Updated

PLAYING BY THE FATE CHAP 2

.

"Hermione..." sapa Harry berdiri di hadapan Hermione yang sedang duduk berdua dengan Draco di rerumputan taman belakang kastil. posisi duduk berdampingan sangat rapat, Draco tengah mengunyah apel hijaunya dan menyusurkan jarinya di tengah tengah halaman buku yang sedang dibaca Hermione—buku rune kuno itu berada di pangkuan Hermione. Saat ini mereka tengah mengerjakan tugas terjemahannya. Dahi mereka nyaris menempel kala mereka berdua serius membaca buku tersebut.

"Harry... hey" Hermione mendonggakkan kepala, menyadari melihat Harry dan Ron yang berdiri menjulang di depan mereka. Hermione segera berdiri-menjatuhkan buku yang tadi berada di pangkuannya, sementara Draco duduk santai menyenderkan punggungnya di batang pohon yang berada di belakangnya. Ia masih mengunyah apelnya dan menyipitkan matanya memperhatikan 3 sosok yang berdiri di depannya.

Melihat kehadiran Ron di samping Harry, "Ron...Astaga! kemarin kau kemana? Aku menunggumu sampai sore di madam Rosmerta"

"Kalian sedang apa?" tanya Ron curiga setelah melihat posisi mereka sebelumnya-mengabaikan pertanyaan Hermione.

"Oh.. Belajar—tentu saja..." jawab Hermione kikuk.

Ron berkali-kali memandang Hermione dan Draco bergantian, wajahnya mulai memerah, ekspresinya terlihat tak bersahabat.

"Malfoy, aku ingin bicara denganmu" Harry mengerdik ka arah Draco. Tujuan Harry, tentu saja agar Draco menjauh dari Hermione. Ia sudah tahu bahwa Ron akan memulai argumentasi kecemburuannya dan Draco tidak perlu terlibat dengan pembicaraan mereka.

"Yeah..well...ok, Potter. Granger, 15 menit lagi kelas Rune—aku tunggu kau di kelas" balasnya malas, Draco berdiri lalu berjalan mengikuti Harry.

"Ron" Hermione berusaha untuk memeluk Ron, tapi Ron menolaknya. Hermione tampak kecewa, dia sudah menduga sebentar lagi Ron akan menuduh dan berbicara lantang. Dan benar saja.

"2 jam!, Mione, aku menunggumu di Hogsmeade. Kau berjanji padaku-dengan sangat meyakinkan bahwa kau akan datang jam 9. Aku tepat waktu—kau tahu! Aku meninggalkan tempat latihan hanya untuk bertemu denganmu. Dan hari ini kau tampak tidak menyesali dan malah asik berduaan dengan Malfoy" tuduh Ron.

"Ron...aku minta maaf, aku memang terlambat, aku datang jam 11 karena kau tahu—tugas Ketua Murid harus mengawasi—"

"Stop it! kau selalu beralasan tugaslah, kewajibanlah, belajarlah, ujianlah" geram Ron kesal.

"Lantas aku harus bagaimana? memang itu faktanya?" Hermione masih berusaha melembutkan suaranya.

"Kau selingkuh dariku!" teriak Ron

"Ron!...What? Oh..ok—aku sudah muak dengan cerita ini" Hermione menelan ludah, menatap tajam Ron. "Bila kau mencintaiku, kau seharusnya percaya padaku. Bila kau tak mempercayaiku dan hanya menuduhku dengan asumsi tidak beralasan—rasanya aku sudah mencapai di titik level yang malas untuk menjelaskan apa-apa. Kau pikirkan sendiri—jangan hanya menuduhku, sudah kubilang aku dengan Malfoy tidak ada apa-apa. Kami hanya berteman, satu kelompok, satu tugas—apa bedanya Malfoy dengan Neville? kau tidak akan semarah ini kalau aku dipasangkan dengan Neville atau yang lainnya—ada apa denganmu Ron?" cecar Hermione dalam satu tarikan nafas.

"Neville berbeda, dia bukan Malfoy"

"Lantas apa salahnya dengan Malfoy?"

"Karena dia Malfoy, mengerti?"

"Tidak—tidak, aku tidak mengerti! Kau membiarkan rasa bencimu semakin tumbuh membesar, kau membakar logikamu dengan kecemburuanmu dan keirianmu—kau tidak memahami dan tidak memberi kesempatan agar orang bisa berubah"

"Kau tidak tahu! Malfoy tetaplah Malfoy. Dan tadi kau bilang apa? Malfoy berubah?"

"Ya—lebih baik dari yang pernah kita tuduhkan"

"Oh..yeah, Hermione?" Ron memicingkan mata. "Kau sekarang membelanya? Begitu? SCREW YOU..."

