Disclaimers: Shingeki no Kyojin/Attack on Titan belongs to Isayama Hajime. Black Swan is a psychological thriller movie belongs to Fox Searchlight Pictures and directed by Darren Aronofski. "Swan Lake" play created by Tchaikovsky. This is only a work of fanfiction, solely a NOT-FOR-PROFIT fan work.
Summary: Pada sesekat kaca ia melihat dua wajah, hitam dan putih, yang dijembatani retak menganga
.
Swan Prince (Part 2)
.
Sisi gelap dongeng peri selayaknya kulit baja Armadillo, tak habis-habis dikupas bila mengandal mata pisau biasa. Namun, beberapa orang (seperti dirinya) tahu cara menggunakan mata dengan sebaik-baiknya, bahkan mata itu dapat menyenter wujud daratan bulan yang tak terkena sinar matahari.
Menyaksikan tari balet Swan Lake menarikmu ke dalam kehidupan tokoh Ratu Angsa yang fenomenal. Setiap rumah produksi berlomba mengembangkan tari ratu angsa yang beritme lembut-cepat, halus-sengit, baik-kejam. Lihat ilusi cantik si pebalet yang mengepakkan tangannya yang putih translusens, menyeret audiens terjun ke pusara sakit dan cinta mati. Selalu dan hanya selalu sang Ratu Angsa yang ditonjolkan.
Namun tak banyak yang tahu sesungguhnya kisah drama Swan Lake lahir dari seorang pangeran di masa lalu. Pangeran yang bukan hanya tampan aktraktif, tapi juga gila, dan bukan penyuka wanita. Dia dijuluki Raja Angsa, yang membenam diri untuk memutus napas selamanya ke dasar danau Starnberg.
Sisi gelap drama Pangeran Angsa tak pernah disoroti secara serius. Dan di rumah produksi ini kau punya Direktur Levi Ackerman, dengan gulungan benang marionette di tangan yang ia tarik ulur begitu pelan dan rahasia, mengait tubuh solois lelaki tawanannya. Mari kita tunggu tirai merah itu tersibak, lalu dari ujung panggung itu kau dapat saksikan bagaimana sang direktur menjelmakan ruh Pangeran Angsa. Drama yang tak akan bisa kau lupakan seumur hidupmu.
.
"Eren Jaeger, kau ambil peran Pangeran Siegfried di babak kedua."
Eren Jaeger menyemburkan air minum.
Seluruh kepala di studio menengok. Mereka terkejut, sebagian tak percaya, sebagian dengki. Hanya Jean Kirstein yang selama ini dipilih menjadi pemeran Sigfried selama bermusim-musim, dan belum pernah ada solois lelaki lain yang cukup menonjol di antara mereka. Tak ada yang spesial dari Eren Jaeger kecuali semangat yang menggebu, dan suaranya yang paling berisik saat para pebalet duduk mengobrol di studio.
Levi memandang serius. "Kalau kau tak bisa seret bokongmu keluar pintu itu dan-"
Eren menjerit, "Aku siap! Aku menginginkan peran ini." Buru-buru ia menarik keluar kasut baletnya, menyarungkan tungkai kakinya dengan celana ketat, sambil melompat tersandung-sandung.
Mikasa berdebar. Belum bertemu muka dengan pangeran, sang ratu telah merona mukanya.
Eren telah siap, dan dengan dahi berkerut-kerut itu ia maju ke depan. Dilihat dari sudut mana pun, penampilan anak itu tidak meyakinkan. Tungkainya tegang, dan kentara bergetar sebab ia terlalu bersemangat. Namun Levi memilihnya secara langsung, maka mau tak mau pebalet lain menonton tak berkedip.
Eren memulai Pas de Deux dengan canggung, berputar menyambut Mikasa dengan lengan merentang terlalu lebar seolah hendak menghadang banteng. Bila Mikasa tidak menyenggol sedikit bahu kaku lelaki itu untuk memperingati, Eren mungkin akan terjungkal mengikuti putaran cepat gadis itu.
Levi membunyikan jari. "Maestro, perlambat tempo. Ulangi lagi."
Eren berhenti, menggigit bibir bawahnya sendiri. "Maaf."
