Hola Minna…
Semoga gak ada bosennya ya dengan fic saya yang gaje, ancur, berantakan, gak beres dan sebagainya ini. Sekali lagi maaf malah bikin fic baru, saya lagi kena WB dadakan. Gak ada imajinasi sama sekali buat nerusin fic yang ada. Kayaknya butuh Spongebob nih!
.
DISCLAIMER : TITE KUBO
.
RATE : M
.
WARNING : OOCness(parah, banget, kelewatan, gak ketolongan), AU, Misstypo(eksis mulu, gak mau absen!), Gaje, Ide pasaran, Mudah ketebak, Membosankan!
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka, apalagi terdapat kesamaan di dalam fic ini di fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun, itu sama sekali tidak disengaja. Mohon maaf kalau terjadi kekeliruan dalam pembuatan fic ini. Semua yang ada di sini cuma fiksi yang iseng.
.
.
.
"Aku bisa saja membawamu ke kantor polisi, tapi berhubung ini sudah malam dan aku malas harus mengikuti prosedur kepolisian yang merepotkan itu, jadi kali ini kau kumaafkan," jelas Rukia setelah memastikan kakaknya sudah masuk ke dalam mobilnya. Wanita cantik ini masih menatap dongkol pada pelaku pemukulan kakaknya ini. Awalnya Rukia ingin segera melaporkannya ke kantor polisi, tapi mengingat dirinya sekarang sudah cukup lelah bukan main, rasanya mengikuti prosedur kepolisian yang merepotkan itu pasti akan membuatnya mati karena lelah.
Pria berambut orange yang sok menjadi pahlawan ini hanya menunduk dalam di hadapan Rukia. Mungkin merasa bersalah karena salah sasaran?
"Maafkan aku…" ujarnya masih menunduk. Rukia mulai bersedekap dada memandang sinis dan risih pada pemuda ini.
"Kuperingatkan padamu, ini dunia nyata, jadi jangan pernah berpikir untuk jadi super hero di drama-drama murahan itu. Apa yang kau lihat, tidak selamanya itu benar atau salah. Lain kali, berpikir dulu baru bertindak!"
Setelah mengatakan itu, Rukia langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan pria merepotkan itu. seharusnya dia bisa saja meminta ganti rugi pada pemuda itu karena sudah memukul kakaknya satu kali. Tapi berhubung, sepertinya dia orang biasa saja, rasanya tidak pas. Lagipula… itu salah paham biasa. Semoga saja kakaknya tidak merasa aneh dengan sudut bibirnya yang agak merah karena kena hantam itu.
Lagipula…
Sekilas Rukia melihat pemuda itu dari balik kaca spion mobilnya, sepertinya Rukia pernah melihat pemuda itu. Apa Rukia pernah bertemu?
Rambutnya yang mengingatkannya akan sesuatu. Sesuatu…
.
.
*KIN*
.
.
"Apa yang terjadi?"
Ternyata sang kakek besar sudah menanti di depan teras mansion Kuchiki ini. Rukia memerintahkan beberapa bodyguard rumahnya untuk membawa masuk kakaknya yang masih mabuk dan tidak sadar ini.
"Sepertinya Kakak depresi lagi. Dia mengunjungi klub lagi," jelas Rukia pada Kuchiki Ginrei, sang kakek sekaligus pemilik Kuchiki Enterprice.
"Klub? Lalu bagaimana bisa kau bertemu dengannya?"
"Tidak sengaja bertemu. Kakek, aku pamit dulu, aku ingin istirahat."
Setelah memberikan salam dan menunduk hormat, Rukia memasuki mansion itu dan menuju kamarnya. Hari ini sepertinya lelah sekali… terlalu lelah malah.
Kuchiki Byakuya… kakaknya itu adalah Direktur Utama di perusahaan keluarga mereka. Sebenarnya dia adalah orang paling lurus dan paling patuh pada aturan dan tata krama. Tapi, dua tahun lalu, dia bertemu dengan seorang wanita dari klub malam dan jatuh cinta. Hubungan mereka tentu saja ditentang mati-matian oleh sang kakek. Byakuya sempat ingin melarikan diri dari rumah, tapi keburu ditangkap kakek. Dan wanita itu, sudah ditemui Ginrei untuk menjauh dari Byakuya setelah diberikan sejumlah uang dengan nominal yang cukup besar untuk ukuran wanita kelas rendah itu.
Hanya karena uang itu, wanita itu pergi meninggalkan Byakuya tanpa alasan pada Byakuya langsung. Sejak itu kakaknya jadi depresi dan sering berkunjung ke klub malam hanya ingin mencari wanita itu. Ginrei sudah memperingatkan untuk menjauhi wanita seperti itu. Wanita rendah itu hanya ingin uangnya saja. Mana mungkin dia mencintai Byakuya. Dia hanya mencintai uangnya saja.
