A/N: Huwaa, karena *lumayan* banyak yang minta LANJUT, makanya aku ketik secepetnya. FYI, sebenernya nih ide fanfic udah bersarang dan berputar2 dikepala author sejak 2 minggu yang lalu. Tapi karena urusan SNMPTN, terpaksa harus ditunda. Mengakibatkan cerita tak lagi sesuai dengan keinginan awal author. Yesungdah lah, ni updatenya kilat, sekilat Guntur petir dan gledek *mati dong?*

Chapter sebelumnya…

"Nona muda,"

Sebuah suara mengagetkanku dari belakang. Suaranya sangat berat namun merdu. Sebuah suara yang masih asing bagiku. Tidak ada anggota keluargaku yang memiliki suara seperti ini. Suara appa memang bagus, tapi tak seperti ini. Penasaran sosok apa yang ada dibelakangku, kuputar tubuhku hingga mataku bertemu dengan mata sang pemilik suara berat tadi.

"KYU APPAAA! MINNIEE UMMAAA!"

Inchan aka. Inchangel aka. Jung ChungHee

~Proudly present~

GUARDIAN & ANGEL

(Chapter 2)

"KYU APPAAA! MINNIEE UMMAAA!"

Tak lama setelah aku meneriakkan kedua nama orang tuaku itu, derap langkah terburu-buru langsung tercipta. Kamarku yang berada dilantai 2 membuat kesusahan appa dan umma yang kamarnya terletak dilantai 1.

BRAK!

Pintu kamarku terbuka. Menampilkan 2 sosok yeoja dan namja yang sebenarnya tak terlalu pantas kusebut appa dan umma karena penampilan mereka memang masih terbilang muda. Bagaimana tidak? Appa dan umma menikah disaat usia umma 23 dan appa 21 tahun. Memiliki anak sepertiku yang berusia 16 tahun? Tentu mereka belum terlihat 'tua' bukan? Apalagi aku lahir 1 tahun setelah pernikahan mereka.

"Chagi, ada apa?" tanya umma sambil menahan ngos-ngosan karena buru-buru lari. Umma hanya memakai atasan kemeja yang kebesaran hingga ia terlihat imut sekali. Paha putihnya terpampang jelas. Belum lagi dengan posisinya kini yang secara liar membuka pintu kamarku dengan wajah penuh kekhawatiran. Nah, appa lebih mengesankan lagi. Topless, memperlihatkan dada bidangnya, dan hanya celana panjang yang semotif dengan kemeja yang dipakai umma yang melekat di sepanjang kaki jenjangnya itu.

Aku langsung lari menghindari sosok pemilik suara berat itu menuju punggung appa dan ummaku.

"Ada orang aneh yang nongol di kamarku," ucapku jujur dan lirih meskipun terdengar oleh appa dan umma.

"Haah, kupikir apaan. Kangin-ah, sudah kubilang kupertemukan kau dengannya nanti. Mengapa kau begitu tak sabaran akan tugasmu ini?" kata appa dengan sangat tenang sambil menyisir rambutnya kebelakang dan wajah didongakkan (bayangin Kyuppa kayak gini: topless, keringetan, nyiris rambut pake tangan, OMONAA #plak)

Apa? Appa? Apapapa? #plak (maaf, oke, kita serius lagi)

Apa? Appa mengenal namja itu?

"Appa kenal orang itu?" tanyaku sambil menunjuk orang aneh itu yang masih berdiri didepan jendela kaca kamarku. Sinar mentari menutupi wajahnya yang saat ini mengadap kearah kami. Tertutup oleh bayangan dari lekuk wajahnya. Namun kuyakini, dia adalah namja. Dengan badan sedikit gempal, namun berkulit putih. Hmm, aku tak punya kenalan seperti dia. Mengapa appa bisa mengenalnya?

"Ne. Kangin-ah, lebih baik kau segera keluar dan menunggu di ruang tengah. Teuki, lebih baik kau mandi dan segera ke ruang tengah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ini soal kalian berdua,"

Mwo? Aku tak percaya dengan apa yang kudengar barusan. Soal-kami-berdua katanya? Ah, aku ada feeling ini soal "Bodyguard" itu..

Begitu aku selesai mandi pagi, aku berdandan sedikit. Kaus polo putis dengan motif garis pink di kedua lenganku, celana jeans ketat setengah paha, serta mengikat rambut ala ekor kuda, ayo kita adakan rapat keluarga! Eh, tapi kan namja yang dipanggik 'Kangin-ah' itu bukan keluargaku. Yah, pokoknya rapat lah..

.oOo.

Disinilah kami. Appa dan umma duduk di sofa panjang. Aku duduk di kursi single yang terlettak di sebelah kanan sofa yang dipakan appa dan umma, sedangkan namja itu duduk di seberangku, di sebelah kiri sofa. Meja tengah yang membatasi kami berdua tak menghalanginya untuk terus menatapku tanpa berkedip. Aish, aku benti ditatap seperti itu.