Bila mulanya para solois lelaki di ruangan itu cemburu, kini mereka bersyukur tidak ditunjuk oleh Levi. Siapapun, walau paling berbakat sekalipun, akan tergugu takluk bila Levi menyoroti dansamu dengan mata analitisnya itu.
Mikasa bahagia dapat menari dengan lelaki yang ditaksirnya. Tak perlu banyak membuat gerakan lunglai nan presisif, audiens di ruangan langsung dibuat percaya bahwa Ratu Angsa mereka telah tertambat hatinya. Gerak mikasa memuntir lembut dengan mata penuh kasih, berjinjit mundur kepada sang pangeran dan merelakan diri untuk jatuh dalam pelukan.
Eren menyambut terburu-buru tangan Mikasa. Tempo lembut sang pianis ia balas sangar, kaki mengentak kelewat heboh saat berputar. Mikasa harus menyentuh bahunya lagi.
Di tepi danau itu, Pangeran Siegfried bertemu Ratu Angsa cantik dan jatuh hati. Mereka saling lirik, tersenyum, bercumbu. Di antara rerumput air sang angsa berlari menghindari tatapan memburu sang pangeran. Malu-malu namun balas mengintip mau.
Semestinya seperti itu.
Namun Pangeran Siegfried-Eren agaknya lebih tertarik menangkap katak di antara rerumputan, bukannya mengejar Ratu Angsa Mikasa. Sang ratu diabaikannya, Eren terlalu berkonsentrasi melangkah di tepi danau supaya tidak tercebur. Pinggang Mikasa direngkuh tak erat, dan sorot matanya senantiasa menatap Levi, bukan menatap penuh cinta ratu angsanya.
Levi bertepuk tangan tiga kali secara keras.
Itu bukan jenis tepuk tangan apresiasi. Semua pebalet tahu; Itu tepuk tangan sang direktur yang mencaci. Disaster bagi Eren Jaeger.
"Kalau ada kata yang lebih buruk dari 'buruk', katakan padaku," geram Levi pelan, memijiti keningnya.
Eren menelan ludah. "Aku coba lagi-"
"Coba-cobanya sudah cukup. Latihan selesai. Bubar. Hasil audisi akan kutempel di papan pengumuman besok lusa. Tanpa interupsi."
"Sir, aku buktikan padamu bahwa aku bisa! Aku akan berlatih lebih keras untuk-"
Levi sudah keluar dari ruangan studio.
.
Selalu gelap di gorong-gorong kereta bawah tanah. Walau neon menyala dan pengunjung kereta tak pernah buta memosisikan diri mereka dalam antrean.
Levi menunggu pada antrean yang sama, menenteng sekantong makanan takeway dari restoran cepat saji. Tanpa mobil pribadi dan taksi hari ini, dia memilih naik kereta bawah tanah.
Beberapa jarak pada antrean yang terdepan, tampak rombongan penari balet rumah produksinya berdiri. Ada Bertholdt yang canggung, sedang mengajak bicara Annie Leonhardt, gadis idamannya. Ada Reiner yang berbadan besar, si pemeran tokoh antagonis tukang sihir. Ada Mikasa Ackerman si ratu angsa terbaik. Ada Eren Jaeger di sampingnya.
Lelaki itu tertunduk. Sesal menggenangi wajah, namun mata hijau berapi dengan tekad.
"Jangan murung begitu, Eren." Reiner menepuknya. "Kurasa kau masih ada kesempatan. Kudengar dari para solois senior, Sir Levi tertarik dengan lelaki muda daripada perempuan. Mungkin kau bisa mendatangi kantornya secara pribadi. Oops bercanda, jangan memelototiku begitu, Mikasa."
"Diamlah."
Pintu kereta terbuka, rombongan solois masuk, terkecuali Eren Jaeger yang melambai sampai jumpa kepada rekan-rekannya, menunggu kereta jurusan berbeda.
Levi pun tidak ikut masuk kereta. Dia berdiri memerhatikan.
Setelah berpisah dengan rekan, Eren menyeret langkah menjauhi baris antrean. Di depan mesin minuman otomatis ia bersandar. Lalu tangannya terangkat, ibu jari mendatar dan jari lain mengacung, mengayun pelan ke udara, memimik gerakan balet bernama pirouette. Eren berkhayal tengah mengangkat tubuh langsing balerina dan berputar bersamanya. Kemudian ia kembangkan bisepnya ke samping, mengombak naik turun. Tak ada yang memerhatikan tingkah laku Eren.
