Disclaimer: Katekyo Hitman Reborn adalah milik Amano Akira. Penulis tidak mengambil keuntungan material dalam penulisan fanfik ini

Warning: AU, Slash, OOC, OC, Character death, twin!fic, typo, etc

Rating: T

Pairing: 1827, past!AG

Genre: Romance, Adventure, Hurt/Comfort


TALE OF AN ANCIENT SKY

By

Sky


"Kau itu adalah anak yang sungguh beruntung, Tsunayoshi-kun," ujar seorang pria paruh baya yang mengenakan jaket berwarna putih dengan stetoskop berada di lehernya. Pria itu adalah seorang dokter yang kini tengah memeriksa kondisi pasiennya yang tengah berbaring di atas tempat tidur rumah sakit. "Tidak banyak dari pasien yang mengalami koma selama bertahun-tahun bisa bangun kembali dengan kondisi yang membaik seperti ini. Kau benar-benar beruntung."

Sang Pasien yang bernama Tsunayoshi itu hanya memejamkan kedua matanya dan membiarkan dokter tersebut memeriksa keadaannya, seorang perawat yang menemani dokter itu pun juga bertindak cepat dengan mengganti alat infusnya serta melepas respirator yang membantunya bernapas sejak beberapa hari yang lalu ketika ia terbangun dari tidur panjangnya. Kini ia sudah bisa bernapas dengan baik tanpa perlu menggunakan alat bantu tersebut.

"Kurasa aku bisa mengatakan kalau kondisimu sudah mulai membaik, bahkan keadaan yang seharusnya kau bawa sejak kau masih bayi pun menghilang sedikit demi sedikit. Hal ini adalah sebuah keajaiban yang belum pernah aku lihat dan dengar sebelumnya," kata dokter itu lagi. Ia pun selesai memeriksa pasiennya dan kini memberikan anggukan singkat kepada Tsunayoshi. "Melihat kondisimu yang semakin membaik, dalam waktu dekat ini kau bisa segera pulang ke rumah, Tsunayoshi. Tapi kusarankan kau harus menjalani rehabilitasi untuk membantu motoritas tubuhmu dan kau tidak boleh melakukan aktivitas yang berat. Lakukan secara ringan saja, aku ingin kau segera membaik."

Seorang wanita berambut cokelat pendek yang berdiri tidak jauh dari sosok dokter dan perawat yang tengah menangani Tsunayoshi itu pun terlihat sangat khawatir, ekspresinya mengisyaratkan ketidakpercayaan serta kebahagiaan yang terpancar di sana. Wanita itu bernama Sawada Nana, Ibu dari Sawada Tsunayoshi yang kini tengah menemani sang putera ketika Tsunayoshi menjalani seraingkaian pemeriksaan dari dokter yang sudah menanganinya sejak ia masuk ke dalam rumah sakit ini enam tahun yang lalu.

Dua hari yang lalu ketika Nana tengah berbincang dengan Bianchi di dalam dapur serta mengawasi Ipin dan Lambo, ia mendapat telepon dari rumah sakit Namimori. Telepon itu memberitahu kalau putera pertamanya yang bernama Sawada Tsunayoshi akhirnya siuman dari tidur panjangnya. Awalnya Nana tidak percaya akan apa yang ia dengar, rasanya seperti mimpi saja mendengar sebuah berita kalau Tsunayoshi pada akhirnya siuman setelah tidak sadarkan diri lebih dari enam tahun lamanya, dan dengan suara yang bergetar serta air mata yang berlinangan ia pun bertanya kembali untuk mengkonfirmasi apakah yang mereka beritahukan kepadanya itu adalah benar. Dan setelah Nana mendapatkan konfirmasi, tanpa memberitahukan siapapun serta memerintahkan Bianchi untuk menjaga rumah serta anak-anak, ia pun langsung bergegas menuju ke rumah sakit Namimori dimana Tsunayoshi dirawat, dan sesampainya ia tiba Nana pun langsung berlari menuju ruangan tempat dimana Tsunayoshi dirawat.

