Rivalovey

By: Hyelaflaf

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Hyelaflaf

Main cast : Shikamaru x Temari

WARNING!

OOC, Banjir typo, Abal, Gaje, Bikin mual mules(?), Author amatir, DLDR

Kantin. Jam istirahat.

Temari memakan rotinya dengan bengis dan penuh emosi seakan-akan roti itu adalah tersangka utama kesialannya selama ini. Temari kesal, emosi, frustasi, tertekan, semua bercampur jadi satu.

Dan roti tak bersalah itulah yang menjadi korban pelampiasan amarahnya.

Bukan hanya itu, si kuncir empat juga tak segan-segan mengobral death glare pada siapapun yang ditemuinya. Bahkan mungkin disenggol sedikit saja, orang yang bersangkutan bisa kehilangan nyawa.

Sudah dua minggu sejak kedatangan Nara Shikamaru di Konoha Senior High School, dan selama itu pula Temari merasa kesialan beruntun datang padanya. Entah hanya perasaannya saja atau memang kenyataannya begitu.

Yang jelas, sekarang gadis kuncir empat itu merasa lebih sial dari biasanya. Super duper sial.

"Ne Temari, aku semakin yakin kalian berjodoh."

Temari mendelik tajam pada orang di sebelahnya. Yang bersangkutan malah terkikik geli.

"Kali ini aku setuju denganmu forehead, Kurasa Temari memang berjodoh dengan dia."

Giliran orang di hadapannya yang angkat bicara. Temari makin panas. Perempatan urat bermunculan di keningnya.

"Kurasa sebentar lagi Temari akan menyusul kita."

"Ah, akhirnya kau dapat pacar juga Temari."

"Haha, jangan lupa traktir aku Tema-chan!"

BRAK!

"DIAM KALIAN!"

Gebrakan meja dan teriakan yang memekakan telinga sukses mengalihkan perhatian seluruh pengunjung kantin pada sumber suara.

Merasa risih diperhatikan, ditambah suasana hatinya yang luar biasa buruk, Temari melayangkan death glare terbaiknya. "Apa lihat-lihat?!"

Yang ditatap kicep. Secepat kilat mereka kembali pada kesibukan masing-masing, berusaha untuk tidak memancing amarah gadis itu lebih jauh. Melawan Temari sama dengan bunuh diri. Itulah prinsip yang dipegang teguh seluruh siswa KSHS.

Yah, tidak seluruhnya juga sih...

Sebut saja Sakura, Ino, dan Tenten. Ketiga orang itu malah sibuk cekikikan ditengah suasana mencekam yang diciptakan Temari. Padahal jelas-jelas aura kegelapan sedang menyelimuti mereka.

Temari mendengus melihatnya, susah memang menghadapi makhluk macam temannya ini. Mereka sudah terlalu kebal.

Gadis itu menghela nafas kemudian kembali mendudukkan dirinya dengan kasar. Ingatannya kembali pada kejadian satu jam yang lalu.

.

.

.

Satu jam yang lalu. Kelas biologi.

Temari sangat suka biologi. Dari sekian banyak mata pelajaran yang ada, biologi lah yang paling diminatinya. Tentu saja, Temari kan bercita-cita menjadi dokter handal.

Dan yang membuat gadis kuncir empat itu makin menyukai biologi adalah gurunya, Anko-sensei. Meskipun terlihat galak -memang sebenarnya galak- tapi menurut Temari, Anko-sensei adalah sosok guru yang benar-benar guru. Semua penjelasan dari Anko-sensei ringan, lengkap, dan mudah dicerna.

Untuk alasan itulah, Temari merasa begitu senang kali ini. Biologi seakan mengembalikan mood nya yang hilang diterbangkan angin sejak kedatangan makhluk bernama Nara Shikamaru.

Disertai senyum sumringah yang terus terpatri di wajahnya, gadis itu mencatat semua penjelasan Anko-sensei dengan sepenuh hati. Sementara itu, orang di sebelahnya tidur dengan sepenuh hati pula. Ironis memang.

Jangan tanya kenapa ia diperbolehkan tidur saat jam pelajaran. Guru-guru hanya sudah terlalu lelah menegurnya.

"Sudah selesai mencatatnya?" Suara sang guru tersayang menyapa indra pendengaran.

Temari mempercepat gerakan tangannya untuk menyelesaikan catatannya yang tinggal sedikit lagi.

"Aku akan memberikan kalian tugas," Anko-sensei kembali angkat bicara.

"Buatlah karya tulis tentang salah satu penyakit langka, selengkap mungkin. Jelaskan awal kemunculannya, gejalanya, cara mencegahnya, dan sebagainya. Mengerti?"

Serentak suara keluhan dan protesan terdengar di penjuru kelas. Tugas ini dirasa terlalu berat. Sang guru menghela nafas melihatnya. Susah memang mengajari anak-anak manja.