Rukia sudah tahu sejak awal kakaknya berhubungan dengan wanita itu. Rukia juga sempat melabrak wanita rendah itu untuk menjauhi kakaknya. Mereka bahkan pernah bertengkar hebat. Sebelum masalah ini, Rukia sudah muak dengan kisah cinta dan segala sesuatu yang berhubungan dengan cinta yang menjijikkan itu. Dan sejak kasus kakaknya ini, Rukia semakin membenci cinta. Rukia bersumpah tidak akan pernah mau mengenal perasaan itu. Apapun yang terjadi.
Karena Rukia tidak mau tersakiti. Rukia tidak mau menderita seperti Byakuya sekarang. Dan Rukia tak pernah mau menyesal kalau dia nantinya bernasib sama dengan Byakuya. Dia tidak mau itu.
Hhh…
Besok dia harus menyelesaikan deadline-nya untuk fashion show dua minggu lagi. Dan itu adalah show yang sangat penting mengingat itu adalah tender besar untuk perusahaan Kuchiki juga karir Rukia.
Semoga tidak ada masalah berarti.
.
.
*KIN*
.
.
Ichigo jadi merasa bersalah hari ini.
Kenapa dia jadi gila begitu? Memukul orang tanpa alasan. Mungkin sikapnya itu membuat wanita anggun itu jadi memandang rendah padanya. Wanita bertubuh mungil dengan dandanan kelas tinggi. Meski tubuhnya kecil, dia begitu terlihat menawan dan sangat anggun.
Pertama kali Ichigo melihat wanita seperti itu. bukannya selama ini dia tidak pernah melihat wanita kaya, hanya saja yang berkelas seperti itu rasanya… jarang dia temui. Dan kali ini dia melihatnya sendiri. Wanita yang menarik perhatiannya sejak pertama kali bertemu. Tapi siapa pria mabuk yang dibawanya itu?
Ahh ya, wanita itu bilang, pria mabuk itu kakaknya. Kenapa kakaknya bisa ada di klub malam? Padahal wanita itu terlihat menawan dan…
Apakah ada yang salah dengan mereka?
Sudahlah. Apa yang dia pikirkan sekarang ini? Sebaiknya dia segera tidur saja.
Tinggal di flat sederhana dan terkesan murah ini memang bukan hal yang mudah. Kadang karena saking murahnya, setiap kali ada hujan turun, akan ada atap yang bocor di sana sini. Ichigo sudah berusaha memperbaikinya di sana sini sih, tapi tetap saja…
Begitu berbelok ke kamar sempit yang hanya memuat tempat tidur dan lemarinya saja itu, Ichigo mengintip ke salah satu kamar di sebelahnya. Sebenarnya itu kamar ibunya. Juga kedua adik kembarnya yang sekarang ini mengidap sakit yang lumayan serius. Butuh biaya besar memang, tapi masih ada uang yang cukup dari warisan ayahnya yang tidak seberapa itu untuk membiayai pengobatan adik-adiknya. Sebenarnya hanya salah satu yang benar-benar sakit parah, satunya memang baru timbul gejala saja, tapi sepertinya akan tetap seperti itu.
Kapan… kira-kira akan ada waktu dimana Ichigo bisa mengubah hidup mereka?
.
.
*KIN*
.
.
"Rukia-chan~~~" kepala ungu itu mengintip dari celah pintu yang terbuka.
Rukia mengangkat kepalanya dengan tatapan bosan. Hari ini dia masih harus menyelesaikan desain terakhir. Sekarang sudah muncul saja pengganggu pagi begini.
"K-E-T-U-K P-I-N-T-U Shihouin Senna!" geram Rukia.
"Yayaya… aku ketuk," Senna melangkah mundur dan mengetuk pintu ruangan sang desainer ini dengan asal.
"Tok… tok… nah sudah kuketuk kan?"
"Aku belum memberikan ijin masuk!" balas Rukia.
"Argh sudahlah! Aku sudah bilang berhenti bersikap menyebalkan begitu! Hei… pekerjaanmu masih banyak?" tanya Senna setelah menghampiri sepupunya itu di dekat meja kerjanya.
"Tinggal sedikit lagi. Ada apa?" selidik Rukia penuh curiga.
"Hummm, ayo kita minum kopi di kafe itu lagi…" bujuk Senna.
"Kafe?" ulang Rukia.
"Kau jangan jadi orang bodoh! Kafe kemarin loh~~ ayolah…" bujuknya.
Rukia bersedekap dada seraya menghentikan kegiatannya sebentar dan memandang sinis pada sepupu centilnya ini. Kalau mengingat soal kafe kemarin rasanya ada yang familiar dengan itu. Tapi Rukia tak begitu ingat apa itu. Mata Senna sudah berbinar-binar berusaha membujuk Rukia.
"Tidak. Kau pergi saja sendiri," kata Rukia akhirnya.
"Oh! Ayolah Sepupu! Aku mohon~~ aku tidak punya teman di sana. Akan terlihat aneh kalau aku sendirian di kafe itu… pekerjaanmu kan tidak begitu banyak juga!" keluh Senna.