"HEY... Ronald Weasley" Hermione meradang marah.

"Jika kau masih saja bersamanya—aku akan mempertimbangkan lagi hubungan kita" ancam Ron.

"Terserah—" Hermione mengangkat tangan kedua tangannya.

"Kau kan bisa menghindarinya atau bagaimana—"

"Tidak bisa, ini sudah keputusan sekolah. Ronald Weasley—kau tidak bisa seenaknya mengaturku" Hermione sudah mencapai taraf bosan akan kecemburuan Ron.

"Yeah..well—dugaanku tidak salah kalau begitu"

"Aku lelah" Hermione menjejalkan bukunya ke dalam tas dan dia menyambar tas Draco yang tertinggal. "Dont you ever speak loud again to me" serunya di depan wajah Ron lalu meninggalkan Ron.

Air matanya sudah mengenang dari tadi, lalu tumpah saat berbalik menjauh dari tempat Ron berdiri. Perasaan campur aduk antara marah-kesal-sakit hati-penyesalan menerpa pikiran Hermione. Ia tahu hubungannya dengan Ron semakin memburuk.

Hermione berjalan cepat menuju kelas Rune Kuno, dan terhenti sejenak kala seseorang menyambar tas dari bahunya kemudian mengambil tas yang berada di tangannya.

"Ini berat kau tahu" Draco menyampirkan tasnya di bahu kanan dan menyampirkan tas milik Hermione di bahu kiri, lalu mengenggam erat tangan Hermione, dan mengajak Hermione berjalan kembali menuju kelas Rune.

Tanpa bicara apa-apa di sepanjang perjalanan di koridor. Hermione berterima kasih karena Draco tidak bertanya mengenai kejadian tadi—Hermione malas menjawab, matanya masih memerah tanda habis menangis.

.

xxxxxxxxxxx

.

Beberapa minggu setelah pertengkaran itu, Hermione menjadi pendiam. Dia berusaha menghindari Draco. Draco tahu betul Hermione berusaha menjauh darinya dan dia cukup tersiksa. Beberapa bulan kebersamaan mereka cukup membuat Draco kehilangan rutinitas kebersamaan, dan Draco tidak menyukainya, seperti ada sesuatu yang kosong—ia merasa kesepian.

Sementara itu di pihak Hermione, Harry pernah menyurati Hermione, menanyainya apakah dia baik-baik saja. Hermione menjawab ia baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hermione juga meminta Harry agar jangan terus bertanya seperti itu—dia bukan gadis rapuh yang mudah pecah karena sebuah hubungan percintaan, Hermione mengatakan bahwa mereka hanya perlu cooling down. Hermione sempat bertanya pada Harry, apa ada yang salah dengan semua ini? Hermione merindukan pertemanan mereka dahulu disaat tidak ada percikan cinta di dalamnya. Ia merindukan Ron—sebagai sahabatnya.

Jawaban Harry adalah sama, ia juga merindukan mereka bertiga akur, rukun—saling bercanda lepas, mengejek satu sama lain. Harry juga mengadu bahwa Ron semakin jauh darinya—mengungkit pembicaraan tentang Hermione sedikit saja, hal itu sanggup membuat tensi darah Ron naik. Pembahasan tentang Hermione adalah topik yang paling dihindari Harry saat bersama Ron.

Hanya Harry yang memahami pemikiran Hermione, karena Harry bisa menilai netral dan tidak berpihak—itu yang membuat Hermione lega.

.

.

Hermione berusaha semampunya untuk menghindari interaksi dengan Draco, salah satunya adalah tugas Patroli Malam. Namun patroli malam kali ini dijalani Hermione dengan sangat terpaksa. Beberapa prefek menolak permintaan Hermione untuk patroli dengannya dengan berbagai alasan dan Hermione terpaksa menjalani patroli bersama Draco.

Sikap Hermione mungkin kekanakan tapi ini yang terbaik untuknya—dia pikir yang terbaik untuknya.

Tapi nyatanya tidak. Ia kehilangan momen bersama Draco sebagai teman diskusinya—saling bertukar pikiran yang sepadan . Hal ini sungguh menyiksanya juga. Draco selama ini hanya diam—dia tidak memaksakan apapun, tidak membahas apapun. Draco seolah-olah tidak perduli, dia tidak menanyai Hermione mengenai masalahnya dengan Ron, walaupun terkadang terbersit keinginan Hermione untuk menumpahkan curahan hatinya. Entahlah, Hermione merasa binggung dengan masalahnya kali ini, ia tahu penyebab kegalauan hatinya adalah kehadiran Draco Malfoy-namun ia tidak bisa menimpakan kesalahan pada pria itu. Ia terjepit antara kecemburuan berlebihan Ron dan profesionalisme tugas dengan Draco.

