In Summer
Cast:
Kim Jongin
Oh Sehun
Xi Luhan a.k.a Kim Luhan
Warn: Yaoi, OOC, Typo's, Gaje, dan masih banyak lagi yang belum ditemukan
.
.
Don't Like? Don't Read!
.
.
"Appa dan eomma harus pergi ke California, jadi selama kami tidak ada, kami akan menitipkanmu pada hyung-mu. Tinggal disana, agar kau tidak kesepian, juga hyungmu akan mengawasimu menggantikan kami, selama kami pergi." Tuan Kim, berbicara serius pada putra bungsunya itu.
"Aku sudah besar appa, aku bisa menjaga diriku sendiri." Ujar Jongin, menolak secara halus permintaan sang appa.
Nyonya Kim mengelus surai kehitaman putra bungsunya yang tengah tidur dipangkuannya.
"Kami tahu, tapi kami khawatir akan kesehatanmu Jongin sayang. Kau akan menunda waktu makanmu kalau tidak diawasi." Ia sangat tahu kebiasaan putra bungsunya itu.
"Aku janji itu tidak akan terjadi, eomma. Aku akan hidup dengan baik disini, aku tidak ingin merepotkan Luhan hyung."
"Tidak sayang, kau tidak akan merepotkan hyung-mu. Tadi appa sudah menghubunginya dan beliau setuju, terlebih suaminya juga tidak keberatan dengan kehadiranmu disana." Tuan Kim kembali berujar. Ia masih setia membujuk sang putra, agar mau tinggal bersama hyung-nya ketika mereka tidak ada dirumah untuk urusan bisnis.
Mereka memang tidak akan keberatan, tapi aku yang keberatan, eomma, appa. Aku tidak akan sanggup berada didekat Sehun lagi. Batin Jongin miris. Ia menolak keinginan orang tuanya karena masih belum siap untuk bertemu dengan Sehun—mantan kekasihnya, yang sekarang sudah menjadi kakak iparnya.
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapian, Sehun yang akan menjemputmu besok." Ujar Tuan Kim tegas.
A-apa?
"Eomma sudah membereskan barang-barang yang sekiranya akan kau perlukan disana."
.
.
.
Hingga berakhirnya Jongin disini, di dalam mobil Sehun. Hanya ada mereka berdua, tadi Sehun menjemputnya. Sama persis seperti yang disampaikan ayahnya semalam. Jongin tak mampu berbicara sekedar mencairkan kesunyian yang melanda mereka berdua. Sesekali sahutan klason mobil menyeru, meramaikan hiruk piuk keramain kota dimana deretan antrian mobil memenuhi badan jalan.
"Sudah makan?"
Sedikit terkejut mendengar suara berat Sehun menyapa pendengarannya, Jongin menggeleng pelan. Mengerti tanpa menjawab pertanyaan Sehun pun, sudut mata Sehun yang terus tertuju kearahnya melihat gelengan kepala Kai.
"Kita akan—"
"Tidak." Potong Jongin cepat. "Aku hanya ingin istirahat." Jongin mengalihkan pandangannya ke jendela mobil, merasa sedikit sungkan karena telah menolak ajakan Sehun sebelum pria itu menuntaskan perkataannya.
Jongin sangat mengerti, Sehun sangat marah sekarang. Terlihat dari kecepatan yang ia pacu disaat lampu merah telah berganti warna menjadi hijau, mobil Sehun melesat meninggalkan mobil-mobil antrian lainnya. Berselang beberapa menit, mobil Sehun pun berhenti di kawasan pekarangan sebuah rumah—rumah Sehun dan Luhan.
Entah apa yang Jongin pikirkan ketika melihat rumah itu. Darahnya berdesir, ia ingat benar rumah ini. Rumah yang di rancang khusus oleh Sehun. Rumah yang awalnya akan menjadi rumah mereka berdua. Hadiah yang akan Sehun berikan padanya sebelum perjodohan itu terjadi.
