Seperti biasa, Choi Siwon memiliki hak penuh atas istrinya, Choi Yesung..

Ini dunia mereka, dan sayangnya saya sama sekali tak berhak meng-klaim mereka menjadi milik saya..

.

_Cloudy10413_

.


Chapter 2

.

Yang kutau, Cinta sama sekali tak mengenal kata mengada-ada

Dan yang kutau pula, Cinta itu tak memberontak

Cintaku dengan bebasnya menyanyi dan menarikan rahasianya kepada keabadian

Dan cintaku, adalah fajar baru didunia yang hangat diterpa cahaya dari surga yang lebih dalam...

.

.


Apa kau tau jika cintaku begitu sempurna?

Terlihat seperti awan musim semi, Kuning seperti cahaya lilin dan merah seperti cakrawala..

Namun, cakrawalaku jauh lebih sempurna,

Dan cakrawalaku itu bernama, Choi Siwon...


.

.

Seoul, July 23rd 2008

.

.

Musim gugur mulai melipat pakaian tidurnya semalam. Dan kini berganti dengan pakaian fajarnya yang jauh lebih suci. Bulbul menyapa sejenak dengan riang, untuk kemudian mencoba menggoda daun hingga mereka membunyikan gemerisiknya yang khas.

Siwon menggeliat. Mencoba mengais kesadarannya yang tertelan dinginnya malam musim gugur yang telah lewat. Tubuhnya terlampau kaku untuk sejenak direnggangkan otot-ototnya.

Obsidiannya menerjap beberapa kali. Mempersilahkan masuk cahaya yang dengan nakalnya menyelip diantara kisi ventilasi jendelanya.

"Hoaammm~"

Sitampan menguap untuk mengusir sisa rasa kantuk yang sedianya masih terasa. Mulai bangkit, hingga telak sepasang iris gelapnya menangkap sebuah deretan angka yang menggantung anggun beralaskan alumunium bentuk persegi disisi kiri mejanya.

09.00 AM

Apa?

"Shit!"

Siwon mengumpat. Faktanya, ia terlambat bangun. Jam sembilan? Ayolah.. itu sudah sangat keterlaluan.

Buru-buru ia bangkit. Menyingkap bed cover motif abstraknya asal. Lalu kemudian dengan terburu hilang kedalam kamar mandi. Berbesih sedikit mungkin masih sempat.

Cklek

Tak sampai seperempat jam, pintu persembunyian sitampan itu berderit. Menampakkan sang penghuni yang telah berbalut setelan lengkap. dengan sebelumnya telah bercukur barang sebentar maksudnya agar tampilannya jauh lebih perfect dari biasa.

Tak lupa disambarnya benda multi fungsinya yang lain. Ponsel tak lupa ia coba perhatikan.

Matanya sedikit membola begitu banyak sekali pemberitahuan tertera. Puluhan misscall dan pesan tak terbaca berderet minta diperhatikan. Hanya sebuah nama tertera. Sang manager.

Segera didialnya sebuah ID. Ia butuh kejelasan tanpa mau membuka barang satu dahulu isi pesan itu.

"Yeoboseyo," mulainya.

"Ya! Siwon-ah. Apa saja yang kau lakukan? Aku berkali-kali mencoba menghubungimu dan mengirimimu pesan!"

Sang pemberi umpan hanya menatap datar pada sekeliling. Ia sudah terbiasa dengan kicauan sang manager.

"Ada apa?"

Sang manager terdengar menghela nafas berat. Percuma. Artisnya memang tak pernah mau sedikit menghargai usahanya beramah-tamah. Keterlaluan memang.

"begini, aku hanya ingin mengatakan padamu, jika hari ini kau mendapat libur karena produser merasa kau telah begitu bekerja keras untuk drama terbarumu itu."

Bibir sitampan itu tampan sedikit beraksi—ingat, hanya sedikit. Hingga kembali menampilkan pocer face-nya tanpa tau maksudnya.

"baiklah."

Bip

Line terputus, dan sitampan itu yang menjadi penyebab. Tanpa Eforia berarti. Wajah itu terlalu datar, mengingat begitu sulitnya seorang sepertinya mendapatkan jatah libur yang memang sangat ingin didapatkannya. Tapi ya sudahlah.. managernya-pun diyakininya telah paham betul karakternya. Jika tidak, maka tak mungkin ia akan betah berlama-lama menaungi artis dengan atidude super ajaib miliknya.

"Menyusahkan!"