"Kalian akan mengerjakannya berpasangan dengan teman sebangku. Kuberi waktu tiga minggu. Dan tidak pakai protes!"

Guru itu menatap muridnya tajam satu-persatu. Yang ditatap ciut dan memilih bungkam.

Sementara itu Temari manggut-manggut mendengar tugas dari guru favoritnya. Penyakit langka ya... Itu salah satu bidang yang ia minati. Lagipula ia juga tidak sendiri mengerjakannya. Gadis itu melirik sekilas orang di sebelahnya kemudian kembali melamun.

Detik berikutnya ia terbelalak.

"APA?!"

.

.

.

Begitulah, akhirnya Temari hanya bisa pasrah menerima keputusan mutlak sang guru 'tersayang' dan melampiaskan amarahnya pada tiap orang yang ia temui.

Termasuk si roti tadi yang telah habis sepenuhnya sekarang.

Seandainya roti itu hidup, ia pasti sedang menangis sekarang. Menyesali kematiannya yang tragis dan sangat tidak berperikerotian.

Ah, abaikan yang itu.

Kembali pada objek utama. Sekarang ini Temari sedang meminum jus jeruknya kasar. Berharap dinginnya jus itu dapat ikut mendinginkan hatinya.

"Su-sudahlah Temari-chan, itu kan hanya tugas kelompok."

Hinata yang bungkam sejak tadi akhirnya angkat bicara, menenangkan kawannya yang dilanda emosi tingkat tinggi.

"Tapi kalau dengan dia itu jadi masalah besar," Temari menatap kawannya itu frustasi, kali ini ia tidak berniat mengobral cacian lagi. Hinata terlalu baik untuk mendapat itu.

"Memangnya kenapa? Menurutku Nara-san cukup bisa diandalkan." Gadis indigo itu memiringkan kepalanya, menatap Temari bingung. Kawaii~

"Itu karena-"

"Hinata-chan~!"

Belum sempat Temari menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara cempreng memotong. Dan muncullah makhluk paling berisik di dunia. Naruto. Berlari dramatis mendekati Hinata. Yang didekati mendadak panik dan menundukkan kepalanya dengan wajah memerah parah. Yang melihat hanya menghela nafas malas.

"Hinata-chan, kenapa tidak ke kelasku?" Naruto cemberut. Bukannya terlihat manis malah terkesan menjijikan. Seketika Temari cs mual. Kecuali Hinata, tentunya.

"Ma-maaf Naruto-kun, aku lupa." Hinata mencicit pelan. Naruto makin manyun.

Tapi kemudian matanya berbinar senang. "Wah, Hinata-chan pakai jepit rambut?" Naruto menanyakan hal yang sudah jelas terlihat.

"I-iya." Hinata makin blushing saja. Sekujur tubuhnya lemas ditatap seperti itu oleh sang pujaan hati.

"Kau jadi makin cantik Hinata-chan!"

Blush!

Blush!

Cukup sudah. Hinata tidak sanggup lagi.

"Loh, Hinata-chan kau kenapa?"

"Hinata-chan, sadarlah!"

"HINATA-CHAN!"

.

.

.

Kelas. Pulang sekolah.

Temari membereskan buku-bukunya dengan tidak semangat. Ia merasa begitu sial hari ini.

Pertama, ia terpaksa pulang sendiri karena teman-pulang-bareng nya, Hinata, harus dijemput oleh sang kakak akibat insiden pingsannya di kantin. Memang sudah biasa kalau Hinata pingsan dan sekarang pun ia sudah sanggup berjalan, tapi jiwa overprotective Neji tidak bisa menolerir.

Temari mendengus, kesal pada makhluk kuning berisik dari kelas sebelah yang selalu saja bikin ulah dan membuat kawan indigonya itu pingsan mendadak.

Belum lagi ia sedang datang bulan sekarang. Perutnya melilit, pinggang nya sakit, tubuhnya lemas, kepalanya pening. Lengkap sudah.

Dan kesialannya bukan hanya itu.

Temari menoleh hanya untuk mendapati seonggok nanas tertidur lelap dengan liur menetes bebas.

Untuk kesekian kalinya, Temari merasa hidupnya begitu sial.

"Oy!"

Mencoba berbaik hati, gadis itu mencolek bahu si pemuda dengan bolpoin. Tidak mau mengambil resiko tertular penyakit malas kalau sampai menyentuhnya.

Yang dicolek membuka matanya, menatap Temari sebentar, kemudian mengubah posisi kepalanya kearah lain, dan kembali tidur.

Benar-benar mengundang emosi.

"Oy, bangun! Ini kelas, bukan kamarmu!"

Temari berteriak. Keadaan kelas yang kosong membuat suaranya terdengar lebih keras dan tampaknya cukup mengganggu tidur damai si nanas.

Pemuda itu mendengus kemudian membereskan barang-barangnya yang tidak seberapa dengan gerakan slow motion diiringi gumaman kata-kata favoritnya; "Merepotkan."

