:: Disclaimer ::
All Cast belongs to God,their Agency,their family and Author #eh #plak
:: Warning ::
Typo bisa bermunculan,OOC-ness, ada kata yang harus disensor agar tetap pada Rate T. (Readers : Bilang aja lu malas ngubah Rate Thor! *lempar sandal* Author : Nanggung banget soalnya kalau jadi M._.)a) At last, hope you enjoy this fic^^ Don't be a silent reader juseyo^^ *tebar cium* #plak *tebar bias* di chapter ini di tambah sedikit Yaoi :3
Ketika kebencian itu datang,tak akan ada yang tahu makhluk apa yang akan muncul dari dalam dirimu yang sebenarnya. Karena semua manusia memiliki sisi monster itu di dalam hatinya yang tertidur dan akan terbangun disaat yang tepat dan kitalah yang memegang kuncinya.
.
Tiba tiba bayangin itu muncul lagi. Wajah Junhee dengan tatapan yang kosong memakai dress putih dengan sebagian dress itu berlumuran darah. Ia memegang pisau yang berlumuran darah. Junhong hanya menggelengkan kepalanya. Berusaha melupakan bayangan yang ia dapatkan sebelumnya.
.
.
.
.
Oppa….Aku Akan Melindungimu….Kau tak perlu khawatir denganku…Kau Takkan Terluka lagi…..
.
.
Kenapa ? Kenapa Kau Menjadi Seperti ini ?
.
.
Itu Karena Aku Menyayangimu Junhong-ppa….
.
.
.
.
Jadi dia seperti mempunyai dua kepribadian ? Apakah sisinya yang lain berbahaya ?
.
.
.
.
.
.
.
Satu hingga dua mnggu kemudian setelah kejadian tersebut, keadaan Junhong mulai membaik bahkan ia sudah sepenuhnya pulih.
:: Junhong's Point Of View ::
Hari ini cuaca-nya cerah udara juga segar! Dan sudah beberapa hari ini Ahjussi sial*n itu tak menampakkan batang hidungnya. Cih,apa pantas ahjussi macam dia di panggil ' APPA ' ? Kalian tahu terkadang aku merasa kasihan dengan Yongguk hyung mempunya ' APPA ' macam dia. Dia seenaknya saja menelantarkan anaknya. Mungkin kalau aku dan Junhee karena ia membenci kami sebagai anak angkat tapi Yongguk hyung ? Anak kandungnya sendiri? Ah,tiba tiba aku rindu dengan Eomma dan Appa kandungku. Appa kandungku ah maksudku appa kandungku dan Junhee meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil ketika aku berusia 7 tahun.
Aku ingat betapa shock-nya aku ketika mendengar hal itu tapi aku tak bisa menangis karena Junhee sudah terlebih dahulu terisak dalam pelukkanku. Aku yang ketika itu hanya satu satunya namja di keluarga ini harus tegar aku tak boleh menangis walau jujur saja aku sangat ingin melakukannya karena bagiku appa-ku lah yang memberi semangat untukku.
"Oppaaaaa…..",sebuah suara cerewet menyadarkan dari lamunanku. "Ppali….mau terlambat,eoh?",Junhee berkacak pinggang dan mem-pout bibirnya di depan pintu kamar. "Aniyaaa….Chakkaman….",balasku. Kulihat didepan rumah Aku melihat Yongguk hyung sedang mempersiapkan motornya.
"Junhong-ie….",Panggil Yongguk hyung,"Ne hyung ?". "Apa kau ada acara di sekolah sore ini ?". Aku menggeleng,"Ani…Waeyo hyung?"," Sore ini aku sepertinya akan lembur di kantor terlalu banyak artikel yang harus ku edit...Jadi yah kau tahu kan Junhong….",Yongguk hyung adalah seorang editor di sebuah majalah yang membahas tentang hal hal berbau militer, dan itu tak mudah seperti kau mengedit sebuah artikel untuk semacam majalah fashion dan lainnya,"Pasti belanja bulanan kan Yongguk-ppa?",jawab Junhee ceria sembari menjepitkan jepitan Hello Kitty di Poni-nya."Nde,kau juga bantu oppa-mu ne Junhee-ssi…Oppamu yang satu ini agak payah kalau soal belanja…","Ok Oppa!",Junhee terkekeh geli,"YAK HYUNG! Aku juga bisa….",kataku kesal dan memukul pelan lengan Yongguk hyung. "Keke~ Iya…Iya…hyung tau…Arra….Jangan Marah Junhong-ie…",katanya sambil menepuk pelan bahuku.