Seperti ia terbangung dari sebuah mimpi buruk yang panjang, Nana tak mampu membendung air matanya ketika ia melihat sosok remaja berusia 13 tahun yang mengenakan piyama berwarna hijau muda tengah duduk di atas tempat tidur rumah sakit dengan beberapa alat kesehatan menempel pada tubuhnya. Tsunayoshi terlihat begitu kurus dan pucat, namun ia juga terlihat bercahaya dengan helaian rambut berwarna cokelat yang berantakan serta kedua mata hazelnya yang terlihat kalem tersebut menatap ke arah pemandangan luar di balik kaca jendela rumah sakit. Namun, semua itu tidak sebanding ketika Tsunayoshi menoleh ke arah Nana dan memberikan sebuah senyuman lembut yang begitu menenangkan. Layaknya sebuah boneka yang talinya putus, Nana pun langsung berlari masuk ke dalam sebelum memeluk Tsunayoshi dengan erat, dan tak henti-hentinya ia pun menangis seraya menggumamkan "Tsu-kun" berulang-ulang. Ia takut kalau Tsunayoshi akan kembali meninggalkannya ketika ia sudah berada di sini, dan hati Nana pun semakin merasa lega karena Tsunayoshi balik memeluknya meski pelukan remaja laki-laki itu tidak sekuat seperti milik Nana.

"Aku kembali, Okaa-san," gumam Tsunayoshi pada waktu itu, mencoba untuk menenangkan Nana yang masih histeris dalam pelukannya. Dan Tsunayoshi yang mendapati hal itu pun hanya bisa tersenyum pasrah seraya menenangkan sosok sang Ibu dari kondisi histerisnya meski hal itu sedikit sulit untuk dilakukannya.

Dua hari setelahnya Nana tak henti-hentinya menjenguk Tsunayoshi, ingin terus berada di samping putera pertamanya dan meyakinkan dirinya kalau semua ini bukanlah mimpi. Betapa bahagianya Nana ketika ia mendengar dokter yang merawat Tsunayoshi sudah memberikan izin kalau sebentar lagi Tsunayoshi bisa pulang ke rumah, ia akan memberitahukan kabar gembira ini kepada Iemitsu. Suaminya itu pasti sangat senang mendengar kabar kalau putera mereka pada akhirnya siuman setelah koma selama enam tahun. Selain Iemitsu, ia juga akan memberitahu Natsumi dan yang lainnya. Natsumi berhak tahu kalau kakak kembarnya sudah siuman, Nana rasa Natsumi akan merasa senang bila ia tahu berita ini. Nana merasa sedikit bersalah karena tidak memberitahu Natsumi dan yang lainnya kalau Tsunayoshi sudah bangun, dan tidak lama lagi Tsunayoshi akan kembali bergabung dengan keluarga mereka.

Suara desahan kecil dari putera pertamanya itu membuyarkan lamunan Nana dan membuatnya kembali menatap sosok Tsunayoshi, yang kali ini balas menatapnya dengan kekhawatiran yang tercetak di kedua mata hazelnya.

"Okaa-san, apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Tsunayoshi, remaja itu pun berusaha untuk pindah posisi menjadi duduk dengan beberapa bantal menjadi penopang punggungnya.

"Semuanya baik-baik saja, Tsu-kun," jawab Nana seraya menghampiri Tsunayoshi dan membelai rambut kecoklatan milik puteranya tersebut. Nana pun kini menatap sosok dokter yang masih sibuk memeriksa kondisi Tsunayoshi. "Bagaimana dengan kondisi Tsu-kun sekarang, dokter? Kira-kira kapan dia bisa pulang ke rumah?"

Dokter Futaba, nama dokter yang sejak enam tahun lalu merawat serta memonitor kondisi dari Tsunayoshi pun memberikan senyum kecil kepada Nana. Dokter Futaba sudah mengenal Nana selama bertahun-tahu lamanya, wanita muda itu tidak pernah absen dalam menjenguk Tsunayoshi meskipun kondisi remaja itu bisa dikatakan tidak stabil dan membutuhkan bantuan medis, bahkan mereka semua pun tak pernah menduga kalau Tsunayoshi akan bangun lagi setelah enam tahun berada dalam masa komanya. Hanya sebuah keajaiban yang bisa menyembuhkan kondisi Tsunayoshi, dan mereka semua pun menyaksikan hal itu benar adanya secara langsung, Tsunayoshi terbangung dengan kondisi tubuh lemahnya berangsur-angsur membaik. Dokter Futaba merasa senang karena itu, ia berharap Tsunayoshi bisa segera sembuh dan tidak lagi masuk ke rumah sakit, Tsunayoshi itu adalah anak yang malang namun juga beruntung pada saat yang sama.

