"Kalian bertemu dengan takdir yang menyedihkan, bukan?"
.
.
.
.
Manette
VOCALOID (c) Crypton Future Media and Yamaha Corp.
rate: K—T, dapat berubah-ubah sesuai alur.
genre: horror, suspense, tragedy, crime, mystery.
Manette (c) Me (mizu hanashi)
chapter 2: Macchiato
summary: Dan tak jauh dari sana, perlahan pemilik surai biru es melihat sebaris tulisan—dengan darah sebagai tinta-nya. 'Kau yang berikutnya.'
Warning: beberapa scene gak jelas. orz jangan salahkan saya. ooc, au, ar, bad diction, saya gila (diksi), misstypo bertebaran, terlalu banyak teka-teki gaje to the extreme, dark fiction.
don't like? don't read, please._.
.
.
.
.
…Mimpi apa ia tadi siang?
Sosok semu dalam mimpi milik pemilik helai biru langit membuatnya terus termenung. Tiap kata yang terlontar dari sosok itu terus ia cerna dengan baik lewat tiap ruang dalam otaknya. Tiap kata yang terucap terus terulang dalam benaknya.
"…'Bertemu dengan takdir… yang menyedihkan'…?" Ring melipat tangannya, dan membiarkan siku-nya bertumpu pada meja makan yang berada di hadapannya. Ia menutup wajahnya yang kebingungan dengan kedua lengannya. "apa maksud semua ini?"
Wanita tua pemilik mansion tua tempat Ring berada terus menatap seksama tiap tingkah laku si pemilik keping biru azure yang terlihat bingung. Ia tak kunjung menyentuh makanan yang tersaji di hadapannya—padahal ia sendiri tahu bahwa perut miliknya sudah mulai mengeluh.
Miku dan Mikuo yang terlihat sedang bertengkar memperebutkan makanan mereka berdua tidak memperhatikan kakaknya yang tampak kebingungan. Mereka terus memusatkan diri mereka pada konflik, dan argumen yang terus mereka tujukan ke lawan, membela diri untuk mendapatkan potongan terakhir daging yang terus mereka perebutkan dengan sebuah garpu.
Tidak ada yang menyadari air muka sang wanita tua, perubahannya. Tidak ada pula yang peduli.
(—Taring mulai tampak, bersiap menerkam sang umpan.)
"Ini milikku, Mikuo! Kau tidak boleh berbohong!" akhirnya Ring menghentikan kegiatannya—mencari maksud perkataan itu—sadar akan keributan, dan segera berusaha melerai si kembar dengan rambut hijau toska.
Tapi gagal.
Ring mendesah, "Kau boleh makan milikku, Miku." ia menunjuk piring yang seharusnya merupakan makan malamnya. "aku tidak selera." dan ia segera pergi menjauhi ruangan makan tersebut yang telah ramai orang suara anak kecil.
Jam masih menunjukkan pukul delapan waktu setempat, Ring tidak mau tidur sementara ia masih memiliki banyak waktu sebelum jadwal tidur yang ia miliki. Pemilik surai biru langit tersebut akhirnya memutuskan untuk mengelilingi mansion.
Yang pertama menyambut penglihatannya saat ia berbelok keluar dari ruang makan adalah lukisan artistik yang menggantung, menghiasi tembok berwarna tua. Semua hal ia rekam dengan baik melalui kemilau mata biru azure-nya yang memerangkap dalam enigma tiap orang yang melihatnya; apa itu? Cantik sekali.
Sang gadis melewati dan memperhatikan dengan detail tiap hal yang mempercantik pemandangan dalam mansion tua tersebut. Buku-buku tua yang terjajar rapi dalam rak renta, barang-barang yang bernilai sejarah—ya, coba saja bandingkan telepon dengan nomor yang mengharuskan si penghubung untuk memutar lingkaran untuk menentukan nomor tujuan—dan berbagai ornamen yang sangat asing di mata Ring.
Ornamen yang menghiasi sisi-sisi jendela, pintu, dan terkadang juga sisi-sisi rak penyimpanan. Sang empunya surai biru awan terus berjalan, hendak mencari tau apa yang menanti-nya di ujung jalan. Terkadang ia berhenti, menolehkan leher-nya ke kanan dan ke kiri.
Ia yakin ada yang memanggil-nya barusan?
