Qora Farishta
Genre : Romance , Angst , Action
Cast : Baekhyun, Chanyeol
Rating : T to M
Author Note : Melihat respon yang cukup baik, akhirnya aku memutuskan untuk lanjuttt. Yey! Makasih buat dukungannya teman-teman. Maafkan kalu masih banyak salah, typo, dan hal-hal lainnya. Tanpa panjang lebar, langsung saja, Happy Reading!
.
.
.
.
.
Srek
Click
" W-Whoaa, calm down." Chanyeol mengangkat tangannya ke samping kiri dan kanan kepalanya ketika Baekhyun dalam sekejap telah berada di atas tubuhnya dan mengarahkan pistolnya ke dahi Chanyeol.
Wajah Baekhyun seketika kaku dan dingin , menunjukan bahwa ia kuat. Dan Chanyeol akui itu. " Aku tidak mengerti mengapa kau ingin menembakku lagi, tapi maksudku bahwa kau telah dua hari ini duduk di bangku taman itu, dan yah aku memperhatikanmu, jadi kurasa aku telah mengenalmu sebelumnya. Yah seperti familiar? "
Baekhyun menurunkan pelan pistolnya, meruntuhkan pertahanannya tadi. " Um, apa kau ingin terus berada diatasku? Aku tidak keberatan sih kau terlihat menarik dari bawah sini" Chanyeol menampilkan seringaian jahilnya kembali. Baekhyun segera turun dari badan Chanyeol dan kembali berbaring membelakangi Chanyeol dengan lebih banyak jarak dari sebelumnya.
" Karena aku telah menolongmu, boleh ku tau namamu? Namaku Loey. "
"…"
" Kenapa diam saja? Aku ingat sekali ketika kamu memaksaku memberikan 100 ribu won dan memintaku pulang sendiri karena kau tidak bisa—"
"Bi."
"berjalan. Apa? Namamu siapa?"
" Panggil aku Bi." Ujar Baekhyun pelan, namun keheningan di kamar tersebut membuat Chanyeol dapat mendengarnya dengan cukup jelas.
" Aku senang mendengar suaramu lagi, Bi. " jantung Baekhyun berdetak lebih cepat, ucapan Chanyeol dengan suara beratnya entah mengapa menimbulkan sensasi aneh dalam dirinya.
"…"
" Baiklah, mungkin kita sebaiknya tidur. Goodnight, Bi." Dan salam dari Chanyeol hanya dibalas anggukan pelan dari Baekhyun.
.
.
.
.
.
"Baekhyun, kau anak yang kuat. Eomma tau itu. Jangan menangis lagi, ok?"
.
"Kamu harus jadi anak yang mandiri, eomma tidak mungkin dapat disisimu selamanya. Contohnya ketika kau menikah nanti? Pasanganmu kelak akan cemburu bila kamu bersama eomma terus."
.
"Sayang, apapun yang terjadi. Tetaplah bertahan hidup. Eomma merawatmu bukan untuk menyianyiakan nyawamu, apa kau mengerti? "
.
"Baekhyun, eomma menyayangimu."
" Eomma!"
"Eomma, please!"
"Eomma!"
"Eomma!"
"Hey, Bi! Bangun! Apa kamu tidak apa-apa?" Baekhyun merasakan tubuhnya diguncang pelan hingga ia terduduk dan terbangun dari mimpi buruknya. Keringat mengalir di dahi Baekhyun dan ia merasa seperti berlari beratus meter. Baekhyun mencoba menormalkan nafasnya yang tersengal-sengal dengan menarik nafas perlahan dan menghembuskannya. Baekhyun merasakan sebuah tangan besar dan hangat milik Chanyeol mengusap rambutnya dan beralih menuju pipinya.
"Bi, tak apa. Itu hanya mimpi. " Baekhyun menatap Chanyeol yang menatapnya dengan senyum kecil, meyakinkan Baekhyun bahwa Baekhyun baik-baik saja. Perhatian yang diberikan Chanyeol justru membuatnya meneteskan air mata entah untuk yang berapa kalinya di hadapan Chanyeol, dan yang Baekhyun dapatkan adalah pelukan hangat.
" M-maafkan aku." Bisik Baekhyun.
" Tak ada yang perlu dimaafkan, Bi. Lebih baik sekarang kita makan karena sekarang sudah hampir siang. " Setelah Baekhyun dirasa cukup tenang, Chanyeol melepaskan pelukannya.
" Apa kamu tidak bekerja?" tanya Baekhyun dengan menunduk malu sembari memainkan ujung sweater yang ia kenakan.
" Hari ini aku libur, mungkin kita bisa sedikit bersenang-senang." Chanyeol mengusak gemas rambut Baekhyun sembari berdiri dari kasurnya.