"Kondisi Tsunayoshi sudah membaik. Imunitas yang Tsunayoshi miliki juga sudah menguat, kami telah memantaunya selama dua hari setelah Tsunayoshi terbangun dari koma. Aku rasa dalam waktu yang tidak lama lagi Tsunayohi akan bisa pulang ke rumah, Sawada-san. Semua ini adalah sebuah keajaiban, Tsunayoshi memang anak yang beruntung," jawab Dokter Futaba, senyuman kecil pun bertengger di bibirnya.

"Syukurlah kalau begitu, aku harap Tsu-kun bisa sehat kembali," ujar Nana. Wanita itu menghela napas lega, ia terlihat seperti orang yang beban beratnya menghilang dari kedua punggung kecilnya.

"Tenang saja, Sawada-san, kalau kondisi Tsunayoshi semakin membaik seperti sekarang ini, aku rasa kita tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi," Dokter Futaba pun menoleh ke arah Tsunayoshi yang balik menatapnya dengan kalem. Sosok remaja itu benar-benar terlihat tenang dan juga dewasa dari anak-anak seusia dengannya, apa mungkin tidur panjang yang Tsunayoshi alami selama enam tahun itu membuat mentalnya semakin dewasa? Rasanya sulit untuk dipercaya. "Kami sudah selesai melakukan pemeriksaan. Kalau begitu kami akan meninggalkanmu dan Tsunayoshi sendiri. Selamat siang, Sawada-san, Tsunayoshi."

Setelah mengucapkan salam kepada pasien dan Ibu pasiennya itu, Dokter Futaba beserta perawat yang menemaninya tersebut langsung keluar dari dalam kamar milik Tsunayoshi, dan Nana pun mengucapkan terima kasih sekali lagi sebelum ia menoleh ke arah Tsunayoshi.

Sebuah senyum kecil namun terlihat penuh keibuan itu pun tersemat di bibir Nana, "Bagaimana kabarmu hari ini, Tsu-kun? Apa kau sudah merasa baikan?" Tanya Nana dengan ceria, ia pun meletakkan sebuah keranjang buah yang sedari tadi ia bawa ke meja nakas di samping tempat tidur Tsunayoshi, tidak lupa ia pun mengganti bunga yang ada di dalam vas di sana. Kali ini bunga yang Nana bawa adalah bunga lili berwarna putih.

"Aku sudah merasa baikan, Okaa-san, terima kasih sudah bertanya," jawab Tsunayoshi dengan kalem namun dengan senyum lembut masih terpatri di bibirnya. Kedua mata hazel milik Tsunayoshi terus mengikuti sosok Nana yang masih sibuk mengganti bunga lama di dalam vas dengan bunga lili yang tadi ia beli ketika berjalan ke rumah sakit in. "Aku merasa sangat senang Okaa-san mengunjungiku setiap hari. Rasanya aku beruntung sekali karena memiliki Okaa-san yang begitu peduli denganku."

Apa yang Tsunayoshi katakan tersebut membuat Nana menghentikan aktivitasnya sebelum ia menoleh ke arah Tsunayoshi, yang kala itu masih setia melihat sosok Nana dengan senyum lembut yang ada di bibirnya. Nana tidak tahu harus mengucapkan apa, namun ekspresi yang terbentang pada wajah Tsunayoshi tersebut membuat wanita muda itu mau tidak mau menitikkan air matanya kembali, mereka terlihat begitu sedih dan seperti ia tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang orangtua di dekat mereka. Nana tidak ingin melihat ekspresi sayu di balik ketenangan yang ada di wajah Tsunayoshi, seharusnya Tsunayoshi memiliki ekspresi ceria dan juga penuh akan kebahagiaan, bukannya seperti ini. Dan untuk menghapus ekspresi itu pun Nana beranjak dari tempatnya berdiri sebelum ia memeluk sosok Tsunayoshi dengan lembut, membuat remaja bertubuh mungil dan juga rapuh tersebut membenamkan wajahnya pada leher Nana. Nana ingin Tsunayoshi tahu kalau ia mendapatkan perhatian serta cinta kasih dari dirinya, dan Nana juga ingin Tsunayoshi tahu kalau ia tidak sendirian di sini.