Atas sikap diamnya Draco, diasumsikan Hermione bahwa ia menyetujui semua ini. Menyetujui sikap Hermione yang menghindari Draco, tapi perkiraannya salah...

Kini mereka berdua berjalan dengan keheningan menyusuri koridor, memeriksa dengan seksama—apakah ada yang melakukan pelanggaran. Udara sangat dingin di akhir november tahun ini, salju mulai turun dan angin cukup kencang berhembus menghantarkan dingin ke seantero kastil.

Hermione menggosok kedua lengannya menahan dingin. Dia berjalan dua langkah di depan Draco—tiba-tiba udara di sekitar badannya menghangat. Dia segera mengetahui Draco telah mendaraskan mantra penghangat ke tubuhnya. Hermione menoleh ke belakang, melihat Draco yang dengan santainya mengacungkan tongkat sihirnya.

Hermione tersenyum tipis pada Draco sebagai tanda terima kasih.

Kemudian mereka mendengar suara bisik-bisik dan sedikit ribut di dalam sebuah ruangan di lantai 5. Mereka berjalan hati-hati mendekati ruangan tersebut seraya mengenggam tongkatnya—waspada. Ruangan itu gelap sekali, mereka tidak mampu melihat apapun. Tapi bisik-bisik orang berbicara semakin jelas dan kelentrang bunyi benda dilempar membuat mereka berdua otomatis melompat ke dalam ruangan itu untuk memeriksa lebih lanjut.

"Lumos" sinar terang memenuhi ujung tongkat mereka. Mereka mengendap-endap semakin masuk ke dalam ruangan dengan hati-hati. Tiba-tiba sebuah benda perak transparan melayang keluar ruangan tersebut sambil tertawa riang—tawa jahil yang dikenal Hermione dan Draco dari Peeves—hantu terjahil yang ada di Hogwarts.

"Aku berhasil...aku berhasil...memerangkap ketua murid. Aku pintar...aku pintar..." seru peeves riang dan pintu itu terjelembab menutup rapat.

Kedua ketua murid itu pasrah melihat pintu yang tertutup dihadapan mereka. Draco tidak hentinya menggerutu melayangkan sumpah serapah dan ancaman kepada Peeves. Hermione mengitari ruangan dan menyalakan beberapa buah lilin yang sudah pendek.

"Alohomora" Pintu tetap terkunci kala Draco mencoba membuka pintu dengan sihir. "Kenapa tidak bisa dibuka? Bagaimana kita keluar dari sini?" geram Draco jengkel.

Draco membalikkan badannya menghadap Hermione yang sedang mentransfigurasi sebuah papan kayu menjadi karpet tebal dan dua buah bantal empuk.

"Apa yang kau lakukan? bukankah kita seharusnya mencari jalan keluar dari sini?" tanya Draco heran karena melihat Hermione bersikap sangat santai.

"Tampaknya kelihatan sekali kau tidak membaca sejarah Hogwarts. Seharusnya aku tahu dan tidak terjebak—aku lupa bahwa ruangan ini berada di lantai 5"

"Memangnya ini ruangan apa?"

"Ruangan perenungan. Kadangkala dipakai untuk mendetensi siswa dan menyekap orang" jawab Hermione lalu duduk menangkupkan kakinya di atas karpet tebal, punggungnya bersandar di bantal empuk yang tinggi. Sebuah bantal yang bisa menyetel kebutuhan pemakainya secara otomatis.

"Oh..Aku tahu. Pintu ini akan terbuka saat matahari menyinari pintunya"

"Tepat"

"Well...Itu artinya kau terperangkap berdua denganku" katanya menyeringai lalu ikut duduk disamping Hermione dan meraih bantalnya.

"Selama ini juga kita terperangkap di asrama yang sama. Jadi apa bedanya, Malfoy?"

"Bedanya kini kau tidak perlu menghindariku lagi, Granger"

Raut wajah Hermione berubah terkejut.

"Tidak perlu menunjukkan wajah terkejutmu itu, aku tahu yang kau lakukan kepadaku? Salahku apa sih, Granger?"

Hermione diam termenung. Ya Hermione...salah Draco apa? Apa dia berusaha mendekati Hermione secara sengaja dan membuat Ron cemburu?

Rasanya tidak. Kedekatan mereka murni alami karena saling membutuhkan. Draco dan Hermione selalu bersama-sama bukan karena kesengajaan tapi karena mereka diharuskan bersama tanpa paksaan siapapun-profesionalisme tugas. Dan Draco tidak pernah memaksakan apapun atau dengan sengaja membuat mereka terjebak bersama selamanya.

