A Fanfiction

"Romance no Kamisama"

Genre: Romance

Pairing: Doumeki x Watanuki

Disclaimer: CLAMP, not this author -,-

a/n wokeeh… Ini adalah chapter ke-dua dari penpik inii… Dan author berharap ini gak kandas di tengah jalan(lagi). Penpik ini ditulis sepulangnya author dari seleksi olimpiade biologi se-kota(hadeh…), yang diharapkan seteres-nya beliau langsung lenyap dimakan orang.

NB: mohon maap kalo-kalo ancur ini fict…
Dan saya tetap minta review dari rekan sesama author.
Saran dan kritik Anda akan sangat membangun bagi saya.
Sekian dan terima kasih…

Second Day: Talk to Your Heart

Watanuki membuka matanya pelan-pelan. Dengan keadaan yang masih terkapar di atas tatami, Watanuki mengawasi sekitarnya. Ia masih berada di ruangan Yuuko, sendirian. Watanuki bangun, lalu menyenderkan tubuhnya yang pegal pada sofa yang berada tak jauh darinya. Kepalanya tiba-tiba terasa pening dan pandangannya berangsur-angsur kabur. Watanuki melepas kacamatanya, lalu mendongakkan kepalanya jauh ke atas, memandangi lampu berwarna redup yang menggantung dengan tenangnya. Watanuki menutup matanya sebentar untuk mengembalikan penglihatannya, lalu perlahan-lahan berdiri dari tempatnya tersender, dan berjalan pelan keluar dari ruangan Yuuko.

"Ah… Ngomong-ngomong di mana Yuuko…?"

Secara tidak langsung Watanuki mendengar suara berisik dari tasnya yang tergeletak tak terurus di sampingnya. Digeledahnya dengan hati-hati tas tersebut, dan ia menemukan handphone-nya tengah bergetar –dengan layar yang mati dan kemudian menyala lagi, disusul dengan bunyi-bunyian ricuh tadi. Ada telpon… Dan di layar handphone-nya terpampang nama 'Himawari'.

"Ha-halo…?", Watanuki menarik nafas untuk mengurangi kesan groginya, "Ada apa Himawari-chan?"

"Ano… Watanuki-kun, hari ini aku dan Doumeki berencana pergi ke Jinbocho untuk mencari novel terjemahan. Apa kau mau ikut Watanuki-kun?"

Tiba-tiba dada Watanuki terasa aneh ketika nama itu disebut. Nama rivalnya…

"Umm… Aku…"

"Oh, ya, bukankah hari ini kau ada tes?" Tanya Himawari di seberang sana.

"Err… Tesnya dibatalkan hari ini sepertinya. Belum ada konfirmasi…"

"Begitu, ya…", Himawari menarik nafas lega, "Jadi… Apa kau bisa ikut?"

"Umm… Bisa kok! Tentu saja!" balas Watanuki dengan nada riang.

"Baiklah… Kalau begitu kutunggu di dekat taman kota, ya… Sampai bertemu nanti!"

"Ya! Sampai nanti!"

Watanuki melemparkan handphone-nya ke sembarang arah –lalu mengambilnya lagi, dan segera hijrah dari ruangan Yuuko menuju kamarnya. Gembira? Mungkin, tapi yang jelas Watanuki harus segera bersiap-siap sekarang.

Watanuki berjalan cepat menuju koridor yang otomatis terhubung menuju kamarnya, dan di sana ia menemukan Yuuko sedang menikmati indahnya langit mendung dengan benda mirip canting –yang tidak ketinggalan terselip di antara jemari lentiknya.

"Yuuko…" panggil Watanuki dengan suara nyaris berbisik.

Sosok wanita anggun itu menoleh ke arah Watanuki lengkap dengan senyumannya. Senyuman yang menyudutkan mental siapa saja yang melihatnya. Tapi tidak bagi Watanuki.

"Langitnya indah, ya, Watanuki…" ujarnya.

"Aku tidak melihat sesuatu yang indah di sana…"

"Kau memang tidak…", Yuuko meletakkan benda mirip canting itu di ujung mulutnya, "Tapi aku iya…"

Asap berwarna kelabu perlahan mengalir dari bibir tipis wanita tadi. Mengepul lalu menipis ditiup oleh angin dingin. Yuuko kembali mengamati langit mendung tadi, dan tidak menghiraukan kehadiran Watanuki sama sekali.