Temari makin mendidih. Mati-matian ditahannya hasrat untuk melempar nanas ini keluar dari jendela lantai dua kelasnya.

"Kapan kita akan mengerjakan tugas biologi?" Gadis kuncir empat itu mencoba terdengar bersahabat, tapi gagal.

Shikamaru mendecih. "Tidak perlu, biar aku yang mengerjakan."

Apa-apaan ini? Temari makin emosi. Perempatan urat bermunculan di keningnya. Merasa tidak suka dengan cara bicara pemuda itu.

Sayangnya Shikamaru salah menilai respon gadis itu. "Tenang saja, aku akan tetap mencantumkan namamu."

BRAK!

Temari sudah tidak tahan lagi. Dengan kekuatan penuh, ia menggebrak meja di hadapannya.

"Kau meremehkanku?!"

Matanya menyala marah. Shikamaru mendadak kehilangan nyali.

"Dengar Tuan Nara, jangan kira hanya karena kau ini jenius maka aku mau mempercayakan nilaiku padamu begitu saja!"

Dan gadis itu segera pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Meninggalkan Shikamaru yang tertegun melihatnya.

Pemuda itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Tidak mengerti dengan jalan pikiran makhluk bernama perempuan, terutama Temari.

Biasanya, saat seseorang ditempatkan satu kelompok dengannya, mereka akan begitu bersyukur dan mencoba terlihat antusias pada awalnya, tapi ujung-ujungnya Shikamaru juga yang mengerjakan sendiri.

Dengan alasan itu, ditambah ketidakinginannya direpotkan oleh perempuan galak, Shikamaru 'menawarkan diri' untuk mengerjakan sendiri. Berharap dengan itu Temari berhenti marah-marah dan menebar aura kebencian dimana-mana. Lagipula siapa yang tidak senang terbebas dari tugas, ya kan?

Tapi respon gadis itu sungguh diluar dugaan.

Gadis itu aneh. Itulah kesan pertama yang ditangkap Shikamaru dari Temari. Dan memang kenyataannya begitu. Bagaimana tidak? Sejak awal kedatangannya gadis itu terus saja mengobral tatapan kebencian. Dari pagi sampai sore. Heran. Padahal Shikamaru tidak merasa pernah berbuat salah padanya.

Oh, Shikamaru ingat mereka pernah terlibat insiden memalukan saat kelulusan sekolah menengah dulu, tapi itu jelas bukan salahnya, dan ia juga hampir melupakan kejadian nista itu. Hampir. Kalau saja ia tidak kembali bertemu gadis itu dan dihadiahi tatapan benci yang sama seperti dua tahun lalu. Merepotkan saja.

Bahkan sekarang saat ia mencoba berbaik hati padanya, Temari malah memberi respon super negatif.

Maunya apa, sih?

Pemuda itu hanya bisa geleng-geleng dan menghela nafas pasrah.

.

.

.

Kediaman Sabaku. 08.00 p.m.

Temari membolak-balikkan halaman buku pelajarannya dengan ogah-ogahan. Sudah sejak tadi ia belajar, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar masuk ke otaknya.

Pikirannya sedang tidak ada di tempat. Melayang-layang bebas pada kejadian di sekolah tadi yang melibatkan makhluk super menyebalkan yang tidak perlu disebutkan namanya.

(Temari percaya menyebut nama orang itu dapat membawa sial.)

Ia merasa direndahkan oleh nanas yang satu itu.

Yah, mungkin memang orang itu sedang berbaik hati, tapi tetap saja melepas tanggung jawab begitu saja bukanlah gayanya! Ia bisa kehilangan muka kalau sampai ketahuan begitu.

Lagipula sejak dulu Temari selalu menjunjung tinggi kerja sama. Baginya mengerjakan tugas kelompok adalah sesuatu yang menyenangkan -pengecualian untuk si nanas itu- selain dapat meringankan tugas, juga dapat dijadikan alasan untuk berkumpul bersama teman-temannya.

Tapi sepertinya makhluk jenius macam si nanas tidak mengerti itu. Tipe introvert. Untuk sesaat Temari merasa kasihan, tapi segera ditepisnya begitu mengingat kelakuan menyebalkan nanas sialan itu.

Gadis itu mengerang frustasi memikirkan nasib tugas biologinya yang terombang ambing hanya karena ulah nanas sialan.

Ia menjambak rambutnya kuat-kuat sampai kuncirannya longgar.

Temari stress.

Dan stressnya semakin bertambah kala mengingat kesialan akan terus terjadi padanya selama setahun kedepan.

Tuhan, kenapa kau lakukan ini padaku?!

Batin Temari menjerit putus asa.

Padahal selama dua tahun belakangan ini Temari merasa hidupnya begitu menyenangkan. Nilai bagus, teman-teman yang perhatian, guru-guru yang menyayanginya, dan lain sebagainya. Tapi semua berubah sejak kedatangan makhluk bernama Nara Shikamaru.