'Jadi kenapa seolah Draco yang disalahkan? Dan mengapa aku harus menghindarinya? Rasanya ini tidak adil untuk Draco. Akulah yang egois' batin Hermione.

"Maafkan aku..." gumam Hermione namun cukup terdengar Draco yang berada disampingnya.

Draco menghela nafas sejenak.

"Apakah kau benar-benar mencintai Weasley, Granger? Sehingga kau menjaga jarak denganku agar dia tidak cemburu?"

Hermione diam.

"Apakah dia tahu kalau kau sengaja menghindariku lalu memberimu tepuk tangan"

Hermione diam.

"Apakah hubunganmu dengannya membaik karena kau menjauh dariku?"

Draco menghela nafas kembali. "Apakah ini adil untukku, Granger?"

Hermione tetap diam.

Pertanyaan telak dari Draco membuatnya gamang. Karena apa yang dikatakan Draco benar—semuanya benar. Ron tidak tahu dan hubungannya tidak kunjung membaik. Mereka masih perang dingin. Jadi apa tujuannya Hermione?

Karena jeritan hatinya berkata bahwa kau tidak mau mengakui bahwa kau nyaman dengan pria disampingmu ini, kau takut jika kau menyukainya, kau takut jika akhirnya kau sadar bahwa kau membutuhkannya. Kau bahkan tidak takut hubunganmu dengan Ron semakin memburuk. Kau hanya khawatir perasaanmu berubah karena pria ini...

Draco menarik tangan Hermione yang berada disampingnya, lalu digenggamnya erat—hangatnya genggaman itu menjalari permukaan kulit dan merangkak naik mencapai wajah Hermione. Ia menyukai kala tangan Draco yang berukuran dua kali lebih besar dari tangannya serta jarinya yang panjang itu merengkuh semua telapak tangannya—terasa pas dan hangat.

Draco menempatkan tautan tangan itu ke atas dadanya. Hermione bisa merasakan degupan jantung Draco melalui kulit tangannya—degupan jantung itu serta merta mengalir ke jantungnya, menular—ikut berdebar dan memanas. Getaran yang aneh itu membuat Hermione berusaha menarik tangannya lepas, namun Draco tidak mengijinkannya, dia semakin erat menempelkan tangan gadis itu di atas dadanya dan menahannya.

"Kau tahu—aku yang tersiksa atas semua ini, Granger. Aku merindukan kebersamaan kita. Demi Merlin, kau adalah teman berbagi dalam pikiran dan pendapat, bahkan dalam diam sekalipun. Dan aku selalu menyukai kegiatan kita. Semuanya"

Draco menoleh ke samping menangkap mata hazel yang sedang intens memandanginya. Draco belum pernah sedekat ini dengan Hermione, dengan jarak sedekat ini cukup untuk melihat kedalaman mata sang Putri Gryffindor. Hermione diam terpaku mendengar pernyataan Draco—hal yang sama yang ingin sekali dia utarakan.

All about the same mysterious feeling.

Pernyataan Draco menyukainya sebagai teman berbagi, membuat perasaan Hermione lega mendebarkan.

Draco memiliki mata abu yang dingin namun semburat safir di titik matanya membuatnya sangat menawan—Dia tampan. Dari jarak sedekat ini dan ditambah cahaya lilin membuat garis wajah Draco seratus kali lebih tampan. Hermione ingin sekali menyangkal bahwa Draco mempunyai pesona yang memikat. Hati bisa saja berbohong tapi mata Hermione mengakuinya. He's so charming.

"Apa yang kau rasakan sama denganku, Granger?" tanya Draco menuntut.

Kini Hermione merasakan hembusan nafas yang keluar dari mulut Draco saat dia bicara—beraroma mint yang kuat, membuat bulu disekitar wajah Hermione meremang.

Hermione tetap diam namun perlahan ia menggangguk sambil mengigit bibir atasnya.

Draco serta merta mengeliminasi jarak mereka—semakin mendekat. Hermione tahu apa yang akan terjadi, dia memejamkan mata dan kemudian sesuatu yang dingin dan basah beraroma mint menyentuh bibirnya, mengusapnya lembut disertai dengan nafas hangat yang menyentuh hidungnya.

Ia bagaikan tersihir dan tak ingin momen pernyataan ini hilang begitu saja. Jangan salahkan Hermione yang enggan menolak pernyataan Draco. Hermione seorang gadis normal yang merasa perasaannya membuncah kala seseorang menyatakan bahwa ia membutuhkan dirinya. Getaran aneh itu semakin membelitnya.

Draco telah menciumnya dan entahlah mengapa Hermione menginginkannya. Draco memperlakukan ciuman itu dengan hati hati, bergairah tapi tidak tergesa gesa, lembut tapi menuntut. Hermione gagal mengontrol dirinya, dia membalas ciuman itu, ia ikut mengecap bibir Draco.

