Arc I: MPLS


Chapter 2: The Ten Grace of God


~Opening Song: Blue Bird by Ikimono Gakari~

"Jadi mereka …." Gumam Naruto setelah Shizune memberitahukan bahwa yang datang adalah para murid terkuat.

Hawa semakin berat ketika mereka melangkahkan kaki ke dalam bangunan ini, menuju Naruto. Ia telah melihat seluruh profil dari The Ten Grace of God saat perjalannya ke sini bersama Shizune. Wanita itu menyuruh untuk mengetahui calon rekan-rekannya sebelum bertemu langsung.

Naruto telah mengingat semua statistik The Ten Grace of God, karena baginya ini sangat penting. Iris matanya melihat kepada siluet wanita di ujung sebelah kiri. Perlahan tapi pasti sosok mereka mulai terlihat. Mereka adalah,

Katerea Leviathan dari kelas 2-B,

Kursi ke-10 dari jajaran 10 Anugerah Tuhan,

Menyandang julukan anugerah Elegance karena penampilannya yang selalu elegan,

Memiliki kapasitas Mana 2100,

Ketua dari guild Valkyrie,

Orang yang memiliki harga kepala 300.000.000

.

Shalba Beelzebub dari kelas 2-B,

Kursi ke-9 dari jajaran 10 Anugerah Tuhan,

Menyandang julukan anugerah Quiet karena kepribadiannya yang selalu tenang dalam menghadapi musuh,

Memiliki kapasitas Mana 1950,

Ketua dari guild Red Rose,

Orang yang memiliki harga kepala 309.000.000

.

Senju Tobirama dari kelas 2-C,

Kursi ke-8 dari jajaran 10 Anugerah Tuhan,

Menyandang julukan anugerah Firmness karena ia adalah ketua guild paling tegas,

Memiliki kapasitas Mana 2500,

Ketua dari guild FATE,

Orang yang memiliki harga kepala 315.000.000

.

Vali Lucifer dari kelas 2-A,

Kursi ke-6 dari jajaran 10 Anugerah Tuhan,

Menyandang julukan anugerah Miracle karena ia adalah satu-satunya murid dalam The Ten Grace of God yang berhasil bergabung dengan Magical Beast kelas Heavenly,

Memiliki kapasitas Mana 5705,

Ketua dari guild Heaven Sword,

Orang yang memiliki harga kepala 400.000.000

.

Cao Cao dari kelas 3-E,

Kursi ke-5 dari jajaran 10 Anugerah Tuhan,

Menyandang julukan anugerah Genius karena kehebatannya dalam membuat strategi pertempuran,

Memiliki kapasitas Mana 2800,

Ketua dari guild Royal Knight,

Orang yang memiliki harga kepala 440.000.000

.

Serafall Sitri dari kelas 3-A,

Kursi ke-4 dari jajaran 10 Anugerah Tuhan,

Menyandang julukan anugerah Honesty karena ia tidak pernah berbuat kesalahan dalam menjalankan kepemimpinannya di guild,

Memiliki kapasitas Mana 3010,

Ketua dari guild ENVY,

Orang yang memiliki harga kepala 555.000.000

.

Uzumaki Nagato dari kelas 3-C,

Kursi ke-3 dari jajaran 10 Anugerah Tuhan,

Menyandang julukan anugerah Loyalty karena kontribusinya untuk sekolah lebih besar dari pada guild lain,

Memiliki kapasitas Mana 4000,

Ketua dari guild Akatsuki,

Orang yang memiliki harga kepala 615.000.000

.

Gabriel dari kelas 2-B,

Kursi ke-2 dari jajaran 10 Anugerah Tuhan,

Menyandang julukan anugerah Beauty karena ia adalah orang paling cantik di sekolah,

Memiliki kapasitas Mana 3115,

Ketua dari guild PRIDE,

Orang yang memiliki harga kepala 720.000.000

.

Orang terakhir, murid yang berada di sisi paling kanan, ia memiliki wajah rupawan dengan rambut merah darah,

Sirzechs Gremory dari kelas 3-A,

Kursi ke-1 dari jajaran 10 Anugerah Tuhan,

Menyandang julukan anugerah Mighty karena ia adalah murid terkuat di sekolah ini,

Memiliki kapasitas Mana 3200,

Ketua dari guild Kings,

Orang yang memiliki harga kepala 860.000.000

Shizune berdiri setelah membereskan dokumennya, Naruto yang melihat itu ikut berdiri. Shizune kemudian membungkuk hormat lalu menyambut kedatangan mereka.

"Selamat datang kembali di sekolah. Kuharap kalian menikmati liburan yang telah diberikan."

Tidak ada yang membalas ucapan Shizune kecuali gadis yang memiliki rambut hitam dikepang dua, Serafall.

"Ya, liburannya sangat menyenangkan." Seru Serafall kegirangan dengan tingkah laku seperti anak kecil.

"Jadi, berita yang mengatakan bahwa Riser dikalahkan oleh anak baru itu benar?" tanya Vali sambil menyeringai lebar, mengalihkan pandangannya pada Naruto. "Apa kau orangnya?"