Terkecuali Levi.
Kereta datang. Eren tersentak, segera ia meraih ranselnya dan kembali ke jalur antrean.
Levi bergabung, memasuki pintu kereta di belakang jajaran rapi antrean. Eren masuk lebih dulu, mengambil tempat terpojok, berdiri berpegangan pada pengait tangan di atas kepalanya. Punggung menghadap penumpang.
Levi mengambil tempat duduk di seberangnya.
Kereta bergerak dengan musik yang mengalun. Komposisi ini adalah musik balet dari Arya Alekzander. Entah siapa kondektur kereta berkelas tinggi yang memutarnya, namun musik itu mendukung khayalan Eren. Lelaki itu kembali mengayun satu tangan ke udara, mengibaskan sayap Pangeran Angsa. Kakinya berjinjit pengkar. Lidahnya berdecak mengikuti irama musik kereta, dengan sedikit improvisasi gerak manggut-manggut yang tak perlu.
Balet Eren sederhana-tak bagus, dan tak buruk-buruk amat. Yang mesti diperbaiki adalah caranya mengambil posisi. Punggung itu terlalu tegak dan otot kencang pada panggul itu perlu dilemaskan.
Di belakang Eren berdiri seorang lelaki, dengan jaket hitam menudungi kepala. Levi tak bisa melihat muka lelaki itu. Sekujur tubuhnya tertutupi jaket tebal, namun tingginya lebih pendek dari Eren, kira-kira sepuluh senti di bawahnya. Posturnya tegap dan berotot lelaki sempurna. Dia maju, berdiri terlalu dekat. Lututnya sejengkal di balik paha Eren, maju sedikit lagi ia dapat membuat sang pebalet hilang keseimbangan.
Tangannya yang terangkat maju, menggapai punggung Eren. Jejari pucat bergerak merintis puncak tulang punggung, turun ke tulang ekor. Tangan lain meremas pinggul Eren yang mana berkumpul otot-otot tegang, tempat yang Levi gemas ingin meremas supaya lemas. Ujung telunjuk bermain di tulang ekor, dan menekan ke tengah bokong sekalnya.
Pelecehan seksual di kereta kepada remaja lelaki bukan hal yang dapat kau lihat setiap hari.
Eren terkesiap, menoleh kepada penyerangnya.
Mata hijau mendelik marah, dan bibirnya bergetar ingin mengumpat.
Kereta berguncang. Si penyerang seksual mundur menjauh sebelum Eren dapat meninjunya. Pria itu berbalik dan mukanya kini menghadap kepada Levi.
Ketika itu mata Levi membulat terkejut.
Pria itu beralis tipis, berhidung prominen, rahang yang meruncing kukuh, dan pelupuk mata yang turun menutupi manik segelap malam.
Wajah yang sama dengan wajah yang tampak pada pantulan dirinya pada kaca, setiap kali Levi bercermin.
Wajahnya sendiri.
Kereta berhenti. Pria misterius itu merapatkan kancing jaket, dengan santai keluar dari kereta.
Levi tak mampu berkedip sampai pria berwajah sama dengannya itu menghilang.
Menggendong ransel, Eren pun berjalan keluar kereta. Mukanya kalem, tidak tampak seperti seseorang yang baru saja dilecehkan, atau anak itu memang ahli menyembunyikan raut malunya.
.
Di kamar apartemennya yang lebih gelap dari gorong kereta bawah tanah, Levi kembali. Perabotnya bercahaya redup oleh penerangan gedung bertingkat yang masuk lewat jendela. Levi tidak menyalakan lampu.
Ia berjalan masuk ruangan studio baletnya sendiri, menghadap sebuah cermin pecah yang berdiri di tengah. Pada retak kacanya ia bercermin, memandang lekat pantulan mukanya yang terbelah dua.
Levi diam, menunggu. Menunggu muka keduanya bergerak. Sekadar tersenyum, membalas pandang, atau mendelik mencekam.
Namun sunyi, tak terjadi apa pun. Pantulan wajah itu apa adanya, tidak menjadi hidup apalagi menyembul keluar dari dalam cermin.
Levi menyemprot cermin itu dengan windex dan membersihkannya sampai licin. Cermin ia tutupi dengan kain hitam.