Dengan santai, dilemparkannya kembali ponselnya hingga teronggok tak berdaya diatas ranjangnya. Kemudian ia lebih memilih kembali berganti pakaian menjadi lebih santai. Waktu satu hari ini tak mungkin ia lewatkan begitu saja.

Eh?

Obsidian nya kembali membola, begitu kakinya telah menyeretnya hingga ruang santainya—merangkap juga ruang tamu dengan sebuah sofa panjang dengan satu set TV Flat didalamnya.

Nugu?

Inner nya mulai berjalan. Dilihatnya, ada sosok lain diapartement-nya kini. Siapa? Alisnya berkerut bingung.

Sosok itu masih terlelap. meringkuk diatas sofa mahalnya dengan sebuah sweater rajut yang Siwon yakini milik sosok itu pula, membungkus menutupi tubuhnya yang terlihat emm—mungil?

Berjalan mendekat, lalu berjongkok tepat disisi wajah sang 'tamu'.

"bangun!"

Sergahnya datar. Tangan kekarnya mulai difungsikan untuk lebih bisa membangunkan sosok asing itu. kembali diperhatikan wajah yang memang benar-benar asing untuknya.

Sepertinya memorinya semalam masih belum kembali. Terbawa oleh embun pagi ini. sampai-sampai ia sama sekali tak ingat apa-apa tentang manusia didepannya itu.

"kubilang bangun!"

Tangannya kembali mengguncang sang tubuh mungil. Kesabaran paginya tetap ada batasnya.

"Eunghh~"

Tangan kekar itu mengawang. Tak jadi saat ingin menarik sweater pembungkus tubuh itu ketika dirasa ada suara lain mengintruksi.

"Eunghh.. Nuguya?"

Suara simungil serak. Alis tebal itu makin bertaut walaupun wajah bingkaiannya itu masihlah datar. Apa-apaan pikirnya. Bukankah seharusnya kata itu ialah yang mengucap. Mengapa jadi terbalik?

Mata Sipit—yang baru Siwon sadari ketika pertama kali melihat kristal bening itu terbuka, kini malah tengah berkedip lugu. lebih difungsikannya untuk menatap lekat wajah tampan yang masih minim jarak dengannya itu.

Set

Tak tahan lagi. Siwon kemudian menarik paksa tangan sosok itu hingga mau tak mau membuat empunya tertegak dan berdiri.

"Siapa kau?"

Dingin. Suara baritone itu begitu dingin hingga sang 'tersangka' tercekat sejenak. Kepala itu mulai memiringkan tengkoraknya. Maksudnya mungkin ingin memperjelas penghilatannya pada wajah tampan didepannya itu.

"Emm.. Aku Kim Yesung. apa kau lupa padaku?" tanyanya balik. Nadanya sangat lugu hingga mau tak mau Siwon kembali menahan nafas entah apa maksudnya.

"Kim Yesung? Sia—Ah! Aku ingat! Kau orang gila yang memaksa tinggal bersamaku, bukan?" balas Siwon heboh. Sedikit meninggalkan kedatarannya. Apa untuk mengimbangi sang mungil?

Bibir Plum itu mengerucut hebat. Satu tangannya yang mungil berusaha mengucek matanya yang sedikit perih akibat terpaksa untuk terbuka sebelum waktunya—menurutnya—beberapa saat tadi.

Yang katanya bernama Yesung itu mengangguk sekilas, namun bibirnya masih dalam kemasan pout yang menjanjikan.

"akhirnya kau ingat! tapi aku tidak gila! Aku sangat normal dan sehat, sangat sehat!" Sangkalnya penuh penekanan. Siwon diam. Ingin membalas tapi tak jadi. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu merangsek masuk pada hatinya. Rasa hangat yang telah lama tak ia rasakan—mungkin semenjak dunianya berubah senjadi sangat 'berwarna'.

"aku percaya! sekarang, keluar dari rumahku!"

Dengan cekatan, Siwon menarik tangan Yesung menuju kepintu luarnya.

"Yah! Kita Sudah sepakat semalam, Ahjussi. Kau tak boleh mengusirku seenaknya!" protes Yesung.

Siwon berhenti melangkah. Lalu mendongakkan wajahnya pada Yesung yang masih melancarkan aksi protesnya.

"Kau memanggilku apa?" desis Siwon berbahaya. Yesung hanya mampu tersenyum kaku seraya menggunakan tangannya yang bebas untuk menggaruk tengkuknya.

"aku memanggilmu Ahjussi. Wae? Kau keberatan?" tanyanya bertubi-tubi.

