"Kau pergi ke bank sperma, suntikan sperma di rahimmu! Dan, tada! Kau akan hamil. Atau... lakukan sex dengan seseorang! Kkk~ haha.."
"YA! PARK CHANYEOL! Kau tak mau bertanggung jawab atas bayi yang ku kandung?"
Lying about Pregnancy
~*~Naela~*~
Disclaimer : Semua cast milik tuhan, dan cerita ini asli punya Lila!
Warning : It's GS /You don't like GS? Don't read this fic!/, NC, OOC, Typos, and bla.. bla.. bla..
Length : Chapter
Rate : M
~*~Naela~*~
No Bash or Flame
No Plagiarism
And don't be a SILENT READER! /Please!/
~*~Naela~*~
"Menikahlah denganku! Pura-puralah menjadi ayah dari bayi yang ku kandung!"
"M–mwo?" Baekhyun menatap namja di sebelahnya itu dengan penuh harap. 'Ugh, jika bukan karena si bodoh Kyungsoo dan ide gilanya, mana mau aku memohon seperti ini' isakan kecil terus meluncur dari bibir tipis Baekhyun.
"A–aku, tidak bisa. Mianhae.." ingin sekali Baekhyun mengamuk dan membentak namja di sebelahnya ini. Cih, sombong sekali sih. Apa susahnya tinggal bilang 'Ya' dan pura-pura menikah dengannya jika masalah sudah selesai, mereka tinggal bercerai, tamat. Ugh, jika bukan karena rencana yang sudah di susun rapih di otaknya, ia benar-benar akan nekat memukul namja di sampingnya ini sambil memakinya.
"Hiks.. kumohon, hidupku tergantung padamu hiks.." ah, ia benar-benar berterima kasih pada kemampuan beraktingnya yang bagus, dengan gampanya air mata meluncur dari kedua mata sipitnya. Sekarang ia baru bersyukur dengan matanya yang kesempitan itu.
"A–aku.. benar-benar tidak bisa agassi. Mianhae.." sabar Baekhyun, sabar! Dia pasti akan menuruti—membatu—mu. Semangat!
"Kumohon, hiks.. tolong aku..!" Baekhyun mengepalkan tangannya geram 'Tenangkan dirimu Baek, jangan sampai tangan lentikmu itu menjambak rambut hitam namja di sebelahmu ini!'
"Ba–baiklah, akan ku pikirkan.." Mata Baekhyun berubah cerah, senyum manis tersungging di bibir tipis Baekhyun. 'Sudah aku bilang, dia pasti akan menuruti—membantu—ku' Bakhyun segera turun dari ranjang. Jika ia tak punya rasa malu dan punya harga diri tinggi, pasti dia sudah berlari memeluk namja di depannya ini atau berteriak-teriak kecil sabil jingkrak-jingkrak. Tapi sayang, ia masih punya rasa malu dan ego tinggi. Ia hanya memasang senyum manis, dan memandang namja di depannya dengan mata berbinar. "A–aku akan mengantarmu pulang" Baekhyun hanya mengangguk kecil, dan mengikuti langkah namja di depannya.
"Boleh aku tahu namamu?"
"Cha–Chanyeol, Pa–Park Chanyeol"
.
Baekhyun berjalan pelan memasuki halaman rumahnya. Langkahnya dibuat sepelan mungkin. Persis seperti seorang pencuri. Langkahnya terhenti didepan pintu rumahnya. "Huh.." Helaan nafas kecil, keluar dari bibir tipis Baekhyun. Mengeluarkan kunci cadangan dari dalam tasnya. Matanya menatap sekeliling rumahnya. 'Huh, aman!'
