Boku Wa Exorcist
Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media yang punya.
Warning : OOC, Typo, OC.
.
.
.
2. Hidup di jalanan
Tepat sebulan setelah kejadian itu, kabar kematianku mulai berhembus ke jalanan kota Rainy Forest yang dingin, bahkan seluruh negri membicarakan akan hal ini, mungkin karena keluargaku adalah salah satu dari 5 orang yang pernah mencapai kemurnian nirvana.
Ketika aku lewat di depan toko televisi, disana sedang menyiarkan berita-ku. "Menghilangnya Miku Hatsune, benarkan Miku Hatsune bunuh diri?".
"Sungguh malang nasib keluarga Hatsune. Setelah kehilangan keluarga inti mreka, kin anak mereka yang sebatang kara menghilang, dan ada beberapa bukti kalau Miku Hatsune meninggal di karenakan bunuh diri karena tidak kuasa membendung kesepian setelah di tinggal kedua orang tuanya. Sekarang reporter kami yang berada di kediaman Hatsune mewancarai paman korban yang menemukan bukti-bukti kematian Miku-san." Ternyata kabar kehilanganku segempar ini rupanya.
"Baiklah, disini Elle sekarang bersama paman korban, Hideki Lorra. Bagaimana tanggapan anda setelah menemukan bukti-bukti kematian Miku-san, keponakan anda?". Tanya seorang wanita yang mewawancarai Jii-san. Aku hanya tersenyum sinis, kebohongan apa lagi yang akan di katakannya lagi.
"Aku sungguh tidak percaya kalau Miku menghilang, setelah kami mendapat kabar menghilangnya Miku dari perawatnya. Kiyoteru Hiyama, kami langsung mengunjungi rumahnya, tetapi ternyata telah terjadi pembunuhan besar-besaran di rumahnya! Aku tidak tahu apakah Miku ikut mati dalam penyerangan itu, kami hanya menemukan banyak sekali tubuh tergeletak." kata Jii-san dengan nada sedih. Huh, bagus sekali aktingmu Jii-san, bahkan mengarahkan media untuk menyalahkan Kiyoteru-san. Kau bisa mendapatkan penghargaan aktor terbaik tahun ini.
Aku meninggalkan toko itu tanpa mendengarkan kelanjutannya, pasti para media sekarang mulai mengarah kepada Kiyoteru-san sebagai orang yang di curigai. Tiga hari pertama aku menjalani kehidupan di jalanan Rainy Forest dengan penuh kesulitan, hingga ada para gelandangan disana yang mengajarkanku cara bertahan hidup di jalanan kota Rainy Forest yang dingin. Mulai dari mengais makanan di tempat sampah, hingga harus di usir ketika aku sedang istirahat di depan toko yang tutup. Semua itu membuatku terkadang ingin menangis, tetapi aku pun berfikiran positif, setelah ini aku pun akan menjadi gadis yang kuat dan tegar. Otou-san, Okaa-san, apakah kalian melihat perjuanganku disini?.
Akhirnya salah seorang gelandangan mulai menyarankanku untuk mengambil pekerjaan, karena aku masih muda dan banyak yang memerlukan tenaga muda sepertiku ini. Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan, dan seperti mendapat keuntungan berlipat, pemilik kedai yang aku masuki memiliki apartemen yang tidak jauh dari sini, dia memberikannya kepadaku karena sudah lama tidak di tempati, meskipun seluas 6 tatami, setidaknya aku memiliki rumah untuk pulang. Aku sungguh senang dengan pekerjaan ini! Walaupun aku harus memecahkan beberapa piring disana, dan akhirnya aku harus di potong gajiku. Karena aku masih sangat kecil, akhirnya aku hanya menjadi buruh cuci disana.
Aku rasa aku harus menabung untuk membeli sepatu. Sepatu pemberian pemilik kedai tidak cukup menghangatkan kakiku. Akhirnya ketika lewat di salah satu rumah, salah seorang ibu-ibu di sana terlihat ingin membuang sebuah sepatu.
"A, anoo, Oba-san, apakah Oba-san ingin membuang sepatu itu?" Panggilku dari seberang pagar.
"Iya, memang kenapa gadis kecil?" tanya bibi itu kepadaku. Aku merasakan senyumku berkembang.
"Bolehkah aku memilikinya Oba-san?" tanyaku, dia kemudian melihat pakaianku dari atas sampai ke bawah.
"Memangnya orang tua mu tidak membelikannya untukmu?" tanya bibi itu lagi. Aku hanya menggeleng.
"Orang tua-ku sudah meninggal Oba-san" kataku, karena memang benar aku sudah tidak memiliki orang tua.
