Mood: THE WAY YOUU CRRYY /Keranjingan lagu SFY/
Sorry karena lama update ha ha enjoy!
The Devil Ride Ducati
.
.
"What the fuck?" ucap Luhan sambil mengangkat alisnya.
Si iblis seksi itu hanya menyeringai.
Luhan benar-benar heran. Apa untuk Sehun mengatakan hal seperti itu wajar kepada orang yang baru ia kenal?
Sehun memerhatikan Luhan dari atas ke bawah, mata tajamnya seakan menelanjangi Luhan, membuat Luhan risih.
"Junmyeon Hyung benar-benar memilih mainan yang bagus," komentarnya sambil tersenyum angkuh.
The. Fuck?
Mainan? Apa yang ia maksud mainan itu adalah Luhan?
Demi Tuhan ini baru pertama kalinya seseorang yang baru ia kenal melukai harga dirinya seperti ini!
Dan ini pertama kalinya Luhan bertemu dengan pria tampan dan seksi yang sangat tidak sopan seperti ini!
Manusia tidak sempurna Luhan, ingat itu.
Oh! Atau dia hanya main-main? Mungkin dia mengenal Luhan karena pertemuan mereka seminggu yang lalu?
Ah ya! Itu alasan yang logis, Kenapa Pria bernama Oh-Seksi Sehun ini bersikap menyebalkan seperti ini adalah karena pertemuan tidak menyenangkan yang terjadi seminggu yang lalu. Dan kartu kredit pria itu masih dipegang oleh Luhan! Pantas saja ia berlaku seperti itu.
"Tuan, apa kau mengenalku?" tanya Luhan.
"Aku menyukai caramu memanggilku Tuan," ucap Sehun sambil tersenyum, "Mungkin lain kali kau bisa memanggilku master atau daddy?"
Luhan mengernyitkan dahinya.
Sudah di pastikan,Dia benar-benar tidak mengenali Luhan. Pria seksi itu hanya benar-benar gila.
Luhan memejamkan mata dan menarik nafas dalam.
Oke,Luhan tenang. Rileks. Jangan sampai penismu menegang hanya karena godaan seperti itu! Kau tidak murahan!
"Begini, Sehun-ssi, kita pernah bertemu sebelumnya. Tepatnya seminggu yang lalu, kau memberikan kartu kredit padaku, kau ingat?"
Sehun memiringkan kepalanya, alisnya yang tegas berkerut menandakan ia sedang berusaha mengingat Luhan (OH ASTAGA LIHAT ALIS TEGAS ITU KYAA!).
"Uh apa kau penari striptease di lusty club?"
"Huh?! Apa yang kau- Bukan! Kau bertemu aku di jalanan ketika kau berkendara dan menyemprotkan air keseluruh bajuku! Aku bahkan memanggilmu bedebah!"
"Ah! Pria yang mengomel seperti wanita. Ya Aku ingat, pantas ekspresi dungu itu tidak asing lagi bagiku."
Oh kalau saja tidak ada orang-orang disekeliling mereka, Luhan mungkin akan meninju wajah tampan itu dengan sangat keras.
"Well,Senang bertemu denganmu Luhan. Aku harap kau bisa temui aku di hotel ini besok sore, dikamar 1020."
"Dan berikan aku alasan kenapa aku harus menemuimu?" tanya Luhan sambil melipat tangannya.
"Kau harus mengembalikan kartu kreditku. Jika kau tidak mengembalikannya aku bisa saja melaporkan perbuatanmu ke polisi atas tuduhan memeras warga yang tidak bersalah."
Luhan menganga tak percaya.
Dasar Bedebah (tampan) licik.
Warga yang tidak bersalah? Cih, yang benar saja.
"Fine! Aku akan menemuimu besok!"
Sehun tersenyum penuh kemenangan, "Bagus. Aku suka dengan orang yang penurut. Well, itu naluri seorang lelaki dominan."
Luhan mendengus jijik. Ia memalingkan wajahnya dari Sehun, terlalu sebal untuk menatap Iblis licik dihadapannya.
Oke, Bohong. Sebenarnya ia sangat terangsang mendengar perkataan dari Sehun. Penisnya mungkin akan segera tegak jika ia terus-terusan melihat seringaian dan tatapan Sehun.
Damn,boy, he is so fucking hot.
"Hey,maaf meninggalkan kalian, aku harus menyapa kerabat kerjaku." Ucap Junmyeon yang sudah berada disamping Luhan dengan satu tangannya ia letakkan dipunggung Luhan.
"Tidak apa-apa Hyung, Luhan disini sangat menyenangkan untuk diajak mengobrol. Kita menikmati obrolan kita,benar kan Luhan?"
Luhan hanya bisa tersenyum pahit membalas perkataan Sehun.
"Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu. Pesta ini betul-betul tidak cocok denganku. Sampai jumpa Hyung, Luhan."
Luhan tidak menoleh untuk menatap Sehun. Ia mendengar tawa Sehun (oh suara tawa itu), namun tetap membuang muka hingga Sehun pergi meninggalkannya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Junmyeon.
Luhan menghela nafas untuk meredam emosinya yang meluap, "Ya. Ya aku tidak apa-apa."
"Kau terlihat tidak senang. Apa Sehun melakukan sesuatu padamu?" tanya Junmyeon khawatir.
"Ti-tidak!" pekik Luhan, "Aku baik-baik saja Junmyeon, hanya merasa lelah karena terus-terusan berdiri."
Luhan segera menyesali perkataannya saat ia melihat rasa bersalah ditatapan Junmyeon.
"Maafkan aku. Kupikir pesta ini bisa menghiburmu. Kau pasti sangat bosan."
"Oh tidak! Aku sungguh menikmatinya! Hanya saja aku tidak pernah menghadiri pesta seperti ini jadi aku sedikit canggung."
Junmyeon tersenyum manis menatap Luhan.
"Terima kasih karena kau mau menemaniku ke pesta ini. Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang."
Luhan menatap Junmyeon ragu, "Apakah baik-baik saja jika kau mengantarkanku pulang? Aku bisa pulang sendiri."
"Luhan, aku yang menjemputmu kesini maka dari itu aku juga yang harus mengantarkanmu pulang."
Luhan tersenyum penuh terima kasih.
Oh, Junmyeon begitu baik. Seperti malaikat.
Luhan semakin heran kenapa ia bisa bersaudara dengan iblis (yang seksi) bernama Oh Sehun itu?
.
Esoknya, Luhan sedang dalam perjalanan menuju hotel untuk menemui Sehun. Ya, sebagai lelaki yang jantan (Pfftt..), Luhan harus memenuhi Janjinya. Walaupun ia sangat tidak ingin bertemu dengan lelaki kurang ajar bernama Sehun, ia tetap harus mengembalikan kartu kredit milik iblis itu. Sesampainya di hotel, Luhan segera menaiki lift menuju lantai dimana kamar Sehun berada. Di lantai tersebut, Luhan mulai melangkah, menghitung setiap nomor yang tertempel didaun pintu hingga ia menemukan kamar yang ia tuju.
Kamar 1020.
Kamar dimana seorang iblis tinggal.
Luhan dengan ogah-ogahan memencet bel kamar itu. Luhan menunggu beberapa menit namun Sehun tidak kunjung membuka pintunya. Karena kesal, Luhan memencet bel itu terus-menerus hingga akhirnya pintu dibuka dan penghuni hotel itu muncul dengan ogah-ogahan.
"AHHH!" Pekik Luhan ketika ia sadar Sehun tidak memakai baju.
"What the fuck?!" umpat Sehun karena terkejut mendengar pekik keras Luhan yang terdengar seperti teriakan wanita.
