Madara Reborn

DISCLAIMER : Masashi K. I do not own Naruto

WARNING : Fanon, OOC, Typo(?), Gaje, Abal, No EYD, dsb.

.

.

.

.

.

.

Just enjoy the story ^.^

Don't Like? Don't Read.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 1

Seumur hidup tak pernah ada satu orang pun yang mampu membuatnya merasa takut. Ia terbiasa menghadapi situasi antara hidup dan mati dalam peperangan. Ia sudah terbiasa melihat pedang mengacung tepat dihadapannya, karenanya ia terbiasa dengan situasi seperti ini. Berada dalam terotorial musuh, menurutnya.

"Terus terang kami terkejut melihatmu hidup kembali Madara."

Madara hanya mendengus kecil mendengar ucapan salah satu pimpinan anggota aliansi. Ia duduk dengan tenang dihadapkan dengan kelima kage dan tetua Konoha yang siap berargumentasi dengannya. Sejak hokage mendengar jika Madara telah sadar dari komanya, ia sepakat memberitahukan pada kelima Negara aliansi meski perang sudah selesai, tetapi demi keamanan bersama selaku hokage ke enam – Hatake Kakashi – merasa perlu mendiskusikan ini. Apalagi Madara adalah penyebab terjadinya perang dunia.

"Lebih mengejutkan lagi karena kalian semua membiarkanku hidup." Timpal Madara, "Aku jadi penasaran apa alasan kalian mempertahankanku?"

"Karena rasa kemanusiaan. Aku sendiri tidak berniat membalas dendam meski kau sudah memanfaatkan temanku dan menyebabkan semua kekacauan ini." Kakashi angkat bicara. Ia kembali teringat pada pengakuan Madara jika dia hanya memanfaatkan Obito untuk melancarkan rencananya. "Karena balas dendam tidak akan membuatku atau kami menjadi lebih baik."

Madara mendenguskan tawa. "Naif sekali"

Putra sulung Uchiha Tajima itu tidak mengerti dengan pemikiran orang Konoha yang begitu naïf. Memaafkan dengan mudah perbuatannya yang nyaris menghancurkan dunia dengan merawatnya hingga mendapat kesempatan hidup kembali, bukan sebagai edo tensei tapi manusia seutuhnya. Terlebih ia kembali lagi menjadi warga Konoha.

"Kami tidak berharap banyak darimu, hanya satu." Kakashi mengangkat jari telunjuknya, "Jangan mengulangi lagi kesalahanmu."

Madara hanya menanggapi dengan tatapan datar.

Kakashi menghela napas. "Dan soal tempat tinggalmu, Aku sudah-"

"Jangan mencoba mengaturku!" hardik Madara, raut wajahnya mulai terlihat kesal. Lagi-lagi masalah yang sama. Ia benci diatur seolah ia adalah pesuruh yang hanya akan melakukan apa yang diperintahkan. Jangan mencoba mengatur seorang Uchiha Madara jika tidak ingin sejarah kelam terulang kembali.

"Madara jangan bertindak seenaknya!" Raikage yang memang dasarnya emosian langsung menggebrak meja. Dalam sekejap atmosfir dalam ruang rapat itu berubah menjadi menegangkan.

"Raikage-sama tenanglah…" Kakashi mencoba menengahi, "Aku hanya mencoba membuatmu nyaman tinggal di Konoha."

"Kompleks Uchiha." Semuanya atensi beralih pada Madara, "Aku akan tinggal di sana."

Sebelum ke gedung Hokage, Madara dengan 4 anbu sebagai pengawalnya berjalan dari rumah sakit menuju ke gedung hokage sempat melewati kompleks Uchiha dipinggiran desa. Dugaannya dulu sebelum pergi meninggalkan Konoha benar terjadi. Diskriminasi desa. Bahkan klan terhormat seperti Uchiha dijauhkan dari pusat desa.

"Madara apa kau merencanakan sesuatu? Kau pikir kami bisa percaya begitu saja?" Ohnoki angkat bicara.

Madara menyeringai."Aku tidak butuh kepercayaan kalian."

"Kau!" Raikage kembali geram dan sudah bersiap untuk meremukkan tulang-tulang Madara.

