HOPELESS

| winner fanfiction | minyoon or songkang | mino/seungyoon |

| WINNER © YG ENTERTAINMENT |

| HOPELESS © dumb-baby-lion |

| rated T | boys love |

| twoshoot |


don't like don't read

any same idea, it's just acidentally same

and remember, it's just a FICTION

warning. out of character and typos are a big part of my writing world


(2a/2) how dare you did all of this to me?


KLIK!

Seungyoon membuka mata perlahan sambil menyipitkannya untuk menyesuaikan diri dengan silaunya cahaya lampu yang menerpanya.

Ini dimana?

Kasur empuk nan lembut dengan selimut putih bersih berada di sekelilingnya dan bau citrus yang menguar disekitarnya.

Rasanya familiar.

Seungyoon mengerjapkan mata beberapa kali sebelum pada akhirnya membuka matanya secara sempurna.

Seungyoon bergumam perlahan tanda sadar.

Ini kamarnya.

Bagaimana bisa ia sampai sini?

Seungyoon memalingkan wajah ke sisi kanan kasurnya dan mendapati Jiwon yang sedang sibuk berkutat dengan gadget-nya berdiri di ambang pintu.

"Ji?" serak Seungyoon pelan.

Kepalanya terasa berputar saat ini. Efek dari hangover yang sungguh menyakitkan kepala.

"Ah, hyung. Kau sudah bangun?" tanya Jiwon canggung.

Seungyoon tertawa datar lalu memasang wajah tanda tanda jengah dengan kebodohan Jiwon.

"Menurutmu? Dasar kelinci bodoh! Lihatlah mataku yang sudah terbuka ini sebelum menanyakan pertanyaan yang berbobot, Kim." tukas Seungyoon sakratis walau pusing kepala hebat menderanya.

Sial.

Kapan pusing hangover begini bisa cepat menghilang?

Seungyoon segera memejamkan matanya menahan sakit, ditengah Jiwon yang malah mengomel soal betapa tidak berterima kasihnya Kang Seungyoon.

"Seharusnya hyung tahu kalau kau ini membuat Hanbinnie panik padahal kami sedang punya tamu spesial!"

Tamu spesial?

Seungyoon menggumam samar, mendadak kepalanya yang pusing berjengit sesaat ketika sebuah memori melompat di otaknya.

Di depan kamar Hanbin dan Jiwon.

Mata rusa.

Ia kenal mata itu.

Seungyoon membuka matanya, melirik Jiwon dengan tatapan datar lalu menghela nafas perlahan.

"Maksudmu Kim Jinwoo?"

Dan Seungyoon tidak bodoh untuk menyadari bahwa kini keheningan awkward meliputi mereka berdua.

Termasuk tatapan gugup Jiwon kepadanya yang menjelaskan semuanya.

.

.

.

Sudah seminggu sejak Seungyoon mengetahui kabar pernikahan Mino.

Namun keadaanya kini terlihat baik-baik saja seperti pria normal lainnya, bukannya seperti pria patah hati ditinggal menikah kekasihnya.

Ditengah ketenangannya, Seungyoon menggumam samar mengikuti alunan gitar akustik Sungha Jung sambil sibuk menggarap desain rumah untuk seorang klien dari Busan.

Bolos seminggu memang membuat kacau segala urusannya. Ditambah lagi pekerjaan yang menggunung setinggi Gunung Everest.

KRIET!

Mendengar suara pintu terbuka, Seungyoon mengadahkan kepala dan melihat Yunhyeong berjalan menuju kearahnya dengan satu cup Starbucks di tangannya.

Dan wajah cerah nan ceria khasnya tentunya.

"Hei Seung hyung! Kemana saja kau seminggu kemarin? Kenapa menghilang tanpa mengabariku?! Apa kau pulang ke Busan?" seru Yunhyeong dengan keceriaan yang berlebihan sambil menghempaskan diri di sofa. Tak lupa juga ditengah kehebohannya itu ia juga mempoutkan pipinya kesal.

Aneh, inner Seungyoon bergumam.

Yunhyeong terlihat terlalu ceria.

Dipandanginya Yunhyeong yang kini meminum Frapé favoritnya sambil menunggu jawaban Seungyoon dan masih saja tersenyum lebar.

Seungyoon menyipitkan mata curiga. Digunakannya drawing pen ditangannya untuk menunjuk wajah rupawan Yunhyeong yang ada di hadapannya.

"Kenapa kau seceria ini? Apa pacarmu itu baru saja melamarmu?" tuding Seungyoon.

