Warning : Slash! OOC, Creature fic, Typo

Disclaimer : J.K ROWLING


Bittersweet Heartbeat

Ron masih mengejar Harry tapi ia sudah sangat tertinggal jauh. Tambahkan ke dalam catatannya, mengejar vampire adalah ide buruk bila kau tidak memiliki kecepatan yang sama. Ron melompati beberapa akar pohon yang cukup tinggi untuknya – dalam wujud weasel – dan dengan semangat serta sekuat tenaga menuju tempat Harry berada. Meskipun penciumannya terhadap darah tidak sepeka vampire, setidaknya ia masih mengenal bau Harry dan melacaknya.

'Oh, Harry! Kau benar-benar merepotkan!' batin Ron. Akhirnya ia sampai di tempat Harry berada dan segera mengubah wujudnya kembali menjadi seperti manusia. "Harry!" panggil Ron mendekat dan terhenti ketika melihat Harry sedang berlutut di samping seseorang dan memeluk tubuh orang tersebut.

"Ron..." kata Harry pelan sambil berbalik menatap sahabatnya. Ron masih diam dan perlahan mendekat. "Dia masih hidup... kita harus menolongnya!" kata Harry lagi. "Sirius benar! Mungkin dia korban dari Remus. Bantu aku Ron! Sebelum dia benar-benar mati!"

"Caranya!? Dan, Harry, dia adalah penyihir!"

"Lalu?"

"Aku tidak tahu cara menolong seorang penyihir. Bukankah mereka bisa menyembuhkan diri mereka sendiri?"

"Dengan kondisi seperti ini!? Bahkan aku saja tidak akan bisa sekuat itu. Sekarang bukan saatnya berdebat denganmu. Di dekat sini ada gua. Bantu aku membawanya. Dan pastikan aku tidak meng-gi-git-nya!" kata Harry penuh penekanan pada kata 'menggigitnya'.

Ron akhirnya sedikit mengerti bahwa sahabatnya kini sedang menahan napsu untuk menggigit penyihir tersebut. Akhirnya Ron membantu Harry membopong penyihir itu menuju gua yang ia tahu sebagai tempat mainnya dulu bersama Harry. Tak lupa sebelum pergi, Harry memungut sesuatu yang ada di dekat mereka. Sebuah tongkat yang ia yakini milik penyihir yang kini sedang sekarat dan berada di antara mereka.

Dengan sedikit tergesa-gesa dan hati-hati, mereka akhirnya sampai di gua yang Harry maksud. Mereka menyandarkan tubuh si penyihir ke dinding gua dengan amat perlahan. Harry menyibakan tudung jubah si penyihir dan ia melihat lagi bahwa pipi si penyihir juga terdapat goresan dan mengeluarkan darah. Wajahnya yang memiliki dagu runcing nampak menahan kesakitan yang amat sangat. Matanya terpejam erat dan keringat mulai keluar membasahi wajahnya tersebut. Rambut pirangnya cukup berantakan dan kotor karena tanah.

"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Ron cukup panik.

"Um... apa kau masih ingat cara membuat ramuan penahan rasa sakit? Cari bahan-bahannya dan bawa kemari. Memang ini tidak akan menyembuhkan lukanya tapi kurasa bisa membantu sedikit," kata Harry masih terpaku menatap wajah si penyihir. Lebih tepatnya menatap goresan di pipi si penyihir yang mengeluarkan darah. Harry menelan ludahnya sendiri. Bau semerbak darah yang keluar masih bisa mempengaruhi napsu dan instingnya.

"Kau yakin tidak akan apa-apa bila aku tinggal sendiri bersama penyihir ini?" tanya Ron khawatir.

"Akan aku usahakan... Pergilah! Cepat!" kata Harry setengah berteriak. Ron segera berubah menjadi weasel lagi dan mencari bahan-bahan yang Harry minta, sementara Harry kini duduk di samping si penyihir dengan gelisah. Napas si penyihir sudah sangat berat akibat banyaknya darah yang keluar seiring dengan nyawannya. Ia bahkan mulai muntah darah.