"KENAPA KAU BERTELANJANG SEPERTI ITU?!" Pekik Luhan sambil menutup matanya.
"Apa itu masalah? Lagipula aku masih memakai celana."
"Masalahnya bukan seperti itu! Tapi-" Luhan spontan menutup mulutnya.
'TAPI TUBUHMU SANGAT SEKSI KEPARAT!'
Jika saja Luhan tidak bisa mengontrol diri ia pasti sudah meneriakkan kalimat itu dan menderita rasa malu seumur hidup.
Bagaimana tidak seksi? Tubuh berkulit putih itu terlihat atletis dan berotot. Tidak berlebihan seperti arnold schwarzenegger di film terminator, tapi cukup membuat Luhan menelan air liur. Dadanya bidang dan bahunya lebar. Luhan penasaran, bagaimana rasanya bergantung pada bahu itu? Oh belum lagi harum tubuh Sehun yang sangat memabukkan.
"Tapi?" tanya Sehun menggoda sambil bersender di daun pintu kamarnya.
"Ta-tapi," ucap Luhan gugup.
"Apa aku membuat dirimu terangsang?"
Luhan tersentak kaget, "Apa?! Ya! Apa ini caramu memperlakukan seseorang yang baru kau kenal?! Apa kau tidak di ajari sopan santun?!"
Sehun tertawa renyah, "Aku hanya bercanda Luhan, Kenapa kau menanggapinya dengan serius seperti itu? Ayo masuk kedalam."
Sehun masuk lebih dulu meninggalkan Luhan yang masih berusaha untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
"Oke, tenangkan hatimu Luhan. Kau kesini hanya untuk mengembalikan kartu kredit si brengsek itu dan pergi."
Luhan mengangguk mantap dan melangkahkan kaki untuk masuk kedalam kamar hotel Sehun.
Ketika Luhan sudah berada didalam, ia berdiri kikuk di ruang tengah yang luas. Kamar hotel tersebut begitu luas, ada sebuah tembok yang membatasi kamar tidur dan ruang tengah. Luhan bisa memastikan kamar hotel itu Lebih Luas dari kelas di kampus Luhan.
"Kenapa kau berdiri saja? Ayo duduk."
Luhan menoleh untuk menatap Sehun, yang akhirnya, memakai pakaian dengan benar.
Sehun membawa dua buah sloki whiskey dan duduk dengan nyaman di sofa. Ia menyilangkan kakinya dan menatap Luhan serius.
Entah kenapa, Luhan merasa gugup dipandang oleh mata tajam itu. Kenapa ia harus gugup? Ia kesini bukan untuk melakukan wawancara pekerjaan, ataupun melakukan perbuatan kriminal.
Luhan duduk di hadapan Sehun dan berdeham.
"Uh aku kesini untuk mengembalikan kartu kreditmu."
Luhan menaruh kartu kredit Sehun dimeja, "Terima kasih."
Luhan melirik wajah Sehun untuk melihat ekspresi pria itu. Sehun mengerucutkan bibirnya dan mengangguk.
Bagaimana bisa seseorang terlihat lucu dan tampan secara bersamaan?!
"Oke, tidak masalah." Sehun meminum sesloki whiskey yang berada digenggamanya sekaligus. Bagaimana adam apple Sehun bergerak ketika ia menelan habis minumannya itu membuat Luhan meneguk salivanya kasar.
"Kenapa kau menatapku terus? Apa kau menyukaiku? Apa kau ingin bercinta denganku?"
"Apa? Eww!Kau benar-benar menjijikkan!"
Sehun tersenyum Jahil.
"Aku mau saja bercinta denganmu Luhan," ucapnya sambil menaruh sloki dimeja dan kembali menyilangkan kakinya yang jenjang, "Tapi aku tidak mau bersetubuh dengan seseorang yang bukan milikku."
Luhan memejamkan mata dan menghela nafas, "Oke dengar. Aku tidak tahu apakah terus-terusan melontarkan kalimat-kalimat sensual kepada orang yang baru kau kenal adalah kebiasaanmu tapi kau harus tahu aku benar-benar tidak nyaman mendengarnya."
Sehun mengedikan bahu, "Aku tidak pernah mengatakan ini kepada orang lain."
"Lalu kenapa kau mengatakan itu padaku?" pekik Luhan kesal sambil mengerutkan alisnya.
Sehun memiringkan kepalanya dan dengan wajah yang datar menjawab, "Karena kau tipeku."
"A-apa?"
"Kau tipeku."
Luhan hanya menatap Sehun bingung dengan mulut yang terbuka lebar.
Yang benar saja?! Bagaimana bisa ia menjadi tipe dari Seorang lelaki kaya bertubuh Seksi dan berwajah tampan?
Luhan membulatkan matanya ketika tangan dingin Sehun menyentuh pipinya dan pria itu mencondongkan wajahnya untuk mencium Luhan. Sejak kapan pria ini berada didekatnya?!
"Stop!" pekik Luhan sambil menghalangi bibir Sehun dengan tangannya.
Luhan menghela nafas untuk mengontrol hatinya yang sedari tadi sudah memekik 'YA TUHAN BIBIR SEHUN MENEMPEL DI TELAPAK TANGANKU DAN MEMBUATKU MERASA SEPERTI TERSENGAT LISTRIK' layaknya seorang perempuan.
"Kenapa kau menghentikanku?" tanya Sehun. Luhan berusaha menahan tangannya agar tidak menampar ekspresi datar itu.
"Se-Sehun-ssi kita baru saja bertemu kemarin. I-ini terlalu cepat."
"Tapi aku tahu kau juga menginginkanku." Sehun memerangkap paha Luhan dengan pahanya dan kembali mencondongkan wajahnya.
"SIAPA YANG MENGINGINKANMU?! UGH!" Luhan kembali menghalangi Sehun dengan tangannya.
"Uh oke, Tuan Oh Sehun," Luhan menghela nafas dalam, "Bagaimana kalau kita ulang lagi perkenalan kita?"
Sehun mengernyitkan dahi bingung, "Maksudmu?"
"Kau tahu,kesan pertamaku terhadap dirimu tidak terlalu baik. Oke kalau boleh jujur, dimataku kau benar-benar pria brengsek yang mesum. Dan aku berpikir aku akan memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki kesan itu dengan memulai lagi perkenalan kita. Bagaimana?"
Sehun terlihat berpikir dengan serius.
"Mungkin saja kalau kita berkenalan dengan benar, kita bisa menemukan hobi yang sama dan menjadi teman, bagaimana?" tawar Luhan.
"Lalu kita bisa bercinta?"
Luhan menatap Sehun jengkel.
Pria ini, benar-benar...
"Ya, bisa saja," jawab Luhan sambil mengedikkan bahu, "Maksudku entahlah, mungkin saja jika kita berdua setuju untuk melakukan itu atau, uh, kau tahu ji-jika kita saling menyukai."
Luhan menunduk karena malu dengan kalimat yang baru saja ia katakan.
Pipinya bersemu merah.
"Oke."
Luhan mendongak dan menatap Sehun, "Oke?"
Sehun mengangguk, "Oke."
Luhan tersenyum lega.
"Kalau begitu," Luhan menunjuk paha Sehun yang masih memerangkap pahanya dan memberi gestur agar Sehun melepaskannya.
Sehun akhirnya melepaskan Luhan dan kembali duduk di sofa. Luhan menarik nafas lega, walaupun ia menyesal karena tidak bisa lagi mencium harum tubuh Sehun.
Demi tuhan, Sehun sangat harum. Luhan akan menanyakan parfum apa yang ia pakai nanti.
"Oke, perkenalkan namaku Lu Han. Umurku 21 tahun, aku sedang bersekolah di universitas Seoul. Hobiku adalah bermain sepak bola dan menyanyi."