Ciuman pertama atas penghianatan Hermione terhadap Ron.

Kegiatan itu berlangsung selama yang mereka berdua inginkan, waktu seakan terhenti. Tanpa khawatir kehabisan oksigen karena mereka saling berbagi nafas. Hermione belum pernah disentuh seperti itu—dicium seperti itu. Bahkan dengan Ron sekalipun, ciuman yang mampu membuat darahnya berdesir sampai ke ubun-ubun.

Tangan Draco mulai mengusap wajahnya, menyentuh telinganya, mengurai rambut Hermione dengan jemarinya lalu berlari bermain di sekitar punggungnya dan mendekapnya erat. Tangan mereka tetap bertautan diantara dada masing-masing, saling merasakan jantung yang berdegup kencang menahan laju emosi.

Tangan Hermione mulai hinggap di leher Draco. Dua-duanya sama-sama tak mau melepaskan, tetap berciuman intens dan kini lebih menuntut lebih dalam, lidah Draco mulai menjalar mencari lawannya dan serta merta dipilinnya setelah lidah mereka bertemu. Indah dan bergairah.

Bunyi decak mengakhiri kegiatan mereka. Draco yang menyudahi lalu menatap mata Hermione kembali—tatapan yang Hermione tidak mengerti artinya. Draco merangkul leher Hermione agar kepalanya sedikit menunduk, Draco mengecup mata Hermione yang otomatis terpejam lalu kecupan itu pindah ke dahinya.

Draco menempatkan kepala Hermione agar bersandar di daerah sekitar leher dan pundaknya. Draco menghirup dalam-dalam puncak kepala Hermione, membaui rambut golden brown dan mengelusnya perlahan.

Anehnya dengan segera Hermione menemukan tempat favoritnya untuk bersandar. Hermione menghisap dalam-dalam oksigen yang menguar antara leher Draco, wangi khas Draco—perpaduan susu, musk dan pines. Wangi yang menenangkan dan menghanyutkan. Hermione segera menyukainya—rasa nyaman menguasai dirinya dan perlahan matanya terpejam. Degup jantung Draco bagai nyanyian penghantar tidurnya. Hermione terbuai dan akhirnya terlelap.

Hingga sinar pagi hari secara samar menyinari ruangan tersebut, posisi mereka tetap bertahan sama—berpelukan. Hermione membuka matanya dan mendapati Draco masih terpejam, lengannya sedikit kesemutan karena semalaman mempertahankan posisi seperti itu. Mata hazel enggan beranjak menatap wajah pria di depannya-kejadian semalam masih bersarang kokoh di pikirannya. Overwhelmed.

"Menyukai pemandangan pagimu, Granger?" gumam Draco dengan mata masih terpejam.

"Idiot" sangkal Hermione sambil memukul pelan dada bidang pria itu.

Draco tersenyum jahil sambil membuka matanya.

"Ini sudah pagi, kau tahu?" Hermione bangkit untuk duduk tapi lengan Draco yang masih berada di pundak Hermione menahannya sehingga Hermione tertelungkup berhadapan dengan wajah Draco yang ada di bawahnya.

"Pagi ini akan datang terlambat selama 10 menit. Dan sambil menunggu pagi ini datang aku menagih morning kiss-ku dulu" gumam Draco sambil tersenyum. Ia segera merangkul leher Hermione agar gadis itu mendekat, dan mereka berciuman kembali mengulang kejadian semalam selama waktu yang diminta Draco di ucapannya.

.

xxxxxxx

.

Setelah kejadian malam itu semua berubah. Hermione dan Draco kembali melakukan tugas bersama-sama dengan perasaan melambung bagai balon gas yang ringan melayang di udara.

Draco sering mencuri kecupan kecil di kelas pelajaran, mencium pipi Hermione saat seisi kelas lengah. Memberi kecupan bibir saat mereka berjalan berdampingan di koridor. Berciuman sesaat kala mereka menjalani patroli. Tingkah mereka seperti anak kecil yang diam-diam memakan banyak permen padahal dilarang ibunya. Saling mencuri pandang lalu tersenyum sendiri.

Draco cukup pandai tidak mengekspresikan hubungan tak jelasnya dengan Hermione di depan orang-orang dan Hermione tidak terganggu dengan semua itu. Perlahan lahan masalahnya dengan Ron diabaikan. Kesibukan Hermione dan Ron juga menjadi ajang bahwa ternyata hati Hermione perlahan bergerak menjauhi Ron.

Stealing kiss at class? didn't they so naughty?

Speaking with physical touch dan body gesture...so sweet aren't they?