.
.
.
.
Sore itu, ternyata Junhee malah ada rapat di sekolahnya yah, maklum saja di sekolahnya. Junhee merupakan sekretaris OSIS jadi wajar kan kalau sewaktu waktu ada rapat dadakkan ? Aku hanya menggelengkan kepala. Tadinya kalau dia ikut akan ku traktir Vanilla Milk Bubble Tea favoritnya itu karena sekalian aku juga mau beli Choco Bubble Tea. Tapi, karena yang mau ditraktir malah ada acara Yah, sudahlah apa boleh buat ?
Aku mengunjungi sebuah supermarket yang biasa ku kunjungi dengan hyung dan dongsaengku untuk berbelanja tapi tetap dalam seragam sekolahku. Tadinya aku ingin pulang dulu,tapi aku sedikit agak malas untuk bolak balik lebih baik sekali jalan saja. Toh,Yongguk hyung juga sudah memberikan uang untuk belanja-nya kepadaku.
Aku memandang langit yang kemerahan sembari menenteng belanjaan yang lumayan banyak dan menyeruput Bubble Tea–ku . Aku hanya menghela nafas. Pikiranku hanya dipenuhi satu hal, 'kapan kami semua bisa pergi dari ahjussi itu ?' aku menyayangi yongguk hyung walaupun kami tidak dialiri oleh darah yang sama. Tapi bagiku dialah "Appa" ku yang sesungguhnya bukan ahjussi itu. Terkadang aku salut pada hyungku itu entah kenapa tapi aku benar benar salut.
Tak sadar ternyata lamunanku membuatku sampai ke rumahku. Aku menengok jam. Seharusnya Junhee sudah sampai sekarang. Karena aku tadi belanja lumayan lama 2 sampai 3 jam belum lagi membeli Bubble Tea yang tentu menunggu yang memakan waktu.
"Junhee-ssi,oppa pulang!",suasana rumah hanya hening. Aku mencoba mengetuk pintu. Tapi baru aku menyentuh pintu. Pintu itu terbuka pertanda tak dikunci. Aneh,Yongguk hyung selalu bilang untuk selalu mengunci pintu dan tidak biasanya Junhee lupa soal ini. Biasanya malah aku yang lupa,tapi kenapa sekarang Junhee yang lupa? "Yak Junhee! Kau lupa mengunci pintu,eoh?",kataku setengah berteriak. Suasana tetap hening. Kemana yeoja ini?
Aneh suasananya sepi seperti tak ada orang. Aku lalu meletakkan belanjaanku dan juga Bubble tea milikku yang sebagian sudah habis dan milik Junhee yang sengaja kubelikan di meja pantry dapur. Aku mencoba mencari dongsaengku ini di ruang tengah tapi tetap saja nihil. Aisshhh….anak ini dimana?
Ketika aku memasuki kamarku tiba tiba aku merasa dibekap seseorang dari belakang dari tangannya aku tahu kalau ini tangan seorang namja atau lebih tepatnya Ahjussi. Aku mencoba untuk memberontak dan ketika aku mencoba bernafas aku mencium aroma kimia yang kuat dan tubuhku agak sedikit melemas. Sial,jangan bilang kalau ini kloroform. Dengan sisa sisa tenagaku aku mencoba sekuat mungkin mendorong siapapun yang membekapku ini ke dinding untuk melepaskanku selanjutnya pandanganku gelap dan badanku terasa lemas.
.
.
.
Bruk Duagh Duagh
Aku merasakan nyeri tepat diperut dan dadaku. Aku hanya merintih pelan menahan sakit. Aku mencoba membuka mataku,badanku masih terasa lemas. Aku mencoba menggerakkan badanku perlahan. "BANGUN KAU ANAK K*P*RAT!",sebuah suara membentakku.
Nada bicara itu? Sepertinya aku mengenalnya…
Duagh Duagh
"Ughh…",Aku meringis kesakitan. ' D*mn It! Siapa dia ? Apa Maunya' ,batinku
"APPAAA! Aku mohon jangan sakiti junhong-ppa….","Diam kamu…apa kau mau merasakan sabukku lagi?",terdengar suara isakkan tangisan. Tunggu suara isakkannya mirip dengan….
Duagh Duagh Duagh Duagh
"Arghhh…",rasanya aku ingin berteriak sekencang mungkin tapi tertahan oleh rasa sakit yang bertubi tubi ini. Sial, ternyata Ahjussi br*ngs*k ini. Belum cukup puaskah ia dengan yang minggu lalu ?