Di meja makan, Levi mengeluarkan dua buah kotak makanan. Kedua kotak berisi menu yang sama; Daging steak panggang bumbu merica dan kentang tumbuk. Masing-masing ia letakkan di atas dua buah piring. Piring yang pertama adalah piringnya sendiri, dan piring yang kedua itu taruh di hadapan kursi kosong pada meja yang sama.
"Selamat makan," ujar Levi.
Duduk, ia menyantap makan malam dengan khidmat.
Ponselnya berbunyi, panggilan masuk dari Hanji. Levi menekan tombol mati.
.
Sore pada hari berikutnya, Eren Jaeger sudah berdiri di depan kantor Levi.
Penampilannya tidak biasa. Ia berdandan rapi, kemeja diseterika, dan rambutnya disisir, seperti anak lugu yang menunggu di ruang kantor kepala sekolah. Berharap mendapai nilai A plus berkat pakaian bersih licin.
Tapi memang itu yang Eren inginkan.
"Aku sudah berlatih keras semalaman," kata Eren, gugup. Dipandanginya Levi dengan berani untuk meyakinkan pria itu ia bersungguh-sungguh. "Aku sudah menyelesaikan coda-ku."
Levi bersedekap. "Oh. Lalu?"
"Aku-aku berharap Anda mau memberiku kesempatan."
"Lalu?"
"Lalu-aku akan berjuang lebih keras lagi untuk menyempurnakan teknikku. Menjadi Pangeran Siegfried dan tampil di drama Swan Lake!"
Levi berdiri, membuka pintu kantornya, mengusir. "Aku sudah memilih Jean untuk kembali mengambil perannya."
"Tidak, Sir. Anda harus melihatku dulu!"
"Mengapa?"
"Karena-" Ragu sejenak mengisi matanya. "-Karena aku bisa lebih bagus dari Jean."
"Mengapa?"
Mereka berpandangan.
Perlahan Levi menutup pintu kantor, menguncinya.
Eren menelan ludah. "Apa aku diberi kesempatan?"
Levi mendekat. "Aku sudah memberimu kesempatan kemarin."
"Kemarin itu aku belum menunjukkan yang terbaik. Bila Anda memberiku satu kali lagi kesempatan-"
Telunjuk Levi menekan bibir Eren. Anak itu terdiam.
Telunjuk Levi, panjang runcing, persis telunjuk pria misterius yang melecehkan tubuh anak ini di kereta kemarin. Levi diam menatap jadinya sendiri.
Eren berusaha tidak bicara. "S-Sir?"
Jari Levi menekan bibir itu, memaksanya terus membuka. Eren terkesiap, menatap bingung.
"Kau tahu siapa Pangeran Angsa?" Jari Levi mengusap pelan bibir bawah Eren.
Eren berkeringat. "Siegfried, Sir?"
"Bukan itu nama aslinya. Setidaknya tidak di dramaku." Levi mendekatkan wajah. "Ada hasrat dan keinginan kuat di matamu, yang seharusnya tidak cuma berkumpul di sini." Jemari Levi bergerak ke bawah kantong mata Eren, menekannya, seolah gemas ingin mencungkil. "Semestinya gairahmu bukan hanya tampak pada mata, tapi menyebar ke seluruh tubuhmu yang kaku seperti ikan mati. Aku ragu apakah kau bisa bergairah."
Eren mundur. Punggungnya menghantam gantungan mantel hingga jatuh.
Jari Levi menjauhi mukanya.
"Maaf." Segera Eren memburu langkah menuju pintu.
Levi menahan. "Mau ke mana, Bocah? Tak jadi mengubah pikiranku untuk mendudukkanmu pada takhta Pangeran Angsa? Mau apa kau kemari."
Eren mengeratkan gigi. "Aku datang untuk meminta peran, Sir."
Ditariknya Eren mendekat, dan dengan bibir pada daun telinga yang memerah itu, Levi berbisik, "Apa kau mencintainya?"
"Ha?"
"Mikasa, ratu angsamu. Kau cinta dia?"
Eren menoleh, alis tebalnya menyatu. "Tidak," jawabnya.
Lalu wajah Levi mendatar, dan Eren tahu ia telah salah menjawab, segera ia meralat, "Aku-tentu, dia saudariku. Aku mencintainya seperti saudara. Apakah cukup?"
