"Di-di... di apartemenku...?"
"Tepat."
"Whuhuuuu kiytha kempiyn, unn~!"
"Itu bukan kemping namanya, dasar bo—"
"Sasori—bahasa!"
"Hn..."
"..."
"...?"
"Nah, ayo pulang, Dei-chan, Itachi-kun, Sasori-chan, Shiro-kun, Kuro-chan!"
"Kenapa cuma Itachi dan Shiro yang dipanggil pake sufiks –kun?"
"Jangan membantah, Sasori-chan~"
The BABY Criminals
©Andromeda no Rei
.
Standard Desclaimer Applied
.
.
Shiro - Zetsu Putih
Kuro - Zetsu Hitam
.
Parkemen 2
Beginning of Another Nightmare
.
.
.
Sejak perang berakhir, Sakura memang tinggal sendirian di apartemen yang tidak terlalu megah itu. Hanya sebuah apartemen sederhana di dekat distrik Uchiha. Kenapa harus di dekat distrik Uchiha? Itu perintah sang Godaime Hokage—agar Sakura bisa mengawasi Sasuke yang bisa kambuh kapan saja—terutama kedua matanya.
Apartemen Sakura minimalis, dengan satu koridor utama dari arah genkan, ruang tengah, dapur sekaligus ruang makan, kamar mandi, kamar tidur, serta balkon di sebelah ruang tengah. Cukuplah untuk ditinggali Sakura seorang diri.
Ini sudah waktunya makan malam. Dan sebagai makhluk hidup normal, penjahat kelas S pun juga butuh makan. Di sanalah mereka, para nuke-nin kelas S—mantan anggota Akatsuki—menunggu sang gadis berambut merah muda pendek, dengan perut keroncongan.
"Aku lapal, un~" ujar Deidara sambil memegangi perutnya dan guling-guling di atas sofa di ruang tengah. "Kunnoitchi itu ke mana shih, un?"
"PANGGIL AKU SAKURA~!" seru sebuah suara dari arah dapur—suara Haruno Sakura.
"Iya, iyaa..." Deidara mengerucutkan bibirnya.
"Kau jangan bikin dia marah," ucap Sasori yang sedang berdiri di dekat pintu kaca menuju balkon. Bocah berambut merah itu melipat tangannya di depan dada. "Orang itu punya tenaga monster, tahu."
"Hmmphh... apa peduliku, un." Deidara kembali mengguling-gulingkan tubuh kecilnya di atas sofa hingga—
TUK
"Aww, un~ shakit uuunn..." seru bocah berambut pirang itu sambil bangkit dari pembaringannya ketika kepalanya terbentur sesuatu yang agak keras. Ia mengusap-usap kepala pirangnya dengan kedua tangan mungilnya dan mendelik tajam ke arah benda keras yang dibenturnya—yang ternyata adalah kepala Itachi. "Itachi, un! Kau ngapain tidulan di shini, un? Minggiiiilll, uunn~" ucapnya cadel sambil mendorong tubuh Itachi yang sedikit lebih kecil darinya.
Itachi tak bergeming. Sekuat apa pun Deidara mendorongnya agar jatuh dari sofa yang mudah dijangkau itu, Itachi tetap memejamkan mata dengan kerennya. "Hn, aku mau tidul," ujarnya dingin dan dibuat setajam mungkin agar terkesan mengerikan, namun gagal karena yang terdengar hanya suara cempreng yang cadel khas balita. Itachi sweatdrop sendiri mendengar suara seksinya kini berubah jadi begitu menggelikan.
"Ittachiii uuunn~! Tulun, un!"
"Hn..."
Sasori menghela napas berat dan menoleh ke arah si kembar Zetsu yang malah bengong menonton tivi dengan jarak yang terlalu dekat. "Hei, kalian nggak bisa ya, lerai dua orang di sana itu?" ujarnya pada Zetsu hitam dan putih—Kuro dan Shiro. "Lama-lama mereka bisa jatuh."
"Biarkan saja," jawab Shiro tanpa mengalihkan pandangannya dari tivi. Sedangkan Kuro hanya menoleh sekali ke belakangnya—ke arah Deidara yang masih sibuk mendorong Itachi, meski tidak juga berhasil—kemudian kembali beralih pada tivi di depannya.
Sasori kembali menghela napas. Ia ingin sekali menghentikan Deidara, tapi terlalu malas untuk melakukannya. Kalau ada Sakura yang bisa mengurus mereka, kenapa tidak gadis itu saja yang menghentikan Deidara?
