The Death Fourth Part II

.

.

.

Main Cast : Oh Sehun , Xi Luhan, Kim Jongin, and Park Chanyeol

Main Pair : HunHan

Genre : Romance, Action, Friendship, Hurt/Comfort

Rate : T-M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

.

.

.

Pagi hari di sebuah rumah yang terletak jauh didalam hutan terlihat kembali bersih dan lebih terawat. Ya, itu semua dikarenakan keempat penghuninya telah kembali menghuni rumah kesayangan mereka dan sudah membersihkan sebagian rumah mereka hampir tiga hari berturut-turut, membuat rumah mereka terlihat layak untuk dihuni.

Dan mentari pagi pun menyinari masing-masing kamar yang menjadi tempat beristirahat paling nyaman untuk keempat pria yang masih terlelap dan bergelun dengan mimpinya masing-masing.

Adalah Luhan, pria tercantik dari ketiga pria lainnya yang membuka matanya terlebih dulu. Dia kemudian membersihkan badannya dan segera mengganti bajunya untuk mengajak ketiga prianya yang sudah kembali tinggal bersamanya untuk sarapan dan mencari udara segar bersama.

Luhan keluar dari kamarnya dan bergegas menuju kamar Sehun, keduanya memang belum tinggal sekamar lagi karena Luhan terang-terangan mengatakan masih malu karena sudah lama tak bersama Sehun. Sehun pun memaklumnya dan hanya terkekeh mendengar penuturan Luhan seminggu yang lalu.

Cklek….!

"Sehunnie.." Luhan mengernyit tak mendapati Sehun dikamarnya, padahal ini baru pukul enam pagi dan bukan kebiasaan Sehun untuk bangun sepagi ini.

Dia kemudian berjalan menuruni tangga dan menghampiri kamar Kai dan Chanyeol, dia lagi-lagi harus mengernyit menyadari kalau kedua temannya yang lain juga tidak ada dikamar mereka.

"Mereka kemana?" gumam Luhan mengangkat kedua bahunya

Guk…Guk

"Halo cantik.." Luhan dengan cepat menangkap Janggu yang berlari ke arahnya dan menciumi seluruh wajah anjingnya yang sangat lucu.

Guk..Guk…

Janggu terus menggonggong membuat Luhan mengernyit bingung "Kau ingin aku mengikutimu?" Luhan bertanya dan segera menurunkan Janggu dari pelukannya

Dan benar saja kalau anjing kecilnya itu memang meminta dirinya untuk mengikuti kemana dia pergi karena Janggu berlari namun sesekali menengok ke arah Luhan.

"Kalau ada kontes anjing pintar, aku akan mendaftarkanmu dan menjadikanku kaya raya cantik." Gumam Luhan terkekeh dan kemudian mengikuti kemana Janggu berlari.

"Sebenarnya kita mau kema-.."

Ucapan Luhan terpotong saat melihat dengan takjub dan sedikit kesal dengan pemandangan yang ada didepannya saat ini. Pemandangan dimana ada tiga orang asing yang tidak ia kenal sedang berbicara dengan masing-masing prianya. Terlihat sekali kalau ketiga pria asing yang tidak ia kenal itu ialah asisten masing-masing dari ketiga prianya.

"Mereka siapa?" Luhan memasuki ruang kerja mereka menatap orang-orang asing yang diperbolehkan masuk kerumahnya.

"Maaf Lu, kami membawa pekerjaan ke rumah. Ini mendesak."

Hanya Chanyeol yang menjawab pertanyaan Luhan sementara Sehun dan Kai tampak berbincang serius dengan asisten mereka masing-masing.

Luhan sebenarnya ingin protes, namun saat ingin membuka mulutnya dia menyadari kalau Sehun, Kai dan Chanyeol memang benar-benar sibuk dengan urusan mereka yang belum sepenuhnya mereka selesaikan. Melihat bagaimana dahi mereka mengernyit saat asisten mereka menjelaskan, cukup membuat Luhan mengerti dan memaklumi posisi ketiga pria nya yang memang belum bisa sepenuhnya meninggalkan pekerjaan yang masih menjadi tanggung jawab mereka.

Tidak seperti Luhan yang mendapat izin penuh untuk meninggalkan pekerjaan yang membebaninya, Sehun, Kai dan Chanyeol memang masih harus bergelut dengan pekerjaan mereka sebelum akhirnya benar-benar bisa fokus pada dunia mereka yang dulu.

"Hmmh…Baiklah, aku akan menunggu." Gumam Luhan kembali memeluk Janggu dan memutuskan untuk membersihkan gudang rumah mereka yang sangat berdebu dan berantakan

Dan hari itu dilalui Luhan dengan membersihkan gudang serta kamar mereka berempat, dan dalam waktu hampir sepuluh jam itu tak ada satupun dari ketiga pria nya yang mencari atau bahkan sekedar menanyakan apakah dirinya sudah makan atau belum.

Dia kemudian tersenyum pahit menyadari kalau ketiga prianya memang belum mengisi perut mereka hampir seharian ini.

Guk..Guk…

Luhan yang sedang bersandar di balkon kamarnya kembali terkekeh meladeni kedua anjing Kai yang tampaknya merasa diabaikan oleh pemiliknya.

"Kalian lagi." Gumam Luhan mengelus sayang kepala Janggu dan Monggu yang sudah duduk disamping kanan-kirinya.

"Aku rasa kalian juga merasa kami tidak sama lagi ya?" Luhan mengusak kepala Janggu dan Monggu bersamaan.

"Aku juga merasa begitu." Lirih Luhan tersenyum pahit menatap kosong ke halaman belakang yang terlihat sangat gelap.

"Lalu apa bedanya saat ini dan enam bulan yang lalu? Kami tetap berjauhan" gumamnya tak mendapat jawaban dari Janggu dan Monggu.

"Haah…~"

Luhan menghela nafasnya kasar dan membawa kedua anjingnya ke pelukannya "Aku akan memberikan nominasi teman terbaik kepada kalian." Gumamnya tertawa menciumi Janggu dan Monggu yang tampak menggeliat senang di pelukan Luhan.

"Ayo kita paksa mereka untuk makan."

Luhan pun membawa Janggu dan Monggu menemui Sehun, Kai dan Chanyeol untuk meminta ketiganya beristirahat sejenak dan memakan makan malam mereka.

"Sehunnie..!"

Sehun menoleh sekilas dan tersenyum mendapati Luhan berjalan mendekati dirinya dengan kedua anjing Kai berada di pelukannya.

"Ayo kita makan. Aku lapar." Gerutu Luhan duduk disamping Sehun yang masih sibuk dengan laptop dan dokumennya.