"Se—"
Jongin tidak mampu menyudahi panggilannya ketika Sehun membuka safebelt, dan bergerak cepat kearahnya. Satu kecupan lembut, Sehun daratkan dibibirnya, selama sesaat. Tetapi hal tersebut tak berlangsung lama, melihat Jongin tak bereaksi banyak atas ciuman itu, Sehun lantas membungkam bibir itu lagi. Melumat pelan bibir Jongin. Membuat namja berkulit tan itu mencengkram mantel yang dikenakan Sehun, ingin menolak namun tak kuasa untuk melepaskan. Entah apa yang Sehun lakukan pada bibirnya, Jongin pun tidak mampu berkata untuk menjelaskan perasaan yang meluap yang ia rasakan ketika bibir Sehun menghisap kuat bibirnya.
Tubuhnya merosot disandaran Kursi, tak mengerti kenapa ketika lidah Sehun yang membelai permukaan bibirnya terasa menyesap seluruh energy miliknya melalui sentuhan-sentuhan lembut itu. Jongin tak mampu bergerak, bahkan menahan berat tubuhnya ia tak kuasa begitu lidah Sehun memasuki rongga mulutnya, mengeinvasi seluruh bagian dalam, membelai pelan lidahnya, menyentuh deretan-deretan gigi sebelum akhirnya menghisap lidahnya kuat yang tak Jongin ketahui kapan lidahnya berpindah kedalam mulut Sehun.
.
.
.
Ketika mendapat email dari sang ayah saat dirinya tengah sibuk dengan pekerjaannya dikantor, Luhan segera bergegas pulang untuk menyambut kedatangan sang adik.
"Adikmu akan datang ke rumah nanti sore. Appa harap kau berada di rumah."
Begitulah kira-kira isinya. Luhan langsung heboh dan segera memasak berbagai makanan kesukaan sang adik, hingga seperti inilah sekarang, meja makannya sudah dipenuhi oleh makanan yang ia masak dengan setulus hati. Sudah lama ia tidak bertemu dengan adiknya itu, sejak kepindahannya setelah pernikahannya dengan Sehun.
Ting tong…
Luhan bergegas menuju pintu utama. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Ia ingin segera bertemu dengan Jongin. Sudah lama rasanya ia tidak bertemu. Setelah hari pernikahannya Luhan dan Sehun segera pindah rumah. Ia juga belum sempat berkunjung ke rumah utama, karena pekerjaannya yang menumpuk dan ia juga tahu kalau adiknya itu jarang sekali ada dirumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya bersama teman-temannya.
Cklek
Pintu terbuka, menampakkan wajah Jongin seketika. Menatapnya, meksi hanya dengan sedikit senyuman yang Jongin berikan untuk kakak satu-satunya itu. Terlihat Sehun tengah mengeluarkan koper yang ia yakini berisi perlengkapan Jongin selama ia berada disini.
"Jonginnie~" suara Luhan terdengar riang, "Kenapa lama sekali?" protesnya. "Ayo masuk, hyung sudah menyiapkan banyak makanan untukmu." Lanjutnya, dan membawa Jongin ke ruang makan, meninggalkan Sehun dibelakang mereka.
Jongin hanya tersenyum menanggapinya.
"Ayo kita makan." Ajaknya.
.
.
.
Seminggu sudah Jongin tinggal di rumah Luhan dan Sehun. Kehidupannya memang biasa saja, tidak ada yang berubah, dan dia mencoba bersikap biasa saja pada mereka. Namun ada yang berbeda dengan Sehun, ia selalu memandang Jongin lekat, memang ia lakukan itu secara diam-diam, tapi Jongin tahu itu dengan jelas. Ia menyadarinya, tapi entahlah dengan Luhan, ia bersikap biasa saja. Dan sepertinya dia memang tidak tahu-apa.
Seperti saat ini, diminggu pagi ini mereka bertiga tengah ada diruang makan, sarapan bersama, seperti hari-hari biasa.
Jongin memakan serealnya dalam diam. Luhan sesekali berbincang dengan Sehun, membahas tentang pekerjaan mereka. Dari awal sarapan sampai sekarang, sesekali Sehun mencuri pandang pada adik iparnya tersebut. Ada yang aneh, pikirnya. Karena biasanya Jongin tidak pernah diam seperti itu.
"Jongie, kau sudah punya kekasih?" tanya Luhan tiba-tiba.