Ngomong-ngomong Sakura ke mana saja sih dari tadi? Sejak sampai di apartemennya yang kecil ini, cewek bermata viridian itu malah meninggalkan kelima bocah penuh dosa itu di ruang tengah dan menyuruh mereka agar tidak ke mana-mana, sedangkan ia sendiri menghilang di balik tembok pembatas ruang makan.
Sasori tidak mau tahu lagi. Dengan susah payah ia menggeser pintu kaca di depannya dan melangkahkan kaki-kaki mungilnya hingga berhenti di pagar pembatas balkon. Bocah yang kini bertubuh enam tahun itu mendongak—sedikit takjub dengan lukisan langit penuh bintang di atasnya. Apakah langit malam selalu seindah ini? Kenapa ia tidak pernah menyadarinya sebelumnya? Benda yang berkilauan bak berlian dengan kanvas gelap di atas sana itu adalah karya seni yang luar biasa indah!
"Sasori, jangan terlalu menempel ke pagar."
Suara Sakura dari arah ruang tengah membuyarkan lamunan Sasori. Ia menoleh dan mendapati cewek itu tengah menggendong Deidara yang meronta-ronta tidak jelas.
"Kau bisa jatuh nanti," lanjut Sakura sambil menurunkan Deidara ke lantai dan merapihkan celemek hijau bermotif bambu yang dikenakannya.
Sasori kembali masuk ke ruang tengah dan menggeser pintu kaca hingga tertutup rapat. "Kau ke mana saja?" tanyanya dengan ekspresi ngantuknya yang biasa.
"Ahh, tadi habis bikin makan malam," jawab Sakura seraya menggaruk pipinya yang tak gatal. Ia kemudian mengikat rambut pendeknya tinggi-tinggi dan berkacak pinggang. "Nah, sekarang kalian mandi dulu, baru kita makan malam."
"Holeee un~" seru Deidara sambil mengangkat kedua tangan kecilnya lalu cekikikan ketika—lagi-lagi—lidah pada telapaknya menjilati jemari mungilnya.
"Err... karena kamar mandinya cuma ada satu, jadi gantian," ujar Sakura sambil tersenyum manis. "Shiro dan Kuro mandi bertiga sama Sasori, lalu Deidara dan Itachi akan kumandikan."
"APA~?"
"Whuuu ashiiiiyykk un~"
"..."
"Baiklah."
"Aku nggak mau dimandikhan olehmu, Kunnoitchi."
"Panggil aku Sakura, Itachi." Sakura memijat-mijat pelipisnya yang entah kenapa jadi terasa begitu nyeri. "Dan nggak—kau nggak punya pilihan lain. Kau dan Deidara nggak boleh mandi sendiri—belum bisa."
Sasori cemberut. "Aku juga mau dimandikan," ujarnya sambil membuang muka. Ada rona merah tipis pada kedua pipi tembemnya.
"He?" Sakura menghampiri Sasori dan menempelkan kedua tangannya pada pipi Sasori. Iris hazel bertemu viridian. "Ah, aku baru sadar. Ternyata tubuhmu bukan kayu lagi. Ini beneran manusia," ujarnya takjub.
Wajah Sasori semakin merah dan panas ketika ia menyadari begitu dekatnya jarak mereka. "Wuaa jangan dekat-dekat!" serunya sambil mendorong wajah Sakura.
"Ahaha, iya iya, maaf. Ya sudah, kalian bertiga mandi duluan saja sana," lanjut Sakura sambil mendorong pelan Sasori dan Kuro ke arah kamar mandi. Shiro mengikutinya dari belakang.
"Ne, ne, Sakula-chan juga ikhut mandi sama Dei, un?" tanya Deidara ketika Sakura kembali masuk ke ruang tengah. Bocah itu masih duduk di lantai dengan jubah hitam kedodorannya.
"Eh, nggak kok. Biasanya aku mandi sebelum tidur." Sakura duduk di sebelah Deidara dan bersandar pada sofa. Jemari lentiknya bergerak mengelus-elus rambut pirang bocah di sebelahnya.
Deidara tersenyum dan menutup matanya. Ia semakin menyodorkan kepala kecilnya pada tangan Sakura untuk dibelai-belai. "Kapan-kapan mandi baleng Dei ya, un?"