"He-hei! Be-bertahanlah! Kau bisa mendengarku!?" ucap Harry panik. Si penyihir membuka sedikit matanya untuk melihat Harry tapi pandangannya sangat kabur dan ia menutup kembali matanya untuk menahan rasa sakit. 'Ga-gawat... kalau begini ia benar-benar bisa mati...!' batin Harry. Ia mengeluarkan sapu tangan yang ada di saku celananya dan ingin mengelap keringat yang bercucuran di wajah si penyihir sebelum ia berhenti di dekat bibir si penyihir.

Kini Harry benar-benar ingin mencicipi darah si penyihir tersebut. Lagi pula bila ia menjilat luka yang menganga itu mungkin lukanya akan menutup. Harry mendekatkan wajahnya ke wajah si penyihir dan mulai menjilati darah yang ada di sekitar bibir si penyihir. Setelah itu menjilat luka goresan di pipinya hingga luka itu menutup. Darah sang penyihir benar-benar terasa manis seperti madu di dalam mulut Harry dan membuatnya semakin haus dan ingin nambah. Harry duduk berlutut di atas paha si penyihir dan segera akan membuka pakaian yang dikenakan oleh-nya tapi Ron keburu datang.

"Harry! Aku sudah membawakan bahan-bahan yang... kau pinta..." ucap Ron semakin pelan dan menatap Harry serta beberapa tetes darah di sudut bibirnya apalagi dengan posisi Harry yang pasti mengundang kecurigaan dan salah paham. "Sudah kuduga..." kata Ron lagi.

"A-aku tidak bermaksud apa-apa! Hanya mencicipi sedikit! Lagi pula kau lama sekali! Bila tidak cepat diobati dia bisa mati!" kata Harry berusaha menjelaskan dan membela diri. Wajah Harry benar-benar panik dan ia menjilat darah yang ada di sudut bibirnya. Ron cuma bisa menghela napas saja lalu mendekat dan menyerahkan bahan-bahan yang diperlukan termasuk juga air yang ditadah dalam mangkuk dari daun.

"T-thanks, Ron.." kata Harry lagi lalu segera meracik sebuah ramuan dan berusaha untuk tidak menggubris tatapan masih curiga dari Ron. Setelah selesai, ia membantu si penyihir untuk meneguk ramuan itu. Perlahan napas si penyihir sudah mulai stabil walau matanya masih terpejam.

"Tongkatku... ambilkan tongkatku." Itulah kalimat pertama yang diucapkan oleh si penyihir. Harry segera menyerahkan tongkatnya. Si penyihir segera mengarahkan tongkat tersebut ke arah dadanya lalu mengucapkan mantra untuk menyembuhkan lukanya. Ron dan Harry terdiam melihat luka-luka goresan tersebut kini menutup dan menghilang. Si penyihir membuka matanya dan menatap ke arah Harry sedikit tajam membuat lelaki itu canggung.

"A-aku..."

"Kau tadi menjilat darah di bibirku?" tanya penyihir tersebut to the point. Harry mengangguk pelan. Batinnya seperti tersambar petir, tertimpa batu, dan napasnya melayang. Ia tak sanggup menatap si penyihir yang kini berwajah shok mengkerut dan menatapnya tajam sekali.

"Hei! Setidaknya ucapkan terima kasih karena sudah ditolong oleh kami!" kata Ron.

"Ditolong oleh vampire!?" balas penyihir menatap Ron.

"Oh maaf, wizard. Dia yang vampire dan aku hanya seekor siluman weasel," jawab Ron menunjuk Harry. Penyihir menatap Harry dengan tatapan meminta kejelasan perbuatannya yang tadi begitu pula dengan Ron.

" Er itu... kejadian... yang... er... Pokoknya aku hanya berniat membantumu saja! Memangnya salah seorang vampire menjilat darah seseorang."

"Jadi benar kau mau mengambil kesempatan, vampire. Begitu'kah caramu menolong seseorang?" Harry diam. Memang instingnya masih berjalan baik tapi kesadarannya juga dapat menyimbangi dirinya dan menahan untuk tidak meminum darah orang yang ditolongnya yang kini sedang menatapnya kesal tidak bisa dijelaskan.

"Berterima kasih'lah kau tak kami biarkan mati atau menjadi mangsa binatang hutan, Wizard!" teriak Ron.