Halusinasi? Mungkinkah…?
Mengabaikan panggilan yang tak jelas itu, sang gadis terus melanjutkan langkah kaki-nya. Ia menapaki tangga demi tangga di ujung jalan tanpa persimpangan itu. Sesaat, ia merasa bulu kuduk-nya berdiri, ngeri merasakan udara dingin yang menusuk tengkuk-nya.
Ring kemudian melihat sebuah lukisan tua di ujung jalan sana. Seorang gadis, dan sahabatnya dengan surai nila yang panjang—melewati lutut si pemilik. Iris biru laut-nya menatap lurus dengan tatapan sedih—membuat semua orang yang secara langsung melihat anak itu pastilah akan memberikan belas kasihan padanya.
Sementara seorang sahabatnya duduk, mata semerah bara api memandang intens dan lurus ke depan. Surai merah yang senada dengan manik matanya tergerai ke belakang, menutupi punggung si gadis tanpa nama tersebut.
Saksi dari lukisan tersebut terpaku dalam diam. Betapa mengagumkan lukisan ini! Terlihat sangat nyata—dan mengerikan, pikirnya sembari melangkah maju dengan hati-hati. Di bagian bawah sebelah kiri lukisan besar tersebut, deretan angka, dan tulisan yang mulai memudar.
Serta tanda tangan dengan tinta—cat?—merah.
Memicingkan mata, "C—CUL… IA…—nama—mereka?" tebaknya secara spontan. Keraguan menyelimuti hatinya. Pikirannya terusik oleh suatu hal. Matanya merekam turun ke arah tanda tangan berwarna merah tersebut.
Satu hal yang ia ketahui; sama.
Ini bukan sebuah noda biasa kan? Pohon yang berada di luar juga memiliki noda tidak jelas seperti ini.
Ya, ini bukan noda biasa. Ini seperti darah.
Ring menyadari fakta itu, pada akhirnya.
Jemari-nya ia paksa mendekat ke noda itu. Ketakutan menyelimuti jiwa, kegelisahan menusuk sanubari. Dan saat ia menyentuh tanda tangan itu, lukisan yang tergantung dengan potret dua gadis perlahan terjatuh, menciptakan debuman yang lumayan keras.
Perlahan, Ring memberanikan diri untuk melihat jemari yang tadi menyentuh lukisan, Sedikit bercak, mungkin bekas noda tadi—tapi, tanda tangan itu sedikit mengusiknya, kembali. Kenapa hingga saat ini itu juga belum kering?
Kemudian Ring mengangkat kepalanya, dan ia melihat cermin. Cermin besar dengan sedikit ornamen yang menghiasi bagian-bagian tertentu cermin tersebut. Ia dapat merasakan adrenali-nya terpacu, tulisan dalam cermin itu merupakan bukti, sekali lagi, bukti bahwa permainan yang dimainkan Ring secara sadar maupun tidak, telah dimulai.
"Sekarang, Kami adalah 'itu'. M&M'.
.
.
Bersembunyi dari kematian, memalsukan diri dalam lingkungan.
Anak yang paling disayang ayah,
Termakan pelampiasan dari ke sebelas kakaknya.
Ia dibuang, ia dihina, ia dihujat.
Pada akhirnya, ia yang paling rendah dalam keluarga itu,
Adalah yang tertinggi di negeri orang.
.
.
Matanya mengerjap heran.
Lukisan itu telah hilang saat pagi hari ia mendatangi tempat dimana lukisan itu seharusnya berada. Kaca yang kemarin tergantung di ruangan itu kini telah berganti menjadi cermin yang menampakkan seluruh tubuh, dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Kaca itu berbentuk persegi panjang.
Surai sebiru langitnya terbawa angin perlahan. Iris kebiruannya masih memandang cermin yang berdiri kokoh di hadapannya. Bayangannya terpantul jelas dalam cermin itu. Sungguh, semua hal yang terjadi disini terkadang mengganggu pikirannya.
Noda yang perlahan berubah menciptakan kata-kata, seorang gadis tak kasat mata yang terlihat Miku—juga Mikuo—lukisan dua orang gadis yang hilang seperti disembunyikan dalam waktu semalan karena—
Tunggu.
Kenapa disembunyikan?
