PAMAN MESUM DAN SEORANG AYAH
Jongin's POV
Seharusnya aku tidak boleh diperlakukan seperti ini. Usiaku bahkan belum cukup jika harus dipaksa melayani laki-laki yang usianya mungkin sama dengan ibuku.
Dia yang membawa ku kemari, memaksa ku melayaninya, juga merawatku dengan sangat baik hingga aku tidak tahu orang macam apa Oh Sehun itu.
Dari semua orang yang membuat ku takut, namun juga terpesona akan ketampanannya, mungkin memang hanya Oh Sehun.
Aku tahu ini gila..
Atau memang aku sudah gila karena bisa-bisanya aku jatuh cinta pada namja yang sudah menghancurkan masa depan ku ini dengan semua obsesinya.
Aku bahkan tak tahu apa salahku. Setiap kali aku bertanya apa kesalahan ku, dia hanya menjawab: 'Salahmu karena kau terlahir sempurna' aku ingin menangis, mengapa ia menyebutku sempurna sementara tak ada satu pun manusia yang sempurna.
"mengapa kau ada di sini? Kau baru sembuh sakit" tangannya melingkari pinggang ku.
Tercium aroma parfum manly dari stellan kantornya. Akhir-akhir ini dia agak melembut, dan membuat ku sedikit terbuai akan pesonanya.
"Aku hanya ingin menikmati angin sore, Tuan" ucap ku. Tanpa ada rasa takut.
Aku berpendapat gila, semacam, bilamana Calvin Klein bisa membotolkan senyuman milik Tuan Oh Sehun, mereka pasti akan meraup untung yang besar. "Leher mu dingin" ucapnya, ia sedikit menghembuskan napasnya di area tengkuk ku. Baunya mint, dan aku menyukainya.
Tapi yang membuat ku senang, adalah perhatiannya yang begitu besar padaku. Usia kami terpaut jauh, aku 16 dan Tuan Oh yang sudah berusia 34 tahun. Namun dia tidak terlihat tua, dia masih terlihat tampan dengan bentuk tubuhnya yang kekar itu. Tidak sekekar dewa-dewa olimpus memang.
Ku rasakan hangat menjalari pipi ku. Oh sial, mengapa aku bisa berpikiran mesum begini?
"Kau tidak apa-apa, Jongin?" tanya nya.
Aku menggeleng pelan.
"Kau manis, aku suka" katanya, sedikit berbisik. Ku rasakan tubuh ku seperti melayang. Tidak, aku bukan hantu, jadi jangan berpikir yang bukan-bukan. Karena melayang yang ku maksud adalah Oh Sehun yang menggendong ku ala bridal.
...
Ia merebahkan tubuh ku di ranjang King size nya. Menatap ku dengan kedua mata sempitnya seolah ia hendak memakan ku.
"Lain kali gunakan sweater mu jika ingin keluar, aku tak mau kau sakit" bisik nya.
Sekali lagi..
Ia menyentuh lembut bahu ku yang terekpose. Sejak berada di sini, Tuan Oh selalu memberikan baju-baju miliknya untuk ku gunakan. Aku tidak tahu mengapa ia tidak pernah membiarkan Paman Luhan untuk membelikan aku baju yang seukuran ku.
'Kau pedofil mesum, dasar brengsek! Bisa-bisanya kau berfantasi liar dengan anak sekecil itu' Itulah yang dikatakan paman Luhan, sambil tertawa mengejek ke arah Tuan Oh.
Tapi selama Tuan Oh tidak pernah meminta ku menggunakan pakaian yang berlubang seperti lubang-lubang di seluruh permukaan Keju Swiss pun tidak apa-apa.
Dia pecinta Shotacon..
Aku tahu itu..
Aku pernah tak sengaja mendengar Bibi Jessica (sahabat dekat Tuan Oh) berkata seperti itu. Wanita itu berkata, jika seorang anak yang masih di bawah usia 18 tahun itu masih dikatakan anak-anak, jadi bisa dikatakan Tuan Oh adalah pedofil cabul yang seharusnya menakutkan untuk korbannya.
Tidak..
Semakin kesini, aku semakin jatuh ke dalam pesonanya. Aku semakin menikmati bagaimana rasanya menjadi orang dewasa. Menjadi dewasa dan bebas, hal yang belum pernah ku rasakan selama aku tinggal bersama ibuku.
"Bolehkah aku" Ia menatap penuh harap padaku.
Aku mengangguk, toh menolak sekalipun juga percuma. Dia akan memaksaku, atau pernah sekali dia menyiksa ku dengan mengikat tangan dan kakiku karena telah menolak ajakan bercintanya. Kalau ingat itu, merinding rasanya.
Aku sakit selama seminggu.