PUK
Tiba-tiba Itachi melempar bantal ke arah Deidara dari atas sofa. Ia menatap sengit bocah pirang di bawahnya dengan mata onyx-nya yang bulat dan berbulu mata lentik.
"Adhuuuww un~"
"Itachi, kau apa-apaan, sih?" Sakura menatap Itachi tak percaya. Tangan kananya kemudian bergerak meraih kepala Itachi di atas sofa dan menepuk-nepuknya pelan. "Kau nggak boleh nakal, Itachi..."
"Jangan pelakukan aku sepelti anak kecill," ujar Itachi sambil melepaskan tangan Sakura dari kepalanya dengan kedua tangan mungilnya.
"Kau 'kan memang—eh?" Sakura sedikit tersentak ketika Deidara dengan kalemnya memanjat paha Sakura dan duduk di pangkuannya. Bocah bermata saphire itu kemudian memeluk Sakura—membenamkan wajahnya pada dada gadis berambut sewarna permen kapas itu. Sakura tersenyum kecut dan mulai membelai kepala Deidara dengan tangan kirinya.
Itachi menatap gumpalan kuning yang seenak udel itu bergelayutan pada Sakura dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia membuang muka.
Tiba-tiba tangan kanan Sakura meraih tubuh kecil Itachi dan turut memangkunya di sebelah Deidara. "Sini, sini..." ujar Sakura sambil mengelus-elus punggung Itachi dan sesekali memainkan kunciran kecil di atas tengkuk Uchiha kecil itu.
Deidara menatap Itachi sebentar sebelum akhirnya kembali membenamkan mukanya pada dada Sakura. Itachi mengernyit tak suka. Ia membuang mukanya dan membiarkan saja jemari Sakura memainkan kunciran rambutnya.
Deidara kembali cekikikan tidak jelas. Tanpa aba-aba, ia menyodorkan telapak tangan kirinya pada wajah Itachi—membuat lidah kecil pada mulut di telapak tangan itu menjilati wajah Itachi.
"Aaaaaa~" Itachi dengan gusar mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah, berusaha menyingkirkan tangan-bermulut Deidara.
Deidara kembali cekikikan.
"Deidara..." Sakura memperingatkan.
Deidara diam dan kembali memeluk Sakura sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Sedangkan yang dipeluk hanya menghela napas berat kemudian meraih selembar tissu dan mengelap wajah Itachi yang basah karena jilatan lidah Deidara.
Itachi tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia merengut. "Dasal kekanakan."
"Kau juga kekanakan kok, Itachi," gumam Sakura.
"Hn..."
KLEK
DRAP DRAP DRAP DRAP
Terdengar derap langkah kaki terburu-buru menuju ruang tengah. Sasori muncul pertama kali—dengan handuk putih besar yang menyelimuti bahu hingga mata kakinya. Wajah imutnya semakin tampak segar setelah mandi—membuat siapa pun penggemar bishounen di seluruh dunia klepek-klepek bak Kisame kehilangan air kolamnya.
Sakura menoleh. "Ah, sudah selesai, ya," ujarnya ketika mendapati Sasori berdiri menatapnya datar, diikuti Shiro dan Kuro yang menggunakan satu handuk bersama. Tampak sangat kawaii di mata Sakura.
"Iya," jawab Shiro dan Kuro bersamaan.
Sakura meletakkan Itachi dan Deidara di lantai dan menghampiri si kembar. Kunoichi bermarga Haruno itu mengambil handuk yang melilit Shiro dan Kuro kemudian menggosok-gosokkannya pada kepala mereka, mengeringkan rambut hijau mereka. "Ke kamarku," perintah Sakura sambil tersenyum lembut. "Di atas kasur sudah kusiapkan kaus dan celana pendek. Punyaku waktu masih genin."
Dengan sekali anggukan, duo-Zetsu itu berlari kecil ke arah kamar Sakura tanpa handuk—maksudnya, telanjang bulat! Ah, tidak apa. Toh mereka masih kecil, batin Sakura. Gadis itu kemudian beralih pada Sasori dan turut mengeringkan rambut merahnya dengan handuk Shiro dan Kuro tadi.
"Jadi aku bakal pake bajumu?" tanya Sasori yang menundukkan wajahnya karena Sakura masih menggosok-gosok kepalanya dengan handuk.