Duagh Duagh Duagh Duagh
Nafasku mulai tersengal sengal karena terus terusan menahan sakit. "Appanim…aku mohon…Appa dengarkan perkataanku….",
Duagh Duagh Duagh
Pukulan dan tendangan masih terus ditujukan padaku, "…..Aku benar benar memohon….Junhong-ppa baru pulih dan-" ,"Baru pulih,eoh?",selanya dengan nada sinis sambil tetap memukuli diriku."….Itu lebih baik….",aku membuka mataku sedikit. Aku melihat Junhee benar benar memohon untuk agar Ahjussi ini berhenti menyiksaku. Entah,kenapa dadaku terasa sesak…bukan bukan karena tendangan ahjussi s*alan ini tapi aku merasa kalau aku….gagal sebagai namja dan oppa yang seharusnya melindunginya. Pandangan mataku mulai kabur lagi.
.
.
:: Junhee's Point Of View ::
"Oppa…Junhong-ie oppa Ireona…..ppali ireona oppa….",aku berusaha membangunkan oppa ku yang pingsan gara gara siksaan appa. Aku merasakan bulir hangat mengalir ke pipiku dan aku mencoba memeluk oppa dan membenamkan kepalaku dibahunya agar tangisanku tak semakin menjadi. Aku merasakan usapan hangat dikepalaku,"Junhee….Uljima ne…."
Aku memeluk erat oppaku ini. Oppaku benar benar kuat tidak seperti aku dongsaeng-nya yang lemah ini. Aku tahu aku ini seorang yeodongsaeng tapi aku juga ingin kuat. Aku tak mau terus terusan berlindung baik dibelakang Yongguk-ppa maupun Junhong-ppa. Aku juga ingin bisa melindungi mereka. Tiba tiba sebuah suara muncul seperti dalam batinku,'Kalau kau memang ingin melindungi mereka…kenapa kau tak meminjam kekuatanku,eoh?' Ugghh…kepalaku sakit sekali…seperti dihantam sebuah batu besar. Suara ini mengaku sebagai 'diriku' yang lain.
"Junhee…gwenchanayo?",aku membuka mata dan menatap oppaku tanpa sadar ketika aku kesakitan aku meremas bahu oppaku ini."Nde..Gwen..gwenchana….",balasku. Aku mencoba mengalihkan pandanganku kearah lain agar bila suara tadi datang lagi,oppa tak akan melihat ekspresiku lagi. "Ah,Arra…."
Suasana mendadak menjadi hening. Junhong-ppa mencoba melihat kearah sekitar kami mencoba menerka dimana kami berada. Tapi pasti efek kloroform itu masih terasa untuk oppa karena beberapa kali ia hanya memejamkan mata mungkin ia masih merasa pusing.
Deg
'Yak! Kau tak lihat oppamu menjadi kesakitan seperti itu ? Sudah kubilang saatnya kau memakai kekuatanku—Ah tunggu tunggu bukan kekuatanku…kekuatan kita…Yah,karena aku juga adalah kau….',aku hanya menyenderkan kepalaku di dada Junhong-ppa lalu memejamkan mata. Tangan Junhong-ppa secara tak sadar mengusap rambutku. 'Shut Up You B*tch!',aku membatin untuk menjawab bagian 'diriku' itu,'Sekali kubilang tak mau yah tak mau…'
'Aisshhh…Jinjja? Sampai kapan eoh? Lagipula kau juga mengataiku dengan kata B*tch aku kan juga dirimu…','Aku dan kamu berbeda….',balasku sinis sementara sisi lain diriku hanya menghela nafasnya,'Baiklah terserah kau mau mengataiku apa tapi aku tak akan menarik atau membatalkan tawaran itu arra….kapanpun kau perlu aku akan siap membantumu….', sesudah itu tiba tiba badanku lemas. Kejadian ini selalu terulang apa sebenarnya kemauan sisiku yang satu ini. Kejadian ini selalu terulang semenjak eomma meninggal dan Junhong-ppa mulai di siksa oleh Appa angkat kami. Ah,aku hanya tak habis pikir apa sebenarnya sisi diriku ini? Mungkinkah kepribadianku yang lain ?
