Spindle Tree
Cast ; Kim Taehyung
Jung Hosoek
All BTS MEMBER
rate : aman
kalau tidak suka YAOI, maaf aku nulisnya Yaoi
kalau tidak suka Vhope, maaf tapi aku cinta mati sama Vhope
kalau tidak mau baca ff vhope, maaf tapi aku nulisnya mau vhope
kalau benci typo, maaf tapi jari-jariku suka lupa diri dan mencipta typo dimana-mana
Cerita baru Vhope, ini cuma 2 chap kok
lets read
"Ada lebih dari milyaran jenis bunga di dunia ini, setiap bunga memeberi pengaruh dan perlambang perasaan seseorang yang melihatnya. dan seperti bunga yang banyak jumlahnya
Ada sejuta kemungkinan untuk aku jatuh cinta padanya, dan sayangnya hanya ada satu kemungkinan untuk dia jatuh cinta padaku, aku tahu hatiku bagaimana, sayangnya hatiku tidak pernah bisa tahu, bagaimana keadaan hati orang lain, terutama dia yang aku jatuh cinta padanya"
Jung Hoseok yang memilih menjadi bunga matahari
Bagi Hoseok, hari-harinya itu membosankan. Menjadi tampan memang bukan sebuah dosa, tapi jika tiap hari kau diperhatikan selayaknya pangeran, kau akan muak juga lama-lama. Jadi Hoseok memutuskan untuk pura-pura tidak sadar, kalau hampir seisi sekolah menginginkan Hoseok menjadi pacarnya.
Hoseok tidak berniat, atau lebih tepatnya tidak tertarik. karena yang menyukai Hoseok itu memang tidak ada yang menarik, tidak ada yang special. Hoseok butuh seseorang yang tidak terarik padanya saat pertama melihat, tapi tertarik padanya setelah saling mengenal. Dan Hoseok seratus persen yakin dia tidak akan pernah menemukan yang seperti itu disekolah.
Tapi semuanya berubah setelah kejadian anjing collie yang ingin memangsa pantatnya, setidakya itulah pikiran Hoseok, bahwa anjing itu memang tertarik pada pantatanya dengan secara brutal.
Awalnya memang semuanya biasa saja, hingga penolongnya datang, dan seketika itu dunia Hoseok pun berubah jungkir balik. Hoseok jadi sesak nafas, dan jantungnya melompat-lompat seperti hendak keluar dan loncat tepat ke muka si penolong yang dengan wajah datar berbicara tanpa ekspresi tentang Hoseok yang harusnya tidak berlari kesana-kemari jika tidak ingin di kejar anjing collie tersebut.
"berhentilah berlari, jika sunbae semakin kencang berlari, anjing itu akan terus mengejar mu sampai kau mati kelelahan" entah bagaimana, tapi Hoseok percaya dengan kalimat yang dikeluarkan anak itu, dan Hoseok berenti berlari, berbalik dan melihat si anak berambut caramel, dan seketika itu yang Hoseok tahu, ada lomba marathon berpacu dibagian sisi kiri dadanya. Hoseok tidak paham, jadi dia memutuskan untuk mendiamkannya saja.
Duduk di sebelahnya menambah pacu detak jantungnya tiga kali, oh tidak bahkan empat kali. Hoseok pikir dia akan segera mati karena jantungnya terlalu cepat bekerja, ditambah senyum anak itu benar-benar membuat Hoseok hampir kehilangan kesadarannya. Sayangnya demi kelangsungan umur panjangnya, dia butuh menetralisir detak jantungnya, jadi ketika si anak dengan rambut caramel tersebut 'mengusirnya' Hoseok pun pergi, dengan menggumamkan kata terimaksih yang entah mengapa bagi Hoseok terdengar sangat menyedihkan karena dia sangat gugup, dan suaranya seperti orang kumur-kumur, jadi Hoseok memutuskan untuk berjalan cepat meninggalkan anak itu, jauh dari pandangannya, dan bersebunyi di tempat aman. Entah untuk apa
Sialnya, setelah jauh dari pandangan si pemuda berambut caramel, Hoseok baru ingat dia tidak menanyakan namanya. Hoseok kecewa, ingin kembali, namun dia ingat, jantungnya belum bisa diajak kompromi.
#
Setelah kejadian tersebut, berbagai usaha Hoseok lakukan, dia berusaha mencari dimana dan kelas berapa si pemuda berambut caramel dengan senyum segi empat, pencariannya dia lakukan selama seminggu penuh, tanpa melibatkan siapapun. Dia tidak ingin seisi sekolah heboh jika dia menanyakan perihal anak tersebut kepada orang lain. Baginya terlalu beresiko, bisa-bisa satu sekolah tahu dan akan menjadi trending topic sepekan dan Hoseok tidak ingin hal-hal seperti si pemuda berambut caramel menjadi pusat perhatian, siapa tahu aka nada penggemar lain yang dating ada si pemuda berambut caramel, Hoseok benar-benar tidak butuh pesaing.