"Sebentar lagi ya." Sehun berusaha sebisa mungkin menjawab Luhan, namun Luhan tahu benar kalau kekasihnya itu sedang tidak fokus.

"Kai..!"

Luhan mencoba memanggil Kai, namun Kai hanya tersenyum dan kembali fokus pada pekerjaannya begitu pula dengan Chanyeol yang memandangnya menyesal meminta maaf karena juga tak bisa meladeni kemauan Luhan dengan cepat.

Luhan mengepalkan tangannya tanda ia sudah kesal, namun dia masih menahan diri untuk tidak berteriak dan membentak ketiga pria nya.

Pelukannya di kedua anjing Kai mengerat membuat kedua anjing lucu itu menggonggong tertahan karena Luhan hampir mencekik mereka.

"Baiklah kita carikan kalian beberapa makanan." Gumam Luhan dan berjalan meninggalkan ruang kerja ketiga prianya dengan rasa kesal yang benar-benar ia tahan.

Luhan kemudian mengambil kunci mobil milik Kai yang tergeletak di meja dan tak lama memasuki mobilnya dengan Janggu dan Monggu yang sengaja ia bawa bersama. Dia melihat ke arah pintu rumahnya sekilas dan tak lama menaikkan jendela kaca mobil Kai. "Haah~.." dirinya kembali menghela nafas dan

Brrrrrrmmmm…..!

Luhan menjalankan mobil Kai menuju kedai kaki lima yang tak jauh berada di dekat rumah mereka untuk segera membeli makanan dan membawa makanan pulang.

..

..

..

Dan tak lama Luhan sampai didepan kedai kaki lima, dia memarkirkan mobilnya cukup jauh dari kedai karena tak ingin terlalu mencolok dengan mobil sport terbaru milik Kai yang bisa membuat semua orang di kedai menatapnya dari bawah sampai ke atas.

"Ada yang bisa kubantu nak?"

Seorang ahjumma menyapa Luhan, membuat Luhan sedikit membungkuk dan tersenyum mendapat sapaan ramah dari sang pemilik kedai.

"Umhh…Aku ingin pesan empat jajangmyeon." Katanya memberitahu si pedangang.

"Makan disini atau dibawa pulang?"

"Dibawa pulang."

"Baiklah tunggu sebentar nak."

Luhan mengangguk dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket miliknya dia melihat ke sekeliling dan menengguk kasar air liurnya melihat semua orang memakan dengan lahap makanan milik mereka.

"Menurut kalian apa aku bisa makan disini?" Luhan berjongkok dan meminta pendapat kedua anjingnya.

Guk….!

"Aigoo kalian baik sekali." Luhan mengusak gemas kedua anjingnya dan berterimakasih kepada mereka karena sudah membuat keputusan yang menurut Luhan adalah dirinya diperbolehkan makan di kedai pinggir jalan tersebut.

"Ahjumma…aku ingin makan disini, jadi hanya tiga yang dibawa pulang." Luhan tertawa lucu sambil merubah pesananyya membuat si wanita penjual ikut tertawa karenanya.

"Baiklah akan segera di antarkan." Katanya memberitahu Luhan.

"Uhmm…ahjumma, aku pesan dua dimakan disini." Katanya lagi menggaruk tengkuknya dan segera menuju ke meja kosong yang berada di pojok kedai.

Pemilik kedai pun hanya mengangkat ibu jarinya menandakan dia mengerti dengan pesanan Luhan.

"Astagaa lezat sekali…slurppp.." Luhan memakan rakus dua mangkuk besar jajangmyeon miliknya dan terus melontarkan kalimat yang menandakan kalau dia sangat senang.

"Kalian harus mencobanya lain kali." Katanya memamerkan makanannya pada kedua anjingnya yang hanya menatap tak suka pada majikannya yang pelit soal makanan.

Luhan hanya terus menyantap makanan miliknya, tak membiarkan siapapun mengganggu me time yang sudah lama tak ia rasakan.

"Aku harap aku tak mengganggu makan malammu tuan muda."

Luhan berhenti menyantap mie nya, dia mengambil tisue dan mengelap asal mulutnya, dia kemudian mendongak dan cukup terkejut mendapati pengurus Lee berada di depannya.

"Paman? Ada apa?" tanya Luhan mengernyit namun si pengurus hanya tersenyum menatapnya.

"Apa boleh saya duduk tuan muda?"

"Tentu…cepat duduk." Luhan pun berdiri dan segera menarik kursi untuk asisten keluarganya yang berusia seumuran dengan ayahnya.

"Terimakasih tuan muda." Pengurus Lee membungkuk sekilas membuat Luhan sedikit tak sabar.

"Jangan sungkan….Jadi kenapa kau disini? Apa terjadi sesuatu?" Luhan bertanya dan terlihat sekali kalau dirinya sangat khawatir.

Pengurus Lee hanya menggeleng dan tersenyum menatap Luhan "Tidak terjadi sesuatu tuan muda. Dan bila sesuatu terjadi, aku yakin ini semua kemenanganmu."

Luhan semakin mengernyit tak mengerti dengan ucapan pria tua didepannya saat ini.

"Begini tuan muda."

Pengurus Lee pun mengerti bahwa Luhan sedang kebingungan dan mencoba untuk menjelaskannya lebih dulu.

"Besok semua usahamu akan membuahkan hasil." Pengurus Lee memberitahu Luhan yang masih tak berbicara.

"Langsung katakan apa yang ingin kau katakan. Jangan berbelit." Luhan menyela karena semakin tahu pembicaraan ini akan menjadi panjang.

"Ayahmu-..maksudku tuan besar akan menceraikan istrinya di rapat besar yang akan diadakan esok hari di kantor miliknya."

"Apa-….apa maksudmu paman?" katanya merasa tak ingin dirinya salah mendengar kabar yang terlalu menggembirakan ini.

"Besok akan dilakukan pemindahan kekayaan yang dilimpahkan seluruhnya kepada anda sebagai satu-satunya pewaris dan putra kandung tuan Xi."

"Direktur Xi juga akan menceraikan istrinya didepan hakim dan pengacara yang hadir sebagai saksi saat pemindahan wewenang, kekayaan dan kekuasaan dilimpahkan kepada anda."

"Aku tidak mengerti.." gumam Luhan yang sama sekali tak tahu menahu tentang rencana yang dibuat ayahnya untuk hidupnya.

"Anda tidak perlu mengerti tuan muda. Sesuai dengan instruksi direktur Xi, anda hanya perlu mendatangi rapat pukul sepuluh esok pagi. Dan setelah esok, semuanya akan menjadi milik anda." Katanya tersenyum memberitahu Luhan.

"Paman kenapa semua terburu-buru?"

