Falling to You
Pairing : HoMin / YunJae / slight YooSu
Rate : M
Length : 2 of ?
Warn : ada *uhuk* tapi ga seru sih..
Kini mereka ada di Paris. Changmin mengedarkan pandangannya. Ada begitu banyak pasangan disini. Ada yang berciuman, ada yang berpelukan.
"menyedihkan sekali. Tidak bisakah mereka bertenggang rasa pada orang yang tidak memiliki kekasih?" celetuk Minho.
Changmin mengangkat sudut bibirnya. Dia masih heran, mengapa besi tinggi seperti ini bisa membawa romantisme? Besi tinggi.. Menara Eiffel..
SMTOWN Paris telah berakhir. Mereka akan pulang besok.
.
.
.
"hyung.. sudah selesai belanjanya? Ayo kita ke hotel. Aku mengantuk!" ucap Changmin kesal.
Yunho terlihat sibuk memilih scarf titipan ibu dan adiknya. Sebenarnya dia bisa menyuruh stylish untuk membelinya. Tapi, bukankah lebih istimewa kalau dia yang memilih sendiri bukan?
"yak! Ini bagus. Aku pilih yang ini.."
Changmin memutar bola matanya dengan malas.
.
.
.
Mereka mendapat kamar yang besar. Jadi Yunho memutuskan untuk sekamar saja dengan Changmin. Toh, mereka cuma berdua. Ranjangnya lebih dari cukup untuk menampung tubuh mereka.
Changmin meneguk red wine yang tersedia di refrigator kamar.
Yunho terlihat sibuk sendiri dengan belanjaannya tadi. Sekalian packing untuk pulang besok. Yunho orang yang pelupa. Sebisa mungkin dia tidak meninggalkan barangnya di hotel setiap mereka menginap diluar. Tapi biasanya, sehati-hati apapun Yunho dalam mempersiapkan barang-barangnya, selalu saja ada yang tertinggal. Changmin paham betul.
Setelah hampir satu jam, Yunho akhirnya beranjak dari kopernya.
"wine-nya masih?"
Changmin menyorongkan gelas yang telah terisi setengahnya ke Yunho.
"bagaimana menurutmu Min? Apa ada yang berbeda dariku?" Tanya Yunho tiba-tiba.
Changmin menaikkan satu alisnya.
"masalah yang di Saipan.. err.. apa aku jadi terlihat kacau..?" ucap Yunho ragu-ragu.
Changmin tersenyum mengejek.
Yunho menatapnya tak suka.
"kau masih aneh, jayus, dan pelupa hyung.." Changmin menahan senyumnya dan meneguk wine-nya.
"kau menghiburku dengan kata-kata yang tidak menyenangkan. As usual.." cibir Yunho.
"so?"
Yunho mendekatkan wajahnya pada wajah Changmin.
Angin bertiup dengan aneh. Changmin bergidik tanpa alasan. Sepertinya dia mulai mabuk.
Yunho berupaya mengambil botol di tangan Changmin. Rencananya, dia ingin menjitak kepala Changmin dalam jarak sedekat ini. Rencana itu ya rencana.
Yunho merasa sedikit tersentak. Sejak kapan?
Sejak kapan Changmin memiliki mata seindah itu?
Sejak kapan Changmin bisa membuat darahnya berdesir?
Changmin menatapnya bingung.
Mereka sama dalam satu hal. Mereka sama-sama tidak tahu apa yang terjadi di menit-menit ini. Bahkan ketika merapatkan bibir satu sama lain, mereka tidak tahu apa itu sebenarnya?
Rasanya mau meledak.
Sungguh, Changmin ingin meledak delam rengkuhan pria ini. Jutaan kupu-kupu sepertinya memakan tulangnya. Entah kemana hilangnya kekuatan 186cm yang dia punya? Kaki panjangnya bahkan tidak bisa menumpunya dengan benar. Yunho sungguh baik. Pria itu membantunya ke ranjang. Sangat baik.. membantunya berbaring..
Dan semua terjadi begitu saja. Entah siapa yang memulai. Entah siapa yang menyatakan persetujuannya.