"Iya, untuk sementara ini saja," jawab Sakura. Ia telah menghentikan aksinya dan menatap Sasori sambil tersenyum kecut. "Gomen ne, besok kita beli baju untuk kalian, deh."
"Asyik asyik un~!" seru Deidara.
"Ayo, Itachi, Deidara, giliran kalian mandi," ujar Sakura setelah Sasori beranjak ke kamar untuk berganti pakaian.
"Kau benal-benal mau memandikanku?" Itachi melipat lengan di depan dada. Onyx-nya menatap tajam ke arah Sakura.
"Tentu saja, Uchiha-sama." Sakura memutar bola matanya, bosan.
"Hnn..."
"Itachi, dengar—aku ini medic-nin," ujar Sakura sedikit frustasi. "Jadi tolong turuti saja perintahku, mengerti?"
Itachi mendecih kesal dan membiarkan saja Sakura menyeretnya ke kamar mandi. Ia kesal—tentu saja. Tapi kenapa pipinya merona sampai segitu merahnya? Ah, mungkin karena ia harus mandi di bath-tub yang sama dengan Deidara. Apalagi dimandikan oleh Sakura. Yang benar saja.
Tidak ada yang menyadari.
Bahwa ketika gadis dan dua bocah itu menutup pintu kamar mandi, langkah kaki kecil mengendap-endap mengikuti. Ia menempelkan telinganya pada daun pintu kayu itu dan merengut kesal. "Deidara dan Itachi curang," rutuknya entah pada siapa.
"Kau ngapain di situ, Sasori?"
"Eh?" Sasori buru-buru menegakkan kembali tubuhnya ketika Shiro menegurnya—menatapnya penuh tanya. "Cuma lewat, kok."
"Sakura lama nggak, yaa~" ujar Kuro yang muncul dari balik punggung Shiro. "Aku lapar beneran..."
"Awas saja kalo sampe lama-lama," gumam Sasori.
"Kau ngomong sesuatu, Sasori?" sebelah alis Kuro naik.
"Nggak."
.
.
.
"Kasurnya cuma ada satu, cukup buat satu orang gemuk lagi." Kuro bergumam entah pada siapa ketika keenam penghuni apartemen kecil itu memasuki kamar Sakura.
Sakura menghela napas. Kamar ini sudah dari dulu kecil, sekarang ditambah lima orang bocah lagi. Jelas-jelas akan terasa lebih pengap dari biasanya. "Aaa... jadi begini, Deidara dan Itachi tidur di atas kasur. Lalu, salah satu di antara kalian bertiga—" ucap Sakura sambil menunjuk Shiro, Kuro, dan Sasori bergantian. "—juga tidur di atas kasur. Sisanya tidur denganku di futon. Nggak apa-apa, 'kan?"
"Kok begitu?" Sasori mengerutkan keningnya. Ia memperhatikan Sakura yang pelan-pelan meletakkan Itachi dan Deidara di atas kasur empuknya. "Jadi kau tidur di bawah?"
Gadis itu menoleh. "Iya, Sasori. Kalau kau mau tidur di atas sama Itachi dan Deidara, biar Kuro dan Shiro yang menemaniku tidur di futon," lanjutnya sambil membongkar lemari dan mengeluarkan sebuah futon putih.
"Loh~ Sakuwla-chan ngga bobo di sini, un~?" Deidara menelengkan kepalanya sambil menepuk-nepuk kasur.
Kuro dan Shiro bertukar pandang. "Sasori tidur sama kami di bawah," ujar Shiro asal.
"Iya, kau di atas saja sama Deidara dan Itachi," sambung Kuro. "Jaga-jaga saja kalau Deidara berguling dan jatuh dari kasur."
"Aa... begitu, ya?" ujar Sakura yang telah selesai menggelar futon-nya di dekat kasur. "Sasori? Bagaimana?"
"Ya sudah," jawab Sasori pelan, berusaha menyembunyikan kekecewaannya.
"Ashiyk, ashiyk, bobo baleng Sakula-chan~" seru Deidara seraya membaringkan tubuhnya dengan agak kasar.
Setelah mematikan lampu, Sakura pelan-pelan membaringkan tubuhnya yang terasa bagitu penat ke atas kasur. Ia memiringkan badannya ke arah Deidara, menatap lekat balita itu sambil menempelkan telunjuk pada bibirnya sendiri. "Ssstt, Itachi sudah tidur, Deidara..." bisiknya. Ia melirik Itachi yang berada di sisi kasur dekat dinding—tertidur pulas dengan dengkuran halusnya.