"Karena kita sudah memiliki segalanya untuk menang tuan muda." Balas pengurus Lee tersenyum kepada Luhan.

Luhan bukan tak senang dengan berita yang ia dengar, hanya saja semua terkesan dipaksakan membuatnya hanya diam dan tak bisa berbicara banyak menanggapi kabar yang sangat tak ia duga malam ini.

"Datanglah tepat waktu tuan muda. Kami semua menunggu." Pengurus Lee bangun dari duduknya membuat Luhan kembali mendongak ke arahnya.

"Saya permisi, sampai bertemu esok hari." Pengurus Lee membungkuk berpamitan pada Luhan, dan tak lama meninggalkan Luhan yang masih kebingungan sendiri di kedai yang sudah tampak sepi itu.

Luhan hanya menatap kepergian pengurus Lee dengan seribu pertanyaan di benaknya, dia kembali menatap makanannya dan merasa nafsu makannya hilang seketika karena terus menerus menebak apa yang akan terjadi esok hari.

"Kepalaku pusing." Lirihnya menyembunyikan wajahnya di meja makan dan tak berniat melakukan apapun saat ini.

Luhan sudah berada dalam posisi menyembunyikan wajahnya selama hampir lima belas menit, dan dia terus berniat berada di posisi itu untuk waktu yang lama kalau saja tak ada seseorang yang mengusak pelan rambutnya.

"Maaf membuatmu menunggu." Suara yang lain menarik kursi didepan Luhan.

Luhan dengan berat hati mengangkat wajahnya dan terkekeh mendapati ketiga pria nya yang sudah duduk disamping dan didepannya.

"Lain kali jangan bawa mobil baruku. Aku selalu takut jika kau yang bawa." Kai menggerutu melihat mobilnya terparkir sembarangan.

"Wae?" protes Luhan yang entah kenapa menjadi sangat bersemangat.

"Karena akan rusak dan lecet rusa cantik." Ujar Kai menarik kencang hidung Luhan membuat Luhan meringis

"Maaf kami terlambat, sepertinya kau sudah makan banyak Lu." Chanyeol mengusak rambut Luhan dan terkekeh melihat kedua mangkuk makanan Luhan yang hampir bersih.

"Kenapa kau bersender di meja? Ada masalah?" kini Sehun yang bertanya mencium kening Luhan dan membawa Luhan ke pelukannya.

Luhan mengangguk sebagai jawaban membuat ketiga pria nya merespon cepat.

"Sehun..!"

Luhan tiba-tiba memekik saat Sehun memaksanya berdiri dan mendekapnya erat sementara Kai memeluk Janggu-Monggu dan Chanyeol membawa makanan yang sudah dipesan Luhan.

"Kita bicara dirumah."

Sehun pun melempar kunci mobil milik Kai yang dipegang Luhan, sementara dirinya membawa Luhan menuju kedalam mobilnya.

Chanyeol masuk kedalam mobil Kai diikuti Kai yang juga sudah menyalakan mobilnya, menunggu Sehun menjalankan mobilnya dan barulah dia mengikuti kemana mobil Sehun pergi.

..

..

..

"Lalu apa yang kau khawatirkan? Bukankah bagus jika ayahmu memutuskan untuk bercerai dengan penyiihir jahat itu?"

Saat ini mereka berempat berada di kamar Luhan dengan posisi mengelilingi Luhan yang sengaja dipaksa berbaring oleh Sehun, sementara dirinya memeluk erat kekasih cantiknya yang terlihat bingung dengan Kai dan Chanyeol duduk disamping kanan dan kiri kasurnya.

"Aku merasa ini terlalu terburu-buru." Gumam Luhan yang sama sekali tak bisa menebak apa yang sebenarnya ayahnya rencanakan.

"Kau hanya perlu datang dan lihat bagaimana besok ayahmu membuat keputusannya."

Luhan berfikir sejenak dan mengangguk menyetujui ucapan Chanyeol. "Hmm..Kau benar."

"Baiklah sekarang kau harus tidur. Sampai besok cantik." Kai mencium pipi Luhan sekilas dan berdiri dari ranjang Luhan.

"Selamat malam Lu." Chanyeol pun ikut mengusak rambut Luhan dan tak lama mengikuti Kai yang sudah menuju keluar kamar Luhan.

"Kalian terlihat sangat sibuk." Gumam Luhan mendongak menatap Sehun yang sedang memeluknya erat.

"Maaf sayang." Gumam Sehun sekilas mencium kening Luhan dan ikut berdiri dari ranjang Luhan.

"Selamat tidur sayang, mimpi indah." Gumam Sehun menaikkan selimut Luhan.

Luhan hanya diam tak menjawab sampai Sehun selesai mencium keningnya dan hendak pergi barulah dia memegang erat pergelangan tangan Sehun membuat Sehun menoleh ke arahnya "Ada apa Lu?" katanya kembali duduk disamping Luhan dan membenarkan poni pria cantiknya

"Tidur denganku malam ini." katanya merengek meminta pada Sehun yang hanya bisa tertawa karenanya.

"Sudah boleh?" tanyanya menggoda Luhan.

"Iya sudah boleh." Luhan menarik-narik tangan Sehun agar segera berbaring disampingnya.

Sehun tertawa mencium kening Luhan dan segera berbaring memeluk pria cantiknya yang sudah sangat memaksa dan tentu saja harus dituruti.

"Astagaaa… aku rindu sekali tidur memeluk permaisuriku." gumam Sehun yang tak henti-hentinya menggoda Luhan.

Sementara Luhan hanya menggeliat, mencari posisi nyaman di dada pria yang sangat ia cintai ini.

"Ahhh nyamannya." gumam Luhan mengendus bau tubuh Sehun dan melingkarkan kakinya di pinggul Sehun.

"Jadi sudah berapa lama aku tidak menjamah ini dan mendengar desahan dari bibir ini?" Sehun berbisik meraba paha dalam Luhan dan mencium Luhan dengan sedikit memaksa membuat keduanya mendesah tertahan dalam ciuman masing-masing.

"Sehun..!"

Luhan memekik terkejut dan sedikit meremat kencang punggung Sehun karena entah sejak kapan tangan Sehun sudah masuk ke dalam celana tidurnya dan kini dua jarinya sudah berada di hole Luhan.

"Sshhh….sempit sekali. Aku benar-benar ingin bercinta denganmu cantik." Sehun mendesis sangat bernafsu karena merasa kedua jarinya diremat kencang didalam hole Luhan.

Sementara Luhan hanya bisa memejamkam matanya sambil terus meladeni Sehun yang tak berhenti menciumnya, dia menggeliat tak nyaman sesekali menggelengkan kepalanya kuat karena Sehun mulai menumbuk bagian bawahnya dengan tempo dan ritme yang sangat ia tahu bisa membangkitkan gairah Luhan.