"Selama kau bekerja di sini, kenapa hanya aku yang kau recoki?! Ada banyak pegawai di perusahaan ini yang bisa kau ajak bergila ria di luar sana."
"Memang ada banyak, tapi kau tahu sendiri kan aku tidak suka bergaul dengan mereka. Kebanyakan dari mereka adalah orang biasa yang tidak mengerti apa yang kubicarakan. Lebih baik aku pergi denganmu kan… kau juga tidak punya teman lain selain aku, kakak sepupu dan kakek di perusahaan ini."
"Itu karena aku antisosial! Kau puas? Sudahlah, kembali bekerja sana…"
Senna menghela nafas panjang dan meniup poni atasnya. Sekarang sepupunya ini sedang sulit ditangani. Kenapa tiba-tiba dia jadi tidak mau diajak kemanapun?
Sepertinya harus ada satu senjata ampuh untuk membujuk wanita satu ini!
"Hei… kau masih ingat tas LV yang kau inginkan bulan lalu itu?"
Rukia masih berkutat dengan pekerjaannya tanpa benar-benar mempedulikan Senna.
"Tas itu masih dijahit. Dijahitnya juga pakai tangan, bukan mesin. Tentu butuh waktu lama. Kenapa?"
"Humm… Ibuku sudah memesan satu, katanya akan diantar besok. Aku sudah memesan satu juga. Khusus untukmu…"
Mendengar itu, Rukia agak tergiur. Bulan lalu dia sudah melihat desainnya dari katalog resmi rumah LV itu. Tas tangan yang diinginkan oleh Rukia itu limited edition yang hanya diproduksi sebanyak 100 buah. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkannya. Karena belakangan ini Rukia fokus pada pekerjaannya, dia jadi lupa barang mewah itu. Padahal Rukia sudah mewanti dirinya untuk ingat. Tas itu siapa cepat dia dapat. Tentu saja ini…
"Kau mencoba merayuku heh…"
"Huh? Ayolah… aku ini baik hati tahu. Tapi kalau kau tidak mau… ya aku bisa membatalkannya sekarang juga. Bagaimana Nona Kuchiki?" bujuk Senna lagi.
Rukia tetap diam. Dia tidak punya waktu untuk memesan tas itu. kalau memesan sekarang mungkin daftar tunggunya sudah sangat banyak. Bisa-bisa Rukia ada di urutan paling bawah. Bagaimana sebaiknya…
"Baiklah. Kalau kau tidak tertarik aku batalkan saja. Lagipula aku tidak suka LV!" Senna mulai mengambil ponselnya dan mengetikkan beberapa kali di sana lalu menempelkannya di telinganya. Melirik jahil pada Rukia yang berubah gemas itu.
"Halo? Aku Senna Shihouin, mengenai tas LV yang aku pesan itu bagaimana kalau aku―"
"TUNGGU!"
.
.
*KIN*
.
.
Rukia mengurut pelipis kanannya dengan jengkel. Di depannya sepupu cantiknya ini sudah tersenyum penuh kemenangan. Dia sangat menikmati harinya ini. Sambil membolak balik daftar menu itu Senna terus menyeringai gembira.
Kalau bukan karena tas kesayangannya itu… awas saja bocah sial ini!
"Hei Bibi! Dahimu bisa berkerut kalau kau terus merengut begitu itu. Bagaimana kalau aku traktir hari ini karena sudah menemaniku?"
"Kau pintar sekali ya…"
"Tentu saja… IQ-ku kan 158… aku ini sangat cerdas!"
Rukia kembali menatap jengkel pada sepupunya satu ini.
Sebenarnya apa yang dikatakan Senna soal tidak punya teman itu memang benar. Rukia memang antisosial dan jarang berinteraksi dengan orang lain kecuali untuk urusan pekerjaan. Selain Senna yang senang merecokinya, tidak ada seorang pun yang mau mendekati Rukia. apalagi kalau melihat wataknya yang keras dan kurang bersahabat ini. Siapa saja yang melihatnya pasti segan duluan dan memilih untuk menjauh daripada harus membuat masalah karena salah bicara di depan putri Kuchiki ini.
"Pelayaaan!" pekik Senna sambil melambaikan tangannya ke udara.
Seorang pelayan pria berambut terang itu melirik ke arah meja Senna dan tersenyum ramah seraya menuju kemari. Rukia tetap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi.
"Ahh, Nona… Anda datang lagi?"
"Hah? Kau kenal aku?!" sahut Senna girang.
"Tentu saja, saya selalu ingat pelanggan cantik seperti Anda."
Rukia mendengus geli di balik daftar menu itu. cantik… bisa-bisanya pelayan ini berkata begitu. Rukia sudah bertaruh seribu satu persen kalau Nona Shihouin ini pasti wajahnya sudah berseri-seri seperti gadis SMA yang baru saja pacaran!
Rukia agak lama mendengar percakapan mereka. Sepertinya ini akan lama. Apalagi pelayan itu selalu meladeni semua kata-kata Senna.