"Benar. Seperti yang kukatakan kemarin malam, murid baru bernama Namikaze Naruto telah menantang Riser dalam Battle of Honor dan memenangkannya sehingga otomatis ia menduduki kursi ketujuh." Jawab Shizune sambil menunjuk Naruto.

Vali melangkah mendekati Naruto. Seringainya kian melebar dan mendekatkan wajahnya pada wajah Naruto. Remaja pirang itu agak risih oleh tingkah laku Vali lalu memutuskan mundur satu langkah.

"Bertarunglah denganku dalam Battle of Honor! Jika kau menang maka kau berhak menduduki peringkatku!"

"T-tidak, terima kasih." Naruto menolak tawaran senpai berambut perak di depannya sambil mengibaskan tangan.

Vali mendecih kemudian mendesak Naruto lagi. Meskipun remaja pirang itu telah menolak beberapa kali tapi Vali tetap kukuh dengan niatnya yang ingin bertarung dengan orang yang telah mengalahkan si manusia abadi itu. Ia haus akan pertarungan setelah lama tidak meregangkan ototnya.

Shizune diam, ia tak bisa menghentikan aksi Vali. Wanita itu hanya bisa berharap seseorang akan menghentikan Vali, lebih bagus jika orang itu memiliki peringkat di atas dirinya.

"Sampai di sini saja menyapa murid barunya, Va-tan!"

Suara childish namun mengandung ketegasan sukses membuat Vali berhenti lalu menatap orang yang lebih pendek darinya, Serafall.

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Sudah berapa kali aku bilang kau tidak paham juga!" Vali membentak Serafall sambil mengacungkan jari telunjuknya ke kepala gadis itu.

"Mou, Va-tan tidak imut!"

"Terserah!"

Perdebatan antara kedua orang beda gender itu terus berlanjut sampai Serafall mengancam untuk membekukkan tubuh Vali. Barulah pemuda maniak bertarung itu diam dan membuang muka. Serafall mendekati Naruto.

"Selamat karena telah menjadi bagian dari The Ten Grace of God di tahun pertamamu. Naru-tan adalah orang pertama yang menduduki peringkat tinggi sebelum seleksi akhir tahun dimulai, bahkan sebelum MPLS." Kata Serafall sambil menyodorkan tangan kanannya.

Naruto menjabat tangan Serafall, "Terima kasih, Senpai."

Melihat suasana yang sudah kondusif maka tugas Shizune selesai sampai di sini. "Kalau begitu sisanya aku serahkan kepada kalian. Aku pamit undur diri."

Sekarang di ruangan super megah ini hanya ada 10 orang. Naruto tentu saja masih canggung dan enggan memulai pembicaraan karena khawatir bila salah kata, bisa-bisa ia dihabisi oleh mereka. Naruto sadar bahwa sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga bangsawan tinggi yang memiliki konstribusi besar terhadap negara.

Jika mengingat semua itu Naruto merasa dirinya bagaikan rusa di tengah kerumunan singa. Mungkin hanya Serafall saja yang cukup nyaman untuk diajak bicara. Nanti dia akan mencobanya.

"Namikaze Naruto-kun,"

"H-ha'i!"

Remaja pirang itu gugup karena yang memanggilnya adalah si pemilik kursi pertama.

"Ikuti kami."

Tanpa sepatah kata lagi Naruto mengangguk lalu mulai berjalan bersama mereka menuju lantai atas tempat berdiamnya para The Ten Grace of God. Desain interior lantai pertama saja sudah bagus seperti itu apalagi lantai paling atas? Naruto tak akan bisa membayangkan kemegahannya. Mereka memakai lift untuk sampai ke puncak dengan cepat.

Laju lift berhenti, pintu otomatis terbuka. Naruto belum bisa melihat bagaimana suasana ruangan karena terhalang oleh badan para senior–Naruto berdiri paling belakang–yang tegap, setelah satu per satu mereka keluar dari lift barulah sepasang mata biru langit itu dapat menangkap keindahan dari interior ruangan ini.

"Menakjubkan!" Naruto tak mampu menyembunyikan rasa takjubnya, hal itu membuat beberapa senior yang memiliki kepribadian santai tersenyum tipis.

"Cepat keluar dari sana atau kau akan kembali ke bawah lagi!" laki-laki yang memiliki rambut merah gaya emo itu memperingati Naruto agar jangan berlama-lama di dalam lift ketika pintu sudah dibuka.

Naruto tersentak lalu buru-buru keluar sebelum pintu otomatis itu menutup sepenuhnya.

"Terima kasih Nagato-senpai, kalau tidak diingatkan mungkin aku akan berbuat hal yang memalukkan."

"Hn, wajahmu yang kagum itu terlihat memalukkan." Vali mengejek sambil menggerakkan jempolnya ke bawah.

Naruto mendecih dalam hati. Jika saja Vali bukan dari keluarga bangsawan dan seniornya maka ia juga ingin membalas ejekan itu. Namun, untuk saat ini ia tidak bisa.