"Baiklah, ambil saja. Toh aku sudah tidak memerlukannya, lagipula kelihatannya kau tidak keberatan dengan kondisinya, aku juga kasihan kepadamu, ini ambillah" kata bibi itu, aku kemudian menerimanya dan memeluknya.
"Terima kasih banyak bibi!" kataku sangat senang.
"Ara, tidak usah seperti itu, itu hanyalah barang rongsokan bagi kami, ambillah kalau kau menginginkannya, pulanglah gadis kecil, udara sudah semakin dingin" katanya kepadaku. Aku pun langsung berlari menuju apartemenku. Ketika aku sampai di depan kedai ramen, aku mendengar sesuatu yang membuatku ingin mendengarnya.
"Hei, kau dengar? Katanya sepatu milik Miku-chan di temukan di pinggiran sungai Yatsu loh!" kata salah seorang di sana, maafkan aku Okaa-san karena jadi penguping, tetapi ini kelihatannya penting.
"Iya itu benar, bahkan menurut penyelidikan, di temukan sebuah jejak kaki kecil mengarah ke sungai itu, bahkan kepolisian sedang menyisir sungai itu untuk melihat apakah jasadnya ada di sana." kata seseorang lagi.
"Tidak mungkin! Itu kan sungai terderas di sini! Jadi dia di kejar?" tanya seseorang lagi di sana, banyak sekali suara, sehingga aku tidak tahu siapa saja yang berbicara di sana.
"Kasihan sekali anak itu, setelah kehilangan kedua orangtuanya, dia bahkan di serang hingga seluruh isi rumah terbunuh. Bahkan katanya pelayan kepercayaan mereka, Hiyama Kiyoteru juga ikut mati di sana loh." Kata yang lainnya, Kiyoteru-san, bagaimana keadaanmu? Semoga kau baik-baik saja. Seperti katamu di hutan saat itu. aku harap kau masih melanjutkan hidup.
"Sungguh kasihan sekali ya keadaan gadis kecil itu, aku sebagai badan penyelidik sedikit menemukan beberapa kemungkinan serius dalam kasus ini" kata salah seorang di sana. Aku memasang telingaku lebih dekat, aku juga ingin tahu.
"Benarkah, apa itu?" tanya seseorang di sana, ternyata ada 3 orang yang sedang berbincang-bincang di sana.
"Pelaku pembunuhan itu, kemungkinan adalah paman Miku Hatsune itu sendiri. Hideki Lorra dan istrinya, kami ingin sekali mengusut dugaan ini." kata orang dengan jas kerah tinggi dan merokok di sela-sela makannya.
"Tetapi, mereka sudah mendapatkan gelar bangsawan dari keluarga Hatsune! Pasti akan susah kalau itu memang terbukti." Kata salah satunya yang memakai jas kantoran biasa. Itu memang benar, sebagai bangsawan, terkadang kau bisa lolos dari tuduhan kriminal, hanya karena kau seorang bangsawan. Apalagi orang itu telah menggunakan kekuasaanku, aku tidak akan bisa mudah menggulingkan mereka.
"Memang benar, dalam surat penyerahan kuasa itu di sebutkan kalau ada apa-apa dengan Miku-chan harus menggunakan Miku-chan sendiri, dan kekuasaan bangsawan akan di serahkan kepada Hideki Lorra dengan proses sidang, baru mereka dapat mengecap kekuasaan sebagai bangsawan. Tetapi dalam surat itu banyak sekali kejanggalan, keadaan Miku-chan masih belum di tentukan, apakah sudah meninggal atau masih hidup dan tidak sadarkan diri di suatu tempat atau di temukan seseorang dengan keadaan hilang ingatan, tetapi keluarga Lorra sudah mendapatkan hak penuh akan rumah, aset-aset, bahkan gelar bangsawan itu sendiri. Bahkan, yang lebih aneh lagi, mereka memakai stempel milik ayah dari Miku-chan, Riku Hatsune, yang merupakan kepala keluarga Hatsune saat itu. Bukan stempel milik Miku-chan sendiri, kalau benar apa yang Hideki Lorra katakan kepada kepolisian, kalau sebenarnya Miku-chan mendapatkan firasat aneh dan menyerahkan kekuasaan kepada keluarga Lorra. Sungguh aneh bukan?" jelas laki-laki perokok tadi,
"Bukankah mereka juga menyadari kalau memang itu bukan stempel Miku-chan? Tetapi stempel orang tuanya yang sudah tidak berlaku? Bahkan dengan stempel tidak berlaku itu status bangsawan sudah berada di tangan keluarga Lorra?" kata Laki-laki dengan memakai jas yang sama tetapi warna yang berbeda.