"Hei, aku pesan Vanilla Latte dan tolong segera, aku masih sangat sibuk sekarang," sela Rukia akhirnya.
Percakapan dua makhluk itu akhirnya terhenti. Sang pelayan berambut mencolok itu melirik ke arah Rukia dan agak terperangah. Karena tak ada reaksi, Rukia mengangkat kepalanya dan melirik pelayan itu. rupanya dia tengah memperhatikan Rukia dengan kepala tertunduk.
"Ada apa?" tanya Rukia dengan suara sinis.
"Anoo… Nona yang kemarin malam… mohon maafkan saya…" lirihnya tulus.
"Aku kemari bukan karena ingin mendengar permintaan maafmu. Lagipula, semalam tidak terjadi sesuatu yang besar. Kau tidak perlu meminta maaf berulang kali padaku kalau kau tidak ingin aku menarik kata-kataku semalam!"
Pelayan itu mengangguk pelan dan kembali menunduk hormat. Setelah mencatat pesanannya, pelayan pria itu kemudian pergi dari meja mereka.
"Hei! Apa yang kau katakan padanya! Aku masih ingin mengobrol dengannya!" kata Senna kesal.
"Kau bisa mengobrol setelah kalian selesai bekerja, lagipula dia sudah kenal denganmu kan?"
"Hiss! Kau menyebalkan! Tapi ngomong-ngomong… kau bertemu dengannya semalam? Ada apa?" tanya Senna penasaran.
"Bukan hal penting."
.
.
*KIN*
.
.
Rukia tak begitu menghiraukan Senna yang asyik-asyiknya memandangi pelayan berambut aneh itu yang tengah berkeliling seisi kafe untuk mengantar pesanan para tamu. Terkadang sesekali, ada juga pelanggan jahil yang meminta sesuatu dari pelayan itu, contohnya meminta pesanan berlebihan, minta foto bersama, atau sekadar ngobrol saja. Sepertinya jelas kafe ini ramai dengan gadis muda karena pelayannya memang tampan. Kalau punya wajah setampan itu kenapa tidak jadi model atau artis saja. Mungkin daripada menjual tenaga, rupanya lebih menjual.
Setelah menemani sepupunya yang kurang kerjaan itu, Rukia memutuskan untuk kembali bekerja. Sedari tadi beberapa telepon dan pesan bergantian memenuhi ponsel Rukia. Sepertinya, karena waktu sudah mendesak jadinya pekerjaan jadi lebih sulit dari sebelumnya. Apalagi ini tender besar.
Matahari pun bergerak turun dari singgasananya. Hari juga sudah beranjak malam. Rukia sampai tidak sadar berapa lama waktu yang dia habiskan hanya berkutat dengan kertas sketsa itu dan memeriksa bahan-bahan yang akan dikirim ke pabrik. Begitu Rukia menyelesaikan pekerjaannya, Rukia bergegas akan segera pulang. Dia ingin berendam di bath tube dengan aroma terapi-nya, dipenuhi dengan kelopak mawar dan air yang hangat. Juga…
Masih ada.
Rukia sudah berdiri di depan pintu ruangan Direktur Utama ini. Lampunya belum dimatikan.
Pasti masih ada.
Dengan nada pelan, Rukia mengetuk pintu ruangan itu dan menanti ijin dari sang pemilik ruangan. Tak lama dari situ, suara rendah dan berwibawa memberikan ijin untuk masuk.
"Apa kabar Kak?" sapa Rukia begitu dirinya sudah berdiri di depan meja kerja sang kakak yang penuh dengan setumpuk map, kertas dan segala macamnya itu. kadang Rukia kasihan melihat kakaknya bekerja lembur setiap ada waktu. Tapi, jika tidak begitu, mungkin sampai sekarang kakaknya akan terus merasa depresi dan stress. Jadi pekerjaan memang pengalih paling ampuh untuk Byakuya sekarang.
"Kau mau pulang?" tanya Byakuya tanpa mengalihkan penglihatannya dari setumpuk kertas itu.
"Ya. Sebaiknya kita pulang bersama saja. Aku sudah memberitahu Kakek kalau kita bisa makan malam bersama," jelas Rukia. Dia sebenarnya belum memberitahu kakeknya, Ginrei, mengenai rencananya ini. Tapi kalau Rukia mengaku belum memberitahu pasti ada saja alasan Byakuya untuk menolak. Kalau dengan Ginrei, Byakuya pasti―
"Maaf Rukia, katakan pada Kakek kalau aku sangat sibuk. Mungkin lain kali."
Rukia mendesah kecewa.
"Kakak, jangan terus memaksa diri Kakak untuk bekerja terlalu keras. Tolong, sekali ini saja. Pulanglah denganku," pinta Rukia dengan suara lirih.
Byakuya diam sejenak dan memandang wajah cantik di depannya ini. Tapi kemudian, dia langsung mengalihkan perhatiannya dan kembali menatap kertas-kertas itu.