Jadi dengan upaya kerasnya, akhirnya Hoseok tahu, anak tersebut adalah siswa kelas 1 unggulan di SMA-nya, sayangnya untuk nama Hoseok masih belum bisa mendapatkanya.
Efek dari si anak berambut caramel ternyata cukup besar untuk Hoseok, dia bahkan jadi punya hobby baru setiap jam pelajaran berlangsung di sekolahnya. Dia jadi sering bolak-balik kamar mandi, hanya untuk melihat pemuda berambut caramel yang duduk belajar dengan serius di kelasnya, meskipun ada anak berpipi chuby yang duduk di sebelahnya mengganggu si anak rambut caramel dengan tampang bodohnya.
Hoseok agak kesal, karena si anak pipi chuby itu berani menyentuh-nyentuh poni si rambut caramel, mungkin nanti si chubby itu harus merasakan bagaimana rasa sakitnya bogem mentah milik Hoseok. Astaga apakah Hoseok bahkan sudah cemburu pada pemuda yang dia bakan belum tahu namanya hingga saat ini.
Hoseok tersenyum saja, dia setidaknya bahagia karena bisa melihat si rambut caramel tiap hari.
Sayangnya, yang Hoseok tahu si rambut caramel tidak pernah memperhatikannya.
#
Hoseok terlalu cerdas menyembunyikan perasaanya
Suatu hari kesempatan Hoseok untuk memulai percakapan pertamanya dengan si Rambut caramel tiba, mereka hampir berpapasan di lorong sekolah, Hoseok sangat bersemangat untuk bertanya siapa nama si rambut caramel yang hampir sebulan ini sudah membuat dia turun naik tangga hanya untuk menggunakan toilet lantai bawah (jelas-jelas di lantai dua, tempat anak-anak keas dua ada toilet, tapi ini keinginan Hoseok agar bisa melewati kelas si rambut karamel, jadi dia selalu menggunakan toilet lantai 1), tapi entah bagaimana, tiba-tiba suara Namjoon membuyarkan semua rencanya manisnya, tiba-tiba saja Namjoon sudah merangkul bahunya dan berbicara tentang anak pendek bernama Jimin yang ikut perkumpulan pencinta dance proidigy Namjoon yang tidak ada bagus-bagusnya itu. Hoseok selalu berpikir kenap Namjoon tidak membuka club bahasa inggris saja yang sudah jelas adalah kemampuannya, kenapa harus susah payah membuka club dance yang bahkan dia sendiri hanya bisa menari dengan mukanya, bukan dengan tubuhnya.
Hoseok hanya pura-pura mendengarkan, karena semua perhatiannya masih tertuju pada pemuda berambut caramel dengan tumpukan buku di dadanya. Ya Tuhan bagi Hoseok anak itu sungguh titisan dewata yang manis, bahkan cara berjalannya pun sudah membuat Hoseok hampir pingsan.
Hanya saja, jalan cerita yang Hoseok tahu tidak bisa berubah semanis itu, keberadaan Namjoon mengagalkan semuanya, pada akhirnya Hoseok hanya berlalu menyembunyikan rasa kecewa dan kesalnya pada Namjoon yang masih mencoba berbicara sambil menari dengan mukanya, dan dengan begitu si rambut caramel pun hanya berlalu.
Awalnya Hoseok kira si rambut caramel akan menyapanya, namun sepertinya mengingat Hosoek pun tidak, karena si rambut caramel hanya berlalu begitu saja, tanpa seulas senyum pun di bibirnya yang manis.
Padahal hosoek merindukan senyum segi empat yang pernah dilihatnya di belakang sekolah dulu.
Dan yang Hoseok tahu, setelah kejadian itu dia kesal setengah mati pada Namjoon, dan berniat untuk mengubur Namjoon hidup-hidup.
#
Hoseok terlalu sering memperhatikan si pemuda berambut caramel, Hoseok tahu si rambut caramel sangat dekat dengan pemuda berpipi chubby yang bernama Jimin. Hoseok tahu namanya ketika dia mengunjungi club Namjoon dan anak itu ada.
