Survivor 2
Ketika fajar mulai menyingsing, beberapa polisi muda sedang berdiri di sebuah gedung sambil menyesap kopi mereka dari atas atap bangunan berlantai 20 itu, menatap ke arah sang surya, menandakan hari baru dimulai.
"Matahari," ucap seorang namja bertubuh tinggi dengan wajah kekanakan sambil menyesap kopinya.
"Sejak kapan berubah menjadi bulan?" ucap seorang namja imut yang sedang merajuk karena kekasihnya bersama dengan seorang yeoja cantik.
"Sudahlah Junsu, jangan ketus begitu," ucap seorang namja cantik sambil membuka keranjang yang dia bawa, banyak makanan di sana.
Langsung saja namja dengan wajah imut itu mempoutkan bibirnya sementara namja berwajah kekanakan mengambil beberapa sandwich dari dalam keranjang tersebut.
"Yeoja itu sangat terpukul karena anaknya meninggal di dalam rumah karena terbakar," ucap namja bermata musang sambil mencium kepala namja cantik yang berdiri di sebelah kanannya.
"Tapi dia itu bukan psikolog, bukan tempat curhat, atau bukan Umma dari yeoja itu," ucap namja bernama Junsu itu.
"Sudahlah Suie, jangn terlalu dipikirkan," ucap namja bermata musang bernama Jung Yunho itu.
"Ne, lebih baik kita makan hyung. Aku lapar," ucap namja berwajah kekanakan bernama Changmin itu.
Junsu kembali mempoutkan bibirnya dan dia kemudian berkata,
"Apa kalian tidak merasa aneh dengan yeoja itu?"
"Kenapa?" ucap ketiga orang lain yang sedang mengunyah sandwich dengan berbagai rasa selai itu.
"Rumah itu terbakar dengan cara yang aneh.. Pintu kamar anak kecil dan Umma dari yeoja itu tampak terkunci dari luar dan kunci ditemukan tergeletak di meja. Ada bau bensin menyengat dari dua botol plastik yang terbakar, lalu...," ucapan Junsu terpotong saat ketiga orang yang ada di depannya membelalakan matanya.
"Astaga itu murni rekayasa!" ucap Jaejoong sambil berlari ke arah keranjang yang tadi dibawanya.
"Ppali! Kita harus ke TKP untuk mengumpulkan bukti! Aku tidak peduli dengan polisi wilayah itu," ucap Yunho sambil menarik Junsu.
Ya, mereka tidak diijinkan untuk ikut menyelidiki kasus tersebut karena ada polisi wilayah yang ikut menangani kasus tersebut.
Mereka sempat tiba dilokasi dan mulai mengikuti prosedur untuk pengumpulan bukti sampai ada kepolisian wilayah tersebut yang ikut turun tangan dan akhirnya kasus diserahkan kepada mereka.
Sungguh aneh kalau kepolisian daerah tersebut tidak dapat menemukan bukti—bukti tersebut.
Yunho mengemudikan mobil mereka dengan cepat ke arah kejadian perkara.
"Kamu menemukannya Junsu? Aku juga menemukan beberapa bukti lainnya seperti kasur yang terbakar secara disengaja, tidak adanya konsleting listrik ataupun tanda-tanda tabung gas yang bocor," ucap Yunho sambil berkonsentrasi menyetir dan menyalip beberapa mobil setelah membunyikan sirine mobil polisi.
"Iya hyung, aku pikir kita lupakan saja dengan penemuan-penemuan itu karena ada polisi daerah yang ambil bagian."
"Tidak bisa dipercaya, mereka malah menetapkan ini adalah kasus yang murni kebakaran," ucap Jaejoong yang duduk di sebelah Yunho.
"Aku tidak habis pikir, apakah ada sesuatu yang mereka rencanakan?" ucap Changmin membuat semuanya terdiam.
"Begini, kita ambil resiko saja. Kita harus menyelidiki kasus ini walaupun tidak diperbolehkan. Bagaimana? Apa kalian ikut?" tanya Junsu.
"Aku ikut, aku merasakan ada yang janggal juga dengan wanita itu," ucap Jaejoong.
"Aku ikut," ucap Changmin sambil menyalakan laptopnya.
"Aku juga ikut," ucap Yunho yang kemudian mengeluarkan ponselnya dan kemudian menyuruh Jaejoong mendial nomor yang sudah mereka kenal betul, Wujoong, yang sekarang sudah menjadi polisi untuk penyelidikan narkoba dan mata-mata untuk mendapatkan informasi seseorang.