"Maka dari itu, mereka sama sekali tidak tahu! Karena bahkan hakim untuk perkara ini di sogok dengan alasan keaslian surat itu sendiri, bukan keaslian stempel, tetapi memang stempel Miku-chan sama dengan milik kedua orangtuanya, tetapi ada detail kecil yang bahkan kami tidak tahu, kami dari kepolisian dan badan pembuat stempel Crypton merahasiakan informasi ini secara detail kepada keluarga Lorra agar nasib gadis kecil itu tidak lebih buruk. Jadi statusnya memang bangsawan, tetapi itu tidak akan bertahan lama kalau Miku-chan di temukan dalam keadaan hidup dan menyerahkan stempel miliknya kepada kepolisian" kata laki-laki perokok tadi. Aku langsung menggenggam stempel milikku di kantong tas-ku. Memang benar, stempel-ku memiliki desain khusus dari pelukis stempel tersohor di Crypton. Dan yang menjadi pembeda adalah tanda hati yang sudah di setujui pemimpin tertinggi sebagai stempel yang sangat sah untuk urusan yang sangat penting. Selama ini aku masih membawa stempel itu kemanapun aku pergi, sedangkan yang di rebut Oji-san adalah stempel milik Otou-san yang aku ambil dari lemari Otou-san saat penyerbuan itu. Ingin sekali aku muncul di hadapan mereka dan menunjukkan stempelku, tetapi ada sebuah suara di kepalaku.
Jangan, jangan sekarang untuk membuktikan kebenarannya. Tunggu waktu yang tepat, di saat kau sudah siap dengan semua kenyataan tentang kehidupanmu
Entah mengapa aku ingin menuruti kata-kata itu, dan itu berakhir dengan diamnya aku di tempatku berdiri dan mulai berjalan pulang. Dan sepatu itu memang terjatuh di sana saat aku terperosok beberapa minggu yang lalu.
"Haaah.. hidup memang penuh tantangan ya?" kataku sambil tertawa sendiriana di jalanan sepi menuju apartemenku.
3 Tahun kemudian
Musim panas tepat 3 tahun setelah kejadian itu, sekarang aku berusia 14 tahun, kehidupan keras di jalanan membuat tubuhku kembali kecil dan ramping. Sekarang aku menjadi pelayan di kedai itu dan aku mulai bisa memasak untuk diriku sendiri. Perkataan orang-orang di kedai ramen 3 tahun yang lalu amsih utuh di ingatanku. Semua akan berakhir dengan aku muncul ke hadapan pers dan menunjukkan stempelku kepada kejaksaan dan juga kepolisian. Hahaha, sungguh pemikiran sederhana 3 tahun yang lalu, tetapi sekarang aku sudah nyaman dengan hal seperti ini. Kini aku telah mengetahui makna hidup sebenarnya, aku sungguh bodoh menghabiskan waktuku dulu dengan hanya meratapi kepergian Otou-san dan Okaa-san dan membuat keributan di rumah. Akhirnya 1 tahun yang lalu, jati diriku benar-benar terungkap. Semenjak aku menghubungi Kiyoteru-san menggunakan telepon umum.
1 tahun yang lalu
Aku mencari celah di tengah malam untuk menghubungi Kiyoteru-san melalui telepon umum.
"Moshi-moshi keluarga Hiyama disini?" sahut orang dengan suara yang sangat aku rindukan.
"Kiyoteru-san?! Sudah lama ya? Maaf aku mengganggu istirahat Kiyoteru-san." Kataku dengan riang. Aku bersandar di kaca telepon umum disana.
"Mi-Miku-sama! Anda berhasil bertahan hidup?" tanya suara dengan penuh tidak percaya.
"Hahahaha! Agak sulit di minggu pertama, tetapi aku akhirnya dapat bertahan, bagaimana keadaanmu Kiyoteru-san?" tanyaku dengan riang kembali.
"Setelah semua pura-pura dalam pembunuhan malam itu, kami selaku para pelayan meninggalkan rumah itu ketika Lorra-san lengah, untungnya dia tidak terlalu peduli dan mempercayaiku kalau aku sudah mengangkut para mayat itu untuk aku jual. Aku sekarang sudah memiliki seorang istri di sini, tetapi, kalau anda ingin merebut kembali gelar anda, kami selaku para pelayan akan kembali melayani anda Miku-sama!" kata Kiyoteru-san, pantas saja tadi dia bilang keluarga Hiyama. Aku merasakan cairan hangat menuruni pipiku. "Miku-sama? Apa anda menangis?" tanya Kiyoteru-san.
"Padahal aku sudah jahat sekali kepada kalian, Hiks. Kenapa kalian ingin kembali menjadi pelayangku? Hiks, aku terlalu kejam untuk kalian." Kataku dengan sedikit menangis.
"Kami semua memaklumi hal itu Miku-sama" kata suara lain lagi yang sangat aku kenal.
