Aduuuh, maaf updatenya lamaaaaaaaaa. Ini semua gara-gara komputer abal itu!!! *nunjuk komputer yang sedang sakaratul maut*. Jadi aja ga bisa nulis Fict *nangis darah*. Sekali lagi maaf ya.
Oh ya, bales review dulu.
Ruki_ya : Makasih udah review :). Anda benar!! Selamat! (gaje saya). Ihh iya iya, Gaara emang lucu kayak bayi hiiiiiiiii *nyubit pipi Gaara*.
evey charen : Terima kasih reviewnya :). Aduh makasih banyak senpai, jadi malu hehe *digampar*. Tapi maaf senpai, jika chapter ini malah jadi lebih jelek daripada yang sebelumnya. Mohon di evaluasi, bila senpai tidak keberatan :).
Uchiha Sasurin Katsuya : Terima kasih sudah review :). Iya, mohon bantuannya senpai. Sasuke ngumpet-ngumpet? Ada deh, jawabannya masih dirahasiakan hehe. Uwooh, aku suka banget sama 'Pangeran Bulan'-nya senpai loh. Malahan kalo chap baru udah di update, aku langsung baca jadi ga pernah ketinggalan ceritanya :).
Nakamura Kumiko : Terima kasih reviewnya :). Wah wah wah, ternyata sudah tau ya. Oke oke, akan ku perbanyak lagi. Lagi suka banget sama GaaSaku :D.
Ichigo Cha-Chan : Terima kasih atas reviewnya :). Haha, memang Ino itu PEDE!!! *dibakar Ino*. Doain ya supaya kedepannya bisa cepet update :D.
Naocchi : Terima kasih udah review :). Oya? Bagus deh kalo penasaran :D. Aaah Naocchi pura-pura ga tau, padahal tau kan? Hayooooo! Ngaku aja :D.
Sessio Momo : Terima kasih reviewnya ya Momo-chan :). Aduh, ga usah gitu ah, jadi malu :"). Haha Momo-chan benar sekali, kok pada tau ya? *garuk-aruk kepala*. Oke, udah update ni. Maaf ya kalo lama.
Haruchi Nigiyama : Terima kasih sudah review :). Salam kenal juga. Eh tapi maaf ya kalau chap 2 ini bahasanya jadi ga bikin geregetan lagi. Soalnya otaknya lagi ngadat, jadi susah mikir. Sepertinya harus di service.
Oke, sekian dari Gunyuu-chan. Silahkan membaca!! :)
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Author : gunyuu
Character : Sakura H, Sasuke U, Ino Y, Gaara, Tsunade
Empty Heart
*Chapter 2*
Sakura's POV
Kurebahkan diri ke tempat tidur, mengistirahatkan tubuh yang agak lelah, setelah menjalani hari yang menurutku aneh tetapi lumayan menyenangkan juga. Bertemu dengan Ino, gadis kecil yang bisa membaca pikiran dan masa depan. Gaara, lelaki dingin namun ternyata baik. Dan si pengintai yang membuatku penasaran setengah mati. Dapat bertemu dengan mereka adalah hal yang unik, dan jarang di alami oleh seseorang.
Mataku menatap langit-langit kamar, pikiranku menerawang, berfikir akan orang yang mengintaiku pada siang tadi. Sempat ku lihat, ia memiliki mata onyx, rambutnya hitam legam yang bentuknya menyerupai ekor ayam, dan menurutku itu sedikit agak aneh. Namun sepertinya aku mengenal sosok itu, mirip sekali dengan orang yang kucintai di masa lalu. Ataukah memang dia? Tapi tidak mungkin, dia sudah meninggal beberapa belas tahun yang lalu. Dan tentu, orang yang telah tiada tidak akan hidup lagi.
Aku bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju rak buku yang berada di kamarku juga. Mataku melirik pada sudut rak buku, kemudian ku ambil album foto yang menyimpan fotoku bersama orang yang kucintai itu saat masih kecil. Lembar demi lembar kubuka, berusaha menemukan foto tersebut yang hanya ada satu-satunya. Sampai akhirnya gerakan tanganku terhenti, dan mataku terpaku menatap foto yang dimaksud.
Di foto itu, nampak diriku yang sedang tersenyum sambil memegang boneka kelinci berwarna merah jambu. Dan disampingnya terdapat seorang anak laki-laki dengan memasang wajah acuh tak acuh. Bagiku, wajah itu terlihat sangat tampan. Dan karena wajah itu pula, membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Walaupun dia telah tiada, perasaan itu tetap ada hingga kini.