Yunhyeong memerah samar lalu mengerucutkan bibirnya kesal akan tudingan Seungyoon, "Junhoe bukan pacarku."

"Aw, aku tidak menyinggung Junhoe sama sekali dan mengapa kau menyebut namanya?" goda Seungyoon yang kini menyeringai bak setan licik.

Yunhyeong makin memerah, ia memasang ekspresi cemberut yang lucu dan menjejakkan kakinya kesal sebagai simbol ngambek.

"Aish! Kau ini kenapa sih hyung? Junhoe itu cuma temanku!" gumam Yunhyeong.

"Teman macam apa yang bertindak seperti bodyguard kesetanan bila ada yang mendekatimu?" Seungyoon masih menyeringai, teringat bagaimana Junhoe terus menerus melotot pada Hongseok ketika pemuda itu memberi kode-kode mengajak dinner pada Yunhyeong.

Wajah Yunhyeong memerah pekat lalu mendenggung samar mengikuti musik Sungha Jung agar tak mendengar perkataan lanjutan Seungyoon.

"Lebih baik kau jawab pertanyaanku daripada mengurusi Junhoe."

Seketika Yunhyeong membelokkan pembicaraan dengan mulusnya, lalu mengulum senyum lebar dengan wajahnya yang masih memerah (dan sekali lagi, senyuman itu kelewat lebar, entah malaikat macam apa yang kini merasuki dongsaeng imutnya itu) melihat Seungyoon yang membalasnya dengan lirikan datar.

Uh, Seungyoon saja ogah menjawab, makannya ia mengalihkan topik yang sayangnya gagal.

"Jadi?" Yunhyeong menagih jawaban.

"Sudah sana pergi. Aku sibuk." gumam Seungyoon menolak menceritakan apa yang terjadi.

Teringat akan apa yang terjadi padanya seminggu ini sungguh membuat moodnya drop hingga titik terendah.

Wedding Invitation Mino-Jinwoo.

Soju.

Bolos seminggu akibat depresi sesaat.

Seungyoon menghela nafas kasar ketika kini Yunhyeong menyipitkan mata sebagai simbol ketidak percayaan atas perkataan Seungyoon.

"Beritahu aku, hyung. Aku tak paham kenapa kau jadi begini."

Huh.

Sepercik rasa sinis muncul di hati Seungyoon yang entah mengapa ingin tertawa mendengar perkataan Yunhyeong yang kini bernada serius.

Apa Hanbin belum bercerita padanya?

Tawa hambar Seungyoon kini keluar, disusul decakan datar yang merubah ekspresi datar nan polosnya menjadi sakratis nan sinis.

"Seingatku kau ini sepupu Song fucking itu, Yun. Dan kenapa kau tidak memberitahu rekan kerjamu yang baik hati ini soal pernikahannya dengan Kim Jinwoo?"

Song Minho. Song Yunhyeong.

Sepupu yang teramat berbeda bila dilihat dari sisi manapun.

Kini Yunhyeong sendiri membeku, ia menelan ludah kasar ketika melihat Seungyoon sedang menerawang entah kemana dengan pandangan kosong yang sarat akan kekecewaan. Tak lupa juga dengan senyuman yang jauh dari kata tulus menghiasi wajahnya.

"Dan kau membiarkanku tahu dengan sendirinya melalui cara yang menyakitkan?" lirih Seungyoon dengan nada suara yang menyakitkan.

Yunhyeong diam membisu tak menjawab apapun.

Ditengah keheningan ganjil di kantor Seungyoon itu, Yunhyeong lalu menggigit bibirnya sejenak sebelum menggumam lirih.

"Maafkan aku. Sungguh, hyung. Aku tidak mau kau terluka."

Terluka? Lagi-lagi Seungyoon ingin tertawa mengejek mendengar perkataan Yunhyeong yang terasa sarat akan kebohongan.

"Aku sudah terluka sejak dulu, Yun. Semua ini hanyalah garam yang menaburi luka menganga itu agar kembali muncul rasa sakit yang teramat sangat."

.

.

.

"Hyung, boleh aku minta cuti? Aku ingin pulang ke Busan."

Daesung mengangkat alis sejenak mendengar perkataan Seungyoon. Tangannya yang memegang mug berisi kopi berhenti sebelum kepalanya memandang Seungyoon yang bersandar pada kulkas dapur kantor.

"Cuti? Apa yang terjadi denganmu?" tanya Daesung sambil mendekatkan mug itu ke bibirnya dan menyesapnya perlahan.

Seungyoon mendecak pelan, teramat pelan namun Daesung dengar itu. Kakinya yang sedari tadi mengetuk wooden floor dibawahnya pun mengetuk makin cepat.