Sehun mengangguk-anggukan kepalanya.
"Sekarang giliranmu!" ucap Luhan.
"Untuk apa? kau sudah tahu namaku."
"TADI KAU SUDAH SETUJU MELAKUKAN INI BRENGS-"
Luhan menghela nafasnya. Rileks Luhan, tenangkan hatimu.
"Oke Fine, Oh Sehun. Lalu apa Hobimu?"
Sehun mengedikan bahu, "Berpesta sepertinya."
Luhan tersenyum, "Apa ada hobi lain selain berpesta?"
"Meminum alkohol."
"Apa ada hal yang lain?"
"Menaklukan wanita."
"Apa tidak ada hobi lain yang lebih normal?" tanya Luhan sambil memaksakan Senyum. Tangannya terkepal erat menahan amarah.
Sehun memiringkan kepalanya lalu menatap Luhan. Setelah beberapa saat senyum jahil diwajah tampannya mengembang. Oh Luhan tidak akan suka dengan jawaban yang keluar dari bibir merah itu.
"Mengagumi wajahmu."
"Ya! Aku sedang berusaha untuk menjadi temanmu disini! Bisakah kau menanggapinya dengan serius?!" Bentak Luhan, walaupun sebenarnya wajah Luhan sudah memerah layaknya tomat.
"Aku serius," jawab Sehun enteng, "Kau sangat mempesona. Apalagi ketika sedang malu seperti itu."
Jantung Luhan berdegup lebih cepat, ia membuang tatapannya dari wajah Sehun karena malu.
"Aish Sudahlah! Aku pulang dulu!"
"Tunggu."
Luhan yang sudah beranjak dari duduknya kembali berbalik untuk menatap Sehun.
"Berikan aku nomor ponselmu."
"Untuk apa?" tanya Luhan ketus.
"Bukankah teman harus mempunyai nomor satu sama lain?"
Luhan menghela nafas berat dan akhirnya menyerah. Ia merentangkan tangannya dan memberi gestur agar Sehun memberikan ponselnya. Sehun menyerahkan ponselnya kepada Luhan dan dengan cepat Luhan mengetik nomor teleponnya didalam ponsel Sehun.
"Ini nomor ponselku! Kalau begitu aku pulang dulu. Sampa jumpa Sehun." Luhan membungkuk dan segera berlari keluar dari kamar Sehun.
Sehun menatap nomor yang tertera diponselnya lalu menyimpan nomor itu dengan nama 'rusa kecil'.
Guardian Jun: Kau dimana? Aku sedang di kampusmu. Bisakah kita bertemu?
Luhan mendapat pesan itu dari Junmyeon ketika ia sedang makan siang dengan Yixing dan Baekhyun. Ia menunjukan pesan itu kepada teman-temannya yang dengan terburu-buru menyuruh Luhan untuk menemui 'sugar daddy'nya tersebut. Luhan memberitahu Junmyeon agar menunggunya di halaman kampusnya.
"Hai." Sapa Luhan saat ia menemui Junmyeon yang sedang duduk disalah satu bangku taman.
Junmyeon tersenyum dengan lembut, "Hai Luhan."
"Maaf membuatmu menunggu lama." Ucap Luhan sambil duduk disamping Junmyeon.
Junmyeon lagi-lagi tersenyum, "Tidak apa-apa. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik," jawab Luhan malu-malu, "Bagaimana dengan kau?"
"Aku baik, hanya sedikit sibuk di kantor, tapi semuanya masih bisa kuatasi. Oh iya, bagaimana dengan kuliahmu? Apa berjalan lancar?"
Luhan mengangguk kecil, "Ya, aku bisa ikut ujian. Terima kasih padamu,aku tidak tahu bagaimana harus membalasmu."
"Mmmmm bagaimana kalau dengan makan malam bersama?" tanya Junmyeon.
"Ah! Itu ide yang bagus! Ta-tapi karena aku belum mendapat gaji, bisakah kita makan malam direstoran yang murah?"
Junmyeon tertawa sambil mengacak rambut Luhan, "Kau tidak perlu khawatir. Aku yang akan membayar makan malamnya."
"Tapi bagaimana bisa itu disebut sebagai balas budi? Tetap saja kau yang membantuku!" gerutu Luhan sambil mengembungkan pipinya.
"Aku adalah guardian-mu kau ingat? Sudah tugasku melakukan itu."
Luhan tersipu malu dengan perkataan Junmyeon. Padahal Luhan tidak tahu apa yang membuat Junmyeon mau menolong Luhan tanpa balasan apapun. Apa karena memang ia terlalu baik? Atau ia membutuhkan tempat untuk menampung uang yang ia ingin buang? Junmyeon pasti sangat kaya raya sehingga ia tidak segan-segan membuang uangnya dengan sia-sia.
"Jadi bagaimana? Makan malam, diakhir pekan nanti?"
Luhan tersenyum dan mengangguk, "Ya,Makan malam diakhir pekan nanti."
Junmyeon balas tersenyum sambil mengelus pipi Luhan. Junmyeon dengan pelan mencondongkan wajahnya dan dengan otomatis Luhan menutup matanya untuk menerima ciuman yang Junmyeon berikan.
Wajah Junmyeon semakin dekat dengannya hingga Luhan bisa merasakan deru nafas Junmyeon dan-
LIGHT LIGHT LIGHT LIGHT LIGHT UOH UOH LIGHTSABER LIGHTSABER~
Shit.
"Uh tunggu sebentar." Pamit Luhan sambil berjalan menjauhi Junmyeon untuk mengangkat telepon yang diterima oleh ponselnya.
"Halo?"
"Hai,Luhan. Apa yang sedang kau lakukan?"
"Kau siapa?"
"Kau tidak mengenal suaraku?"
"Tidak."
Oke bohong. Luhan tahu benar suara itu. Ia ingat benar bagaimana suara itu berbisik ditelinganya ketika mereka pertama kali bertemu.
"Ini Oh Sehun. Duh. Apa kau berada di rumah?"
"Aku sedang ada di kampus. Ada apa?" tanya Luhan.
"Oh. Aku sedang bosan, bisakah kau ke apartemenku?"
"Tidak bisa,Sehun. Aku mempunyai banyak tugas."
"Sayang sekali. Padahal aku ingin mengajakmu menonton Film baru Star Wars . Aku mendapat rekaman resminya sebelum film ini dirilis di kor-"
"Berikan aku alamatmu. Aku akan sampai 1 jam lagi."
Luhan menutup Teleponnya dan berlari kecil menuju Junmyeon.
"Junmyeon. Uh, Maaf, aku baru saja ingat Baekhyun dan Yixing menungguku untuk mengerjakan tugas diperpustakaan. Tidak apa-apa kan jika aku meninggalkanmu?"
"Ya tidak apa-apa,Luhan." jawab Junmyeon sambil tersenyum, "Sampai Jumpa akhir pekan nanti oke?"
Luhan membalas senyum Junmyeon, "Sampai Jumpa Junmyeon. Aku pergi dulu!"
Luhan bergegas berlari keluar kampus dan mencegat taksi. Sehun mengirimkan alamatnya sesaat setelah Luhan duduk didalam taksi dan dengan semangat ia menyerukan alamat Sehun ke supir taksi (yang malang) itu.
Star Wars, Aku datang.
.
Saat sampai di gedung apartemen Sehun yang sangat mewah, Luhan dengan segera masuk ke Lift menuju lantai 20 dimana Apartemen Sehun berada. Ketika ia sudah sampai dan pintu lift terbuka, Luhan menganga tak percaya ketika di lorong lantai itu hanya ada satu pintu besar. Itu berarti, Oh Sehun memiliki seluruh lantai sebagai tempat tinggalnya.