"Junhee-ssi….",panggil oppaku lembut."Nde oppa…",kataku sambil tetap menyenderkan kepalaku di dadanya aku masih sedikit lemas."Istirahat ne…aku tahu kamu lelah…",katanya sambil mengelus kepalaku. "Ani,oppa nanti bagaimana?","Nae Gwenchana…",balasnya lembut. Aku lalu menutup mataku badanku memang lelah tapi aku takut appanim akan datang dan menyiksa oppa. Tapi elusan oppa membuatku tertidur lelap.
.
.
.
:: Author's Point Of View ::
Di sudut ruangan yang sedikit gelap itu. Junhong masih bersender sembari memeluk dan mengelus Junhee dengan sebelah tangannya. Di balik pintu temapat dimana Junhong berada terdengar suara tawa berat beberapa namja yang mungkin mabuk. Dia berusaha untuk kembali memperoleh kesadarannya secepat mungkin. Efeknya kloroform tadi benar benar kuat. Beberapa kali ia memeluk Junhee agar tetap berusaha untuk kesadarannya tetap terjaga. 'D*mn…entah siapapun yang tadi membekapku betul betul sialan….cairannya pasti sangat pekat…untung saja aku tak kenapa kenapa….',batin Junhong.
Junhong hanya melihat kesekitarnya dan dia tak mendapat ide apapun tentang tempat mereka berada. Pergelangan tangan kanannya terborgol dengan sebuah rantai panjang. Begitu juga Junhee hanya saja ia pada pergelangan kaki kirinya. Junhong hanya bisa menghela nafasnya dan menatap Junhee yang telah tertidur. "Junhee-ssi….Mianhae….",ucap junhong lirih.
.
.
.
:: Yongguk's Point Of View ::
Hari ini kupikir aku akan lembur…ternyata lebih cepat daripada kuduga aku benar benar berutang budi pada Hyosung nuna-partnerku dalam mengedit artikel itu. Aku melangkahkan kakiku dengan cepat, aku sudah tak sabar untuk ke rumah pasti Junhong dan Junhee akan terkejut dengan cepatnya aku pulang. Sesampainya dirumah aku melihat kalau lampu didalam rumah semuanya gelap. ' Apa kedua anak itu sudah tidur ? ',batinku tapi aku meragukan pertanyaanku sendiri kalau memang tidur. Kenapa lampu luarpun tak dinyalakan. Aku mengetuk pintu pelan. Takut kalau mereka memang ketiduran.
Krieett
Aku sedikit kaget ketika melihat pintu tak dikunci. Aigoo,jangan bilang Junhong lagi yang lupa. Aku hanya menghela nafas. Anak ini kadang pelupanya parah apa Junhee juga ketularan lupa? Ah,lebih baik aku masuk saja, aku sudah mulai kedinginan. Aku menyalakan lampu ruang tamu setelah melepas sepatuku. Aku mencari mereka berdua. "Ya Junhong-ie! Junhee-ssi! Kalian dimana ? Ini gak lucu sama sekali….",kataku setengah berteriak. Yah,terkadang kedua bocah ini suka mengerjaiku juga yah maksudnya sih kadang agar aku tak terlalu tegang tapi suasana rumah sekarang ini benar benar tak lucu bagiku sama sekali."Dimanapun kalian berada ayo keluarlah…lelucon kalian gak lucu sama sekali….",balasku lagi.
Siinnggg
Suasana tetap aneh dan hening. Aku hanya menghela nafas dan memutuskan untuk lebih baik mencari mereka akan tetapi kemanapun aku mencari tidak tampak tanda tanda keberadaan mereka. Hingga akhirnya akupun mencoba untuk menuju kamar kedua dongsaengku ini
Aku perlahan memasuki ruangan itu. Suasana kamar itu begitu gelap dan tenang yang terdengar hanyalah suara detik-an jarum jam dan deru nafasku. aku lalu berusaha meraba saklar untuk menyalakan lampu. Ketika lampu menyala, betapa terkejutnya aku ketika melihat kamar dongsaengku berantakkan seperti seperti terjadi sesuatu aku tak begitu mengerti apa yang terjadi hingga aku menemukan selembar kertas di atas meja nakas.
'Ada Apa Ini ?',batinku panik. Bagaimana tidak…suasana kamar yang berantakkan seperti ada perkelahian aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada Dongsaengku ini. Aku menggelengkan kepalaku berusaha menyingkirkan semua pikiran burukku. Aku hanya membaca lembaran kertas itu. Setelah aku membaca aku hanya meremas keras kertas itu. Si*l…Appa menculik mereka…apa yang dia mau?