"Kau ingin aku berhenti?" katanya berbisik membuat Luhan membuka matanya dan menatap tajam kekasihnya.

"Awas kalau kau berani...hmhhh." Luhan kemudian kembali memejamkan matanya dan sedikit memutar kepalanya untuk kembali mencium Sehun yang kini memeluknya dari belakang dengan tangan yang bermain bebas dibawah sana.

Sehun tersenyum mengetahui pria cantiknya sudah terbawa gairah yang sama besar dengannya. Dia kemudian terus menumbuk hole Luhan dengan jarinya bergantian, menggunakan tempo memasukkan jarinya sesekali cepat dan dalam namun sesekali juga hanya sebatas memasukkan tanpa mengenai apapun membuat Luhan mengerang frustasi.

Tangan lihai Sehun pun bekerja dengan cepat karena saat ini Luhan sudah tak mengenakan sehelai pakaian pun, dirinya hanya menggunakan satu tangan untuk membuat pria cantiknya benar-benar jatuh ke pelukannya.

"nghh…"

Luhan kembali mengerang nikmat karena saat ini Sehun juga memilin putingnya, menariknya kencang seirama dengan tumbukan jarinya dibawah sana dan jangan lupakan lumatan di bibir Luhan yang tak pernah dia lepas hampir setengah jam lamanya.

"Sehunnie..hmppph….aku mau kau sayang. Ahhhmphh~"

Luhan bersusah payah memberitahu Sehun saat Sehun akhirnya memberikan kesempatan untuknya bernafas dan berbicara.

Sehun kembali tersenyum dan mencium Luhan sekilas namun kali dalam. Dia membaringkan Luhan di ranjang, sementara dirinya kini berada di atas Luhan, sedang membuka bajunya. Luhan benar-benar merona melihat tubuh menggoda Sehun yang sangat sempurna. Sementara Sehun… dia tentu saja menikmati pemandangan dibawahnya karena saat ini Luhan tengah menatapnya dengan tatapan lapar dan tak bisa menahan diri lagi.

"Aku masuk sayang." bisiknya membungkuk memberitahu Luhan dan sedang mempersiapkan juniornya masuk kedalam lubang Luhan.

Luhan ingin menjawab menyetujui, namum sebelum suaranya persetujuannya keluar, suara desahannya sudah meluncur menggema memenuhi kamar miliknya karena Sehun memasuki tubuhnya dengan sekali hentakan kuat dan terlalu dalam.

"Sehunnie bergerak…" pinta Luhan karena merasa sangat penuh dibagian bawahnya.

Sehun mengangguk dan mulai menggerakan tubuhnya masuk-keluar ke lubang Luhan, mata keduanya saling menatap, sesekali tersenyum karena setelah sekian lama akhirnya mereka bisa kembali merasakan kehangatan tubuh masing-masing.

Sehun terus menggerakan tubuhnya memasuki tubuh Luhan dengan hentakan dan tusukan yang semakin dalam membuat pria cantik dibawahnya hanya bisa mendesah dan sesekali mengerang nikmat merasakan betapa dirinya tak bisa hidup dan tak akan pernah bisa merasakan kenikmatan selain yang diberikan Sehun untuknya.

Sampai pada akhirnya keduanya memejamkan mata, menyadari tak bisa lagi menahan gairah kenikmatan yang begitu besar yang dirasakan oleh masing-masing. Sehun mengeluarkan juniornya sebatas kepala dan kembali menghentak kuat ke dalam hole Luhan, membuat Luhan sedikit mengangkat tubuhnya, membiarkan Sehun mengeksplor lebih dalam dan lebih dalam lagi.

Luhan mencengkram erat bahu Sehun, sementara Sehun terus bergerak cepat namun kini badannya sudah setengah membungkuk menandakan dia juga akan mencapai puncak kenikmatan percintaan mereka.

"Sehunnn-mphh.."

Luhan lebih dulu mendapatkan klimaksnya, memejamkan matanya sementara Sehun tak bisa menguasai diri lagi saat hole Luhan semakin mencengkram juniornya erat, sampai akhirnya tak perlu waktu lama untuk Sehun menyusul puncak kenikmatan yang sedang Luhan rasakan.

"Aku mencintaimu Lu…hmpphh.."

Kalimat cinta itu pun mengakhiri kegiata panas mereka, karena saat ini Sehun sedang berbaring diatas Luhan dan membiarkan seluruh cairannya keluar didalam lubang hangat milik Luhan.

Luhan tersenyum puas dan mengelus sayang tubuh yang dipenuhi peluh dan keringat di atasnya ini, dia kemudian mencium tengkuk Sehun, membalas apa yang baru saja Sehun katakan "Aku juga mencintaimu Sehun."

Setelah merasa mendapatkan kembali sedikit tenaganya, Sehun menatap Luhan dan mencium sayang kening pria cantiknya yang juga berkeringat.

"Gomawo cantik. Sekarang kau harus cepat tidur."

Sehun memindahkan posisinya berbaring disamping Luhan, mendekapnya dan menyelimuti tubuh polos mereka dengan selimut Luhan yang tentu sudah tak bersih lagi.

Luhan mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada Sehun "Selamat malam Sehunnie." Katanya merona bersembunyi di pelukan Sehun.

"Selamat malam tuan putri." Sehun kembali mencium pucuk kepala Luhan, membiarkan kekasihnya berbaring dengan nyaman di pelukannya.

"Apa besok mau aku temani ke tempat ayahmu?"

Sehun menyempatkan diri bertanya membuat Luhan tersenyum lirih menyadari kalau besok mungkin akan menjadi hari yang panjang untuknya.

Dia kemudian menggeleng lemah dan semakin meringkuk di pelukan Sehun "Tidak perlu, aku bisa sendiri Sehunna, kalian selesaikan saja urusan kalian agar kita bisa benar-benar bisa kembali bersama." Gumam Luhan yang sudah tak berniat membicarakan apapun lagi.

Sehun menyadari kalau Luhan masih merasa kesepian walau mereka berempat sudah kembali tinggal bersama, dia menyesal karena itu dan berjanji akan membuat semuanya menjadi lebih baik sesegera mungkin.

..

..

..

Keesokan paginya Luhan terbangun karena merasa Sehun sudah tidak berada disampingnya, dia menggeliat dan membuka mata kemudian tersenyum merona melihat kaos Sehun dan piyama tidur miliknya tergeletak begitu saja di lantai membuatnya mau tak mau mengingat percintaan yang begitu ia rindukan dengan pria yang sangat ia cintai.