Setelah puas memandangi foto yang penuh kenangan itu, ku simpan album foto tersebut kembali ke tempatnya semula. Kemudian mengganti bajuku dengan gaun tidur. Aku kembali ke tempat tidur, dan merebahkan tubuh. Dan dengan perlahan-lahan mataku pun terpejam.
*Keesokan harinya...*
Ku menjalani hari seperti biasanya, menimba ilmu di Universitas Konoha, jurusan kedokteran. Namun hari ini ada sesuatu yang beda dari hari-hari sebelumnya, aku akan berkunjung ke panti asuhan sepulang kuliah. Selain karena aku telah berjanji pada Ino untuk bermain bersama lagi, aku juga bermaksud untuk bertemu dengan Tsunade-sama. Aku ingin berkonsultasi tentang tugas skripsiku. Semoga beliau bisa membantu.
*****
Setelah kuliahku usai, aku bergegas pergi menuju panti. Untungnya langit masih terang, dan arlojiku baru menunjukkan pukul 14.15. Jadi, aku bisa berlama-lama disana. Dengan tenang ku berjalan melewati jalan setapak yang kemarin ku lalui. Tetap indah sekelilingnya. Walaupun di siang hari dengan cahaya mentari yang terik, namun sejuk udara dan suasananya seperti kemarin pagi.
Saat memasuki kawasan hutan pohon Sakura, aku mendapati seseorang sedang duduk di bangku kayu yang kemarin ku duduki juga. Aku mengerutkan dahi, sepertinya dialah yang mengintaiku. Dengan perlahan, ku berjalan ke arahnya. Kini ku tepat berada di belakangnya, dan berjarak tak lebih dari setengah meter. Dengan tiba-tiba ia menoleh ke arahku. Aku tersentak kaget saat melihat wajahnya.
"Sa-Sasuke? A-apa benar ini kau?"
"Hn."
"Bu-bukannya k-kau s-sudah meninggal?" tanyaku terbata-bata.
"Jika kau pintar, seharusnya kau tak menanyakan itu" jawabnya sinis.
"Apa maksudmu Sasuke? Aku tak mengerti."
"Itu tak perlu kujelaskan."
"Tapi aku ingin tahu kejadian yang sebenarnya darimu."
"Tak ada urusannya denganmu!"
"Tapi Sasuke..."
Tanpa basa-basi Sasuke pergi, sambil menghiraukanku. Aku hanya bisa menatapnya hingga ia menghilang dari pandangan. Kemudian ku menampar pipiku sendiri. Memastikan apakah ini hanya sebuah mimpi yang suatu saat akan terbangun dari mimpi tersebut, ataukah kenyataan yang mau tak mau harus aku terima dan menjalaninya. Rasanya sakit, berarti aku tidak sedang bermimpi.
Namun aku bingung, perasaanku tercampur aduk. Di satu sisi, aku senang telah bertemu dengan orang yang ku cintai yang ternyata dia belum meninggal. Dan di sisi lain, hatiku tak mampu menerima kenyataan bahwa ia masih hidup, entah karena apa. Aku tak dapat menyatukan kedua sisi hati yang saling bertabrakan dalam menerima kenyataan yang sedang kualami sekarang ini. Seperti ada tembok yang memisahkan, dan ku tak mampu merubuhkannya.
"Ternyata kakak sudah bertemu dengannya ya."
Suara dan ucapan itu mengagetkan dan juga membuyarkan lamunanku. Aku berbalik, tepat dibelakangku Ino sedang berdiri dengan menggendong seekor kelinci. Lalu ia berkata sembari tersenyum.
"Kakak datangnya lama, jadi Ino menyusul kakak kesini."
"Maaf ya Ino. Tadi kakak ada masalah sedikit."
"Tak apa, Ino mengerti kak."
"Oh ya, tadi perkataan Ino tentang 'kakak sudah bertemu dengan orang itu' maksudnya apa? Kakak tidak mengerti."
"Kalau soal itu, nanti Ino akan jelaskan. Tapi sebelumnya kakak harus bermain dengan Ino, mau kan kak?"
"Tentu saja, kakak kan sudah janji kemarin akan bermain lagi dengan Ino. Sekarang mau main dimana?"