" Aku akan menunggumu di dapur, makanannya masih hangat loh. "
.
.
.
.
Baekhyun mencoba fokus memakan makanannya namun tatapan Chanyeol sedari tadi cukup mengganggunya. Chanyeol tidak melepaskan tatapannya kepada Baekhyun semenjak mereka duduk bersebrangan di meja makan kecil milik Chanyeol dan menyantap makanan mereka.
" Kau terlihat imut ketika makan, rasanya aku ingin memberikanmu semua makanan enak di dunia ini. " Baekhyun mengalihkan tatapannya dari piringnya dan menatap Chanyeol sedikit bingung dengan tetap mengunyah makanannya.
" Apa ini orang yang sama dengan yang ingin menembak kepalaku?" Chanyeol hanya mendapat anggukan polos dari Baekhyun , yang membuatnya terkekeh pelan.
" Setelah makan, cepatlah mandi dan kita akan membeli beberapa barang. Sounds good? " Baekhyun tersenyum kecil dan mengangguk. Dia sangat bersyukur ia dapat menepati permintaan ibunya. Dan dia lebih bersyukur dapat bertemu dengan orang sebaik Chanyeol.
" Biar aku yang mencuci piringnya, umm kamu mandi duluan saja. " pinta Baekhyun. Chanyeol menaruh piring kosongnya ke dalam wastafel, "Baiklah, tolong ya."
.
.
.
.
.
Baekhyun menatap pantulan dirinya dengan pakaian yang dipinjamkan Chanyeol lagi. Sebuah kemeja dengan garis vertikal biru muda-putih yang oversized di tubuh mungilnya, tapi justru tetap bagus untuk dipakai Baekhyun, atau mungkin membuatnya terlihat imut. Jari tangannya kembali tak terlihat karena lengan kemeja yang lebih panjang. Ia juga mengenakan jeans Chanyeol , yang katanya sudah lama tak Chanyeol pakai karena kekecilan, membuat Baekhyun seperti menggunakan boyfriend jeans style.
' Mungkin tidak terlalu buruk. Dan wangi Loey ada disini lagi'
.
.
.
.
" Aku tidak pernah ingat aku bisa terlihat semanis itu ketika menggunakan kemeja yang kaupakai. " ujar Chanyeol sembari menyetir mobil Kia Picanto -nya , mobil yang terlihat kecil untuk orang sebesar Chanyeol. Ya , Chanyeol adalah raksasa, itu pendapat Baekhyun.
" Aku tidak manis. " Baekhyun sedikit membenci wajahnya yang sering dikatakan manis atau imut , hal itu membuatnya terlihat lemah. Baekhyun memajukan sedikit bibir bawahnya tanda ia tidak setuju, namun dimata Chanyeol hal itu justru membuatnya bertambah manis.
" Baiklah, kalau kamu tidak suka kukatakan manis. Aku akan mengucapkannya dalam hati saja. Aku hanya tidak suka berbohong. " Chanyeol hanya dapat tertawa pelan dan memfokuskan dirinya kepada jalanan setelah Baekhyun semakin memajukan bibir bawahnya.
" Lakukan sesukamu, huh"
.
.
.
.
.
Baekhyun tau seharusnya ia tidak boleh merepotkan orang lain, seharusnya ia sudah pergi dan mencari cara lainnya untuk bertahan hidup. Chanyeol sudah membantu lebih dari apa yang ia butuhkan. Tapi entah mengapa dia merasa nyaman dan aman bersama pria tinggi itu. Dia masih ingin bersama Chanyeol, entah untuk berapa lama. Mungkin ketika ego nya sudah mengalah padanya, ia akan pertimbangkan untuk pergi.
" Loey, apa kamu mengurus rumah sendiri? " Chanyeol terkejut akan pertanyaan tiba-tiba dari Baekhyun. Mereka sedang berjalan menyusuri satu persatu toko di salah satu mall di Jinhae-gu, kota mereka tinggal sekarang." Mengapa tanya begitu? "
" Aku bisa menjadi pembantu di rumahmu, aku bisa mencuci pakaian, membersihkan rumah, mencuci piring, ummm, untuk membayar bantuanmu. " Baekhyun menatap Chanyeol dengan yakin, agar Chanyeol mau menurutinya.
" Kurasa tidak perlu, aku bis—"
" Aku memaksa! Aku tidak punya uang sekarang untuk menggantikan uangmu! Tidak ada penolakan! " Mata Chanyeol membulat melihat tingkah Baekhyun, namun mulutnya tidak bisa mengatakan 'tidak' pada permintaan Baekhyun. Terlebih dengan wajah memaksa nya yang menembus pertahanan Chanyeol.
