"Maafkan aku, Sensei."

Kakashi mendesah mendengar permintaan maaf yang untuk kesekian kali terucap dari bibir mungil si mantan murid.

"Sudahlah Sakura, habiskan saja makananmu dan berhenti berucap maaf. Kau tidak melakukan kesalahan apapun,"gumam Kakashi sembari melipat kedua tangan di depan dada.

Lelaki berambut perak mencuat itu mengajak Sakura ke Ichiraku ramen di kencan pertama ini. Sejak beberapa waktu lalu, mereka berdua masing-masing telah memesan satu mangkuk ramen. Kakashi sudah menandaskan semua ramennya, sementara Sakura sama sekali belum menyentuh makananya.

"Aku benar-benar merasa tidak enak pada Sensei," Sakura meringis, "Nona Tsunade sangat keterlaluan karena sudah memaksa kita berkencan seperti ini."

"Soal itu jangan dipikirkan. Lagipula aku tidak merasa terpaksa," Kakashi sedikit berdusta, "dan juga kapan lagi aku bisa berkencan dengan kunoichi muda cantik sepertimu." Rokudaime Hokage yang masih bujang itu tersenyum di balik maskernya.

"A-a, i ... itu ...," Sakura salah tingkah. Dia tersipu mendengar pujian sang guru.

"Sudahlah, ayo makan. Nanti ramenmu jadi dingin." Kakashi meraih sumpit dan mangkuk ramen milik Sakura, lalu mengaduk kuahnya sebentar. "Ini memang sudah dingin. Ayo sini kusuapi."

Wajah Sakura berubah jadi merah total menanggapi perlakuan Kakashi yang romantisnya berlebihan.

"T-tidak perlu, Sensei. Aku bisa sendiri," tolaknya. Tapi Kakashi tak peduli.

"Aaaaa. Buka mulutnya ...," hup! "Ammm. Anak pintar," puji Kakashi sopan, dengan mata yang makin menyipit karena senyuman yang kian lebar di balik masker.

Bersusah payah mengunyah ramen yang disuapi Kakashi tadi, Sakura melirik sekeliling. Dia mengerang dalam hati melihat para pelanggan Ichiraku beserta Paman Teuchi, dan Kakak Ayame, yang melongo menatap mereka. Setelah sadar dari lamunan karena melihat tingkah 'ajaib' Hokage mereka yang baru, orang-orang itu kemudian saling berbisik.

Sakura berani bertaruh bahwa cepat atau lambat, gosip antara dia dan Rokudaime Hokage akan menyebar cepat di seantero Konoha.

"Ini ayo lagi, buka mulut? Aaa ..."

Sakura tersenyum kaku. "Sudahlah Sensei, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa sendiri." Menolakpun percuma, karena lagi-lagi mulutnya disumpal ramen oleh Kakashi.

Sepasang mata berwarna cokelat, yang pemiliknya sedari tadi menggunakan jutsu perubah wujud untuk menyaru dengan para pelanggan Ichiraku lain, menatap sebal adegan yang terjadi di meja tengah.

"Sebenarnya Kakashi itu pernah mengajak perempuan berkencan atau tidak sih? Yang benar saja! Dia lebih terlihat memperlakukan Sakura sebagai anaknya daripada kekasih," dia mengomel pelan dalam wujud lelaki sipil berambut pirang, berusia sekitar empat puluh tahunan.

"Mungkin itu hanya naluri Kakashi-Senpai sebagai seorang guru yang ingin melindungi muridnya." Shizune, yang kali ini harus bersabar memakai wujud laki-laki tua berbau sup ayam, mencoba menenangkan si Godaime mantan Hokage, yang tampak gatal ingin menghambur ke depan dan menggetok kepala perak-merah jambu, Kakashi dan Sakura.

"Tapi ini kencan, Shizune, kencaaaan. Dia tidak harus bertingkah kebapakan begitu! Sakura juga, kenapa harus malu-malu? Apa dia tidak bisa sedikit lebih agresif lagi? Walau dia tidak punya 'aset berharga' sepertiku ...," inner Shizune langsung memperlihatkan wajah aneh ketika Tsunade menyebutkan kata ; aset berharga, "tapi dia juga punya kelebihan yang bagus. Pantatnya yang montok bisa membuat lelaki tertarik padanya."

Walau mereka hanya berbisik-bisik, tapi Shizune berharap semoga tidak ada yang mendengarkan perkataan Tsunade tadi. Itu memalukan.

"Ini baru kencan pertama, Nona Tsunade. Mungkin setelah beberapa kali berkencan akan ada kemajuan." Shizune akhirnya bisa menemukan suaranya kembali.

"Bisa jadi."

"Sekarang kita akan kemana?"