Ruangan di lantai paling atas memiliki desain interior layaknya ruangan para raja pada abad pertengahan dengan 10 kursi megah yang mengitari meja bundar. Di tembok belakang kursi itu masing-masing telah terpajang bendera dengan logo berbeda. Ada bendera dengan logo kepala singa, awan merah, dan masih banyak lagi.

Satu per satu dari mereka menduduki kursi sesuai nomor yang ada di sana. Kuris nomor satu diduduki oleh Sirzech, kursi nomor dua diduduki oleh Gabriel, terus berurutan sesuai peringkat.

"Sekarang kita sudah berkumpul. Sesuai dengan yang dikatakan Shizune-san, aku akan menjelaskan lebih rinci tentang guild. Khususnya untukmu, Naruto-kun." Ucap Sirzechs sambil menatap Naruto.

"Baiklah."

"Dengarkan aku baik-baik," Sirzechs mengambil nafas pelan lalu melanjutkan perkataannya, "aku akan melewati penjelasan tentang tujuan guild karena pasti sudah dibahas oleh Shizune-san,"

Naruto mengangguk.

"Kalau begitu langsung saja ke intinya tentang hubungan guild dengan MPLS. Besok seluruh murid baru akan melaksanakan MPLS selama 1 minggu yang terdiri dari 3 tahap, yaitu bertahan hidup, turnamen, dan pemilihan,"

Semua diam mendengarkan, hanya satu orang saja yang tidak memperhatikan perkataan Sirzechs dan memilih untuk berkutat dengan buku yang dipegangnya–sedari awal dia memang tidak mempedulikan keadaan sekitarnya–dengan serius. Ia adalah gadis pemilik rambut pirang, Gabriel.

"Bertahan hidup?" tanya Naruto.

Sirzechs mengangguk. "Benar. Semua murid akan diuji di Forest of Death untuk melihat ketangkasan mereka dalam menghadapi lingkungan. Murid-murid yang berhasil bertahan akan lanjut ke tahap turnamen, yaitu tahap menguji seberapa kuat mereka dengan melawan murid lain. Terakhir kita akan melakukan perekrutan sebagai ketua guild."

Dari perkataan Sirzechs, Naruto mengetahui satu hal, "Jadi MPLS bukan hanya bertujuan untuk memperkenalkan sekolah pada murid, tapi untuk mengukur kekuatan para murid dan memilih mereka untuk bergabung ke dalam guild, bukan begitu?"

Laki-laki berambut merah itu tersenyum tipis. "Kau cepat mengerti perkataanku. Itu benar, selama mereka menjalankan MPLS, kita dari balik layar akan mengawasi dan mengukur kekuatan mereka. Jika mumpuni maka kita akan merekrut."

"Bagaimana dengan sistem perekrutannya?"

"Sederhana. Saat hari perekrutan, kita semua akan menghadap para murid baru. Satu per satu mereka akan maju ke depan dan jika kita tertarik maka kita akan mengacungkan tangan. Murid baru yang mendapatkan perhatian lebih dari satu orang maka mereka berhak memilih ingin bergabung ke guild mana, jika hanya satu orang yang tertarik maka secara otomatis murid baru itu akan bergabung dengan guild itu."

Sederhana, Naruto dapat memahaminya dengan cepat. Singkatnya murid baru mendapatkan hak untuk memilih.

Naruto teringat pada Coriana yang sudah kelas 3 namun masih menjadi budak. Ia menatap Sirzechs dan mendapatkan balasan berupa senyuman, seakan mempersilahkan Naruto untuk bertanya lagi.

"Bagaimana dengan mereka yang tidak mendapatkan guild dan apakah kakak kelas bisa mengikuti perekrutan ini?"

"Kau sudah mengetahui tentang sistem budak, 'kan?"

Naruto mengangguk.

"Simpel, mereka yang tidak terpilih berpotensi besar menjadi budak karena tidak bisa menaikkan harga kepala mereka. Tentu saja murid yang tergabung dalam guild dapat mengajukan duel untuk memperebutkan harga kepala. Jika seseorang kehabisan harga kepala maka mereka akan menjadi budak,"

"Lalu?"

"Untuk pertanyaan berikutnya, murid kelas dua dan tiga yang tidak memiliki guild atau berstatus sebagai budak dapat mengikuti perekrutan setelah kelas 1. Tentu peraturannya berbeda. Mereka akan bertarung satu sama lain untuk menarik perhatian kita."

'Aku mengerti. Coriana-senpai pasti akan mengikuti perekrutan itu.'

"Oh satu lagi,"

"Apa?"

"Kau harus membuat logo untuk guild-mu sendiri. Batasnya sampai matahari terbenam dan serahkan logo itu pada Shizune-san agar dia bisa membuat bendera seperti di atas."

"Aku mengerti Senpai."

"Ada yang mau ditanyakan lagi?"

"Iya. Apakah aku akan ikut serta dalam MPLS? Mengingat sekarang aku telah menjadi The Ten Grace of God."