Lucky Bastard.
"H-hi.." sapa Luhan gugup saat Sehun membukakan pintu untuknya. Sekarang, untungnya, Sehun memakai pakaian lengkap dengan sweater turtle neck berwarna putih dengan celana berwarna hitam yang pas membalut kakinya.
"Hi Luhan. Silahkan masuk." Ucap Sehun sambil membiarkan Luhan masuk mendahuluinya. Ketika Luhan masuk kedalam apartemen Sehun, ia tercengang kagum melihat betapa besar dan nyamannya apartemen Sehun. Bahkan apartemen bertema monochrome itu lebih besar dari rumahnya di Beijing.
"Silahkan duduk dan buat dirimu nyaman Luhan."
Luhan duduk disebuah sofa besar dihadapan sebuah layar LED yang lebih besar dari kaca apartemen Luhan. Ia duduk dengan kikuk, kepala Luhan tak henti-hentinya menoleh kekanan dan kekiri untuk memperhatikan apartemen Sehun.
Sehun kembali ke ruangan itu dengan semangkuk besar popcorn dan sebotol wine. Di meja didepan Luhan sudah tersedia gelas wine dan makanan kecil lainnya yang membuat Luhan berliur.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan rekaman film star wars?" tanya Luhan mengalihkan perhatiannya dari makanan.
"Temanku adalah orang penting didunia perfilman korea. Jadi ketika ada film baru ia biasanya memberikan rekamannya kepadaku karena ia tahu aku suka menonton film."
"Ha. Ternyata kau punya hobi yang normal juga."
Sehun tertawa, "Lalu bagaimana denganmu? Dari Senyummu yang berseri-seri sepertinya kau menyukai Star Wars."
"Aku. Penggemar. Berat. Star Wars." Ucap Luhan dengan semangat, "Dikamarku tertempel poster Star Wars dari film pertama mereka, aku juga mempunyai figur Han Solo yang kubeli dengan uang tabunganku!"
"Kau sangat menggemaskan ketika sedang bersemangat kau tahu?"
Wajah Luhan langsung memanas. Dengan segera ia menundukan kepalanya untuk menyembunyikan semburat merah yang muncul dipipinya.
"Baiklah! Bagaimana kalau kita mulai menonton sekarang?" ucap Sehun sambil menyalakan TV dan duduk disebelah Luhan dengan nyaman.
Luhan dengan serius menonton film favoritnya itu. Matanya tidak pernah meninggalkan layar TV dan mulutnya tak henti-hentinya mengunyah popcorn dimangkuk yang ia peluk.
Luhan begitu serius menonton film favoritnya hingga ia tidak sadar Sehun duduk lebih dekat dengannya dan merebahkan kepalanya dibahu Luhan.
Ia akhirnya mengalihkan perhatiannya dari layar ketika ia merasakan nafas hangat Sehun di lehernya.
"Sehun? Apa kau tertidur?"
Sehun tidak mengatakan apapun dan menjawab Luhan dengan tangannya yang mengelus-elus lembut paha Luhan.
Konsentrasi Luhan buyar dan tubuhnya menegang saat ia merasakan lidah Sehun menjilat Lehernya hingga bulu ditengkuknya meremang.
"Se-Sehun." gumamnya. Tangannya menggenggam erat mangkok popcorn dipelukannya.
Luhan memejamkan mata ketika ia merasakan Sehun mulai menggigit kecil lehernya.
Ia mati-matian menahan desahan ketika lidah Sehun kembali menjilat perpotongan lehernya dan mengisap kulit leher Luhan.
Film favoritnya sudah lama terabaikan ketika tangan Sehun menelusup kedalam kaos Luhan dan meraba perut ratanya.
"Ahhh..." desahnya saat tangan Sehun tidak sengaja mengusap nipplesnya.
Sehun menyeringai dan kembali mengusap nipples Luhan dengan 'tidak sengaja'.
Tangan Sehun yang jahil mulai turun ke bagian depan celana Luhan dan meraba penis Luhan.
"Ahhh Sehun, Hentikan.."
Bertolak belakang dengan permintaan Luhan, Sehun meraba penis dibalik celana Luhan membuat Luhan mengerang.
"Oh Fuck."
Oke, Luhan menyerah. Ia sudah tidak peduli dengan kenyataan bahwa mereka baru kenal atau film favoritnya sedang diputar dihadapannya. Jika memang Sehun akan melakukan seks dengannya sekarang, Luhan akan mengalah kepada gairahnya dan menyerah kepada Sehun.
Ia sudah siap.
Bibir Sehun berpindah dan menyerang kuping Luhan. Ia menggigit daun telinga Luhan dan berbisik seduktif, "Luhan.."
Yes,Oh,Yes Sehun. Fuck me now.
"Luhan, filmnya sebentar lagi akan selesai."
Huh?
Luhan membuka matanya dan melihat kearah Sehun yang sedang tersenyum jahil.
"Kupikir kau menyukai Star wars?"
Luhan masih belum menjawab.
"Ah popcornnya habis. Aku akan memanggang yang baru. Kau tunggu disini Oke?" ucap Sehun sambil berdiri dan pergi meninggalkan Luhan menuju dapur.
Luhan mengedip-ngedipkan matanya cepat.
Apa. Yang. Baru. Saja. Terjadi?!
"AKU INGIN MATI SAJA!"
Baekhyun memutar bola matanya jengkel, "Ck Drama Queen."
"LAKI-LAKI BRENGSEK! BISA-BISANYA IA MENGGODAKU DAN BERHENTI BEGITU SAJA! APA IA TIDAK PUNYA PERASAAN?! DIMANA HARGA DIRIKU BAEKHYUN?!"
"Luhan, tenanglah!"
Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Baekhyun tajam, "Coba katakan padaku bagaimana aku bisa tenang kalau pria yang baru saja kukenal menginjak harga diriku!"
"Kalau kau sadar bahwa kau baru mengenalnya lalu kenapa kau mau disentuh olehnya?"
"Baekhyun, dia itu sex god. Baekhyun,Sex God!" Ucap Luhan sambil menggoyang-goyangkan bahu Baekhyun, "Kalau kau bertemu dengannya kau pasti akan tercengang."
Baekhyun mendecih, "Oh Please, aku bukan lelaki yang gampang tergoda. Kau tahu? Aku ini setia."
Luhan mencibir dan kembali merebahkan kepalanya di meja.
"Ah aku benar-benar malu!" rengek Luhan, "Aku bersumpah tidak akan pernah lagi menemui pria itu! Dasar Brengsek!"
"Sebentar, setelah ia meninggalkanmu lalu apa yang kalian lakukan?"
Luhan mengerucutkan bibirnya, "Kami kembali menonton film. Dan aku merasa sangat canggung sementara dia terlihat biasa saja!"
"Wow kau benar-benar dipermainkan Luhan."
Luhan kembali merengek.
Ketika ia sedang merengek, meratapi nasibnya. Ponselnya berdering.
Luhan segera mengambil ponselnya dan melihat nama 'The handsome Devil' muncul dilayarnya.
Ia langsung melempar ponselnya kesal membuat Baekhyun tersentak kaget.
"Tenang sedikit bitch, kau tahu kan biaya memperbaiki ponsel itu lebih mahal dari biaya listrikmu?!"
"Sehun meneleponku! Bagaimana bisa ia meneleponku setelah ia membuatku malu seperti kemarin?!"
Baekhyun menghela nafas dan mengambil ponsel Luhan dari lantai.
"Luhan ada pesan dari Handsome Devil, ia bilang kalau kau tidak mengangkat telepon ia akan melacak nomormu dan mencari apartemenmu."