"Oh! Kau mau mengancamku dan menyuruhkan meminta maaf?" Si penyihir menyilangkan tangannya dengan angkuh dan memandang Ron rendah. Ron yang mendengarnya menjadi naik darah dan berusaha untuk memukul si penyihir tapi dihentikan Harry. Si penyihir juga bangkit berdiri dan mengancungkan tongkatnya.

"Hentikan! Dan kau wizard! Apa salahnya mengucapkan terima kasih! Bagaimana-pun juga kami sudah menyelamatkan nyawamu dari Remus!" kata Harry mendekati penyihir itu.

"Berhentilah memanggilku wizard! Namaku Draco Malfoy. Dan siapa itu Remus? Teman warewolf-mu yang hampir membunuhku!?"

"Sebenarnya sih iya..." jawab Harry kemudian berbalik menatap Ron. "Bisa kau pergi sampaikan ke Sirius bahwa wizard yang diserang oleh Remus selamat?"

"Cih! Iya!" Ron berubah kembali menjadi weasel lalu pergi. Tentu saja ini membuat Draco terkejut tapi ia masih siaga apalagi dihadapannya kini berdiri seorang vampire yang sudah menjilat darah di bibir dan pipinya bahkan membuka pakaiannya. Mengingatnya saja sudah membuat Draco merinding.

"Aku tidak akan menyerangmu.." kata Harry seakan bisa membaca pikiran Draco. Draco awalnya tidak percaya tapi melihat raut wajah Harry yang tidak mau menatapnya dan sepertinya sangat menyiratkan rasa bersalah, Draco menurunkan tongkatnya. "Ba-bagaimana kau bisa diserang oleh Remus? Tidak... bagaimana kau bisa ada di sini?"

"Singkat cerita aku ber-apparate ke sini untuk mencari sesuatu lalu tanpa sengaja di serang oleh siapa yang kau bilang Remus tadi," jawab Draco jelas singkat dan cukup jelas bagi Harry. "Siapa namamu?" tanya Draco. "Aku sudah memberi tahu namaku. Tak ada salahnya mengetahui namamu."

"Harry Potter," jawab Harry singkat.

"Harry Potter? Nama yang cukup bagus untuk vampire sepertimu," tanggap Draco berjalan keluar gua. Harry yang merasa itu adalah penghinaan segera keluar gua untuk mengikuti langkah Draco.

"Maksudmu apa, Malfoy!" teriak Harry.

"Baru kali ini aku melihat vampire berkaca mata," komentar Draco berhenti berjalan dan hanya menoleh untuk menatap Harry.

"Jangan salahkan aku! Salahkan ayahku atau leluhurku! Lagi pula pengelihatanku membaik bila aku mengikuti insting vampire," jawab Harry. Draco hanya mendengus sambil menyeringai sebelum melanjutkan perjalanannya. "Kau mau ke mana?" tanya Harry.

"Bukan urusanmu," jawab Draco berbalik tapi tidak menemukan Harry di sana. Draco membalikan badannya lagi untuk melanjutkan perjalanan tapi terkejut ketika Harry sudah ada di depannya sehingga ia berjalan mundur lalu terjatuh ke tanah.

"Ke mana? Jangan kau pikir bisa bebas dariku Tuan Draco Malfoy selama kau masih ada di hutan ini," kata Harry.

"Cih, baiklah. Aku mencari Lily berkelopak emas. Sekarang menyingkirlah Potter, aku hargai pertolonganmu tadi tapi kini aku ingin melanjutkan perjalananku," Draco berdiri sebelum kembali berjalan melewati Harry.

"Kau salah jalan kalau begitu. Lily berkelopak emas hanya tumbuh di pinggir tebing daerah Hutan Hawthorn dan itu mengarah ke Barat. Bukan ke arah utara," jelas Harry. Draco terhenti untuk ketiga kalinya. Sepertinya pembicaraannya dengan si vampire tidak bisa dipotong begitu mudah. "Aku bersedia mengatarmu," tawar Harry pada akhirnya.

"Dengan imbalan?" tebak Draco.

"Darah!" Harry terdiam dengan jawabannya yang spontan sekali. "Er... masalahnya darahmu itu sungguh manis dari semua darah penyihir yang pernah aku minum dan... dan... aku... ingin mencicipinya lagi..." jelas Harry tidak membantu.

