chp 2

Yunho terbangun dari tidurnya dan mengucek matanya. Ia meregangkan otot-ototnya dan melihat ke sekelilingnya. Ternyata ia masih di dalam van. Yunho pun membuka sedikit tirai mobil vannya. Astaga! Tempat macam apa ini? Pemandangan yang ia lihat dari kaca mobil vannya hanyalah kebun teh.

Ternyata bosnya memang tidak main-main. Yunho benar-benar di buang di sebuah desa yang isinya kebanyakan adalah kebun. Sepertinya semua tanaman di tanam di kebun-kebun pedesaan ini. Bahkan jika uang adalah bibit tanaman, Yunho yakin ia bisa melihat puluhan uang yang sudah siap panen di setiap pohon di desa ini. Benar-benar desa kebun.


Yunho menyeret koper besarnya sambil membaca peta yang diberikan supirnya. Bahkan supir yang selalu mengabdi padanya itu juga kejam seperti bosnya. Tega sekali ia membiarnkan 'Pangeran Yunho' berjalan sendirian mencari sebuah alamat. Kalau bukan karena bosnya, Yunho pasti sudah membuat supirnya itu sengsara. Tapi sekarang bukanlah waktu yang pas untuk menguhukum supirnya. Sekarang Yunho harus mencari rumah seorang kepala desa. Bahkan Yunho baru tahu kalau jabatan 'kepala desa' itu benar-benar ada.

Sekarang sampailah Yunho di depan sebuah rumah sederhana -tapi sepertinya paling mewah di antara rumah lain- milik si 'Kepala Desa'. Yunho mengetuk pintu rumah itu. Tak lama kemudian sesosok pria tua yang lebih pendek dari Yunho dan juga berkumis keluar dari rumah sederhana itu. Pria tua itu melihat Yunho dari ujung kepala sampai ujung kaki, persis seperti apa yang di lakukan oleh kepala sekolahnya dulu. Wajah pria tua itu terlihat sumringah setelah berhasil mendeteksi siapa Yunho.

"Wah! Akhirnya" Pria tua yang menyunggingkan senyum sumringahnya segera menarik Yunho ke sebuah rumah yang tidak jauh dari rumahnya. Kepala desanya saja seperti ini apalagi warganya, batin Yunho.

Pria tua itu mengetuk pintu sebuah rumah tingkat -yang lebih mewah dari miliknya- sambil tetap menggenggam tangan Yunho. Sepertinya Yunho sudah salah menilai. Ternyata ada rumah yang lebih bagus dari rumah si 'Kepala Desa'. Tak lama kemudian seorang pria cantik keluar dari rumah tingkat itu.

Pria cantik menatap pria tampan yang ada di hadapannya. Pria cantik itu menatap Yunho dari atas sampai bawah, persis seperti apa yang di lakukan si 'Kepala Desa' tadi. Tinggi, tampan, kulit kecoklatan, saingan baru.

Lagi-lagi menatap Yunho dari atas sampai bawah. Semua orang di desa ini pasti orang aneh, batin Yunho. Yunho paling tidak tahan di pandang seperti itu. Menurutnya, hanya mertuanya saja yang boleh menatap seperti itu.

"Emm... Siapa orang ini?" Pria cantik itu bertanya dengan senyum yang agak dipaksakan. Tentu saja, pria cantik itu tampak tidak menyukai Yunho.

"Dia penduduk baru kita, namanya Yunho, Jaejoong ini Yunho, Yunho ini Jaejoong," Kepala desa saling mengenalkan Yunho dan Jaejoong. Mereka pun bersalaman sambil tersenyum paksa. Mereka pasti saling tidak menyukai.

"Orang Seoul ya?" Yunho agak tersinggung dengan pertanyaan Jaejoong. Meskipun tidak ditanyakan langsung ke Yunho melainkan ke si 'Kepala Desa' tapi Yunho merasa pertanyaan itu tidak pantas di tanyakan di depannya. Memangnya ada apa dengan 'Orang Seoul', menurut Yunho semua orang sama saja -kecuali orang di desa ini- , Yunho benar-benar tidak terima dengan pertanyaan konyol itu.