"Tenang saja… Hari ini akan jadi hari yang menyenangkan, kok…"

"Eh?"

Yuuko berjalan mendekati Watanuki, kemudian berhenti tepat di sampingnya hanya untuk mengeluarkan sebuah kata mutiara.

"Tidak selamanya yang nampak adalah sesuatu yang kau lihat…"

"Apa maksudnya itu?" Tanya Watanuki dengan dahi yang mengkerut karena dipaksa berpikir.

"Kau akan menyadarinya sendiri…", Yuuko kembali menyeringai, "Aku mengatakan ini karena aku peduli, lho…"

Yuuko berjalan meninggalkan Watanuki sendirian di koridor. Tak lama setelahnya, hujan rintik-rintik turun mengguyur Tokyo saat itu juga.

"Apa yang dimaksudkannya, ya?", Tanya Watanuki seraya memandang lurus ke taman, "Peduli? Masalah apa? Mungkin aku lebih baik mandi dulu…"

Watanuki memilih untuk membawa badannya yang linglung cepat-cepat menuju kamar mandi. Setibanya di ruangan yang Yuuko sediakan untuknya, ia langsung menyalakan pemanas air. Sembari menunggu pemanas tersebut mencapai suhu yang ia inginkan, Watanuki kembali ke kamarnya dan menyiapkan baju salinan untuknya.

"Kayaknya pulang dari sekolah kemarin gak ada apa-apa, deh… Kok aku ngerasa aneh, ya…?"

Watanuki merebahkan tubuhnya lagi di atas tatami sembari mengingat-ingat, apa saja yang telah dan sedang akan dia lakukan kemarin.

"Rasanya kemarin aku cuma pulang bareng sama Doumeki, deh… Terus pulang lari-larian gara-gara takut kehujanan… Terus…"

Sebelumnya aku berdoa di kuil kecil yang ada di dalam taman kota itu...

Watanuki seolah-olah menemukan titik temu. Ia bangkit dari posisinya dan berjalan pelan menuju kamar mandi untuk memastikan pemanas airnya bekerja dengan seharusnya. Matanya menatap hampa –jiwanya pergi ke kilasan masa lalunya kemarin, di hari yang mendung itu.

"Tapi, apa memang karena itu…? Aku 'kan gak minta yang macem-macem…"

Watanuki perlahan-lahan melucuti seragamnya satu persatu, dan bersiap untuk mandi. Hawa hangat menyebar begitu pintu yang jadi pembatas kamar tidurnya dengan ruangan tempat ia berada sekarang ditutup. Watanuki menghela nafas lega, lalu menyalakan keran shower yang berada sedikit jauh darinya. Air dengan suhu yang relatif hangat mengalir dengan lancarnya, membasahi tiap inchi bagian tubuhnya, tanpa terkecuali. Watanuki menatap jauh ke bawah. Ia merasakan lagi-lagi sesuatu yang bersifat 'memampatkan' muncul di dadanya. Perlahan dan ragu-ragu ia meletakkan kedua tangannya di daerah yang terasa mengganjal itu, membentuk sebuah tangkupan yang lembut, namun sebenarnya ia menahan sebuah rasa sakit yang dalam. Pikiran dalam diri Watanuki berdalih bahwa itu hanya penyakit biasa –entah kelelahan atau apalah. Watanuki tidak memusingkan hal itu lagi dengan bersugesti, bahwa ini bukanlah hal yang membahayakan keselamatannya sendiri. Segeralah ia melupakan gangguan sementara tadi, dan melanjutkan ritual mandinya.

"Kau terlihat bersemangat sekali, Watanuki…", Yuuko membetulkan jepit rambutnya yang mengendur, "Ada apa?"

"Nggak, kok. Cuma hari ini aku mau keluar…" balas Watanuki seraya membenarkan kemeja panelnya.

"Ramai-ramai, ya?"

"Nggak juga… Cuma 3 orang, kok. Aku, Himawari-chan, dan Doumeki."

"Tapi… Bagiku itu ramai…" jawab Yuuko dengan senyumnya.

"Terserah padamu sajalah…", Watanuki membenarkan resleting tas ranselnya yang sedikit menganga, "Makanan sudah aku taruh di freezer semua, oke?"