"Haruko-san! Itu anda Haruko-san?" tanyaku tidak percaya, jadi dia sudah menikah dengan Kiyoteru-san?
"Iya benar ini saya Miku-sama! Saya sungguh senang anda masih hidup sampai saat ini, apa anda ke rumah kami saja daripada hidup di jalanan, dan kami akan senang sekali kalau anda berniat membalas kelurga Lorra, anda sudah berumur 13 tahun, sudah berhak untuk memegang hak penuh atas politik di kebangsawanan" kata Haruko-san, jika kebanyakan orang memulai sisi dewasa mereka pada umur 17 atau 18 tahun, keluarga bangsawan berbeda, kami harus memulai dari umur 13 tahun, dan bisa secara hukum menuntut seseorang.
"Ada sebuah suara yang mengatakan kepadaku, aku belum siap untuk merebut kembali tahta itu! akan ada waktunya, bila kesempatan itu sudah datang, aku akan memohon kepada kalian untuk bekerja lagi kepadku" kataku dengan tersenyum.
"Anda tidak usah memohon Miku-sama! Kami akan sangat senang bekerja kembali dengan anda!" kata Haruko-san. Terdengar sedikit isakan di telingaku. Apa Haruko-san menangis.
"Tidak usah menangis Haruko-san, apalagi sampai terisak sampai seperti itu" kataku.
"Saya memang menangis, tetapi tidak sampai terisak Miku-sama" kata Haruko-san. Tunggu, jadi siapa yang menangis? Aku melihat sekeliling dari dalam kotak kaca itu, hanya ada kegelapan malam dan lampu jalanan tanpa seorangpun kecuali aku. Di dalam kotak kaca telepon umum yang terang benderang ini. Kemudian aku mendengar ketukan di kaca sebelahku.
"Siapa disana?" tanyaku sedikit lantang. Aku sedikit ketakutan dalam kotak kaca ini.
"Miku-san? Ada apa? apa anda dalam bahaya?" kali ini suara Kiyoteru-san. Aku hanya menggeleng.
"A-ah, tidak apa-apa, hanya salah dengar saja, hahaha, tidak usah di pikirkan!" kataku. Aku mendengar suara lagi, kali ini suara benda yang di lemparkan kepada kotak kaca itu. Aku juga mendengar sebuah suara.
Makanan! Makanan!. Seperti itu terus menerus, aku memberanikan diri untuk melihat ke belakangku dan menemukan beberapa monster menempel di kotak kaca di luar! Karena terkejut aku kemudian menjerit! Aku juga menjatuhkan gagang telepon itu. Dengan terkejut aku terjatuh terduduk. Mulai dari hantu, siluman, bahkan monster mengelilingiku di luar kotak kaca tempat telepon umum itu, aku memeluk kedua lututku dan menempelkannya di dada, mukaku tidak bisa beralih dari mereka. Jadi ini wujud para monster, siluman, bahkan hantu itu? Aku bisa melihat mereka? Benarkah ini? Dan bukan bermimpi kan aku? Aku mencoba mencubit pipiku keras-keras, dan hasilnya memang sakit, aku tidak dengan bermimpi, aku sekarang bisa melihat mereka! Walaupun mereka menakutkan.
Aku mulai gemetaran, seorang Exorcist adalah makanan yang sangat bergizi bagi mereka, dan aku lupa mengenakan cincin penghapus hawa keberadaan exorcisme-ku! Aku sudah tamat! Cincinnya aku taruh di almari bersama dengan baju yang aku kenakan saat aku lari itu. Kaca di kotak itu mulai pecah membentuk lubang-lubang kecil, hingga sulur-sulur halus mereka hampir mengenaiku, bila terkena itu sedikit saja, maka aku akan mengalami luka bengkak! Bahkan berdarah! Kemudian entah mengapa tangan kananku telulur dan kelima jarinya membuka dan sebuah kata-kata ingin meluncur dari bibirku.
"Kekkai!" teriakku bersamaan dengan pecahnya kotak kaca itu.
.
.
.
TBC
Selesai juga Chapter 2-nya! Apakah Miku akan bisa selamat dari para monster yang sudah mengepungnya? Lalu apa yang menunggu Miku jika dia telah selamat dari para monster itu? Tunggu di chapter selanjutnya yaaaahh! Chapter ini aku buat panjang agar chapter-chapter selanjutnya jadi lebih sedikit penjelasannya. Apa chapter ini kecepetan ya update-nya? Gak apa-apa deh, masih banyak cerita yang antri soalnya! Jiahahahaha! Sampai jumpa di Chapter dan cerita Clara yang lainnnn..
A/N:
Kotak kaca tempat Miku telponan ma Kiyoteru-san itu bayangkan saja seperti kotak telepon yang biasa di eropa itu loh.