Drrtt..drrt..

Pandangan Luhan teralihkan pada ponselnya yang bergetar, dia kemudian mengambil ponselnya yang berada di meja dan mengernyit mendapati beberapa miss called dan message yang sudah ia abaikan beberapa jam mengingat semua pesan dan telpon yang ia terima berbunyi saat ia masih terlelap.

Selamat pagi sayang, maaf tidak membangunkanmu. Aku pergi sebentar ke tempatku, kau juga selesaikan urusanmu. Aku meletakkan vitamin di dekat meja kamarmu. Aku yakin kau masih merasa lemas dan umhhh..sakit. Aku mencintaimu. Sampai nanti.

Luhan bersandar di kasurnya dan tersenyum membaca pesan dari Sehun, dia juga melirik ke meja tidurnya dan benar saja ada cairan berwarna hitam dan segelas air putih yang Sehun siapkan untuknya.

"Aku juga mencintaimu." Gumam Luhan beralih ke pesan yang lain.

Lu, kekasih albinomu melarangku masuk kekamar. Dia bilang kau lelah, tapi aku menebak pasti semalam kalian habis melakukan sesuatu. Aku akan bertanya nanti malam, saat makan malam. Aku hanya ingin bilang kau pasti bisa melewati hari ini. Aku menyayangimu rusa cantikku. Sampai nanti.

Luhan tertawa membaca pesan Kai dan segera membalas pesan pria yang sangat suka menggodanya ini dengan cepat karena takut akan semakin marah mengira diabaikan. Setelah membalas pesan Kai, Luhan beralih ke pesan selanjutnya dan tidak usah heran karena nama Chanyeol yang berada di bawah pesan Kai.

Pagi cantik…

Sarapan sebelum kau berangkat Lu. Aku memasak nasi goreng kesukaanmu. Maaf tidak bisa menemanimu hari ini. Tapi aku yakin kau bisa melewatinya. Semangat Xi Luhan!

Luhan benar-benar merasa paginya tidak sesepi sebelumnya, walau hanya lewat pesan dirinya bisa merasakan betapa inginnya Sehun, Kai dan Chanyeol terus menemaninya seharian.

Dia kemudian menghela nafasnya dan beranjak dari tempat tidurnya, dia juga ingin menyelesaikan hari ini dan berkumpul bersama ketiga prianya.

"Iya benar…semangat Xi Luhan.!" Gumamnya menyemangati diri sendiri dan pergi kekamar mandi untuk bersiap.

Tak perlu waktu lama untuk Luhan bersiap. Saat ini dia sudah berada di meja makan dan sedang memakai asal dasinya, jas hitamnya dia letakkan di kursi yang biasa Sehun duduki. Dia mengambil nasi goreng buatan Chanyeol dan memakannya dengan lahap karena efek vitamin yang diberikan Sehun adalah lapar di pagi hari.

Luhan mengusak kedua anjingnya yang sedang bersantai di kakinya dan tak lama mengernyit mendapati panggilan masuk di ponselnya. Luhan menggeser tombol answer dan berbicara pada seseorang yang menelponnya.

"Halo…"

"Selamat pagi tuan muda. Saya sudah berada didepan pintu rumah anda. Anda bisa keluar kapan saja jika anda sudah siap."

Uhuk…!

Luhan tersedak nasi goreng yang sedang ia kunyah dan sedikit membelalak mendengar ucapan asisten ayahnya yang dengan santainya mengatakan hal yang begitu mengejutkan. Luhan pun dengan segera mengangkat kedua anjingnya dan berlari menuju ke pintu rumahnya.

Cklek…!

"Bagaimana bisa?" gumam Luhan yang terkekeh mendapati asisten ayahnya benar-benar berada didepan rumahnya.

"Selamat pagi tuan muda." Katanya membungkuk menyapa Luhan.

"Apa anda sudah siap? Jika belum saya bisa menunggu didalam."

"Tidak-..paman tidak boleh masuk. Aku sudah siap. Hanya tunggu disini, aku ingin meletakkan kedua anjingku dirumah mereka dan mengambil tas dan jas ku."

Luhan kembali menutup pintunya namun pengurus Lee menahan pintunya "Saya bisa menunggu anda didalam." Nada Pengurus Lee jelas sekali sedang menggoda Luhan yang menjadi kesal karenanya.

"Paman..! tunggu disini." Katanya menutup cepat pintu rumahnya dan segera membawa Janggu dan Monggu kerumah kecil mereka sementara dirinya mengambil cepat jas dan tas dan segera berlari keluar rumah.

..

..

..

"Jadi darimana kau tahu rumahku?" Luhan yang sudah berada di kursi belakang mobil ayahnya bertanya pada pengurus Lee yang hanya terus tersenyum memperhatikan Luhan yang begitu lucu dan menggemaskan menurutnya.

"Astaga paman..berhenti tersenyum." Geramnya memperingatkan membuat pengurus Lee mengangguk cepat dan meminta maaf pada tuan mudanya.

"Ada pria yang mendatangiku tak jauh dari rumahmu. Dia mengenaliku sebagai asistenmu dan memintaku untuk menjemputmu disana."

"Siapa?"

"Entahlah, tatapannya menyeramkan, dagunya runcing dan kulitnya sangat putih. Dia bilang dia tinggal denganmu. Dia pikir aku tidak mengenalnya, tapi dia salah. Tentu saja aku mengenalnya karena dia termasuk salah satu direktur muda yang menjalin kerjasama dengan ayahmu."

"Maksud paman Sehun? Oh Sehun?" Tanya Luhan tak mau berbeli-bellit.

"Hmm…Direktur Oh yang memberitahuku dimana rumah anda tuan muda."

Luhan tertawa pelan mendengarnya dia kemudian menatap keluar jendela untuk menyembunyikan wajahnya yang sedang merona karena saat ini semua yang diceritakan pengurus Lee tentang Sehun berhasil membuatnya kembali berdebar dan tak sabar bertemu dengan kekasihnya malam nanti.

Dan selang beberapa menit kemudian, pengurus Lee memberhentikan mobilnya, dia kemudian keluar terlebih dulu, baru membukakan pintu untuk Luhan.

Luhan melangkahkan kakinya keluar, kembali merasa tidak yakin dengan apa yang akan terjadi pagi ini. Dia menatap cemas pengurus yang sejak enam bulan yang lalu selalu berada di sampingnya tak pernah meninggalkannya.

"Sebaiknya kita bergegas, kita sudah terlambat tuan muda."

Suara pengurus Lee menginterupsi kekhawatiran Luhan, Luhan hanya melirik sekilas dan tersenyum pahit "Aku tidak yakin ini akan berjalan semudah kelihatannya paman." Gumam Luhan membuat pengurus Lee menepuk punggungnya lembut.