"Pulanglah."
Rukia sudah kehabisan kata-kata. Dia tidak tahu lagi cara apa yang harus dia lakukan untuk membujuk kakaknya satu ini. Sejak dia kehilangan gairah hidup, Byakuya seakan hidup seperti robot. Sama sekali tidak ada keinginan untuk memulai hidup baru. Rukia sudah berusaha mencari segala cara untuk membuat kakaknya ini melupakan wanita itu. Tapi sepertinya, untuk kakaknya yang polos dan baru pertama kali jatuh cinta di sepanjang hidupnya, mungkin ini adalah bagian tersulit dalam hidupnya.
Setelah mengerti apa yang sebenarnya diinginkan Byakuya, Rukia akhirnya menyerah dan menundukkan kepalanya memberikan salam. Setelah menutup pintu ruangan Byakuya, Rukia menghela nafas sebentar.
Yah, Rukia tak tahu perasaan yang dialami oleh kakaknya. Tak pernah tahu apa itu artinya jatuh cinta. Bagaimana rasanya jatuh cinta. Tapi kalau sampai jatuh cinta dan kehilangan akal sehat, rasanya itu cukup berlebihan. Rasanya… hal seperti itu malah mustahil terjadi di dunia ini. Mengorbankan separuh hidup hanya untuk meratapi hal tidak penting seperti itu.
Bukankah sudah saatnya bagi Byakuya untuk kembali menata hidup?
.
.
*KIN*
.
.
Byakuya menyadari apa yang coba dilakukan oleh Rukia. adiknya satu itu hanya cemas padanya. Itu memang baik. Tapi Byakuya tak bisa menghilangkan pikirannya tentang kenyataan bahwa dia harus kehilangan wanita yang dia cintai untuk pertama kalinya.
Sejak kehilangan dia, Byakuya jadi kehilangan kendalinya. Dia mulai stress dan frustasi. Tapi dia tidak bisa menunjukkan hal itu di depan orang lain, apalagi di depan Rukia. Rukia pasti akan khawatir dan mulai membujuk Byakuya melupakannya. Jujur saja, Byakuya sudah sangat mencoba melupakannya. Tapi sayang, tetap tidak bisa. Wajah wanita itu begitu kuat terpatri dalam ingatannya.
Byakuya sudah bilang dia tidak mungkin pulang cepat. Jadi sebaiknya dia hari kembali ke tempat itu.
Tempat dimana wanita itu mungkin ada di sana.
Awalnya Byakuya sendiri tidak percaya dengan apa yang dilakukan wanita itu. menghilang dari sisinya setelah menerima sejumlah uang dari Ginrei. Mungkin yang dia lakukan adalah demi kebaikan Byakuya. Mungkin begitu. Tapi apakah dia tidak memiliki keyakinan tentang hubungannya dengan Byakuya?
Sekarang Byakuya sudah tiba di klub malam ini. Kemarin dia jadi mabuk setelah diberikan minum aneh oleh seorang wanita berambut pirang itu. katanya itu hanya jus. Bukannya Byakuya tidak hati-hati, hanya saja dia sudah tidak berpikir jernih lagi. Setiap kali melihat tempat ini Byakuya pusing bukan main. Tapi dia masih penasaran dan ingin mencari tahu.
Rukia pasti sudah pulang ke rumah. Adiknya satu itu sangat menurut padanya.
"Tuan, kau datang lagi?"
Seorang wanita yang umurnya tidak terdeteksi itu, karena pakaiannya yang minim dengan bentuk tubuh yang masih sangatlah bagus meski kelihatannya dia tidak begitu muda lagi, mulai menyapa Byakuya. Wanita itu berambut… orange.
Byakuya mencoba tidak menghiraukannya. Tapi tetap saja wanita itu masih mendekatinya. Suasana berisik, bau tembakau yang menyesakkan nafas, udara yang hampir tidak menyisakan oksigen sedikit pun, bau alkohol dimana-mana, musik yang keras dan lampu berwarna-warni yang menyakitkan mata. Jelas saja ini semuanya terlalu… berat untuk Byakuya. Tapi malam demi malam dilaluinya hanya untuk bertemu dengan wanita-nya. Hanya untuk itu.
"Tuan, setiap malam kau datang kemari, kau mencari siapa?" wanita berambut pirang itu kini sudah duduk manis di samping Byakuya yang telah duduk di meja bar itu sambil mengedarkan pandangannya ke lantai dansa yang mulai memutar musik yang merusak telinga itu.
Byakuya tetap diam tanpa mengindahkan wanita itu sedikit pun. Menurutnya, itu hanya membuang waktu.
Wanita berambut orange itu mulai duduk lebih dekat lagi pada Byakuya. Mulai menggoda Byakuya dengan jari panjang dan lentiknya yang dipoles berwarna merah tua. Bibir tipisnya menyeringai tipis ketika sadar Byakuya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan apalagi menghindarinya.