Sebenarnya Hoseok ingin bertanya tentang pemuda berambut caramel kepada Jimin, tapi lagi-lagi dia terlalu takut akan berbagai kemungkinan yang terjadi, di tambah dia curiga kalau si Jimin ini ada apa-apa dengan pemuda berambut caramel yang dia puja itu, jadi akhirnya Hoseok menelan kembali semua pertanyaan yang tadinya akan disampaikannya pada Jimin.
Jimin selalu bersama dengan si pemuda berambut caramel, entah itu di kantin, di kelas atau di gerbang sekolah, Jimin selalu ada disebeah si pemuda berambut caramel, bahkan yang Hoseok tahu mereka pergi ke toilet bersama. Hoseok cemburu sekali tentu saja.
Makanya dia memutuskan untuk ikut bergabung dengan club Namjoon, alasannya tentu saja untuk menyiksa Jimin di club tersebut. Dan Namjoon yang dari dulu memang sudah ingin mengajak Hoseok untuk bergabung, senang-senang saja dan tidak peduli dengan alasan apapun yang membuat Hoseok memutuskan bergabung. Bagi Namjoon yang penting club dance nya bisa Berjaya dan mebuat Kim Seok Jin senior tampan di kelas tiga yang dia damba sejak pertama masuk sekolah bersedia meliriknya dan akhirnya tahu keberadaannya.
Meskipun, lagi-lagi kemungkinan tersebut sangat kecil. Yah, tidak Hoseok tidak Namjoon, keduanya sama-sama mengalami apa yang mereka anggap cinta satu pihak.
#
Pada akhirnya kesempatan untuk tahu nama pemuda berambut caramel yang dia damba sejak dua bulan lalu, datang juga. Meskipun kesempatan yang datang cukup menyakitkan di mata Hoseok.
Siang itu diperpustakan, saat Hoseok benar-benar hampir tertidur akibat dipaksa membaca buku theology yang banyak menggunakan bahasa ibrani (demi tuhan Hoseok tidak mengerti sama sekali) dia melihat pemuda itu berjalan masuk ke dalam perpustakaan, berjalan ke arah mejanya. Hoseok langsung mematikan music yang dari tadi didengarnya melalui headset, dari balik meja dia tekan tombol off di Ipod miliknya. Siapa tahu Taehyung akan menyapanya duluan.
Membayangkannya saja, sudah membuat Hoseok rasanya ingin menyembah perpustakaan saat melihat pemuda caramel benar-benar berjalan ke sebrang kursinya dan duduk disana, Hoseok sudah mempersiapakan semuanya, bahkan dia berencana meminjam suara adiknya, Jeon Jungkook yang sangat merdu itu, siapa tahu suara dia akan menghilang saking gugupnya.
Tapi, sialnya, lagi-lagi Hoseok harus kecewa, alih-alih saling berbicara
Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari arah pintu perpustakaan, disana muncul pemuda berpipi chubby yang matanya terlihat habis menangis, berjalan cepat ke arah pemuda berambut caramel, bergumam tentang 'kenapa tae meninggalkanku di toilet' dan tersenyum sambil kembali menyentuh-nyentuh poni si rambut caramel, yang hanya dibalas senyum tipis oleh si pemuda berambut caramel.
Pertama yang ada di pikiran Hoseok adalah
Jadi namanya tae? Tae-rim? Tae-ji? Tae-guk? Tae? Tae? Apa hanya tae?
Kedua, yang muncul dipikiran Hoseok selanjutnya adalah
Apa hubungan si Jimin pendek ini dengan Tae-ku? Saudara? Adik? Teman? Hanya teman? Atau paca..ran?
Dan pertanyaan terakhir sukses membuat Hoseok benar-benar ingin membunuh Jimin.
"Kim Taehyung, malam ini kau harus menginap di rumah ku, orangtua ku akan pegi ke china sore ini. Kau harus total mengajariku Fisik, oke?" apa menginap? Kenapa si Jimin harus mengajak Tae menginap? Sebentar jadi namanya adalah Tehyung? Kim taehyung.
Yang Hoseok tahu, taehyung tidak menjawab pertanyaan Jimin. Dia hanya focus pada soal fisika yang Jimin kerjakan, mengoreksinya, membubuhkan coretan dengan tinta merah dan sesekali menggerutu tentang betapa bodohnya Jimin dalam mengerjakan semua soal tersebut.
Hoseok kesal, mereka sangat dekat. Bahkan kepala Jimin benar-benar menempel dengan pundak Tehyung. Hoseok akan menyiksa Jimin nanti di club dance sepulang sekolah, dia akan menyuruh Jimin keliling lapangan 15 kali untuk pemanasan.