"Tsu-kun, Okaa-san akan selalu peduli kepadamu meski Tsu-kun tidak bisa membuka kedua matanya lagi. Tsu-kun adalah bagian dari Okaa-san dan Okaa-san tidak akan pernah meninggalkan Tsu-kun sendirian," gumam Nana dengan lembut, tak jarang ia pun membelai rambut kecokelatan milik puteranya. "Okaa-san senang sekali karena Tsu-kun bisa bangun sekarang ini, dan kebahagiaan Okaa-san akan semakin lengkap kalau Tsu-kun mau tersenyum dan merasa bahagia untuk Okaa-san."

Tsunayoshi yang masih memeluk sosok Nana pun menghela napas pelan, tapi remaja itu tidak melepaskan pelukan sang Ibu. Tatapannya yang terlihat sedikit sayu pun kini mulai memancarkan sedikit kebahagiaan, merasa tenang karena mampu merasakan kehangatan sang Ibu yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Selama hidupnya menjadi seorang Giotto di Vongola, Tsunayoshi tidak pernah merasakan apa itu yang namanya kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya, dan ini adalah kali pertama ia merasakannya. Ia merasa kalau Tsunayoshi memang anak yang sangat beruntung, ia masih memiliki seorang Ibu yang begitu setiap menunggunya dan memberikan kasih sayang kepada Tsunayoshi meski remaja itu tergolek di atas tempat tidur serta tak mampu untuk membuka matanya.

Mungkin yang Sepira katakan itu memang benar, Tsunayoshi harus hidup dengan bahagia dalam kehidupan kedua yang mereka berikan kepadanya. Dan mendapatkan seorang Ibu yang benar-benar mencintainya seperti ini membuat hati Tsunayoshi merasa hangat, rasanya ia tidak ingin beralih dari kehangatan ini.

"Terima kasih, Okaa-san," ujar Tsunayoshi dengan lembut, perlahan ia pun mengendurkan pelukannya dari sosok sang Ibu sebelum pada akhirnya ia melepaskan pelukan itu. "Aku merasa beruntung sekali memiliki Okaa-san sebagai Ibu."

"Tsu-kun..."

Tsunayoshi tersenyum kecil lagi ketika mendapati semburat merah muncul di kedua pipi milik Nana. Apa yang Tsunayoshi katakan itu adalah benar, ia merasa senang karena memiliki Nana sebagai seorang Ibu, dan ia pun akan mulai beradaptasi dengan kehidupan seorang Sawada Tsunayoshi karena sekarang ini ia adalah Sawada Tsunayoshi.

Mereka berdua pun bercakap-cakap untuk beberapa saat lamanya, seperti Nana yang bercerita akan apa saja yang terjadi selama enam tahun terakhir ini. Nana bercerita kalau Iemitsu –Ayah Tsunayoshi dan Natsumi– adalah seorang pekerja proyek yang begitu super. Dalam benak Tsunayoshi, ia bisa membayangkan sosok seorang laki-laki bertubuh kekar yang begitu konyol dengan rambut berwarna pirang. Iemitsu adalah Ayah dari Sawada Tsunayoshi dan Sawada Natsumi yang tidak pernah pulang ke rumah karena sibuk bekerja di luar negeri, di sini Tsunayoshi memiliki sedikit kecurigaan mengenai sosok pria yang bernama Sawada Iemitsu itu, namun Tsunayoshi menyimpan kecurigaannya itu untuk nanti karena sekarang ini Nana kembali bercerita.

