1:50 AM. July 28, 2018
Kuroko no Kindergarten
Epilogue 2.
KRIIING! CTAK!
"Kali ini kau telat, Weker san!", kataku dengan semangat. Jam sudah menunjukan pukul 5 pagi hari, maksudku jam 5 tepat, dan aku sudah bersiap dengan seragam kerjaku. Pakai dasi hitam, blazer dan rok span selutut.
Tunggu dulu! Aku bukan keterima kerja di kantor.. tapi di sebuah TK! Bodohnya aku, segera saja aku mengganti baju formalku dengan hoodie pink tipis dan juga celana bahan yang membuatku kelihatan tidak menarik. Make up yang sudah stay in di wajahku pun ku delete dan hanya kutaburkan bedak bayi saja disana. Kali ini baru OK!
Di TK mah.. Penampilan tidak usah terlalu Over, karena tidak akan ada cowok tampan yang yang akan memandangiku ataupun bos besar yang akan mengkritik penampilanku! Maka penampilan Easy going lah yang kuperlukan, simple tapi tetap sopan.
Jam 5 dan hari masih gelap, tapi menurutku jam segini memang waktu yang tepat untuk segera berangkat. Menurut researchku setelah mencari di internet dan berhipotesis, keluarga-keluarga sibuk mulai menitipkan anak-anaknya sedini mungkin ke tempat penitipan anak. Yah, meskipun aku bekerja di TK bukan di tempat penitipan anak..
Dan lagi TK tempatku bekerja jaraknya agak jauh dari apartemenku, jadi aku butuh waktu sejam untuk sampai kesana dengan kereta. Aku jadi semakin penasaran kenapa ia rela-rela naik kereta dan membawaku ke TKnya?
Tapi itu segera cepat kulupakan begitu sadar stasiun pemberhentianku sudah dekat. Aku turun dari kereta dengan langkah cepat seakan-akan aku telah terlambat, sementara jam di tanganku masih menunjukkan pukul 6. 15 pagi. Karena terlalu terburu-buru, tanpa sadar aku pun menambrak punggung seseorang. Ia mengenakan hoodie berwarna gelap yang kebetulan semerek dengan hoodie yang tengah kukenakan saat ini. Tubuhnya berbalik, melihatku.
"Ah, maaf nona..", katanya sambil membungkuk. Aku terkesiap dengan suaranya(lagi-lagi) sindrom delusionalku bangkit. Sekejap kurasa aku mendengar suara dari seiyuu favoriteku ada pada tenggorokannya. Kalau begitu kurasa ia keren sekali.
"Tidak apa-apa.. Kalau begitu aku permisi", kataku terburu-buru. Sayangnya waktu tidak mengijinkanku untuk mendengar suara 'emas' itu berlama-lama di telingaku. Aku harus pergi sebelum aku kehilangan hari pertamaku yang berharga.
.
.
.
"[Y/N] san.. Kamu datang terlalu cepat..", sapa Kagami tanpa mengucapkan 'Ohayou' kepadaku. Entahlah apa pria ini termasuk Romantic Categories atau bukan.
"Ohayou, Kagami san", sapaku. Berikutnya aku melihat tumpukkan kertas yang tengah ia pegang. Bolpoin warna warni bertebaran, begitupula dengan stabilo, krayon, dan pensil warna yang ukuran sudah berbeda-beda di atas mejanya. Aku pun berjalan kearah mejanya, membereskan semua kekacauan itu kembali ke tempatnya.
"Ah, Arigatou", kata Kagami yang menyadari aktivitasku di mejanya, ia kembali fokus pada tumpukan kertas yang dipegangnya.
"Kertas apa itu, Kagami san? Banyak sekali..", tanyaku mencoba basa-basi sedikit, pagi-pagi di kantor begini.. nggak enak kalau suasananya juga ikutan mendingin, kan?
Kulihat dari dekat kalau ia membaca tumpukan kertas tersebut sambil tersenyum, ini yang kedua kalinya aku melihat senyuman muncul di wajahnya, "Kertas Komplain..", katanya.