PLOP!

Seungyoon menarik lollipop jeruk yang sedari tadi ia kulum, membuat Daesung tersenyum dalam diam teringat akan personality aneh bawahan kesayangannya itu. Setengah berjiwa childish namun juga setengah berjiwa dewasa.

"Kau rindu akan eommamu?"

Seungyoon menggeleng perlahan ketika Daesung bertanya dengan nada pengertian, namun matanya terus memandangi lollipop jeruknya sebelum mengerjap beberapa kali.

Teringat eommanya di Busan sana sendirian tanpa ada yang menemani membuat secercah rindu membuncah di dadanya.

"Aku memang rindu dengan eommaku. Tetapi kepulanganku ke Busan bukan karena itu." kata Seungyoon tenang, mengabaikan perasaan rindu akan eommanya yang sedang meliputinya.

Seketika Daesung mengangkat alis mendengar ketenangan Seungyoon dalam menjawab.

Lalu kenapa?

Seolah paham kebingungan Daesung, Seungyoon tersenyum miring dan menjawab dengan cepat.

"Tanyakan saja pada undangan pernikahan Mino. Itu akan menjawab segalanya."

Daesung mengerjap tak paham.

Mino? Siapa lagi itu?

"Ah, aku pergi dulu ya hyung! Terima kasih atas izin cutinya." seru Seungyoon ceria tanpa hormat pada atasannya dan kabur dari dapur kantor sambil berlarian layaknya anak-anak.

"Y-Yaa! KANG SEUNGYOON! Memangnya aku... aish sudahlah."

Daesung berteriak kesal melihatnya, namun pada akhirnya ia tidak dapat berbuat apa apa, melihat Seungyoon yang sudah keluar dari dapur sambil melompat-lompat seperti kelinci.

"Che, memangnya dia itu Jiwon?" gumam Daesung sambil tersenyum kecil, merujuk pada pemuda bergigi 'spesial' yang pernah Seungyoon kenalkan padanya.

.

.

.

"Hanbeen!" seru Seungyoon sambil membuka lemari dan mengacak-acaknya mencari kaus yang pantas untuknya. Setelah ini Seungyoon sudah bertekad bahwa ia akan mengajak Hanbin memasak ramyeon dan mengobrol hingga larut malam di sini alias apartemen Jiwon.

Apartemen Jiwon?

Yup.

Sepulang dari kerja tadi, Seungyoon segera mengepak barang sebagai persiapan perginya ia ke Busan. Dan selesai mengepak barang, Seungyoon memilih untuk mengadakan sleepover bersama Hanbin, abaikan picingan mata kesal Jiwon yang sebal dengan gangguan Seungyoon akan malam hotnya, sebelum kepergiannya besok ke Busan.

Bila ditanya mengapa ia ingin menginap dengan Hanbin, Seungyoon akan menjawab ia kesepian.

Teramat kesepian sejak Mino men-

Tidak. Tidak.

Tidak boleh ada pikiran soal Song fucking Minho lagi. Tak peduli seberapa besar rasa cinta Seungyoon pada Mino saat ini.

Seungyoon mendesah lelah, lalu menarik sebuah kaus bergambar mickey mouse milik Hanbin dan memakaikan kaus itu ke tubuh kurusnya.

"Dimana, sih, dua bocah itu?" gerutu Seungyoon jengah sambil melangkahkan kaki keluar dari kamar Jiwon dan Hanbin yang didominasi warna merah dan hitam. Sejak tadi ia mandi dua anak manusia itu menghilang entah kemana.

"Uh.."

Dengusan khas Kim Hanbin tiba-tiba terdengar dan itu membuat Seungyoon menyeringai bak anjing kelaparan yang melihat daging. Segera saja Seungyoon mempercepat jalannya menuju ruang tamu, asal suara Hanbin tersebut.

"Bin! Ayo kit-"

DEG!

Seungyoon berhenti berucap. Matanya membulat kaget melihat siapa yang berada di ruang tamu ini selain Kim Hanbin.

"S-seungyoon?" Orang itu berucap dengan nada kaget sekaligus kagum, yang mana membuat Seungyoon mendecih pelan mendengarnya, juga senyuman manis nan canggungnya yang ditujukan pada Seungyoon.

"Ah, lama tidak bertemu, Yoon." sapanya lembut, dengan nada halus dan menyenangkan.

Yoon.

Kuping Seungyoon mendadak panas mendengarnya. Kesal mendengar panggilan itu keluar dari bibir salah satu pemuda yang kini sedang ia benci hingga ubun-ubunnya.