Deidara mengangguk pelan dan menutup mulut dengan kedua tangan kecilnya. Ia menguap kecil, dan detik berikutnya ia telah terlelap.
Sakura tersenyum tipis dan membalik tubuhnya, memastikan keadaaan tiga bocah yang tidur di lantai. Mereka juga telah terlelap; dengan duo-Zetsu saling memeluk, dan Sasori yang tidur telentang. Semua tampak begitu lucu dan tenang. Lagi-lagi Sakura menghela napas panjang sebelum akhirnya ia turut melambung ke alam mimpi.
.
.,:;0;:,.
.
Uchiha Sasuke—untuk pertama kalinya—membiarkan mulutnya mangap tidak jelas selama beberapa detik. Mata onyx-nya mengerjap-ngerjap tak percaya. Kedua tangannya terkulai lemas di samping tubuhnya. Oh, ini pasti hari sial.
Ia bangun pagi-pagi sekali karena salah satu ANBU membangunkannya dengan tidak elit, yang kemudian menyuruhnya untuk ke kantor Hokage, dan di sinilah ia sekarang. Pintu depan apartemen Haruno Sakura yang terbuka lebar—menampakkan pemandangan aneh-tapi-nyata yang bahkan belum terlintas sedikit pun di otak sempit Naruto.
FLASHBACK 10 MENIT LALU
KLEK
"Oh, ohayou, Sasuke-kun~"
"Hn, Sakura, Hokage memintaku untuk—"
"Aa~ se-sebentar, yaa..."
"Sasoriii jangan gosok gigi Deidara pake sabuuunn~"
DRAP DRAP DRAP DRAP
"Huaaaattchiiiiyyy~"
"Ah, Kuro—kau kena flu, ya?"
"Nggak, kok."
"Itachiiii~ jangan maen dekat kompor!"
"KATSHUU! KATSHUUU~ UN!"
"Deidara, itu bukan tanah liat—aduuuhh~!"
DRAP DRAP DRAP DRAP
"Shirooo—handukmu mana, hah?"
"Itachi yang sembunyikan!"
"Bukan aku!"
"Deidaraa~ jangan makan rambut Sasori~!"
"Kuro—hati-hati ada Itachi di bawah meja!"
"Sakura—awas!"
"KYAAAAAAAAAA~~!"
GUBRAAAKK
"Bukan aku! Bukan aku! Itu Shiro yang menumpahkan sabunnya!"
"Mana Itachi?"
"AAAAAA~~!"
"Deidaraaa~ itu rambut Itachi kau apakan~! Sasoriii!"
"Aku sudah berusaha melerai, kok."
"Kurooo~!"
"Waaaa~"
"SAKULA-CHAAAANN UN~!"
END OF FLASHBACK 10 MENIT LALU
Sasuke tidak percaya ia harus membuang waktu sepuluh-menitnya yang berharga hanya untuk menyaksikan keanehan yang bahkan lebih buruk dari Icha Icha Tactis The Movie!
"Ohayou lagi, Sasuke-kun..." sapa Sakura ketika ia kembali ke pintu depan sambil menggendong Deidara. Mereka semua tampak rapih dan bersih, meski bocah-bocah itu memakai kaus kedodoran. "Maaf lama menunggu," lanjutnya sambil tersenyum saaaangat manis.
"A-aa..." Sasuke salting. Ia kemudian menatap sosok Itachi yang digendong Shiro. Ini dia bocah yang membuat Sasuke penasaran dari kemarin. "Sakura," tergurnya pelan.
"Yaa?"
"Mereka semua tinggal di sini?"
"Ah, ya. Aku lupa bilang pada kalian," ucap Sakura sambil mengusap-usap rambut Deidara yang menatap Sasuke dengan mata saphire bulatnya. "Ini anak-anak yang kemarin itu, Sasuke-kun. Perkenalkan, ini Dei-chan, Sasori-chan, Shiro-kun, Kuro-chan, dan yang paling kecil itu Itachi-kun."
"Aku mengenal nama-nama itu," ujar Sasuke sambil berjongkok—menyamakan tingginya dengan Shiro yang menggendong Itachi. "Terutama nama Itachi-niisan."
"Ne, memangnya salah kalau aku menamakan mereka seperti almarhum Akatsuki itu?"
"Kau bilang mereka dari panti asuhan di Tanzaku Gai."