"Ko-Komplain?! Para orang tua siswa?", ucapku 'sedikit' keras, sebelum akhirnya aku mengatur nada bicaraku di akhir.
"Tenang saja, aku yang memang menugaskan para orang tua untuk menulisnya dan mengumpulkan kepadaku sebulan sekali untuk perkembangan anak-anaknya dirumah", katanya, ia berkata sambil terus membaca surat-surat komplain 'Yang ia bilang' dengan senyuman.
Lagi-lagi aku seperti membuka sebuah buku romansa picisan lembar demi lembar, dan seperti itulah Kagami bagiku. Lagi-lagi aku menemukan sisi baru, "Hee.. Sugoi ne..", ucapku sambil menatapnya.
Ia terkesiap, pandangannya beralih padaku, "Sugoi?", tanyanya.
Aku tersenyum sebagai jawaban pertama, "Melihat kertas komplain orang tua siswa sambil senyum-senyum begitu", lanjutku. Kagami san nampak balas membalasku dengan senyuman, astaga lagi-lagi aku harus bertanya.. 'Apa aku sedang berada di manga Shoujo?'
Kagami bangkit berdiri dari bangkunya, sambil membawa tumpukan kertas komplain orang tua itu ditangannya. Ia lalu menaruhnya kembali di lemari kayu di laci nomor 3 dari atas.
Benar, dengan tinggi yang spectacular seperti itu.. Memiliki lemari sebesar itu bukanlah masalah pelik untuknya sampai harus membutuhkan tangga untuk menggapainya. Hanya saja aku yang jadi masalahnya. Lemari itu tinggi sekali, sampai aku bisa mengerti apa yang Eren Yaeger rasakan kala ia menatap tembok yang sudah menertawakannya karena belum bisa menggapainya sebelum ia berusia 15 tahun.
"Oh, iya. [Y/N] san, ada pengajar lagi di TK ini. Tapi dia menjadikan TK ini sebagai pekerjaan sampingannya, jadi dia akan sedikit terlambat. Nggak lebih dari sekedar staff cadangan sih, mungkin ngga penting kali, ya", katanya sambil tertawa garing.
Aku menggeryitkan alis, sedikit tidak mengerti dengan gaya humornya, 'Apa yang dia katakan sih..?', batinku, lalu tanggapi guyonannya dengan sebuah senyuman hambar.
Ketika ia sudah kembali ke tempat duduknya, aku tiba-tiba saja terpikirkan sesuatu yang sangat krusial, "Kagami san.. Kenapa kau mau menerimaku bekerja disini?", tanyaku setelah sekian lama pembicaraan ini berlangsung. Tidak lama juga kalau kuhitung-hitung lagi sebenarnya..
Kagami balik menatapku, ia mendengarkan pembicaraanku sepenuhnya. Tangan kanannya ia jadikan tumpuan kepalanya.
"Secara.. Kemarin(meskipun aku masih belum ingat) pasti First Impressionku kacau sekali, bukan? Tapi kenapa anda menerimaku bekerja disini? Aku hanya orang dewasa kacau yang malah menunjukkan sisi buruk seorang manusia di depan anak-anak..", lanjutku.
"Itu tidak benar.. Kamu ngga lihat tumpukan boneka yang kemarin ada di sampingmu tidur?", tanyanya. Tumpukan boneka itu.. aku memang merasa itu berasal dari anak-anak, tapi gunting?
"Sejak saat itulah aku memutuskan [Y/N] san memenuhi kualifikasi untuk bekerja disini..", lanjutnya.
"Tapi ketika aku terbangun.. aku memegang sebuah gunting.. tajam. Kenapa ada benda seperti itu di sekolah ini?", tanyaku. Maksudku gunting tajam bukannya memang hal yang terlarang ada di dalam sebuah sekolah TK seperti ini? Paling yang dapat kutolerir itu gunting tumpul, tapi ini gunting kain yang ukurannya besar.