'Halo?'
"Halo, hyung, ini aku Jaejoong. Apakah hyung sedang sibuk? Berisik sekali di sana," ucap Jaejoong setelah mendengar suara berisik di sebrang sana.
'Oh, iya, aku sedang menyelidiki sebuah rumah yang terbakar karena ada indikasi adanya narkoba di sini.'
Jaejoong me-loud speaker-kan pembicaraan mereka.
"Ha? Rumah yang di mana hyung?" tanya Jaejoong.
'Yang terletak di Myeongdong. Mereka tidak memiliki polisi yang fokus untuk mengatasi kasus narkoba.'
"Apa? Myeongdong?" ucap Changmin kaget karena mereka sekarang sedang menuju rumah yang berada di daerah Myeongdong yang terbakar itu.
"Jangan-jangan sama...," ucap Junsu.
'Sama? Apakah kalian juga ada kasus?'
"Hmm... sebenarnya begini hyung," Jaejoong mulai menjelaskan apa yang terjadi kepada mereka mengenai kasus kebakaran di rumah itu.
.
'Astaga, baiklah akan aku bantu. Kalian cepatlah ke sini, di sini hanya tinggal aku dan rekan-rekanku, tidak ada polisi daerah di sini. Sungguh aneh sebenarnya,' ucap Wujoong di sebrang sana.
"Itu karena mereka sudah menutup kasus ini sebagai kasus murni kebakaran," ucap Yunho.
'Iya, tapi setidaknya harus terlebih dahulu mengumpulkan barang bukti dan penjelasan apa yang menjadi penyebab kebakaran. Kalaupun konslet, harus ada bukti dimana terdapat konsleting listrik dan melaporkannya kepada atasan mereka.'
"Baiklah, sebentar lagi kami sampai hyung, tunggu kami," ucap Yunho sambil menambah kecepatan mobilnya.
Mereka adalah kepolisian pusat yang lebih mengutamakan kerja di dalam negara Korea, sementara ada kepolisian daerah yang ikut menjaga wilayah-wilayah yang ada di dalam negara Korea,dengan kata lain lebih khusus.
.
Akhirnya mereka tiba di lokasi kejadian dan langsung merangsek masuk ke dalam area garis polisi setelah menunjukan kartu tanda pengenal polisi mereka.
"Hyung!" sapa Jaejoong yang kemudian langsung memeluk Wujoong.
"Akhirnya ketemu juga, nae dongsaeng," ucap Wujoong langsung mengelus puncak kepala Jaejoong.
"Hyung, lama tidak bejumpa," ucap Yunho yang langsung menjabat tangan Wujoong dan Wujoong langsung menerima jabatan tangan Yunho.
Wujoong melepas pelukan Jaejoong dan kemudian berpelukan dengan yang lain satu per satu.
"Dimana Yoochun?" tanya Wujoong sambil melihat sekitar.
"Dia bersama yeoja itu sekarang," ucap Junsu ketus, membuat Wujoong terkekeh.
"Ada yang cemburu di sini," ucap Wujoong sambil memeluk pundak Junsu.
"Baiklah, kita langsung melakukan penyelidikan," sambung Wujoong.
.
"Hyung, di sini ada yang aneh," ucap Jaejoong yang membuat Wujoong berjalan ke arahnya.
"Ini...," Wujoong mengambil sesuatu yang ada di dekat Jaejoong, segumpal debu yang beda warna, warna hitam, abu-abu, dan putih.
"Kalau terbakar, pasti berwarna hitam kan? Tetapi ini berwarna abu-abu dan putih," ucap Jaejoong.
"Bisa saja kalau terbakar itu kertas, bisa menjadi warna abu-abu, tetapi kalau warna putih... itu biasanya," ucap Wujoong yang kemudian mencolek sedikit debu yang berwarna putih dan mencium aromanya.
"Ini narkoba.. jenis sabu," ucap Wujoong mmeberitahu Jaejoong.
"Astaga, kita harus cari yang lainnya hyung," ucap Jaejoong yang kemudian memasukan debu warna putih itu ke dalam kantung plastik kecil untuk obat.
Jaejoong langsung memberitahu HoSuMin yang ada di dalam ruangan kamar tempat dibakarnya kasur yang bisa menjadi barang bukti.