Beberapa minggu kemudian mereka memutuskan untuk jarang makan malam di aula besar. Mereka lebih senang menghabiskan waktu di ruang Ketua Murid. Kini mereka mengerjakan tugas dengan saling menggoda, duduk berdua dengan saling menyandarkan kepala sambil membaca buku, atau Draco duduk di sofa dengan kepala Hermione berada di pangkuan paha Draco. Draco sesekali memainkan rambut ikalnya, dan sebaliknya. Semakin hari semakin intim tanpa disadari, tanpa di komando, tanpa beban. Mereka bahagia-entahlah. Perasaan mereka semakin hari semakin mengembang, dan keduanya tidak ingin menghentikannya.

Kasmaran.

Namun mereka masih menjaga diri tidak bermain lebih dari hanya berciuman habis-habisan.

.

xxxxxx

.

Liburan natal telah tiba, seharusnya Hermione senang karena seperti biasa Molly mengundang Hermione untuk menghabiskan liburan di The Burrow. Hati Hermione mencelos, dia tidak siap menghadapi Ron ditambah bahwa akhirnya tuduhan Ron itu benar adanya. Tusukan rasa bersalah Hermione semakin dalam kala hari=hari menjelang liburan tiba.

Kemudian surat pribadi Ron sampai di tangannya, dia meremas pelan surat itu dan mengigit bibirnya, gelisah—tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Dear Mione,

Datanglah ke The Burrow, maafkan aku atas sifat kekanakanku, aku berusaha percaya kepadamu. Aku sadar telah bersikap egois terhadapmu, seharusnya aku memahamimu. Aku ingin memperbaiki hubungan kita dan kita bicara. Habiskan liburan natal denganku.

Love,

Ron

Kegelisahan Hermione ditangkap baik oleh Draco. Dia memperhatikan Hermione dari meja Slytherinnya, ditatapnya gadis itu intens agar Hermione segera menoleh untuk melihat ke arahnya. Radar Hermione menangkap dengan baik, ia selalu dapat merasakan apakah Draco sedang menatapnya atau tidak. Hermione balik memandang Draco dengan wajah binggung.

Draco melafalkan ucapan tanpa suara yang ditangkap Hermione dengan arti 'what's wrong?'

Hermione menggelengkan kepala tanda menjawab 'nothing' dan tersenyum palsu.

Draco mengernyitkan hidung menangkap Hermione berbohong.

Draco berdiri dan berjalan menghampiri Hermione di meja Gryffindor, lalu mengerdikan kepalanya sebagai tanda 'ikut aku, ayo bicara'

5 menit kemudian Hermione menyusul. Draco memilih menara Astronomi dan berjalan santai, sesekali dia menoleh ke belakang—memastikan Hermione tetap mengikutinya.

Setelah mereka tiba, Draco segera memegang pundak Hermione dan menatap gadisnya. Hermione menunduk untuk menyembunyikan air matanya yang mulai memenuhi sudut matanya.

"Kau berjanji untuk bicara apapun, Hermione" ucap Draco menyentuh dagu gadis itu agar mau mengangkat kepalanya.

Keduanya mulai menyebut nama masing-masing—alih alih nama belakang, setelah kejadian di ruang perenungan, semua berubah bukan?

"Aku akan menghabiskan liburan natal di The Burrow"

"Lalu?"

Hermione meneteskan air matanya. Hermione tahu Draco menunggu jawaban. Draco tentunya tidak rela Hermione menghabiskan waktu dengan keluarga Ron.

Draco selalu berkata jika liburan natal ini dia akan tetap tinggal di Hogwarts dan meminta Hermione untuk tinggal bersamanya. Hermione tidak menjanjikan apa-apa, dia hanya menjawab 'aku tidak tahu dan aku tidak yakin'.

Draco menghormati keputusan Hermione. Dia juga berkata jika Hermione tidak bisa tinggal di Hogwarts maka Draco tidak akan memaksa untuk mencegahnya. Draco menyerahkan semuanya kepada Hermione, dan ini membuatnya berada dalam dilema. Dilain pihak ia rindu akan suasana The Burrow, dengan anggota keluarga Weasley dan juga Harry tapi ia enggan berjauhan dengan Draco—seolah benang tak kasat mata mengikat mereka berdua.

Tanpa diduga Draco menyelusupkan tangannya ke saku jubah Hermione dan mendapati surat dari Ron disana—hatinya mencelos. Hermione pasrah, ia tak menghentikan usaha Draco untuk membacanya.

Raut wajah Draco memerah, dia memejamkan mata dan mengatup bibirnya kuat-kuat. Tampak rahangnya mengeras tanda bahwa menekan giginya rapat. Draco menahan emosinya.