"Mungkin itu Akashi..", ucapnya singkat.
'Apa dia baru saja memanggil nama tanpa honorifiknya?', batinku, sedikit demi sedikit aku mulai merasa kalau Kagami san ini sulit untuk kutebak.
"Siswa TK disini, anaknya memang 'agak' jadi biarkan saja dia bertindak sesukanya", katanya, dan entah kenapa aku merasa kalau Kagami san menyimpan 'sedikit' kebencian ketika ia 'padahal' hanya menyebutkan namanya.
Dan lagi aku harus tertawa karena humour anekdot yang bahkan tidak lucu, 'Sesukanya?! Astaga..', seberapa Careless nya kah kepala sekolah TK ini? Dan seberapa nakalkah seorang anak yang bernama Akashi ini sampai-sampai Kagami yang baik hati ini sampai tidak perduli?
'Tapi kenapa jadi merembet ke Akashi? Bukan itu yang ingin kuketahui!',
'Walaupun itu juga informasi penting..',
'Ck, lagi-lagi aku terlalu enggan untuk bertanya', batinku mengutuk lidah kelu yang akan menjadi kutukan untukku kedepannya kelak. Aku jamin itu. Sekarang situasinya semakin sulit untukku bertanya.
'Tapi sudahlah!', akan kudapatkan jawabannya dari anak-anak polos itu.
Aku kembali ke set ku, bukan maksudku kembali ke mejaku. Merapikan tumpukan kertas-kertas origami yang terlipat diatas meja, entahlah siapa saja yang melipatnya, "Ngomong-ngomong.. siapa nama pengajar itu?", tanyaku pada Kagami.
.
Tiba-tiba saja, sinar matahari nampak di ruangan kantor guru yang gelap ini. Aku baru sadar kalau ternyata sudah ada seseorang disini yang dengan sengaja menyibak tirai hijau usang yang sudah lama tertutup semenjak aku datang.
Kulihat seorang pemuda, lagi-lagi intrupsi dariku. Maksudku seorang pria yang sebenarnya tadi pagi sempat bertemu muka denganku di stasiun tadi pagi, "Kazunari Takao-desu~!", sapanya sambil melihat kearah kami, seolah-olah ia mengganti kata 'Ohayou Gozaimassu' menjadi namanya sendiri.
Aku terkejut seketika begitu kembali mendengar suara seiyuu yang kukagumi ternyata ada di tenggorokan orang ini, 'Orang yang suaranya mirip Suz*ki Ta*suh*s*!', fangirlingku dalam hati.
Sebagai seorang otaku anime, kadang selera fangirling ku memang aneh. Biasanya wanita akan fangirling dengan seorang idol, lah aku? Dengan seorang seiyuu. Tapi masa bodoh, toh mereka sama-sama manusia.
"Oh, Takao. Tumben jam segini sudah datang", sambut Kagami kepadanya.
"Hidoi na, Kagami.. Aku juga bisa rajin loh!", ujarnya, ia kemudian berjalan kearahku, lalu menaruh tas selempangannya disebelahku.
"Kursi ku disini, loh", katanya dengan nada pelan dan astaga.. He is make me melting with his voice! What a cruel temptation!
"Siapa dia Kagami?", kali ini dia menoleh kearah Kagami yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya, seakan-akan siap menyerang Takao kapan saja. Etoo.. maksudku bukan dalam artian Yaoi.
"Pengajar baru, [Y/N] san", ujar Kagami memperkenalkanku.
"Perkenalkan aku guru baru, [Y/N], yoroshiku onegai shimassu..", ucapku sambil membungkuk dihadapannya.
Takao tampak tersenyum tipis kearahku, kepalanya lalu mendekat kearahku. Berbisik ke dekat telinga kiriku,
"Yoroshiku..",
Lagi-lagi kegalauan menimpaku dengan suara seiyuu favorite yang menjadi partner kerjaku. Bisa-bisa aku tidak fokus kerja!
.
.
.
... Continue
.
.