Wajah tampan itu makin angker. Mungkin ia harus segera mendaftarkan nama 'tamu'-nya itu kedaftar hitam orang yang berhasil membuat mood-nya sangat kacau pada pagi ini.

"astaga! Kurasa aku sudah gila! Bagaimana bisa aku mengizinkan mahkluk aneh masuk kerumahku?" rutuk Siwon sakrastis. Yesung mencibir pelan dan berusaha melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh Siwon.

"Aku masih manusia, Ahjussi! Dan aku fansmu!" sangkal Yesung balas menatap bosan Siwon.

"Oh Gosh! Berapa usiamu?"

Yesung berpikir sejenak. Memasang pose yang sungguh imut. Namun Siwon tak mau mengakuinya serta merta. Ia terlalu tinggi hati untuk itu.

"Emm.. agustus tahun ini, umurku 17 tahun."

"MWO?! Kau bercanda? Kau berniat menjadikanku tersangka atas dugaan penculikan anak dibawah umur, begitu? Pergi dari rumahku sekarang!" Siwon tak habis pikir, bagamana bisa fans-nya senekat itu. Oke.. mungkin 'anak kecil' didepannya itu harus ia klasifikasikan sebagai sasaeng fans.

"Ah..Andwae! Andwae! Jebal.. ahjussi. Hanya satu bulan! Aku janji hanya satu bulan!" Yesung mencoba berkelit. Dengan kemampuan yang ia miliki, ia kembali mencegah langkah Siwon agar tak mengusirnya.

"aku tak peduli!" balas Siwon acuh.

"Ahjussi.. Jebal?" Yesung kembali mengiba. Siwon menatapnya garang.

"Berhenti memanggilku Ahjussi! Aku belum setua itu, kau tau?" dilanjutkan kembali aksi seret menyeret itu. ia lebih erat mencekal tangan mungil Yesung.

"Shireo! Aku akan terus memanggilmu Ahjussi!" Yesung menolak telak. Namun Siwon seakan tak peduli. Ia makin bersemangat mengusir 'tamu tak diundangnya' itu.

"Ahjussi.." panggil Yesung. menurunkan intensitas nadanya. Terdengar mengiba. Namun Siwon tetap bergeming.

Brug

"Ahjussi.. aku mohon. Biarkan aku tinggal bersamamu.."

Siwon terdiam. Menatap kaget namja muda yang kini tengah berlutut hingga menjadikan langkahnya terhenti.

"Cih! Cara lama, Basi!"

"Aku masih bisa mendengarnya, Ahjussi!" cibir Yesung. Siwon kembali menarik tangannya.

"Oh! Baiklah.. Ayo bangun! Cepat keluar dari rumahku!" seru Siwon yang mulai iritasi dengan tingkat 'kesopanan' Yesung.

"Ani.. Ani..Ani.. mianhae.. mianhae.. Jebal?" Yesung kelimpangan. Dengan sekuat tenaga ia mempertahankan posisi berlututnya itu.

"bangun!"

"Tidak mau!"

"Kubilang bangun!" Siwon mulai meninggikan nada suaranya. Yesung menggigit bibir bawahnya keras.

"Tidak mau!"

Siwon mendesah keras. Ternyata didunia ini, masih ada orang yang mampu menandingi kekeraskepalaannya.

"Baiklah aku menyerah. Apa maumu?" tanya Siwon pasrah. Yesung tersenyum menang.

"tolong izinkan aku tinggal disini selama sebulan." Jelasnya ceria.

Siwon memandang penuh selidik, " mengapa aku harus mau menampungmu selama sebulan?"

"emm.. karena, a-aku harus tinggal bersamamu. Ya.. seperti itu!" balas Yesung penuh keraguan.

"dimana keluargamu? Aku tak mau disangka menjadi penculik!"

Yesung kembali menimang. Digigitnya bibir bawahnya refleks, "A-aku—Aku tinggal dipanti asuhan."

Alis tebal itu kembali meninggi, "Kau tengah berusaha membohongiku, eoh? Kenapa yang kulihat tak seperti itu." jedanya seraya kembali mengestimasi tampilan Yesung dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"pakaian yang melekat ditubuhmu semuanya dari merk terkenal. Dan aku tau, itu harganya tak murah. Dan kau tak terlihat seperti seorang anak yang kekurangan gizi. Kau kabur dari rumahmu, eoh?"