Shalba yang sejak tadi diam menarik sudut bibirnya sedikit. "Tentu saja. Peraturan tetap peraturan. Kau akan mengikuti MPLS. Justru lebih baik terjun langsung ke lapangan untuk mengamati para murid baru itu. Bukankah kau yang paling diuntungkan di sini?"

Apa yang dikatakan Shalba benar. Jika ia terjun langsung ke lapangan ia dapat mengamati kekuatan para rekannya lebih jelas dan mendapat data yang lebih akurat. Namun sayangnya Naruto kurang tertarik merekrut orang-orang kuat.

Remaja pirang itu juga bertaruh jika ada murid baru yang satu keluarga dengan The Ten Sacred of God secara otomatis mereka akan masuk ke dalam guild tanpa bersusah payah.

"Sampai saat ini semua telah kumengerti Sirzechs-senpai, terima kasih banyak atas penjelasannya." Naruto merendahkan kepala.

"Tidak apa-apa, ini juga demi kebaikan kami. Aku tidak ingin direpotkan oleh orang yang tidak tahu apa-apa. Untuk rincian selanjutnya tentang tugasmu sebagai bagian dari The Ten Grace of God akan kujelaskan setelah MPLS selesai. Sekarang kau hanya fokus pada pembentukkan guild."

"Baiklah."

"Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi maka rapat ini kunyatakan selesai!"


Bersama Vali dan Tobirama yang sedang berjalan menyusuri lorong minim cahaya. Mereka berjalan dengan gaya masing-masing–Vali yang memasukkan tangannya ke saku celana sedangkan Tobirama melipatkan tangannya di depan dada–dan tidak banyak bicara.

"Bagaimana pendapatmu tentang si murid baru Namikaze Naruto itu?" tanya Vali.

Tobirama melirik Vali melalui ekor matanya. "Maksudmu?"

"Aku tanya apakah si Naruto itu memiliki potensi, menurutmu?"

Laki-laki yang memiliki warna rambut sama seperti Vali itu tidak langsung menjawab, ia berpikir. Sejak pertama kali bertemu Tobirama selalu mengamati Naruto baik nada bicaranya maupun tingkah lakunya. Sekilas Naruto seperti murid pada umumnya yang tidak memiliki aura pemimpin. Namun ia menyadari satu hal.

"Dia memiliki potensi." Jawab Tobirama.

Vali seketika tertawa terbahak-bahak. "Gahahah, pengecut seperti dia? Mana mungkin!"

"Kau meremehkan analisisku?" Tobirama sedikit tersinggung.

"Gahaha, maaf. Aku sama sekali tidak meragukan kemampuan menganalisismu terlebih kau memiliki salah satu dari enam kekuatan Panca Indera."

Seperti kata Vali, Tobirama memiliki kekuatan indera keenam, Indera Batin yang membuatnya dapat menganalisis segala potensi dalam diri seseorang dengan cara melihatnya. Kekuatan ini sangat berguna untuk perekrutan guild.

Bukan hanya itu saja, Tobirama dapat membandingkan kekuatan musuh dengan dirinya melalui analisis potensi sehingga ia dapat menyusun rencana lebih matang. Kekuatan itu cocok dengan sifatnya yang tegas dan penuh perhitungan.

"Aku berharap kali ini analisismu salah karena dari yang kutangkap bocah itu tidak memiliki potensi apapun." Vali tetap kukuh dengan pemikirannya.

"Berbicaralah sesukamu. Aku hanya dapat mengatakan … anak baru itu memiliki potensi yang tertidur dalam dirinya."


Naruto berjalan pelan menyusuri jalan setapak menuju asrama barunya–tadinya Naruto sudah memiliki asrama umum tapi karena ia sekarang telah menjadi The Ten Grace of God maka Naruto dipindahkan ke asrama khusus untuk pemegang kursi–yang terletak tidak jauh dari gedung tempat rapat tadi.

Remaja pirang itu telah diberi tahu oleh Katerea untuk pindah asrama sebagai bentuk menjalankan prosedur yang berlaku. Tidak rugi juga pindah ke asrama yang lebih mewah, tapi ia harus berjalan dari bawah ke atas dengan koper-koper beratnya.

Kaki terus melangkah sedangkan pikiran tidak fokus ke jalan. Ada yang mengganjal di pikirannya tentang sistem di sekolah ini, khususnya budak. Jika Naruto tidak salah menebak, kemungkinan alasan Azazel menciptakan sistem budak karena untuk menekan murid agar lebih giat belajar dan berlatih.

Ini seperti Azazel sengaja menciptakan suatu objek yang tidak mau dialami murid sekaligus menanamkan pikiran 'giat belajar' pada murid. Sampailah Naruto pada analisis akhir bahwa sekolah ini menerapkan sistem 90 persen produk jadi dan 10 persen sisanya hanyalah limbah.

"Jadi begitu, mengorbankan 10 persen siswanya untuk mendapatkan 90 persen siswa dengan lulusan terbaik. Pantas saja sekolah ini menjadi sekolah sihir terbaik di Jepang. Meskipun terbaik nyatanya sekolah ini juga memiliki sisi kelam." Gumam Naruto.