"Tsu-kun, kau harus bertemu dengan Na-chan nanti. Kau masih ingat dengan Na-chan 'kan? Dia adalah adik perempuan kembarmu, kalian berbeda lima menit," kata Nana dengan ceria, wanita itu mengambil tempat duduk di samping tempat tidur Tsunayoshi dan kembali meneruskan ceritanya. "Na-chan adalah murid kelas satu di SMP Namimori. Okaa-san merasa begitu bangga pada Na-chan karena ia adalah murid yang begitu berprestasi, ia selalu menjadi juara kelas dan sekarang ini berada dalam dewan siswa. Okaa-san belum memberitahu Na-chan kalau Tsu-kun sudah bangun dari komanya, mungkin Okaa-san akan memberitahu Na-chan mengenai Tsu-kun melihat Na-chan ada di rumah sakit ini."

Memiliki ide kalau Tsunayoshi bisa hidup lagi setelah mati adalah hal yang cukup luar biasa, namun mendapatkan bayangan kalau ia memiliki keluarga dan juga bukan merupakan anak tunggal adalah hal yang membuat perhatian Tsunayoshi tersita. Tsunayoshi tidak pernah membayangkan kalau ia memiliki seorang saudara di sini, apalagi saudara yang dimaksud adalah saudara kembar yang dilahirkan bersamaan dengan dirinya. Dari ingatan Tsunayoshi terdahulu, ia bisa melihat sosok seorang gadis kecil berambut kecoklatan yang selalu diikat dua dan memegang sebuah boneka beruang teddy. Gadis kecil dalam benak Tsunayoshi itu selalu mengekor pada sosok Tsunayoshi kecil, ia cengeng dan tidak ingin lepas dari sosok Tsunayoshi meski itu dalam waktu tidur sekali pun. Bibir Tsunayoshi membentuk sebuah senyuman kecil ketika ia membayangkan hal itu. Sosok gadis kecil yang Tsunayoshi lihat tidak lain adalah sosok kecil dari Sawada Natsumi, yang kata Nana merupakan saudara kembarnya, Tsunayoshi pun menerka-nerka seperti apa sosok Natsumi sekarang ini. Apakah ia masih menjadi sosok yang cengeng dan takut akan bayangannya sendiri serta selalu mengekor pada Tsunayoshi, atau mungkin sosok kecil itu sudah berubah menjadi seorang remaja perempuan yang kini penuh akan kepercayaan diri? Apapun itu, Tsunayoshi yakin kalau mereka berdua nantinya akan bertemu, melihat Tsunayoshi dan Natsumi itu akan tinggal di bawah atap yang sama.

Dari Nana, Tsunayoshi juga mengetahui kalau sekarang mereka juga tinggal dengan empat orang lainnya. Bianchi yang merupakan gadis dari Italia, Lambo yang masih berusia lima tahun dan sangat hiperaktif, Ipin yang begitu menggemaskan meski sedikit kesusahan untuk berbahasa Jepang, dan juga Reborn yang merupakan guru dari Natsumi. Keempat orang yang tinggal bersama keluarga Sawada ini terdengar cukup menarik, Tsunayoshi jadi tidak sabar untuk bertemu dengan mereka nanti. Dan apabila intuisi Vongola yang ia miliki itu mengatakan yang benar, maka Tsunayoshi akan menemukan hal yang lebih dari kata menarik nantinya.

Semoga saja mereka tidak terlibat dengan sindikat mafia yang sudah aku tinggalkan ketika aku pindah ke Jepang, pikir Tsunayoshi.

Teringat kalau Nana mengatakan Natsumi ada di rumah sakit ini, Tsunayoshi pun merasa penasaran akan apa yang terjadi, untuk itu ia pun bertanya kepada Nana.

"Ah, Na-chan mengalami sedikit kecelakaan ketika berkemah di gunung dengan teman-temannya. Kakinya terkilir dan ia pun harus dirawat di rumah sakit, mungkin kalian berdua akan bertemu nanti," jawab Nana, ia pun beranjak dari tempat duduknya sebelum memberikan senyum kecil kepada Tsunayoshi. "Aku harap Tsu-kun tidak keberatan ditinggal sendirian untuk sementara waktu, Okaa-san harus melihat bagaimana keadaan Na-chan sekarang ini."