Sebenarnya yang lebih membuat Hosoek kecewa adalah, kenyataan bawah dia tidak melihat Taehyung sedikit pun melirik ke arahnya, dia tidak melihat taehyung yang menyadari keberadanyaannya. Perihal keberadaan Jimin baginya hanya sekadar figuran dalam naskah drama dirinya dengan Taehyung, atau justru dirinyalah figuran dalam naskah drama antara Jimin dan Taehyung?
Hingga bel masuk berbunyi, dan taehyung meninggalkan perpustakaan untuk kembali ke kelasnya bersama Jimin, mereka tidak berbicara sedikitpun, saling tersenyu pun bahkan tidak pernah terjadi.
Hoseok tidak tahu, dia tidak tahu siapa yang menjadi tokoh utama dalam kisah cintanya yang belum pernah dia mulai dan mungkin akan segera dia akhiri ini.
#
Sebenarnya keduanya sama-sama terlibat jatuh cinta. Keduanya sama-sama saling mencinta. Tapi pemikiran masing-masing sudah membuat semua pintu-pintu itu tertutup begitu saja. Taehyung terlalu sibuk dengan pikiran 'Hoseok tidak mungkin mengingatnya'
Teralu sibuk dengan pemikiran, 'aku takut untuk memulai duluan, jadi aku akan menunggu dia yang memulai'
Hingga karena yang dia harapkan tak juga kunjung terjadi, akhinya Taehyung hanya mencoba bersikap tulus tanpa mengharapkan balasan, tanpa mengharapkan lebih. Seperti bunga Anemone, dia hanya mencoba tulus untuk jatuh cinta pada Hoseok, tanpa mencoba memperjuangkannya.
Hoseok, terlalu sibuk mengikuti hatinya, terlalu sibuk menatap, hingga dia lupa bagaimana caranya agar ditatap kembali. Dia pun terlalu sibuk dengan kemungkinan-kemungkinan yang berlalu di dalam pikirannya. Pada akhirnya dia hanya seperti bunga matahari yang sibuk mengikuti arah tanpa berusaha ditatap balik oleh si matahari.
Keduanya sama-sama jatuh cinta, keduanya sama-sama bahagia dengan perasaanya, tapi keduanya tahu mereka sama-sama tersiksa.
Mereka berdua terlalu sibuk menata perasaan sendiri, hingga mereka tidak sadar untuk mencoba menata hati keduanya.
Mereka membuat skenario dalam drama percintaan mereka, tapi mereka tidak tahu bagaimana caranya menjadi tokoh utama. Mereka berdua sibuk untuk membuat cerita yang indah, tapi lupa caranya memainkan peran.
Keduanya tidak salah, karena keduanya sama-sama bersikap manusiawi, menikmati perasaannya dan menghindari untuk kemungkinan rasa sakit yang datang akibat dari perasaanya sendiri. Mereka memilih bersembunyi dari pada disakiti, walaupun selalu ada kemungkinan yang indah dari pada yang menyakitkan. Tapi terkadang bukankah rasa takut akan lebih menang dari pada rasa percaya diri?
Pada akhirnya, mereka, Hoseok dan Taehyung hanya memendam perasaannya sendirian.
END
sudah kubilang aku ga bisa buat akhir bahagia. maafkan reader yang berharap lebih. tapi kenyataan hidup tidak selalu berakhr indah bukan? kisah cinderella saja belum tentu berakhir manis meskipun pada akhirnya dia menikah dengan pangeran. kita tidak pernah tahu kisah setelah mereka menikah.
aku selesaikan ini secepatnya. semoga tidak ada yang kecewa. ini hanya murni dari pemikiran seoarang perempuan yang tidak percaya dengan akhir bahagia.
jika ada yang minta sequel mungkin bisa aku buatkan. karena aku juga sedang berpikr-pikir tentang apakah harus ada sequel dari cerita ini.
biasanya aku setelah menulis akan bertanya pada seorang teman yang bisa membuat aku percaya diri untuk menulis sesuai kemampuan dan kesenanganku saja. jadi akhirnya aku memutuskan untuk percaya padanya, bagaimanapun akhir dari semua tulisan yang aku buat, asal aku tidak kecewa dengan hasilnya pasti pembaca pun tidak akan kecewa. benar tidak?
sesungguhnya aku senang setiap membaca review dari kalian, dan setiap menerima email tentang fav cerita, mesage alert dsb. terimakasih kepada kalian. aku mencintai kalian. semoga BTS bisa menang yah di MAMA, tiap hari ngevote tapi hasilnya gitu aja, sedih sih.
sekali lagi, terimakasih, jangan lupa tinggalkan pesan di kotak review. hehe
dan akhirnya Hujan pun turun di bulan november di kota Bandung