"Aku rasa tidak ada yang perlu dipermasalahkan dengan permintaannya. Dia hanya menginginkan tinggal dikompleks Uchiha kan?" ucap Gaara, "Ini hanya soal tempat, kita masih bisa mengawasinya dengan mudah selama dia masih tinggal di Konoha."

Keputusan bijak Gaara membuat semuanya tersadar jika mereka terlalu fokus pada pengawasan Madara hingga lupa jika permintaannya tidak terlalu memberatkan.

.

.

.

.

Pria berumur satu abad itu memandang kosong pemandangan mengenaskan kompleks perumahan tak terurus. Rumah – rumah yang nyaris rusak menjadi pemandangan di segala arah. Lelaki itu – Uchiha Madara – merasa iba membayangkan klannya yang terhormat harus berakhir mengenaskan seperti ini. Tempat ini layaknya tempat yang terkutuk dan terlihat sangat menyeramkan.

"Apa kalian akan terus mengikutiku begitu?" keluh Madara sambil melirik dua anbu yang berjalan dibelakangnya melalui ekor matanya.

"Ini perintah Hokage-sama." Jawab keduanya kompak.

Madara berbalik lalu bersidekap. "Dia meminta kalian mengawasiku sampai gerbang kompleks Uchiha. Dan sekarang untuk apa lagi kalian mengikutiku?"

Kedua Anbu itu saling berpandangan bingung.

"Kalian takut jika aku kabur dari sini?" Madara tertawa sinis, "Kalau kalian memang seorang Anbu, kalian pasti tahu mengenai segel yang melindungi Konoha kan? Mereka bisa dengan mudah mendeteksi shinobi yang masuk dan keluar."

"Baiklah. Kami akan pergi sekarang." Putus salah satu Anbu. Mereka pun meninggalkan Madara sendiri.

Madara kembali melanjutkan langkah mencari rumah yang sekiranya masih layak untuk ia jadikan tempat tinggal. Sampai akhirnya ia menemukan satu rumah yang cukup besar dan bangunannya masih berdiri kokoh meski mungkin ada sedikit kerusakan di sana – sini, tapi setidaknya tidak akan menyulitkannya dalam memperbaikinya.

SREK

Tanpa mengucap salam tentunya, Madara memasuki rumah yang dipilihnya. Ia mengedarkan pandangnnya pada dinding – dinding kusam dan lubang – lubang kecil yang ada di atap. Ia sedikit berjengit ketika mendapati satu foto yang terpajang di salah satu sisi dinding ruang tamu.

"Jadi rumah ini milik teman bocah rubah itu rupanya…"

.

.

.

.

"Eeeehhh?! Yang benar saja Tsunade-sama! Sudah cukup aku berurusan dengannya."

Suara teriakan dari gadis cantik bersurai merah jambu itu menggema di ruangan kepala rumah sakit Konoha. bukan tanpa alasan gadis bernama Sakura itu berteriak lantang pada guru yang dihormatinya.

"Ini perintah Hokage, bukan aku yang memutuskan." Sahut Tsunade tak kalah kesal. Ia sendiri tak mengerti jalan pikiran Hokage keenam itu meminta Sakura tetap mengawasi Uchiha Madara.

"Baiklah, biar aku sendiri yang mengajukan protes pada Kakashi-sensei!" Sakura sudah bersiap pergi meninggalkan ruangan dengan nafas menggebu karena menahan emosi.

"Sudah terlambat!" sergah Sang cucu hokage pertama, Langkah Sakura pun terhenti seketika, "Kakashi tidak ada di Konoha satu minggu ke depan."

Sakura menggeram frustasi. "Aku tidak mengerti kenapa Kakashi-sensei memberiku tugas ini? Bukankah Madara sudah baik-baik saja?"

Tsunade menggeleng kuat. "Tidak. Meski dia terlihat sehat, tapi dia tidak bisa menggunakan chakra-nya. Karena itu Kakashi memintamu memantau kesehatannya."

"Kalau dia menolak bagaimana? Atau lebih parahnya lagi dia akan menebas leherku karena menganggap aku pengganggu?" Terka Sakura dengan nada dramatis.