"Kalau begitu yakinlah tuan muda. Silakan ikuti saya."

Pengurus Lee berjalan memasuki perusahaan milik Tuan Xi diikuti Luhan dan beberapa pengawal lainnya yang entah menunggunya dimana.

Luhan terus berjalan tak memperhatikan sekitar, yang dia inginkan hanya sampai di tempat ayahnya dan segera pulang untuk beristirahat, dia masih terlihat tak berminat sampai suara yang sangat dikenalnya terdengar di telinga kanan dan kiri.

"Kami tidak terlambat kan?"

Langkah Luhan sedikit terhenti, namun saat kedua pria tingginya merangkul lengannya dia tak bisa berekspresi apapun selain tertawa senang mendapat dukungan dari teman-temannya.

"Aku bahkan belum masuk ke ruangan ayahku." Gumamnya mendekap erat rangkulan Kai dan Chanyeol, sesekali melihat ke belakang berharap kekasihnya juga berada disini.

"Dia akan datang." Kai memberitahu Luhan yang sangat mudah ditebak.

"Tapi akan terlambat." Timpal Chanyeol membuat Luhan benar-benar merasa lebih rileks dan nyaman.

"Hanya kalian juga tidak masalah untukku."

Kai dan Chanyeol yang memang sengaja menyelesaikan cepat pekerjaan mereka untuk menemani Luhan hari ini pun hanya tersenyum senang karena bisa menguatkan pria cantik mereka, menghadapi entah apa yang ada didalam sana nanti.

Ketiganya menaiki lift dengan paman Lee beserta pengawal Luhan mengikuti. Tak ada yang berbicara, semua hanya menjalankan tugas yang diberikan kepada mereka masing-masing dan Luhan sangat memahami hal itu. Dia pun sesekali melirik Kai dan Chanyeol yang entah kenapa terlihat sangat serius membuat Luhan ingin bertanya namun sepertinya dia harus menahan diri karena saat ini ada pemandangan yang menarik perhatiannya dan membuat dahinya mengernyit, saat ini Luhan sedang melihat beberapa polisi dalam jumlah yang tidak bisa dibilang sedikit memenuhi lobi utama perusahaan ayahnya.

Ting…!

Pintu Lift terbuka, masing-masing dari Kai dan Chanyeol kembali menggenggam Luhan dan memastikan Luhan berada didekat mereka, namun sepertinya pemandangan Luhan dengan polisi yang berada di perusahaan ayahnya membuatnya penasaran dan yakin harus bertanya pada pengurus Lee.

"Paman..kenapa aku melihat banyak polisi di lobi?"

"Hanya untuk berjaga-jaga tuan muda. Silakan masuk."

Cklek..!

Pengurus Lee membukakan pintu rapat untuk Luhan. Luhan kembali mematung, tak yakin harus ikut masuk ke dalam dan kembali terlibat dengan permainan ayahnya. Dia menatap Kai dan Chanyeol bergantian, dan seolah mengerti apa yang Luhan takutkan. Keduanya pun berbisik akan ikut masuk kedalam dan menemaninya membuat Luhan merasa lebih tenang dan nyaman.

Luhan mengangguk dan kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang rapat yang sepertinya sudah dimulai beberapa jam yang lalu. Dan baru saja memasuki ruang rapat milik ayahnya. Luhan mendengar jeritan dan dia sangat mengenal suara jeritan yang selalu membuatnya semakin membenci orang itu setiap kali dia berteriak atau menjerit.

"KAU GILA..! APA MAKSUDMU AKU SETUJU DENGAN PERCERAIAN SIALAN INI?"

Luhan yang awalnya ragu, menjadi terlalu yakin memasuki ruangan dimana ayahnya berada dan untuk sesaat matanya bertemu dengan mata ayahnya yang tersenyum kecil melihat kedatangannya. Dia pun segera melangkahkan kakinya mendekati ayahnya diikuti Kai dan Chanyeol yang tak diperbolehkan pergi.

"KAU…! SIALAN INI PASTI MENJEBAKKU..! AKU AKAN MEMBUNUHMU.."

"CUKUP..!"

Tuan Xi mengepalkan tangannya dan menggebrak meja membuat seluruh peserta rapat yang Luhan ketahui merupakan pengacara dan pengurus kekayaan keluarganya yang hadir.

"Kau tidak akan pernah menghina putraku lagi-… KAU DAN MULUT BERBISAMU TIDAK AKAN PERNAH BISA MENGANCAM PUTRAKU LAGI. MENGERTI..!"

Luhan menoleh menatap ayahnya, melihat seluruh tubuh ayahnya bergetar menahan amarah karena wanita yang mungkinsudah tidak berstatus istrinya lagi terus menghina dan mengancamnya. Entah kenapa hatinya menghangat menyadari kalau ayahnya benar-benar serius dengan janjinya yang mengatakan semua akan kembali seperti semula.

"Pengacara Kim…jelaskan pada wanita didepanku…sekarang!"

Tuan Xi menatap pria tua disamping Luhan yang langsung mengangguk dan berdiri, sementara dirinya, menggenggam jemari Luhan dan meminta putranya untuk duduk disampingnya.

"Kau baik-baik saja?" Luhan bertanya khawatir pada ayahnya.

"Tentu saja nak. Aku senang kau disini." Gumam tuan Xi memberitahu Luhan, menggenggam jemarinya erat.

Luhan sedikit mendongak ke atas, menatap Kai dan Chanyeol yang masing-masing berdiri di belakangnya dan memegang pundaknya. Keduanya mengerling Luhan seolah menguatkan Luhan kalau memang semuanya baik-baik saja.

Pandangannya kembali tertuju pada semua peserta rapat, Luhan merasa semua yang hadir sangat asing untuknya. Semua-.. kecuali seorang wanita yang dari awal kedatangan Luhan sudah menatapnya tajam dan kini menyeringai saat mereka bertatapan.

"Abaikan wanita itu Lu." Kai membungkuk berbisik di telinga Luhan. Luhan juga menyadari kalau kedua pria nya juga melihat kehadiran mantan kekasih Sehun yang belakangan ini berubah menjadi menakutkan, Han Hyoojo.

"Jadi, ini adalah surat resmi yang ditandatangani oleh Tuan Xi dan nyonya Jung. Didalam surat ini dinyatakan kalau kedua pihak telah setuju untuk bercerai dan pihak wanita akan mengembalikan seluruh kekayaan yang diberikan mantan suami kepada putra kandung Tuan Xi-.. yaitu Xi Luhan."