"Iya memang, tapi 'kan aku yang memberi nama mereka selama tinggal di sini."
"Hn, terserah," ucap Sasuke sambil kembali menegakkan tubuhnya. "Oh ya, Hokage memintaku untuk—"
"Ah, Sasuke-kun, aku baru ingat!" Sakura menepuk jidatnya.
Sasuke menghela napas. Lagi-lagi omongannya dipotong. Hn, gadis ini menyebalkan.
"Aku harus belanja baju untuk mereka hari ini," lanjut Sakura.
"Hn?" sebelah alis Sasuke terangkat.
"Ne, mau nggak menjaga Dei-chan dulu selama aku pergi?" ujar Sakura sambil menyodorkan Deidara secara sepihak pada Sasuke. Ia kemudian mengambil alih Itachi dari gendongan Shiro.
"EH~?" Sasuke sedikit kesusahan menggendong Deidara yang meronta-ronta sambil tertawa tidak jelas. Kedua tangan kecilnya kemudian terangkat—berusaha menjangkau rambut Sasuke. "Apaa?" tanya Sasuke ketus pada balita dalam gendongannya.
"Gendoooong, un~" seru Deidara.
Sasuke berdecak kesal, ia mengerti maksud Deidara. Cowok berambut raven itu kemudian meletakkan Deidara pada pundaknya dengan ekspresi jengkel. Sedangkan si balita pirang hanya tertawa renyah sambil mengacak-ngacak kepala Sasuke.
"Khikhikhikhikhiii... ini kepala apa ekol bebek ya, uun~"
"Apa katamu?"
"Sasuke-kun, sudah." Sakura berusaha menenangkan Sasuke yang hendak melempar Deidara saking jengkelnya. "Sepertinya Dei-chan menyukai Sasuke-kun."
"Cih."
"Woi, ada apa ini rame-rame, Sakura-chan?"
Lengkingan suara berat lain muncul di antara tawa kecil Deidara. Sontak semua mata tertuju pada sesosok—eh, dua sosok yang baru datang itu; Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata—pasangan chuunin paling aneh seantero Konoha.
"Ah, ohayou, Naruto, Hinata," sapa Sakura sambil tersenyum riang.
"O-ohayou, Sakura-san..."
"Yo, Sasuke-teme ternyata juga di sini," ujar Naruto sambil menepuk pelan bahu Sasuke. "Wah, semuanya ngumpul. Kalian mau pergi ya, Sakura-chan?"
"Sebenarnya cuma aku sih, Naruto," jawab Sakura sambil mengeratkan gendongannya pada Itachi. "Aku mau belanja baju-baju untuk mereka."
"Sa-Sakura-san perhatian sekali, ne..." Hinata berujar sambil memainkan jemarinya.
"Arigatou, Hinata~" Sakura menggaruk pipinya yang tak gatal. "Ah, bagaimana kalau kalian berdua membantuku? Kalian nggak ada misi hari ini, 'kan?"
"Tentu saja, Sakura-chan," jawab Naruto sambil bersedekap. "Memangnya apa yang bisa kami bantu?"
"Ini." Sakura mendorong pelan Kuro dan Shiro ke depan. "Jaga Shiro-kun dan Kuro-chan, ya. Mereka anak baik, kok. Cenderung pendiam dan nggak merepotkan."
"Waaa dengan senang hati, iya 'kan, Hinata?" seru Naruto sambil merangkul Hinata.
"I-iya, Naruto-kun..." ucap Hinata setengah berbisik, berjuang sekuat tenaga agar ia tidak pingsan dengan jarak sedekat itu dengan wajah sang kekasih.
"Nah, Kuro-chan, Shiro-chan, ayo kita sarapan bekal yang dibuat Hinata-neechan ini, lalu kita main-main di dekat hutan kematian—terus makan siang di kedai paling enak di seluruh dunia, Icharaku Ramen~!" Naruto dengan semangat meraih pergelangan tangan Shiro dan menyeretnya menjauh dari tempat itu. "Ayo, Hinata! Sampai nanti, Sakura-chan, Sasuke-teme!"
"S-sampai nanti, Sakura-san, Sasuke-kun..."
"Sampai nanti~" seru Sakura sambil melambaikan tangannya yang bebas pada pasangan yang cukup kontras itu. "Makasih, yaaa~"
Hening.
"Hn, jadi?"