Tsunade memijat pelipisnya. "Kalau dia berani melakukan itu, hokage sendiri yang akan turun tangan memutilasinya. Dan…ah…jangan lupakan aku dan Naruto yang sudah pasti ikut membantu."

Sakura terkekeh mendengar jawaban mantan guru medisnya ini. Lagipula jika Madara berusaha membunuhnya tentu dia sendiri tidak akan tinggal diam. Ia bukan lagi gadis lemah yang menunggu bantuan dari orang lain, selama ia bisa mengandalkan diri sendiri kenapa harus bergantung pada orang lain?

Sakura menghela napas pasrah. Dia menyerah. "Baiklah, lalu dimana sekarang dia tinggal?"

Tsunade mengusap-usap dagu."Hm…dari yang kudengar dia minta tinggal di kompleks Uchiha. Disana ada Anbu yang ditugaskan khusus mengawasi Madara, kau bisa bertanya pada mereka."

Raut wajah Sakura berubah seketika mendengar nama klan terpandang itu disebut. Bayangan lelaki yang dicintainya kembali menari-nari dibenaknya. Kalau begini bagaimana caranya dia melupakan Sasuke?

"Sakura-san?" sapa salah satu Anbu yang berada di menara pengawas kompleks Uchiha, membuyarkan lamunan panjangnya. "Apa yang sedang kau lakukan di sekitar sini?"

"Ah…maaf mengganggu. Aku diperintahkan Kaka eh…maksudku Rokudaime-sama untuk melakukan pemeriksaan rutin pada Madara." Sakura menyerahkan surat perintah yang di stempel resmi oleh Kakashi.

Anbu itu membacanya dengan seksama, lalu memberitahukan Sakura rumah dimana Madara tinggal. Sakura tidak bisa menahan ekspresi keterkejutannya mendengar ucapan Anbu itu.

Di sinilah sekarang gadis Haruno itu berdiri. Di depan rumah yang dulunya milik kepala klan Uchiha, yang tak lain adalah Uchiha Fugaku – ayah Sasuke. Dengan tatapan kosong Sakura menatap rumah yang mulai ditumbuhi rumput tinggi. Dengan menarik napas panjang Sakura memberanikan diri mengetuk pintu. Dahinya mengernyit ketika tak mendapati orang yang membuka pintunya.

"Permisi…" Sakura menggeser pintu utama yang ternyata tidak terkunci.

Baru saja Sakura akan mengulangi panggilannya ia mendengar suara palu yang beradu dengan kayu. Sakura yakin ada orang yang sedang memperbaiki rumah ini. Tapi apa mungkin Madara mau melakukannya?

Sakura menggeram dalam hati karena sedari tadi panggilannya untuk Madara tak mendapat sahutan. Sebenarnya ada dimana leluhur klan Uchiha itu?

"Aku benar-benar akan marah saat Kakashi-sensei kembali KYAAA?!"

Seekor laba-laba yang cukup besar merambat di kaki Sakura hingga membuatnya nyaris terjatuh saat berusaha menyingkirkannya, seandainya ia tidak berpegangan pada salah satu tiang penyangga rumah. Sialnya, penyangga yang menjadi pegangan Sakura tidak cukup kuat menopang tubuhnya dan runtuh begitu saja.

BRAK!

Terlambat sudah menghindari reruntuhan atap ruang dapur, ditambah lagi pergelangan kaki kirinya yang terkilir. Sakura hanya sanggup memejamkan mata dan melindungi kepalanya dengan kedua lengannya. Ia mengernyit setelah beberapa saat tidak merasakan sakit akibat reruntuhan atap itu.

"Ck! Dasar ninja medis bodoh."

Sakura langsung membuka kedua mata mendengar cibiran pedas itu. Ia membelalak mendapati Uchiha Madara berada di atas tubuhnya, pelipisnya sampai berdarah karena melindungi Sakura.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Ini tiap chapternya memang aku buat pendek-pendek biar updatenya ngga terlalu lama :D jadi jangan keluhkan wordnya ya? Hehehe….

Thanks for review : FelsonSpitfire, Serizawa Natsu, Zuu, Libra, Farid, Angelafiction, Shin Meris, Nuel Zoe98.

Makasih juga yang udah follow, fav, juga para silent rider yang udah baca fic abal ku ini. Sampai jumpa di chapter berikutnya