"Aku tidak jadi menginap." kata Seungyoon datar dengan nada sedingin es pada Hanbin, mengabaikan sapaan pemuda lain di depannya lalu keluar dari apartemen Jiwon.

BRAK!

Sambil tak lupa membanting pintunya keras-keras. Meninggalkan Hanbin yang tak sanggup bereaksi apapun.

.

.

.

Seungyoon bergelung dalam selimutnya. Terisak pelan sambil terus mengusap bulir kristalnya yang terus keluar bersamaan dengan cegukan pelan.

Seungyoon sungguh tidak tahan dengan beban yang menghimpitnya.

Kim Jinwoo.

Kenapa Seungyoon harus bertemu dengannya disaat seperti ini?

Kenapa takdir begitu mempermainkannya saat ini?

Seungyoon tahu Jinwoo tak bersalah. Bahkan tak seharusnya Seungyoon membenci pemuda itu hanya karena alasan yang klise.

Hanya karena pemuda bermata rusa itu ialah tunangan seorang Song Mino.

.

.

.

Seungyoon menatap pria berumur di depannya dengan tatapan tidak nyaman, sambil sesekali mengalihkan pandangannya ke arah vanilla latte yang ia pesan atau kepada suasana disekitarnya yang cukup ramai untuk ukuran salah satu café pinggir kota Seoul.

Pria itu, yang Seungyoon terka berumur lebih dari setengah abad sehingga lebih cocok dipanggil kakek dibandingkan seorang bapak, hanya duduk di kursi seberang Seungyoon sambil terdiam menatap Seungyoon dengan tatapan menyelidik.

Sungguh keheningan canggung ini membuat perasaan Seungyoon tidak nyaman.

Bagaimana bisa ada kakek-kakek bersetelan bagus mendadak mencegatnya sepulang kuliah dan memaksanya mengobrol di café pinggir kota tanpa sebab yang jelas.

Seungyoon bisa saja menolak ajakan kakek gaul berambut pirang (dan, oh hey, apa itu hasil bleaching?) itu, tapi bodyguard dibelakangnya sungguh mengintimidasi bahkan membuat Seungyoon gemetar ketakutan seperti gadis walau aslinya ia itu manly seratus persen.

Oh, kakek. Jangan random begini. Segera selesaikan ini dan aku bisa segera kencan dengan Mino.

Inner Seungyoon memekik kesal tidak sopan, walau wajahnya tetap stay cool dengan senyum terkembang lebar diwajah. Seungyoon melirik jam yang melingkar manis di tangannya. Sudah 30 menit sejak kakek ini terakhir buka mulut.

Sungguh! Kapan kakek ini mulai berbicara?

Bodyguard mengerikan di samping kakek itu mengulurkan sebuah amplop coklat besar yang langsung membuat Seungyoon mati kutu. Apa kakek ini akan menawarinya satu set narkoba jenis ecsstasy atau LSD atau apalah itu?

Disaat otak jenius Seungyoon mulai memikirkan berbagai kemungkinan mengerikan soal kakek gaul yang diduga bandar narkoba itu, kakek itu berdeham dan berkata dengan lugas.

"Apa kau Kang Seungyoon? Pacar gelap cucuku Song Minho?"

DEG!

Mata Seungyoon melebar lalu mengerjap kaget mendengar nama Mino disebut. Berbagai pertanyaan kini memenuhi otaknya seiring perkataan kakek ini.

Cucu?

Pacar gelap?

Apa maksud kakek ini?

.

.

.

HYUUUUNG .KAU KEMANA?

Baca.

SEUNGYOON HYUNG AKU SAYANG KAU! JANGAN TINGGALKAN AKU

Baca.

HUWAAAAA KENAPA KAU MENGAMBIL CUTI DAN MELIMPAHKAN SEMUA PEKERJAANMU PADAKU O

Baca.

JANGAN JANGAN KAU MASIH MARAH PADAKU

Baca.

TIDAAAK! JANGAAAN!

Baca.

SEUNGYOON HYUNGIEEE .

Baca.

HYUUUUUNG .

Baca.

JANGAN CUMA DIREAD! BALAS KEK! :(((

Seungyoon terkekeh geli melihat sederetan pesan dari salah satu aplikasi chat favorit di negaranya yang bersumber dari Yunhyeong. Pesan-pesan konyol itu kini memenuhi notifikasi smartphone canggih Seungyoon, bahkan menenggelamkan pesan dari orang lain yang mungkin jauh lebih penting.

"Che, dasar bocah." gumam Seungyoon samar sambil mengetikkan sederetan kalimat pada Yunhyeong.