"Iya, tapi ku rasa Yunho orang yang baik, ya kan Yunho?" Kepala desa menatap Yunho dengan tatapan -jawab saja iya- dan Yunho mengangguk dengan senyum yang sangaaat terpaksa. Benar-benar perkenalan yang menguras emosi.

Setelah berkenalan dan bertamu di rumah Jaejoong, si 'Kepala Desa' mengajak Yunho untuk berkeliling ke sekitar desa. Padahal Yunho sudah sangat lelah dan ingin segera tidur lagi. Yunho pun menolak ajakan si 'Kepala Desa' dan meminta si 'Kepala Desa' untuk memberikannya peta desa saja.

"Ku rasa jika aku berkeliling sendiri aku bisa menemukan hal-hal yang tidak bisa ku temukan jika berkeliling bersamamu" Raut muka si 'Kepala Desa' langsung berubah takut dan khawatir. Sepertinya ada yang sangat di khawatirkan si 'Kepala Desa' itu jika Yunho berkeliling desa sendirian.

"Ku harap kau tidak menemukan apa yang tidak bisa kita temukan jika kita berkeliling bersama, Yunho" Sepertinya si 'Kepala Desa' sedang menasihati Yunho. Terlihat jelas bahwa ada sesuatu di desa ini yang di sembunyikan oleh orang desa dan tidak ingin orang lain tahu apa itu. Si 'Kepala Desa' akhirnya meninggalkan Yunho setelah mengantar Yunho ke rumahnya.

Rumah Yunho bisa dibilang kecil. Hanya ada satu ruangan dan satu kamar mandi. Dapur juga tidak ada, hanya ada kulkas mini. Yunho kebingungan bagaimana ia bisa masak untuk sarapan besok. Tapi karena Yunho sudah merasa lelah, akhirnya Yunho merebahkan tubuhnya ke kasur. Baru saja satu menit tidur di kasur, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya.

Tok...tok...tok...

Ck! Menyusahkan sekali! Tidak bisa lihat orang sedang istirahat apa? Batin Yunho. Tentu saja tidak bisa lihat, rumahmu saja tertutup. Dasar bodoh.

Seorang pria berotot dengan kulit kecoklatan berdiri di depan rumah Yunho yang kecil ini. Yunho menatap pria itu dari atas sampai bawah. Gawat! Aku mulai terjangkit virus aneh dari orang didesa ini! batin Yunho.

"Aku Kim Joongkok, aku bertugas untuk mengambil semua hasil panenmu tiap harinya. Tidak hanya hasil panen dari kebun mu,tapi juga dari hutan," Pria berotot ini berbicara sangat tegas dan jelas mirip seorang tentara. Mungkin pria ini baru selesai menjalani wajib militernya.

"Hutan? Apa yang bisa aku dapat dari hutan?" Kalau hutan di desa ini bisa menghasilkan pohon uang, pasti Yunho sudah kaya raya dan tidak perlu menjadi artis lagi.

"Kau bisa mengumpulkan kayu bakar atau jamur liar, kau bisa memberikannya padaku dan aku akan memberikanmu uang" Gotcha! Yunho mengerti sekarang. Jadi ini seperti sistem barter di jaman dahulu. Saling bertukar, ya kan.

"Ini seperti barter kan? Aku memberimu barang,kau memberiku uang, ya kan?" Yunho mengatakannya dengan percaya diri, seolah-olah perkataannya itu benar sekali. Dasar Yunho bodoh, dia pasti tidak lulus pelajaran sejarah saat SMP dulu.

"Kau bodoh atau apa? Sejak kapan menukar barang dengan uang di sebut barter?" Joongkok menatap Yunho dengan tatapan tidak percaya. Apa orang Seoul sebodoh ini, batin Joongkok. Yunho mengerutkan dahinya. Tidak ada yang salah dari ucapannya kan?