Yesung terdiam. Mulai memilini ujung pakaian yang tengah dipakainya. Namun tak lama, ia mendongak. Menatap penuh kebosanan pada sitampan pujaannya itu.

"Aku mengatakan jika aku tinggal dipanti asuhan, bukannya aku seorang gelandangan apalagi pengemis, Ahjussi." ucapnya kesal. Siwon meliriknya sekilas dengan pandangan yang sulit diartikan.

"lalu darimana kau bisa membeli semua atribut bermerkmu itu?"

Yesung mencibir pelan. Seraya terus menatap Siwon.

"apa tak ada pertanyaan yang lebih penting lagi, Ahjussi? dan kurasa kau tak perlu tau apa-apa tentangku. Karena disini, yang artisnya kan kau, bukan aku. Jadi cukup aku yang mengetahui segalanya tentangmu dan kau tak perlu tau apapun tentangku!" jelasnya malas.

"Sudahlah Ahjussi. terimalah aku.. sebulan. Cukup sebulan. Lalu aku akan pergi." Tambah Yesung sebelum Siwon sempat mengajukan sanggahannya.

Siwon memutar bola matanya frustasi, "memang apa yang akan kudapatkan jika aku mengizinkan kau tinggal disini?"

Yesung menimang sejenak, "seperti kau bilang semalam, aku mau menjadi budakmu."

Siwon menatap Yesung tak percaya, "memang kau bisa apa? Aku juga harus selektif memilih orang untuk menjadi budakku!"

"Aku bisa emm.. memasak?" Yesung berucap tak yakin.

"benarkah? Lalu apa lagi?" Siwon mengubah posisi dengan kini berkacak pinggang didepan Yesung yang masih berlutut dibawahnya.

"Men-mencuci, mengepel Ahh! Intinya bersih-bersih rumah aku sanggup!" deklarasinya dengan penuh keganjilan Siwon merasa.

"Kau tak sedang membohongiku?" selidik Siwon. "yang kulihat, kau bukanlah orang yang biasa melakukan semua pekerjaan-pekerjaan itu." tambahnya.

Yesung membuang muka, tak ingin diintimidasi oleh Siwon lebih jauh.

"Tentu saja aku bisa, kau harus percaya padaku, Ahjussi." Balasnya gugup.

"hah! Terserah kau sajalah! Aku ingin istirahat!" dengus Siwon acuh lalu pergi meninggalkan Yesung begitu saja.

Yesung menerjap beberapa kali. Memastikan semuanya benar adanya. Lalu beberapa saat kemudian, senyuman manis terpendar diparas indahnya.

"Yeahh~ Kau yang terbaik, Ahjussi. Gomawo~!" Satu teriakan penuh antusiasme mengalir dari bibir mungil itu.

Disisi lain. Siwon yang baru meninggalkannya beberapa langkah diam-diam tersenyum. Senyum yang bahkan sudah sangat lama tak terlihat dari wajah tampannya. Anak kecil itu ternyata sanggup menjungkir-balikkan Mood-nya secara ajaib. Hebat!

Kembali ke Yesung yang mulai membenarkan posisinya menjadi berdiri. Sedikit menepuk debu yang menempel pada celananya akibat berlutut tadi.

Senyuman masih setia terpendar. dengan penuh keyakinan, ia mulai kembali melangkah. namun, sedikit penyesalan nyatanya tersirat disepasang Onyx orientalnya itu.

"Maafkan aku, Ahjussi. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku yang tersisa denganmu.. karena aku sungguh menyukaimu.."

.

.

.

Kau sungguh bercahaya waktu itu..

Kalau aku cakrawala bagimu, maka kau adalah mahkota istarnya yang agung..

Bahkan bagiku, kau lebih manis dari desahan violet..

Kau Kim Yesungku yang teguh pendirian..

Dan aku rindu mencintaimu..

.

.

.

"Eh, kau tak ada Schedule, Ahjussi? kenapa kau malah bersantai ria disini?" tanya Yesung yang baru kembali memasuki apartement Siwon. dan melihat namja tampan itu tengah asyik bersantai sembari menonton televisi.

"itu urusanku!" jawabnya tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari benda Flat itu.

Yesung mengendikkan bahunya acuh. Tak patah arang, segera ia melarikan kakinya lebih mendekat pada sitampan itu tanpa dosa.

"Ahjussi, Aku lapar~!"

Siwon menatap datar—amat datar— pada tubuh mungil yang seenak jidatnya memenuhi pandangannya, menutupi Objek yang sedari tadi menjadi fokusnya. Televisi. Yesung dengan tangan mungilnya merentang telak. Berhasil membuat Siwon memperhatikannya.