CLEK
Baekhyun berjalan melewati ruang tengah yang sudah berubah gelap. Berjalan dengan mengendap-endap kedalam kamarnya. Sesekali langkahnya terhenti untuk memastikan bahwa tak ada yang melihatnya masuk kedalam rumah. Huh, akhirnya am—
"Byun Baekhyun" —man. Oh, no. Matilah aku! Baekhyun berani bersumpah, wajah eommanya jauh lebih menakutkan sekarang. Akh, apa yang harus ia katakan sekarang, pikirannya benar-benar buntu. "Sudah berapa bulan?" oh, apa yang harus ia jawab? Sebulan? Dua bulan? Itu terlalu lama
"Du–dua minggu.." oh, ia berdo'a supaya tuhan memberikan keajaiban padanya. Siapa tahu, eommanya tiba-tiba menjadi lupa ingatan. Oh, itu mustahil. Ugh, apa yang harus ia lakukan? Mengaku kalau sebenarnya ia tak hamil, dan terpaksa berbohong agar eommanya membatalkan perjodohan? Oh, itu malah akan memperburuk keadaan. Oh, atau kembali berpura-pura bahwa orang yang telah menghamilinya akan bertanggung jawab? Tapi, siapa yang akan pura-pura mengaku menjadi ayah dari bayi—pura-pura—yang dikandungnya? Si manusia tiang—Chanyeol? Ah, tapi itu belum pasti. Anak itu bahkan sempat menolak beberapa kali, jika ia tak memohon dan memaksa untuk menolongnhya.
"Apa kau tahu apa yang kau lakukan itu salah? Hah? Kau ingin membuat malu keluarga kita? Apa kau tak pernah memikirkan orang lain? Eomma, appa? Dan kakakmu?" oh, ayolah! Kenapa masalahnya mejadi semakin rumit begini? Ia hanya ingin perjodohannya di batalkan, dan ia bisa menikah dengan pujaan hatinya kelak. Bukan malah menambah masalah seperti ini.. "Eomma tak pernah mengajarkanmu hal itu, dan eomma tak pernah mengajar atau menyuruhmu menjadi PELACUR BYUN BAEKHYUN!" What the? Pelacur? Oh, yang benar saja, berciuman saja belum pernah, apalagi melakukan hal yang lebih intim. Oh, itu menjijikan.
"Eomma, aku BUKAN PELACUR!"
"Jika kau bukan pelacur, kau tak akan melakukan hal tak senonoh, hingga kau hamil BYUN BAEKHYUN!" oh, karena mulut bejadnya yang seenaknya berbohong tentang dirinya yang hamil, ia jadi bulan-bulan mulut ibunya yang kejam ini. Oh, ayolah! Itu bukanlah hal yang menyenangkan, saat dirimu dituduh sebagai pelacur. "Kau bukan binatang yang dengan bebasnya melakukan sex dengan siapapun... sudah berapa kali kau berhubungan?" What the fuck?! Oh, ia di setarakan dengan binatang? Dan, apa..? sudah berapa kali aku melakukannya? Tak pernah. Tak pernah sama sekali
"Sa–satu kali." Oh, berterimakasihlah ia pada mulut dan lidahnya yang pandai berbohong. Setidaknya dengan kemampuan berbohong ini, hidupnya sekarang berada diujung tanduk. Bisa saja setelah ini ia diusir dari rumah, dan dipecat sebagai anak bungsu keluarga Byun. Oh, itu menakutkan. Sangat.
"Eomma benar-benar marah, kecewa, dan.. membencimu!" jangan kata terakhir itu. Ia tak ingin mendengarnya. Oh, mungkin sekarang iya harus bersiap-siap menjadi gelandangan, karena mulut bejadnya yang dengan seenaknya berbohong. Atau setelah itu ia akan bunuh diri, dan arwahnya akan bergentayangan. Terutama pada sahabatnya Kyungsoo, ia berjanji akan menuntut gadis cantik itu atas tuduhan pemberian ide bodoh hingga membuatnya jatuh miskin dan mati. Ah, tidak itu terdengar aneh dan menakutkan untuk dilakukan. Dan bagaimana caranya ia bisa menuntut Kyungsoo jika ia sudah menjadi arwah? Oh, jangan difikirkan!
"Eo–eomma, maafkan aku.. hiks.."
"Hah.. untuk kali ini, jangan kecewakan eomma lagi! Jaga anakmu dengan baik!" oh, malaikat apa yang tengah merasuki tubuh eommanya? Apa ia tak salah dengarkan?