"Kita main di panti saja kak, soalnya kalo di tempat yang kemarin nanti kelincinya bisa kabur. Kalau di panti kan ada kandangnya, jadi Ino dan teman-teman bisa memelihara kelinci ini."
"Hmm, baiklah. Ya sudah kita ke panti sekarang."
Aku dan Ino pun pergi menuju panti. Sesampainya di sana, aku langsung disambut oleh anak-anak penghuni panti asuhan yang sedang bermain di halaman panti. Ino langsung berlari riang dengan tetap menggendong kelincinya ke kerumunan anak-anak tersebut.
"Teman-teman aku menemukan seekor kelinci loh! Lihat! Lucu kan?" ucap Ino kepada teman-temannya seraya memperlihatkan kelinci yang ia bawa.
"Waaah, lucunya! Aku ingin mengelusnya, bolehkah Ino?" ujar seorang anak lelaki yang berambut pirang.
"Tentu saja boleh, kita akan merawatnya bersama-sama."
"Asyik!" teriak anak-anak secara bersamaan.
Tanpa basa-basi, anak-anak langsung mendekati kelinci tersebut. Mengelus, menggendong dan memberinya makan. Nampak wajah mereka begitu gembira. Tersenyum dan tertawa riang.
Aku terdiam, begitu tersentuh dengan peristiwa tadi. Peristiwa yang mengingatkanku akan masa lalu, dimana aku masih tinggal di panti asuhan. Rasanya ingin kembali, bermain bersama teman-teman, bercanda tawa bersama mereka. Menangis bersama saat aku akan dipisahkan dari mereka. Namun aku juga tak menyesal telah diadopsi oleh ayah dan ibuku yang sekarang. Karena mereka telah melimpahkan kasih sayangnya kepadaku, padahal aku bukan anak kandungnya.
"Selamat siang Sakura-san." sapa Tsunade-sama dan menepuk pundakku pelan.
"Selamat siang juga Tsunade-sama." balasku sambil membungkukkan badan.
"Terima kasih telah berkunjung kemari. Pasti Ino yang mengajak Sakura-san kesini, maaf telah merepotkan."
"Tak apa Tsunade-sama. Lagipula saya senang bisa melihat anak-anak yang begitu lucu dan lugu ini. Err maaf, bisakah Tsunade-sama membantu saya?"
"Dengan senang hati, perlu bantuan apa?"
"Begini, saya ada tugas skripsi dan saya ingin berkonsultasi kepada Tsunade-sama tentang beberapa hal. Bisakah?"
"Tentu saja, kalau begitu kita bicarakan didalam saja. Silahkan masuk!"
"Terima kasih."
Kemudian kami pun berbincang-bincang tentang tugas skripsi yang akan ku kerjakan. Tsunade-sama memberikan banyak saran, dan menjelaskan bagian yang tak kumengerti. Tidak salah ku meminta bantuan kepadanya.
"Terima kasih banyak Tsunade-sama. Saya tak tahu harus membalas dengan apa."
"Tak usah sungkan Sakura-san, saya senang bisa membantu."
Aku hanya tersenyum, lalu terdiam. Entah mengapa, tiba-tiba aku jadi teringat dengan Sasuke. Pikiranku di penuhi dengan pertanyaan tentangnya. Salah satunya, kenapa ia bisa berada disini? Apa sebaiknya aku bertanya kepada Tsunade-sama? Mungkin ia tahu sesuatu.
"Maaf Tsunade-sama, saya ingin bertanya lagi."
"Ya, silahkan saja."
"Apakah di daerah sini terdapat pemukiman atau rumah yang ditempati oleh seseorang, selain panti asuhan ini dan rumah tuan Sabaku?"
"Hmmmh, setahu saya tidak ada. Karena tempat ini terpencil sekali dan sangat dirahasiakan oleh tuan Sabaku."
"Dirahasiakan?"
"Beliau tidak ingin daerah ini terusik. Ingin tempat ini tetap indah dan damai tanpa ada gangguan dari dunia luar. Jadi tak ada yang tahu daerah ini kecuali pemerintah dan tuan Sabaku."
"Oh begitu rupanya."
"Iya, dan saya mohon agar Sakura-san tidak memberitahu pada orang lain tentang tempat ini."
"Baik, saya takkan memberitahu pada siapapun."
"Memang ada apa Sakura-san menanyakan itu?"
"Tidak apa-apa Tsunade-sama, saya hanya ingin tahu saja." jawabku sambil tersenyum.