"Cukup. Sangat cukup bila kau bisa berakting menafsuinya di depan semua orang. Eren, apa kau menafsui perempuan kebanyakan?"
Kerut di dahi bertambah.
"Kau punya pacar?"
"Um. Aku tidak punya."
"Apa kau masih perjaka?"
Tak nyaman, Eren meremas sisi celananya sendiri. "Apa ini ada hubungannya dengan peran?"
"Ada. Karena Pangeran Angsa-ku adalah sosok yang menawan secara seksual, yang menjerat secara gemulai, yang membuat seluruh penontonnya jatuh hati, yang membuat seorang gadis menjelma angsa karena cinta mati dan terjun untuknya."
Eren mendongak, menatap nanar. Dia paham yang barusan adalah kalimat penolakan. Eren yang lelaki kaku dan tak pernah berhubungan dengan perempuan bukanlah sosok yang Levi cari untuk peran pangeran.
Levi membuka pintu kantornya sekali lagi. "Kita sudah selesai. Keluar."
.
"Bukankah pengumumannya adalah sore ini?" tanya Bertholdt.
"Aku sudah tak peduli," balas Jean cuek. "Seseorang merebut peranku. Untuk apa aku peduli."
"Seseorang itu apakah-" Reiner melirik kepada Eren yang mendekat.
Eren yang mendekat dengan rona kemarahan meliputinya. Dia melirik Jean dingin.
Jean membalas tatapan sengit. "Apa?"
"Selamat untukmu, Muka Kuda," katanya.
Jean merengut.
Bisik-bisik penuh semangat. Koridor ramai dengan para solois antusias yang berlarian ke ujung koridor, menghampiri papan buletin. "Psst. Pengumumannya sudah keluar!"
Eren terus memelototi Jean. "Sana dan lihat sendiri, selamat bersenang-senang."
Jean tak percaya pada awalnya, kemudian ia tersenyum, berlari ke ujung koridor bersama Reiner dan Bertholdt.
Eren telah berjalan berlawanan arah dari kerumunan, saat Jean kembali dan meneriakinya.
"Bangsat! Maumu apa mempermalukanku?" bentaknya, didorongnya Eren ke samping. Jean memikul ranselnya dan berjalan keluar gedung.
Seperti saat audisi di studio, seluruh kepala menoleh kepada Eren sekarang.
Bingung, Eren mendekati papan pengumuman. Orang-orang menyingkir saat ia membaca.
Swan Queen: Mikasa Ackerman
The Prince: Eren Jaeger
Rothbart: Reiner Braun
Big Swan: -
.
Sepatu balet perempuan telah dibersihkan. Levi meletakkannya pada lemari kecil yang berjajar di sudut ruangan.
Stereo dinyalakan. Lagu klasik Swan Lake yang berputar. Sembari ritme lagu itu menanjak ke puncak, Levi mengangkat tangannya, memimik gestur tari balet seorang danseur senior. Itu adalah variasi gerakan awal yang dipresentasikan oleh sang pangeran saat ia bertemu Angsa Putih pertama kalinya.
Di lantai depan cermin itu, Levi duduk, menulis ulang drama adaptasi Swan Lake pada buku agenda. Keseluruhan babak dua telah ia gubah. Porsi Swan Queen diraja oleh kedatangan sang Pangeran Angsa, yang berburu ke tengah hutan sendirian untuk mencari cintanya yang hilang. Namun saat bertemu, busurnya terangkat, dan tanpa ragu sang pangeran melepaskan anak panahnya. Panah yang meleset memasuki danau, mengejutkan para angsa yang sedang bermandi cahaya sehingga mereka menyingkir. Hanya satu angsa yang tidak terkejut, yang berbulu paling putih dan terpaut hanya kepada sang pangeran.
Levi memiringkan kepala sembari merancang detail variasi tarinya, beberapa saat ia melamun melihat cermin retak di tengah ruangan.
Pada cermin itu pantulan bayangannya tengah menatap balik. Levi menegakkan punggung, sementara bayangannya di cermin itu masih memiringkan kepala. Levi mengangkat tangan. Bayangannya di cermin tidak mengangkat tangan.
Tercekat, Levi menatap cermin itu kembali.