Yuuko hanya terdiam, tapi tetap meninggalkan senyum itu di wajahnya. Senyum yang kali ini seolah menyatakan bahwa ia mengetahui sesuatu, sesuatu yang sebenarnya menjadi kunci atas suatu kejadian –tepatnya seolah ia menjadi tokoh serba tahu dalam dunia sastra.

"Sepertinya ada banyak perubahan, ya…"

Watanuki menoleh ke arah Yuuko dengan ekspresi heran.

"Perubahan apa…?"

"Aku gak mau kasih tau, ah…" ujar Yuuko dengan nada mengejek.

"Hhh… Aku berangkat!"

"Perubahan itu nanti akan kau sadari tanpa perlu aku beritahu, kok."

Watanuki diam sejenak, lalu melanjutkan langkahnya keluar dari toko 'ajaib' itu. Setelah memastikan Watanuki berada jauh dari tokonya, Yuuko berjalan pelan menuju taman rumahnya, dan kembali menyaksikan keindahan langit mendung Tokyo di pagi hari.

"Tenang saja, Watanuki… Tidak akan butuh waktu lama untuk menyadarinya, dan tidak akan butuh waktu untuk mengusir rasa tak nyaman itu…"

Dan kau akan menyadari, kau akan membutuhkan sesuatu kelak sebagai pelengkap hidupmu…

"Maaf sudah menunggu lama!", sergah Watanuki di tengah nafasnya, "Kalian sudah menunggu lama, ya?"

Pertanyaan sambutan Watanuki dibalas oleh heningnya Himawari dan Doumeki. Watanuki –sebagai akibatnya, balik menatap mereka dengan pandangan aneh.

"Ada yang salah denganku?" Tanya Watanuki.

"Gak kok." Jawab Doumeki singkat.

"Aku gak nanya kamu!"

Doumeki memilih langsung tutup mulut, dengan ekspresi biasanya. Tapi kok… Apa perasaanku aja…?

"Hmm, kayaknya ada yang beda… Tapi apa,ya?" ujar Himawari dengan polosnya.

"Eeh…? Katakan padaku, Himawari-chan! Jangan bikin aku penasaran deh!" pinta Watanuki.

"Tapi aku sendiri gak tau apa…" balas Himawari sambil tertawa kecil.

"Hmmph…", Watanuki menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, "Kita berangkat sekarang saja, ya? Aku takut hujan kalau kita berangkat agak siang."

"Tentu!", Himawari refleks menarik tangan Doumeki, "Ayo berangkat!"

Sesaat itu juga tiba-tiba rasa yang mengganjal itu dating lagi. Kali ini –jujur sedikit membuat batin Watanuki sesak bernafas. Ia berusaha tidak menunjukkan air muka yang menunjukkan rasa sakit, dan ia mengakalinya dengan berpura-pura batuk.

"Belum jalan saja sudah bengek…" ejek Doumeki.

"Enak saja! Sembarangan kau!"

"Daripada nanti Watanuki-kun kenapa-kenapa…", Himawari perlahan meraih tangan kanan Watanuki yang sedang 'menempel' di dagunya, "Lebih baik kita saling bergandeng saja, ya!"

"Hi-himawari-chan!"

"Ayo kita berangkat!"

Mereka berjalan beriringan menuju stasiun Tokyo. Secara sekilas perasaan mengganjal itu memang hilang, tapi perasaan itu digantikan oleh perasaan lain yang lagi-lagi Watanuki tidak ketahui berasal darimana. Perasaan kali ini tidak menyebabkan rasa sakit, tapi perasaan tidak enak –takut melukai perasaan orang lain. Tapi, apa yang menyebabkan ini terjadi? Kalaupun ia merasa nyaman dengan Himawari yang menggenggam tangannya bersama-sama dengan Doumeki saat ini, kenapa perasaan itu muncul? Dan kepada siapa perasaan itu tertuju? Lagi-lagi batin Watanuki berpikir keras untuk menemukan jawabannya.

Mereka tepat menginjak bumi Jinbocho tepat tengah hari, dan itu adalah tandanya untuk makan siang. Doumeki mencari tempat yang strategis bagi mereka untuk memakan bento bawaan masing-masing, sementara Himawari mencarikan minuman untuk mereka bertiga. Dan lucunya –seperti diatur oleh skenario, Doumeki datang sepersekian detik setelah Himawari pergi.

"Kunogi mau pergi ke mana?" suara bass Doumeki ternyata mengagetkan Watanuki.