' Dia seperti anak kecil, hahaha' tawa Chanyeol dalam hatinya.
" Baiklah, baiklah. Tapi jangan sungkan minta bantuanku nanti ya?" Chanyeol mengusak rambut Baekhyun gemas. Mata Baekhyun berubah secepat kilat menjadi berbinar ketika Chanyeol menyetujui permintaan 'paksaan'-nya.
.
.
.
'
.
" Kau yakin tidak mau membeli beberapa pakaian? Tidak perlu memikirkan harganya, kamu kan mau bekerja untukku." Baekhyun sedari tadi menolak untuk membeli beberapa potong pakaian, dia hanya menurut untuk membeli beberapa celana dan pakaian dalam. Chanyeol mulai sedikit frustasi atas semua penolakan Baekhyun untuk membelikan Baekhyun pakaian.
" ummm, bolehkah aku tetap meminjam pakaianmu? " Baekhyun sendiri tidak tau mengapa ia mengucapkan ini. Tapi dia suka pakaian Chanyeol. Dan Baekhyun mulai merasakan aura kekesalan Chanyeol, sehingga ia memberanikan diri.
" Kenapa?" Satu kata yang Chanyeol keluarkan seketika membuat Baekhyun gugup. Tapi ego nya mengatakan ia tetap ingin memakai pakaian Chanyeol.
" Mereka nyaman dan umm wangi sepertimu? " Baekhyun seperti menanyakan balik kepada Chanyeol. Wajahnya sudah memerah menahan malu dan ia tidak berhenti memainkan ujung lengan kemejanya, lebih tepatnya kemeja Chanyeol. Aura kekesalan Chanyeol seketika hilang setelah Baekhyun mengatakan yang sejujurnya atas alasannya tidak ingin dibelikan pakaian yang baru.
" Kukira kau tidak suka dikatakan manis , tapi kamu tetap ingin berpenampilan manis dengan pakaianku. Tapi biarkan kali ini aku memaksa membelikanmu pakaian." Chanyeol mulai menyusuri satu persatu pakaian yang dipajang di sebuah toko. Baekhyun berjalan di belakang Chanyeol, mencoba untuk menghentikan Chanyeol namun ia masih tidak berani.
" Ini terlihat cocok untukmu. " Chanyeol menempelkan sebuah kaos di depan badan Baekhyun. Sebuah kaos berwarna ungu muda dengan sebuah gambar kartun kepala anjing corgi yang terlihat imut. " Tak ada penolakan, please. " ucap Chanyeol cepat ketika mulut Baekhyun mulai terbuka untuk melayangkan protes.
Baekhyun menghembuskan nafasnya pelan, menyerah. " Baiklah"
.
.
.
.
.
Baekhyun dan Chanyeol sudah menyelesaikan agenda belanja mereka, mereka juga membeli beberapa bahan makanan untuk beberapa hari. Baekhyun juga akhirnya membuat tekad dalam hatinya untuk belajar memasak, kadang Baekhyun bingung mengapa dapur seperti sangat membencinya. Setelah memasukan belanjaan mereka ke dalam bagasi mobil kecil Chanyeol, mereka kembali masuk ke dalam mobil untuk kembali ke apartemen Chanyeol.
" Jangan lupakan sabuk pengamanmu. " Baekhyun sedikit memundurkan tubuhnya ketika Chanyeol mendekatkan dirinya untuk memasangkan sabuk pengaman Baekhyun. Baekhyun menelan ludahnya perlahan akibat tindakan spontan Chanyeol. Aroma tubuh Chanyeol menguar masuk dan diterima baik oleh indera penciumannya. Aroma Chanyeol menempati list aroma yang ia sukai.
Ketika Chanyeol mulai bergerak kembali ke posisi mengemudinya, mata Baekhyun tidak sengaja menangkap seseorang. Orang tersebut baru selesai memarkirkan mobilnya di sebrang mobil Chanyeol, dan Baekhyun hanya melihat wajahnya sekilas sebelum orang tersebut berbalik badan menuju pintu masuk mall karena Chanyeol sempat menghalangi pandangannya tadi.
Alis Baekhyun berkerut dengan terus menatap orang tersebut yang semakin berjalan jauh dari pandangannya. Sebuah nama muncul di otaknya dan membuat jantungnya berdetak penuh antisipasi. Walaupun hanya sekilas namun ia hampir yakin kalau tebakannya benar. Orang itu adalah orang yang ia cari selama ini , orang yang mewarnai kehidupannya yang gelap, orang yang ia sayangi setelah ibunya, teman masa kecilnya.
' Sehun?'
.
.
.
.
.
[ To Be Continued ]