Luhan mengerang lalu merebut ponselnya dari tangan Baekhyun. Ketika ponselnya kembali berdering ia dengan terpaksa mengangkat teleponnya.
"Halo?" sapa Luhan malas.
"Hai Luhan, apa kau ada acara diakhir pekan nanti?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku mau mengajakmu pergi ke suatu tempat."
"Ah sayangnya aku ada acara makan malam bersama Junmyeon." Ucap Luhan menekankan nama Junmyeon dikalimatnya.
"Well, itu acara makan malam bukan? Berarti kau bebas saat siang?"
"Tidak bisakah kau mengajakku pergi di hari lain? Aku bersumpah akan mengikutimu kemana saja Sehun tapi jangan akhir pekan nanti."
"Tidak. Harus akhir pekan nanti. Kalau kau tidak mau aku akan memberitahu Junmyeon apa yang kita lakukan kemarin."
Luhan menganga tak percaya, "Sehun, kau benar-benar sadis!"
"Ya terima kasih. Kita bertemu di cafe startrucks jam 11 siang di akhir pekan nanti. Jangan sampai terlambat."
Sambungan telepon terputus dan Luhan hanya bisa terdiam tak percaya.
"KAU PIKIR KAU SIAPA BRENGSEK?!" teriak Luhan sambil melempar ponselnya.
"Astaga Luhan jaga sikapmu! Siapa yang mengajarkanmu untuk bersikap liar seperti itu huh?!" pekik Baekhyun sambil berkacak pinggang.
Luhan dengan jengkel menunjuk Baekhyun.
"Uh, oke, aku guru yang baik kan?" tanya Baekhyun sambil tertawa.
"Baekhyun, aku sedang kesal oke? Jika kau tidak bisa serius apalagi membantu lebih baik kau pulang saja!"
"Ck, dasar galak." Gerutu Baekhyun, "Oke ceritakan kepada Baekhyun, apa yang membuatmu kesal?"
"Sehun meneleponku dan mengajak bertemu."
"Lalu?"
Luhan memutar bola matanya, "Baekhyun apa kau tidak dengar siapa yang meneleponku tadi? Sehun! Apapun tentang dia membuatku kesal!"
"Kalau begitu tolak saja permintaannya."
Luhan menghela nafas dan merebahkan diri disebelah Baekhyun, "Tidak semudah itu. Ia mengancamku untuk memberitahu semuanya kepada Junmyeon."
"Semuanya? Termasuk kejadian dimana ia meninggalkanmu ketika penismu sudah tegak?"
Luhan memejamkan matanya, "Oh Baekhyun jangan katakan itu lagi!"
"Oke sorry. Termasuk kejadian itu juga?"
"Ya, mungkin saja." Jawab Luhan, "Dasar laki-laki licik."
"Kalau begitu pergi saja bersama dia dan minta dia mengantarmu ke restoran tempatmu makan malam dengan Junmyeon."
Luhan menghela nafas keras, "Kenapa hidupku betul-betul rumit seperti ini?"
"Oh ayolah drama queen," ledek Baekhyun, "Hal itu tidak akan seburuk apa yang kau pikirkan,oke? Semuanya akan baik-baik saja."
Luhan tidak menjawab dan kembali memikirkan kejadian yang membuatnya malu setengah mati. Kulitnya meremang jika membayangkan bibir Sehun yang mencium lehernya. Atau tangan hangat Sehun yang meraba perutnya.
Luhan mengumpat dalam hati.
Tidak, ia tidak boleh ereksi sekarang. Masih ada Baekhyun disisinya.
Luhan memutuskan untuk menenangkan pikirannya dan tidur. Baekhyun benar, ia harus tenang. Hal buruk apa yang bisa terjadi saat ia pergi bersama Sehun? Sehun terdengar normal setelah kejadian itu, kenapa hanya Luhan yang panik? Ia harus setenang Sehun.
Tidak akan terjadi apa-apa kan? Semua akan baik-baik saja maka dari itu Luhan bisa tidur tenang dan mengistirahatkan pikirannya.
.
.
Luhan tidak bisa tidur hingga pukul 4 pagi.
Luhan berkedip pelan. Matanya yang lelah tetap tidak mau beristirahat juga walaupun Luhan sudah menutup matanya dengan paksa. Baekhyun yang menginap di apartemen Luhan,tidur dengan pulas disebelah Luhan dan dengan seenaknya menjajah tempat tidur Luhan yang sempit hingga Luhan harus meringkuk diujung kasur.
Ia akhirnya memutar lagu di ponselnya,memutar playlist lagu pengantar tidur dan kembali memejamkan mata. Saat Luhan sudah hampir tertidur ada telepon yang masuk ke ponselnya.
"Halo?" ucapnya lemas.
"Luhan, aku memutuskan untuk menjemputmu. Dimana alamatmu?"
Luhan menyebutkan alamatnya sambil setengah tertidur. Ia kembali memposisikan ponselnya di samping bantal ketika telepon terputus. Luhan akhirnya tertidur dan bermimpi beradu pedang lightsaber dengan seorang pria yang telah membuatnya malu setengah mati.
.
.
"Lu.."
"Luhan.."
"Luhan!"
"BITCH!"
"Aw Baekhyun! Kenapa kau memukul kepalaku?!" gerutu Luhan sambil mengusap kepalanya yang baru saja terhantam bantal dengan keras.
"Cepat bangun! A-ada seorang artis didepan kamarmu!" ujar Baekhyun histeris.
"Huh artis? Siapa?"
Baekhyun yang sedang berusaha mengontrol jiwa fangirl (yup,fangirl) didalam tubuhnya menatap Luhan, "Entahlah. Ia seperti versi cute dari chaning tatum."
"Huh?"
Baekhyun kembali memekik histeris.
Karena penasaran, Luhan beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju depan pintu. Ia terkejut bukan main ketika ia melihat Sehun berada diluar pintu apartemennya.
"Hai." Sapa Sehun dengan santai.
Oh Jangan tanya Luhan bagaimana penampilan Sehun dimatanya, ia menakjubkan seperti biasa. Ia berdiri disana,didepan pintu apartemen Luhan, bak seorang model profesional dengan memakai celana jeans dan jaket kulit hitam yang dipadukan dengan turtle neck berwarna merah tua.
"He's a fucking art."
Luhan menoleh kebelakang dan menemukan Baekhyun sedang memerhatikan Sehun dengan tatapan takjub.
"Huh? Kau bilang apa barusan,Baekhyun?"
"Aw!" Luhan memekik sakit saat Baekhyun mencubit pinggangnya.
"Luhan ini betul-betul tidak sopan kan?" ucap Baekhyun sambil tertawa pelan.
Apa? Baekhyun tertawa pelan? Apa yang baru saja ia telan?
"Kenapa kau tidak mengajak teman barumu masuk Luhan?" tanya Baekhyun lembut.
Luhan memandangnya dengan jijik.
"Luhan, ajak teman barumu masuk." Ucap Baekhyun sambil memelototi Luhan.
"Si-silahkan masuk,Sehun." ajak Luhan. Sehun membuntuti Luhan kedalam apartemennya. Luhan dengan kikuk mempersilahkan Sehun duduk di sofanya yang dekil dan sempit.
"Uh Maaf tempat tinggalku tidak sebesar tempat tinggalmu,Sehun."
"Tidak masalah,Luhan. Kenapa kau belum siap untuk pergi?"
Luhan mendengus, "Well ini baru pukul 8 pagi. Dan kupikir kita berjanji bertemu pukul 11?"
"Perubahan rencana," ucap Sehun sambil menghela nafas berat, "Kau harusnya bersyukur aku mau menjemputmu."