Pikiran ku berkecamuk tak karuan. Di satu sisi, aku merasa khawatir dan harus menyelamatkan mereka tapi di satu sisi aku tak tahu dimana appa-ku ini menyekap kedua dongsaengku. Apa aku harus menelpon Hime? Ia bekerja di kepolisian. Mungkin kalian bertanya atau bingung apa hubungannya…
Himchan—atau yang biasa ku panggil Hime adalah salah satu polisi yang menangani kasus Appa-ku. Yah,karena dia sahabatku dan yang menyadarkanku dari dunia gelap yang kujalani ketika itu bersama Appa. Ia memang Bandar judi berbahaya yang sering berbuat kerusuhan dan paling dicari kepolisian. Tapi ia membantuku keluar dari jalan gelap itu bahkan ia membantuku mencari pekerjaan yang lain hingga aku seperti sekarang ini. Sebagai rasa terima kasihku aku rela berkhianat pada appaku. Walau mungkin appakutak tahu aku berkhianat dari awal. Ah,entah kenapa aku ingin merutukki diriku sendiri. Mungkinkah kedua dongsaengku itu adalah pelampiasan appa-ku karena mungkin dia sudah mengetahui aku anaknya berkhianat ? Perasaan bersalah tiba tiba menjalari tubuhku.
Hei,kenapa aku jadi malah termenung seperti ini ? Buru buru aku mengambil handphone-ku dan mencari nomor Himchan.
'Yeoboseyo',
"Hime-ssi…",
'YA! BANG YONGGUK! Sudah kubilang beberapa kali jangan memanggilku dengan nama panggilan ketika di SMA itu,Arra….'
"Ah,nde…tapi memang kenapa? Aku masih tetap senang memanggilmu dengan nama itu chagi…",kata lembut menggoda(?)
'Aisshh….jadi kau menelponku sekarang ini hanya untuk ber-'lovey dovey' denganku,eoh?',kata Himchan dengan nada sinis.
Aku menelan saliva-ku dan menepuk dahiku sendiri. Aiisssshhh…Bang Yongguk pabo di saat saeng-mu dalam bahaya kau malah ber-'lovey dovey' dengan Hime—kekasihmu. "Ah,Aniya…..Mianhae…aku lupa! Sebenarnya ada sesuatu penting ini soal Appaku…",kataku menjelaskan dan berusaha untuk melupakan kejadian bodoh yang tadi.
'Ada apa dengan Appa-mu lagi Yongguk?',kata Himchan dengan nada serius.
Aku menjelaskan semuanya dari hilangnya dongsaengku dan transaksi perjudian terbaru yang aku tahu. Yah,bagi appa aku adalah Pengkhianat terselubung tetapi bagi kepolisian aku juga bisa dibilang SPY di dalam komplotan judi Appa-ku…..
"Jadi menurutmu bagaimana Himchan?",Tanyaku
'…..'
"Himchan-ssi…."
'…..'
"Himchan-ssi,ayo jawab…",bisikku mulai agak kesal.
'…..'
"Hime!"
'Nde…Nde….kau tak bisa sabar sebentar,eoh ? Aku sedang berpikir dan mencari beberapa berkas tau…Hu'uh',kata Himchan dengan nada yang mungkin sedikit kesal. Aku tahu sekarang ini pasti dia sedang mem-pout kan bibirnya.
"Kau tahu…kalau kau memang mencari berkas kan kau bisa mengatakan padaku untuk menunggu kau mau aku me-'makan' mu ?",godaku lagi.
'ANDWAEEE! YA! BANG YONGGUK AWAS KALAU KITA BERTEMU DI TEMPAT BIASA AKAN KU JITAK KEPALAMU ITU!'
"Nde,kita lihat saja nanti disana arra! Haha….Saranghae, Himchan-ssi…",jawabku sembari bersiap menutup telepon.
'Nado…'
Piip
Aku menutup teleponku dan segera menuju tempat biasa dimana aku dan Himchan bertemu. Selama perjalanan. Bayang flashback masa laluku ketika hanya bersama Appa saja terlintas sekelebat bagai bayangan yang cepat. Aku hanya bisa menghela nafas. Junhong…Junhee…bertahanlah….aku akan menyelamatkan kalian….
.
.
.
.
! TBC !
.
.
.
A/N :
Annyong! Akhirnya Update Chapter!
Yang ini lebih panjang yah? Ahahaha,author terlalu banyak ide buat karakter Yongguk di FF ini.
Jadi malah berkelanjutan panjang….
Last, don't forget to leave me a review^^
Gomawo
V
V
v