Setelah sampai di asrama barunya, Naruto mencari kamar nomor 7 dan memutuskan untuk istriharat lebih dulu sebelum mulai membuat logo untuk guild. Bangunan asrama ini mirip seperti mansion lengkap dengan para maid.


"Bagaimana perkembangannya?"

Azazel yang sedang menatap ke luar jendela bertanya pada wanita yang berada di belakangnya, Shizune.

"Berjalan dengan lancar. Naruto-kun menuruti semua perintahku dengan baik meskipun ia tidak menunjukkan ketertarikannya."

"Begitukah? Untuk saat ini biarkan saja. Aku yakin cepat atau lambat dia akan tertarik mengincar posisi paling atas," sepintas Azazel mengingat pertarungan kemarin.

"Baru kali ini ada seorang siswa yang membuatku kaget sekaligus takjub sejak satu tahun yang lalu. Dulu aku takjub dengan Vali yang menguasai Magical Beast, sekarang Naruto dengan pengendalian Mana yang sempurna." Azazel tersenyum senang.

Shizune mengangguk tanda ia juga sependapat dengan perkataan atasannya.

Pengendalian Mana memiliki tiga tingkatan,

Level 1, pengguna harus merapal mantra dan menciptakan lingkaran sihir untuk mengeluarkan tekniknya.

Level 2,pengguna tidak harus merapal mantra dan cukup menciptakan lingkaran sihir untuk mengeluarkan tekniknya.

Level 3,pengguna tidak perlu merapal mantra dan menciptakan lingkaran sihir. Penyihir yang memiliki pengendalian Mana level 3 bisa membuat seluruh tubuhnya terlapisi oleh elemen yang dikuasai. Contohnya adalah Naruto, ia bisa memanipulasi dan mengendalikan elemen emasnya sesuka hati tanpa perlu merapal mantra dan menciptakan lingkaran sihir.

"Bagaimana dengan para murid baru? Apakah kau sudah mendapatkan data murid yang berpotensi menjadi generasi The Ten Grace of God selanjutnya?" Azazel kembali bertanya.

"Aku sudah memiliki data beberapa siswa. Kebanyakan dari keluarga bangsawan kelas atas. Aku yakin mereka akan masuk guild dengan mudah karena ada orang dalam."

"Itu sudah lumrah. Sebutkan marga mereka!"

"Gremory, Uchiha, Ootsutsuki, Bael, Hyuuga, dan Sitri."

"Sama seperti tahun-tahun sebelumnya," Azazel menghela nafas, "aku harap akan ada orang di luar keturunan bangsawan yang dapat mengguncangkan sekolah ini. Akan menarik jika The Ten Sacred of God tidak selalu didominasi oleh kalangan bangsawan seperti Cao Cao."

"Lalu apa yang akan anda lakukan?" tanya Shizune.

"Untuk saat ini aku akan mengawasi dulu dan fokus pada Namikaze Naruto. Shizune-san, bantu aku mengawasi murid berpotensi lainnya."

"Akan saya laksanakan."

Azazel menatap serius langit biru tanpa awan di atas. "Bagaimanapun caranya aku harus segera menghilangkan trauma Naruto-kun."


"Akhirnya selesai juga!"

Naruto meregangkan otot-ototnya yang pegal setelah berjibaku dengan komputer selama lebih dari 7 jam hanya untuk membuat logo guild. Kenapa sampai selama itu? Karena ia juga ingin membuat logo yang bagus dan tidak terkesan seperti orang malas. Remaja pirang itu juga harus memperhatikan ketelitian logonya. Oleh sebab itu pengerjaannya lama.

Tidak terasa hari sudah sore, matahari sebentar lagi akan tenggelam. Naruto menatap ke luar jendela menuju pemandangan bangunan-bangunan di bawah, orang-orang terlihat berlalu lalang. Ada yang sendiri ada juga yang berkelompok.

Naruto tidak menyangka akan menjadi The Ten Grace of God dan mendapatkan kemewahan secepat ini dari murid baru lainnya. Ia tidak tahu harus senang atau sedih. Senang karena dengan kursi ke tujuhnya sekarang ia tidak perlu susah payah mengincar posisi puncak lagi karena secara otomatis Naruto akan menduduki kursi pertama saat kelas 3 nanti.

Jika melihat dari kelulusan maka tahun depan Vali menduduki posisi pertama sedangkan ia di kursi kedua, dan tahun berikutnya ia akan duduk di posisi pertama.

Untuk perasaan sedihnya mungkin ia tidak bisa mengenal banyak murid baru dan tentu saja tidak mendapatkan feel seperti apa sih memiliki teman sekamar.

"Yang terjadi biarlah terjadi. Ini adalah takdirku. Selanjutnya aku tinggal melaksanakan tugasku sebagai murid dengan baik dan menghindari pertarungan yang tidak perlu." Naruto meneguhkan niatnya.