"Aku tidak memintamu untuk menjemputku!" pekik Luhan, "Ah! Dan hal ini mengingatkanku kenapa kau bisa mengetahui alamatku?"
Sehun mengedikan bahu dan bermain dengan ponselnya. Luhan menoleh kearah Baekhyun yang sedang memerhatikan Sehun disebelahnya.
"Baekhyun?" ucapnya sambil menatap Baekhyun tajam.
"Bukan aku yang memberitahunya!"
"Kalaupun ia bertanya padaku, aku akan memberikan alamatku Luhan." Baekhyun tersenyum sambil menatap Sehun.
"Kupikir kau adalah pria setia?"
"Oh Luhan bagaimana kau bisa setia ketika ada dewa dihadapanmu?"
Luhan memutar bola matanya jengkel dan kembali menatap Sehun.
"Darimana kau mendapatkan alamatku?"
"Darimu." Jawab Sehun singkat.
"Kapan aku memberitahumu?"
"Tepatnya 4 jam yang lalu ketika aku menelepon."
Luhan menggigit bibir bawahnya ketka ia sadar telepon yang ia terima tadi pagi adalah telepon dari Sehun.
"Hey, berhenti menggigit bibirmu oke? Sebaiknya kau bersiap-siap daripada kau berdiri disana hanya untuk menggodaku."
"Aku tidak mencoba untuk menggodamu!" protes Luhan. Dengan kesal ia berjalan menuju lemari dan masuk kedalam kamar mandi dan meninggalkan Sehun yang duduk dengan nyaman sambil memainkan ponselnya bersama Baekhyun yang sedang memandangi Sehun.
"Sehun-ssi."
Sehun mendongak untuk memerhatikan Baekhyun, "Ya?"
"Apa kau benar-benar seorang sex god?" tanya Baekhyun membuat Sehun mengernyitkan dahinya.
.
"Oke aku sudah siap!" teriak Luhan sambil berjalan menuju tempat Sehun berada. Ia terkejut bukan main ketika Sehun dan Baekhyun sedang tertawa dan mengobrol bersama.
Sejak kapan mereka seakrab ini?
"Uh Hai teman-teman aku sudah siap.."
Baekhyun menoleh kearah Luhan, "Oh? Kau sudah siap? Sayang sekali padahal Sehun sedang menceritakan lelucon lucu!"
Luhan mendengus. Sepertinya Sehun sudah berhasil menarik hati sahabatnya itu. Oh lihat saja cara Baekhyun tersenyum antusias ketika Sehun bilang akan mengundang Baekhyun ke apartemennya.
"Kalau begitu aku dan Luhan pergi dulu ya Baekhyun."
"Mmm Ya! Hati-hati Hunnie!"
Hunnie? Ppffttt...
Sehun tersenyum, "Thanks Baekhyun. Ayo kita pergi.."
Luhan mengangguk dan mengikuti Sehun keluar apartemennya.
"Luhan jika kau mendapatkan dia kau benar-benar beruntung. Ia betul-betul pria yang menyenangkan," bisik Baekhyun pelan.
Luhan mencibir, "Itu hanya menurutmu saja! Dan kau memanggilnya apa tadi?Hunnie? Ha ha , lucu sekali."
Baekhyun menatap Luhan sambil tersenyum penuh arti.
"Apa?!" tanya Luhan galak.
"Tidak," ucap Baekhyun sambil menahan senyum, "Cepat pergi!"
"Sampai berjumpa lagi Baekhyun," ucap Sehun ramah.
"Ya! Sampai jumpa lagi! Kalian berdua hati-hati!" teriak Baekhyun, "AKU MENYELIPKAN KONDOM DI TASMU LUHAN!"
Luhan berbalik dan mengacungkan jari tengah ke arah Baekhyun.
.
.
"Aku tidak mau menaiki benda ini."
Sehun menghela nafas, "Benda ini aman Luhan, jangan cemas."
Sehun kembali menyodorkan helm kepada Luhan. Luhan dengan ragu-ragu mengambil helm ditangan Sehun dan kembali memperhatikan motor yang dikendarai Sehun.
"I-ini benar-benar aman kan?"
Sehun menghela nafas, "Oh astaga, jika kau bertanya lagi aku akan mengangkatmu keatas motorku dengan paksa Luhan."
Luhan cemberut mendengar ancaman Sehun. Ia sebenarnya tahu motor bermerk dengan harga yang fantastis itu terjamin keamanannya, tapi yang ia cemaskan adalah pengendara motor berwarna putih tersebut. Luhan pernah melihat Sehun mengendarai Motor dan hal itu membuatnya kembali ragu untuk menaiki motor Sehun.
"Luhan, jangan khawatir oke? Aku akan mengendarainya dengan pelan." Ucap Sehun menenangkan Luhan.
"Benarkah?"
Sehun mengangguk, "Sekarang cepat naik! Kita tidak punya waktu yang banyak! Kau harus makan malam dengan kakakku kan?"
Luhan akhirnya menyerah dan naik ke motor Sehun. Ia memakai helm yang diberikan Sehun dan menaruh kedua tangannya di bahu Sehun.
"Luhan.."
"Apalagi?"
"Kau tidak berencana untuk terus menaruh tangan dibahuku kan?"
"Well menurutmu dimana lagi aku harus menyimpan tanganku huh?!" ucap Luhan kesal, "Jika aku tidak berpegangan aku akan jatuh. Kau mau aku mati huh?!"
Sehun tertawa mendengar omelan Luhan.
"Aku tidak melarangmu untuk berpegangan padaku babe. Maksudku kau bisa berpegangan pada pinggangku, itu membuatku lebih nyaman dan membuatmu lebih aman."
Wajah Luhan memanas mendengar Sehun memanggilnya dengan sebutan 'babe'. Luhan dengan cepat memeluk pinggang Sehun karena malu.
Perlakuan Luhan membuat Sehun terkejut,sebelum ia menanyakan sikap Luhan, Luhan sudah lebih dulu mengatakan jika ia benar-benar tidak ingin mati maka Sehun harus memaklumi Luhan jika ia memeluk Sehun terlalu erat.
"Aku tidak keberatan." Ucap Sehun. Dan walaupun Luhan tidak bisa melihatnya, ia tahu bahwa Sehun sedang tersenyum.
.
Ketika Sehun bilang ia akan mengendarai motor dengan pelan, harusnya Luhan tidak percaya kepadanya. Atau bisa dibilang ia tidak boleh percaya kepada apapun yang Sehun katakan. Sehun mengendarai motor dengan cepat,ia dengan lihai menyalip kendaraan-kendaraan besar yang menghalanginya. Luhan bahkan heran kenapa tidak ada polisi yang menilang Sehun, karena Sehun berkendara seperti seorang maniak kecepatan.
Luhan memejamkan mata rapat, tangannya memeluk Sehun dengan erat.
"Kita akan sampai sebentar lagi,oke?" ucap Sehun, satu tangannya memegang tangan Luhan yang sedang melingkar dipinggangnya dengan romantis.
"BERKENDARA DENGAN BENAR BODOH!" pekik Luhan.
Benar-benar tidak romantis.
.
Mereka akhirnya sampai dipantai Incheon. Luhan terhuyung ketika ia turun dari motor Sehun, membuat Sehun harus memegang tangan Luhan untuk menahannya agar tidak terjatuh.
"Aku bersumpah tidak akan pernah lagi menaiki motormu."
Sehun tertawa, "Aku akan membawa mobil ketika mengajakmu berkencan, kalau begitu."
Luhan membuang muka, berharap Sehun tidak melihat pipinya yang memerah.
"Uhm, omong-omong mau apa kita kesini?"