"Aku tidak apa-apa, Okaa-san. Sampaikan salamku untuk Natsumi nanti," kata Tsunayoshi. Ia memberikan anggukan kecil.

"Tsu-kun benar-benar anak yang baik, Okaa-san merasa senang kau ada di sini."

Setelah Nana mengucapkan kalau ia akan kembali lagi nanti, ia pun meninggalkan Tsunayoshi di dalam kamarnya seorang diri. Sepeninggal Nana, senyum yang tadi terpatri di bibir Tsunayoshi pun kini sirna sedikit demi sedikit sampai tak berbekas sekalipun, kali ini ia hanya memiliki ekspresi sayu di wajahnya yang mengatakan kalau ia benar-benar merasa lelah dengan situasinya sekarang ini. Tsunayoshi gembira karena ia bisa hidup kembali, meski pada kenyataannya ia tidak akan lagi menjadi Giotto di Vongola seperti kehidupan sebelumnya, namun ia merasa khawatir akan masa depan yang ia miliki sekarang ini serta apa yang harus ia lakukan.

Sepira benar kalau Tsunayoshi akan memiliki hidup yang berbeda jauh dari apa yang pernah ia alami sekarang ini. Sebagai Tsunayoshi, ia bukanlah seorang yatim piatu yang tinggal di dalam panti asuhan dan juga seorang anak yang kesepian sebelum G datang kepadanya. Di sini ia memiliki sepasang orangtua dan juga seorang saudari kembar, selain itu Tsunayoshi juga bukan seorang bos mafia yang bernama Vongola meski pada dasarnya ia tahu di dalam tubuhnya Tsunayoshi memiliki darah Giotto –dirinya yang dulu– mengalir dalam nadinya. Sawada Tsunayoshi adalah cucu buyut dari Giotto di Vongola, dan Giotto di Vongola sendiri menjadi Sawada Tsunayoshi sebagai kehidupan keduanya. Situasinya sekarang ini tidak bisa dikatakan sederhana, situasi dimana ia adalah cucu buyutnya sendiri membuat Tsunayoshi mendapatkan sakit kepala.

Remaja itu pun memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat lamanya. Sepira mengatakan kalau tubuh Tsunayoshi tidak mati karena api kehidupan menopang hidupnya meski jiwa asli pemilik tubuh ini sudah menyeberang ke dunia lain, kalau apa yang Sepira katakan benar mengenai api kehidupan mereka mampu berharmonisasi dengan baik maka itu artinya Tsunayoshi memiliki kekuatan api kehidupan baik itu sebagai Giotto di Vongola maupun Sawada Tsunayoshi. Meski Tsunayoshi ingin sekali melihat apakah teori itu benar, ia tidak bisa mempraktikannya sekarang ini melihat ia tidak pernah menggunakan kekuatan api kehidupan sekarang ini, dan terlebih lagi kondisi Tsunayoshi itu bisa dikatakan sangat lemah. Tsunayoshi tidak ingin mengambil risiko yang terlalu besar hanya karena ia ingin menjawab rasa penasarannya, ia tidak ingin mati konyol karena menggunakan api kehidupan sekarang ini. Namun, mengecek apakah dirinya yang sekarang ini memiliki api kehidupan seperti dulu bukan berarti ia menggunakan kekuatan api kehidupan, Tsunayoshi rasa hal itu tidak akan masalah. Mengecek saja artinya tidak akan membuat stress tubuh lemahnya, ia bisa menerima hal itu. Tsunayoshi menghiraukan intuisinya yang memberikan peringatan kalau tidak seharusnya ia melakukan itu.

Memanggil api kehidupan yang ada dalam tubuhnya, Tsunayoshi bisa merasakan rasa hangat yang begitu nyaman memeluk tubuhnya. Tubuh yang memiliki jiwanya ini adalah pengguna api kehidupan yang aktif, tidak ada segel yang mengekangnya meski Tsunayoshi merasa ada sisa-sisa segel di dalam tubuhnya. Mungkin segel yang menyegel api kehidupannya tersebut hancur karena kejadian enam tahun yang lalu, dan mengingat segel tersebut mau tidak mau Tsunayoshi merasa penasaran akan sosok seorang pria tua berpakaian hawai yang berkunjung ke rumah kediaman keluarga Sawada bersama Iemitsu. Dari ingatannya, Iemitsu mengenalkan sosok pria itu sebagai bosnya di perusahaan ia bekerja saat itu. Hanya saja, bos macam apa tidak Tsunayoshi ketahui, dan dari pengetahuannya tersebut tidak banyak orang yang mengetahui menggunakan api kehidupan. Mereka yang mampu menggunakannya biasanya berada dalam sindikat mafia Italia, dan di sana sangat jarang ada pemilik api langit yang sangat kuat sehingga mampu menyegel api kehidupan milik Tsunayoshi ketika ia masih kecil.