Menurut informasi yang dikirimkan Shizune beberapa jam lalu via email, total jumlah murid baru termasuk dirinya adalah 150 orang. Satu kelas terdiri dari 30 orang itu berarti sekolah ini memiliki kelas dari A sampai E. Begitu juga dengan kelas 2 dan 3. Jika ditotal maka seluruh murid di sekolah ini berjumlah 450 orang.

Guild hanya ada 10, maka maksimal anggota yang bisa ditampung oleh guild adalah 45 orang termasuk ketua.

"Shizune-san mengatakan tidak ada guild yang memiliki anggota penuh. Bahkan guild Akatsuki yang merupakan guild terbaik hanya beranggotakan belasan orang. Itu berarti kemungkinan besar jumlah budak banyak. Hmm, apa yang harus aku lakukan?" pikir Naruto.


Beralih tempat ke perpustakaan.

Perpustakaan Donquixote Academy memiliki bangunan yang luas dengan 10 lantai. Perpustakaan ini juga merupakan perpustakaan sihir terbesar dan terlengkap di Jepang. Sayangnya perpustakaan ini bukan untuk umum jadi hanya warga sekolah saja yang boleh datang ke sini.

Sekolah sihir lain juga bisa berkunjung ke sini setelah mendapatkan izin dari Azazel. Tentunya dengan imbalan yang sebanding.

Wanita yang memiliki postur tidak telalu tinggi terlihat berkutat dengan bukunya. Dia adalah Gabriel. Seperti biasa Gabriel selalu menghabiskan waktu luang di perpustakaan dengan membaca buku.

Wanita yang berdiri di sampingnya sekaligus bertugas menjadi penjaga perpustakaan menghela nafas singkat. Sudah lebih dari 7 jam Gabriel di sini, parahnya ia belum makan atau minum barang sedikit pun. Meskipun begitu ia tidak perlu khawatir pada ketuanya.

"Ano … Gabriel-sama, bagaimana dengan murid baru itu?" tanya wanita itu penasaran.

Gabriel mendongkakkan kepala, "Murid baru siapa?"

Wanita itu kembali menghela nafas. "Murid baru yang menjadi The Ten Grace of God."

Gabriel menaikkan sebelah alisnya, berpikir. "Memang aku pernah bertemu dengannya?"

"Bukankah Gabriel-sama mengikuti rapat tadi? Tentu saja Gabriel-sama pasti akan bertemu dengannya. Tunggu dulu, jangan bilang-"

Gabriel cengengesan. "Maaf Samui, aku tidak memperhatikan sekitarku karena sibuk membaca buku sihir ini."

"Sudah kuduga."

"Coba lihat, Samui! Buku ini sangat hebat sampai menjelaskan sihir elemen cahaya dengan detail. Aku tidak sabar membacanya sampai beres lalu membuat teknik baru!"

Mata Gabriel terlihat berbinar, menunjukkan ketertarikannya. Kalau begini pertanyaan Samui otomatis sia-sia. Satu hal yang Samui sadari adalah secantik-cantiknya seorang wanita, jika sudah dihadapi dengan hal yang menjadi kesukaannya maka sifatnya akan berubah, bahasa kerennya out of character.

Lihat saja, Gabriel yang selalu tampil cantik dan menggoda di acara-acara formal jika sudah dihadapkan dengan buku maka sifatnya sama seperti kutu buku.

"Jadi, apa yang Gabriel-sama tahu dari rapat tadi?"

"Tidak ada satu pun,"

"Huh?"

"Aku tidak tahu apa-apa dan tidak mendengar apa-apa. Aku hanya mengikuti hawa keberadaan yang lain, jika mereka bergerak maka aku juga akan bergerak."

"Hah … dasar maniak buku!" batin Samui.

Detik berikutnya Grabiel melirik Samui dengan tajam. "Memang kenapa kalau aku maniak buku?"

Wajah Samui membiru kala ia merasakan tekanan hawa yang memaksa kesadarannya untuk hilang. Dalam hati ia merutuki diri sendiri karena lupa akan sesuatu paling penting.

"Sial aku keceplosan! Aku lupa kalau Gabriel-sama memiliki kekuatan Indera Batin yang membuatnya bisa membaca pikiran orang lain."

"Itu tidak bisa menjadi alasan untuk lolos dari kemarahanku, Samui." Grabiel berkata dengan nada datar.

"A-ampuni aku Gabriel-sama."

Selanjutnya Samui dihukum dengan cukup berat, hukuman yang hanya boleh diketahui oleh perempuan.


Hari berikutnya, seluruh murid baru berkumpul di aula besar. Aula ini terlihat masih kosong karena jam berkumpul masih lama, hanya ada satu orang yang suah duduk di kuris paling depan, ia adalah Naruto.

"Hoam," Naruto menguap dengan air yang hendak jatuh dari ujung matanya. Ia terlihat masih ngantuk tapi tidak bisa ditidurkan. Jadinya Naruto memutuskan untuk datang ke aula.

"Ah sepi sekali, aku orang pertama yang datang rupanya."