"Lihat saja nanti."
Luhan mengantisipasi hal-hal yang mungkin Sehun sudah persiapkan untuk kegiatan mereka disana. Seperti makan siang dipinggir laut, atau menunggangi kuda sambil mengitari pantai. Namun apa yang dilakukan Sehun, benar-benar tidak pernah disangka Luhan sebelumnya. Pria tampan itu duduk dan mulai membuat istana pasir.
"Luhan duduk disini! Bantu aku membuat istana pasir!" Luhan dengan patuh duduk disebelah Sehun dan mulai membantu Sehun menumpuk pasir untuk membuat sebuah istana.
Sehun tersenyum , matanya berkilau penuh kegembiraan.
Mereka menghabiskan waktu dipantai dengan bermain banyak permainan. Sehun akhirnya berhasil membangun istana pasirnya dengan bantuan anak-anak yang datang ke pantai itu. Ia dan Luhan juga bermain kejar-kejaran bersama anak-anak itu. Sehun dan Luhan berada di tim berbeda. Tim Sehun mengejar tim Luhan yang berlari sambil berteriak kegirangan. Sehun dengan tubuh atletisnya tentu saja berlari dengan cepat hingga ia bisa menangkap Luhan dengan mudah. Ia memeluk tubuh Luhan erat dan menarik Luhan yang tertawa menuju timnya. Mereka juga ikut bermain voli pantai dengan remaja-remaja disana. Remaja-remaja wanita memekik histeris saat Sehun melompat dan berhasil melakukan smash dan mendapat poin. Remaja-remaja wanita berteriak horor ketika bola voli yang dipukul Luhan menghantam wajah salah satu teman mereka. Luhan bersumpah hal itu tidak ia sengaja.
"Ini Es Krim-mu."
"Terima kasih." Ucap Luhan sambil mengambil es krim dari tangan Sehun. Sehun duduk disamping Luhan, menatap langit yang mulai gelap sambil meminum soda digenggamannya.
Luhan mencuri pandang kearah Sehun. Pria itu sedang tersenyum cerah. Ia benar-benar pria yang sulit ditebak. Biasanya aura Sehun akan sangat mengintimidasi Luhan. Tapi hari ini ia memperlihatkan sisi yang berbeda pada Luhan. Sisi yang membuat Luhan menyadari bahwa Sehun adalah seorang anak muda yang menyenangkan. Sifat spontan Sehun membuat Luhan penasaran, membuat Luhan ingin tahu lebih banyak tentang Sehun.
"Hey Sehun."
"Hmm?"
"Kenapa kau mengajakku kesini?Kenapa kau memaksa sekali ingin pergi dihari ini?"
Sehun memandang Luhan dan tertawa kecil, "Karena ini hari ulang tahunku. Dan aku tidak ingin menghabiskannya sendiri lagi."
Ada sesuatu didalam hati Luhan yang tergerak saat mendengar jawaban Sehun. Hatinya mencelos ketika melihat Sehun tersenyum kecil dan mengatakan bahwa ia tidak ingin sendiri lagi.
Apa itu berarti ia selalu kesepian?
Luhan mengasihani Sehun. Ia tahu bagaimana rasanya hidup sendiri tanpa siapapun yang menemaninya.
Ia juga kesepian.
Apakah tuhan merencanakan sesuatu saat mempertemukannya dengan Sehun?
Apakah Tuhan memberikan Sehun untuknya agar tidak kesepian lagi?
"Luhan?"
"Ah,ya?"
"Sepertinya kita harus pergi sekarang jika kau tidak ingin terlambat ke acara makan malammu dengan Junmyeon hyung. Aku akan mengantarmu kesana,oke?"
"Sehun!" pekik Luhan sambil menarik tangan Sehun.
"Ada apa?"
Luhan sebenarnya ingin mengatakan bahwa jika Sehun masih mau ditemani dirinya ia tidak apa-apa datang terlambat bahkan membatalkan makan malamnya. Tapi reaksi apa yang akan Sehun berikan? Apa ia akan terkejut atau takut karena perubahan sikap Luhan?
"Luhan, ada apa?" tanya Sehun lagi membuyarkan lamunan Luhan.
"Sehun-ah," panggil Luhan, "Se-selamat ulang tahun. Maaf karena aku tidak mengucapkannya dari awal. Ta-tapi kau harus tahu, aku akan selalu bersedia untuk menemanimu ketika kau kesepian, oke?"
Sehun tersenyum dan menggenggam tangan Luhan, "Terima kasih banyak,Luhan."
Luhan mengangguk pelan.
"Ayo kita pergi sekarang.." ajak Sehun sambil menarik tangan Luhan menuju motornya.
Luhan tidak mengelak ataupun meronta ketika Sehun menarik tangannya. Ia malah berharap Sehun mengaitkan jarinya dengan jari Luhan agar Luhan bisa menggenggamnya erat untuk menunjukan pada Sehun bahwa ia tidak sendiri.
Luhan sampai direstoran tempatnya makan malam dengan tepat waktu. Ia dengan pelan turun dari motor Sehun dan menyerahkan helm kepada Sehun.
"Terima kasih Sehun.."
Sehun membuka helmnya dan menatap Luhan, "Harusnya aku yang berterima kasih padamu Luhan."
Luhan menggeleng cepat, "Tidak! K-kau mengajakku bermain dipantai dan aku benar-benar menikmatinya! Berkat kau, aku bersenang-senang disana. Jadi, terima kasih."
Sehun tersenyum kecil, "Selamat makan malam,Luhan."
Sehun kembali memakai helmnya, bersiap untuk pergi. Ia menatap Luhan sekali lagi sebelum akhirnya ia melesat dengan cepat.
Luhan terdiam disana masih menatap jalanan yang dilalui Sehun. Kenapa ia merasa bersalah saat ia bertemu pandang dengan mata Sehun? Apakah karena mata itu terlihat sedih saat menatap Luhan?
"Jadi apa saja yang kau lakukan hari ini Luhan?" tanya Junmyeon ditengah makan malamnya dengan Luhan.
Luhan tidak menjawab, ia masih menunduk menatap makanan yang ia mainkan dengan sendoknya.
"Luhan?" panggil Junmyeon sambil menyentuh tangan Luhan.
"Ah! Y-ya?" ucap Luhan yang tersentak kaget.
"Apa kau baik-baik saja?"
Luhan menatap Junmyeon sambil memaksakan senyumnya.
"Aku tidak apa-" Luhan menghentikan kalimatnya dan menghela nafas, "Bolehkah aku jujur padamu?"
"Ya! Tentu saja! Apakah ada yang menganggumu Luhan?" tanya Junmyeon khawatir.
"Kau berjanji tidak akan marah?"
Junmyeon tersenyum ramah sambil menggenggam tangan Luhan, "Tentu Luhan. Sekarang ceritakan, kenapa kau melamun terus dan terlihat sedih."
"Uh,sebenarnya aku selama ini masih sering bertemu dengan adikmu, Sehun."
"Dan sebelum kesini aku bersama dengannya tadi siang. Aku merasa bersalah karena meninggalkannya sendirian di hari ulang tahunnya." Lanjut Luhan.
"Hari ulang tahunnya?" tanya Junmyeon.
Luhan menganga tak percaya, "Iya. Hari ini ulang tahunnya! Apa kau lupa?"
Luhan benar-benar tak habis pikir kenapa Junmyeon bisa melupakan ulang tahun adiknya sendiri. Tidak aneh kenapa Sehun terlihat sedih.
"Ah iya, maaf. Aku terkadang lupa karena terlalu banyak pekerjaan di kantor."
Luhan cemberut, "Bisakah kau mengucapkan selamat kepadanya? Aku betul-betul kasihan padanya."