Kau berisik, Song. Sudah sana kerjakan perkerjaanmu yang menumpuk itu.

Sedetik kemudian pesan itu dibalas, hanya dengan emoticon sedih yang kembali membuat Seungyoon tertawa nista.

Dialihkan pandangannya menuju pemandangan luar KTX melalui jendela, sambil menerawang kenapa ia begitu terburu-buru pergi ke Busan.

Senyuman kecil terpatri di wajahnya, karena otaknya mendadak memutar kenangan akan kehidupan bahagianya pada masa kuliah dahulu.

Bagaimana ia dan tiga orang lainnya begitu bahagia dengan kebahagiaan masing masing.

"Huh, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada Seunghoon hyung nanti."

.

.

.

Mino tersenyum lebar menatap Seungyoon yang sibuk melahap bingsoo tanpa sedikit pun memakan bingsoo miliknya. Sontak itu membuat yang dipandangi mengerjap sejenak lalu nyengir tanpa dosa.

"Apa yang kau pikirkan? Senyumanmu sungguh creepy kau tahu?" komentar Seungyoon, berharap Mino berhenti menatapinya seperti pedofilia yang mendapat mangsa.

Senyum. Mino masih saja tersenyum lebar.

"Kau mau menyaingi senyuman Joker ya?" tanya Seungyoon sakratis berusaha menghentikan senyuman pedofilia Mino.

Senyum. Mino masih tersenyum lebar. Bahkan lebih Seungyoon hanya bisa memasang wajah flat, lelah menghadapi Mino yang mendadak absurd.

Pemuda berambut hitam tebal itu memandang jengah pemuda di depannya, yang pada akhirnya membuka mulut sebagai simbol untuk mengakhiri senyuman creepynya.

"Seungyoon?"

"Hn?"

"Aku sangat bahagia bisa bersamamu, maka dari itu teruslah membahagiakanku disaat apapun. Aku tidak akan meninggalkanmu."

Percayalah, selesai Mino mengatakan kata-kata menjurus gombalan itu, Seungyoon malah melempar sendok bingsoo-nya ke muka Mino dan pergi untuk menyembunyikan wajah merahnya yang memalukan tanpa peduli Mino meneriakinya untuk kembali.

.

.

.

Pemuda berambut hitam itu menatap pintu apartemen di depannya sambil menggumam samar berkali-kali.

Ketuk.

Tidak.

Ketuk.

Tidak.

Ketuk.

TOK! TOK! TOK!

Seungyoon menghela nafas samar, lalu mengigit bibir bawahnya sambil berharap bahwa alamat yang ia dapat dari Chanhyuk adalah alamat yang benar.

CKLEK!

Pintu terbuka, menampakkan sosok tinggi nan kurus dengan mata yang terlampau sipit dengan pakaian berantakan.

"Seungyoon?" Pemuda itu mengerjapkan matanya bingung, sambil berkata 'woah' dalam hati melihat sosok Seungyoon di depannya yang meneteng case gitar yang pastinya berisi gitar serta tas di punggungnya.

Bagaimana bisa Kang Seungyoon mendadak datang mengunjunginya?

Seungyoon mengulum senyum lalu meringis melihat ekspresi kaget orang di depannya.

"Halo Seunghoon hyung, aku menginap di rumahmu, ya?"

Pemuda itu, atau sebut ia Lee Seunghoon, hanya sanggup speechless.

Ada apa dengan Kang Seungyoon? Pemuda yang sudah lama tak muncul di hadapannya itu kini muncul bagai hantu tak diundang bahkan meminta menginap bersamanya. Sungguh tidak bisa diprediksi.


TBC


A/N:

kenapa masih TBC padahal katanya twoshoot? jawabannya karena chapter dua itu kepanjangan jadi harus di bagi dua xD *dibalang sandal* gimana chapter ini? alurnya sangat lambat. nggak jelas. membosankan :v

btw maaf telah menelantarkan ffku ._. disini ada yang baca limit gak? maaf ya belum bisa lanjut soalnya masih dalam proses :/ kehidupan nyata author sungguh sibuk hingga nulis ff saja kadang nggak sempat. tapi tunggu aja ya :3 /author curcol/ *high heels melayang*

makasih lho yang udah review, ada juga ya yang mau baca ff abal gajelas begini :v *peluk*

melisabudiasih | harmiyunia | Harumi570 | Apriyaninurfad1 | Double BobB.I | diyahpark1004 | Afyb

kritik saran atau hal yang kurang jelas bisa lewat PM.

kalo mau next chapter review ya :3

thank you :)))