"Eomma tak marah padaku? Eomma tak mengusirku atau memecatku dari keluarga Byun?"
"Kau ingin eomma melakukan itu?"
"Ani, hiks.. mianhae eomma.. hiks.. gomaweo, saranghae!"
"Tapi.. kau harus membawa ayah dari bayimu kehadapan eomma, arasseo?!"
"Mm.. ne!"
~*~Naela~*~
Baekhyun terlihat segar pagi ini. Yah, setidaknya masalahnya sudah sedikit berkurang, terutama dengan masalah perjodohan, eomma telah membatalkannya kemarin. YEAY! Oh, masih untung appanya masih berada di luar negri, jadi ia tak tahu tentang insiden pengakuan hamil—pura-pura—Baekhyun. Dan eommanya sudah berjanji tak akan memberitahu appanya soal hal ini. Ah, ia masih tak tahu malaikat apa yang tiba-tiba merasuki eommanya itu, yang jelas sekarang eommanya terlihat lebih baik. Dan waw, bahkan ia memasak banyak makanan kesukaannya. "Eomma, kenapa memasak sebanyak ini? Apa eonnie akan pulang hari ini?"
"Ani, ini semua untukmu chagi.." oh, my! Mimpi apa ia semalam, dapat mendapat jamuan makan sebanyak ini. Wah, sepertinya iya akan benar-benar kenyang makan pagi ini. "Ini.. minumlah!"
"Susu? Untuk apa?"
"Ini susu untuk ibu hamil, minumlah! Ini baik untukmu, dan bayimu!" Oh, my! Apa ia harus meminum susu ini? Ia bahkan tak sedang hamil. Apa tak apa jika ia meminumnya? Susu ini tak akan memicu hamil sungguhankan?
Dengan ragu Baekhyun meraih gelas susu yang disodorkan eommanya. Yah, rasanya enak. Sama seperti rasa susu strauwberry yang sering ia minum di kantin kampus. "Cha, kau boleh makan sekarang, chagi!"
"Ne.."
.
Huh, rasanya Baekhyun sudah tak sabar untuk bertemu sahabatnya, dan menjitak habis-habisan kepala gadis cantik itu. Atau bahkan ia akan mengeluarkan otak Kyungsoo yang telah berfikir untuk memberinya ide aneh yang membuatnya hampir mati jantungan kemarin.
"Hai Kyunsoo.."
"Hai ByunBaek! Wae? Kau terlihat bahagia hari ini, kenapa? Perjodohanmu dipercepat?"
TUK
"Aww.. ByunBaek, ini benar-benar sakit, kau tahu!?" Baekhyun hanya menatap sengit sahabatnya yang tengah meringis memegangi kepalanya yang mendapat jitakan geratis dari tangan lentiknya.
"Itu hukuman atas ucapanmu barusan, dan—
TUK TUK
—Itu untuk ide bodohmu yang membuatku mati jantungan kemarin" Baekhyun kemabali menjitak kepala Kyungsoo secara membabi buta. Membuat Kyungsoo terus meringis sambil memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.
"YA! BYUNBAEK! Hentikan! Apa maksudmu dengan ide bodoh yang membuatmu hampir jantungan, hah? Atau.. Kau mengaku hamil di depan eommamu?" Baekhyun kembali menjitak kepala Kyungsoo
"Kecilkan suaramu bodoh! Kita tak sendiri disini!" Kyungsoo hanya mengangguk bodoh dengan masih memandang Baekhyun lekat. Baekhyun yang merasa diperhatikan, menatap balik ke arah Kyungsoo. "Wae?"
"Kau berhutang padaku!"
"Eh? Bukankah aku telah membayar lunas kemarin"
"Is, bukan itu. Maksudku kau berhutang penjelasan padaku, bodoh!" Kyungsoo menjitak balik kepala Baekhyun dengan kekuatan penuh.