15 menit kemudian barulah satu per satu murid berdatangan, duduk di kursi lalu berbincang dengan teman mereka. Naruto tidak berniat untuk bergabung dengan salah satu kerumunan mereka. Baginya itu hal yang percuma karena setelah MPLS selesai, kemungkinan besar mereka akan berpisah.

Lagi pula menurut pengamatan Naruto, mereka berteman sesuai derajat social masing-masing. Ia sudah mengerti betul bagaimana tingkah laku para bangsawan dan manusia biasa. Jadi Naruto memutuskan untuk diam di tempatnya sambil menutup mata sampai pengumuman dimulai. Namun, rencana memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan.

"Hey kau!"

Naruto membuka mata lalu melirik seseorang–gadis berambut panjang dengan warna merah darah–melalui ekor mata. "Aku?"

"Iya, siapa lagi kalau bukan kau, pirang!" nada gadis itu terkesan sombong.

"Ada apa?" Naruto berusaha setenang mungkin, dan dingin.

"Namamu?"

"Huh?"

"Aku tanya namamu!"

"Namaku Namikaze Naruto, salam kenal."

"Namikaze? Aku tidak tahu nama itu berasal dari mana. Apa kau dari keluarga bangsawan?"

Naruto menggeleng pelan.

Gadis itu tersenyum, memandang remeh Naruto. "Kalau begitu cepat berdiri dan pergi dari sini. Kau telah lancang menduduki kursi khusus keluarga bangsawan."

Naruto menaikkan sebelah alisnya, ia kembali memperhatikan sekitarnya. "Bukankah semua kursi ini sama? Tidak ada yang khusus."

Seketika raut wajah gadis itu berubah marah setelah mendengar perkataan Naruto yang terlampau 'polos'. Apa ia tidak mengerti maksud perkatannya selama ini? Jika iya maka dia harus berkata secara langsung.

"Coba lihat siapa saja yang duduk di jajaranmu!"

Sesuai perkataannya, Naruto melihat orang-orang yang duduk sejajar dengannya. "Oh, jadi ini maksud dia menghampiriku? Kemungkinan besar mereka berasal dari keluarga bangsawan sama sepertinya. Aku tahu dari tingkah laku mereka yang berbanding terbalik dengan orang-orang berisik di belakang. Baiklah, aku akan sedikit mempermainkannya."

"Murid baru sama sepertiku, 'kan?"

"Ghh!" oke, gadis itu mulai kehilangan kesabaran, ia menunjuk muka Naruto dan mulai berbicara dengan keras, "Dengar ya dasar orang kampung! Kursi paling depan hanya diperuntukkan keluarga bangsawan, bukan keluarga tidak jelas sepertimu!"

"Benarkah? Aku tidak pernah membaca peraturan seperti itu." Naruto terus memanasi gadis yang mukanya sudah memerah menahan amarah itu.

"Ck!" dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mungkin memang harus dengan perkataan langsung, bukan tersirat. "Aku tidak peduli apa yang kau katakan, yang aku mau adalah kau segera pergi dari sini. Orang sepertimu harus sadar posisimu berada di mana!"

"Ya. Aku telah mengetahui itu sejak lama." Balas Naruto dalam hati.

Naruto menguap lebar lalu memutuskan untuk meninggalkan kursi itu menuju kursi paling belakang. Ia heran dengan kebisingan yang tiba-tiba berhenti dan setelah dilihat, dirinya telah menjadi pusat perhatian.

"Merepotkan."

Beberapa keturunan bangsawan bergumam. Gumaman mereka cenderung menghina Naruto.

"Dasar orang kampung tidak tahu sopan santun."

"Dia tidak akan bertahan di sekolah ini jika membuat masalah dengan keluarga bangsawan."

"Sangat menyedihkan."

"Keh, orang yang menarik." Ini satu-satunya gumaman yang tidak menghina Naruto.

Naruto duduk di kursi belakang sekaligus paling ujung. Ia tidak memperdulikan keadaan sekitarnya dan memilih untuk bersantai sambil menutup mata. Beberapa menit kemudian mulai terdengar pembicaraan lagi, terus berlanjut sampai suasana kembali seperti semula.

10 menit kemudian, para guru telah berdiri di atas panggung, hendak menyampaikan pengumuman. Semua murid diam seketika, mendengarkan baik-baik apa yang akan dikatakan guru itu.

"Pertama-tama, perkenalkan, namaku Hatake Kakashi," laki-laki berambut putih itu menatap murid dari ujung ke ujung dan kembali berkata, "aku akan menjelaskan tahapan MPLS beserta peraturannya,"

Selanjutnya Kakashi memberitahukan hal yang sama seperti apa yang dikatakan Sirzechs. Tentang bertahan hidup sampai perekrutan. Sampailah pada penjelasan tentang peraturan pada tahap bertahan hidup di Forest of Death.

"Kalian akan bertahan hidup selama 3 hari di sana. Tujuan kalian adalah mencapai menara yang berada di tengah-tengah Forest of Death. Kalian akan dikatakan lulus jika sampai di sana dengan membawa sepasang gulungan Yin-Yang. Ingat, batas kalian hanya 3 hari, lewat dari itu maka kalian gagal."