Tsunade-sama hanya mengangguk.
Aku berpikir kembali. Bagaimana Sasuke bisa ada disini? Jika tempat daerah ini dirahasiakan, semestinya ia tak berada disini. Aku harus bertemu lagi dengannya. Ataukah bertanya pada Ino? Tapi... Ah entahlah, aku sangat bingung!
Pokoknya aku harus bertemu lagi dengannya, apapun caranya akan aku tempuh. Pertemuan singkat saat di hutan tadi, tak cukup untuk menghilangkan rasa rindu kepadanya yang kusimpan selama berbelas-belas tahun.
"Kak Sakura, ayo kita main."
"Iya Ino. Maaf Tsunade-sama, saya keluar dulu."
"Silahkan, selamat bersenang-senang."
Aku dan Ino keluar dari panti. Awalnya kukira Ino akan membawaku ke kerumunan anak-anak yang sedang bermain tadi, tapi ternyata tidak. Ia malah membawaku ke suatu tempat yang mungkin itu adalah halaman belakang panti asuhan. Tempatnya lumayan indah, terdapat pohon Beringin yang agak besar dan rindang, bunga-bunga yang berwarna-warni walaupun tak sebanyak seperti di padang bunga kemarin, dan tanahnya dipenuhi rerumputan hijau. Ino berjalan mendahuluiku, kemudian ia duduk di bawah pohon Beringin tersebut. Aku pun mengikutinya.
"Sebenarnya Ino tidak bermaksud mengajak kakak bermain. Ino akan menjelaskan sesuatu kepada kakak."
"Menjelaskan apa, Ino?"
"Ini tentang kak Sasuke."
Aku tersentak ketika mendengar nama Sasuke.
"Sasuke? Apa Ino mengenalnya?"
"Iya, Ino mengenalnya. Kak Sasuke dulunya penghuni panti asuhan disini juga. Dia suka mengajak Ino bermain ke hutan dan padang bunga, dan kak Sasuke lah yang menemukan tempat itu untuk pertama kalinya. Tapi 2 tahun lalu, ia memutuskan untuk pergi dari panti asuhan ini. Katanya ia tidak ingin merepotkan Tsunade-sama dan tuan Sabaku."
"Lalu apa Ino tahu tentang peristiwa pembantaian keluarganya?"
"Tentu saja, walaupun Ino tahu hal itu dari kak Gaara dan bukan dari kak Sasuke."
"Lalu mengapa Sasuke masih hidup? Bukannya ia juga telah meninggal saat peristiwa itu?"
"Memang dikabarkan seluruh anggota keluarga Uchiha selain Itachi Uchiha meninggal karena dibunuh. Tapi yang meninggal itu hanya orangtua kak Sasuke, sedangkan kak Sasuke berhasil lolos. Ternyata pembunuhan tersebut telah direncanakan oleh Itachi. Ia menyewa pembunuh bayaran dan menyuap polisi agar tidak menyelidiki kasus itu. Itachi tak menyadari jika kak Sasuke masih hidup. Kemudian kak Gaara bertemu dengannya, lalu membawanya kesini."
Aku hanya diam membisu tanpa keluar sepatah kata dari mulutku. Memang jasad yang ditemukan hanya almarhum paman Fugaku dan bibi Mikoto, sedangkan Sasuke tidak ditemukan. Jika aku mengetahui hal itu, semestinya aku tahu bahwa Sasuke masih hidup. Sekarang aku mengerti.
"Kak Sakura..." ujar Ino sambil melambaikan tangannya yang mungil di depan mukaku.
"Oh ya, aduh maaf ya Ino daritadi kakak melamun terus."
"Hahaha, tidak apa kok kak."
"Ino, kakak ingin menanyakan satu pertanyaan lagi. Kenapa kemarin Sasuke mengintai kakak?"
"Maaf kak, kalau pertanyaan itu Ino tak bisa menjawabnya. Sebaiknya kakak langsung tanyakan saja pada kak Sasuke."
"Hmmh baiklah, tapi apa kakak akan bertemu lagi dengannya?"
"Tentu saja, malahan bisa bertemu tiap hari. Soalnya kak Sasuke akan menginap di panti selama 1 minggu."
"Oh begitu ya, baiklah kakak akan berkunjung ke panti setiap hari. Agar dapat bertemu dengan Sasuke dan juga bisa main sama Ino."
"Iya kak."