Pemuda itu dengan seenak jidat merebut perhatian teman-temannya, menyalip nilainya, bahkan merebut gelarnya sebagai murid kesayangan para guru hanya dengan modal tidur dan kuapan menjijikan. Diulangi: hanya dengan modal tidur dan kuapan menjijikan.

Temari tertawa miris. Padahal dulu ia harus berjuang keras untuk mendapatkan semua itu. Dunia memang kejam.

Gadis itu tidak mengerti dengan takdir yang Tuhan gariskan untuknya. Kenapa harus orang macam itu yang menjadi perusak hidup indahnya? Kenapa?!

Temari menghela nafas lelah. Memikirkan kesialan tidak berujungnya hanya membuang-buang waktu. Lebih baik sekarang ia tidur dan bersiap untuk menyongsong hari esok yang -semoga saja- tidak sesial hari-hari sebelumnya.

.

.

.

Kelas Sains One. Jam istirahat.

Temari mendesah lega begitu mendengar bel istirahat. Ia merenggangkan otot-ototnya yang kaku akibat terlalu lama duduk.

Sebagai gadis yang tomboy, atau ia lebih suka menyebutnya aktif, Temari tidak pernah tahan untuk berdiam diri lama-lama tanpa melakukan apapun.

Karena itulah, ia sangat sangat heran ketika mengetahui ada makhluk yang mampu tidur berjam-jam dimanapun kapanpun tanpa merasa tersiksa. Dan kebetulan sekali, salah satu makhluk itu adalah teman sebangkunya sendiri.

Gadis itu kembali mendengus begitu mengingat nanas sialan itu. Ia menoleh dan mendapati pemandangan yang familiar. Shikamaru tidur. Dengan lengannya sebagai bantal.

Biasanya Temari tidak pernah peduli dengan apapun yang dilakukan teman sebangkunya itu. Tapi sekarang ia punya urusan penting bin genting dengan si nanas. Ini masalah tugas biologi. Masalah nilainya yang berharga. Masalah nyawanya. Hidup dan matinya.

Maka dengan nada ketus yang tidak dapat dihindari, Temari membangunkan Shikamaru. "Oy, bangun!"

Gadis itu menusuk-nusuk lengan si pemuda dengan ujung pensilnya yang tajam. Sangat tajam. Begitu tajamnya sampai Shikamaru langsung berteriak kesakitan pada tusukan pertama.

Dengan makian yang tertahan di lidah, pemuda itu menatap Temari malas. "Ada apa?"

Temari bersedekap. "Orang tuamu di rumah?"

Shikamaru mengangkat sebelah alisnya. "Hanya ibuku, ayahku pulang jam 6. Memangnya kenapa?" Pemuda itu jelas heran, untuk apa gadis itu menanyakan keberadaan orang tuanya? Seperti ingin melamar saja. Sontak ia bergidik ngeri. Itu gila!

Temari malah menjentikkan jarinya dan tersenyum puas mendengar jawaban Shikamaru. "Sudah diputuskan. Kita kerjakan di rumahmu."

"Apa? Kenapa harus rumahku?" Shikamaru jelas tidak terima. Pemuda itu tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Temari dan ibunya dipertemukan sementara ayahnya belum pulang. Artinya ia sendirian. Ditengah-tengah kepungan wanita paling menyeramkan dalam sejarah. Dan itu buruk. Sangat buruk.

Temari merengut mendengar nada suara Shikamaru yang seolah tidak suka ia datang. "Ya," Gadis itu berbalik. "Dan tidak ada penolakan." Jawaban mutlak dilayangkan kemudian melenggang pergi sebelum Shikamaru sempat mengajukan protes lebih jauh. Meninggalkan pemuda itu yang hanya bisa menghela nafas pasrah. Lagi.

Hari ini pasti akan terasa lebih merepotkan dari biasanya.

.

.

.

Koridor. Pulang sekolah.

Temari berjalan di sepanjang koridor dengan sebelah tangan menenteng tas sementara sebelahnya lagi menarik lengan seragam seseorang berambut nanas serta wajah malas dan tersiksa yang kentara. Siapa lagi kalau bukan Shikamaru?

Sesuai kesepakatan mereka -keputusan sepihak Temari sebenarnya- hari ini mereka akan mengerjakan tugas biologi di rumah Shikamaru.

Bukan tanpa alasan Temari membuat keputusan macam ini. Ia telah memikirkannya matang-matang.

Alasan pertama adalah, rumah Temari tidak ada orang. Dan gadis itu tidak mau mengambil resiko kehilangan sesuatu yang berharga kalau sampai mengajak nanas itu ke rumahnya. Biar bagaimanapun antisipasi itu perlu.

Alasan kedua, karena tidak ada orang, otomatis keadaan di rumahnya sepi. Hening. Itu jelas merupakan suasana yang sangat mendukung pemalas macam Shikamaru untuk tidur. Dan Temari tidak mau mengambil resiko lepas kendali lalu membunuh pemuda itu di tempat.