"Dan kami telah menemukan ini," ucap Yunho sambil menunjukan sekantung penuh heroin yang ada di dalam lemari pakaian anak yang tinggal di rumah tersebut.
"Astaga, ini dimasukan ke dalam lemari anak," ucap Jaejoong kaget.
"Aku juga menemukan ini hyung di kamar Ibu dari yeoja tersebut," ucap Changmin sambil menunjukan sekantung penuh daun ganja yang belum diolah dan hampir semuanya terbakar.
"Mereka tidak sepenuhnya terbakar karena berada di dalam kaleng," ucap Junsu sambil melihat kaleng yang menjadi penutup semua barang haram tersebut.
Semua memeriksa satu per satu bagian yang dijadikan TKP.
"Ini murni tindakan kriminal," ucap Junsu setelah memeriksa tabung gas yang sengaja dicolok bagian atasnya sehingga menjadi bocor dengan benda tumpul.
"Bekasnya seperti masih baru," ucap Changmin yang mengambil gambar tersebut dari bukti-bukti yang terkumpul atas kebakaran yang terjadi dari pukul 2 malam sampai 4 subuh itu.
Mereka terus mengumpulkan bukti sampai akhirnya Yoochun tiba di TKP bersama dengan Minho.
"Yoo, Yoochun!" ucap Wujoong yang memeluk Yoochun.
"Hoah hyung! Kamu ikut juga dalam kasus ini?" Yoochun ikut membalas pelukan Wujoong.
"Tentu saja, karena ini juga ada kaitannya dengan narkoba," ucap Wujoong sambil menepuk punggung Yoochun dan membisikan sesuatu, "kekasihmu itu sedang merajuk."
Yoochun langsung melihat ke arah Junsu yang sedang mengumpulkan bukti-bukti sendirian, tanda dia sedang marah kepada Yoochun sekarang ini.
Yoochun langsung mengembangkan senyumnya ketika mengetahui Junsu sedang merajuk kepadanya, tandanya Junsu cemburu kan? Yoochun malah senang kalau Junsu cemburu karena itu tandanya Junsu masih mencintainya.
"Hei my duckbutt," ucap Yoochun sambil memukul pelan butt Junsu dan membuat namja dengan suara dolphin itu kaget.
"Aish pervert," ucap Junsu sambil mendorong Yoochun menjauh darinya.
"Hei, kamu marah mm?" tanya Yoochun sambil memeluk Junsu dari belakang. Kekasihnya sangat menggemaskan saat ini.
Junsu tidak menjawab pertanyaan Yoochun sampai akhirnya dia melepas pelukannya dari Junsu dan berjalan ke arah luar.
Yoochun yang melihat ke arah sekitar gedung yang terbakar itu seperti menemukan mata-mata di sekitar sana, sehingga membuatnya menjadi pergi dari gedung tersebut sendirian.
"Aneh," ucap Changmin yang memperhatikan Yoochun yang pergi begitu saja.
"Ada yang aneh dengan Yoochun," ucap Minho yang kemudian mengeluarkan ponselnya.
"Buntuti Yoochun, kerahkan 20 polisi, buntuti dia dan semuanya yang membuntutinya. Ringkus semua orang yang membuntuti Yoochun," ucap Minho yang kemudian mematikan ponselnya.
"Changmin, sudah mengambil data-data polisi yang memeriksa TKP tadi pagi?" tanya Minho.
"Sudah hyung, sudah aku masukan ke komputer semua data-datanya walaupun harus menjebol semua data polisi Korea," ucap Changmin sambil mengeluarkan laptopnya.
Changmin mencari beberapa nama polisi dan kemudian semua data berhasil dia jabarkan. Dari biodata pribadi sampai beberapa titik dimana polisi-polisi tersebut tertangkap kamera cctv.
"Hmm.. ini akan menjadi seru, polisi melawan polisi," ucap Minho setelah melihat data-data polisi tersebut.
"Mereka pernah bersama yeoja yang sekarang bersama Yoochun hyung ternyata," ucap Changmin sambil menutup laptopnya.
"Jadi, Yoochun dalam bahaya?" tanya Junsu khawatir.
"Sepertinya, tetapi dia bisa mengatasinya," ucap Wujoong yang kemudian menelpon unit polisi, memberikan laporan kepada atasannya.
"Dan sepertinya polisi-polisi tersebut terlibat narkoba," sambung Wujoong.