"Ah… Dia sedang beli minuman…"

"Untukmu?"

"Nggak, sih… Buat kita bertiga. Lagian tumben kamu bersikap aneh hari ini. Apa gara-gara kuil yang kemarin?" celetuk Watanuki risih.

"Hmm… Mungkin…", Doumeki membuang pandangannya, "Iya…"

Watanuki melirik lirih ke arah Doumeki. Perlahan-lahan batinnya mulai bekerja keras lagi, menghubungkan segala macam rentetan kebetulan yang ia alami, dengan gerak-gerik Doumeki. Tapi bedanya kali ini dia tidak menemukan titik temu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.

"Lebih baik kita ke tempat yang agak nyaman." Ujar Doumeki.

"Eeh? Tidak menunggu Himawari-chan dulu?"

"Kunogi biar aku yang SMS. Lagipula, dia juga sudah sering main ke sini, kok."

"Hei, hei… Lagipula, tumben kau jadi baik begini… Kesambet?"

"Aku iba melihatmu. Nanti kalau kau tepar di sini aku dan Kunogi juga yang repot."

"Si-sial… Maumu apa, sih?"

"Nyari tempat duduk…"

"Gak usah berdalih!"

"Kenapa kau malah bersikap seperti itu?" Tanya Doumeki dengan nada yang tidak biasanya.

"Eh?"

Watanuki lagi-lagi terdiam, lantaran ada perasaan lain yang muncul. Kali ini –Watanuki menganalogikannya sebagai 'menyesal'. Tapi apa yang dia sesali? Watanuki kali ini benar-benar dibuat pusing dengan perasaan-perasaan aneh yang kian lama makin bertubi-tubi menusuk batinnya.

"Biar kubantu kau berjalan."

"Aku bisa sendiri, kok!"

Baik Watanuki dan Doumeki terdiam, dan saling bertatapan. Di mata Doumeki, Watanuki melihat sesuatu yang benar-benar jauh dari biasanya –jauh dari apa yang ia lihat sepanjang sejarah persahabatan mereka. Sesuatu yang nampak tulus dan membuat batin Watanuki bergetar kecil. Sementara di mata Watanuki, Doumeki melihat sebuah kebingungan hebat yang tergores menjadi sebuah untaian garis berantakan. Dan ia –dalam hati kecilnya, sama sekali tidak menyukai benang-benang kusut itu. Doumeki melembutkan pandangan matanya menuju Watanuki. Dan batin Watanuki merespon hal itu. Getaran tadi perlahan-perlahan terus terpacu, tapi tidak menghasilkan rasa sakit sama sekali. Yang ini sangat membuatnya nyaman –ia tak ingin luput dari mata itu, meskipun acap kali pikiran itu selalu ditepisnya.

"Sudah, aku tak mau melihat kau kenapa-kenapa!" ujar Doumeki.

Watanuki menurut saja kali ini. Dibawanya ia ke sebuah tempat yang agak tenang, dengan beberapa pohon rindang yang menghiasinya. Di antara hamparan hijau itu, terdapat sebuah kursi taman yang kelihatannya pas untuk mereka duduki berdua. Dipapahnya tubuh Watanuki yang yaris melayang itu ke bangku tersebut, lalu mendudukkannya dengan posisi yang membuatnya lebih baikan.

"Kau apa-apaan…?"

"Kau itu sakit, tahu! Kenapa kau masih memaksakan diri?"

Sekilas pertanyaan itu kembali membuat batin Watanuki bertanya-tanya. Kenapa ia memaksakan diri padahal dirinya sakit –meski bukan sakit fisik. Tapi terus terang, 'penyakit' barunya ini agak mengganggunya, sehingga ia tidak bisa bergerak dengan leluasa. Tapi atas dasar apa? Lagi-lagi ia bertanya banyak.

"Doumeki-kun! Watanuki-kun!"

Sebuah suara terdengar dari kejauhan. Mereka berdua melihat ke arah yang sama dan menemukan Himawari dengan kantung plastik berisi minuman dan satu kantung plastik lainnya yang ukurannya agak lebih besar dibanding yang satunya.

"Ada apa ini?" Tanya Himawari pada Watanuki dengan nada cemas.