Yang ketiga, dengan adanya orang tua Shikamaru, mungkin pemuda itu bisa sedikit mengontrol keinginan tidurnya yang gila-gilaan.

Itulah alasan-alasan utama yang menjadi poin pertimbangan Temari.

Dan jadilah, setelah melalui diskusi yang diakhiri pemaksaan sadis, gadis itu pulang sambil menyeret Shikamaru ikut bersamanya. Peduli setan dengan tatapan menggoda Sakura dan Ino. Yang penting adalah tugasnya!

"Hentikan itu, aku bisa jalan sendiri." Shikamaru terlihat tidak nyaman dengan aksi penarikan Temari dan tatapan aneh penduduk sekolah.

Tapi Temari tidak peduli. "Kalau ku lepas nanti kau kabur."

Shikamaru menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Tidak berniat untuk mengajukan protes lagi. Karena berdasarkan pengamatannya, Temari adalah gadis yang sangat keras kepala. Semakin kau membantahnya, semakin gencar ia memaksamu.

.

Temari celingukan sesampainya di tempat parkir. "Motormu yang mana?"

"Yang itu," Shikamaru menunjuk sebuah motor sport warna merah di deretan ujung.

Untuk sesaat Temari terpana. Gadis itu menyukai motor sport lebih dari apapun. Ia hampir saja melancarkan seruan kagum, tapi ditahannya begitu mengingat siapa pemilik motor itu.

Dengan wajah sok cuek, Temari berjalan mendekati motor itu. Kali ini tanpa menyeret Shikamaru.

"Kau cuma bawa satu helm?" Gadis itu merengut kesal mendapati hanya ada satu helm yang tergantung di stang motor.

Shikamaru mendengus. "Mana aku tahu kau mau ikut,"

Temari mencebikkan bibirnya. Shikamaru memang benar, ia yang salah. Tapi gadis itu tidak suka disalahkan.

Shikamaru memutar bola matanya malas. Tanpa memperdulikan wajah kesal Temari, ia menaiki motornya dan memakai helm-nya.

"Kau mau naik tidak?" Shikamaru bertanya sedikit tidak sabaran melihat Temari yang hanya diam saja.

Gadis itu menatap Shikamaru. "Ada peraturan yang harus kau ingat baik-baik sebelum memboncengku,"

"Peraturan?" Apa lagi ini? Kenapa kesannya seperti Shikamaru yang memaksa gadis itu ikut? Ia tidak habis pikir.

"Tidak boleh cari-cari kesempatan, tidak boleh membawaku ke tempat lain selain rumahmu, dan jangan harap aku mau memeluk pinggangmu."

Temari menyebutkan peraturannya dalam satu tarikan nafas. Shikamaru mendengus. "Terserah kau saja, Gadis Merepotkan."

Si kuncir empat tersenyum miring kemudian menaiki motor pemuda itu.

"Hey,"

"Kenapa lagi?"

"Kau tidak takut kuncir nanasmu layu kalau pakai helm?

"..."

"..."

Sialan gadis ini.

.

.

.

Kediaman Nara. 03.30 p.m.

Hijau.

Itulah kesan pertama Temari terhadap rumah Shikamaru. Sebagian besar halaman rumah itu terdapat tanaman. Dan itu membuatnya cukup terkesima. Bukan, bukannya rumah Temari tidak ada tanamannya, hanya saja suasana di rumah ini terasa lebih ... hidup.

"Mau sampai kapan kau berdiri disana?" Sebuah suara menyebalkan menghentikan aksi kagum Temari.

Cepat-cepat gadis itu berjalan menyusul Shikamaru yang sudah berada di depan pintu rumahnya. Ia meremas rok sekolah nya, sedikit gugup juga, bukan, bukan jenis perasaan gugup yang dirasakan ketika bertemu orang tua pacarmu, Temari hanya takut orang tua pemuda itu mengenalinya sebagai seseorang yang pernah terlibat insiden nista dengan anaknya. Bisa-bisa ia pingsan seperti Hinata saking malunya.

"Tadaima," Shikamaru berseru seraya membuka pintu.

Dan seorang wanita paruh baya berambut hitam datang menyambut. "Okaeri, wah kau bawa teman, ya?"

Wanita itu menanyakan hal yang sudah terlihat jelas. Dan Temari bersumpah melihat tatapan jahilnya begitu menyebut kata 'teman'.

Gadis itu hanya bisa tersenyum canggung. Inginnya sih berteriak protes, tapi ia masih ingat sopan santun. Lagipula Temari cukup bersyukur wanita itu tidak teringat, atau kalaupun ingat, dia tidak mengungkit kejadian nista dua tahun lalu.

"Selamat sore, Bibi. Aku Temari, teman sekelas Shikamaru."