Perhatian Luhan kembali teralihkan saat pengacara ayahnya membacakan point yang sangat mengejutkan. Mana mungkin wanita gila harta itu bersedia mengembalikan kekayaan ayahnya. Luhan pun kembali menoleh, menatap ayahnya dan sedikit terdiam melihat ayahnya yang sedang tersenyum menakutkan mendengarkan setiap point yang dibacakan pengacaranya.

"AKU TIDAK PERNAH MENANDATANGANI SURAT PERCERAIAN. YANG AKU TANDA TANGANI SURAT WARISAN KARENA KESEHATANNYA MEMBURUK DAN BISA MENINGGAL KAPAN SAJA..!"

"Appa…" Luhan memegang lengan ayahnya yang hanya terus menepu-nepuk tangannya memberitahunya kalau semua hanya bagian rencana untuk menjebak istrinya.

Luhan kembali menoleh dan menatap khawatir karena sepertinya perang dingin ini tidak akan berakhir begitu saja.

"Dan mengenai surat warisan-.." kini pengacara ayahnya yang lain yang berdiri menyampaikan keputusan yang telah dibuat.

"Seluruh kekayaan tuan Xi-.. baik saham perusahaan yang berada di Korea dan China, serta saham usaha yang lain dan sertifikat tiga rumah yang masing-masing berada di China dan Korea sepenuhnya adalah milik Xi Luhan, putra tunggal Tuan Xi. Tidak ada satupun kekuatan hukum yang dapat mengubah keputusan mutlak ini termasuk Tuan Xi sendiri."

Luhan tersenyum lirih mendengarnya, dia tahu benar kalau semua ini akan memicu hal yang bisa membahayakan ayahnya di kemudian hari karena membuat keputusan yang menurutnya terlalu sempurna.

"Dan fakta dengan bukti yang bisa dipertanggungjawabkan mengatakan bahwa nyonya Jung Hyewon, menjual sebagian saham tuan Xi ke pebisnis ilegal di Hongkong dan China. Hal ini membuat Tuan Xi secara resmi menuntut mantan istrinya untuk diproses secara hukum. Karena selain menjual saham secara ilegal, nyonya Jung bersama kedua putrinya telah beberapa kali berusaha menyakiti putra tunggal tuan Xi yakni Xi Luhan."

"Tuntutan berlanjut juga diajukan oleh tuan Xi dengan tuduhan pembunuhan yang dilakukan Jung Hyewon dengan pemberian racun di setiap teh yang selalu diminum tuan Xi setiap pagi dan malam yang mengakibatkan kerusakan pada organ vital tian Xi. Dokter memvonis racun yang diminum secara rutin oleh tuan Xi hampir setahun lamanya telah mengakibatkan kerusakan pada hati dan membuat tuan Xi harus menjalani pengobatan intensive."

Luhan membelalak mendapati poin terakhir yang dibacakan dan sikap ayahnya masih sama. Dia tetap tersenyum dan menepuk pelan jemari Luhan menenangkan putra tunggalnya tersebut.

"CUKUP…! KALIAN SEMUA MENJEBAKKU. AKU BERSUMPAH AKAN MEMBALAS KALIAN SEMUA..!"

Hyewon menggebrak kencang mejanya dan berlari begitu saja meninggalkan seluruh peserta rapat yang memang dari awal bekerja sama untuk menjebaknya.

Luhan sudah berdiri untuk mengejarnya namun ayahnya kembali menahan dirinya dan meminta Luhan untuk kembali duduk di kursinya.

"Wanita itu akan segera menerima hukumannya nak. Polisi sudah menindaklanjuti tuntutan ayah. secepatnya dia akan dipenjara. Kau tenang saja." gumam tuan Xi membuat Luhan kembali tak punya pilihan lain.

"Dan untuk anda nyonya Han Hyoojo. Kami secara resmi membatalkan kerja sama kami dengan perusahaan anda. Kami menemukan sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa anda yang memberikan asupan dana terbesar untuk bisnis yang dilakukan nyonya Jung."

"Dan lagipula kematian tak wajar mendiang suami anda membuat kami bertanya-tanya apakah tuan Kang benar meninggal karena sakit atau ada campur tangan anda."

Kali ini pengurus Lee yang berbicara mewakili ayahnya. Membuat Hyoojo tertawa menakutkan karena merasa dipermalukan.

"Baiklah… kalian membuatku sangat marah. Melihat drama keluarga seperti ini membuatku muak." katanya berdiri dari mejanya dan berjalan meninggalkan ruangan, namun beberapa langkah sebelum benar-benar pergi Hyoojo kembali membalikan tubuhnya dan menatap tajam ke arah Luhan.

"Kau yang akan membayar semuanya." Geramnya mendesis memperingatkan Luhan yang hanya menatapnya tak peduli.

Hyoojo kembali melangkah pergi, namun seseorang mencengkram erat lengannya, membuatnya menoleh dan sedikit terkejut mendapati Sehun lah yang sedang mencengkram erat lengannya.

"Kau tahu kau sudah sangat diluar batas. Jika Luhan terluka karena ulahmu. Aku sendiri yang akan membalasmu. Camkan itu!"

Sehun menghempas kasar tangan Hyoojo, membuat si wanita yang pernah sangat ia cintai itu kembali menggeram marah dan terlalu sakit hati untuk melupakan apa yang terjadi padanya hari ini.

Sehun sendiri berjalan ke arah Luhan, membungkuk hormat menyapa ayah Luhan dan langsung merangkul pundak Luhan, membawa pria cantiknya ke dekapannya sementara para tamu yang menghadiri rapat satu-persatu meninggalkan ruangan.

"Kau disini juga." Gumam Luhan berbisik memeluk pinggang Sehun. Sehun hanya mengecup kening Luhan dan melihat seluruh pengacara ayah Luhan yang kembali berdiskusi dengan beberapa pemegang saham yang merupakan kepercayaan Tuan Xi.

..

..

..

Cklek….!

"Aku pulang."

"Hey Lu.."

"Kau sudah pulang yeol?"

Luhan bertanya pada Chanyeol yang sepertinya juga baru sampai dirumah mereka.

"Hmm….lima belas menit sebelum dirimu masuk. Aku sudah sampai." Katanya memberikan segelas air untuk Luhan.

"Bagaimana ayahmu?" katanya menarik kursi didepan Luhan.

"Dokter bilang dia harus lebih lama menjalani pengobatan. Aku tidak tahu wanita sialan itu juga berniat menyakiti ayahku. Aku pikir dia mencintai ayahku." Lirihnya memijat kepalanya yang terasa berat mengetahui ayahnya sudah sering dirawat tanpa sepengetahuannya.