"Tuan… kalau kau mau, aku bisa menemanimu malam ini," bisik wanita berparas cantik itu seraya menghembuskan nafasnya ke telingan Byakuya.
BYUURR!
"Kyaa! Siapa kau ini?!" lengkingnya ketika ada semburan air mengenai wajah dan bajunya.
Karena insiden ini, mata sebagian pengunjung jadi terarah ke tempat mereka.
"Perempuan rendah! Apa yang kau lakukan pada kakakku?!" desisnya penuh emosi.
Rukia menatap wanita berambut orange itu dengan mata nyalang menahan marah. Tangannya mengepal erat ketika dia memergoki kakaknya tengah 'dirayu' oleh pelacur rendah ini.
"Kau ini apa-apaan hah?! Kau tidak lihat dia saja tidak terganggu denganku? Kau saja yang iri kan? Dasar perempuan tidak tahu malu!" balasnya kesal.
"Apa?! Kau… kau cuma pelacur―"
"Jangan sebut aku pelacur, sialan! Kau pikir melihatku yang seperti ini kau langsung menilaiku begitu hah?!"
"Kalau bukan pelacur lalu apa? Seenaknya menggerayangi pria yang tidak kau kenal?! Kau sama rendahnya dengan pelacur kalau kau ada di tempat seperti ini!"
"Kau sendiri ada di tempat seperti ini apa menurutmu kau sebersih malaikat hah?!"
Rukia berhenti bicara. Kalau diladeni bisa tambah panjang, sebaiknya dia pergi.
"Kakak, kita pulang," ajak Rukia yang melihat aneh kakaknya hanya terpaku di sana tanpa menghiraukan Rukia.
"Mau kemana kau perempuan tidak tahu diri?!"
.
.
*KIN*
.
.
"Dasar perempuan sialan tidak tahu malu! Kalau bertemu sekali lagi aku pasti akan merobek mulutnya yang kurang ajar itu!" gerutu Masaki setelah akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumahnya dengan keadaan yang… ok, cukup kacau.
"Ibu? Ibu sudah pulang?"
Ichigo baru keluar dari dapur sambil membawa baskom berisi air dingin dan handuk basah. Dirinya agak kaget juga melihat ibunya pulang secepat ini. Biasanya, Masaki akan pulang kalau belum tengah malam.
"Kenapa? Kau tidak suka ibumu pulang? Buat apa benda itu?" tunjuk Masaki pada apa yang dibawa Ichigo.
"Bukan begitu. Ini… badan Yuzu agak panas. Jadi aku mau mengompresnya dulu. Ibu sudah makan?"
Masaki terhenyak di sofa sederhananya itu setelah melepas sepatunya. Anaknya memang sakit-sakitan. Sejak itu, dia memutuskan untuk mencari uang dengan cara mudah meski harus memalukan dirinya sendiri. Dia tidak mau bergantung pada orang lain, terutama pada putra sulungnya. Hidup mereka tidak layak seperti ini. Ini bukan salah mereka. Semua ini salah Masaki yang gagal jadi ibu yang baik dalam membesarkan mereka. Kalau seandainya Masaki bisa…
"Ibu?" tegur Ichigo yang kini sudah duduk di sisi Masaki.
Ichigo melihat ada yang aneh dengan ibunya. Bahkan riasannya juga kacau. Terlihat seperti… luntur karena sesuatu. Apa di luar hujan? Rasanya tidak begitu. Baunya juga… bau alkohol.
"Tidurlah, biar Ibu yang mengompres Yuzu malam ini. Kau besok harus bekerja bukan?"
Masaki langsung mengambil alih baskom dan handuk basah yang dibawa oleh Ichigo.
"Bu…"
Masaki menoleh pada putra sulungnya yang menatapnya dengan senyum cerahnya.
"Bagiku, kau adalah Ibu yang terbaik. Aku sangat mencintaimu."
"Dasar anak nakal! Sebaiknya kau tidur daripada menggoda ibumu yang sudah tua ini!"
.
.
*KIN*
.
.
Rukia menghentikan mobilnya tepat di depan mansion-nya. Mobil Byakuya tadi sudah disuruh Rukia bawa oleh supir keluarga mereka. Sekarang, Rukia menatap jengkel pada Byakuya. Kenapa lagi dengan kakaknya kali ini? Ini ke sekian kalinya Rukia melihat Byakuya bertingkah aneh dengan masuk ke dalam klub murahan itu.
"Kakak, sebenarnya apa yang ada di dalam kepalamu? Aku sama sekali tidak mengerti!"
"Kau tidak perlu mengerti."
Byakuya turun dari mobil Rukia dan segera masuk ke dalam mansion.
Sekarang Rukia benar-benar merasa kalau kakaknya adalah orang lain. Orang lain yang sama sekali tidak Rukia kenali lagi. Apakah sebegitu nelangsanya sang kakak sampai membuatnya begitu bosan untuk hidup?
"Kakak!" susul Rukia begitu Byakuya akan memasuki kamar tidurnya.