Mereka berdua menajamkan pendengaran ketika mendengar suara Kakashi yang bertanya pada Sakura. Rupanya si Kunoichi merah muda manis itu sudah menghabiskan ramennya. Terimakasih banyak pada Kakashi yang sudah berperilaku sebagai 'Ayah' yang baik untuk Sakura.

"Entahlah aku tidak punya ide atau bayangan ingin pergi kemana? Sensei sendiri, apa memiliki tempat yang ingin dikunjungi?"

Kakashi terdiam, dia kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar ramen, dan diletakan di atas meja.

"Ayo kita pergi,"mengulurkan tangan ke arah Sakura. Yang langsung disambut oleh si kunoichi merah jambu.

"Hu'um."

Keduanya kemudian beranjak meninggalkan Ichiraku.

"Ayo Shizune, kita ikuti mereka lagi."

"Lagi? Oh, demi Kami-sama aku benar-benar merasa seperti penguntit gila," keluh Shizune namun tetap setia mengikuti gurunya.

.

.

.

"Kau sakit gigi ya, Sasuke? Daritadi wajahmu kusut begitu. Kenapa?" tegur Naruto sembari berjalan mendahului keempat anggota tim taka. Sasuke meminta bantuan pada Naruto untuk mencarikan penginapan bagi ketiga temannya yang lain. Dan sekarang calon menantu keluarga Hyuuga itu tengah mengantar mereka ke salah satu rumah penginapan di Konoha.

"Hei Sasuke! Kalau ada orang yang bertanya sesuatu itu jawab dong!" Juugo, Karin, dan Suigetsu saling berpandangan, terlihat sedikit kagum dengan nada bicara Naruto yang terdengar agak tidak sopan saat berbicara dengan ketua mereka.

"Hn. Kau berisik, Naruto," komentar Sasuke datar.

Naruto mendengus. "Cih. Sombong seperti biasa."

Mereka berjalan santai menuju penginapan. Sasuke, Naruto, dan Juugo, tampak enggan bicara banyak. Hanya saja sesekali terdengar suara pekikan Suigetsu yang dihajar oleh Karin di belakang, dan juga suara makian dahsyat Karin yang merasa terganggu oleh ulah Suigetsu.

"Sasuke."

"Hn?" respon Sasuke sambil mengangkat sebelah alis, tampak heran melihat sobat konyolnya tiba-tiba berubah serius.

"Apa menurutmu mantan guru kita, Kakashi-sensei itu ... pedofil?" ekspresi wajah Sasuke langsung berubah kaku mendengar pertanyaan Naruto. Kedutan samar muncul di keningnya. "Maksudku, bisa-bisanya dia mengajak Sakura-chan berkencan. Padahal Sakura-chan adalah mantan muridnya sendiri. Benar-benar keterlaluan!" Naruto terus mengomel tanpa menyadari suasana hati lawan bicaranya tiba-tiba memburuk. "Aku bertanya-tanya dalam hati, sejak kapan Kakashi-sensei menyukai Sakura-chan? Dan sejak kapan hubungan mereka dimulai?" Naruto berbicara cepat dalam satu tarikan napas.

"Oh Kami-sama, Kakashi-sensei sangat licik. Bisa-bisanya dia mendidik, membesarkan seorang anak kecil polos dan manis, yang setelah beranjak dewasa akan dia pacari dan mungkin nikahi? Ini sungguh modus. Dia Sensei yang berbahaya. Aku tidak rela kalau Sakura-chan kita jatuh ke pelukan om-om tua mesum seperti Kaka-sensei. Sangat tidak rela."

"Bisakah kau diam Naruto? Daritadi kau sangat berisik," ketus Sasuke.

Naruto cemberut. "Hei, aku hanya menghawatirkan Sakura-chan. Apa itu salah?"

"Dia sudah dewasa. Aku rasa dia tahu apa yang dia lakukan, jadi tidak perlu berlebihan menghawatirkannya."

Cemberut Naruto makin dalam, dia hendak buka mulut untuk mengatakan sesuatu, namun diurungkannya niat tersebut saat melihat ekspresi Sasuke yang sepertinya tidak mau dibantah.

"Eh, Sasuke kau mau kemana? Penginapannya di sini!" panggil Karin dan Naruto saat melihat Sasuke yang berjalan lurus ke depan, tanpa mempedulikan teman-temannya yang sudah berhenti.

"Hn. Kalian masuk saja, aku ada urusan," sahut Sasuke. Kemudian dia melompat cepat ke atas atap rumah penduduk. Berlari cepat ke suatu tempat.

Naruto dan tim taka memandang kepergian Sasuke dengan raut wajah bingung.

"Ayo kita masuk."

"Hn."