"Aww.. babo, sakit! Arra, aku akan menjelaskannya" Baekhyun menceritak semua yang dialaminya kemarin, termasuk tentang si manusia tiang—Chanyeol, dan tentang sikap eommanya yang berubah baik padanya.
"Hwa, daebak! Aku akan mendapat keponakan." Kyungsoo hanya tersenyum polos dengan apa yang di ucapkannya, membuat Baekhyun benar-benar geram dan hendak kembali menjitak Kyungsoo, sebelum Kyungsoo memegang tangannya "Berhenti menjitakku!" Baekhyun hanya menatap jengah kearah Kyungsoo.
"Apa yang harus aku lakukan jika si manusia tiang itu tak mau membantuku. Kau punya ide?"
"Kau pergi ke bank sperma, suntikan sperma di rahimmu! Dan, tada! Kau akan hamil. Atau... lakukan sex dengan seseorang! Kkk~ haha.." kesabaran Baekhyun benar-benar sudah habis. Ia kembali menjitak kepala Kyungsoo secara membabi buta. Tak adakah ide normal yang keluar dari kepala sahabatnya ini?
"Neo michyeosseo? Tak bisakah kau memberi ide yang lebih bermutu?"
"Entahlah, mungkin tidak. Ah, apa kau tak punya ide lain untuk meyakinkan si manusia tiang itu untuk membantumu?" ah, Kyungsoo benar. Ia harus menyakinkan si manusia tiang—Chanyeol untuk membantunya. Dan lagi, eomma menyuruhnya untuk membawa ayah dari bayi—pura-pura—yang dikandungnya.
"Ah, aku punya ide. Kyungsoo-ah, ayo antar aku ke fakultas kesehatan!"
.
"Kau yakin si manusia tiang itu kuliah disini?"
"Em, dia yang mengatakannya sendiri"
"Bagaimana jika dia bohong? Bisa saja dia membohongimu 'kan?"
"Ani, lagipula aku—ah, itu dia" Baekhyun berseru senang saat matanya menatap siluet tubuh tinggi Chanyeol yang berjarak hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri. "Ayo, kita temui dia!" Baekhyun berlari mendekati Chanyeol yang tengah asyik berbincang dengan beberapa temannya.
"Chanyeol-ah!"
"Ne" Chanyeol membalikan tubuhnya, dan mata bulatnya kembali membulat saat menatap Baekhyun di depannya
"Anyeong!" Chanyeol hanya terus diam menatap baekhyun. Ia bahkan tak membalas sapaan Baekhyun, dan tidak pula menghiraukan panggilan teman-temannya. Ia terlalu kaget melihat keberadaan Baekhyun
"Apa yang kau lakukan disini?" Chanyeol menarik tubuh Baekhyun menjauh dari dekat teman-temannya.
"Aku? Aku juga kuliah disini, hanya berbeda fakultas saja. Oh, bagaimana dengan ucapanku saat itu, maukah kau memabantuku?"
"Ani, aku tidak bisa dan tidak mau. Jadi jangan menggangguku lagi, arasseo!?" Baekhyun hanya menggeleng sebagai jawaban
"Ani, aku tak mau. Kau harus membantuku!"
"Tak bisa. Dan jangan menggangguku lagi!" Chanyeol berlalu pergi dari hadapan Baekhyun, meninggalkan Baekhyun yang tengah berpikir keras agar Chanyeol mau membantunya. Ah, sebuah ide melintas di dalam otaknya. Seringaian tercetak di bibir tipisnya.
"YA! PARK CHANYEOL! Kau tak mau bertanggung jawab atas bayi yang ku kandung?"
TBC
Lila ngucapin banyak terima ksih buat yang udah mau review, fav, follow, dan nyempetin baca fic ini*walau kesel juga sama para siders yang belum tobat -_- *
Sebenernya Lila Cuma iseng publish fic ini, Cuma buat pelampiasan rasa bosan waktu nunggu pengumuman penerimaan masuk SMA, dan YEAY! Lila masuk sekolah impian Lila ~(^.^)~ sekalilagi makasih atas dukungannya ya! ^^
Jika ingin di lanjut, Review! ^^