Kemudian ku merasa jantungku berdebar-debar secara tiba-tiba, ini aneh sekali. Padahal aku tidak merasa kelelahan, dan juga tidak mengidap penyakit apapun. Lalu apa ini pertanda sesuatu? Sepertinya iya, semoga saja bukan pertanda buruk.
Dan kemudian dari balik pohon Beringin, muncul 2 orang lelaki. Yaitu Gaara dan...
"Sasuke? Aku tak menyangka kita bertemu lagi." ujarku sambil menyunggingkan senyuman termanisku. Namun Sasuke hanya membalasnya dengan tatapan dingin.
"Kau mengenal Sasuke rupanya."
"Iya, dulu orangtua kami adalah rekan kerja."
Gaara hanya mengangguk dan tidak bertanya atau berkomentar lagi. Setelah itu kami diam, tak ada seorang yang memulai pembicaraan. Aku pun bingung, tak tahu harus bicara apa. Begitu juga dengan Ino, terlihat dari raut wajahnya yang sedang berfikir. Sasuke dan Gaara tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Oh Tuhan, beginikah rasanya berhadapan dengan 2 lelaki yang bersifat dingin?
Dan akhirnya Ino mengatakan sesuatu,
"Kakak-kakak semua Ino pergi dulu ya, sepertinya teman-teman sedang menunggu Ino di halaman depan."
"Hn." jawab Sasuke dan Gaara secara bersamaan. Aku tak menyangka jika mereka begitu kompak.
"Iya, hati-hati ya Ino."
"Baik kak Sakura. Ino pergi dulu, dadah."
Kemudian Ino berlari, sampai ia menghilang dari pandangan. Setelah Ino pergi, tinggal aku, Sasuke dan Gaara disini. Dan kini, ku semakin bingung saja. Bagaimana aku harus menghadapi kedua lelaki yang hanya berdiam diri tanpa mengatakan sepatah kata? Dan bagaimana caranya memperlambat detak jantungku yang sekarang sedang berdetak sangat cepat? Ya Tuhan, tolong aku! Rasanya seperti akan pingsan saja.
Bagaimana tidak, berada diantara lelaki yang tampan dan lucu ini bisa membuatku jadi gila. Tak normal jika tidak merasakan apapun saat berada bersama mereka. Ugh, apa yang harus aku lakukan? Kemudian aku merubah posisi dari keadaan duduk menjadi berdiri. Lalu membersihkan gaun yang kupakai dari dedaunan kering dan jerami yang menempel. Tiba-tiba Gaara menyodorkan selembar sapu tangan padaku.
"Pakai ini, nanti tanganmu kotor."
"Te-terima kasih, Gaara."
Aku mengambilnya, lalu membersihkan gaunku dengan menggunakan sapu tangan itu. Ku rasakan wajahku memerah. Perlakuan Gaara tadi terhadapku, sangat berhasil membuatku salah tingkah.
"M-maaf telah merepotkanmu. Sapu tangan ini akan ku kembalikan besok setelah ku mencucinya."
"Tak perlu, itu untukmu saja."
"Tapi Gaara..."
"Sudahlah, anggap saja sebagai hadiah."
"Emm, baiklah. Terima kasih Gaara."
"Sama-sama."
Apa ini mimpi? Oh tidaaak! Hampir saja aku pingsan tadi. Andai saja yang memberikan sapu tangan kepadaku adalah Sasuke, pasti aku sudah terkapar di tanah sekarang. Namun tak apa, diberi oleh Gaara juga aku sudah merasa beruntung. Walaupun ia memberikannya masih dengan wajah tanpa ekspersi.
Tapi tunggu, tadi Sasuke melihatku dan Gaara dengan tatapan tidak suka. Maksudnya apa? Apakah dia cemburu? Ataukah menganggap peristiwa tadi menjijikkan. Dan aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa Sasuke? Mengapa tatapanmu seperti itu? Apa ada yang salah."
"Tidak." jawabnya singkat.
Ia lalu pergi meninggalkanku dan juga Gaara. Aku menunduk lemas, sedikit kecewa dengan jawabannya. Begitu singkat, dan dingin. Sama sekali tidak sesuai harapan yang ku inginkan. Tapi aku tidak patah semangat. Aku akan berusaha membuatnya senang dan bahagia. Walaupun perasaanku ini tidak berbalas, setidaknya aku bisa melihatnya tersenyum itu sudah cukup...
*To be Continue*
Review pleaseeeeeeeee?