"Jadi ini yang membuatmu sedih?"
Luhan mengangguk pelan, "Aku tahu bagaimana rasanya kesepian dan dilupakan. Aku hanya tidak ingin orang lain merasakan hal yang sama."
"Jadi Junmyeon! Bisakah kau mengantarku ke toko kue setelah kita makan malam? Aku ingin membelikan kue ulang tahun untuk Sehun."
Junmyeon terdiam sebentar lalu tersenyum, "Tentu saja."
Luhan tersenyum cerah, "Terima kasih Junmyeon!"
Luhan akhirnya memakan makanan yang ada dihadapannya dengan lahap dan menceritakan kegiatannya kepada Junmyeon yang dengan setia mendengarkannya.
.
.
"Ah aku turun disini saja!" ucap Luhan.
"Kau yakin? Aku tahu dimana Sehun tinggal, aku akan mengantarkanmu kesana."
"Tidak apa, lagipula ini sudah sangat larut. Kau harus bekerja besok kan?"
"Apakah benar kau akan baik-baik saja?" tanya Junmyeon.
Luhan mengangguk yakin, "Lagipula gedung apartemen Sehun tinggal satu blok dari sini."
"Kau tahu dimana ia tinggal?"
"Ya! Aku pernah ke apartemen Sehun untuk mengembalikan kartu kreditnya."
Luhan menengok jam tangannya dan tersentak kaget, "Oh hari ini akan segera berakhir! Aku pergi dulu ya Junmyeon! Terima kasih atas makan malamnya! Aku akan meneleponmu! Bye!"
Luhan keluar dari mobil Junmyeon dan berjalan menuju apartemen Sehun dengan cepat.
Saat ia sudah sampai didepan apartemen Sehun, ia segera menaruh lilin-lilin kecil diatas kue yang ia beli dan menyulutnya. Ia membunyikan bel apartemen Sehun berkali-kali hingga Sehun membukakan pintu untuknya.
"Happy birthday Sehun.." ucapnya sambil menyodorkan kue kehadapan Sehun.
Sehun yang masih terkejut hanya diam saja menatap Luhan.
"Hey, seharusnya sekarang kau menutup mata dan membuat permintaan! Ayolah! Tanganku sudah pegal!" gerutu Luhan.
Sehun menurut dan memejamkan matanya dan berdoa, setelah itu ia membuka mata dan meniup lilin diatas kue yang dipegang Luhan.
"Yeayy! Selamat ulang tahun Sehun!"
"Kau kesini untuk merayakan ulang tahunku?" tanya Sehun.
"Mmhhmm!"
"Bagaimana dengan makan malammu dengan Junmyeon?"
"Kami selesai makan malam tepat waktu dan aku buru-buru kesini untuk merayakan ulang tahunmu. Bagaimana? Kau tidak merasa kesepian lagi kan?"
Sehun tidak menjawab dan terus memandang Luhan.
"Sehun? apa kau tidak akan mempersilahkanku masuk?"
"Ah ya, silahkan masuk.."
Luhan masuk ke apartemen Sehun. Ia lalu duduk di sofa dimana ia pernah dipermalukan oleh Sehun sebelumnya.
Luhan memejamkan matanya. Ini bukan saat yang tepat untuk mengingat kejadian itu.
Ia membuka mata saat ia merasakan Sehun duduk disisinya.
Sehun terus menatap Luhan dan Luhan tersenyum.
"Sehun ak-" kalimat Luhan terhenti saat Sehun mencium bibirnya. Ia memejamkan mata saat Sehun mulai melumat bibirnya. Tangan Sehun menangkup pipinya sambil mendorong tubuh Luhan hingga berbaring disofa.
"Luhan," bisik Sehun sambil menatap Luhan, "Setelah ini, jangan harap aku akan melepaskanmu."
Sehun kembali mencium bibirnya dengan ganas, dan Luhan membalas ciuman itu sambil melingkarkan tangannya dileher Sehun.
"Halo Junmyeon?"
"Hai Luhan, Apa kau sudah kembali ke apartemenmu?"
"Ya aku baru saja sampai! Terima kasih untuk semuanya Junmyeon, kau yang terbaik."
"Sama-sama Luhan. Aku akan meneleponmu besok oke? Bye."
Junmyeon memasukan ponsel ke sakunya dan kembali memencet bel di hadapannya.
Sehun membuka pintu. Ia tersenyum angkuh ketika melihat sang kakak sudah berdiri didepan apartemennya.
"Wow Hyung, jarang sekali kau mengunjungiku tengah malam begini? Ada apa?" tanya Sehun sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.
Junmyeon memutar bola matanya jengkel dan mendorong tubuh Sehun keras untuk masuk kedalam apartemen Sehun.
"Ada apa Hyung? Sepertinya moodmu sedang tidak baik.."
"Sehun,Apa kau mengganggu Luhan?"
Sehun duduk di sofa dihadapan Junmyeon dan tertawa, "Kenapa kau berpikir seperti itu Hyung? Mana mungkin aku mengganggu Luhan. Luhan milikmu."
Junmyeon mengepalkan tangannya erat, "Karena ia milikku,Sehun, itu menjadi alasan utama kenapa kau mengganggu dia."
"Kenapa kau berpikir serendah itu kepada adikmu sendiri Hyung?" tanya Sehun sambil menyilangkan kakinya.
"Apa yang kau rencanakan sekarang Sehun?"
"Tidak ada,hyung. Tenang saja."
Junmyeon mendecih, "Oh Benarkah? Lalu kenapa kau terus mendekati Luhan? Bahkan kau mengatakan padanya kalau hari ini kau ulang tahun hanya untuk mendapat perhatiannya."
"Cih ulang tahun? Seingatku ulang tahunmu masih beberapa bulan lagi."
"Wow, kau mengingatnya?"
"Tentu saja aku ini kakakmu."
Sehun tertawa, "Kakak macam apa yang selalu ingin melihat adiknya menderita?"
Junmyeon tidak menjawab.
"Kau mempunyai segalanya hyung, untuk apa kau memiliki Luhan? Jika akhirnya kau akan menyakitinya. Bukankah akhirnya akan selalu seperti itu Hyung? Akan ada yang tersakiti karena keegoisanmu."
Junmyeon yang sudah kehilangan kesabarannya menghampiri Sehun dan mencengkeram kerah bajunya.
"Jaga ucapanmu Sehun!"
Sehun menyeringai, "Kalau tidak? Apa kau akan memukulku? Dan menyalahkan semuanya kepadaku seperti dulu? Benar-benar pecundang."
Junmyeon mengepalkan tangannya erat.
"Anyway hyung,tenang saja aku tidak akan merebut Luhan darimu." Ucap Sehun sambil melepaskan tangan Junmyeon dari kerah bajunya.
Sehun lalu mendekatkan wajahnya dan menatap Junmyeon tajam, "Karena Luhan sendiri yang akan berlari kepadaku dan menyerahkan dirinya padaku."
TBC
SUMPAH JANJI ADEGAN SMUTNYA BAKAL ADA DI CHAPTER DEPAN TvT
Aku juga bakal berusaha buat update lebih cepat hehehehe...
Maaf karena humor gagal, typo, salah penulisan kata, dan EYD yang kurang bagus..
Menulis tidak semudah nyanyiin lagu SFY,
THE WAY YOOUU CRRYYY
Oke,cukup.
Selamat membaca guys!
Jangan lupa dukung lagu SFY sama FF ini ya!
THE WAY YOUU CRRYYY
OK,AKU BAKAL BERHENTI NYANYI!
Jangan lupa dukung FF2 author lainnya juga!
THE WAY YOU C- /Disumpel kaos kaki sehun/