"Ah… Gak pa-pa, kok. Tadi aku cuma sedikit pusing. Tapi sekarang sudah agak baikan…"

Sekilas Watanuki melihat sebersit ekspresi di wajah Doumeki. Wajahnya masih tetap tenang, tapi kali ini dia seolah diam. Diam karena ada sesuatu yang membuatnya begitu. Apa yang membuatnya jadi demikian? Dan sekali lagi, batin Watanuki memikirkan segala sesuatu yang seharusnya ia pusingkan. Kenapa Doumeki memasang wajah yang sedikit murung dan cenderung suram itu? Apa dia sedang ada masalah? Gak biasaya aku mikirin yang macem-macem masalah orang yang satu ini. Tapi kok aku jadi aneh sendiri? Tapinya juga… Aku mau tahu, tentang dia…

"Hari ini aku beruntung, deh!" ujar Himawari dengan nada riang.

"Beruntung kenapa?" Tanya Watanuki.

"Tadi aku berpapasan dengan Bibi Emuri di dekat supermarket, lalu ia memberikanku novel-novelnya."

"Eeh? Benarkah?", Tanya Watanuki lagi, "Kok bisa kebetulan begitu, sih?"

"Sepertinya doanya Doumeki-kun mujur, deh. Iya, kan?"

Doumeki tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Sebentar ia memandang wajah Watanuki, lalu kembali menundukkan kepalanya, lirih.

"Hmm…"

Watanuki merasakan nyeri pada tubuhnya. Watanuki menekan tangan kanannya tepat pada bagian itu. Dan dada Watanuki kembali mengisyaratkan perasaan yang sama… Apa-apaan ini?

"Watanuki-kun kelihatan tidak sehat… Apa kita pulang saja?" Tanya Himawari.

"Sudah kubilang kau itu tidak enak badan… Akhirnya merepotkan juga, kan…" ujar Doumeki.

"Jangan berbicara seperti itu, Doumeki-kun… Kasihan Watanuki-kun…"

Seperti ditemukan satu titik, Watanuki melihat sebersit cahaya mirip petir di wajah Doumeki. Perlahan air mukanya berubah, dan kian berubah. Ia terlihat nampak sedih… Apa jangan-jangan…

"Aku nggak pa-pa, kok… Aku pulang sendiri saja, deh.", balas Watanuki sambil berdiri, "Maaf ganggu acara kalian, ya…"

"Ano… Watanuki-kun…!"

Watanuki berlalu meninggalkan Doumeki dan Himawari berdua di taman. Perlahan sosoknya hilang ditelan bumi, sesuai dengan teori Colombus –dunia itu bulat. Doumeki menghela nafas penuh penyesalan, kemudian menatap sunyinya langit mendung siang itu.

"Sepertinya Watanuki-kun marah.."

"Iya…", jawab Doumeki, "Gara-gara aku…"

Himawari menghampiri Doumeki, lalu menepuk pundaknya pelan. Doumeki menoleh ke arah si gadis dengan penuh kebingungan.

"Hanya Doumeki-kun yang bisa menyelesaikannya…" ujar Himawari lembut.

"Besok pasti baikan, kok…" tukas Doumeki.

"Tidak! Masalah yang ini berbeda!", tambah Himawari, "Kau harus segera menyelesaikannya!"

Doumeki menatap Himawari, terkejut. Doumeki menghela nafasnya lagi, dan membulatkan tekadnya. Sesaat sebelum beranjak pergi, Doumeki mengatakan sebuah basa-basi sebagai tanda 'penghormatan'.

"Bagaimana denganmu Kunogi?"

"Aku di sini saja. Lagipula… Nanti aku bisa ke rumah Bibi Emuri." Jawabnya tersenyum.

Doumeki tersenyum tipis, lalu berlari mengejar Watanuki yang sekarang entah ada di mana.

Ugh…Kenapa…? Kok malah jadi sakit begini, sih? Sesak… Aku gak kuat lagi… Lagipula kenapa sih kok malah makin jadi aja 'penyakit'-nya? Ini penyakit apa, sih? Ditambah lagi…Doumeki…

"Watanuki!"

Watanuki menoleh ke arah sumber suara, dan ia mendapati tubuh jangkung Doumeki tengah berlari ke arahnya. Perlahan-lahan tanpa disadarinya, pandangan matanya kabur dengan sendirinya. Semuanya gelap gulita, dan hampa. Selanjutnya, ia tidak tahu apa yang terjadi, kecuali sebuah tangan hangat yang mendekap tubuh lemahnya.

-end of chapter 2-