Sakura menoleh. "Jadi yaa... Bagaimana kalau kita pergi sama-sama saja? Setelah itu aku janji deh akan mengurus semua keperluanmu." Sakura nyengir kuda, sedikit merasa tidak enak juga pada Sasuke. Tapi toh jika memang tidak mau, Sasuke bisa menolak untuk membantu Sakura, 'kan?
Nyatanya ia tidak menolak sama sekali.
"Nii... nii... Shashuke-nii..."
Sasuke—yang merasa namanya disebut—menoleh ke asal suara; Itachi dalam gendongan Sakura. Ia menatap bocah itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Seperti dé javú—ia seolah pernah melihat balita bermata onyx itu.
"Hn." Sasuke menepuk kepala Itachi pelan dan berujar, "Kau mirip nii-san. Jadilah orang yang baik jika sudah besar nanti."
Deidara bungkam.
Sakura terpana.
Sasori bingung.
Itachi tertegun.
"N-ne, Sasuke-kun!" seru Sakura ketika Sasuke membalik tubuhnya—beranjak pergi. "S-suatu saat nanti kau bisa jadi ayah yang hebat lho!"
PEEEEEESSSSSHHHHH
"Berisik!" sahut Sasuke tanpa menoleh. Ia menundukkan kepalanya, berharap poninya bisa menutupi rona merah pada kedua pipinya. "Kau jadi pergi belanja nggak, sih?"
"Ah, iya iya! Ayo, Sasori~"
"Iya..."
.
.
.
.
つづく
[to be continued]
Author's Note :
Sumpah nulis dialog dei-dei sama itachi itu suuusah banget! Parah! Kenapa sih balita itu ngomongnya suka kepelintir lidahnya? *ngelirik ponakan—dilempar batu*
ne~ ada yang nyadar gak hari di mana sakura dapet misi itu panjaaaang banget? Masa dari chap kemaren sampe chap ini hari belom ganti? #BLETAKK
Oke maafkan author nista ini. Ia hanya ingin menyalurkan ide-ide gila dan tidak masuk akalnya dengan cara yang aneh pula. Dan untuk fic ini, mungkin kapan-kapan rei bakal bikin fanart-nya—mengingat rei udah lama sekali vakum di dunia digital-art (=~=)a
Cuz i'm so dead to have all the reviews! xD Yosh, MAKASIH BANYAK buat :
HarunoZuka, Uchiha Reiko Ichihara, Ka Hime Shiseiten, haru, ayyuki, Ichaa Hatake Youichi ga login, Zoroutecchi, SoraMaria, Dina A-chan, BlueWhite Girl, Va Der Flohwalzer, Devil's of Kunoichi, Cho Haenna, DEVIL'D, Poetrie-chan, Ritsu-ken, Thia Nokoru, Shena BlitzRyuseiran, faricaLucy, Raynfals, Yamanaka Chika, Weasel Arya, yaraiyarai-chan, Pink Uchiha, V3Yagami, Shubi Shubi, Daisy Aster, DaRuma Chi TsuToSuke, Risuki Taka, Anasasori29, Hikaru Kin, Ame chan, Believers, Deidei Rinnepero13, gieyoungkyu, Nyx Quartz, no-name, uchiha reyvhia, Uchiha Uzumaki Hatake Hotaru, Caninae Villosa, Takenouchi, Twingwing RuRaKe, Aya Akita, ryuzaki akatsuki, MikotoUciha17, Hatake HaDei-chan un, MicheliaalbaNearKeehlBeyond, sheila, Wataru Takayama, Vytachi W.F, Lullaby Afa, Oki si doki, namikaze vic'ky, dan juga silent readers sekaliaaaann~
Takenouchi : salam kenal juga ^^ eh, jangan panggil senpai! Rei masih amatir, tau! And... makasih yaa ^^
namikaze vic'ky : hola juga, vicky ^^ aa... kenapa ya? soalnya sasori meski 6 tahun tetep unyu kok. tau kan? yang di flashback nenek Chiyo itu lhoo xD
Ah, sudahan ah bacotnya. Rei mau mandi dulu *plakplakk* hehe... ini jadi semangat lanjutin karena baca-baca review! Ne, ternyata review yang isinya teriakan suka/nyuruh-apdet itu menambah semangat buat apdet yaa! Ganbarimasu! がんばります!anyway, bersediakah REVIEW? Please?
Salam,
Al-Shira Aohoshi
a.k.a Andromeda no Rei