Temari membungkuk sopan disertai senyum manis. Shikamaru mendecih melihat betapa hebatnya gadis itu bertransformasi dari iblis menjadi malaikat hanya dalam satu kedipan.

"Manis sekali. Silahkan duduk, biar bibi siapkan camilan." Yoshino -ibu Shikamaru- tersenyum cerah, merasa senang anaknya berteman dengan gadis cantik yang kelihatannya baik.

Tapi kemudian senyumnya berganti menjadi tatapan otoriter. "Shikamaru, cepat ganti bajumu. Jangan buat Temari-chan menunggu lama."

Dan Shikamaru lagi lagi hanya bisa menurut pasrah. Wanita galak memang semuanya sama. Sama-sama pandai berkamuflase.

.

Sementara Shikamaru mengganti pakaiannya, Temari duduk di sofa ruang tamu. Empuk. Gadis itu berani bertaruh si nanas pasti banyak menghabiskan waktunya disini selain di atas tempat tidur.

Temari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Ada sebuah meja kecil di hadapannya yang sekarang dipenuhi camilan, sebuah lemari yang entah berisi apa tengah tersandar di dinding, sebuah televisi layar datar berukuran 21 inch, dan banyak pigura berisi foto Shikamaru bersama keluarganya. Mereka terlihat begitu harmonis. Kapan keluarganya bisa seperti itu? Gadis itu tersenyum kecut.

Lagi-lagi Shikamaru berhasil membuat Temari iri.

"Berhenti menatap foto keluargaku dengan tatapan lapar," Dan suara menyebalkan itu lagi-lagi mengusik kegiatan Temari.

Gadis itu mendelik tajam pada sumber suara. Terlihat Shikamaru sekarang tengah berjalan kearahnya dengan menenteng tas laptop.

"Kau mau pulang jam berapa?" Shikamaru meletakkan laptop itu di atas meja.

Temari menatapnya kesal. "Aku baru datang dan kau sudah mengusirku?"

Shikamaru menghela nafas. Memilih menyibukkan diri dengan laptop nya daripada meladeni Temari. Dan gadis yang bersangkutan juga kelihatannya tidak ingin memperpanjang masalah.

"Kau sudah tau mau meneliti penyakit apa?" Shikamaru bertanya tanpa menatap lawan bicaranya.

Temari terlihat berpikir sebentar. "Yah, aku pernah baca artikel tentang penyakit bernama Kutukan Ondine. Kurasa itu cukup menarik."

"Aneh sekali, penyakit merepotkan apa lagi itu?" Shikamaru terlihat meremehkan nama penyakit itu.

Temari kesal setengah mati. Tidak terima idenya dihina begitu saja. "Baca saja dulu, jangan banyak mengeluh."

Dan seperti biasa, Shikamaru hanya bisa pasrah diperintah oleh Temari. Jari-jarinya dengan lincah menari di atas keyboard mengetikkan nama penyakit yang aneh bin ajaib yang disebutkan Temari tadi.

Pemuda itu membaca artikel yang terpampang di layar laptop dengan seksama. Sementara Temari menunggu responnya sambil memakan biskuit yang tersaji di atas meja.

"Menarik juga," Shikamaru mengomentari setelah selesai membaca.

Temari tersenyum bangga. "Bisa apa kau tanpaku?"

Shikamaru memilih tidak menanggapi aksi narsis gadis itu. Selain tidak penting juga bisa mengundang bahaya.

"Ya sudah, Ayo kita kerjakan."

.

.

.

"Benarkah? Shikamaru secengeng itu?" Dengan wajah tidak percaya dan seringai yang mati-matian ditahan, Temari bertanya pada wanita di sebelahnya.

Sekarang ini ia tengah berada di dapur kediaman nara bersama Yoshino, membantu wanita itu menyiapkan makan malam.

Berawal dari ajakan Yoshino untuk makan malam bersama, yang tentunya Temari tolak secara halus. Tapi ternyata Yoshino tidak pasrahan seperti anaknya, wanita itu terus saja membujuk-memaksa tepatnya-Temari, sampai akhirnya gadis itu mengalah dengan syarat ia ikut membantu menyiapkan makan malam.

Bukan karena ingin bersikap sopan santun, ia hanya tidak ingin terperangkap berdua bersama si nanas selama menunggu makan malam siap.

Dan ternyata keputusannya tidak buruk juga, buktinya sekarang Temari mendapat kesempatan untuk mendengar aib Shikamaru. Dan itu menyenangkan. Sekarang ia punya banyak senjata untuk menyiksa nanas sialan itu.

Ah, alangkah adilnya hidup ini...

"Bahkan ia pernah menangis selama tiga jam penuh hanya karena tidak jadi ke taman hiburan."

Yoshino terlihat antusias saat menceritakan aib anaknya sendiri. Sungguh, Temari tidak mengerti hubungan ibu-anak macam apa yang terjalin antara Shikamaru dan Yoshino. Tapi gadis itu tidak mau ambil pusing. Lebih baik ia memanfaatkan kesempatan emas ini.