Pria yang lebih tua membuka semua penghalang yang menyelimuti yang lebih muda dan membebaskan dirinya pula di saat kemudian.
Mereka melakukannya dengan pikiran yang entah berada dimana. Kedua pasang mata itu saling mengawasi. Hanya beberapa detik mengedip untuk kemudian saling menatap lagi.
Ah, tidak juga. Mata mereka sesekali terpejam. Terutama ketika bibir-bibir itu saling bertubrukan satu sama lainnya. Saling ingin merasakan. Saling ingin menjelajah.
Jangan lupakan kedua tangan pria yang lebih tua. Jari-jari indah yang dimilikinya bergerak sesuai naluri terdalam yang dia punya. Naluri untuk menjamah. Meraih bagian tubuh lawannya yang lebih muda itu. sedikit mencengkeram untuk mendengar desah tertahan pria dibawahnya.
Tubuh keduanya bergidik sesekali. Mereka lupa menutup jendela.
Tapi sepertinya keduanya tidak tertarik untuk sekedar bangun sebentar dan merapatkan jendela. Mungkin mereka takut.
Takut kehilangan momen janggal diantara mereka.
Keringat Changmin bercucuran. Jantungnya seakan ingin melompat saat sesuatu yang basah menghisap bagian terintimnya. Bagian yang belum pernah disentuh siapapun sejak dia dewasa. Entah bagaimana dirinya bisa begitu percaya pada pria yang duduk diatasnya.
Pria yang tidak terlihat wajahnya. Karena tersembunyi di selangkangannya.
Astaga Shim Changmin..
Yunho menyentuh apa saja yang bisa disentuhnya.
Semua yang dimiliki maknae-nya itu seakan menjadi lahan hijau.
Lahan hijau miliknya. Yang ingin dinikmatinya sendirian. Hanya dia saja.
Kaki panjang itu telah melingkar mantap di pinggangnya.
Yunho memutuskan untuk melakukannya dengan gentle. Mempersiapkan pria muda itu, dengan cermat.
Yunho mulai menjilati jarinya sendiri. Ini adalah sesuatu yang tidak direncanakan.
Melakukan hal ini..
Dengan pria dibawahnya ini..
Diimpikannya pun tidak pernah..
lube is not an usual things to bring, right? He's single now, remember?
Changmin memejamkan matanya. Dia tidak tahu betapa pintarnya pria diatasnya. Pantas saja Jaejoong betah bersamanya hingga 4 tahun. Pasti menyenangkan, 'diurusi' seperti ini..
"argh!" keluh Changmin. Dia ingin marah, pria ini ingin menyakitinya kah? Ini sakit.
Tiga jari itu melesak begitu saja.
"keluarkannn!" jerit Changmin sambil menggigit bibirnya.
Changmin menjambak rambut Yunho. Berupaya menariknya dari sana. Yunho menurut. Jari-jarinya dikeluarkan perlahan.
Entah mengapa di saat kemudian Changmin merasa menyesal. Kehilangan jari-jari itu membuatnya frustasi.
Apa dia sudah gila? Bukankah tadi dia merasa kesakitan?
Yunho tidak ingin terlalu lama menunggu. Dia berada diujung akal sehatnya. Dia ingin berada di dalam. dia tahu akan mendapatkan surganya disana.
Surga di dalam tubuh pria muda yang menatapnya lemas dengan pandangan sayu.
Yunho tiba-tiba tersenyum.
Dengan napas sedikit terengah, Changmin balas menatapnya dengan keheranan.
Changmin tidak tahu bahwa pria diatasnya memiliki rencana lain.
Dengan satu hentakan, benda itu masuk begitu saja. Changmin tersentak. Airmatanya meleleh begitu saja.
Ini lebih parah dari yang tadi? What the f*ck?
Changmin bergemul dengan pikiran dan rasa sakitnya.
Changmin hampir menjerit. Hampir saja.. hingga mulutnya disumpal dengan sesuatu yang yahh.. cukup menyenangkan. Mereka saling menggigit dan menghisap.
Changmin menghargainya. Menghargai usaha pria yang berusaha mengurangi rasa sakitnya.