Draco menyodorkan surat Ron kembali kepada Hermione, lalu ia membalikkan badannya, menatap lepas pemandangan di luar menara Astronomi sambil menopangkan kedua tangannya di tepi pinggiran pagar pembatas menara, bahunya berguncang naik turun tanda menghela nafas berat. Dia seolah lupa bahwa bagaimanapun Hermione masih kekasihnya Ron.

"Draco" panggil Hermione, melangkah pelan mendekati Draco, mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut lengan Draco yang mengenggam kuat tepi pagar dengan erat, urat tangannya menonjol, jika pagar ini terbuat dari gelas maka gelas itu akan remuk dalam genggamannya.

Alih-alih menjawab, Draco memeluk Hermione kasar lalu menciumnya dengan ciuman penuh tuntutan, cepat dan tergesa gesa seolah menumpahkan emosinya disana. Bibir bawah Hermione digigit habis dan diisapnya kuat—membuat Hermione kehabisan nafas. Hermione belum pernah dicium sebrutal ini, Draco terlalu mengejutkannya.

Tangan Draco menekan kuat leher Hermione agar diam kala Draco merajai di bibir mungil itu, lalu Draco menggeser jubah Hermione terlepas setengah dari pundaknya, Draco dengan tergesa-gesa membuka 3 kancing atas kemeja seragam Hermione.

Hermione yang terbuai dengan ciuman Draco tidak menyadari bahwa Draco berhasil membuka kancing kemejanya, Draco dengan tatapan lapar memindahkan ciumannya mengarah ke leher Hermione dan mengeksplorasi disana, menjilat liar telinga Hermione dan menghisap kuat kulit lehernya, menjelajahi tulang selangkanya dan kembali memberikan jejak hisapan Draco disana.

Hermione mendesah panjang, terengah-engah menghadapi Draco, ia merasakan kulitnya meremang dan menikmati perlakuan Draco. Hermione meraba belakang leher Draco dan menahannya disana. Draco kembali menangkap bibir Hermione, kali ini Draco menciumnya lembut, seperti yang biasa yang Hermione rasakan. Draco melepaskan ciumannya menatap mata Hermione dengan pandangan sedih. Jari Draco mengancingkan kembali kancing kemeja Hermione dan menaikkan jubah kembali ke pundaknya. Hermione terkesiap, ia tak mengira Draco mampu menahan nafsunya lebih lanjut.

"Itulah jawabanku, Hermione" katanya sambil menghela nafas berat.

"Apa maksudmu?" Hermione menatap Draco tak mengerti.

"Jika kau ingin pergi ke tempat Weasley, pergilah. Jangan pernah membuat dirimu sendiri kacau, Hermione. Itu menyiksaku, Aku hanya mengenal Hermione yang ada disisiku, bukan Hermione yang pacarnya Ron. Jika kau ingin memperbaiki hubunganmu dengan Ron, itu hakmu. Tapi ketahuilah, aku akan tetap disini menunggu Hermione-ku kembali"

"D—Draco..."

"Kau yang lebih tahu hatimu, Hermione. Kepada siapa hatimu memilih" suara Draco melembut lalu menatap Hermione dengan pandangan sayu, mengusap pipi Hermione dengan lembut lalu pergi meninggalkan Hermione sendiri.

Draco telah sukses membuat Hermione jatuh makin dalam. Pria itu memberikan rasa nyaman yang sulit didefinisikan, seolah adrenalinnya terpacu. Hermione merasa seakan-akan hatinya menulis nama Draco dengan huruf tebal dan kapital.

Dia harus memilih antara Ron dan Draco.

Kepala Hermione pening seketika jika memikirkan hal itu. Seharian ini dia merasa tak berpijak dibumi, hatinya gamang. Sampai larut malam, Hermione hanya memikirkan hal itu, menimbang-nimbang berbagai kemungkinan. Apa jadinya jika ia memutuskan kembali bersama Ron dan apa jadinya jika ia memilih Draco.

Ahh... poor Hermione, can you choose who's distract you most?

Akhirnya ia memutuskan untuk mengepak pakaian ke dalam kopernya. Ia memilih pergi ke The Burrow, bukan karena ia lebih memilih Ron tapi logika memaksa dia untuk pergi kesana. Melakukan hal yang diluar kebiasaan akan membuat orang-orang bertanya tanya curiga-terutama keluarga Weasley dan Harry. Hermione tidak mempunyai alasan khusus mengapa ia menghindari The Burrow saat liburan natal.

Lagipula Hermione tidak merasakan kehadiran Draco di asrama Ketua Murid—setelah kejadian di menara tadi siang, Draco seolah menghilang.

Kemudian Hermione mendengar suara pintu kamarnya diketuk dan buru-buru dibukanya. Hermione tersenyum kala melihat Draco muncul di depan kamarnya, ia menantikan Draco dan kehadiran pria ini membuatnya lega. Draco membalas senyum Hermione dan menyerahkan sebuah surat dengan cap yang dikenalnya milik keluarga Malfoy.