"menyingkir dari situ!"

Siwon menegur dengan nada yang masih flat. Tanpa sedikitpun berbenah posisi. Masih setia duduk nyaman, bersandar pada penampang sofanya dengan remote ditangan.

Yesung mengendus. Kakinya dihentakkan keras-keras, tak lupa dengan bibirnya yang dikerucutkan beberapa centi. Apa boleh aku menyebutnya tengah merajuk saat ini?

"Ahjussi~~!"

Siwon berdecak. Lalu kemudian bangkit.

Set

Eh?

Mata Sipit itu menerjap. Begitu dilihatnya Siwon kembali duduk tenang setelah sebelumnya berhasil mendorong tubuhnya untuk menyingkir dari depan televisi itu.

"Ahjussi.. lapar~!" tanpa aba-aba, Yesung kembali merentangkan tangannya untuk menutupi televisi yang saat ini tengah menyala tersebut.

"Aishh.. hah!—" Siwon menghela nafasnya sejenak, "—disini, yang budaknya kan kau, jadi seharusnya kau yang membuatkan makanan untukku!" balasnya sarkastis. Bibir mungil itu semakin maju.

"Tapi aku kan tidak bisa memasak." gerutu Yesung pelan. Namun sedikit banyak mampu membuat Siwon menatapnya.

"kau bilang apa?" tanyanya penuh selidik.

"Ah.. Aniyo! Baiklah, aku akan memasak." Putus Yesung terbata. Dengan cepat, ia segera enyah dari hadapan Siwon yang menatap kepergiaannya dengan pandangan yang penuh arti.

"Emm.. Ahjussi, dimana letak dapurnya?" langkah kaki mungil itu terhenti, lalu mulai diarahkan lagi pandangannya pada Siwon.

Siwon terhenyak. Lalu mulai berpura-pura kembali fokus pada tontonan yang sedari tadi sebenarnya ia abaikan.

"Arah jam satu." Balasnya tanpa minat.

"Oh.. Okay.. arraya~!" dengan riang, Yesung pergi menjauhi Siwon yang terlihat tergugu memperhatikan sosok mungil itu pergi menjauh.

"Siapa sebenarnya kau? Mengapa tiba-tiba masuk dalam kehidupanku seenaknya? Dan lucunya, aku tak bisa menyingkirkanmu begitu saja.."

PRANG

Sibuk dengan pikirannya sendiri, Hingga sebuah suara dengan frekuensi tinggi memekakan telinganya membuat fantasinya berhenti bekerja. Giginya lantas bergemelutuk. Firasatnya buruk. Dan itu semua menyangkut satu nama. Satu nama yang secara tiba-tiba mengacaukan semua pikirannya.

"KIM YESUNG!"

.

.

.

TBC

.

.

.

Sedikit pemberitahuan. Tiba-tiba saya ingin mengubah, merombak seekstrim-ekstrimnya FF ini. entah itu Alurnya, genrenya, karakter tokohnya.. dan semua-muanya.

Bingung ya? Sama*slap

Niat awalnya pengen nistain mommy dan bikin daddy bener2 nyesel karena udah segitu nistain mommy-nya. Tapi ternyata... saya ga setega itu. pas lagi ngetik, yang kebayang itu yang mommy yang imut-imut, mommy yang 'cuek', mommy yang seenaknya tapi tetep terlihat innocent dan mommy yang sedikit*banyak* keras kepala, juga mommy yang childish dan sedikit manja.

Dan untuk daddy, awalnya saya pengen jadiin daddy yang bener2 dingin, yang keras dan intinya yang nyiksa mommy lahir batin. Tapi lagi2 semua menguap waktu ngetik. Jadi beginilah hasilnya.

Aneh ya? Ahh.. terserahlah. Mungkin saya tengah dalam proses mulai berlaku adil pada YeWon.. ga KyuSung doang yang berlove dovey mulu. Hhaa..

Boleh kan saya ubah sedikit *banyak woyy* ff ini? tapi tetep ada hurt-nya qo. Jangan khawatir :p

Cuma mau ngingetin, chapter ini masih FLASBACK! Masih di past. Dan tenang, buat Romantic rainbownya udah selesai pengerjaannya. Tinggal tunggu timing yang pas buat update*alibi ^^

.

Okay.. least, Still wanna gimme some reviews? Hopeless -_-!

YEWONDERFUL, JJANG!