And, then...
Remake from"And, then..." by Yuli Pritania
Pairing: KaiHun
Rate T/M
Warning for typos
Happy reading, dldr, review please?
Chapter 1
W Entertainment Building, Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul.
Gadis itu tampak angkuh. Dagunya terangkat tinggi dan sorot matanya terlihat bosan. Tapi tentu saja dia memiliki segala hak untuk bersikap arogan di depan semua orang. Dia berada pada peringkat tiga wanita tercantik di dunia versi beberapa majalah berstandar internasional; wanita Asia pertama yang berhasil meraih level setinggi itu. Dia disebut-sebut sebagai aktris yang jenius; baik dalam akting, bakat, maupun kemampuan otak. Semua di tubuhnya asli, tanpa perbaikan bedah plastik; yang berarti wajah bulat telur yang sempurna, hidung mancung yang tampak bagus di kamera, bibir tipis yang menggoda, wajah mulus tanpa cacat, kulit seputih susu, dada dengan ukuran yang pas –tidak rata, tapi tidak sebesar melon juga–, pinggang super ramping, dan kaki jenjang yang membuat iri para wanita. Hampir semua wanita di Korea mengacungkan fotonya saat mendatangi dokter bedah, dan tidak ada yang bisa berpura-pura tidak mengakui pesonanya.
Kariernya dimulai sebagai model sebuah merek kosmetik terkenal. Wajahnya dipajang besar-besaran di seluruh kota, dilihat oleh semua orang, termasuk para pencari bakat. Sebulan setelah itu, dia mendapatkan tawaran drama pertamanya, yang langsung melejitkan namanya dalam waktu singkat. Dan, tidak butuh waktu lama bagi siapapun untuk melihat siapa gadis itu sebenarnya. Kehidupan glamor, sikap meremehkan orang lain, ditunjang dengan skandalnya bersama banyak pria terkenal. Semua itu selaras dengan bakat aktingnya, juga sikap perfeksionisnya yang disukai orang-orang dalam industri hiburan. Tidak ada produk yang tidak laku dijual jika sudah memasang wajahnya, dan dengan semakin banyaknya gosip yang menerpa, maka semakin larislah dia. Tidak ada yang benar-benar peduli dengan kelakuannya yang tidak punya aturan selama hasil kerjanya sempurna. Dan memang begitulah dia, seorang profesional sejati yang tidak mengenal kata gagal. Semua orang mencaci, sekaligus mengagumi.
"Saya harap Anda bisa betah di bawah naungan agensi kami."
Gadis itu bahkan tidak berkedip sedikit pun tanpa ragu mengungkapkan persetujuan salah satu agensi artis terbesar di Korea, W Entertainment, mengajaknya bergabung. Dia bahkan tidak tergugah sama sekali ketika agensi lamanya memintanya bertahan, mengingat bahwa merekalah yang sudah membesarkan namanya selama ini. Seharusnya mereka tahu, dia adalah orang yang terus bergerak maju, bukan orang yang akan bersikap sentimentil dan terhenti di tempat yang itu-itu saja hanya untuk balas jasa.
"Kami sudah menyediakan seorang manajer sekaligus pengawal untukmu. Semua kontrak yang kau tanda tangani harus disetujui olehnya agar nantinya tidak ada masalah dengan pekerjaan yang mungkin tidak sesuai denganmu atau dengan image perusahaan. Kau bisa berdiskusi denganna sebelum menyetujui sesuatu. Poin lainnya bisa kau lihat di surat kontrak, dan kalau tidak ada yang membuatmu merasa keberatan, kau bisa menandatanganinya."
"Di mana Presdir kalian? Apa dia bahkan tidak mau bertemu denganku secara langsung? Mesin uangnya yang terbaru?"
Pria di depannya tersenyum gugup.
"Presdir memang tidak pernah muncul di depan publik. Dia menolak bertemu dengan siapa pun selain saya, sekretarisnya. Dia berkerja di rumah, dan saya biasanya bertemu dengannya setiap pagi dan malam untuk memberikan laporan. Harap dimaklumi."
Sehun mencondongkan tubuh. "Kenapa? Apa dia jelek? Tua? Cacat?"
"Ah, bukan. Bukan begitu." Pria itu menggeleng. "Dia sibuk mengurusi perusahaannya yang lain. "Dia–"
Sehun menoleh saat seorang pria berjalan memasuki ruangan, dan dia langsung menegakkan tubuh agar bisa melihat lebih jelas.
Semua yang pria itu kenakan berwarna hitam. Dan, sepanjang karier keartisannya selama enam tahun terakhir, di mana dia telah bekerja dengan puluhan pria level A, tidak ada satupun yang pernah terlihat setampan dan semaskulin itu hanya dalam balutan kemeja dan celana jeans yang tampak begitu biasa, dengan kehadiran yang terasa begitu mendominasi. Pria itu menarik perhatian, dengan mudah membuat seluruh tatapan terpusat padanya. Hanya ada satu hal yang terasa mengganggu. Tatapan pria itu. Ketika mata pria tersebut beralih memangdangnya, dia melihat sesuatu yang begitu dingin, begitu tajam, hingga tanpa sdar membuatnya bergidik. Dan bulu kuduknya sontak berdiri.