Pantulannya telah kembali seperti sedia kala.
Mendadak apartemennya mati lampu.
Levi mengumpat, meninggalkan agendanya di lantai dan keluar ruangan. Ia menelepon operator. Dari seberang sana gema suara bernada bariton menyahut.
"Halo," ucap Levi.
"Halo," balas yang ada di sana, suara yang persis dengan dirinya.
"Siapa di sana?"
"Siapa di sana?"
Levi mematikan telepon. Jantungnya bergemuruh.
Bau anyir tak sedap datang dari dapur. Levi mendatangi meja makan, melihat sepiring steak daging bumbu merica yang masih utuh tak tersentuh, dari beberapa hari sebelumnya kini membasi.
Daging itu ia buang dan piringnya yang berminyak lengket dicuci bersih.
Setelah selesai mencuci piring itu, lampu kamar apartemennya hidup kembali.
.
Rumah produksi ramai sore itu.
Hanji berjalan di sampingnya. "Memang, kapan kau pernah tak membuatku terkejut?"
Levi memasukkan kacamatanya ke dalam kotak. "Persiapkan mereka, Hanji. Terutama Eren Jaeger. Buat ia dapat lebih bergairah dengan perannya."
Hanji tertawa. "Empat tahun lebih Eren bergabung di rumah produksi. Dia pebalet lelaki paling gigih, namun sudah menjadi ciri khasnya menari dengan mengentak dan kaku. Gayanya memang awkward. Kau tak akan bisa membuatnya jadi Prince Charming dalam sehari apalagi Don Juan. Kalau kau sendiri ragu Eren dapat berperan pangeran, kenapa kau memilihnya? Kalau hanya untuk menguatkan karakter Mikasa yang secara nyata mencintai Eren, bukan begini caranya."
"Aku tidak mengurusi Mikasa. Kita sudah punya Swan Queen yang sempurna saat ia bersanding dengan pangeran yang dicintainya."
"Lalu?"
"Sudut pandang lain dalam drama tragedi Swan Lake, yang ingin kuangkat adalah tokoh sang Pangeran Angsa. Dan untuk membuatnya jadi Pangeran Angsa, kau harus menyihirnya jatuh cinta."
"Menyihir dengan cara apa? Membuatnya jatuh cinta sungguhan dengan Mikasa?"
"Ya. Bila harus." Levi memasuki ruang studio principal. "Atau dengan suatu cara."
Eren Jaeger telah berdiri di tengah ruangan, saat Levi datang, ia bersungut gugup.
Mikasa di sampingnya. Seperti yang Levi katakan, gadis itu begitu cerah dan mungkin ia bisa menari dengan lompatan-lompatan yang mencapai bulan. Jatuh cinta dan menari dengan seseorang yang kau suka membuat siapapun sempurna.
Semua lelaki menyenangi Mikasa, kecuali lelaki yang satu ini; Eren si pangeran yang terpilih.
Reiner, yang memerankan tukang sihir Rothbart ikut berada dalam satu ruangan. Hanya boleh ada para pemeran utama di ruangan itu, dan latihan dimulai.
"Babak ketiga," instruksi Levi. "Mainkan adegan pertemuan sang pangeran, tukang sihir, angsa putih."
Mikasa menerima rok tutu abu-abu dari Hanji dan menyahut, "Oke."
Gadis itu berputar gemulai tanpa aba-aba. Sebagai gadis yang sungguhan jatuh cinta, tarinya mengagumkan. Dia berperan angsa yang melangkah anggun dari pinggir danau, mendekati pangeran yang dicinta.
Eren, sang pangeran hadir menyambut, separuh berlari ingin memerangkap sang putri jadi miliknya. Namun bayang-bayang hitam menghadang. Reiner menipu mata sang pangeran untuk membelokkan wajahnya kepada angsa yang lebih cantik, yang berpesonifikasi penggoda dan sensual. Si angsa putih berjinjit cepat dan berputar, menjelma angsa hitam yang digandeng oleh tukang sihir.