Tuan Oh terlihat panik, dan mendatangkan Paman Zhang (dokter pribadinya) untuk merawat ku selama aku sakit. Selama itu pula Tuan Oh selalu bersikap baik padaku. Begitu lembut ia memperlakukan diriku ini.
Aku berusaha menahan desahan ku, saat bibir pucat dan tipis itu bermain di area selangkangan ku yang sudah terekpose. Dia suka aku yang begini, mengangkang pasrah di bawah kungkungannya.
Croott..
Ku rasakan air kenikmatan ku keluar, dengan rakus ia menghisapnya. Oh, God! I can't hold it by myself anymore, ini diluar dari keinginan otak warasku. Namun apa daya? Nafsu ku begitu membara ketika lagi-lagi ia mencumbu perut ku dan memutarkan lidahnya pada area pusar ku.
"T..Tuan..ahhhngggnn"
Tuan Oh menyesap puting kecil ku. Sesekali menggigitinya dan menghisap begitu keras seolah akan ada susu yang keluar dari sana. "T..tidak akan keluarhh..kehhh" seperti busur yang ditarik, tubuhku melenting berusaha menahan rasa nikmat yang ia berikan padaku.
"Apa aku melukai mu?" tanya nya, ia sudah berbaring di samping ku. Seraya memeluk erat tubuh ku.
Aku menggeleng, dia terkekeh.
Mungkin karena ia merasakan geli akibat gerakan kepala ku di dada bidangnya.
"A..apa tidak mau diteruskan?" tanya ku, berusaha untuk tidak menatap kedua matanya.
Tuan Oh terkekeh lagi.
Ia mencubit hidung mungil ku, dia bilang aku sudah mulai nakal. Aku tidak begitu, aku hanya merasa aneh. Karena sejak aku sakit dia sudah jarang sekali menyentuhku. Hah, aku jadi tertular mesum ya..
End Of Jongin's POV
.
.
.
.
Mereka masih enggan untuk berbicara satu sama lain. Sejak kedatangan Chanyeol, Yifan pun terlihat sungkan untuk mengajak namja berparas cantik itu berbicara.
Sesekali ia memperhatikan sosok Chanyeol yang terlihat kurus, dengan kantung mata tebal seperti panda. Chanyeol pun juga sama, ia hanya diam, tak mau bicara. Matanya pun tidak mau melirik ke arah Yifan, tubuh kurusnya dibalut coat berwarna coklat muda dan syal berwarna putih melingkari leher jenjangnya.
Kyungsoo ada di sana, bahkan juga ada Junmyeon, istri Yifan yang sampai saat ini belum juga dikaruniai momongan. Suasana begitu hening, mereka tampak sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Apalagi Kyungsoo, adik bungsu Chanyeol itu terlihat sibuk dengan ponsel mahalnya.
"baiklah" akhirnya Kyungsoo membuka suara.
"Kita sudah sepakat untuk hal ini" dia berkata lagi. Suaranya terdengar kalem, berbeda sekali dengan wajahnya yang terlihat menggemaskan.
Bahkan Yifan nyaris tak percaya jika Kyungsoo adalah namja berusia 32 tahun, mengingat betapa imutnya Kyungsoo.
"kakak ku hanya ingin putranya kembali, tidak menginginkan uang atau pun tanggung jawab dari mu" jelasnya.
Seolah menjawab pemikiran negatif yang sempat dipikirkan Junmyeon. Namja bertubuh mungil itu tersentak, sesekali melirik Chanyeol. Sosok yang diceritakan suaminya adalah mantan kekasih Yifan saat SMA.
"aku tidak tahu harus berkata apa, tapi kejadian ini membuat ku terdengar seperti orang brengsek yang telah memisahkan kalian" Junmyeon mengusap air mata yang merembes di pipinya.
"bukan..bukan ini yang kami mau. Kami tidak akan mengambil Yifan dari anda, Junmyeon-ssi" ujar Kyungsoo, meralat semua yang ada dipikiran Junmyeon.
...
Yifan menahan pergelangan Chanyeol saat namja itu hendak melenggang pergi dari hadapannya.
Beruntung Kyungsoo dan Junmyeon memberikan waktu bagi mereka berdua untuk saling berbicara empat mata. Terimakasih banyak, Kyungsoo, pikir Yifan. Karena adik Kim Chanyeol itu membiarkan sang hyung untuk menjelaskan kejadian masa lalu mereka yang sama sekali tidak diketahui oleh Yifan.
"Ini pertama kalinya kita bicara lagi" Yifan tersenyum pahit.
Chanyeol mengangguk.
"Bagaimana kabar mu? Mengapa kau selalu menghindari ku?"
"kau tidak mengerti" Chanyeol berkata lirih. Jantungnya berdegup cepat, hingga membuat dadanya terasa sesak.