Sehun tiba-tiba tersedak dari acara minumnya, mendengar pertanyaan Luhan. Luhan segera menepuk-nepuk punggungnya. Kenapa? Apa ada yang salah, batin Luhan heran.
Jongin mengalihkan matanya pada Luhan, sedari tadi ia hanya focus pada serapannya saja. "Hn," gumamnya tidak jelas.
Luhan hanya mengangkat kedua bahunya, setelah mendengar jawaban Jongin. Ia sudah terbiasa dengan sikap adiknya itu.
"Aku selesai," lanjut Jongin, kemudian ia segera membereskan bekas sarapannya. Lalu berlalu kekamarnya, meninggalkan Luhan dan Sehun yang kini saling pandang, tidak mengerti dengan sikap Jongin.
"Dia kenapa?" tanya Luhan, setelah kepergian Jongin.
Sehun mendesah pelan, "Mungkin dia hanya kelelahan, akhir-akhir ini dia sering pulang terlambatkan." Ujar Sehun, nada suaranya seperti biasa. Sehun beranjak dari duduknya, namun lengannya ditahan oleh Luhan. Hingga akhirnya ia berbalik, menatap Luhan. Ia bertanya, "Wae?" namun Luhan tidak menjawabnya.
"Lu—"
Satu kecupan lembut Luhan daratkan di bibirnya.
Tubuh Sehun menegang seketika. Luhan masih menempelkan bibirnya pada bibir Sehun, menunggu Sehun tenang. Lantas Luhan mulai melumat bibir Sehun pelan. Namun Sehun belum bereaksi sama sekali. Dirasa tidak ada penolakan dari Sehun Luhan semakin berani, memainkan bibir manis Sehun.
Luhan terlalu menikmatinya seorang diri. Mengulum manis bibir Sehun, serta menghisapnya dengan gemas. Sedang Sehun mulai memejamkan matanya dengan kening mengkerut. Ia masih mencoba mencerna prilaku Luhan padanya meski, ia buka sedikit mulutnya, membiarkan Luhan mempermainkan dirinya, lebih tepatnya bibir, yang Luhan hisap dengan nikmat.
Ciuman terlepas setelah Luhan memutus ciuman itu. Sehun bisa melihat dengan jelas wajah Luhan yang memerah. Malu mungkin, atau entahlah. Nafas Luhan terengah-engah setelah ciuman panjangnya tadi. Hingga entah apa yang membuat Sehun kembali menghapus jarak diatara mereka. Mengecup bibir merah Luhan, dan melumatnya dengan bernafsu. Entahlah melihat Luhan dengan nafas terengah dan wajah memerah membuatnya tidak dapat berpikir. Rasanya ia merindukan wajah 'itu', ya wajah 'itu'.
Semakin gencar Sehun melumat bibir Luhan. Menggerakkan kepalanya dengan bebas, mencoba mencari posisi nyaman, agar lebih bisa melahap bibir itu dengan leluasa.
"Emh.."
Dapat Sehun dengar dengan jelas, lenguhan indah yang begitu ia 'rindukan'. Ia berhasil membuat Luhan melenguh nikmat, setelah ia mencoba memasukkan lidahnya, untuk menduduki ruang mulut Luhan. Dengan semangat satu tangannya, semakin menekan tengkuk Luhan, dengan bibir semakin menyatu, berdecak basah dalam saliva yang bertaburan. Oh! Sehunpun tak ingin tangan lainnya terdiam. Maka, tangan itu lalu ia selipkan, menerobos kain celana Luhan hingga meraba kulit di dalamnya.
"Emh!" Luhan semakin mendesah di antara rasa terkejutnya. Tidak menyangka Sehun akan 'menyentuhnya' sekarang. Semakin kuat ia merapatkan kedua matanya, kala Sehun, semakin dalam mencium bagian bibirnya. Remasanpun ia rasakan pada tubuh belakangnya. Sehun meremasnya dengan kuat.
"Ugh! S-sehun.." racau Luhan.
Tunggu, suara ini…
Cklek.
suara pintu terbuka. Itu adalah pintu yang berada tepat di depan pintu menuju dapur yang tengah dihuni mereka.