"Menukar barang dengan uang itu namanya MENJUAL" Yunho terlihat kikuk ketika mendengar perkataan Jongkook. Sepertinya Yunho memang sangat bodoh sampa-sampai dia tidak bisa membedakan mana barter mana menjual.

Setelah menjelaskan semuanya Joongkok berpamitan pada Yunho dan meninggalkan Yunho. Joongkok berpikir sambil meninggalkan Yunho. Sepertinya aku pernah melihat orang ini tapi dimana ya, batin Joongkok.


Pagi pun datang. Sinar matahari yang hangat masuk ke rumah Yunho lewat jendela-jendela kecil di rumahnya. Yunho meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku akibat tidur di kasur yang sangat tidak empuk.

Tok tok tok

Siapa lagi yang datang ke rumah Yunho pagi-pagi begini. Yunho dengan malas pergi keluar rumah dan melihat siapa yang datang.

Pria cantik itu lagi. Yunho melihat pria cantik itu dengan pandangan yang seolah bertanya -mau apa kau kesini- dengan mata sipitnya. Tapi pria cantik itu terlihat berbeda hari ini. Baru kali ini Yunho melihatnya menggunakan kemeja kotak-kotak merah, jumper berbahan jeans, sepatu boots tinggi, dan juga topi petani yang sepertinya di rajut dari serat kayu. Benar-benar lucu dan cantik. Tunggu, apa-apaan ini, kenapa Yunho berpikir seperti ini.

"Mulai hari ini kepala desa menyuruhku untuk membantumu berkebun dan mencari sesuatu yang bisa kau jual dari hutan, kau harus menuruti apa kataku dan jangan mengeluh!" Jaejoong mengucapkan seluruh kalimatnya persis seperti anak TK yang sedang berperan jadi petani. Datar dan cepat.

"Kenapa kau mengaturku? Memangnya kau bisa berkebun dari nol? Kau saja hanya membantu perkebunan ayahmu, pasti kau tidak bisa berkebun dengan cara sebenarnya kan?" Yunho tersenyum sinis. Tentu saja Yunho sedang menyindir Jaejoong. Jaejoong menatap Yunho dengan tatapan murka.

"Aku ini sering memenangkan kontes petani termuda dan petani terhebat di desa ini, jadi kau ikuti saja perintahku" Jaejoong terlihat sangat bangga dengan gelar yang selalu di dapatkannya setiap tahun itu. Yunho yang melihat kebanggaan Jaejoong hanya tertawa sinis.

"Hanya di desa ini kan, bukan di seluruh desa di Korea" Jaejoong merasa sakit dengan perkataan Yunho. Memang benar, tapi harusnya di sampaikan dengan baik-baik bukan dengan cara yang menyakitkan seperti ini.

"Sudahlah! Sekarang ayo kita ke hutan!" Jaejoong mendorong Yunho berjalan ke arah hutan. Yunho terlihat kaget dan bingung. Hei, Yunho sama sekali belum mandi. Pria cantik bernama Jaejoong ini benar-benar menyebalkan.

Jaejoong menatap punggung Yunho yang sedang memungut kayu bakar di hutan. Sepertinya badan Yunho sangat tidak asing baginya. Ia seperti pernah melihat Yunho sebelumnya, tapi dimana. Entahlah, mungkin di salah satu mimpi buruknya.

TBC


kurang memuaskan ya? kelamaan ya updatenya? T_T mian author lagi banyak masalah jadi gak bisa fokus hiks...hiks T_T semoga chap2 berikutnya bisa lebih baik lagi.

ah ya thanks to semua yang sudah view dan review FF ini ^^

author malah gak tahu loh kalau belum ada FF dimana Yunho jadi petani hehehe

Pokoknya Yunho author bikin menderita hahaha *ketawa evil* *dihajar fans yunho* wkwkwk

Gomawo ^^