"Ah Temari-chan, tolong kau bawa sup ini ke meja makan," Yoshino menyerahkan semangkuk besar sup yang disambut dengan senang hati oleh Temari.

Gadis itu melangkah menuju ruang makan yang berbatasan dengan dapur dan ruang tamu. Disana, di ruang tamu, Shikamaru tampak sedang menonton televisi dengan wajah bosan.

Temari menatap pemuda itu dengan seringai yang tercetak jelas. Dan yang bersangkutan tampaknya sadar kalau ditatap. "Kenapa kau menatapku begitu?"

"Bukan apa-apa," Temari menggeleng lalu tersenyum manis. Terlalu manis. Saking manisnya Shikamaru sampai mendapat firasat buruk soal ini.

Buku romanya bergidik ngeri karena aura seram yang tiba-tiba saja mengelilinginya. Perasaanku tidak enak, Shikamaru membatin.

Sementara Temari tampak begitu puas, hatinya girang tak terkira membayangkan jenis-jenis penyiksaaan yang mungkin ia lakukan pada nanas sialan yang satu itu.

Senangnya...

"Tadaima," Sebuah suara berat membuyarkan atmosfer mengerikan di antara dua anak muda itu.

Dan terlihatlah sosok yang tampak mirip dengan Shikamaru, Nara Shikaku. Disusul kemunculan Yoshino dari dapur. "Okaeri," dengan cekatan, wanita itu membantu melepas jas suaminya.

Shikaku tersenyum sekilas. Kemudian atensinya beralih sosok asing di ruang makan. "Rupanya kita kedatangan tamu ya," pria paruh baya itu kembali tersenyum.

Temari tersenyum kikuk. Ia ingat siapa pria itu, seseorang yang dikenalinya saat acara kelulusan dua tahun lalu sebagai ayah Shikamaru. Dan ia takut orang itu mengingatnya juga.

"Ah, apa kita pernah bertemu sebelum ini?" Shikaku menautkan kedua alisnya, terlihat mengingat-ngingat.

Temari kembali tersenyum kikuk. "Yah, kurasa begitu, Paman."

"Oh benar juga, bukannya kau ini teman SMP-nya Shikamaru? Paman pernah melihatmu saat acara perpisahan."

"Y-ya."

Dia pasti hanya mengingatku sekilas, pasti begitu. Tidak mungkin dia ingat kejadian itu, tidak mungkin!

"Dan oh! Kenapa aku bisa lupa? Kau gadis yang waktu itu terjatuh bersama Shikamaru, kan?"

Glek.

Mati aku.

.

.

Makan malam siap sekitar lima menit kemudian, dan suasana terasa begitu canggung bagi Temari. Hanya bagi Temari. Karena kini tiga orang lainnya tengah terhanyut dalam suasana kekeluargaan yang aneh.

Ya, aneh.

"Shikamaru cuci dulu tanganmu!"

"Hey, Shikaku jangan coba-coba menyentuh tempura itu!"

"Shikamaru! Cepat cuci tanganmu, jangan tidur di meja makan!"

"Shikaku! Berhenti mencomot makanan!"

"Shikamaru!"

"Shikaku!"

Dan kedua nama itu terus diteriakan Yoshino sampai lima menit berikutnya. Temari heran, ini pertama kalinya ia melihat seorang wanita begitu mendominasi dalam satu keluarga. Tapi ia suka itu. Kelihatannya Temari mulai menyukai keluarga ini.

Cukup lama juga kerusuhan terjadi di meja makan, tapi untungnya sekarang semua sudah duduk manis mengelilingi meja makan dan bersiap untuk menyantap makan malam.

"Nah, ini dia!"

Yoshino dengan semangat menumpuk makanan untuk Temari -setelah melayani Shikaku. Untuk Temari, bukan Shikamaru. Anaknya itu yang mana sih? Pemuda itu menggerutu dalam hati.

"Ne ne, ini makanlah yang banyak Temari-chan." Wanita itu tersenyum lembut pada Temari. Sang gadis tertegun.

'Kau harus makan yang banyak agar cepat besar, Tema-chan.'

DEG

Bayangan itu terulang. Ingatan tentang sang ibu yang ia simpan rapat-rapat di sudut terdalam hatinya kembali terbuka.

Melihat Yoshino tersenyum seperti itu entah kenapa mengingatkan Temari pada ibunya.

Senyum mereka sama.

Dulu ibunya tidak pernah absen untuk menebar senyum. Saat ia senang, ibunya akan ikut tersenyum. Saat ia bersedih, ibunya akan tersenyum untuk menenangkannya. Bahkan saat ia berbuat nakal pun, ibunya tetap setia tersenyum hangat padanya.

Dan rasa rindu itu perlahan menjalar menulusup di tiap rongga hatinya. Memberi sensasi hangat sekaligus sesak di dada. Dan saat ia sadar, air mata itu sudah menuruni pipinya.