Tubuh mereka bergerak seirama. Ini tarian eksotis yang mungkin tidak akan dilupakan keduanya.
Tiba-tiba, tubuh Changmin menggelinjang hebat.
Astaga.. ini sangat gila! Changmin bergetar.
Pria itu mengisinya.. dan meneriakkan namanya.
Mereka sampai di surga bersama-sama.
Tapi, benarkah ini surga?
Hangat. Satu kata itu melintas di pikiran Changmin.
….
….
….
Keduanya terdiam.
Tubuh mereka belum bergerak . Selimut itu masih menutupi apa yang harusnya ditutup. Yunho tahu ini salahnya. Dia yang punya rencana. Rencana menjitak si maknae. Tapi.. rencana itu ya rencana.
"mandilah.." ucap Changmin.
Yunho tersentak dari pikirannya. Dia sebenarnya terlalu takut menatap wajah Changmin. Bahkan tadi dia sempat berpikir Changmin akan meninjunya saat terjaga.
"kau saja duluan Min.." jawab Yunho hati-hati.
"…."
Ekspresi Changmin begitu datar. Yunho tidak bisa mengira-ngira isi kepala pria dihadapannya. Jangan-jangan Changmin sedang menyiapkan tenaga dalamnya. I'm dead! gumam Yunho dalam hati.
Changmin menarik napas.
"bagian itu.. rasanya sakit kalau aku bergerak.." ucap Changmin akhirnya.
Yunho menganga.
.
.
.
Kapok.
Changmin benar-benar kapok.
Sebelumnya dia ingin berterima kasih pada guru aktingnya. Setidaknya dengan ilmu yang didapatnya, dia bisa bertingkah baik-baik saja di depan artis SM lainnya dan baru mulai berjalan mengangkang saat tiba di kamar apartemennya.
Dia mengakuinya. Semua terasa hebat malam itu. Tapi tidak keesokan harinya. Yunho sih enak. Lelaki sialan itu bisa cengar-cengir seperti biasa. Crap.
Kalau dipikir ulang, ini sangat tidak masuk akal. Sampai saat ini Changmin masih enggan percaya kalau dirinya terjebak one night stand seperti itu.
Di Paris. Bersama Yunho pula. Seperti sinetron saja.
Dan yang membuatnya tambah kesal adalah Yunho is the first!
God! Dia perjaka sebelum kejadian malam itu.
Sekalinya direnggut, malah sama lelaki. Dibawah pula. Rasanya ingin menangis dibawah shower. Untung ciuman malam itu bukan yang pertama. Hahhh… tidak ada lain kali. Itu yang terakhir. Anggap saja pengalaman. It just because alcohol, that's it!
.
.
.
Aku pasti sudah gila.
Malam itu, Changmin tampaknya sudah mabuk. Tapi aku? Aku baru minum seperempat gelas wine! I'm compeletely fine at that time.
Bagaimana ini? Kemarin saja selama di pesawat aku tak berani menatapnya lama-lama. Takut. Takut kalau matanya mengeluarkan sinar laser dan membakar retinaku. Arghhhhh… tapi aku juga sedikit jahat sih. Diam-diam aku berusaha menahan tawa ketika melihatnya berjengit saat mengubah posisi duduk dan berjalan agak mengangkang. Bodoh sekali. Menertawakan Changmin. Padahal kan, aku penyebabnya. Walaupun aku merasa sangat bersalah, tapi kaget juga melihat Changmin yang tidak bereaksi apa-apa.
Cukup itu yang terakhir. Anggap saja pengalaman.
Aku harus minta maaf pada Changmin!
Harus.
Tapi tunggu dulu.. kalau dipikir-pikir, kok dia tidak marah ya?
.
.
.
Tbc.
Hm, miann.. adegan NC-nya nggak heboh. Aku ingin membuatnya seperti sebuah pergulatan emosional antara duo Homin kita. *bow**they don't feel some love at that time*
I hope this story not be deleted again..
Readers tolong review-nya yaaahhh *kedip-kedip*
Terus terang aku belum tau Falling to You ini bakal mengarah kemana. Jadi.. we'll see aja kedepannya gimana ^^
p.s: thanks for reviews in chapter 1
xoxo