"Teuki, ini Kangin. Kangin, ini Teuki," ujar appa mencairkan suasana yang sudah 10 menit terdiam tanpa suara kecuali suara tegukan ludah baik milikku maupun appa dan umma. Entah mengapa aku merasa bahwa namja diseberangku ini bukan manusia. Sikapnya yang begitu dingin, tak berkarakter, dan sangat pendiam membuatku makin yakin akan hal itu.

"Ani, Leeteuk. Cho Leeteuk imnida," ujarku membenarkan perkataan appa. Enak saja dia orang nggak jelas manggil aku dengan nama 'teuki'? hah, takkan kubiarkan!

"Ne, Arrasso Leeteuk noona. Kangin imnida," ujarnya berusaha ramah namun tetap dengan suaranya yang datar dan berat serta tanpa karakter. Entah apa yang membuatku berpikir ia 'berusaha ramah'.

"Mwo? 'noona'? memang umurmu berapa?" ujarku terkaget-kaget. Pasalnya wajah namja itu seperti berusia 20an.

"Sebenarnya ini bukan masalah umur, tapi kalau dilihat dari umur memang bisa dikatakan kau lebihtua darinya. Kangin-ah memanggilmu 'noona' untuk menghargaimu karena mulai saat ini dia adalah Bodyguard-mu,"

"MWOO?" ucapku lebih keras dan membulat ketimbang 'mwo' yang pertama.

"Sudah kubilang kemarin, aku tak terima penolakan," ujar appa berusaha tenang.

"Chagi, Kangin ah ini adalah bodyguardmu. Mulai saat ini kalian harus saling mengakrabkan diri. Umma harap kalian bisa akrab dengan cepat," ujar umma yang berada disebelahku. Aku sedikit mengumpulkan udara dipipiku, membuat bibirku tertarik kebawah. Aku sebal appa tak mendengarkan kata-kataku sedikitpun.

Pria yang bernama Kangin itu menunduk sedikit padaku, emnunjukkan rasa hormatnya.

"Mianhamnida tadi saya masuk kamar nona muda. Saya ingin memastikan keamanan nona langsung di tempat yang paling pribadi milik nona muda," ujarnya tetap dengan tanpa ekspresi.

"N-ne, gwaenchana," ujarku melemah. Aku tak lagi merajuk seperti tadi. Namun kedua tanganku masih setia memilin milin kancing kantung celanaku. Inginnya sih menghilangkan kegugupan, namun nggak bisa…

"Ah, bagaimana dengan sekolahku? Tak mungkin dia mengikutiku kemana-mana layaknya penguntil," ujarku kasar. Yah, biar saja dia tersinggung. Toh aku memang tidak suka dengan kehadiran orang baru di kehidupanku.

"Itu dia yang ingin appa beri tahu. Mulai besok senin, Kangin-ah akan bersekolah di sekolah yang sama denganmu. Walinya tentu saja appa. Besok appa akan menemui kepala sekolahmu dan mereka pasti akan setuju Kangin masuk ke sekolahmu,"

Mwo?

"Baiklah. Sepertinya Kangin sudah mengerti dan paham posisinya. Bagaimana dengan anak umma yang cantik ini?" tanya umma sambil menoleh padaku. Aku hanya menarik manic mata menuju namja aneh diseberang sana. Haah, dasar kalian penculik TENGIK!

"Arra, arra. Aku terima dia sebagai bodyguardku," ujarku sambil mendengus kesal. Appa dan umma menampilkan senyum kelegaan.

"ah kalau begitu Kangin ah, sekarang kau mulai pemeriksaan di kamar Teuki. Pastikan semua sesuai dengan prosedur pelatihan di labolatorium,"

"Baik, Tuan. Saya permisi," ujarnya sopan.

Labolatorium?

"Appa, mengapa pelatihannya di labolatorium? Bukannya di sekolah keamanan?" tanyaku pada appa setelah Kangin benar-benar mulai mengecek kamarku.

.oOo.

Aku masih terduduk di pinggir kasurku yang ditutupi oleh sprei putih dengan motif biru polkadot. Angel, boneka cupid yang setiap malam kubikin sesak napas , kupeluk. Menenangkan pikiranku yang barusan saja teracak-acak akibat keterangan dari appa tentang namja yang saat ini masih memasang kamera pengaman di tiap pojok kamarku.

*flashback…

"Appa, mengapa pelatihannya di labolatorium? Bukannya di sekolah keamanan?" tanyaku pada appa setelah Kangin benar-benar mulai mengecek kamarku.

"Sebenarnya dia bukanlah manusia seutuhnya. Dua tahun yang lalu terjadi kecelakaan kereta yang mengakibatkan banyak orang yang menjadi korbannya. Kangin adalah salah satu korban yang selamat meskipun banyak luka di tubuhnya. Sayangnya, tidak ditemukan identitas apapun didalam diri Kangin. Kedua orrang tua Kangin pun juga termasuk dalam daftar korban kecelakaan tersebut," jelas appa panjang. Appa mengambil nafas lagi. Memikirkan untuk menyingkat informasinya yang sepertinya banyak itu. Aku menegang. Masa lalu seberat itu ternyata.