Para murid mengangguk mengerti. Namun, ada beberapa orang yang terlihat gemetar ketakutan.

"Kalian akan memasuki Forest of Death melewati gerbang yang berbeda-beda sesuai nomor antri yang akan didapatkan. Kalian akan membentuk tim berjumlahkan 3 orang, jadi seluruhnya ada 50 tim. Dilarang keras untuk membunuh dan meninggalkan teman setim di belakang. Kalian harus tiba di menara dengan tim yang utuh atau tidak akan lulus."

"Untuk pembagian timnya akan diundi dengan angka. Lihat di depan, kotak itu berisikan nomor urut 1 sampai 50 dan terdiri dari 3 buah. Misalkan seseorang mendapatkan nomor 1 maka dia menjadi tim satu dan masuk melewati gerbang 1. Kalau kalian sudah mengerti silahkan mengambil nomor dimulai dari barisan paling depan sebelah kanan."

Dengan rapi para murid baru mengambil nomor mereka. Naruto sepertinya kebagian paling akhir dan harus menunggu cukup lama. Saat bagiannya ia hanya melihat satu kertas lagi, ia tidak bisa memilih, maka kertas itu adalah takdirnya.

Naruto membuka gulungan kertas itu dan melihat angka 7. Dia masuk dalam ke tim 7.

"Jika kalian sudah mengetahui tim masing-masing maka segera pergi menuju Forest of Death. Panitia di sana akan menjelaskan lebih rinci."

Satu per satu murid keluar–yang diawali oleh para keturunan bangsawan–Naruto memilih untuk keluar paling akhir dan menjaga jarak dari murid lainnya sampai tiba di Forest of Death.


"Mou! Kenapa satu orang lagi datangnya sangat lama!?" kesal seorang gadis berambut pirang panjang yang memegang sapu terbang.

Gadis di sampingnya menghela nafas. "Sabar Le Fay."

"Tapi waktu kita sebentar lagi! Aku tidak akan memaafkan dia jika sampai kita telat dan kalah, Kuisha."

Mereka lalu melihat Naruto yang berjalan mendekati mereka dengan santai tanpa perasaan berdosa sedikit pun. Hal itu membuat kedua gadis cantik mengembungkan pipi kesal.

"Oy kau yang membuat masalah di aula tadi! Jadi kau adalah orang terakhir dari tim 7?" tanya Le Fay dengan nada dingin.

"Begitulah."

"Kenapa kau sangat lama?"

"Aku tersesat di jalan bernama kehidupan."

Oke, jawaban ngawur Naruto malah membuat kedua gadis itu semakin emosi. Untung saja staf yang bertugas di gerbang 7 melerai mereka dan memberikan gulungan bertuliskan Yin. Itu artinya mereka perlu merebut gulungan Yang.

"MPLS tahap pertama akan diadakan 1 menit lagi. Persiapkan diri kalian!" kata staf itu tegas.

Menunggu satu menit kalau dirasakan memang lama, jadi Naruto berinisiatif untuk memperkenalkan diri. Lagi pula sejak mereka bertemu Naruto belum tahu nama teman setimnya.

"Namaku Namikaze Naruto."

"Kami sudah tahu." Jawab kompak Le Fay dan Kuisha.

"Huh? Tahu dari mana?"

"Bukannya di insiden aula tadi kau mengatakan namamu? Suaramu cukup besar untuk didengar semua orang.

"Sial, jadi mereka mengetahui semua ucapanku? Ck! Rencana untuk tidak mencolok malah paling awal dikenal."

"Aku belum tahu nama kalian,"

"Namaku Le Fay Pendragon."

"Aku Kuisha Abaddon."

"Waktu tinggal 30 detik," staf itu mulai membuka gerbangnya.

"Baiklah, tahap pertama MPLS dimulai!"

Mereka bertiga mulai berjalan memasuki Forest of Death dengan santai.

"Jangan menyusahkan kami, orang kampung."

"Aku akan menyalahkanmu jika kita sampai gagal di tahap pertama."

Naruto yang dikatakan seperti itu diam tidak peduli. Satu hal yang pasti, Naruto akan bertingkah seperti pengamat dan meminimalisir terjadinya pertarungan. Lagi pula ia tidak suka bertarung.

Satu langkah lagi mereka akan melewati gerbang.

Tap!

Trio murid berambut pirang telah memasuki Forest of Death!

Bersambung

~Ending Song: HYDRA by MITH & ROID~


AN: Bisa dibilang chapter ini hanyalah pengenalan tokoh selain Naruto. Banyak sekali yang berubah dari jajaran 10 peringkat teratas dari fic sebelumnya. Saya sudah memikirkan ini dengan matang.

Perlu diingat bahwa tidak selamanya orang terkuat memiliki Mana terbanyak. Kalian pasti tahu siapa gadis berambut merah itu.

Terima kasih untuk mereka yang memberi respon positif fic remake ini.

[16/07/2018]