"Bagaimana hyung bisa tau?" tanya Jaejoong.
"Kami menemukan rekaman cctv yang menyatakan polisi-polisi tersebut yang tertangkap sedang mengkonsumsi narkoba di daerah sekitar tahanan. Baru saja kami menemukannya karena itu kami disuruh menangani polisi-polisi tersebut," ucap Wujoong sambil mengambil serbuk yang diduga adalah narkoba.
"Berarti ada penyeludup di dalam tahanan?" tanya Junsu.
"Atau dia bisa saja mendapatkannya dari luar, misalnya wanita itu..," ucap Changmin membuat semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut sadar akan sesuatu.
"Kita harus mengejar Chunnie!" seru Junsu sambil menuju ke arah mobil mereka.
"Astaga," ucap Changmin sambil memasuki mobilnya.
"Aku tidak percaya ini. Kita sudah ditipu," ucap Jaejoong sambil memakai seatbeltnya.
"Kita harus cepat-cepat ke Yoochun, Boo," ucap Yunho yang langsung tancap gas disertai dengan anggukan Jaejoong.
.
Di sinilah mereka, lebih tepatnya Yoochun dan Junsu yang sedang bertengkar.
"Itu tidak mungkin Suie, yeoja itu tidak akan melakukan itu, membakar rumahnya sendiri, bahkan membunuh anaknya!" ucap Yoochun setengah berteriak.
"Tapi dengan bukti-bukti yang ada mengatakan kalau dia itu adalah dalang dari semuanya Chunie. Dia juga salah satu pengedar narkoba yang masuk ke dalam lingkaran kepolisian. Kali ini Chunie, kumohon percayalah padaku," ucap Junsu mencoba meyakinkan Yoochun kalau yeoja itu adalah dalang dari kebakaran dan polisi yang mengkonsumsi narkoba tersebut.
"Tidak. Aku tidak bisa langsung percaya begitu saja," ucap Yoochun lagi dan semakin membuat darah Junsu mendidih.
"Begitu!? Kamu sudah tidak mempercayai aku lagi!? Kamu lebih percaya yeoja itu ketimbang aku, Chunie!? Ah, atau jangan-jangan kamu juga sudah tidak sayang dan cinta padaku huh!? Baiklah, kita berpisah. Urus yeoja yang bisa memberikan anak itu ketimbang diriku yang namja ini!" ucap Junsu dan sukses membuat Yoochun juga ikut mendidih.
"Junsu! Jangan bicara seolah-olah kamu yang paling benar dan membuat semuanya semakin runyam!" ucap Yoochun yang membentak Junsu.
"Tapi begitu kenyataannya Chunie! Kamu lebih memilih yeoja itu. Dan aku yang memilih pergi!" ucap Junsu yang kemudian pergi keluar ruangan polisi kepolisian Seoul tersebut.
Yoochun menghela napasnya dengan berat, mengacuhkan tatapan teman-temannya yang menatapnya dengan sedikit kesal.
"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Jaejoong.
"Bukan urusanmu," ucap Yoochun yang membuat Jaejoong kaget dengan jawabannya dan meninggalkan semua teman-temannya.
Jaejoong menghela napasnya. Yunho lamgsung memeluk bahu Jaejoong, membuatnya agar tenang.
"Sudahlah hyung," kita lihat perkembangan selanjutnya," ucap Changmin yang kemudian duduk di sofa tidak jauh dari tempat Jaejoong berdiri.
Wujoong hanya terdiam dan mempersiapkan senjata kalau-kalau sesuatu terjadi.
.
Keempat mobil polisi itu melaju ke arah Yoochun berada setelah melakukan pengecekan sinyal dari hp Yoochun yang mengirimkan sinyal darurat kepada mereka.
"Sudah kubilangkan kalau yeoja itu berbahaya. Dasar jidat lebar," gerutu Junsu yang kesal karena Yoochun tidak mau mendengarkannya dan memilih bersama dengan yeoja itu atau lebih tepatnya cemburu.
Dia masih kesal dengan Yoochun tapi Junsu tidak bisa tinggal diam kalau Yoochun dalam bahaya.
Tibalah mereka di daerah pelabuhan dengan banyak container yang terjejer rapi di sepanjang kanan dan kiri jalan menuju ke dermaga dan juga banyaknya bangunan gudang yang berdiri kokoh.