Pangeran terpesona. Cinta sejatinya terlupa. Sang pangeran datang tak sabaran ingin merengkuh angsa hitam. Eren melakukannya sesuai skenario, berlari cepat ingin menangkap Mikasa. Yang ia tangkap cuma udara kosong. Angsa Hitam berkelit menghindar, menggodanya sampai ke titik penghabisan. Pangeran tak menyerah, namun ketimbang gigih memburu karena menafsui, lagi-lagi Eren terlihat meringis dengan dahi berkerut-kerut. Eren, sembari menari kaku mengejar tempo Mikasa, tak henti menatap kepada Levi yang sedang mengawasinya. Anak kecil pun tahu si pangeran tidak jatuh hati sedikitpun kepada Angsa Hitam. Dia berlari memburu karena terpaksa.
Levi bertepuk tangan, menghentikan mereka. "Ulangi lagi."
Pianis dan violis mengulangi musik babak ketiga dari awal, tanpa lelah.
Berpeluh keringat, ketiga pebalet menari saling bersambut. Eren tak berubah. Gerakannya semakin lincah, namun tak ada gairah yang dapat terlihat di sini. Mencapai akhir Pas de Deux, Eren berputar tidak sabaran menyalahi tempo, ingin perburuannya segera selesai supaya bisa pulang ke istana.
"Cukup," kata Levi. "Ulangi lagi."
Pada hari itu, mereka hanya terus mengulangi babak ketiga.
Pada pengulangan yang kelima, Levi mengurut dahi. Tanda ia baru saja menyaksikan serangkaian pertunjukan terburuk.
Ketiga penari terengah. Eren mengusap peluh, menegakkan punggung untuk menutupi kelelahannya sendiri.
"Eren," geram Levi rendah.
"Y-Ya, Sir!"
Tak ada kata-kata yang keluar. Sang direktur sudah terlampau marah.
Mikasa baru ingin mengucap pembelaan untuk Eren, lalu Levi berkata, "Selesai untuk hari ini. Sudah larut."
Pianis menggerutu, "Tanganku sampai keriting." Dan para pemusik pun berbenah.
Mikasa, Reiner, dan Eren bergerak mengambil tas masing-masing.
Levi berkata lagi, "Tidak. Bukan kau yang pulang." Ia menunjuk Eren. "Kau tetap di sini."
Eren mengangguk, mundur kembali ke tengah ruangan. Kausnya menempel basah kuyup pada punggung.
Mikasa merengut. "Sir? Apa aku tak perlu di sini menemani Eren?"
"Tak perlu. Kau pulanglah."
Reiner mendengus. "Selamat bersenang-senang berduaan."
Reiner dan pemusik telah berjalan keluar ruangan. Mikasa diam sejenak, cemas mengawasi Eren dari sudut matanya.
Kemudian pintu studio ditutup.
Hanya Levi dan Eren di dalamnya.
Tegang, Eren menggesekkan sepatunya ke lantai. "Apakah ada yang perlu dikoreksi dariku?"
Barusan Levi seperti ingin meledak marah dan menjawab, "Semua hal perlu dikoreksi darimu." Namun pria itu diam. Ia maju ke depan, melepas jas dan melemparkannya ke sudut ruang.
Tiba-tiba Levi melangkah seperti seorang danseur. Gesturnya mulus, cermat tanpa gerakan percuma. Ia mengulurkan tangan ke depan, gestur seorang pangeran pemburu yang sesungguhnya. Ingin menangkap, sekaligus memerangkap.
Lalu Eren mengingat siapa pria di hadapannya. Belasan tahun sebelum rumah produksi ini dinamai secara resmi, pria ini adalah Levi Ackerman, danseur paling senior yang selalu merebut peran utama pria pada setiap drama tari yang dilakoninya. Gerik maskulin dan intimidatif, seperti laba-laba predator memintal sarang. Dia pangeran yang membuat semua putri di atas panggungnya jatuh cinta.
Levi adalah alasan Eren memasuki rumah balet ini, sejak ia menyaksikan pertunjukan Levi pertama kali, dan mendengar pria itu pensiun karena kecelakaan, memilih menjadi mentor dan direktur pertunjukan.
Kaku, Eren menyambut tangan itu dengan variasi gerakannya sendiri. Tak tahu harus berbuat apa.
"Goda aku," perintah Levi. "Buat aku bergairah."
Butuh waktu lama untuk Eren mencerna maksudnya. "Sir?"
"Tarikan babak ketiga," perintah Levi. "Aku yang jadi pasanganmu. Akan kubuat kau jadi Pangeran Angsa."