"Kak! Dengarkan aku!" panggil Rukia lagi.
Byakuya berhenti saat dia akan memutar kenop pintu kamarnya. Dia berdiri mematung di depan pintunya tanpa menoleh ke arah Rukia sedikit pun.
"Kak… kumohon berhentilah seperti ini. Aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu. Aku… Kakek… semua mencemaskan Kakak…"
"Kalau kalian mencemaskanku, lalu kenapa kalian membuatku begini? Kau tidak tahu perasaan apa yang kurasakan, makanya kau bisa saja mengatakan hal itu! Untukmu yang hanya melihat realitas… semua ini hanyalah omong kosong. Jangan ganggu aku sampai besok pagi!"
Rukia terdiam.
Dia memang tidak tahu hal apa yang dirasakan oleh kakaknya. Dia tidak tahu sama sekali.
Bahkan kalaupun dia tahu… mungkin dia tidak akan bisa memahaminya.
.
.
*KIN*
.
.
"Bagaimana cara kerja kalian sebenarnya hah?! Deadline show tinggal satu minggu lagi! Bagaimana mungkin kalian tidak bisa menghubungi model pria-nya?!" pekik Rukia di ruang rapat itu.
Semalam dia sudah sungguh lelah dan pusing karena masalah kakaknya. Sekarang pegawai-pegawainya yang bodoh ini sudah menambah beban pikirannya dengan masalah show yang sangat penting ini!
Sudah semalaman tidak bisa tidur, lembur yang mematikan, sekarang ini lagi.
"Kami dengar, model itu kabur bersama pacarnya. Kami tidak bisa menghubunginya sejak tiga hari yang lalu," lapor bawahannya.
"Kalau sudah tiga hari, harusnya kalian sudah mempersiapkan model lain! Pikir pakai otak! Ini bukan hal mudah! Perusahaan kali ini tergantung pada show kali ini, kalian mau memalukan perusahaan hah!"
Semua anggota rapat itu terdiam sejenak. Kalau sang Kuchiki Rukia sudah marah besar begini sudah pasti tidak akan ada yang bisa mengendalikan dan meredakannya. Dia akan uring-uringan sepanjang hari dan memarahi semua pegawai yang bahkan hanya melakukan kesalahan sangat kecil.
"Aku tidak mau tahu! Pokoknya siang ini kalian sudah harus menghubungi model pria yang cocok dengan rancanganku! Atau kalau tidak, kalian semua aku pecat!" perintah Rukia seraya membanting berkas show itu dan keluar dari ruang rapat sambil menghentakkan high heels-nya dengan emosi. Sial sekali.
Kepala Rukia rasanya mau pecah luar biasa. Sungguh ini sangat menyebalkan sekali!
Masalah sekecil ini bahkan bisa memicu stressnya. Karena perangainya yang buruk ini, Rukia bisa terkena syndrome stress yang cukup serius. Makanya kalau sudah begini biasanya tensi darahnya akan mendidih dan dia harus meminum obat penenangnya. Rukia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerjanya. Celaka… kepalanya pusing sekali sekarang.
"Se-pupu…"
Rukia melirik ke arah pintu masuk. Senna dengan seringaian lebar mengintip dari celah pintu ruang kerjanya. Melihat satu orang itu sepertinya sudah cukup membuat stress Rukia bertambah jadi.
"Mau apa?" balas Rukia malas.
"Huh… biasanya kau marah kalau aku tidak mengetuk pintu dulu, ada apa ini?"
"Aku sedang malas meladenimu," balas Rukia.
"Kudengar kau mengamuk di ruang rapat tadi. Kenapa lagi?"
Sekarang bukan rahasia aneh kalau mendengar sang desainer, Kuchiki Rukia mengamuk di ruang rapat. Itu sudah jadi pemandangan umum yang biasa.
"Bukan urusanmu."
"Hei… kalau kau begitu terus kau bisa membahayakan tubuhmu sendiri loh…"
"Kalau kau ke sini hanya mau merecokiku, sebaiknya kau pergi dari―"
"Aku bisa memberikan solusi atas masalahmu!" potong Senna.
Rukia agak mengernyit mendengar usul Senna. Terkadang usul Senna bukanlah usul yang buruk. Sepupunya ini memang cukup membantu kalau Rukia tengah menghadapi masalah seperti ini.
"Apa?" tanya Rukia to the point.
"Sebelum itu temani aku minum kopi dulu!"
"Tidak!" balas Rukia langsung.
"Argh! Kau menyebalkan sekali! Ayolah! Aku serius loh…"
Akhirnya Rukia setuju saja. Dia sudah tidak punya tenaga untuk melawan. Sepertinya pusing di kepalanya semakin menjadi.
Kali ini, Rukia menyuruh sepupunya itu yang menyetir. Bisa gawat kalau dia yang menyetir dalam keadaan yang begini.
Rukia memejamkan mata sejenak selama perjalanan menuju kafe kali ini. Setidaknya dia memang butuh refreshing sejenak.