Jaejoong dan Yunho memperlambat laju mobil mereka, diikuti dengan 3 mobil lainnya yang juga mulai merapat ke sebelah kanan jalan, disebelah gudang bercat merah yang sudah sedikit pudar karena terkena angin laut secara terus menerus.
Mereka semua menyiapkan senjata mereka, bersiap menyerang apabila diperlukan.
Jaejoong yang berada di depan, disusul oleh Yunho, Changmin, Wujoong, dan Junsu.
Mereka masuk ke dalam area gudang yang terdapat banyak container yang sudah usang.
Samar-samar Jaejoong dapat mendengarkan suara orang yang sedang berbincang-bincang sehingga dia menyuruh semuanyan untuk melambarkan langkah mereka agar tidak ketahuan.
Jaejoong mendengarkan pembicaran itu dengan seksama. Dilihatnya disekelilingnya apakah bisa lebih dekat atau tidak dan betapa terkejutnya dia menemukan Yoochun yang sudah terkepung di sana.
"Bagaimana?" bisik Yunho yang melihat bahu Jaejoong sedikit tegang, seperti kaget melihat sesuatu.
"SSh bear,aku melihat Yoochun di sana dan... banyak pistol mengarah kepadanya," bisik Jaejoong sambil menaruh telunjuknya di depan bibir Yunho.
"Ada apa hyung?" tanya Junsu sambil berbisik tentunya.
"Yoochun sedang berbicara dengan seorang yeoja namun...," bisik Jaejoong terpotong karena dia takut Junsu akan khawatir.
"Namun apa hyung?" tanya Junsu bingung.
"Yoochun dikerubungi banyak polisi yang diduga mengkonsumsi narkoba."
Junsu kaget dan kemudian berjalan ke dekat Jaejoong, untuk melihat keadaan Yoochun.
Junsu menggenggam pistolnya sekarang ini. Bersiap menembak apabila keadaan sudah berubah menjadi buruk.
Jaejoong dan yang lainya juga mnyiapkan pistol mereka, takut akan ada sesuatu yang terjadi.
Mereka menajamkan pendengaran mereka, berusaha mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Yoochun dan para penjahat di sana.
"Menyerahlah kalian semua. Kalian sudah ketahuan olehku," ucap Yoochun sambil menodongkan senjatanya ke arah yeoja yang diduga sudah melakukan pembakaran rumah dengan snegaja.
"Huh, lalu kamu akan melakukan apa, polisi tampan? Kamu sendirian di sini," ucap yeoja itu sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
"Lalu apakah aku akan kalah kalau aku sendirian?" tanya Yoochun sambil mengembangkan smirknya.
"Huh, sombong sekali kamu. Dengan satu tembakan saja maka kamu akan tumbang," ucap yeoja yang mengenakan dress berwarna hitam berbahan sifon yang membuatnya terlihat cantik dan sexy walaupun sudah menikah dan beranak satu.
"Oh ya?" ucap Yoochun dengan smirk yang tidak pernah lepas dari wajah Cassanovanya.
"Cih, percaya diri sekali," ucap yeoja itu sambil memberikan sinyal kepada para polisi untuk menembak Yoochun.
Junsu dan yang lainnya bersiap menarik pelatuknya yang mengarah ke arah para polisi dan yeoja itu.
Dor
Seorang polisi menembakkan pelurunya menuju ke tepat punggung Yoochun, dan...
"Tidak!" teriak Junsu yang langsung menembakkan peluru yang ada di senjatanya ke arah semua polisi yang ada di sana dengan membabi buta.
Melihat Yoochun yang tertembak di punggung dan membuat Yoochun jatuh terjelembab ke tanah, Junsu jadi kalap dan menembaki semua polisi itu tepat di tangan dan kaki mereka, membuat mereka kesakitan dan melepaskan senjata mereka.
YunJae, Changmin, dan Wujoong hanya menembaki beberapa polisi yang coba menembak Junsu.
Junsu yang masih sibuk menembaki polisi-polisi yang kan menjadi tersangka itu tidak mengetahui kalau Yoochun sudah bangun dan ikut membantu Junsu meringkus polisi tersebut.
Setelah selesai meringkus polisi tersebut, Junsu langsung hendak mencari Yoochun namun tidak menemukan Yoochun dimanapun. Dia belum sadar kalau seorang namja cassanova sedang memeluknya dari belakang.
"Aku di sini Suie," ucap Yoochun sambil mengecup lembut dahi Junsu.