Apa memang ada sesuatu yang tampak dalam lukisan itu? Bukti pembunuhan yang cukup kecil kah? Ring masih ragu, noda yang membentuk tanda tangan di lukisan itu… apa benar darah?
Lalu… apa maksud dari tulisan pada cermin itu? Ring tidak pernah menjerit ketakutan, ia tidak pernah mempercayai keberadaan hantu, mahkluk tak kasat mata, mitos, urban legend, atau apapun yang berhubungan langsung dengan mahkluk spiritual.
"…Pasti wanita itu memiliki anak-anak usil." pikir Ring pada akhirnya, menciptakan kesimpulan yang ia yakin takkan membuatnya merasa takut—karena ia merasa ini lebih aneh dari berbagai macam cerita hantu yang pernah ditawarkan dan dibacakan teman-temannya.
(Ia tidak tahu—sama sekali tidak tahu, pemikirannya itu amatlah salah besar.)
Pemilik keping biru langit membalikkan tubuhnya, berniat untuk pergi menjauhi tempat itu secepatnya.
—Tanpa melihat cermin, yang akhirnya memperlihatkan jati dirinya sebagai pendusta, ia memantulkan sosok gadis bersurai nila tampak belakang.
"Mikuo, Miku?"
Suara Ring membalas dalam keadaan kamar yang berantakan. Jendela terbuka lebar, tempat tidur terlihat acak-acakan, pintu lemari terbuka sebelah dengan keadaan yang agak mencurigakan. Selimut putih berserakan di lantai.
Ring mendekati tempat tidur kedua anak kembar merepotkan itu. Disana ia menemukan selembar kertas putih.
'Kak! Aku dan Mikuo pergi bersama Nenek dan Oliver yah!
Miku'.
Pesan singkat—memo yang tipikal. Dengan tulisan khas anak kecil. Entah apa yang mereka lakukan, dan pergi ke mana mereka—
Tunggu. Oliver? Siapa?
.
.
.
Ah, mungkin dia bocah yang memindahkan lukisan itu karena pengait-nya rusak.
Mungkin loh, Ring.
Ia berlalu, meninggalkan ruangan Miku dan Mikuo, lalu berjalan ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan—entah kenapa, ia merasa sangat lelah, padahal jam dinding masih menunjukkan jam makan siang di tempat sekitar.
Ring melewati lukisan demi lukisan yang terpajang di dinding. Mengabaikan perasaannya saat ia merasa ada seseorang yang sedang mengintipnya melalui celah-celah jendela; seolah lukisan itu sedang melihatnya. Deru napasnya perlahan membuktikan bahwa dirinya sedang sakit, kepalanya berkunang-kunang. Ia tidak sanggup lagi.
—Perasaan itu seketika lenyap. Seperti ada seseorang yang memberikannya kekuatan tambahan. Ia melihat sesuatu tergeletak diantara genangan air dengan warna merah kental. Dengan gesit Ring menghampiri benda itu, dan ia melihat ada bekas-bekas serupa—hingga ada bekas seretan paksa.
Ia melihat seksama benda itu—
Dan kemudian ia tersadar benda apa itu.
Tangan. Pergelangan tangan.
Ya, tergeletak disana tanpa ada yang tahu siapa dan mengapa yang sebegitu tega dan keji melakukan hal ini.
Tak jauh dari sana, perlahan pemilik surai biru es melihat sebaris tulisan—dengan darah sebagai tinta-nya.
'Kau yang berikutnya.'
.
Aku mencari jawaban dibalik rembulan. Tetapi aku menanti dihadapan mentari.
—END OF THE PAGE—
.
Terima kasih telah membaca Manette chapter 2! *tebar bunga busuk*
Ada yang mengerti maksud dari keseluruhan cerita disini?
Tidak ada yang bisa secara akurat mengetahui jadwal apdet fic saya. Saya apdet kadang cepet, kadang lambat. kerjaan dari guru numpuk soalnya._. Dan… saya butuh mencari beberapa referensi, mungkin penampakan awal cerita dan gadis disini tidak ada sangkut-pautnya sama fic ini loh. *troll face*
lagi-lagi jumlah kata-katanya jauh dibawah tekad dan keinginan=="
macchiato artinya menodai dalam bahasa italia, btw.
Saa—
RnR, Please?
.
.
I'm waiting for it :3