"Kita sampai!"
Rukia membuka matanya. Mobilnya sudah berhenti berjalan. Kafe ini lagi…
"Aku bosan ke kafe ini… tempat lain saja," keluh Rukia.
"Huh… masalahmu sudah ada jawabannya di sini!"
Rukia mengernyit tidak mengerti.
"Apa maksudmu?"
Dengan senyum misteriusnya, Senna menunjuk kaca besar di kafe itu. kaca yang menampilkan sesosok seorang pria berambut menyala yang tengah melayani tamu kafe itu.
"Maksud… mu…"
"Ya… pelayan itu, pasti cocok untuk masalahmu kali ini. Aku akan membantumu kalau aku bisa dapat keuntungan dari masalahmu!"
Pelayan itu… jadi… model untuk Rukia?
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Holaa minna...
kayaknya saya update fic udah mulai langka banget yaa? haduhh salahkan wb sialan itu loh! saya udah berusaha tapi tetepa gak bisaa... jadi salah siapa dong?
kayaknya fic ini sesuatu gimana gitu ya? hihihi yaa pengen aja nyoba bikin yang aneh dikit sih hihih
ok saya bales review yaaa
hendrik widyawati : makasih udah review senpai... eheheh iyaa ini akhirnya saya lanjutkan kok ehehehe yaa doain saya bisa, saya selalu berusaha kok buat terus update ehehehe
inai chan : makasih udah review senpai... iyaa ini udah lanjut ehehehe
Nyia : makasih udah review senpai... iyaa ini udah lanjut makasih semangatnya ehehehe
Voidy : makasih udah review senpai... iyaa kan saya lagi gak pengen bikin yang misterius. jadi yang mudah ketebak aja dulu hihihih gimana nee?
Naruzhea AiChi : makasih udah review Eva... ehheh iyaa mau buat yang lain daripada yang lain eheheh doain yaa sukses...
Seo Shin Young : makasih udah review Shin... iyaa ini udah update ehehehe gimana?
Kaneko Aki nyaang : makasih udah review senpai... makasih sarannya. eheheh mau ke dunia imajinasi mana lagi? sebenernya sih saya ini suka nonton drama Korea supaya dapet inspirasi, sayang saya belum nonton lagi karena sibuk makanya suka stuck hikss...
d3rin : makasih udah review Rin... ehehehe gak papa ya buat beda dikit... *plak* uhmm vampir ya? saya gak yakin karena saya belum pernah bikin yang begitu. saya juga gak begitu tahu banyak soal vampir selain kalau vampir takut bawang putih hihiihi tapi saya bakal berusaha dulu yaa eheheh
Kim Na Na Princess Aegyo : makasih udah review senpai... gak kok, gak ada tukeran roh, saya ambil inti dari cerita drama itu, jadi gak sepenuhnya sama sih eheheheh makasih banyak saya bakal berusaha kok eeheheh
darries : makasih udah review senpai... gak bukan kok, ini beneran Masaki eehhhehe
Reiji Mitsurugi : makasih udah review senpai... makasih koreksinya, kasih tahu lagi yaa kalo salah ehehehe soalnya saya gak begitu mahir bedain kata baku sama nggak, suka asal nyoplok aja hihihihihi
Guest : makasih udah review senpai... iyaa makasih ya ini udah lanjut kok ehehhee
shinshi : makasih udah review senpai... wah sayang tuh, saya maunya Byakuya, biar agak beda sih ehehehe
Kina Echizen : makasih udah review Kina... iyaa sayang banget FBI yang dicinta ini miskin rate m... kayaknya kurang gimana gitu ehehhee
beby-chan : makasih udah review beby... uhm... saya baru buat dua loh Ichi begini, eheheheh iyaa ini udah lanjut ehehhe
chappy : makasih udah review senpai... iyaa ini udah lanjut...
makasih yaa udah mau berpartisipasi sama fic saya, awalnya hopeless ada yang mau baca apalagi review... tapi makasih lagi yaa saya jadi semangat buat terus update...
jadi masih ada yang mau lanjutannya? boleh review?
Jaa Nee!
Hola Minna…
Semoga gak ada bosennya ya dengan fic saya yang gaje, ancur, berantakan, gak beres dan sebagainya ini. Sekali lagi maaf malah bikin fic baru, saya lagi kena WB dadakan. Gak ada imajinasi sama sekali buat nerusin fic yang ada. Kayaknya butuh Spongebob nih!
.
DISCLAIMER : TITE KUBO
.
RATE : M
.
WARNING : OOCness(parah, banget, kelewatan, gak ketolongan), AU, Misstypo(eksis mulu, gak mau absen!), Gaje, Ide pasaran, Mudah ketebak, Membosankan!
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka, apalagi terdapat kesamaan di dalam fic ini di fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun, itu sama sekali tidak disengaja. Mohon maaf kalau terjadi kekeliruan dalam pembuatan fic ini. Semua yang ada di sini cuma fiksi yang iseng.