"Aku bisa jalan sendiri. Kau bilang arah barat'kan? Lagi pula penjelasan-mu mengerikan. Mana ada orang yang mau membiarkan seorang vampire meminum darahnya. Aku masih ingin menjadi wizard ketimbang vampire," balas Draco sakratis dan membuat Harry harus memutar bola matanya.

"Dengar ya, wizard tengik! Penjelasanku itu pujian dan mustahil kau bisa berubah menjadi vampire kecuali yang menggigitmu itu adalah Damnanti!"

"Damnanti?"

"Vampire kelas rendahan yang berasal dari mayat hidup, atau kerasukan roh, atau bisa juga penyihir yang mencoba jampi-jampi dan banyak alasan yang pasti bukan terlahir sepenuhnya sebagai vampire."

"Oh begitu. Tetap saja aku tidak mau memberikan darahku padamu!"

"Terserah saja kalau begitu," Harry memutar badannya dan berniat untuk pergi. "Aku tidak mau tahu kalau tiba-tiba saja Remus kembali menemukanmu dan membunuhmu atau kau bertemu dengan troll dan centaur. Di hutan ini juga banyak mahluk yang lebih menakutkan lagi. Dan kudengar mereka suka makan daging penyihir seperitmu," kata Harry dengan gaya bicara santai dan berusaha menakut-nakuti Draco.

"Jangan coba menakut-nakutiku," balas Draco sinis.

"Aku tidak menakut-nakuti~ Kan sudah ada buktinya. Darahmu saja sudah bisa membuatku ingin memakanmu apalagi mahluk yang lain," Harry membalik sedikit badannya sehingga Draco bisa melihat matanya yang berubah warna menjadi merah dan juga seringaian Harry yang menampakan gigi taringnya.

Draco terdiam sejenak melihat perubahan pada diri Harry sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Tunjukan padaku jalannya... dan jangan kau berani menyerangku sampai aku mendapatkan barang yang aku cari!" ancam Draco dengan tongkatnya.

"Kau bisa mempercayaiku," jawab Harry terseyum penuh kemenangan sambil menggerakan jarinya membentuk tanda silang di dadanya. Harry kemudian berjalan di depan Draco dan diikuti olehnya sambil menjaga beberapa jarak.

Draco mengamati sekitarnya selama perjalanan. Suasana hutan yang sangat tenang dan udara malam yang segar. Bahkan beberapa peri malam yang mendiami hutan tersebut keluar untuk menyapanya. Sungguh ironi memang bila melihat hutan seindah ini tertutup dari dunia luar apalagi didiami oleh mahluk yang amat sangat berbahaya. Itulah pikir Draco.

"Hei.." panggil Harry. "Kau lama sekali! Cepatlah sebelum malam berakhir!" teriak Harry sambil melipat tangannya.

"Hoo... aku lupa kalau vampire takut pada matahari. Itu bisa membunuh mereka kalau tidak salah," balas Draco berjalan mendekati Harry dan berdiri di depannya.

"Sudah kujelaskan bahwa hanya damnanti saja yang mati di bawah sinar matahari! Bagi vampire murni itu tidak memberi efek kecuali untuk vampire muda yang hanya memberi efek membakar kulit hingga melepuh," jelas Harry sedikit kesal sambil membuang muka.

"Di lihat dari raut wajahmu, sepertinya kau mengalami hal yang amat buruk," kata Draco memegang dagu Harry dan membawa tatapan mereka bertemu satu sama lain.

Dengan cahaya bulan purnama, Draco bisa melihat wajah Harry dengan jelas. Matanya emeradlnya yang sangat dalam dan menakjubkan – Draco tak akan mengatakan itu indah sesudah melihat mata merah Harry yang menurutnya menyeramkan – , bibir ranum dan kulit putihnya yang pucat dan sangat dingin di antara jari-jari Draco. Bahkan napas yang dikeluarkan Harry yang menerpa wajah Draco terasa dingin juga.

Begitu pula Harry. Mata abu-abu yang berkilauan bagaikan cahaya keperakan bulan. Dagu lancip dan rahang yang kelihatan kuat. Napasnya sangat hangat dan hidup bagi Harry. Memikirkan hal ini sudah membangkitkan napsu makan Harry.