"Ditambah pula ia mengalami retrograde amnesia atau amnesia yang lebih dari sekedar amnesia biasa. Ingatan masalalunya benar-benar nihil. Bahkan berbicara saja ia tidak mampu. Seperti bayi yang baru saja dilahirkan, tak tahu apa-apa. Bedanya, ia tak menangis seperti bayi," lanjutnya.

Puh. Aku menahan tawaku. Bayangkan saja tubuh besar dan wajah menakutkan meperti itu menangis layaknya seorang bayi. Namun kutepis pikiran itu saat mengingat bahwa ia hidup disini hanya sebatang kara.

"Berarti dia bersikap dingin itu juga karena ia sempat amnesia?" tanyaku memastikan.

"Ne, begitulah. Luka yang dideritanya bukanlah luka ringan. Luka fisik memang banyak. Tangan kirinya itu sebenarnya adalah tangan mekanik, begitu pula dengan mata kirinya. Kedua bagian tubuh itu hancur dan tidak dapat kami selamatkan. Namun kami ganti dengan automail pada lengannya itu dan kornea mekanik di dalam matanya yang sudah tak dapat kami selamatkan," jelas appa panjang lebar lagi.

"Bagaimana dengan tenaga? Bukankah automail adalah sejenis besi?" tanyaku

"Tentu, tapi ini bukan besi biasa. Besi ini ringan sekali tak seperti besi pada umumnya. Untuk energy, kemampuan reflek, dan sensor adalah masalah pertama yang kami atasi. Pemasangan automail hingga menyatu pada syaraf sang pengguna membutuhkan waktu 1 tahun, itu sebabnya selama 1 tahun itu pula kami hanya memberi pengetahuan umun dari telinganya, larena hanya indra itulah yang masih dapat bekerja secara maksimal. Kornea mekaniknya membutuhkan waktu penyesuaian 4 bulan, jadi matanya lebih cepat sembuh dari pada tangannya," jelas appa sambil sesekali menatap kelantai atas, tempat Kangin berada saat ini.

"Jadi, dia setengah robot?"

"Ne, dia cyborg,"

*flashback end…

Aku tak menyangka didalam tubuh gempal seperti itu tersimpan banyak sekali peralatan-peralatan mekanik yang canggih.

Lengannya itu, kekuatan yang dihasilkannya dalam satu kali pukulan bisa mencapai 500 Newton. Didalam ruas jari-jarinya, tersimpan berbagai peralatan kecil seperti panah, panah bius, peluru, pisau lipat, dan lain-lainnya. ENtah apa saja yang tadi appa ceritakan.

Dan matanya itu. Dari korneanya itu ia dapat menangkap gambar dengan sangat tajam. Pandangannya itu bisa mencapai 1 kilometer didepan kami. Dilengkapi dengan efek fluorescent dan infrared sehingga dapat digunakan dalam keadaan gelap.

"Nona muda, saya sudah selesai memasang kamera. Kamar saya berada tepat dibalik kaca lemari Nona. Bila Nona membutuhkan saya, usap perlahan cincin ini," dia menyerahkan sebuah kotak kecil yang berisi cincin permata. Seperti melamar gadis untuk menjadimempelainya saja.

Aku tersipu. Rasanya dia ini dulunya adalah namja yang sangat romantis. Tapi entah lah. Namja ini adalah orang asing bagiku.

"N-ne, akan kulakukan," setelah menyematkan cintin itu dengan amat sangat hai-hati, Kangin mengcup pelan dan mengelus lembut cincin itu.

"K-kangin, apa yang..," belum selesai aku bicara, dia mengalihkan pandanganku ke dalam matanya yang sipit itu. Terlihat ada yang beda antara mata kanan dan kirinya. Diturunkannya kedua tanganku yang sejak adegan 'cium cincin' tadi terjadi masih dalam genggamannya. Tangan kananku yang di jari tengahnya tersemat cincin berwarna sapphire blue mengelus pelan pipinya.

Didalam wajah ini, tersimpan ekspresi yang misterius. Didalam mata kirinya yang berwarna sedikit hijau itu, tersimpan keajaiban ilmu mekanik appa dan timnya. Didalam mata kanannya yag hitam itu terlihat kepekatan masa lalu yang tak semua orang boleh mengerti alurnya.

Kuelus sayang pipi kanannya. Mengingat cerita appa tadi tentang namja ini membuat pikiranku terhadapnya sedikit berubah. Sedikit. Berubah.

"Chagi, sedang apa kau?" tanya umma saat mataku semakin penasaran dengan apa yang ada didalam mata kirinya itu.

Kelabakan aku melepas pipi Kangin yang sedari tadi kutakup dengan tanganku. Pipiku memerah sednagkan Kangin ah hanya memandang tanpa ekspresi pad aumma.

"Ani, umma. Aku hanya penasaran dengan matanya," ujarku jujur.

"Oh, ya sudah. Sebaiknya kalian segera bersiap karena hari ini appa akan membawa kalian berdua ke labolatoriumnya," ujar umma sambil menutup pintu kamarku.

Ke labolatorium appa? Untuk apa?

*TBC

(bukan penyakit tuberculosis loh ya, tapi To Be Continued)