Junsu tersentak kaget dan kemudian membalikkan badannya ke arah Yoochun.
"Chunnie! Bukannya tadi kamu tertembak?" ucap Junsu kaget karena Yoochun tidak terluka sama sekali.
"Tentu saja tidak. Aku memakai baju anti peluruku," ucap Yoochun dengan menunjukan baju antipelurunya.
Junsu langsung memeluk Yoochun dan menyikut perut Yoochun, membuat Yoochun berpura-pura meringgis kesakitan.
"Kamu tau kalau aku khawatir setengah mati hmm?" ucap Junsu yang langsung memeluk Yoochun erat, mengabaikan teman-temannya sedang memasukan tahanan ke dalam mobil tahanan. Minho tampaknya langsung membawa mobil tahanan begitu tahu dongsaeng mereka sudah meringkus polisi-polisi yang terlibat kasus narkoba.
"Kamu sudah tau dari awal mengenai wanita tersebut?' tanya Junsu yang memandang mata Yoochun lekat.
"Tentu saja aku sudah tau hehe, tapi aku menutupinya dari kalian karena aku mencoba membongkar kedoknya terlebih dahulu," ucap Yoochun sambil mengecup dahi Junsu.
"Lalu kenapa kamu tidak percaya dengan ucapanku?"
"Aku percaya. Aku sedang berakting waktu itu jadinya begitulah hehehe."
"Akting?"
"Iya, aku sudah tau kalau yeoja itu seperti menjebakku atau berlindung di belakangku agar kedok dia tidak ketahuan, tapi malah ketahuan olehku yang sudah memeriksa beberapa kejanggalan di dalam rumah tersebut," jelas Yoochun ," saat kamu mengatakan kalau dia dalangnya, aku berpura-pura tidak tau karena dia sedang menyadapku waktu itu dan aku tau itu. Kalau aku lepas penyadap itu, maka penyamaranku juga akan ketahuan Suie. Maafkan aku waktu itu aku sudah membentakmu." Penjelasan Yoochun diakhiri dengan mencium kening Junsu dengan lembut.
Junsu memeluk Yoochun dan mencium kilat bibir Yoochun.
"Iya, tidak apa-apa Chunie," ucap Junsu masih dengan memeluk Yoochun.
"Wah wah sudah berbaikkan ya..," ucap Jaejoong.
"Tentu sudah hyung hehe, maaf ya waktu itu," ucap Yoochun setelah melepas pelukannya dengan Junsu.
"Iya tidak apa-apa hehe, aku tau," ucap Jaejoong.
"Tapi berkatmu aku bisa ber'ehem' ria dengan Jaejoong waktu itu hahaha, terima kasih Chun," ucap Yunho dengan bangganya dan sukses dibuat kesakitan setelah Jaejoong menyikut perutnya.
"Aigoo hyung hahaha," ucap Yoochun yang juga tertawa pervert, "apakah kita juga harus seperti itu Suie agar moodmu kembali?" Yoochun menarik turunkan alisnya.
"In your dream, pervert Mickey," ucap Junsu yang pergi membantu Wujoong yang sedang mengumpulkan bukti.
"Ya, ya, berusaha keraslah lagi," ucap Jaejoong yang kemudian pergi dengan Yunho, meninggalkan Yoochun yang menatap nanar (?) butt Junsu (?).
Ya Yoochun, berusahalah di lain kesempatan (?).
.
.
TBC.
Hello hello readers! Maafkan saya kalau saya updatenya lama dan apabila banyak typo sana sini.
Bagaimana pada chapte rini? Membosankan ya? Hehehe maaf apabila membosankan ^^"
Tunggu update selanjutnya ya dan jangan lupa baca ff saya yang lain.
Terima kasih bagi yang sudah menanti ff ini, membaca ff ini, mereview, mem-favorite, dan mem-follow ff ini. Saya janji di chapter berikutnya banyak YJ, YS, dan CK moment hehehe ^^
Annyeong ^^
.
Balasan review:
Guest : terima kasih ^^
yjs : kali ini YooSu dulu ya ^^
teukiangle : terima kasih ^^
.549 : di chapter ini YooSu dulu ya ^^
akiramia44 : iya hehehe makasih ^^
sycarp : ada di chapter ini ^^
DahsyatNyaff : thank you~
Clein cassie : iya semoga ya hehehehe
Youleebitha : Terima kasih ^^