"Bisa kita lanjutkan perjalanan kita?" tanya Harry menahan gelora yang ada dalam tubuhnya. "Aku tidak mau tersengat matahari," tambah Harry beralasan. Draco melepaskan tangannya dari dagu Harry dan membiarkan Harry menuntun perjalanan mereka lagi.

Tak lama mereka berjalanan, Harry berhenti dan melihat sekelilingnya yang menurut Draco hanyalah pohon-pohon yang tinggi. Harry berjalanan mundur mendekati Draco lalu menatapnya.

"Aku tidak bisa mengantarmu lebih jauh lagi. Dari sini berjalanlah lurus ke sana – Harry menunjuk lurus ke depannya – Kau akan menemukan barang yang kau cari. Tenang saja, aku masih bisa mengamatimu dari sini," kata Harry. Draco mengerutkan alisnya dan menatap apa yang ditunjuk Harry. Matanya hanya menatap kegelapan saja. "Jaraknya tak jauh dari sini. Kau pasti bisa sendiri dan tak akan tersesat.

"Memangnya kenapa kau tidak bisa masuk lebih jauh?" tanya Draco.

"Tanaman Hawthorn banyak tumbuh di dalam sana. Makanya di sini di sebut Hutan Hawthorn. Aku tidak terlalu suka bau tanaman ini. Membuat kepalaku pusing," kata Harry.

"Apa ada mahluk lain yang tinggal di dalam?" tanya Draco lagi. Jujur saja hutan itu terasa angker untuknya.

"Untuk yang berbahaya seharusnya sih tidak. Troll dan centaur jarang datang ke tempat ini. Kalau kau beruntung kau tak akan bertemu dengan serigala atau rubah. Bila ada yang membahayakan aku akan segera memberi tahumu."

"Ya sudah kalau begitu..." Draco berjalan memasuki Hutan Hawthorn tersebut. Harry mengamatinya dari jauh. Sejenak Draco menoleh ke belakang dan melihat Harry semakin kabur dari pandangannya.

Draco berjalan dengan kecepatan yang amat pelan. Jujur saja ia sedikit takut terhadap sesuatu yang akan dihadapinya nanti. Mustahil rasanya mempercayai seseorang atau semahluk yang baru kau temui dan ia telah menyelamatkanmu, mengantarmu ke tempat tujuan yang kau cari dengan imbalan darah. Mungkin saja ia mendekatimu dari belakang lalu menggigitmu hingga mati. Memikirkan bagaimana jasadnya yang berlumuran darah atau membiru sudah membuat Draco merinding lagi. Tapi mengingat tatapan dalam dari Harry, Draco mencoba mempercayainya.

"Lumos," rapal Draco ketika ia merasa intensitas cahaya sudah mulai berkurang dan ia tak dapat melihat jalan lagi. Dengan gigih, ia meneruskan perjalanannya dan kemudian menemukan sebuah tebing yang ditumbuhi bunga lily yang berkelopak emas dan bercahaya ketika didekati cahaya. Dengan segera Draco mencabut beberapa tanaman dan memasukannya ke dalam tas yang ia bawa.

Sementara itu, Harry bersandar di sebuah batang pohon besar sambil sekali-kali melihat ke dalam Hutan Hawthorn. Walau kabur, ia masih bisa melihat cahaya dari tongkat Draco di dalam sana. Untuk sementara Harry merasa tenang sebelum ia melihat bayangan yang terbang di atasnya dan mendongakkan kepalanya untuk melihat bayangan siapa itu.

Harry membelakan matanya ketika ia menangkap banyak sosok dementor berterbangan di atas langit. Suasana dingin dan mematikan yang dikeluarkan oleh para dementor itu membuat Harry ketakutan. Ia berjalanan mundur tapi terjatuh karena tersandung akar pohon. Para dementor itu terbang masuk ke dalam Hutan Hawthorn.

"Malfoy..." Harry mengingat bahwa Draco masih di dalam sana dan pasti tidak akan menyadari kehadiran para dementor tersebut. "MALFOY!" teriak Harry berdiri lalu masuk ke dalam hutan tersebut karena mengkhawatirkan keselamatan penyihir yang barus saja ia temui.

To Be Continue

Hallo guys, lama tak jumpa

Saya akhirnya dapet waktu buat post part 2 nya. Mulai besok saya UAS jadi doakan saya ya :)

RnR please, thanks for your visit :D