Draco masuk ke kamar Hermione dan duduk berselonjor santai diatas ranjang Hermione, menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang. Hermione duduk di tepi ranjang di samping Draco, membuka surat dan membacanya,

Dear Miss Granger,

Aku ingin mengundangmu untuk datang makan malam menjelang natal. Aku ingin mengucapkan terima kasih secara pribadi sekali lagi kepadamu. Besar harapanku agar kau dapat memenuhi undangan ini.

Datanglah pada tanggal 23 Desember.

Salam hormat,

Narcissa Malfoy

"Kau akan pergi ke tempat Weasley?" tanya Draco datar melihat koper Hermione.

Hermione menganguk berusaha mengabaikan ekspresi Draco yang terlihat kecewa.

"huuufftt..." Draco mendengus keras, menyadari keputusan Hermione dan itu membuatnya tak nyaman.

Hermione menatap Draco dengan tatapan 'jangan membuatku bingung'.

"Tapi kau akan datang kan? Please?" tanya Draco penuh harap. "Aku mengerti bila kau menolak memenuhi undangan ibuku ke Manor jika kau masih trauma dengan tempat itu. Tapi aku sangat berharap kau tak menolak permintaan ibuku, mengingat dia masih tahanan rumah jadi aku tidak bisa menyarankan tempat lain—"

"Akan ku usahakan" potong Hermione memberikan Draco senyum menenangkan.

Draco tersenyum lebar kemudian memberi kode agar Hermione mendekat padanya dengan menepuk ranjang di sampingnya.

Hermione menghampiri Draco dan duduk berselonjor disampingnya, kepalanya merebah di bahu Draco dan Draco merangkul pundak Hermione, memindahkan kepalanya bersender ke dadanya, tangan Draco mengelus pundak Hermione sampai ke pangkal tangan lalu membenamkan hidungnya puncak kepala Hermione.

"Hermione"

"hemm.." tangan Hermione bergerak pelan menyelusup ke balik ketiak Draco, membenamkan lebih dalam kepalanya di dada Draco.

"Bisakah kau datang tanggal 22 siang, aku akan menjemputmu di Diagon Alley, aku ingin kau menginap di Manor sehari saja, aku mengundangmu, aku mengajakmu"

"Permintaanmu terlalu berlebihan Mr. Malfoy. Apa ibumu setuju?"

"Ibuku tidak akan keberatan, dia akan senang. Lagipula ibuku masih berstatus tahanan rumah, dia tidak mungkin pergi ke Diagon Alley untuk berbelanja. Aku memerlukan bantuanmu"

"Akan ku usahakan"

"Jawab secepatnya, Hermione..." rengek Draco.

Hermione memutar bola matanya.

"Iya..iyaa..aku akan datang tanggal 22, puas?"

"Tak kusangka jawabanmu akan secepat itu" Draco kembali tersenyum lebar, senyum lebar Draco seratus kali lebih indah daripada hanya tersenyum tipis miliknya, tapi Hermione lebih menyukai Draco ketika dia menyeringai penuh, aura misterius lebih terpancar di wajahnya—entahlah Hermione lebih menyukai hal itu.

Draco menyentuh dagu Hermione agar mengangkat kepalanya dan mencium gadis itu gemas, tersenyum gila diantara ciumannya, Hermione dapat merasakannya.

"Aku akan tidur bersamamu malam ini, disini" ucap Draco—tanpa persetujuan Hermione. Draco menarik selimut dan menepuk kembali ranjang disampingnya agar Hermione berbaring disisinya.

"Well..Mr. Malfoy, jika tanganmu dapat menjaga di tempatnya—tidak gerayangan kemana-mana, dan bersikap baik, maka aku memperbolehkannya"

"Memangnya apa yang akan kulakukan, Hermione? Aku hanya menyuruhmu tidur" elak Draco.

"Good"

Hermione masuk ke balik selimut bersama Draco.

"...atau kau ingin kita—kau tahu?" goda Draco dengan senyum nakal.

"...atau kau ingin enyah dari ranjangku?" ancam Hermione.

Dilarang atau tidakpun Draco akan tetap tidur di ranjangnya, dan Hermione percaya Draco tidak akan berbuat yang tidak tidak—walaupun jauh di lubuk hati Hermione, Hermione menginginkan hal yang erotis, tapi ditepisnya kuat-kuat—belum saatnya, batinnya—belum saatnya.

Draco segera menguburkan dirinya ke dalam selimut. Mereka terlelap dalam posisi berpelukan, dada Draco menjadi bantal bagi Hermione.