Hening, bersamaan dengan kegiatan gila dipagi hari itu yang terhenti. Sehun mencoba mendongak, melihat sang pintu yang terbuka dari balik tubuh Luhan.
Disana ada Jongin yang tak berkedip menatap kearah mereka. Beruntunglah Jongin hanya melihat sebagian punggung Luhan, karena Luhan dalam posisi memunggunginya.
"J-jongin…" sapa Sehun ragu.
Jongin terpaku. Hingga ia merasakan ponselnya bergetar? Tertera nama Baekhyun disana, ia hanya meliriknya sekilas sebelum mematikan ponselnya. "Aku pergi!" sambil mengeggam ponselnya dengan erat. Ia berjalan tergesa keluar dari sana. Ia tutup pintu tersebut, dengan sedikit bantingan, setelah sebelumnya ia berteriak. "Bisakah lakukan ditempat lain!"
BLAM!
Sehun terpaku ditempatnya. Ia masih mencerna apa yang barusan terjadi. Dan ia melihat dengan jelas tadi, mata Jongin yang memerah dan berkaca-kaca, menahan tangis.
Shit! Ya, Sehun melakukan itu karena tadi yang ia lihat bukan Luhan melainkan orang yang dicintainya, dan entahlah ketika ia mendengar leguhan Luhan yang ia dengar adalah suara Jongin bukan Luhan. Sudah jelas bukan kalau ia masih mencintai Jongin, dan itu belum berubah sedikitpun. Didalam hatinya hanya terukir nama Jongin, pemuda manis yang sangat ia cintai.
"Se—"
"Maafkan aku, aku tidak bisa melanjutkan ini semua." Ujar Sehun lirih, kemudian ia meninggalkan Luhan sendiri disana.
Luhan hanya meringis, ia menatap nanar punggung Sehun yang mulai menjauh. Menggigit bibir bawahnya.
Mengapa? Apa kau belum bisa menerimaku. Aku sungguh mencintaimu Sehun. apa posisinya tidak dapat kugantikan?
"Setidaknya beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku," ujar Luhan lirih. Perih. Sakit hatinya, ketika orang yang dicintainya pergi begitu saja setelah apa yang mereka lakukan baru saja.
Luhan segera membenahi pakaiannya yang berantakan. Ia masih terdiam. Belum beranjak sedikitpun dari tempatnya sekarang.
Dari awal ia tahu, kalau Sehun tidak pernah mencintainya. Perasaannya bertepuk sebelah tangan. Ia sadar itu. Sehun tidak pernah membiarkannya untuk menggantikan posisi orang itu. Tidak pernah.
"Sebesar itukah cintamu padanya?" gumamnya.
Luhan menghembuskan nafas. Lelah. Kenapa kisah cintanya tidak seperti yang ia harapkan. Selama ini, ia selalu berharap agar Sehun mencintainya. Membalas cintanya. Namun sampai sekarang Sehun menutup hatinya rapat-rapat. Tidak ingin ada seorangpun yang menempatinya. Hanya orang itu yang selalu ada dihati Sehun. Posisi tertinggi dihatinya.
Bahkan Sehun selalu bersikap dingin padanya, namun karena cinta yang dimilikinya untuk pria itu, ia tetap bersabar, bertahan sampai sekarang.
"Siapa orang yang beruntung itu Sehun-ah. Tidak bisakah aku menggantikan posisinya dihatimu?"
Dan sampai sekarang pada kenyataannya Luhan tidak pernah tahu siapa orang yang Sehun cintai.
.
.
.
END
Apa ini?
Ugh aku tidak tahu. Ada yang minta squelkan kemarin, dan ini aku buatin. Tapi aku gak tahu ini squel apa bukan, anehkan? Emang.
Padahal lebih suka cerita yang sedih-sedih tapi kalau bikin sendiri kenapa gak bisa? Perlu dipertanyakan tuh.
Thanks to:
.7, hunjong, SILVIANA, imjustblackdream, Guest, Jonginwu, LM90, , Maknae lines 1994, Putrifibrianti96, Hunkai, Sayakanoicinoe, askasufa, Miszshanty05, .
