil untuk menghindarinya.

"Terserah!" Cagalli membuang muka. "Dasar keras kepala!"

Athrun tersenyum tipis, mengabaikan ucapan ketus Cagalli. Ia mengalihkan pandangan dari Cagalli, kamudian mendongak ke langit malam dengan pandangan kosong. "Kau tahu? Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu kembali."

Cagalli tertenggun. Namun pandangannya tidak beralih pada Athrun. Ia menunduk dan mengeratkan pegangannya pada cangkir di tangannya.

"Aku benci dengan perasaan yang kurasakan saat mendengar kau mengatakan bahwa kau tidak mencintaiku," ujar Athrun masih dengan menatap langit. "Dan kupikir, aku akan lebih membenci perasaan saat melihatmu bersama orang lain," sambungnya.

"..."

"Maaf kalau aku egois. Tapi aku tidak berniat mengubah pikiranku. Aku belum siap melepasmu untuk orang lain, dan mungkin tidak akan pernah siap." Athrun kemudian menoleh pada Cagalli. Dilihatnya Cagalli menunduk dengan ekspersi wajah yang tidak terlihat olehnya.

Athrun tersenyum lembut. "Tidurlah Cagalli, ini sudah larut malam." Athun berbalik dan melangkah masuk ke kamarnya. "Selamat malam..." ujarnya sebelum masuk ke dalam kamarnnya.

Setelah beberapa menit, Cagalli masih belum bergerak dari posisinya. Perasaannya kian campur aduk. Ia yang dulu pasti akan melonjak senang dengan ucapan manis Athrun tadi. Tapi sekarang...

"Seandainya sikap tegasmu itu kau tunjukkan dari dulu. Mungkin hubungan kita tidak akan begini..." gumam Cagalli lirih.

~##########~

"Benarkah?! Benarkah kita akan liburan ke ORB?"

Lunamaria mengangguk pada Meyrin. Ia mengerti kenapa adiknya bisa seantusias ini. "Kau, aku dan Shinn akan berlibur di sana selama dua minggu. Aku sudah dapatkan izin untuk kita. Kemasi barangmu, kita akan berangkat besok!"

"Dua minggu?!" Tanpa panjang lebar, Meyrin memeluk sang kakak erat. "Terima kasih Nee-chan, aku memang ingin sekali ke ORB." Meyrin segera berlalu dari hadapan Lunamaria untuk mengemasi barangnya.

Lunamaria memandangi sang adik yang sudah semakin menjauh. Ia tahu Meyrin memiliki perasaan yang lebih pada Athrun. Walaupun Meyrin jarang menceritakan masalah pribadi padanya, ia tahu bagaimana perasaan adiknya pada Athrun. Tapi dia juga tahu kalau Athrun mencintai representatif ORB.

Dia ingin adiknya bahagia, maka dari itu ia merencanakan liburan ini agar Meyrin bisa memperjuangkan cintanya sekuat tenaga. Dan kalau nantinya hal itu tidak berhasil, ia ingin Meyrin mundur dengan ikhlas. Sehingga nantinya tidak ada orang yang tersakiti.

TBC


Chapter dua selesaaai...

Huaaah, chapter ini penuh perjuangan untuk menulisnya, karena beberapa tombol khususnya tombol huruf 'N' di keyboard saya susah ditekan. Karena itu maaf kalau banyak typo pada chap dua ini.

Di chapter ini AsuCaga-nya saya banyakin untuk menegaskan kalau Athru benar-benar serius dengan ucapannya. Walaupun jadinya super OOC sih. Uuh, seandainya Athrun di GSD nggak plin-plan...

Balasan review:

alyazala: Senang juga anda menyukai cerita saya. Ini sudah lanjut. Iya nih, Meyrin keras kepala banget. Saya juga gemes... (_). Terima kasih atas reviewnya...

akiramia44: Baru? Kalau begitu selamat datang di fandom ini ya. Iya, Cagallinya keras kepala banget. Sekarang udah tahu kan apa yang dikatakan Meyrin pada Cagalli? Tenang, nanti Athrun dan Cagalli akan bersatu kok... mungkin. Athrun tuh kurangnya cuma plin-plan. Hehe... Oke, ini sudah saya lanjut. Terima kasih atas reviewnya...

loly jun: Siap! Ini udah lanjut. Iya, semoga bohongnya cepat ketahuan. Terima kasih atas reviewnya...

choikim1310: Ending GS nggak begitu ngebingungin kok. Yang bikin bingung itu GSD. Tokoh utama di GSD itu namanya Shinn, nanti juga muncul di fanfic ini. Kalau saya sih suka sama banyak tokoh anime, tapi abang Athrun itu khusus sampai saya bela-belain buat fanfic. Hehe... Terima kasih atas reviewnya...

popcaga: Hush! Jangan mikir yang iya-iya dong (,). Abang Athrun nggak wild-wild banget deh. Setidaknya belum. Ohohoho... (Ketawa jahat). Oke, ini udah lanjut. Terima kasih atas reviewnya...

.

Nah semuanya. Sampai sini dulu. Sampai ketemu di chapter selanjutnya. Jangan lupa tinggalkan reviewnya ya...