"Ini manajer sekaligus pengawal barumu. Namanya Kim Jongin. Umurnya 30 tahun. Kau akan sangat sering bersamanya nanti, dari pagi hingga malam. Terutama jika kau sedang ada kegiatan."
Dia tidak yakin, tapi tetap mencoba bersikap sopan dengan menyodorkan tangan untuk bersalaman, dan heran sendiri kenapa dia tidak merasa terkejut sedikit pun saat pria itu tidak bergerak untuk menyambutnya.
"Oh Sehun-ssi."
Suara pria itu terdengar berat. Dan, entah bagaimana, mengancam. Instingnya menyuruhnya untuk meminta dicarikan manajer lain. Yang lebih ramah. Yang bisa diajak berkerja sama. Bukan seseorang yang memandangnya seolah berniat menyerang dan membunuhnya. Pria itu, dari kepala sampai kaki meneriakkan kata BAHAYA, dan dia terlatih untuk memercayai nalurinya. Begitulah caranya selama ini bertahan di dunia entertainment yang kejam.
Tapi yang kemudian keluar dari mulutnya adalah, "Kim Jongin-ssi."
Itulah awal dari neraka hidupnya yang menakutkan
- And, then... -
Mei 1999 (16 tahun lalu)...
"Appa, wae geurae? Kenapa Appa mendorong Eomma?"
Pria bernama Kim Jonghoon itu tidak mengacuhkan teriakan anak lelakinya, Dia malah menatap garang ke arah istrinya yang kini tergeletak di lantai teras rumah mereka setelah didorongnya sekuat tenaga, bersama koper-koper yang terbuka denga isi yang berhamburan di sekitar wanita yang telah dinikahinya selama enam belas tahun itu.
"Aku sudah bilang padamu untuk segera mengemasi semua barang-barangmu dan pergi dari sini! Aku memberimu waktu tiga hari! Tiga hari! Jangan salahkan aku kalau akhirnya mengusirmu seperti ini! Kaulah yang tidak mendengarkanku selagi aku memintamu baik-baik!"
"Jonghoon-ssi, kumohon jangan perlakukan kami seperti ini." Anak lelaki itu melihat ibunya yang mengatupkan tangan, nyaris mengemis, dan sesuatu di dalam dadanya terasa menggelegak. "Aku dan Jongin tidak punya tempat tujuan dan kami juga tidak punya uang. Kau bisa menampung kami di sini dan aku janji tidak akan mengganggumu. Kami akan berpura-pura bahwa kami tidak ada, dan–"
"Aku yang keberatan." Seorang wanita bergabung dengan mereka. Tampak elegan dan berkelas dalam balutan pakaiannya yang mewah, berbeda sekali dengan ibunya yang hanya memakai blus biasa dan rok semata kaki yang tidak menarik. Wanita itu menggandeng seorang anak perempuan yang masih kecil, mungkin baru empat tahunan. Tapi bukan anak itu yang menarik perhatian Jongin, melainkan anak perempuan yang satu lagi. Yang lebih tua, yang mengintip takut-takut dari balik tubuh wanita itu. Anak perempuan yang sangat cantik, berambut ikal sepunggung, tampak seperti jelmaan boneka yang sering dilihatnya dipajang di etalase toko. Terutama karena gaun kuning selututnya yang manis.
"Kau bilang kau sudah mengusir mereka," lanjut wanita itu lagi, melirik sinis ke arahnya dan ibunya.
"Masuklah ke dalam. Biar aku yang mengurus mereka."
Wanita itu mengangguk angkuh, menggiring anak-anaknya masuk ke rumah. Rumahnya. Rumah yang beberapa menit lalu masih menjadi miliknya.
"Segeralah pergi dari sini! Dan jangan pernah munsul di depanku lagi! Kalian mengerti?" bentah Jaehyun.
"Tapi aku istrimu!" Joohyun, ibunya tampak masih belum mau menyerah.
"Istri yang tidak pernah kuinginkan," ucap pria itu dingin. "Tidakkah kau berpikir enam belas tahun sudah cukup bagiku untuk membiarkanmu tinggal di rumahku dan berperan sebagai istriku? Sekarang pergilah! Aku sudah muak melihatmu!"
Saat itu, Jongin bisa saja melayangkan pukulan karena perlakuan ayahnya terhadap mereka. Dia sudah 14 tahun, dia memiliki kekuatan untuk itu. Tapi sesuatu mencegahnya. Perasaan tidak diinginkan. Belasan pukulan dan tendangan pun tidak akan pernah bisa mengubah itu.
Ayahnya tidak lagi menyayanginya. Ayahnya lebih memilih kedua anak perempuan itu untuk tinggal bersamanya. Ayahnya tidak lagi menginginkan mereka; baik dia maupun ibunya.
Dia belajar sesuatu hari itu. Tentang betapa hebatnya seorang manuia bisa berpura-pura. Empat belas tahun. Selama empat belas tahun dia hidup seperti orang buta, di tengah keluarga bahadia yang ternyata hanya sebuah akting hebat belaka. Siapa yang bisa dia percaya? Ayahnya yang berdusta? Atau ibunya yang selalu bersikap seolah semuanya baik-baik saja?
Saat itu, detik itu, dunia terasa begitu menakutkan bagi bocah 14 tahun tak berpengalaman sepertinya.
-to be continued
Note:
Yuhuuuu ini chapter satunya, gimana gimana? Hehehe, jangan lupa review ya cantik ;)