"Tidak akan ada cinta jika yang dia inginkan hanya harta Lu. Itu sudah seperti siklus hidup." Gumam Chanyeol mengusak lembut rambut Luhan.

"Hmm kau benar…"

"Baiklah aku akan membuatkanmu makan siang. Tunggu disini."

Chanyeol pun melepas jas dan kemejanya asal, menuju ke dapur untuk membuatkan makan malam untuk Luhan.

"Aku bertemu Baekhyun di rumah sakit."

Ucapan Luhan berhasil membuat Chanyeol yang sedang memilah bahan makanan terhenti, dia menatap Luhan sesaat dan kemudian kembali memilih bahan makanan. Luhan tahu ada yang tidak ia ketahui mengenai hubungan Kai dan Chanyeol pada kedua sahabatnya. Karena semenjak pertama kali mereka bertemu setelah enam bulan berpisah, tak sekalipun dari kedua pria nya membicarakan Baekhyun atau Kyungsoo.

"Kalian masih berhubungan kan?"

Luhan berjalan mendekati Chanyeol yang masih sibuk dengan dapurnya namun tak menjawab pertanyaan Luhan.

"Yeolie.."

Luhan membuntuti pergerakan Chanyeol, namun Chanyeol masih tak merespon pertanyaan Luhan.

"Park Chanyeol..!" Luhan memekik membuat Chanyeol tak punya pilihan lain selain menatap pria cantiknya dengan tatapan yang tak Luhan mengerti.

"Jawab aku.." katanya kembali mendekati Chanyeol yang mendesah frustasi karena paksaan Luhan.

"Lu..aku-.."

"Kami sudah tidak berhubungan dengan kedua temanmu Lu."

Bukan Chanyeol yang menjawab, melainkan Kai yang terlihat lelah dan mendengar pertanyaan Luhan pada Chanyeol.

"Apa maksudnya?" kali ini Luhan beralih ke Kai yang sudah bersandar di sofa.

"Kim Jongin..!" Luhan memperingatkan dengan nada suaranya yang membuat Kai harus meladeni Luhan kalau tak ingin Luhan berbuat sesuatu yang nekat.

"Haaah~"

Kai bangun dari tidurnya dan menatap Luhan yang sudah melipat kedua tangannya di atas dadanya.

"Kemari."

Luhan pun berjalan mendekati Kai dan duduk disamping pria yang sangat suka menggodanya.

"Aku tahu kau akan marah pada kami karena ini. Tapi sama seperti Sehun dan Kau-.. Aku dan Chanyeol, kami berdua juga memutuskan hubungan kami dengan Kyungsoo dan Baekhyun. Namun sepertinya kedua temanmu terlalu sakit hati pada kami. Mereka meminta kami mengakhiri hubungan dengan mereka, tepat sehari setelah keberangkatanmu ke Cina."

"Tidak mungkin." Gumam Luhan yang menatap kedua temannya merasa tak enak dan langsung berkaca-kaca.

"Sayangnya itu terjadi-..dan kenapa kau menangis?" Kai menghapus air mata Luhan yang menurutnya mudah sekali ia keluarkan.

"Aku bertemu dengan mereka tadi siang. Mereka menjenguk ayahku bersama ayah mereka, aku pikir kalian baik-baik saja, tapi ternyata tidak-..Maaf…Maafkan aku yeol..Maaf Kai." Gumam Luhan sangat menyesal.

"Kenapa meminta maaf Lu?" Chanyeol menghampiri Luhan dan memberikan tisue pada Luhan yang entah kenapa menjadi terisak.

"Aku janji kalian akan kembali bersama."

Baik Kai dan Chanyeol tidak ada yang menjawab. Keduanya juga sibuk dengan perasaan mereka sendiri saat Luhan mengatakan bertemu dengan pria yang masih mereka cintai hingga saat ini. Mereka berdua juga sudah mengusahakan untuk bertemu dengan Baekhyun dan Kyungsoo namun keduanya seperti menolak dan tak ada kesempatan untuk Kai dan Chanyeol yang sangat merindukan kekasih mereka.

..

..

..

Dan disinilah Luhan, ditempat dimana dirinya bisa bertemu dengan Baekhyun dan Kyungsoo. Kedua temannya selalu datang ke sebuah tempat dimana mereka membesarkan anak asuh mereka. Keduanya tidak pernah absen untuk mengunjungi anak-anak mereka setiap hari senin dan hal itu berlaku hingga sekarang.

Luhan menunggu didalam mobil miliknya dan tersenyum senang melihat kedua temannya keluar dari rumah asuh mereka, dia keluar dari mobilnya dan ingin segera menyebrang sebelum keduanya pergi karena tampaknya masing-masing supir mereka sudah menunggu.

"BAEK….! KYUNGIE…!"

"Luhan..?" gumam keduanya bersamaan

Luhan berteriak dan bersyukur karena kedua temannya melihatnya, merasa jalanan sepi Luhan langsung berlari menyebrang. Namun sepertinya ada sebuah mobil yang sengaja menunggu Luhan di tepi dan langsung menjalankan cepat mobilnya untuk mencelakai Luhan.

Baekhyun dan Kyungsoo membelalak melihat mobil yang sepertinya dikendarai oleh profesional itu melaju sangat cepat. Luhan sendiri menyadarinya namun sepertinya kakinya membeku tak mau bergerak, mobil itu hanya berada sepersekian detik dari tempat Luhan berada.

"LUHAN….!"

Baekhyun dan Kyungsoo berteriak, sementara Luhan memejamkan matanya erat, sesaat dia mengira tubuhnya akan terasa seperti dipatahkan dan terhempas jauh ke jalanan, namun yang ia rasakan seseorang menarik lengannya dan keduanya berguling di tanah.

Tak lama kemudian

DOR….DOR..!

Suara tembakan menggema membuat Luhan sadar kalau sesaat tadi dirinya memang hampir celaka.

"Lu kau tak apa?"

Pria yang menarik lengannya mengguncang tubuh Luhan yang sudah lecet karena terhempas ke jalanan. Luhan perlahan membuka matanya dan menatap beberapa orang yang sudah berdiri didekatnya menatapnya khawatir.

"Ka-..Kalian."

Suara Luhan bergetar antara rasa takut dan rasa lega luar biasa yang tak bisa dibedakan. Luhan sudah tidak melakukan pekerjaannya selama enam bulan, dan semua kejadian malam ini terlalu cepat untuk diterimanya membuat rasa takut lebih mendominasi dirinya. Namun dia bersyukur lega mendapati Yunho dan yang lainnya yang entah sejak kapan berada disana kembali menolongnya untuk yang kesekian kalinya.


tobecontinued...


update..! :)

.

selamat membaca dan review :))