Intuisinya mengatakan kalau bos yang dimaksud memiliki hubungan yang sangat dekat, dan hubungan ini pun juga tidak jauh dari apa yang namanya mafia. Bila memang bos Iemitsu memiliki hubungan dengan mafia, itu artinya Iemitsu sendiri juga berada dalam kalangan yang sama. Kalau memang Iemitsu adalah seorang mafia, maka Tsunayoshi tidak akan menyalahkan pria itu untuk pergi dari kehidupan keluarganya yang ada di Jepang dalam waktu yang lama, ia melakukan itu untuk melindungi mereka. Kalau Tsunayoshi adalah sosok anak yang naif dan tidak mengetahui apapun, mungkin ia akan merasa marah kepada Iemitsu karena pria itu sudah menelantarkan keluarganya sendiri, namun Tsunayoshi pernah menjadi bos mafia terbesar ketika ia masih menjadi Vongola Primo, dan ia pun bisa mengerti alasan itu adalah hal terbaik yang diambil ketimbang membuat keluarganya berada dalam ambang bahaya.

Ketika Tsunayoshi membuka kedua matanya yang sedari tadi ia tutup, bola mata berwarna oranye yang jernih pun menggantikan warna kecoklatan yang merupakan warna mata Tsunayoshi yang asli. Remaja itu juga bisa merasakan api kehidupan berwarna oranye dengan tingkat kemurnian yang tinggi pun muncul di atas keningnya ketika ia memanggil api kehidupannya. Bila ia bisa masuk ke dalam mode ini, itu artinya Tsunayoshi masih memiliki kendali akan api kehidupannya meski ia tahu dalam tubuh serta kondisinya yang sekarang Tsunayoshi akan memiliki kesulitan untuk menggunakannya dalam bertempur. Ia hanya bisa berharap ia tidak akan menggunakannya untuk bertempur dalam waktu yang dekat, selain karena kondisinya yang masih lemah dan membutuhkan latihan, Tsunayoshi ini juga tidak menyukai kekerasan. Remaja itu tersenyum kecil saat kehangatan yang begitu familier dengan dirinya membuatnya semakin nyaman, dan ia pun menatap telapak tangan kanannya di mana ia bisa melihat api kecil berwarna senada seperti yang ada di keningnya pun muncul.

Kalau aku bisa bertemu lagi dengan Sepira, aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya karena sudah memberiku sebuah kehidupan kedua, pikir Tsunayoshi. Kedua matanya tidak henti-hentinya menatap api yang terlihat begitu indah tersebut, dan ia pun baru menghilangkan mereka semua ketika tubuhnya mulai terasa begitu lelah. Sepertinya memanggil api kehidupan dalam kondisi yang sekarang ini akan membuat kondisinya semakin memburuk, semoga saja tidur selama beberapa jam akan membuat kondisinya semakin membaik.

Tsunayoshi pun menonaktifkan HDWM-nya –Hyper Dying Will Mode– sebelum berbaring kembali di atas tempat tidurnya yang cukup nyaman. Dan setelah memejamkan kedua matanya, Tsunayoshi tidak membutuhkan waktu yang lama untuk kembali terlelap ke dalam buaian Morpheus yang sudah menunggunya sejak tadi. Sekarang ini Giotto di Vongola adalah Sawada Tsunayoshi, dan meskipun Tsunayoshi adalah Tsunayoshi, ia tidak akan melupakan identitasnya sebagai Giotto di Vongola.


AN: Terima kasih sudah mampir dan membaca fanfik ini

Author: Sky