"Temari-chan?"

Temari tersentak. Buru-buru ia mengusap kasar air mata yang mengumpul di pelupuk matanya. Gadis itu tersenyum canggung. "Maaf, aku hanya sedikit terbawa suasana. Ibuku sudah lama meninggal jadi ... yah, begitulah." Temari tertawa hambar, berusaha mencairkan suasana canggung yang ia ciptakan.

"Dasar hiperbolis," Suara menyebalkan dari teman sebangku sang gadis yang pertama memecah keheningan.

Bletak!

"Jaga bicaramu!" Dengan sadis, Yoshino memukul kepala putra sematawayangnya sampai hampir mencium permukaan meja.

"Maafkan anak ini ya Temari-chan, dia memang harus diajari sopan santun."

Yoshino menatap Temari penuh rasa bersalah kemudian memberi tatapan membunuh pada putranya. Dan juga pada suaminya yang adem ayem saja melihat tingkah kurang ajar anak mereka.

Temari hanya bisa mengangguk kaku. Sebenarnya memang sejak awal ini salahnya yang terlalu mendramatisir keadaan, lagipula ia cukup mengerti kalau Shikamaru juga ingin mencairkan suasana. Tapi sepertinya si nanas itu sudah salah langkah.

"Sudahlah, Bi. Itu bukan masalah besar. Sebaiknya kita lekas makan selagi masih hangat."

Temari mencoba menenangkan Yoshino yang masih setia menguliti dua orang pria Nara dengan tatapan tajamnya.

Wanita itu menghela napas. "Baiklah. Selamat makan."

Dan keempat orang berbeda gender itu pun mulai menyantap makanan masing-masing.

Temari menyuap sesendok sup kenchin ke dalam mulutnya. Ia kembali tertegun. Bahkan rasa sup ini pun sama persis dengan buatan ibunya.

Dulu, ibunya selalu memaksa Temari untuk menghabiskan sup kenchin, tapi ia selalu menolak karena tidak suka rasanya. Dan sekarang, sup kenchin malah menjadi makanan favoritnya.

Gadis itu tersenyum kecut. Ah, lagi-lagi ia terhanyut dalam kenangan masa kecilnya. Tapi ... sepertinya tidak buruk juga...

"Tidak enak ya, Temari-chan?" Yoshino menatap Temari cemas. Takut kalau-kalau masakannya tidak memuaskan.

Temari menggeleng pelan. "Tidak. Ini ... ini sangat enak! Aku Suka!" Gadis itu tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang bersih terawat.

Senyuman tulusnya.

Ternyata Shikamaru tidak selalu mendatangkan kesialan. Buktinya sekarang, Temari bisa bertemu sosok ibu kedua baginya.

Mulai sekarang, kerja kelompok bersama Shikamaru akan menjadi hal yang menyenangkan bagi Temari.

Begitu pun bagi Shikamaru. Kenapa bisa? Tanyakan itu pada senyum Temari.

.

.

.

TBC

Balasan review non-login:

Guest : Hoho penasarankah? Ini udah di update, kilat ga? XD

A/N:

Hai lagi ._.

Part ini kayaknya makin berbelit-belit ya, semoga kalian bisa nangkep inti ceritanya ;3

Semoga ga kelewat hambar juga yak, ampun deh nyelesain chap yang satu ini tuh perjuangan banget, nyari diksi yang pas itu susahnya minta ampun:"" jadi maafkeun kalau kelewat nista T.T

Dan sumpah saya ga nyangka bisa panjang gini, kirain bakal pendek taunya selesai ngetik udah sepanjang ini hng ;3

Yah chapter depan mungkin lebih pendek dari ini, atau mungkin juga engga(?) ._.

Oiya saya mau jelasin beberapa hal.

Pertama, Kutukan Ondine itu emang nama penyakit. Saya lupa nama aslinya apa, tapi itu sejenis penyakit pernapasan(?) Kalau kalian mau tau, bisa cari artikelnya di internet kkk~ xD

Kedua, sup kenchin itu kalau ga salah emang makanan favoritnya Temari. Tapi kurang tau juga sih, saya dapet dari salah satu blog ;3

Dan Happy birthday for me! Yeay *tiupterompet* sengaja ngepost ini pas lagi ultah biar bisa mungut ucapan atau kado(?) *alay *ditendang

Ah iya, mungkin chap depat bakal cukup lama di update, mungkin loh yaa... soalnya aku udah mulai sibuk sekolah, sumpah capek hiks:""

Okelah segitu aja cuap-cuap saya, terima kasih buat yang udah review, fav, follow, dan baca. Semoga chap ini ga mengecewakan ya:") Dukungan kalian berarti banget buat saya huhu:"") *nangisterharu *lebay

Satu lagi, ini ga saya edit ulang, jadi kalau ada banyak kesalahan tolong dimaklumi ;3

See ya next chapter~