"Kau kekanakan! Seperti anak kecil yang berusaha lari dari masalah"
"JANGAN BERKATA SEOLAH AKU YANG SALAH!" Dia memekik keras. Untung saja di taman itu hanya ada mereka berdua.
Junmyeon mendengarnya, ia yang sedang duduk bersama Kyungsoo hendak mendatangi keduanya. Siapa tahu saja mereka bertengkar dan adu jotos, jadi menurut Junmyeon harus segera dipisahkan.
"tidak, Junmyeon-ssi! Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka. Kau..duduklah di sini!"
...
"Maafkan aku" ucap Yifan. "mengapa aku begitu bodoh hingga tidak menyadari jika 'dia' hadir diantara kita. Maafkan aku, yeol..sungguh, maafkan aku"
Chanyeol menggeleng pelan, tak ada yang harus disalahkan di sini. Ia sendiri pun juga sempat marah pada Kyungsoo yang memberitahukan Yifan perihal putra mereka yang hilang 3 bulan yang lalu.
Namun mengingat Kyungsoo yang hanya ingin membantu.
Chanyeol pun perlahan mengerti, dia pun juga tak bisa marah pada adik kesayangannya itu. Karena dia sendiri juga merasakan kekhawatiran yang dirasakan oleh keluarganya.
Yifan menyeka airmata Chanyeol yang sudah tidak terbendung lagi. Ia merindukan Jonginnya, Jongin manisnya yang entah berada dimana saat ini.
"apa aku boleh memeluk mu? Ne, Chanyeol-ah?" tanya Yifan, berharap Chanyeol mengizinkan dirinya untuk merengkuh tubuh kurus Chanyeol yang sedikit kekurangan asupan gizi.
Kemudian Chanyeol mengangguk sambil terisak-isak. Ia agak tersentak kala Yifan mulai merengkuh tubuhnya. Dulu saat mereka berpelukan, teman-teman mereka kerap kali menggoda mereka seperti pasangan menara. Mengingat tubuh mereka yang sama-sama tinggi. Tapi kali ini tak ada yang menggoda mereka, karena situasi pun juga sudah berubah.
"maafkan aku, andai aku tahu..aku tidak akan membiarkan kalian melewatinya sendiri"
Chanyeol masih terisak di pelukan Yifan.
'Kau adalah segalanya bagi ku, Yifan. Kau adalah napas ku, kau adalah semua yang ku inginkan'
.
.
.
.
Sehun suka, suka sekali saat Jongin tertawa lepas seperti ini.
Bermain dengan anak anjing bernama Monggu yang Sehun belikan khusus untuknya.
'Anggap saja ini hadiah ulang tahun mu' kata Sehun, saat melihat kedua mata bulat remaja berwajah manis itu kebingungan.
Menurut informasi yang Luhan dapatkan, Jongin sangat suka anak anjing. Saat hendak pergi ke kantor, Sehun melewati rumah panti khusus hewan-hewan terlantar. Bangunan itu sudah ada lebih lama dari gedung tinggi miliknya itu.
Tapi entah karena dorongan apa, Sehun memasuki rumah panti tersebut. Dan mendapati seekor anak anjing bertubuh mungil menatapinya memelas. Sehun ingat Jongin, mungkin sudah seharusnya ia memberikan sebuah hadiah untuk remaja manisnya itu.
'ta..tapi ulang tahun ku sudah lewat 4 bulan yang lalu'
'kalau begitu anggap saja ini adalah hadiah karena kau selalu ada di samping ku'
"Tuan Oh, apa anda baik-baik saja?" Jongin bertanya, sambil memeluk erat puppy barunya.
Sehun terus tersenyum-senyum tidak jelas. Entah apa yang ia bayangkan saat itu. Jongin yang melihatnya pun berusaha menanyakan keadaan Tuan nya, takut si Tuan sakit karena rona merah begitu kentara di wajahnya.
"Aku tidak apa-apa" kata Sehun.
Jongin mendudukan bokongnya di samping Sehun, sambil mengelus sayang bulu-bulu halus monggu kesayangannya. Sehun senang jika Jongin menyukai hadiah darinya.
"Tuan yakin?" Jongin bertanya lagi. "aku takut Tuan sakit, karena akhir-akhir ini Tuan selalu sibuk di luar sana"
Jongin mengkhawatirkannya sangat.
Dan rasanya Sehun ingin berteriak seperti anak kecil jika tidak ingat siapa dirinya dan berapa umurnya.
"aku hanya sedikit lelah, ya, sedikit lelah" kata Sehun. "kau tahu, Jongin? Pekerjaan ku sedikit menumpuk selama satu bulan aku menunda pekerjaan ku" Sehun seperti mencurahkan isi hatinya.
Jongin mengkerut masam, bibirnya mengerucut lucu.
"mengapa Tuan tidak bekerja? Kalau mengerjakannya seperti ini kan nanti Tuan bisa sakit"
"Tidak"
"kenapa?"