"Boleh aku tidur satu kamar dengan Sasuke?" tanya Karin penuh harap.

Ketiga pemuda itu langsung menjawab. "Tidak!"

dengan kompaknya.

Karin langsung merengut sebal.

.

.

.

"Aku benar-benar merindukan masa-masa itu." Dengan napas terengah, Sakura terduduk pada sebuah batu besar, di lapangan latihan sektor tiga belas, yang biasa digunakan para ninja muda yang baru lulus dari academy, berlatih untuk pertama kali. Di sini jugalah tim mereka dulu dilatih pertama kali oleh Kakashi. Dan mereka berdua baru saja melakukan latih tarung untuk mengenang masa lalu. "Antusiasme mendapatkan misi untuk pertama kali. Kekonyolan Naruto. Sikap dingin Sasuke-kun. Dan ...," Sakura terdiam sesaat, dia mendongak, matanya menatap kosong ke arah langit biru, "bagaimana mereka berdua selalu berdiri di depan. Menghadapi musuh yang berbahaya untuk melindungiku." Ingatan Sakura melayang ke hari di saat mereka melaksanakan misi untuk pertama kali saat menghadapi Zabuza, Sasuke dan Naruto memaksa dia untuk berdiri di belakang. Dan juga di hari saat ujian chunnin dilangsungkan, ketika Sasuke mengamuk, menghajar para shinobi yang sudah menyakitinya. Membuat rambutnya terpaksa dipotong pendek.

Kakashi mendesah melihat kesedihan Sakura. Dia kemudian menghenyakan diri untuk di samping gadis merah muda itu.

"Sasuke sudah kembali."

"Aku tahu. Aku juga melihatnya tadi, Sensei," sahutnya. Tersirat sedikit kekecewaan dalam suara Sakura.

"Bagaimana perasaanmu?"

Sakura terdiam selama beberapa lama, sebelum menjawab ; "Entahlah. Aku tidak tahu," katanya sembari bangun dari posisi duduknya.

"Eh? Kau mau kemana?"

"Pulang. Ini sudah hampir sore, Sensei."

"Jadi kita menyelesaikan kencan hari ini lebih awal?" Kakashi memiringkan kepala, dia tampak begitu menggoda dengan kemeja dan rambut perak berantakannya yang tertiup angin.

Sakura tertawa. "Sepertinya begitu."

"Apa besok kita akan berkencan lagi?"

Sakura menggedikan bahu. "Itu kalau Sensei tidak sibuk."

"Aku akan meluangkan waktu untukmu," ucap Kakashi sembari bangun dan menghampiri Sakura. "Aku janji."

"Hu'um."

"Ayo, kuantar kaupulang."

.

.

.

"Terimakasih untuk hari ini, Sensei." Berhenti di depan flatnya, Sakura mengucapkan terimakasih pada Kakashi.

"Seharusnya aku yang berterimakasih padamu. Ini hari yang menyenangkan," sahut Kakashi sambil tersenyum. "Sampai bertemu besok," ucapnya sembari berbalik hendak pergi.

"Iya."

"Oh ya, Sakura?" Kakashi menoleh, matanya yang tak tertutup pengikat kepala shinobi tampak berkilat jahil.

"Iya, Sensei?"

"Motif bunga-bunga kecil berwarna merah muda, dan renda cantik itu tampak cocok untukmu," dia berkedip nakal lalu ... Poft! Menghilang.

Blush. Wajah Sakura memerah total karena malu. Dia bingung, darimana Kakashi mengetahui motif celana dalamnya. Dia kemudian mengingat saat mereka melakukan latih tarung di lapangan beberapa waktu lalu. Sakura pernah terjatuh dari pohon—akibat serangan Kakashi—posisinya agak memalukan, dengan gaun yang agak tersikap.

'Jangan-jangan dia melihatnya waktu jatuh tadi?' geram Sakura, hatinya ketar-ketir karena sebal pada ulah Sang guru yang mesum. "Sensei mesum kurang ajar! Awas ya besok!" gerutunya.

KRAK!

Suara besi yang patah mengagetkan Sakura. Dia berbalik dan terkejut mendapati Sasuke yang berdiri di pagar pintu gedung flat yang dia tempati. Wajah pemuda itu tampak tampan, dingin, dan menyeramkan. Dia menatap Sakura tajam.

Sakura berjengit mendapati sebagian pintu pagar besi yang tampak bengkok dan patah di tangan Sasuke.

"S-Sasuke-kun, apa yang kau lakukan disini?" tanya Sakura bingung.

"Menemuimu seperti yang kujanjikan dulu. Tapi sepertinya kau sibuk."

"I-itu ..."

.

.

#ToBeContinue

#Note ; maaf, belum bisa balas review/pm, opera modif saya masih eror.