Sehun mendongakan kepalanya ke atas. Menatap langit biru yang agak kemerahan karena hari sudah menjelang sore.
"Karena di kantor tidak ada dirimu" Menoleh ke arah Jongin, dengan senyum menawan.
.
.
.
.
"Yeah"
Kyungsoo menahan kepalan tinjunya. Dia benci sekali melihat sosok namja dewasa yang tersenyum meremehkan ke arahnya.
"kau lebih buruk dari babi rakus sekalipun. Karena demi uang kau menculik seorang anak di bawah umur dan melanggar hukum yang ada"
Luhan tertawa sangau..
Oh, dalam dunia hitam seperti gangster maupun Yakuza, tidak ada yang namanya pelanggaran hukum. Apalagi mengingat Luhan yang masih keturunan gangster ternama, hukum sekalipun bisa ia beli.
"jangan menceramahi aku dengan bualan undang-undang mu itu, dokter Kim! Kau bukan seorang ahli hukum, kau hanya seorang dokter" Luhan mencibir.
Sejak mengetahui dimana keberadaan keponakannya, Kyungsoo pun berang dan mendatangi kantor pemasaran Oh. Perkumpulan para gangster yang bekerja mengatasnamakan marketing? Cih, Kyungsoo sekali lagi berdecih. Ia bahkan tidak menyangka jika Oh corps adalah kolega bisnis penyumbang saham terbesar di perusahaan ayahnya.
"Kau"
"jangan kasar-kasar, manis! Kau terlihat menakutkan" Luhan berbisik di telinga Kyungsoo.
.
.
.
.
"Setiap malam ibu akan mengajariku berbahasa inggris, tapi dasarnya aku yang bodoh aku jadi tidak bisa berbahasa inggris" Dia menyunggingkan senyum manisnya.
Sehun terkekeh pelan mendengar ucapan Jongin yang tengah menyandarkan tubuhnya pada bahu tegap Sehun.
Mereka berdua memutuskan untuk bergadang malam ini.
Sehun memegang senter di tangannya, selimut menutupi tubuh mereka berdua. "Untung saja Wonshik hyung dan Taemin hyung selalu membantu ku mengerjakan PR bahasa inggris" dia berkata lagi.
"Kau mau aku mengajari mu bahasa inggris?" tanya Sehun. Jongin menggeleng pelan. "Tuan Oh, aku tidak mau membuat mu semakin sibuk" kata Jongin.
Luhan yang melihat itu di balik dinding menghela napas berat. Meskipun ia membantu adik sepupunya, ia sendiri pun tidak membenarkan apa yang telah Sehun lakukan pada Jongin.
Biar bagaimana pun Jongin hanya anak di bawah umur yang masih membutuhkan kebebasan. Dia masih belum mengerti apa yang ia rasakan saat bersama Sehun. Antara benci, sedih, takut, bahagia, terlindungi sekali pun ia masih belum cukup mengerti.
...
"Mereka mencari putranya, Sehun" Kata Luhan.
Oh Sehun menghentikan gerakan mengetiknya. Menoleh ke arah Luhan dengan tatapan terkejut.
"itu wajar, mereka orangtua nya" sahut Sehun.
Luhan rasanya ingin sekali meninju wajah datar dan sok cool milik adik sepupunya itu. "Sial! Seharusnya kau berusaha untuk melepaskan Jongin, Hun! Biar bagaimana pun dia masih di bawah umur. untuk mengerti perasaannya saja bahkan dia tidak mengerti"
"andai aku bisa, sudah ku lepaskan dia dari awal"
"Ini bukan cinta! Sadarlah, Oh Sehun! Kau hanya terobsesi pada nafsu mu saja. Jangan membuatnya menjadi seorang hyper, Hun! Dia tak tahu apa-apa" Luhan berkata, ia meninju wajah tampan Sehun dengan keras.
Sehun hanya diam..
Ia pun mengerti, Luhan benar, tidak seharusnya Sehun menculik Jongin dan memisahkan anak manis itu dari keluarganya.
.
.
.
.
TBC
A/N:
Hallo..
Well, Aku gak nyangka bakalan dapet sambutan sebanyak ini.
ehehe..Thx banget buat kalian yg udah baca dan bersedia ngereview ff pertama ku ini. Kalian luar biasa! Aku akan usahain untuk update ff ini secepat mungkin. Capaian target gak akan sampai satu bulan. Karena aku juga seorang reader di wkt yg sama. Dan rasanya agak menyebalkan saat dimana Author kesukaan kita telat update karena suatu kendala. (sedikit curcol). Tapi apapun itu aku berharap yang terbaik untuk para author yang lagi sibuk di duta mengurus urusan mereka. Semoga sukses ya, senior..Amienn..
.
.
Review?
